<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271</id><updated>2011-09-30T15:54:45.066+07:00</updated><category term='anggota kantong sastra'/><category term='wacana'/><category term='pustaka'/><category term='kiat/tips kepenulisan'/><category term='karya (cerpen)'/><category term='kabar'/><category term='info sastra'/><category term='karya (puisi)'/><category term='sosok'/><title type='text'>Kantong Sastra</title><subtitle type='html'>nyastra yuk nyastra. biar kantong tak bolong. biar kantong nggak bengong. yuk kita isi dengan imaji, kita penuhi dengan kreasi, dan kita boboti dengan aktivitas. 
biar tak menjadi sia-sia. biar hidup penuh makna. jadi, bukan sekadar kerja iseng yang tak berguna.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>115</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-8404059662100594322</id><published>2010-05-21T21:30:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T21:35:08.925+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (cerpen)'/><title type='text'>Perempuan Bayi</title><content type='html'>Cerpen &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ernawati Rasyid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SEMUANYA terjaga malam ini. Malam-malam kemarin. Purnama begitu kelam menemani para perempuan dan laki-laki di pembaringan. Tidak ada sepasang mata yang terkatup. Semuanya menganga dengan degupannya masing-masing. Menanti hari ke tujuh purnama. Menunggu purnama terakhir untuk menurunkan bayi-bayi dari langit. Air mata tak sabar menanti meleleh disemua pipi perempuan malam-malam purnama. Seperti hujan yang turun tak bergerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiga purnama telah berlalu. Perempuan-perempuan menyiapkan segala perlengkapan bayi. Toko-toko pun dipenuhi hanya para perempuan. Setiap hari selama tiga purnama, hanya perlengkapan bayi yang merebak di hati para perempuan. Tawa air mata menyeringai di sudut mata perempuan-perempuan itu saat berbelanja. Bahkan ada yang berteriak histeris saat berbelanja. Terlalu bahagia. Terlalu banyak bahagia sehingga tak ada kata yang terangkai dari mulut mereka. Hanya ada derai tawa dan air mata setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Empat purnama telah berlalu. Para perempuan menghias rumah mereka dengan hiasan-hiasan yang terindah. Semuanya bercahaya di setiap sudutnya. Seperti hamparan bintang di langit. Mereka pun hanya bisa tertawa dan menangis. Ketika malam hadir, tak ada kelopak mata yang mengatup. Semuanya terjaga. Tak sabar menanti purnama ke tujuh hadir. Dengan bayi-bayi yang diturunkan dari langit. Mendengar bahwa purnama ke tujuh bayi-bayi akan diturunkan dari langit, para perempuan sangat bergembira. Terlebih bagi yang mereka tidak mempunyai anak. Airmata mereka tumpah ruah begitu saja mendengar hal ini. Bahkan ada yang sujud di puncak gunung untuk berterima kasih kepada Tuhan. Bukan hanya itu, ada pula seorang perempuan yang pingsan selama dua hari. Semuanya tidak sabar menanti purnama ke tujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lima purnama telah berlalu. para perempuan berkumpul bersama tetangga-tetangga mereka. Kini, sepatah kata pun keluar. Semuanya asyik membicarakan bayi-bayi yang akan turun dari langit. Bahkan mereka telah mempersiapkan nama yang akan mereka berikan kepada bayi-bayi itu. Mereka terlalu bergembira sehingga bajunya basah karena air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau sudah siap menghadapi purnama ke tujuh besok?” tanya seorang suami kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah siap! Berhari-hari aku mempersiapkan semuanya.” Jawab si istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau gembira?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah! Aku sangat gembira. Bagaimana denganmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Sama sepertimu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua perempuan juga bergembira. Bahkan telah berhari-hari mempersiapkan segalanya. Aku pikir, kau sudah tahu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku melihatnya. Jangankan mereka, cukup istriku saja yang aku lihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku deg-degan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ada yang kau khawatirkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Aku merasa deg-degan saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semuanya akan baik-baik saja. Tuhan kan tidak pernah salah. Tunggulah besok, bayi-bayi itu akan diturunkan dari langit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingin bayi perempuan atau laki-laki?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau akan menjadi ayah. Jadi aku minta pendapatmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku suka bayi laki-laki. Juga perempuan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha… Apa kau mau aku mengambil dua-duanya? Itu menyalahi aturan. Tuhan hanya memperbolehkan mempunyai satu anak. Jadi bayi yang mana harus aku ambil?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayi perempuan atau laki-laki sama saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, perempuan atau laki-laki sama saja. Hanya raganya yang berbeda. Jiwanya tetap sama. Lagipula hati juga tidak mungkin berjenis kelamin.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purnama ke tujuh yang dinanti oleh para perempuan telah tiba. Semuanya berpakaian yang sangat indah. Berhias hingga berjam-jam lamanya di depan cermin untuk menanti hadirnya bayi-bayi dari langit itu. Semuanya pun menuju ke tanah lapang di tengah-tengah tempat tinggal mereka. Bahkan ada yang bersama suaminya masing- masing. Senyum lebar menghiasi wajah para perempuan. Lalu mereka pun berkumpul di tanah lapang. Menunggu bayi-bayi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama menanti tak ada juga tanda-tanda. Namun, semuanya masih tersenyum. Berselang beberapa jam tidak ada juga pertanda bayi-bayi itu akan turun. Raut wajah menajdi resah dan gelisah. Rasa takut pun mulai menghinggapi mereka. Jangan-jangan tidak ada bayi malam ini. Lalu, langit pun menjadi agak redup. Purnama terlihat hanya bayang-bayang saja. Suara gemuruh begitu menggelegar hingga menggetarkan hati. Gerimis pun mulai berjatuhan dari langit. Membasahi sekujur peluh tubuh mereka. Membasuh segala yang ada di dalam jiwa dan raga. Gerimis pun semakin menderas. Hujan pun turun mengguyur mereka di tanah lapang itu. Saat itu pula satu per satu bayi diturunkan dari langit. Para perempuan bergembira menyambut bayi-bayi itu. Para perempuan berlarian meraih bayi itu. Bahkan ada yang berjingkrak-jingkrak untuk meraihnya. Sebagian telah mendapatkan bayi itu. Ada yang tertawa hingga airmatanya menderas. Bahkan ada juga yang memeluk bayi itu tidak mau melepaskannya. Namun, dua orang perempuan terlihat beradu mulut. Bukan hanya itu, fisik mereka pun bergulat di tengah hujan di tanah lapang itu.. Tetapi, tidak ada yang memperhatikannya. Semuanya sibuk dengan bayi-bayi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayi ini milikku!” kata perempuan pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan! Dia milikku!” kata perempuan kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pertama yang mendapatkannya! Kau carilah yang lain saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan! Aku yang pertama mendapatkannya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berikan bayi itu!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya bertengkar memperebutkan bayi itu di tengah hujan. Tidak ada yang peduli dengan pertengkaran mereka. Tidak ada lagi bayi yang turun. Itu bayi terakhir, dan masih ada dua perempuan yang belum mendapatkannya. Tidak ada yang mau mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berikan bayi itu padaku!” kata perempuan pertama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yang pertama mendapatkannya!” kata perempuan kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, aku begitu mengharapkannya. Sudah berhari-hari aku menunggunya. Telah aku persiapkan semuanya untuk menyambutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah berpuluh tahun aku menantinya. Bukan hanya kau, aku juga telah mempersiapkan semuanya. Kau tahu, betapa aku sangat menginginkan bayi ini. Berikan saja kepadaku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Aku tidak mau. Aku juga menginginkan bayi itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam!”. Bayi itu pun bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi itu berbicara. Kedua perempuan itu hanya bisa mengangakan mulutnya. Entah apa yang akan keluar dari mulutnya melihat bayi itu. Kedua mata bayi itu pun melirik kedua perempuan itu secara bergantian. Entah berapa lama. Kedua prempuan itu menanti apa yang akan dikatakan bayi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diamlah kalian berdua!” kata bayi itu lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa! Kau harus memilih diantara kami yang akan menjadi ibumu,” kata perempuan pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Kau harus memilih salah satu di antara kami untuk menjadi ibumu.” Kata perempuan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku tidak memilih salah satu diantara kalian. Tetapi aku memilih kehidupan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makassar, 14 November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-8404059662100594322?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/8404059662100594322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=8404059662100594322' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8404059662100594322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8404059662100594322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/05/perempuan-bayi.html' title='Perempuan Bayi'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6760878254407733541</id><published>2010-05-15T22:28:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T22:29:38.296+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (cerpen)'/><title type='text'>Ayat-Ayat Cinta*</title><content type='html'>Cerpen &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Digerakkan kedua pundaknya beberapa kali hingga terdengar bunyi gemerutuk tulang kering di antara keduanya. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Di situ seolah-olah tergambar kembali ceramah-ceramah yang selalu diikutinya setelah selesai responsi agama. Beberapa kalimat yang kerap kali didapatnya dan sulit untuk melupakannya, selalu terngiang di telinganya.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;“Cobalah kalian baca surat Al-Mumtahanan ayat 10; ……… Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang itu tiada halal pula bagi mereka…… Jadi jelaslah, untuk kaum wanita adalah haram mendapatkan pendamping hidupnya yang bukan beragama Islam…….!”&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Maria memejamkan mata dan menghela nafas berat. Kini wajah Fahri hadir dengan senyum kedewasaannya.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;“Agama kita memang berbeda, Maria, tapi semua itu tak akan dapat mengalahkan kasih di antara kita………,” begitu selalu yang dikatakan Fahri setiap saat padanya.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti ini, perasaan sedih dan marah bercampur menjadi satu. Tapi ia tak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Sejak TK ia telah dimasukkan ke sekolah Katolik, hingga SMU tak secuil pun pelajaran agamanya yang ia dapatkan dari sekolahnya. Ia memang belajar mengaji dan sholat hingga lancar, tapi tak tahu apa makna dari semua itu. Tidak ada perasaan memiliki atas agama yang tertulis dalam buku laporannya selama ini.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Dan saat ini, sedang menyelesaikan studi pasca-sarjananya di Perguruan Tinggi di mana ia melanjutkan cita-citanya, semakin tahulah Maria bahwa hukum-hukum Islam begitu luas, bukan hanya rukun Islam dan rukun Iman yang telah dihafalnya di luar kepala. Dosen dan para asisten serta teman-temannya telah membuka matanya lebar-lebar tentang Islam. Aisyah tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Fahri , hubungan mereka sudah berjalan hampir tiga tahun. Meskipun Fahri memikirkan studi kuliahnya untuk menyelesaikan pasca-sarjana di Universitas Al-Azhar, tapi hubungan mereka selalu hadir hampir setiap hari, dan di antara berdua sangat saling membutuhkan.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Maria menatap lampu tidur warna biru lima watt yang menerangi kamarnya di lantai paling atas sebuah rumah apartemen. Lampu seperti itu pulalah yang selalu menerangi jiwanya di mana hendak mengirimkan kado buat Fahri lewat tali beserta keranjangnya yang berisi makanan. Sebuah kamar apartemen yang cukup praktis dengan jendela kecil saja. Maria tidak tahu apakah itu salah. Yang pasti ia begitu bahagia mendapatkan seorang Fahri yang sangat dewasa, sopan, penuh pengertian dan kasih sayang.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Dan sekarang sebuah vonis seolah-olah diberikan padanya. Haram! Akh……. Maria mengusap air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya. Mengapa tidak sejak dahulu ia mengetahui semua itu, sebelum ia mengenal Fahri. Air matanya kian deras mengalir. Maria bimbang. Dalam keadaan seperti itu, perlahan-lahan Maria bangkit dan menyalakan lampu besar di samping lampu biru. Lambat-lambat ia berjalan untuk mengambil air wudhu. Kemudian sholat. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Di balik tudung putih, Maria masih terpekur duduk di atas sajadahnya, Maria enggan beranjak dari atas sajadahnya.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;“Ya Allah! Berilah jalan yang terbaik bagiku. Dan ampunilah segala dosaku selama ini,” jerit hatinya di antara ayat-ayat  yang terucap dari mulutnya. Mulutnya terus berdzikir, dan hatinya semakin tenang kini, ia terus berdzikir…….. hingga tertidur.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Setelah sholat Maria membaca ayat suci Al-Qur’an. Kemudian membaca bahan kuliahnya untuk hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria diam tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;“Kau harus berani menghadapi kenyataan, yang terburuk sekalipun….,” kata Aisyah. “Atau bila kau merasa tidak kuat, tidak usah sekaligus, perlahan-lahan saja………”&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Tapi Mbak bila semakin lama, maka semakin sulit saya melepaskan dia.”&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Aisyah tersenyum tenang di balik wajah jubahnya yang hitam terturtup, hanya tinggal kedua matanya  yang nampak.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;“Mbak mengerti, kalau kau memang merasa telah kuat, ambillah keputusan itu. Tapi yang penting tidak usah main kucing-kucingan  dengan tidak mau menemui dia. Itu bukan penyelesaian yang baik. Mbak yakin kau wanita non-muslim yang kuat, Maria. Kemukakanlah keputusan itu padanya. Mbak juga berdoa semoga semuanya berjalan dengan baik.”&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Ya, mengapa aku harus takut bila berada di jalan yang benar, bisik hati Maria.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Terima kasih, Mbak!”&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Aisyah tersenyum sambil meraih pundak Maria.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Yakinlah, Allah akan memberikan hikmah-Nya untuk setiap apa yang terjadi . Maka tegar dan bersabarlah dalam menghadapi segala sesuatu. Kau masih ada kuliah?”&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Sayup-sayup dari masjid terdengar suara adzan.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Maria mengambil wudhu untuk sholat dan memohon kekuatan kepada Allah Subhana Wataala.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;“Innalillahi-wainnahirojion……….” bisik Aisyah mendengar kepergian sahabatnya. Ia akan menang di sana bersama Tuhan! Aisyah yakin itu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta-Slipi Jaya,  catatan; 28 Februari – 13 Maret 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Diilhami dari  sebuah film dengan judul yang sama, karya novelis muda Habbiburahman El-Shirazy, dengan sutradara Hanung Bramantyo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6760878254407733541?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6760878254407733541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6760878254407733541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6760878254407733541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6760878254407733541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/05/ayat-ayat-cinta.html' title='Ayat-Ayat Cinta*'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6782261818636661292</id><published>2010-05-01T21:36:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T21:37:32.882+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Tangis Kabut Asap</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;R. Cahyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah atau bencana kah ini?&lt;br /&gt;Karena alam atau manusia&lt;br /&gt;Akal kita sudah bisa menjawab&lt;br /&gt;Perbuatan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa kah yang bertanggungjawab?&lt;br /&gt;Rakyat yang sibuk menulis dan berdagang&lt;br /&gt;Atau pengais rezeki dari hutan dan lahan&lt;br /&gt;Tentu saja kau tertawa karena tahu jawabannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hidup di sini menghirup asap tebal&lt;br /&gt;Makin hari, makin pekat&lt;br /&gt;Entah, apakah akan ada membuat penyakit bagi kami&lt;br /&gt;Tapi rasanya pernafasan kami terusik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa yang harusnya menangis?&lt;br /&gt;Kita, mereka pembakar hutan atau alam&lt;br /&gt;Terduduk ku memikirkan semuanya&lt;br /&gt;Tak tahu apa yang kuperbuat&lt;br /&gt;Hanya hatiku merasa miris dengan semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palangka Raya, Minggu 6 September 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6782261818636661292?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6782261818636661292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6782261818636661292' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6782261818636661292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6782261818636661292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/05/tangis-kabut-asap.html' title='Tangis Kabut Asap'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6009228778070280744</id><published>2010-02-07T21:43:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T21:45:51.834+07:00</updated><title type='text'>Mr.Junkis dan Miss Jayus</title><content type='html'>Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seta Hartoko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Seandainyan gue bisa menaklukkan cewek-cewek di dunia, gue akan mendapatkan julukan Mr. Playboy in the word. Namun semua impiam itu musnah karena ada satu cewek yang sangat sok comel, sok playgirl, sok perfectlah dan segala-galanya, dia adalah Olizia. Uh, gue sebel bangat Coz cuma dia doank yang bikin gue down, geram Lisword.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Pagi yang bernyanyi riang dengan embun seakan-akan telah menjatuhkan seluruh jiwa ini dan itulah yang membuat gue dapat bertahan demi menempuh perjalanan menuju impian yang ingin gue raih. Gue bersumpah jika gue gak bisa menaklukkan cinta dan kekayaan, jangan panggil gue Mr. Jankis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Bokap dan nyokap yang selalu busy dengan jobnya membuat gue semakin semangat tuk bisa menjadi penguasa di kampus, tapi gue akhirnya terbangun dari mimpi Coz mimpi gue tadi hanya khayalan yang tak mungkin gue raih. Come on, men. Jangan pernah pesimis tuk hadapi hidup yang semakin menyiksa, loe harus banget bangkit dari khayalan menuju kenyataan yang ada di depan mata loe, ucap Charles sohib sejati Lisword.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Thanks banget ya atas perhatian loe kalo gak ada loe, gue maybe down my life. Let’s go friend to Campus Coz kita ini udah terlambat ‘ntar kita discors ma dosen itu. Waduh gimana nih Charles, gue……!!! Udah deh jangan sedih dunk Lisword, kita masih punya waktu 1 jam lagi, cepatan gih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Setelah 1 jam berlalu, Lisword dengan Charles pergi ke kampus. Charles… motor gue gi habis bensinya, gimana donk!!! Ya udah, loe ikut aja bareng gue pake mobil coz loe kan sohib sejati gue. Kata Charles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Akhirnya mereka berdua tiba di kampus, sesampai di kampus koq sepi banget sih, what’s wrong!!! Charles. Emangnya ini hari apa, Lisword??? Bokis banget sih, loe… Inikan hari minggu ya jelas donk ga ada orang ke kampus, cape deh!!! Ucap Lisword. Oh gue lupa banget, sorry ya friend. Gpp lageee dari pada di sini lebih baik kita nimbrung bareng teman-teman band, ujar Lisword. Oce… deh gue banget, let’s go Lisword. Down worry Charles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Setelah Charles dengan Lisword udah sampai ditempat rental, Lisword bertemu dengan Anggi tuk ngeband bareng, namun ada yang aneh di dalam studio rental, gak lain ada Tika, Cidante, Oliver, dan Olizia. Tak lama setelah itu Lisword marah banget ma Anggi. Anggi, napa loe ngajak Olizia ke tempat ini, diakan musuh gue!!! Ucap Lisword. Tenang dulu, Lisword gue jelasin dulu, maksud gue pengen bubar ma band loe coz gue bete banget ga gokil aja cara loe ngeband, ketus Anggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         It’s okey…!!! Kalau loe maw bubar dengan band gue, nyesel banget gue temenenan ma loe mendingan gue cabut dari sini gue muak…… ma loe, loe catet di pikiran loe bahwa gue gak bakalan connect lageee ma loe, anggap aja kita gak pernah kenal, see you……, Lisword geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulan kemudian, Lisword memfokuskan kehidupannya dengan breakdance yang diselenggarakan oleh institut of asia for the best dance di los anggeles, usa dewa fortuna pun menjemput lisword yang berhasil menjadi juara faforit club dan juara 1 breakdance alamia rasanya kini di depan mata lisword terpancar cahaya yang penuh keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Seluruh teman-teman di Los Angeles pun terpukau akan kelincahan dan kehebatan si Lisword sehingga Lisword diberi penghargaan Mr. Free Style for Breakdance. Presi dan Los Angeles pun memberikan beasiswa kuliah selama 2 tahun di Univercity ternama, Los Angeles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Setelah kesuksesan diraih oleh Lisword, namun berbeda pula kehidupan Charles, walaupun semua impiannya bisa diraih kini Charles pesimis coz ia tak dapat bertemu lagi ma sohib sejatinya, Lisword. Tak lama kemudian Charles membuka laptopnya tuk menambah IPTEK ternyata ia melihat foto Lisword di sebuah situs yang mengatakan Lisword adalah seorang breakdance yang sangat lincah dan hebat sehingga diberi julukan Mr. Free Style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Air mata Charles pun menetes karena terharu melihat prestasi Lisword yang semakin meningkat dan berbeda sangat Lisword masih menjadi sohibnya, ia sangat pesimis karena tak mampu tuk menaklukkan khayalan menjadi seorang yang penuh semangat dalam kenyataan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Empat bulan berlalu begitu cepat, Lisword mencoba tuk mengikuti audisi Free Style for Super Bike Club dan dalam kurun waktu 2 minggu, Lisword bisa menguasai dengan kelincahan yang dimiliki akan tetapi Lisword mempunyai firasat yang buruk mengenai dirinya. Dua hari selanjutnya perlombaan Free Style diselenggarakan di New York, USA. Lisword bersama seluruh anggotanya pergi dari Los Angeles ke New York yang menempuh waktu 5 jam. Di dalam perjalanannya, Lisword berpapasan dengan musuh bebuyutan yang bernama Olizia yang dijuluki sebagai Miss Jayus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Entah dari mana datangnya angin, Olizia menegur Lisword dengan gaya yang begitu sopan namun Lisword tak menggubrisnya coz Lisword udah sakit banget oleh Olizia. Setelah beberapa menit berlalu, tak disangka-sangka Lisword ditegur oleh seseorang. Hai Lisword, pa kabarnya neh, koq somse sekarang ma guw!!! Lalu saat Lisword melihat orang yang menegurnya, “Sorry banget ya friend gue sampe lupa coz sohib sejati gue, Charles. Gpp lagee, maklum aja sekarang loe kan jadi orang tekenal, ah biasa aja  lagee…, ucap Lisword.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Lho koq loe ada disini, why? Gini gue jelasin ma loe berdua, gue juga ikutan lomba Free Style tapi bukan gue yang tampil melainkan adik gue sendiri yang bernama Andreas. Gue hanya sebagai manager dan temen curhat adikku doank, jawab Olizia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Berarti kita semua jadi sangat terberat coz gue juga ikut lomba Free Style di New York tapi gue hanya mekanik doank sekaligus menjadi manager team, kata Charles it’s ok’s, walaupun kita semua menjadi sangat terberat tapi kita ini masih menjadi sahabat, kan??? Ucap Lisword. Ya donk walaupun kita dulu, gue jadi musuh loe tapi itu semuanya udah gue lupain yang penting kita punya impian tuk meraihnya, bener ga??? Ujar Olizia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Don’t worry, bro!!! loe ga usah cemas coz kalo loe suka ma dia to the point, ntar gue comblangi deh, ucap Charler, sumpe loe, bener ne loe mau ngecomblangi gue, tanya Lisword. Emanknya gue boonk apa ma loe, beneran sumpe loe kan sohib sejati gue, jawab Charles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Satu bulan telah berlalu, koq sampai sekarang sohib gue itu ga pernah keliatan lagi apa yang sebenarnya terjadi??? Sembari ucap Lisword. BTW, oh my god bego banget sih gue coba aja gue call ma temen-temennya maybe aja ada yang tau. So gue ragu pada hati ini, ada apa ya??? Jangan-jangan Charles ga anggap gue jadi sohib sejatinya lagi, wah bisa ribet neh “Awas kalau ketemu gue tonjok loe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Akhir penantian Lisword itu t’lah berubah tetapi penantian panjang tersebut mulai merasuki pikirannya. Hai bro, “what up to you??? Bro, loe tu jangan mudah terpengaruh oleh seseorang siapa tau dia tu hanya ingin memanfaatkan be doank. So ikuti aja deh kata hati loe sendiri, Btw kenalin gue Jason dari tetangga rumah loe. Thank’z banget ya, friend loe udah nyadari diri gue n kalo boleh gue nanya nich ma loe, koq bisa ya loe ngucapin kata-kata bikasana and jangan-jangan loe udah pernah ngalami seperti gue??? Kata Lisword.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gini ceritanya, 2 tahun yang lalu gue ma sepupu gue namanya Chirtian holiday bareng ke Bali so sesampai di Bali gue ma dia check in di sebuah hotel by the way malamnya sesudah dinner gue ga nyangka banget sepupu gue tu selingkuh dengan pacar gue si Patricia and hati gue saat itu hancur di telah bumi so emosi gue meledak akhirnya gue pukul sepupu gue dengan babak belur, ya gitu deh dak lama setelah kejadian semalem, Christian slalu cuek banget and bawaannya jutek melulu ketika ketemu atau berbicara ma gue. Esok harinya, gue akhiri sebuah kisah ini dengan memutuskan tali persaudaraan antara gue ama Chirtian tuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udalah yang berlalu biarlah tenggelam bersama waktu and kita hadapi semua problema hidup ini dengan selalu postive thinking and selalu berbuat baik ma semua orang, kata Lisword.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Come on friend, lebih baik kita happy aja and gimana jika nanti malam loe ke rumah sahabat sejati gue??? Mau gak!!! Kalo loe mau ntar gue jemputi deh, sumpah deh!!! Ucap Jason. Ntar malem ya!!! Padahal nanti malem gue pengen ke rumah temen curhat gue namanya Patrick sorry banget ya friend, gimana jika Saturday night aja coz gue bete banget ditinggalin sendirian dirumah so loe deal ga ma gue??? Pinta Lisword.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya deh entar gue tanyain ma sohib gue tapi gue gak janji loh jika sohib gue ga pengen pergi, ketus Jason. See you friend gue cabut dulu ya coz gue buru-buru banget!!! Ya udah next time ya, friend!!! Kata Jason. 2 jam telah berlalu Lisword datang ke rumah sohib-sohibnya Charles and apa yang terjadi eh ga tahunya mereka semuanya ketahuan ngedrugs and di rumah sohibnya Charles  ada Olizia juga yang gi kissing ma Charles, gue ga bisa ngebiarin semua ini terjadi but lebih baik gue ngubungi polici office tuk  segera ditangkap semuanya, ucap Lisword. Allow komandan polisi, gue Lisword mau minta bantuan karena di rumah sohib gue ada drugs party, pak??? It’s okey kita segera kesana and ditunggu ya konfirmasi berikutnya, good afternoon!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ten minutes ago, seluruh polisi udah datang and langsung mereka semuanya ditangkap. Dua jam kemudian, Charles akhirnya mengaku bahwa ini ide semuanya dari Olizia and Charles menyesal telah melakukan semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini telah terjadi and akhirnya gue tau bahwa si Charles adalah Mr. Junkis yang selalu membawa pengaruh negatif bagi sohibnya and Olizia pun adalah Miss Jayus yang katanya dia dulu selalu down banget ketika ditanyai tentang Life Style, gitu Pak Komandan cerita dari gue, kata Lisword.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kalian semua akan dipenjara selama 30 tahun and jika semuanya terbukti bahwa kalian berdua ketahuan sebagai Mr. Junkis and Miss Jayus. Thank you ya adik Lisword atas bantuannya and silakan adik pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semua masalah ini telah selesai and gue tinggal datang ke rumah sohib gue, Jason so gue ngasih kabar gembira buat dia moga aja dia tahu semuanya. Excuse me ada Jasonnya, tante??? Adik ini siapa ya!!! Gini tante, gue Lisword temennya Jason. Oh Lisword, si Jasonnya udah balik lagi ke Prancis and katanya 4 tahun lagi dia akan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh tante lama banget so Lisword pulang aja ya tante and boleh tau ga tante berapa nomor teleponnya Jason atau alamat emailnya!!! Wah tante sih lupa and yang tante ingat sih hanya secarik kertas ini……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisword, maafi gue ya karena gara-gara gue loe jadi sedih and takkan pernah persahabatan kita walaupun kita jauh tetapi tetap satu jiwa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6009228778070280744?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6009228778070280744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6009228778070280744' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6009228778070280744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6009228778070280744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/02/mrjunkis-dan-miss-jayus.html' title='Mr.Junkis dan Miss Jayus'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1579923756584244752</id><published>2010-01-21T22:02:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T22:04:19.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Pada-Mu Tuhan</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibrahim Barsilai Jami&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada-Mu, Tuhan&lt;br /&gt;ku tambatkan segala doa yang berlinang&lt;br /&gt;seraya memohon ampun pada semua seteru&lt;br /&gt;yang memporandakan setiap serpihan hati yang lugu&lt;br /&gt;  :tinggalkan puing-puing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada-Mu, Tuhan&lt;br /&gt;kureguk nista yang menganga atas juta-juta nasib jelata&lt;br /&gt;yang menyayat di emperan raya, jagat bergulir semerbak rasa&lt;br /&gt;  :tinggalkan buih-buih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada-Mu, Tuhan&lt;br /&gt;Kutersungkur dalam ranah biru memburai luruh&lt;br /&gt;sekujur tubuh tercampakkan bagai biadab seluruh penjuru&lt;br /&gt;dalam perang, tangis, cacat, dan ketololan yang menggilas rapuh&lt;br /&gt;  :tinggalkan keping-keping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada-Mu, Tuhan&lt;br /&gt;Kuterjerembab, blingsatan pada sundal dan syahwat&lt;br /&gt;separuh negeri, mengaduh, mengiris&lt;br /&gt;selaksa lara mencengkram pada peti&lt;br /&gt;kami yatim di negeri sendiri&lt;br /&gt;  :tinggalkan naluri perih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada-Mu, Tuhan&lt;br /&gt;Kupohonkan segala ikhlas dan maaf&lt;br /&gt;pada tuan-tuan kami yang berlagak bersih&lt;br /&gt;menjilat habis uang-uang negeri&lt;br /&gt;  :badan kami kurus kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sokaraja, 04 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibrahim Barsilai Jami&lt;/span&gt;, lahir pada tanggal 14 Mei 1979 di sebuah dusun kecil di pulau Rote-Nusa Tenggara Timur. Aktif menulis sejak usia SMP, menjadi pengisi tetap rubrik mading sekolah. Di bangku SMA pernah mengikuti beberapa lomba cipta dan baca puisi. Juara 2 lomba cipta puisi antar SMA se-propinsi Nusa Tenggara Timur tahun 1998 dalam rangka hari Lingkungan Hidup.&lt;br /&gt;Tahun 2003, menjadi salah satu finalis lomba menulis mahasiswa se-Jawa Barat di Bandung yang di selenggarakan oleh Metro TV dan Harian Media Indonesia. Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Sekolah Tinggi Teologi Diakonos Banyumas periode 2006/2007.  &lt;br /&gt;Tahun 2007, menjadi salah satu semifinalis Lomba Cipta Bintang Televisi yang diselenggarakan oleh YAFA ENTERTAINMENT Jakarta kategori Presenter TV. Salah satu Nominator Lomba Cipta Puisi Se-Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Semarang. Puisinya dibukukan dalam Antologi Puisi Bersama "Anak-Anak Peti" tahun 2008. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Semarang dan Komunitas Sastra Bunga Pustaka Purwokerto . Karyanya pernah dimuat di beberapa media massa. Saat ini tinggal di Jalan Sidodadi I / 141 Sokaraja Tengah, Kec. Sokaraja, Kabupaten Banyumas-Jawa Tengah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1579923756584244752?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1579923756584244752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1579923756584244752' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1579923756584244752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1579923756584244752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/01/pada-mu-tuhan.html' title='Pada-Mu Tuhan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-8636914447531578685</id><published>2010-01-21T22:00:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T22:01:17.794+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Garang</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibrahim Barsilai Jami&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hentikan segala lesuh yang mengapit jumbai dan untaian citra&lt;br /&gt;para pendakwa&lt;br /&gt;pada meja berlapiskan kain hijau&lt;br /&gt;dan palu-palu diketukkan&lt;br /&gt;pertanda : kiamat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran pada pikirmu&lt;br /&gt;meracuni akal yang galau&lt;br /&gt;lalu kaku kibuli semua seteru yang mengaduh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uh, setiap langkah yang menghadang&lt;br /&gt;lalu diburu sepanjang nafas yang tercabik&lt;br /&gt;pohonkan iba pada dendang tuanku yang garang&lt;br /&gt;menampik semua gemuruh dan ragu pada kebenaran semu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu membatu&lt;br /&gt;mencumbui akal-akal benalu&lt;br /&gt;yang mengakari diri sembari menatap lusuh&lt;br /&gt;separuh tawa yang terkekang karena kepayahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini bukan negeri kangguru&lt;br /&gt;ini tanah pusaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tempat kami mengais sampah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan harga  &lt;br /&gt;dan nyawa   &lt;br /&gt;dan doa   &lt;br /&gt;dan nama    &lt;br /&gt;dan noda    &lt;br /&gt;dan tangis      &lt;br /&gt;dan sendu       &lt;br /&gt;dan parau        &lt;br /&gt;dan remuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terbuang&lt;br /&gt;pada tanah, tempat doa-doa tertambatkan&lt;br /&gt;pada sujud tempat kami mengiris pilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau garang!&lt;br /&gt;Benci kami pada diri&lt;br /&gt;bukan pada naluri&lt;br /&gt;kami mengabdi&lt;br /&gt;dalam girang kau sembulkan garang&lt;br /&gt;kemarangi keikhlasan sejagat duri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertiwi, pada segala raga dan rupamu kini.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sokaraja, 03 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-8636914447531578685?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/8636914447531578685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=8636914447531578685' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8636914447531578685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8636914447531578685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/01/garang.html' title='Garang'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-8731780468934459505</id><published>2010-01-21T21:59:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T22:00:13.963+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Kau Bilang Kemerdekaan</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibrahim Barsilai Jami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bilang&lt;br /&gt;Kita sudah merdeka 63 tahun&lt;br /&gt;Tanpa dosa kau hembuskan beludak&lt;br /&gt;pada perut, nyali, dan harga diri&lt;br /&gt;mereka yang memelas sepanjang negeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bilang ini kemeredekaan, Bung?&lt;br /&gt;Lihat disetiap derap malam&lt;br /&gt;teriakan bising para bocah menghibah-hibah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kirimlah pada kami ulat-ulat sagu, ikan asin, tempe busuk dan roti kadaluwarsa yang hilang seiring malam!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kirimkan pada kami empedu yang kau racuni dalam tawarnya laut yang kau nodai dengan zat kimia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kirimkan pada kami, sedikit nyali untuk bisa berdemonstrasi, setiap kali kami dibohongi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kirimkan pada kami kekuatan dan air mata yang hilang dalam kornea-kornea yang lesung karena busung lapar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kirimkan pada kami, ya penguasa alam!”&lt;br /&gt;seteguk cinta&lt;br /&gt;setetes keabadian 'tuk melipur luka-luka&lt;br /&gt;yang mengiris bagai sembilu setiap kerongkongan yang mandul!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bilang ini kemerdekaan, Bung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sokaraja, 01 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-8731780468934459505?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/8731780468934459505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=8731780468934459505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8731780468934459505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8731780468934459505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/01/kau-bilang-kemerdekaan.html' title='Kau Bilang Kemerdekaan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-5975663786504956730</id><published>2010-01-21T21:57:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T21:58:28.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Kerinduan</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibrahim Barsilai Jami&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergayut&lt;br /&gt;menuju haluan&lt;br /&gt;Ke sana kita meniti&lt;br /&gt;menjajaki diri&lt;br /&gt;pada penantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna-warni katamorgana&lt;br /&gt;memadu irama&lt;br /&gt;membius luka&lt;br /&gt;segala yang mendera, kejujuran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan hari-hari bergirang&lt;br /&gt;membawa segala nada&lt;br /&gt;pada cinta dan rasa&lt;br /&gt;segala nama, kebenaran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kata&lt;br /&gt;pada makna&lt;br /&gt;yang mendakwa sukma&lt;br /&gt;"Kerinduan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwokerto, 31 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-5975663786504956730?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/5975663786504956730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=5975663786504956730' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/5975663786504956730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/5975663786504956730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/01/kerinduan.html' title='Kerinduan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7650010124133537305</id><published>2010-01-21T21:56:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T21:58:50.635+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Sajak Ketika Purnama</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibrahim Barsilai Jami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap sepimu, terhempaskan riak dan riang sang purnama&lt;br /&gt;Meradang ke ufuk gelora malam yang menawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tereja sajak, terpilin rupawan&lt;br /&gt;merambati nalar yang blingsatan&lt;br /&gt;bait-bait sajakmu beradu cemburu&lt;br /&gt;pada cumbu disetiap penjuru&lt;br /&gt;kemari, tataplah sinarmu yang menerawang&lt;br /&gt;meluruhkan kesumat yang membisu lalu tertawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai, akal yang kandas!'&lt;br /&gt;tambahkan pada nyalimu setetes rasa yang terbuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirikmu makin syahdu&lt;br /&gt;Mencumbui para babu yang lugu&lt;br /&gt;Di batas mimpi-mimpi yang dungu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menunggu!&lt;br /&gt;Wahai, waktu berlalu&lt;br /&gt;memburu masa dan lampau&lt;br /&gt;kita berpacu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7650010124133537305?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7650010124133537305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7650010124133537305' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7650010124133537305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7650010124133537305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/05/sajak-ketika-purnama.html' title='Sajak Ketika Purnama'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1098934399171114174</id><published>2010-01-21T21:55:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T21:56:24.282+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Meniti Hari</title><content type='html'>(buat: Sahabat di segala waktu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibrahim Barsilai Jami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan engkau tertegun&lt;br /&gt;dalam perhentian langkahmu&lt;br /&gt;jangan terpana dengan problema&lt;br /&gt;yang telah berlalu.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kesempatan&lt;br /&gt;hari-hari&lt;br /&gt;matahari&lt;br /&gt;fajar&lt;br /&gt;dan semangatmu itu&lt;br /&gt;bukankah itu api yang berkobar?&lt;br /&gt;Yang sanggup membakar, menghanguskan&lt;br /&gt;lembaran lama yang usang&lt;br /&gt;kesempatan&lt;br /&gt;akan tetap datang&lt;br /&gt;dan keberhasilan hanya diundur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu&lt;br /&gt;keberuntungan akan menghampirimu&lt;br /&gt;kemenangan akan menggapaimu&lt;br /&gt;saat kau terjerembab&lt;br /&gt;tak bisa lagi berkata-kata&lt;br /&gt;jangan teteskan air mata gundah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini&lt;br /&gt;kita masih dapat bersua&lt;br /&gt;meniti waktu, cerita, dan mimpi&lt;br /&gt;tentang kisah, wanita dan khayalan cinta&lt;br /&gt;di batas waktu&lt;br /&gt;sampai napasku tersengal&lt;br /&gt;dan nadiku berhenti berdetak&lt;br /&gt;sampai sang pencipta memanggilku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan kagum&lt;br /&gt;betapa kau gigih berjuang&lt;br /&gt;tegar bagai baja&lt;br /&gt;menangis lalu tertawa&lt;br /&gt;riang&lt;br /&gt;karena kita pasti bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sokaraja, 28 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1098934399171114174?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1098934399171114174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1098934399171114174' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1098934399171114174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1098934399171114174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/01/meniti-hari.html' title='Meniti Hari'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-4358146577255401406</id><published>2010-01-21T21:52:00.000+07:00</published><updated>2010-05-21T21:53:14.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Aura Kebenaran</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibrahim Barsilai Jami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari menari....&lt;br /&gt;Membidik angan&lt;br /&gt;Semua seteru yang memburu kuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciutkan eksotis&lt;br /&gt;beradu cumbu merinduh ditempuh&lt;br /&gt;sebulir lentera yang redup membias segara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarilah, sayang!&lt;br /&gt;Tambatkan lenganmu&lt;br /&gt;bergayut sembari sesumbar&lt;br /&gt;membuyarkan nalar yang liar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasrah......&lt;br /&gt;Setelah segala sepi&lt;br /&gt;bergaung sekujur duri&lt;br /&gt;merinding perih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala kebenaran&lt;br /&gt;merasuki organ-organ bertepi&lt;br /&gt;selaksa resah bergelimpangan&lt;br /&gt;memudarkan kisah yang kentara&lt;br /&gt;pada kelana setelah kembali ke dalam buana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sokaraja, 01 september 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-4358146577255401406?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/4358146577255401406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=4358146577255401406' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4358146577255401406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4358146577255401406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2010/01/aura-kebenaran.html' title='Aura Kebenaran'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1647794067384782970</id><published>2009-07-23T17:50:00.001+07:00</published><updated>2009-07-23T17:52:01.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (cerpen)'/><title type='text'>Percakapan di Kafe Hitam</title><content type='html'>Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ernawati Rasyid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMUANYA tenggelam saat malam hadir dengan selimut kegelapannya. Menaburkan kemilau bintang. Purnama bisu yang menggantung. Suara langkah kaki begitu jelasnya aku dengar. Bagaikan berjalan dan telingaku bersama langkah itu. Kemana saja. Tidak peduli jalanan penuh kerikil tajam yang kapan saja bisa merobek telingaku. Aku juga mendengar bisik-bisik dari mulut yang penuh lumuran darah. Menetes ke lantai dan berubah menjadi hitam. Memenuhi lantai. Membentuk wajah yang tidak selesai. Tidak ada darah merah disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafe ini tepat berada di bawah purnama. Disana seorang perempuan tua menggapai-gapai bulan setelah susah payah menanjak udara menuju bulan itu. Senyum dan derai air matanya berceceran dimana-mana. Tak ada yang melihat. Pura-pura melihat. Semuanya sibuk mengurusi kebutuhan yang tak kunjung selesai. Seperti menghitung bintang di langit dengan sepuluh jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih duduk di kursi kemilau ini. Dengan kepulan asap rokok yang entah keberapa kalinya aku hembuskan ke udara. Menebar. Membentuk wajah orang-orang yang ada di sekitar kafe itu. Lalu menghilang. Mungkin lari bersama nafas angin yang selalu berhembus di sekitar mejaku. Nafas yang begitu menyengat hidung hingga mengelurkan darah hitam. Menetes ke lantai dan membentuk gumpalan yang mengeras. Seperti batu. Tak bernafas. Ingin aku hembuskan jiwa ke dalamnya agar menemaniku di kafe ini sambil berbicara terus menerus sampai fajar menyengat tubuhku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita menuju kearahku membawa sebuah nampan yang berisi minuman dan makanan yang telah aku pesan sejak berada di tempat ini. Tangan kirinya disembunyikan di belakang tubuhnya sedang tangan yang satunya memegang nampan. Tangan yang disembunyikannya itu menyembunyikan belati. Aku tahu itu. Ingin membunuhku atau membunuh orang-orang yang ada disekitarku. Senyum di bibirnya begitu mempesona bagi bibirku. Sebuah tipuan untuk membunuhku dengan belati yang disembunyikannya. Ia semakin mendekat. Langkah kakinya seperti detakan jantungku. Kini ia berdiri di sampingku. Menyimpan pesanan di atas meja. Lalu belati yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya  ia taruh di atas meja itu pula. Ia pun pergi dengan senyum yang masih terpajang di bibirnya. Menggoda bibirku untuk tersenyum pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinai hujan tiba-tiba menerpa  malam. Ternyata perempuan tua itu telah berhasil menggapai purnama. Lalu dibawanya pulang untuk diberikan kepada cucunya. Semua manusia malam berlarian mencari tempat berteduh. Menghindari gerimis yang bercampur dengan tetesan darah dan air mata perempuan tua itu. Aku beruntung telah duduk dengan santai di kafe ini lebih awal. Aku melihat manusia malam yang terkena ceceran gerimis itu menggerutu. Semua yang melekat di dalam dirinya luntur. Meleleh meninggalkan dirinya yang basah. Aku pun tertawa. Terbahak. Hingga mejaku bergetar sampai ke kepalaku. Tetapi, aku masih saja tertawa. Hingga air mataku menetes membentuk gumpalan lagi di lantai. Berharap untuk kedua kalinya Tuhan meniupkan roh kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu semuanya tiba-tiba gelap gulita. Tak ada cahaya. Aku tahu, perempuan tua itu bukan hanya berhasil menggapai purnama. Ia telah mengambil deretan bintang pula di langit. Untuk dipersembahkan kepada cucunya. Bukan hanya bulan dan bintang, cahaya-cahaya lampu pun diraihnya pula. Aku mendengar semua orang menggerutu. Aku tidak bisa melihat wajah karena gelap. Bahkan aku pun tidak dapat melihat diriku sendiri. Semakin besar suara-suara gerutuan itu hingga telingaku mengeluarkan darah akhirnya. Bukan karena kerikil saat melangkah tetapi suara-suara manusia malam yang menggerutu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana masih gelap gulita. Aku mendengar kursi lain yang ada di depanku bergeser. Seorang telah duduk di kursi kosong itu. Lalu mengunyah makanan yang belum sempat aku jamah sejak wanita tadi membawanya untukku. Saat aku meraba belati yang ada di atas meja, kosong. Heran dan gugup lalu melandaku. Peluh keringat bercucuran tiada henti. Tawa bahak hilang begitu saja. Berganti dengan peluh yang tak berkesudahan. Setelah mengunyah makanan ku, ia pun meminum kopi yang ada di atas meja. Terdengar suara piring dan gelas bergesekan. Membuatku meringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf menungguku terlalu lama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  menyapaku. Suara lelaki. Mirip suaraku. Atau ia telah mencuri pita suaraku dan memindahkannya ke tenggorokannya. Atau kah siapa gerangan pita suara yang ia curi. Pasti dari salah satu manusia malam yang menggerutu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kamu?” tanyaku dengan suara getar yang masih tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku adalah kamu”. Jawabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sudah gila. Mana mungkin aku adalah kamu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu yang gila. Bukan aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa gerangan orang yang ada di depanku ini. Tidak ada cahaya yang bisa menampakkan wajahnya. Semua telah diambil oleh perempuan tua itu. Ini tidak adil. Tak ada satu pun bintang yang tersisa untukku, hanya untuk melihat wajah orang di depanku ini. Bahkan ia mengaku dirinya adalah aku. Belati di atas meja pun tidak ada. Pasti ia yang mengambilnya. Aku pikir, ia akan membunuhku dengan belati itu. Makanan dan minuman ku pun telah musnah olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa diam? Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu dengan belati itu. Itu artinya aku membunuh diriku sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kau tahu apa yang aku pikirkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak awal aku sudah mengatakan kalau aku adalah kamu. Apa yang kamu pikirkan tentu saja aku tahu semuanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan apa yang aku pikirkan pun ia tahu. Aku yakin orang yang ada di depanku ini bukan manusia seperti diriku. Apa yang diinginkannya dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bukan Tuhan. Bukan malaikat. Bukan pula iblis. Aku adalah manusia sama sepertimu. Bagaimana mungkin aku adalah Tuhan, malaikat, atau pun iblis. Mereka mempunyai tugas untuk dijalankan sekarang. Duduk disini bersamamu akan membuang-buang waktunya, percuma saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang engkau inginkan dariku?” tanyaku menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru aku yang seharusnya bertanya. Apa yang kau inginkan dariku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bingung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bingung? Mengapa harus bingung. Cukup kau jawab saja. Akan aku jalankan. Bukankah aku adalah dirimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru itu aku bingung. Apa yang harus aku jawab. Bagaimana mungkin aku ada di depanku sendiri. Berbicara ini dan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sederhana saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ada makanya aku ada. Kau berpikir sehingga aku ada. Kau sendiri yang menginginkan kehadiranku. Mengapa kau sekarang menolak kehadiranku. Kehadiranmu sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah mengharapkan kehadiranmu. Aku tidak pernah memikirkanmu. Kau salah. Ini pasti hanya mimpi. Mimpi yang akan sirna begitu cahaya datang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mengharapkan cahaya datang dan menampakkan wajahku di hadapanmu. Tidak usah. Cukup kau melihat wajahmu sendiri. Bukankah aku adalah kamu. Wajahku adalah wajahmu. Pikiranmu adalah pikiranku. Semuanya. Tak terkecuali. Lagipula, cahaya semua telah dibawa pulang oleh perempuan tua itu untuk cucunya di rumah. Apalagi yang tersisa. Purnama, bintang, cahaya lampu. Bahkan korek api mu telah ia curi tanpa kau sadari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mempermainkanku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mempermainkanmu. Buat apa aku mempermainkanmu. Tak ada gunanya mempermainkan diri sendiri. Buang-buang waktu saja. Masih banyak yang mesti dibenahi. Padahal waktu tidak jelas keberadaannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mengerti maksudmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak percaya kau tidak mengerti perkataanku. Bukankan aku lahir dari dirimu. Pasti kau juga tahu semuanya. Tidak usah berkamuflase seperti manusia-manusia yang menggerutu itu. Memakai topeng berlapis-lapis hanya untuk menutupi wajahnya yang tidak jelas bentuknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku benar-benar tidak mengerti. Kau membuatku bingung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan kau bisa tertawa rupanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hanya tertawa. Marah, benci, dendam, menangis, tersenyum pun aku bisa.. Seperti yang kau lakukan barusan kepada wanita yang membawa nampan untukmu. Semua yang kau lakukan aku juga bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mulai percaya padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja kau harus percaya. Kalau kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan, itu artinya kau tidak mempercayai dirimu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar juga. Bukankah aku adalah kamu. Kamu adalah aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi kau beruntung malam ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jarang sekali manusia itu berbicara dengan dirinya sendiri. Seperti yang sekarang kau lakukan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah benar demikian. Kalau begitu aku beruntung malam ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah aku katakan padamu, kau lelaki yang beruntung malam ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana menurutmu mengenai mati? Apa kau juga mengalami hal seperti itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja. Kalau kau mati aku juga akan mati. Kau mati, kau tidak akan bisa berpikir lagi. Sehingga aku tidak bisa ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau roh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau tahu tentang roh atau jiwa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Roh atau jiwa akan meninggalkan raga jika kita telah mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang bisa melihat roh. Entah ia mempunyai telinga, hidung, mulut, tangan, kepala, atau yang lainnya. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Tangan, mulut, kaki, mata, telinga, dan sebagainya merupakan bagian dari raga. Jika roh telah berpisah dengan raga, tidak mungkin semuanya itu ikut bersama roh. Raga dan bagian-bagiannya akan hancur bersama tanah. Kembali ke asalnya. Begitupun dengan roh, kembali keasalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan umur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umur semakin bertambah. Raga semakin tua. Tetapi roh tidak mengalami perubahan. Jiwamu akan selalu ranum walau umurmu semakin senja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kau termasuk yang mana. Raga atau Jiwa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha…! Tentu saja bukan kedua-duanya. Kalau aku raga, aku bisa terlihat. Kalau aku roh, aku tidak terlihat. Namun bisa dilihat melalui raga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kau ini apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ini bagian dari jiwa dan ragamu. Tetapi bukan jiwa dan raga. Raga tanpa jiwa tidak ada apa-apanya. Seperti boneka yang dipajang  di emperan toko boneka di ujung jalan sana. Begitu halnya dengan manusia yang telah mempunyai jiwa, namun seakan tidak mempunyainya. Mirip boneka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mirip boneka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, mirip boneka. Mau diperlakukan apa saja bisa. Boneka tidak bisa berbicara. Mendengar. Hanya menurut perkataan tuannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa aku termasuk boneka seperti yang kau katakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha…! Awalnya kau adalah boneka yang terbuat dari tanah. Tidak seperti di toko itu, terbuat dari bahan organik. Lalu Tuhan meniupkanmu roh. Seperti yang kau harapkan pada gumpalan di lantai yang kau buat barusan. Dengan begitu kau bisa melakukan apa saja. Seperti berpikir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa manusia bisa menciptakan manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja tidak bisa. Kalau manusia bisa menciptakan manusia, Tuhan pasti bisa menciptakan Tuhan. Manusia hanya bisa meniru, bukan menciptakan. Menciptakan itu dari tidak ada menjadi ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa istimewanya menjadi manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanya pada dirimu sendiri, bukankah kau manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku manusia. Aku bisa melakukan apa saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang benar, apa saja. Seperti menangis, marah, benci, bahkan merusak pun bisa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merusak dirinya sendiri. Seperti menaruh moral bukan pada tempatnya. Bahkan menutup mata untuk menikmati hidup. Tidak mau melihat kenyataan yang ada disekitarnya. Pura-pura tidak melihat. Walaupun melihat, hanya bisa menganga. Mengeluarkan air liur yang tak berkesudahan. Ia tidak mau menjadi bagian dari kehidupan itu. Hanya ingin menjadi penonton terhebat, tak ada yang bisa menandinginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu seperti perempuan tua itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar. Seperti perempuan tua itu. Manusia penggerutu itu pura-pura tidak melihatnya. Makanya ia menanjak di udara untuk menggapai purnama, bintang, dan semua cahaya. Bahkan kau sendiri pun juga terkadang seperti manusia penggerutu itu. Hanya menganga melihat kehidupan. Terpesona dengan keindahan fatamorgananya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau menuduhku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah menutup-nutupi. Aku tahu semuanya. Karena aku adalah kamu. Masa lalu mu aku tahu semuanya. Bukankah sudah aku katakan sejak awal kepadamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya benar. Maafkan aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau meminta maaf pada dirimu sendiri. Bukan padaku. Karena aku adalah kamu sendiri, bukan orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 29 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ernawati Rasyid&lt;/span&gt;, mahasiswi Sastra Indonesia 2006 FBS UNM, penulis lepas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1647794067384782970?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1647794067384782970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1647794067384782970' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1647794067384782970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1647794067384782970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2009/07/percakapan-di-kafe-hitam.html' title='Percakapan di Kafe Hitam'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-2277430353868953685</id><published>2009-07-20T17:19:00.001+07:00</published><updated>2009-07-20T17:21:19.735+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Segitiga Sastra di Wilayah Borneo</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Korrie Layun Rampan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEGITIGA sastra di sini dimaksudkan adalah tumbuh dan berkembangnya eksistensi sastra di wilayah Borneo dan Kalimantan. Istilah Borneo meliputi negara Brunei Darussalam dan Malaysia Timur (yang mencakup: Labuan, Sarawak, Sabah) dan wilayah Kalimantan mencakup empat provinsi di Kalimantan: Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah (sebentar lagi akan lahir Provinsi Kalimantan Utara). Sejak 20 tahun lalu dimulai “Dialog Borneo-Kalimantan” yang dilaksanakan di Miri, Sarawak, 27-29 November 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog ini merupakan kegiatan independen yang berada di bawah payung Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). Mastera merupakan kegiatan sastra-budaya yang didasari oleh hubungan timbal-balik antarnegara, khususnya dalam hubungan rekomendasi pemberian hadiah SEA Write Award, Hadiah Mastera, dan Hadiah Sastra Nusantara. “Dialog Borneo-Kalimantan IX”, Agustus 2007 lalu, dalam rekomendasi yang dibacakan Ketua 1 Asterawani Prof Madya Dr. Awang Haji Hashim bin Hj. Abd Hamid pada 5 Agustus 2007 di Hotel Asma Jerudong, Berunei Darussalam bahwa sejak “Dialog Borneo-Kalimantan X” yang diadakan di Kalimantan Timur, 2009, akan memberikan “Hadiah Sastra Sultan Hassal Bolkiah” untuk para penulis sastra dari wilayah “segitiga sastra”, terutama kepada para sastrawan yang tidak dinominasi oleh panitia SEA Write Award, Mastera, maupun Hadiah Sastra Nusantara, meskipun karya-karya mereka sudah sepantasnya mendapat hadiah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dialog Borneo-Kalimantan IX” yang mengusung tema “Kesusastraan Melayu: Antara Harapan dan Cabaran (Kendala)” menampilkan lima belas makalah yang membicarakan berbagai hal sehubungan keberadaan dan perkembangan sastra di masing-masing negara (wilayah). Indonesia (Kalimantan) diwakili oleh Zulfaisal Putra dari Kalsel, Korrie Layun Rampan (Kaltim-Jakarta) , dan Viddy AD Daery (Lamongan) yang masing-masing menampilkan makalah “Mengenang Kejayaan Rubrik Dahaga di Harian Banjarmasin Post tahun 80-an”, “Sejarah Sastra Kalimantan Timur di Tengah Konstelasi Sastra Indonesia” dan “Dari Kisah Sultan Sandokan dari Brunei: Hingga Hubungan Budaya Kalimantan dan Jawa” (yang dibacakan Hermiyana, SE, karena Viddy sakit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga makalah ini menjadi pusat perhatian dari sekitar 150 orang peserta karena mengungkapkan berbagai hal yang “asing” bagi pembaca dan para pemerhati sastra di Brunei dan Malaysia. Ternyata, sejak dialog pertama sampai yang kesembilan ini, kondisi sastra di masing-masing wilayah berkembang sediri-sendiri, justru tanpa saling bisa berdialog, sehingga karya sastra Borneo (Brunei-Malaysia) dan Kalimantan (Indonesia) hanya dinikmati oleh kalangannya sendiri, dan asing bagi pembaca di wilayah lainnya. Sastra Berunei Darussalam dan Malaysia (Labuan, Sabah, Sarawak) tidak dikenal oleh pembaca di Kalimantan (Indonesia), demikian sebaliknya. Sementara menurut Prof Madya Dr. Haji Arbak bin Othman dalam makalahnya “Sajak Borneo: Kajian Interpretan dan Pembentukan Mesej Puisi” sastra yang berkembang di Kalimantan memperlihatkan prosfek profetik dengan nuansa religius yang mendalam di mana sajak-sajak itu banyak menggambarkan kesedihan dan harapan dengan mengutip beberapa baris puisi penyair muda Micky Hidayat (Banjarmasin) dan Shantined (Balikpapan) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keasingan dan kehilangan komunikasi juga dipaparkan oleh Mohd Zefri Ariff bin Mohd Zain Ariff dalam makalahnya “Jurutera dan Usahawan Emporium Sastera Melayu” yang membahas diskomunikasi antarsastrawan Borneo-Kalimantan sehingga melahirkan ketidaktahuan terhadap perkembangan pribadi sastrawan maupun perkembangan secara nasional di wilayah masing-masing. Itu sebabnya dialog yang sudah dilakukan ini semestinya dilanjutkan dengan mencari cara terbaik agar sastra di masing-masing wilayah dapat disosialisasikan di wilayah segitiga sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada “Dialog Borneo-Kalimantan VII”, 2003, Korrie Layun Rampan sudah mengajukan usul agar diadakan sekretariat di masing-masing wilayah dan sekretariat bersama di suatu negera tertentu yang disepekati. Di samping itu disarankan dibuka penerbitan bersama berupa media massa sejenis Horison (Indonesia), Bahana (Brunei Darussalam), dan Dewan Sastra (Malaysia), penelitian sastra, dan pengkajian yang komperehensif. Kemudian dilakukan penerbitan buku-buku sastra yang dikelola para sastrawan di dalam wilayan “segitiga sastra” tersebut, termasuk penerbitan makalah yang sudah mencapai ratusan jumlahnya. Namun hingga dialog yang terakhir ini, hanya sekretariat bersama yang dapat terealisasi yaitu disanggupi oleh Brunei Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dialog Borneo-Kalimantan” ini merupakan upaya mengembangkan sastra di wilayah “segitiga sastra” tersebut. Karena itu tema-tema dialog selalu berubah-ubah, sesuai dengan perkembangan isu-isu aktual sastra nasional dan sastra global. Dengan habitat sastrawan yang cukup banyak di wilayah ini, diharapkan dialog ini dapat menyumbangkan karya-karya berkualitas bagi negara masing-masing, sebagaimana tema yang disampaikan pada dialog III di Bandar Sri Begawan, 9-10 Oktober 1992 dengan tema: “Sumbangan Sastra Borneo-Kalimantan terhadap Nusantara”. Meskipun tema ini baru berupa harapan, namun pekerja sastra di lingkaran “segitiga sastra” sangat antusias untuk memberikan sumbangan makna dan nilai-nilai mulia dan tertinggi bagi negara masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan itu, ada lima matlamat yang disampaikan dalam pertemuan kali ini dalam upaya mengembangkan dan melanjutkan tradisi dialog tiga negara ini. Pertama, menonjolkan kepentingan dan sumbangan sastra Melayu dengan mendukung nilai-nilai kemelayuan, keislaman, dan ketuanan bangsa Melayu. Kedua, merincikan peranan sastra Melayu dalam menghadapi gelombang globalisasi. Ketiga, mempertemukan sastrawan, penulis, seniman, budayawan, dan sarjana dari ketiga negera. Keempat, mengangkat martabat penulis (tokoh terdahulu dan kini) dan karyanya dalam jalur sastra Borneo-Kalimantan sebagai sastra Nusantara dan mendunia. Kelima, menjalinkan kerja sama kebahasaan, kesusastraan, dan kebudayaan serumpun antara tiga negera leluhur Melayu yaitu Negara Brunei Darussalam, Malaysia dan Indonesia. Dalam hubungan itu, para peserta bersepakat dengan menyampaikan resolusi (yang diwakili oleh sepuluh orang dari negara masing-masing, termasuk Indonesia yang diwakili Korrie Layun Rampan) bahwa “Dialog Borneo-Kalimantan” tetap diteruskan dan “Dialog Borneo-Kalimantan X” diadakan di Kalimantan Timur (Indonesia), tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Korrie Layun Rampan&lt;/span&gt;, sastrawan, anggota DPRD Kutai Barat, Kaltim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kaltim Post&lt;/span&gt;, Rabu, 5 September 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari &lt;a href="http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com/2008/12/09/segitiga-sastra-di-wilayah-borneo/"&gt;Jurnal Toddopuli, 9 Desember 2008&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-2277430353868953685?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/2277430353868953685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=2277430353868953685' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2277430353868953685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2277430353868953685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2009/07/segitiga-sastra-di-wilayah-borneo.html' title='Segitiga Sastra di Wilayah Borneo'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-784216870583055160</id><published>2009-06-26T23:34:00.000+07:00</published><updated>2009-06-26T23:45:28.319+07:00</updated><title type='text'>Mari Kita Dukung Gerakan Literasi Lokal</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;J.J. Kusni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALIMAT yang saya jadikan judul “Jurnal” kali ini berasal dari Komunitas Rumah Dunia, Serang Banteng yang pada tanggal 5 – 7 Desember 2008 mendatang akan menyelenggarakan pertemuan Ode Kampung ke-03 dengan mata acara sebagai berikut [saya kutuip siaran Komunistas Rumah Dunia, 25 November 2008 di milis mediacare@yyahoogroups.com]:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan Jum’at, 5 Desember 2008, Pukul 13.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi:&lt;br /&gt;Membudayakan Minat Baca&lt;br /&gt;Kiprah Pemerintah Mendukung Gerakan Literasi&lt;br /&gt;Peran Penerbit dalam Komunits Literasi&lt;br /&gt;Jejaring Komunitas Literasi&lt;br /&gt;Penulis dalam Gerakan Sosial&lt;br /&gt;Tanggung Jawab Pers Mendukung Gerakan Literasi&lt;br /&gt;Peranan CSR di dunia Literasi&lt;br /&gt;Deklarasi Komunitas Literasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicara Prof. Yoyo Mulyana, Dick Doank, Eko Koswara, Asma Nadia, Halim HD, Si Uzi Jodhi Yudono, Myra Junor, Hernowo, Bambnag Trim, Hikmat Kurnia, DR. Zulkieflimansyah, Tantowi Yahya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu spesial:&lt;br /&gt;Pementasan ”Pria ½ Iblis” oleh Teater Rumah Dunia, Jum’at 5 Des 08, pukul 19.30&lt;br /&gt;Pameran karikatur karya Si Uzi setiap hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemilan:&lt;br /&gt;Parade pembacaan puisi, teater sekolah, dan musikalisasi puisi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Ode Kampung 02 ynng lalu, kali ini Komuniitas Rumah Dunia tidak atau belum mnngumumkan daftar komunitas-komunitas yang menyatakan diri akan hadir. Sedangkan tahun lalu, daftar peserta diterakan. Walaupun jumlah yang hadir cuma dua ratusan komunitas sastra-seni dari jumlah yang mencapai angka 4000 komunis , menurut keterangan Rumah Dunia sendiri, tapi jumlah dua ratusan dari berbagai penjuru tanahair, kiranya bukanlah jumlah yang sedikit. Barangkali sampai sekarang hanya Rumah Dunia sajalah yang sudah mengumpulkkan dua ratusan komunitas sastra-seni di Serang di Banten, ujung barat Jawa. Saya tetap menganggap hal begini tetap sebagai suatu prestasi. Prestasi ini lebih layak dihargai jika kita melihat cara pengorganisasiannya dan pembeyaannya. Penghargaan ini saya garisbawahi lagi karena ia bermula dari bawah, oleh komunitas-komunitas itu sendiri, berangkat dari pendirian dan sikap yang jelas mendukung usaha literasi lokal. Hal yang sejajar dengan wacana sastra-seni kepulauan, sastra-seni bhinneka tunggal ika di luar yang disebut pusat-pusat pengakuan atau pusat-pusat legitimasi kegiatan bersastra dan berkesenian — wacana yang bisa dikatakan absurd. Pertemuan Ode Kampung yang diselenggarakan secara periodik mempunyai arti tersendiri bagi pengembangan sastra-seni di negeri kita, yang berbeda dengan Writers and Readers Ubud Festival yang mewah dan glamour ditopang oleh dana yang besar. Tapi secara kongkret, apa yang diberikan oleh Ubud Festival dalam mengembangkan sastra-seni di negeri kita, kecuali membuka suatu etalase barang dagangan yang bernama sastra-seni? Barangkali pertanyaan ini keliru, tapi tetap saya pertanyakan. Pertemuan-pertemuan dari bawah untuk kepentingan pengembangan sastra-seni kepulauan, dalam pikiran saya, jutru lebih layak mendapat perhatian penanggungjawab kebudayaan resmi di negeri kita daripada pertemuan seperti Uubd Festival. Pikiran begini tidak berari membuat penyelenggara pertemuan tipe Ode Kampung atau Fstival Tahunan Lima Gunung di Jawa Tengah tergantung pada uluran tangan pihak resmi. Masalahnya adalah terletak pada pertanyaan apa bagaimana orientasi dan tanggungjawab budaya pihak resmi. Ode Kampung dan atau Festival Lima Gunung sejauh ini walau pun pernah dihadiri oleh Megawati dan SBY,tapi penyelenggaraannya tidak pernahmendapat bantuan sepeser pun dari pihak resmi. Dan tetap berlangsung bahkan jika mengambil pengalaman Lima Gunung, sumbangan dari masyrakat masih bersisa di akhir festival. Melalui penyelenggaraan Festival Lima Gunung berhasil dirawat, diangkat dan dikembangkan bentuk-bentuk sastra-seni di daerah mulai dari pojok-pojok jauh perdesaan disekitar Lima Gunung Jawa Tengah. Sedangkan Ode Kampung, saya kira, merupakan peluang untuk komunitas-komunitas dari berbagai penjuru tanahair menyerampakkan langkah agar perkembangan sastra-seni di berbagai daerah kian marak. Dari segi ini jugalah saya mengangap penting pertemuan periodik Jumpa Sastrawan Se-Borneo. Saya mencium pada usaha pengembangan sastra kepulauan ini, pernah dicoba dirambah oleh H.B Jassin, anak Gorontalo itu, melalui majalah Kisah dengan menampilkan penulis-penulis dari berbagai pulau. Saya curiga, apakah dengan merambah usaha ini , HB Jassin tidak mengidam juga ide sastra kepulauan jsebaga dasar bagi sastra Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan sastra-seni lokal atau daerah atau pumau-pulau saya kira, bisa menumbuhkan sastra nasional. Bisa menjadi dasar warna bagi sastra nasional yang semarak. Ia akan semakin bernas jika membuka diri pada daerah dan pulau-pulau lain serta dunia. Sastra-seni lokal dan pulau adalah pengembangan sastra-seni yang mengakar dan dekat dengan masyarakat, merupakan bahasa bedialog dengan dunia jika meminjam istilah filosof berpengaruh Perancis, alm. Paul Ricoeur. Apa yang dikerjakan oleh Mas Soetanto, organisator Festival Lima Gunung, Ode Kampung dan atau Temu Sastrawan Borneo, dan gebrakan Komunitas Panyingkul dari Makassar, Komunitas Sastra Tasikmalaya, Tegal, Malang, Banjarmasin, Palangka Raya, Balikpapan, Batam, Riau, Jambi, Lampung, Padang,Medan; Kupang, Flores, untuk menyebut beberapa kominitas dari 4.000 komunitas, tidak lain dari pengejawangtahan menjadikan budaya sebagai bahasa dialog dengan kompas di ruang nakhoda pelayaran saatra-seni: bhinneka tunggal ika,biar bunga mekar bersama, seribu aliran bersaing suara mengejawantahkan nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan. Barangkali dengan pedoman inilah hubungan antar komunitas diatur dan bisa digalang dengan sehat, bisa saling bangtu,saling dorong dan saling belajar dari keunggulan masing-masing. Jika disepekati maka benar, kita bisa menciptakan suatu gerakan budaya, gerakan sastra-seni, dan bukan lagi kegiatan spontan. Saya membedakan antara gerakan dengan kegiatan spontan. Kegiatan Ode Kampung dan sejenisnya adalah janin dari lahirnya suatu gerakan budaya, gerakan sastra-seni secara nasional dan mengakar. Lokalitas hanya salah satu warna dari karya lukis budaya nasional dan dunia. Seperti halnya dengan secarik kain yang dijahit jadi satu “bénang dinding” , kain tembelan atau patch work, yang indah.. Dengan pandangan ini maka saya sangat menikmati warna lokal dan nilai universal dari pantunt-pantun Melayu, sajak-sajak Bugis, Makassar, Papua, sansana kayau orang Dayak dan lain-lain….. Barangkali anaknegeri ini saja,atas nama moderinsasi menjadi asing dari negeri dan daerah sendiri sampai-sampai kata Anda,Saudara, kau, kamu…. agar lebih nampak hebat diganti dengan kata bahasa Inggris “you”. Padahal apa gerangan rendahnya kata kau, anda, saudara dibandingkan dengan kata “you”? Paralel dengan pandangan dan sikap ini maka standar sastra Barat lalu dijadikan standar untuk mengukur sastra Indonesia. Berharap saja bahwa saya salah terlalu subyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sepakat mengembangkan sastra-seni kepulauan atau sastra-seni lokal, barangkanli slogan mademikian maka slogan yang lebih menjurus adalah “Kembang marakkan sastra-seni lokal”, “Kembang marakkan sastra-seni kepulauan”. Dengan mengembang-marakkan kita percaya dan bersandar pada kekuatan komunitas yang ada di berbagai tempat. Sedang saling dukung dengan wacana di atas adalah suatu keniscayaan sebagaimana diisyaratkan dalam acara Ode Kampung tentang arti penting jejaring komunitas literasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita berbicara tentang arti penting jejaring, tersirat pula makna bahwa kita tidak boleh mengurung diri dalam satu tempurung kecil dengan predikat apa pun. Berkurung di dalam sebuah lingkaran sempit akan membuat kita bermata rabun. Kecupetan adalah sejenis penyakit trahum menjangkiti mata jiwa dan pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik mata acara lain yang menarik perhatian saya, dan saya anggap hakiki adalah soal pencantuman masalah “tanggung jawab penulis dalam gerakan sosial”. Titik ini menyiratkan bahwa Rumah Dunia melalui acara Ode Kampung ingin menyarankan kepada para penulis guna memikirkan masalah tanggungjawab sosial mereka sebagai anggota masyarakat. Saya membaca isyarat ini sebagai konsekweni nalar dari keinginan menggalakkan suatu gerakan literasi lokal sebagai basis pengembangan literasi nasional. Bahwa literasi, apalagi gerakan literasi itu bukanlah kegiatan narsistik. Apakah arti suatu gerakan jika ia bersifat narsistik? Jika bacaanku tentang isyarat dari Rumah Dunia ini, maka agaknya Rumah Dunia menginginkan gerakan literasi lokal yang ia impikan sebagai suatu gerakan literasi yang berpihak. Sebagai literasi engagé., dengan istilah mentereng ke-perancis-perancisnya agar gengsi meningkat di depan pembaca atau pendengar. You mengertikan?! Tapi saran yang tidak membatasi pilihan penulis lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi cara Rumah Dunia menyelenggarakan Ode Kampung, maka bukan mustahil jika Kongres Nasional komunitas seluruh Indonesiia, sebuah Kongres Kebudayaan dari bawah dan diselenggarakan oleh aktor-aktor budaya dari bawah secara bersama terselengggara. Dengan menuliskan baris-baris ini, saya sedang mengucapkan mimpi esok menyambut penyelenggaraan Ode Kampung ke-03 dengan segala harapan terbaik, menyambut mimpi Rumah Dunia dan janin mimpinya sebagai usaha mengejawantahkan republik dan Indonesia sebagai sebuah cita-cita dan program kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jurnal Toddopulu&lt;/span&gt; (http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com), 27 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-784216870583055160?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/784216870583055160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=784216870583055160' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/784216870583055160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/784216870583055160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2009/06/mari-kita-dukung-gerakan-literasi-lokal.html' title='Mari Kita Dukung Gerakan Literasi Lokal'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1684058694624453282</id><published>2009-06-26T22:46:00.002+07:00</published><updated>2009-06-26T22:57:04.995+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Bahasa dan Sastra di Kalimantan Tengah serta Permasalahan-Permasalahannya</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;J.J. Kusni&lt;/span&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abstrak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah mengalami krisis identitas bermula dari rasa rendah diri sebagai hasil politik ragi usang Belanda, dan dilanjutkan dengan dampak  negatif yang lebih besar lagi oleh Orde Baru selama tiga dasawarsa. Rasa rendah diri kolektif dan krisis identitas ini terwujud antara lain dengan penggunaan bahasa Banjar hingga ke kalangan keluarga sebagai entitas terkecil masyarakat. Adanya krisis identitas dan rendah diri, menyebabkan perhatian terhadap bahasa sendiri makin kurang dan terus-menerus melemah. Akibatnya terjadi marjinalisasi budaya sukarela. Jika keadaan begini dibiarkan berlanjut terus-menerus maka bahaya pemusnahan dan bunuh diri budaya  secara kolektif oleh tidak adanya kesadaraan budaya menjadi ancaman nyata.Ketika terjadi pemusnahan budaya sukarela tak sadar begini, maka Dayak bisa tinggal hanya nama dan kata hampa makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia sastra, baik yang berbahasa Indonesia mau pun yant berbahasa Dayak, nampak seperti kerakap di atas batu, mati segan hidup tak mau. Di kalangan para pendukung sastra ada semacam rasa ketergantungan pada uluran tangan pemerintah kurang semangat mandiri dalam berkesenian. Kekuatan potensial terpencar oleh tidak adanya organisasi yang mampu menghimpun mereka. Organisasi sangat tergantung pada tenaga lokomotif untuk bisa bergerak. Sementara Dewan Kesenian lumpuh, hanya ada namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra berbahasa Dayak, baik lisan atau pun tulisan juga terancam binasa.Kepunahan ini bisa dipercepat oleh tidak adanya kesadaran budaya di dua tingkat yaitu tingkat atas dari pengelola kekuasaan politik yang nampak dengan tidak memiliki politik kebudayaan yang jelas. Dari bawah yaitu di kalangan masyarakat yang larut oleh budaya pop tanpa memahami apa itu budaya pop yang melarutkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, maka Kalimantan Tengah termasuk salah satu provinsi yang paling terbelakang dalam bidang kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunci : Nilai, Republik dan Indonesia, krisis identitas, rasa rendah diri, politik budaya, dua tingkat, kesadaran budaya, bunuh diri budaya secara kolekti, kemusnahan, Dayak tanpa makna .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pengetengahan Masalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya maksudkan dengan bahasa di sini, terutama yang bersangkutan dengan bahasa Dayak Ngaju, sebagai bahasa pengantar dan alat komunikasi antar sub etnik di Kalimantan Tengah (Kalteng). Hal ini perlu saya garisbawahi, karena di Kalteng sejajar dengan jumlah asal etnik warganya, seperti di mana pun, terdiri dari berbagai bahasa, di samping bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa asing,  seperti bahasa Inggris, Jepang, Perancis, dan lain-lain,  tidak saya masukkan kedalam permasalahan, karena jangankan ada karya-karya orang Kalteng yang berbahasa asing, yang berbahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Dayak pun jumlah dan tarafnya pun, dalam perbandingan dengan daerah-daerah  masih jadi tanda tanya. Saya memang memandang penting penguasaan bahasa asing, terutama bagi ilmuwan dan sastrawan. Makin banyak bahasa asing yang kita kuasai, makin baik. Dengan menguasai aktif bahasa-bahasa asing  kita bisa menimba dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan langsung dari bahasa aslinya. Menunggu penerjemahannya akan membuat kita menunggu beberapa tahun, sementara, ilmu pengetahuan berkembang cepat. Belum lagi terkadang ada kesalahan terjemahan dan perbedaan nuansa. Untuk tingkat sekarang memasukkan masalah bahasa asing dan sastra  di Kalteng dalam bahasa-bahasa asing, terasa sebagai mengada-adakan persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa, tidak lain dari sarana yang digunakan untuk bersastra. Karena itu sastra bisa juga disebut sebagai seni berbahasa. Seni yang dilahirkan dengan menggunakan sarana bahasa. Sebaliknya karya sastra, pada gilirannya berperan meningkatkan, mendorong perkembangan maju bahasa,  memperkaya  dan menyempurnakan bahasa. Bukan merusak, memmubat mundur perkembangan bahasa, apalagi memusnahkannya. Dalam perbandingan dari segi jumlah pemakainya bahasa utama yang digunakan di Kalteng, agaknya terdiri dari tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Dayak Ngaju dan Banjar. Sedangkan bahasa Jawa, sekali pun jumlah warga dari Jawa yang datang melalui transmigrasi terancang dan spontan, makin bertambah, hanya bahasa ini, pemakaiannya nampak masih lebih banyak digunakan di kalangan warga asal etnik Jawa saja. Karena alasan demikian, maka dalam tulisan ini ketika memokuskan diri berbicara tentang bahasa Dayak Ngaju, tapi sepintas lalu disinggung juga saling hubungan, pengaruh-mempengaruhi dan susup-menyusup antara ketiga bahasa utama di Kalteng tersebut di atas. Juga ketika membicarakan masalah sastra di  Kalteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya pahami ketika berbicara tentang sastra di Kalteng, adalah  semua karya sastra dalam bahasa apa pun yang digunakan dalam bersastra di Kalteng. Bukan hanya karya-karya yang diciptakan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak Ngaju, tetapi juga yang menggunakan bahasa-bahasa sub etnik Dayak lainnya. Tapi sejauh ini dalam dunia sastra di propinsi ini karya-karya sastra dominan ditulis atau diciptakan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Dayak. Bahasa-bahasa lainnya, seperti Bugis, Batak, Madura, Jawa tidak atau belum nampak digunakan dalam bersastra. Ada memang seorang penulis yang mulai menulis dalam bahasa Jawa tetapi belum disiarkan, dan jumlahnya masih tidak penting.   Karena itu, dalam tulisan ini, masalah sastra di Kalteng menjadi terbatas pada sastra yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Dayak. Saya masukkan juga dalam kategori sastra di Kalteng  adalah sastra lisan dalam berbagai bahasa Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan saya memasukkan sastra lisan, karena sastra jenis ini sangat mentradisi di Kalteng sampai sekarang, seperti diperlihatkan oleh sansana kayau, karungut, deder, legenda-legenda dan cerita-cerita rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa masalah bahasa dan sastra, dengan kata lain, bagaimana keadaan bahasa dan sastra di Kalteng, yang menjadi tema tulisan ini sesungguhnya tidak lain dari upaya membaca keadaan. Dari membaca keadaan tersebut, kita mengenal masalah, dan setelah mengenal permasalahan, kita bisa mengembangkan yang positif, serta mengatasi  yang negatif atau kendala-kendala yang merintangi jalan maju. Dalam membaca keadaan, saya menggunakan sedikit pengalaman ketika turut bekerja dalam kegiatan sastra-seni selama berada di Kalteng hingga tahun 2002, ketika kembali ke Kalteng, saya mencoba berbincang langsung dengan teman-teman lama yang masih tinggal di Kalteng, dan teman-teman baru yang berkecimpung  di dunia bahasa dan sastra. Mencermati penerbitan-penerbitan baik buku-buku, harian-harian seperti Dayak Pos, Kalteng Pos, Palangkaraya Pos, majalah, tabloid, Majalah Suar Betang, dan bulletin-buletin informasi alternatif, berbincang dengan orang-orang dari  berbagai lembaga serta kalangan-kalangan terkait, termasuk para seniman  baik yang menggunakan bahasa Indonesia  sebagai alat ekspresi mau bahasa-bahasa Dayak,  dan memasuki toko-toko buku, kios-kios, mendatangi  perpustakaan-perpustakaan daerah serta universitas, terutama Perpustakaan Universitas Negeri Palangka Raya untuk menakar tingkat bacaan di Kalteng. Sekali pun demikian, saya masih menganggap data-data saya masih terbatas, apalagi diganggu oleh tersebarnya dokumentasi saya oleh seringnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu tulisan ini tidak lebih dari upaya “melempar batu bata untuk mendapatkan giok belaka”, bersifat penuturan keadaan sebagai buah pengamatan, betapa pun masih tak lebih dari hasil penglihatan seseorang yang berada “di punggung kuda sambil melihat bunga”.  Sebuah deskripsi keadaan dalam usaha membaca peta keadaan untuk mengenal masalah sebagai langkah awal utama guna menyelesaikan demi pengembangan, revitalisasi kehidupan sastra-seni di propinsi, melakukan kegiatan-kegiatan bersastra atas dasar suatu rancangan mengakar, bukan rancangan rekaan subyektif. Atas dasar pengenalan keadaan pulalah, barangkali, kemudian kita merumuskan suatu politik bahasa, politik sastra-seni atau secara umum, merumuskan suatu politik kebudayaan yang tanggap dan apresiatif untuk Kalteng sebagai pengejawantahan dari  rangkaian nilai perekat berbangsa dan bernegara, yaitu rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan.  Adakah politik kebudayaan tanggap di Kalteng? Jika ada, bagaimanakah jelasnya politik kebudayaan tersebut? Adakah dan bagaimanakah politik bahasa di Kalteng? Jika ada, bagaimana kongkretnya? Jika ada, bagaimana pengejawantahannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Republik dan Indonesia sebagai Bagan Besar (Grand Design)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  Paris, pada jam 23:00  malam, Adian Silalahi dan Mohamad Ichsan, dua Duta Besar Republik Indonesia beserta sejumlah diplomat-diplomat teras lainnya dari Perancis dan Negeri Belanda secara khusus datang ke Koperasi Restoran Indonesia 1), 12 Rue  Vaugirard, 75006 Paris. Mereka datang bukan untuk makan, tetapi untuk berdialog. Penulis kebetulan hadir dalam dialog akrab. Pada diskusi tersebut . Dubes Moh. Ichsan, antara lain mengemukakan evaluasinya bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan krisis, ketiadaan ide perekat untuk berbngsa dan bernegara. Menanggapi pendapat Moh. Ichsan demikian, saya katakana bahwa pandangan demikian barangkali tidak tepat. Kita sudah mempunyai ide perekat berbangsa dan bernegara. Masalahnya barangkali terletak pada diabaikannya, bahkan dipinggirkannya ide perekat itu, sehingga untuk suatu kurun waktu berdasawarsa, RI berobah dari repubublik menjadi suatu kerajaan neo-feodal tipe Mataram. Politik kebudayaan Jawanisasi berlangsung menggantikan Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai, program, cita-cita dan politik kebudayaan. Republik sebagai rangkaian nilai berisikan nilai-nilai kemerdekaan, kesetaraan dan persamaan (liberté, égalité et fraternité) 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua fasih menyebut Republik Indonesia (RI). Selain sebagai bentuk Negara, Republik Indonesia yang terdiri dari kata-kata Republik dan Indonesia, saya kira juga merupakan serangkaian nilai. Sedangkan Indonesia atau berkeindonesiaan mengandung penghormatan dan penjunjungan terhadap kemajemukan, pandangan yang ditandaskan dalam motto “bhinneka tunggal ika”. Indonesia dan berkeindonesiaan dengan demikian menentang pikiran tunggal (la pensée unique) dalam berbagai bentuk seperti otoritarianisme, diktaturialisme, paternalisme, primordialisme, feodalisme, neo-feodalisme, dan militerisme. Di segi lain berkindonesiaan juga mengandung makna bahwa bangsa kita menolak “besarisme”, baik ia dalam bentuk suku, agama atau aliran. Berkeindonesiaan berarti memandang bahwa kemajemukan itu suatu realita yang indah, sedangkan penyeragaman itu membawa kita ke jurang bahaya bertentangan dengan hakekat manusia. Saya melihat bahwa konsep ini pernah diwujudkan oleh sistem betang  3) terhadap warganya. Konsep budaya betang agaknya berbeda dengan sistem Negara kota zaman Yunani Kuno yang di Barat dipandang sebagai contoh serta janin demokrasi Barat sekarang. Bedanya, budaya rumah betang, tidak mengenal budak, sedangkan Negara Kota Yunani Kuno terdapat budak-budak dan budak tidak dipandang sebagai warganegara. Dalam konsep budaya rumah betang terdapat keserasian antara hubungan indidivu dengan kolektif betang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk waktu yang lama sebenarnya kita mentrapkan politik kebudayaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan, ketika kita berpatokan pada UUD 1945 yang antara lain mengatakan bahwa yang disebut kebudayaan Indonesia adalah “puncak-puncak kebudayaan daerah”. Siapakah yang mengukur budaya daerah ini dan itu adalah puncak atau tidak puncak? Apa standarnya? Yang sering terjadi adalah para penyelenggara Negara yang kebetulan banyak berasal dari suku mayoritas yaitu Jawa. Perumusan UU ’45 di atas memberi peluang untuk mengembangkan suku besarisme. NKRI yang ditafsirkan secara semena-mena sebagai sistem sentralistik dengan hasil-hasil negatifnya, saya kira juga bentuk lain dari pengingkaran terhadap nilai-nilai republiken dan  berkeindonesiaan. Republik dan Indonesia adalah grand design bagi kita dalam hidup bernegeri, berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna mewujudkan grand design (bagan besar) ini dalam bidang kebudayaan, termasuk dalam dunia sastra-seni, saya kira wacana sastra-seni kepulauan lebih rasuk daripada pemusatan nilai dan sentra-sentra legalitas kebudayaan. Tersebarnya universitas-universitas dan perguruan-perguruan tinggi di berbagai pulau, sebagai motor dan pendukung pengembangan kebudayaan, termasuk sastra-seni, syarat untuk mewujudkan dan mengembangkan sastra-seni kepulauan makin besar dan nyata. Di daerah-daerah dan pulau-pulau tumbuh komunitas-komunitas sastra-seni. Menurut perkiraan Gola Gong, tokoh utama dari Komunitas Sastra-Seni « Rumah Dunia » Serang, Banten, sampai tahun lalu, di Indonesia paling tidak terdapat 7000 komunitas sastra-seni. Berbagai pertemuan tukar pengalaman antar komunitas ini telah berlangsung di Kudus, Jambi,Yogyakarta, Lampung, Serang. Yang paling peting dari pertemuan demikian adalah pertemuan « Ode Kampung » yang berlangsung di Serang  saban tahun, pada kesematan mana berkumpul ratusan komunitas dari berbagai penjuru tanahair. 4) Adanya komunitas-komuitas begini secara nyata melakukan desentralisasi kegiatan kebudayaan dan desentralisasi nilai sekaligus. Jakarta, Yogya, Bandung tidak lagi dipandang sebagai standar nilai. Sayangnya dalam pertemuan-pertemuan antar komunitas sastra-seni demikian, sampai sekarang tidak pernah terdengar adanya wakil dari Kalteng, keadaan yang barangkali memperlihatkan tingkat kegiatan sastra-seni di provinsi ke-17 ini. Mengapa kegiatan sastra-seni di Kalteng nampak lesu? Bahkan dari Majalah Suar Betang, Palangka Raya, Jurnal Kebahasaan, Kesastraan, dan Pengajarannya, terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, penulis-penulis asal etnik Dayak yang mengisinya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Masalah yang diangkat oleh Majalah juga nampak asing dari permasalahan lokal. Pertanyaan saya, diapakan dan di kemanakan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Bahasa? Mengapa tidak disiarkan di Majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suar Betang&lt;/span&gt;, sehingga sesuai namanya “Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah”, majalah mencerminkan sedikit banyak permasalahan lokal. Tidak hanya namanya saja Majalah terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah tapi masalah Kalimantan Tengah dan Suar Betang hanya dijadikan papan nama. Persentase isi nomor-nomor yang saya baca 5), lebih banyak bersifat umum nasional daripada mengangkat permasalahan daerah. Apa bagaimana dan mau ke mana majalah ini dan Balai Bahasa Kalteng? Apa bagaimana politik kebudayaan dan bahasa yang dipegangnya? Di mana tempat Kalteng? Apakah Balai Bahasa tidak menganggap ada masalah dalam bahasa di Kalteng? Apakah benar bahwa di Kalimantan Tengah,  tidak terdapat  masalah dalam bahasa-bahasa yang perlu diselesaikan? Saya khawatir bahwa dalam bidang kebudayaan, bahasa dan sastra pun di Kalteng terjadi yang dikatakan oleh tetua Dayak bahwa “tempun petak batana saré, tempun uyah batawah belai, tempun kajang bisa puat” (punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa, punya atap basah muatan). Kemalangan bernama marjinalisasi begini hanya teratasi dengan politik budaya yang republiken dan berkeindonesiaan, sementara politik kebudayaan yang jelas tidak saya lihat di provinsi ini. Sastra-seni  pun mengalami kehidupan seperti kerakap di atas batu, mati segan hidup tak mau, jika menggunakan istilah Aliemha Huda, seorang seniman teater Kalteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Apa yang kita dialogkan jika seragam. “Kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal”, ujar filosof Perancis, Paul Ricoeur. Dan “kebudayaan lokal merupakan bahasa untuk berdialog dengan budaya lain di dunia”,  tambah filosof tersebut yang meninggal pada bulan Mei 2008 lalu di Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 32 menyebutkan bahwa “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional” maka  sastra daerah yang menggunakan bahasa daerah pun merupakan bagian dari khazanah kebudayaan nasional, tidak perduli, apakah karya-karya tersebut “puncak” atau tidak puncak. Kalau demikian maka sebagai konsekwensi logis dari ketetapan Undang-undang Dasar di atas adalah suatu kewajiban juga bagi pemerintah daerah, cq. Balai Bahasa, Dinas Kebudayaan dan dinas-dinas terkait, termasuk Walikota, serta berbagai lembaga kemasyarakatan lainnya untuk mengembangkan bahasa-bahasa Dayak dan kebudayaan, sastra-seni Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Masalah Bahasa di Kalimantan Tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertama kali saya kembali ke Kalimantan Tengah pada tahun 1998, setelah meninggalkannya pada usia 11 tahun, saya kaget mendapatkan bahwa tidak sedikit keluarga Dayak yang berbahasa dengan anak-anaknya dalam bahasa Banjar. Demikian juga anak-anak muda muda Dayak berbicara sesamanya tidak menggunakan bahasa Dayak Ngaju, bahasa pengantar umum di kalangan orang Dayak di Kalimantan Tengah, tapi lagi-lagi menggunakan bahasa Banjar. Bahasa Banjar seakan-akan bahasa ibunya. Ketika saya pulang tahun 2009 ini, keadaan demikian masih saja berlangsung. Bahkan menurut keterangan Rolan Iso, salah seorang pemimpin organisasi mahasiswa Katolik yang meluangkan waktu menjumpai saya di Wisma Edelweis Jalan Yos Sudarso 95, Palangka Raya, mengatakan ada anak Dayak yang sama sekali tidak bisa beebahasa Dayak karena di rumahnya anak tersebut tidak diajarkan berbahasa Dayak. Oleh kenyataan demikian, paman Rolan dengan marah berkata: “Kalian ini hanya mengaku Dayak jika menginginkan jabatan, padahal sesungguhnya dalam perbuatan kalian telah mengkhianati Dayak, mengingkari diri kalian sebagai orang Dayak”. Jauh sebelum 1992, di tahun mana Kongres Nasional Dayak dilangsungkan di Pontianak, tidak sedikit orang Dayak yang malu bahkan tidak mau mengaku diri orang Dayak. Menanggapi sikap begini, maka untuk mengakhiri polemik panjang bertahun-tahun tentang kata Dayak atau Daya, atau Dyak, guna menamakan komunitas masyarakat yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Kongres sepakat memutuskan untuk menerima dan  selanjutnya menggunakan kata Dayak, walau pun Belanda sejak lebih seabad lamanya menyebut manusia Dayak sebagai Dajakers berarti segala kejahatan dan keburukan. Pemburukan orang Dayak oleh Belanda dilakukan sebagai bentuk agresi kebudayaan bersamaan dengan pelaksanaan politik budaya ragi usang 6)-nya. Setelah melihat bahwa  agresi kebudayaannya tidak sepenuhnya berhasil, kemudian Belanda melancarkan agresi bersenjata atau fisik, dikonsolidasi dengan pendidikan dengan mengutamakan sub-suku tertentu sehingga sub-sub suku tertentu ini merasakan diri sebagai “bangsawan Dayak”. Dalam perang gerilya di Kalimantan “bangsawan Dayak” atau elit baru Dayak  ini, umumnya menjadi kolaborator Belanda seperti yang terjadi di Kasongan, sekarang ibukota kabupaten Katingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan menjaga “kesatuan dan persatuan” bangsa dan negara sesuai konsep sentralistik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), konsep Manusia Baru Indonesia, dan Manusia Pancasilais, melawan SARA, Orde Baru melanjutkan politik rgi usang dengan lebih keras sejalan dengan pendekatan “keamanan dan stabilitas nasional”, dan Golkarisasi, dengan hasil merusak lebih dahsyat. Struktur dan lembaga-lembaga Masyarakat Adat Dayak dirusak. Lembaga Damang digolkarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari agresi budaya dan politik ragi usang ini menumbuhkan rasa rendah diri, seperti malu dan tidak mau mengaku Dayak di tengah pergaulan umum. Rasa  rendah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui keputusan di atas, Kongres mengobah kata yang berkonotasi buruk dengan mengisinya dengan kualitas baru sehingga mengobah makna kata  Dayak yang semula. Mengobah yang negatif menjadi positif sebagai salah satu sisi dari hal ikhwal. Tapi agaknya keputusan Kongres tidak serta-merta mengakhiri rasa rendah diri tersebut, sampai-sampai dalam keluarga, entitas terkecil masyarakat, bahasa yang digunakan bukanlah bahasa Dayak, tetapi bahasa Banjar. Bahasa Banjar dijadikan sebagai jubah pembungkus rasa rendah diri saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seriusnya gejala begini sampai menarik perhatian Gereja Kalimantan Evangelis hingga pada 10 Mei 2009 yang lalu, secara khusus menyelenggarakan seminar sehari membahas masalah ini.7) . Dalam makalahnya Pendeta Tawar Soewardji, M.Th. 8), antara lain menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang memang terjadi pergeseran, khususnya di daerah perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Di lingkungan gereja. Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa liturgis, porsinya semakin kecil. Dalam ibadah mnggu dengan bahasa daerah (Ngaju dan Maayan) yang hadir rata-rata sedikit jika dibandingkan dalam ibadah bahasa Indonesia. Biasanya kebanyakan yang hadir kaum tua. Kenapa? Sebabnya antara lain: (1). Sebagian besar warga jemaat terbiasa beribadah dalam bahasa Indonesia. (2). Kaum muda tidak terlalu memahamibahasa daerah secara mendalam. Sehingga ada istilah-istilah dalam bahasa daerah yang tidak dipahami dengan baik. (3). Anak-anak, remaja, pemuda, sejak Sekolah Minggu, kelas katekasi serta kegiatan remaja dan pemuda, bahasa pengantarnya adalah bahasa Indonesiaa. (4). Para pendeta (khususnya angkatan muda) sebagian besar masih kurang pengalaman dalam memimpin ibadah bahasa daerah.&lt;br /&gt;  2. Dalam lingkut keluarga. Tidak semua  keluarga menggunakan bahasa daerah secara intens dalam berkomunikasi di lingkup keluarga. Bahasa Banjar atau bahasa Indonesia secara umum dipergunakan.&lt;br /&gt;  3. Bahasa pergaulan (di sekolah) dan bahasa “pasar”, cenderung menggunakan bahasa Banjar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan demikian maka Pendeta Tawar Soewardji, berkesimpulan bahwa “… ada indikasi menurunnya penggunaan bahasa daerah di lingkup perkotaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan demikian juga dilihat oleh Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) sehingga dalam Rencana Tindak Lanjut Program Kerja Majelis Adat Nasional Tahun 2008-2010, Hasil Rakernas IMADN tanggal 26-29 Mei  2008 di Palangka Raya, dalam “Bidang Seni Budaya”, titik 28  dituliskan dengan tandas agar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mewajibkan penggunaan bahasa Dayak di lingkungan keluarga Dayak, untuk melestarikan kekayaan budaya Dayak sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia” 9), sedangkan di bidang pendidikan, titik 46, MADN berpendirian perlu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mendesak Pemerintah dan Pemerintah Daerah agar muatan lokal tentang seni budaya, adat-istiadat dan hukum adat Dayak mulai tingkat SD,SLTP hingga SLTA diterapkan di seluruh wilayah Pulau Kalimantan”. 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala ini pun agaknya dilihat oleh pihak Dinas Kebudayaan yang ketika berbicara di peluncuran buku “The Ot Danum From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan (Based On Tatum) Their Histories And Legends” tulisan Abdul Fatah Nahan dan Duhing Dihit Rampai (bentuk fotokopie , 38 cerita), 27 April 2009 dalam rangka merayakan Hari Bumi  di Palma, antara lain mengatakan tentang “kemerosotan  nilai-nilai Dayak”. 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap gejala ini, salah seorang tokoh cendekiawan dan masyarakat Dayak di Palangka Raya, menjawab pertanyaan saya menjelaskan bahwa “keadaan demikian terjadi karena bahasa Banjar adalah bahasa elit”.  Artinya bahasa-bahasa Dayak tidak elit. Bahasa-bahasa rendahan atau kaum rendahan.  Sayangnya, “tokoh” cendekiawan dan masyarakat ini tidak menjelaskan di mana letak elitnya bahasa Banjar dan di mana tidak elitnya bahasa Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuturan di atas barangkali bisa memperlihatkan masalah yang dihadapi oleh bahasa-bahasa Dayak. Jika tidak awas, bukan tidak mungkin bahwa cepat atau lambat bahasa-bahasa Dayak itu akan melenyap. Keadaan di atas pula memperlihatkan bahwa komunitas Dayak masih dan terus-menerus  menghadapi  masalah identitas. Makin melemahnya posisi bahasa Dayak Ngaju hanyalah merupakan satu indikasi penting sebelum ramalan antropolog Barat tentang melenyapnya suku Dayak menjadi kenyataan.  Lemahnya identitas manusia Dayak begini, saya kira, disebabkan karena pandangan dan sikap orang Dayak sendiri, sehingga jika kemudian pelenyapan maka ia bisa dikatakan sebagai sikap bunuh diri budaya. Orang Dayak tidak bisa menghargai khazanah budaya sendiri dan diri sendiri. Dengan mempertahankan pandangan dan sikap begini, orang Dayak meminggirkan diri sendiri dan secara sukarela mengasingkan diri dari Tanah Dayak. Bersamaan dengan gejala bunuh diri dan pengasingan diri sukarela ini, saya juga melihat larutnya masyarakat Dayak ke pusaran budaya pop.12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman begini, saya ingin hadapkan dengan apa yang ditulis oleh Dr. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, dalam Suar Betang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sisi lain, pemeliharaan bahasa daerah meliputi upaya perlindungan bahasa daerah dari kepunahannya agar tetap eksis dalam kehidupan penuturnya. Perlindungan itu dilakukan antara lain melalui revitalisasi kedudukan dan fungsi bahasa, termasuk aksara, dan sastra daerah dalam ranah-ranah penggunaannya di dalam masyarakat pendukungnya”. 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya garis bawahi dari kalimat-kalimat Dr. Dendy Sugono di atas adalah sinyalemennya tentang bahaya « kepunahan” sebuah bahasa, yang memang banyak terjadi di dunia. Apalagi, sejauh ini saya tidak melihat upaya kongkret dari lembaga ini dan itu  untuk mencegah “kepunahan” bahasa-bahasa Dayak. Di tengah ancaman “kepunahan” ini, saya girang menyaksikan prakarsa Anthony Nyahu, seorang linguist muda usia asal Katingan untuk menerbitkan Buletin Tamuei dalam bahasa Dayak Ngaju. Buletin Tamuei, betapa pun sederhananya merupakan penerbitan pertama yang sepenuhnya menggunakan bahasa Dayak Ngaju. Barangkali sambutan terhadap Buletin Tamuei ini bisa dijadikan barometer kesadaran berbudaya orang Dayak, gantang penakar sejauh mana orang Dayak bisa menghargai budaya, bahasa dan diri mereka sendiri. Saya berharap,mudah-mudahan Buletin Tamuei bisa mendorong tumbuh berkembangnya penulis-penulis berbahasa Dayak dan memberikan sumbangan dalam penyediaan muatan lokal untuk sekolah-sekolah. Tentang bahan-bahan untuk muatan lokal ini, sampai sekarang agaknya lebih banyak isi dari suatu keputusan rapat kerja, konfrensi dan kongres, tapi tidak diikuti dengan tindak lanjut yang nyata, sehingga keputusan-keputusan dan resolusi-resolusi tinggal jadi huruf-huruf mati di kertas-kertas yang kian menguning oleh perjalanan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Dr. Dendy Sugono mengatakan bahwa “Pusat Bahasa telah melakukan sekitar 2500 penelitian berbagai aspek kebahasaan dan kesastraan sejak tahun 1974”, 14) yang berarti rata telah melakukan sekitar 17-18 penelitian setiap  tahun atau kurang lebih satu penelitian saban bulan (apakah dilihat dari skala nasional jumlah ini cukup berarti?), yang saya tanyakan “diapakan dan di kemanakan hasil penelitian itu, termasuk hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Kalimantan Tengah? Mengapa hasil penelitian itu tidak dijadikan milik masyarakat dengan menerbitkannya secara luas, paling tidak disiarkan melalui Suar Betang?”. Apakah usaha mencegah ancaman kepunahan terhadap sebuah bahasa bisa ditangani oleh Balai Bahasa sendiri? Ataukah riset dilakukan untuk riset saja, tidak dikerjakan dengan pendirian seorang cendekiawan organik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal kepunahan sebuah bahasa, serta-merta saya teringat akan bagaimana orang Perancis memelihara, mengembangkan dan menyempurnakan bahasa mereka. Saya teringat akan Bernard Pivot yang mengatakan bahwa sebuah kata setara dengan sebatang pohon di hutan yang kelestariannya perlu dijaga. Saya teringat akan kuis-kuis dalam berbagai bentuk dan acara, dimanfaatkan sekaligus untuk mememelihara dan mengembangkan bahasa. Bagaimana kemudian setiap tahun l’Académie Française, lembaga pengembangan bahasa, memasukkan kata-kata baru dalam Kamus Robert yang merupakan kamus standar. Bagaimana koran-koran, radio dan televisi turut urun yuran melakukannya. Teringat juga bagaimana politik bahasa di zaman Soekarno yang memandang penting peran bahasa daerah dalam pengembangan dan penyempurnaan serta pemerkayaan bahasa Indonesia. Bahasa daerah dan bahasa Indonesia, dilihat mempunyai hubungan saling mendekat dan mengisi. Bahasa gado-gado belum berkembang. Ada usaha untuk mendemokratisasikan bahasa Indonesia. Dengan ingatan-ingatan tersebut saya memandang perkembangan bahasa Indonesia dan daerah sekarang dengan perasaan berdebar. Akankah bahasa Dayak Ngaju punah, akankah bahasa Katingan melenyap oleh pola pikir dan mentalitas kita sendiri? Bahasa adalah alat berpikir dan mengembangkan diri. Dari kemampuan berbahasa juga kita bisa melihat tingkat kesadaran berbahasa dan tingkat pemikiran seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Masalah Sastra di Kalimantan Tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saya katakan di atas, dalam titik ini saya membatasi diri pada sastra yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak, terutama Dayak Ngaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa nama yang aktif dalam dunia sastra yang menggunakan bahasa Indonesia adalah Aliemha Huda (pimpinan Komunitas Terapung), Davy, M. Anwar MH., Supardi, Pudji Santosa,Munir. Mereka adalah penulis-penulis asal Jawa yang menetap di Kalimantan Tengah. Sedangkan penulis-penulis asal Dayak sendiri antara lain Ben Abel, Sandy Firly kelahiran Kuala Pambuang,  Sungai Seruyan, Jeanyta Addiststy, Ranny Djandam, Marko Mahin, Anthony Nyahu, Nila Riwut. Salawati Taher, Danar, Anse Srineni, Ambu Naptamis, Titin, Abdul Fatah Nahan, During Dihit Rampai, Kurnia Untel. Sedangkan dari angkatan lebih tua terdapat nama-nama seperti Tjilik Riwut, T.T. Suan, Prof. K.M.A.Usop, dan lain-lain. Kalau pengamatan saya tidak salah, agaknya antara generasi yang lebih tua dengan generasi yang sekarang, seakan-akan terdapat suatu hubungan terputus. Barangkali karena syarat mereka lahir dan membesar sudah sangat berbeda. Angkatan yang lebih tua, lahir dan besar di masa perjuangan melawan penjajahan, sedangkan generasi yang tumbuh belakangan hidup di saat Kalimantan Tengah sudah berdiri. Generasi yang belakangan, pada umumnya berkesempatan mengenyam pendidikan yang teratur, sedangkan yang terdahulu bersandar pada otodidak. Keterputusan ini pun barangkali terdapat pada wacana. Perbedaan latar belakang begini mempunyai pengaruh terhadap karya-karya mereka. Keterputusan ini terdapat lebih besar lagi dengan sastrawan-sastrawan yang berasal dari luar Kalimantan Tengah, terutama yang dari Jawa. Mereka asyik dengan kegiatan mencipta mereka dalam bahasa Indonesia. Sekali pun mereka berbicara tentang Kalimantan Tengah, tapi terasa mereka kurang menghayati permasalahan di Kalimantan Tengah di mana mereka berkeputusan untuk menetap. Bisa dimengerti jika mereka menulis tentang Kalimantan tetapi dengan pola pikiran dan perasaan Jawa di mana mereka dilahirkan dan melampaui periode pembentukan diri mereka sebagai manusia. Barangkali karena itu pula maka antara seniman-seniman asal luar Kalimantan Tengah dan yang Dayak, sampai sekarang nampak sulit untuk terjalinnya komunikasi serta kerjasama walau pun mereka sama-sama bergerak di satu bidang, yaitu bidang sastra. Dahulu, sekitar tahun 2000an terdapat seorang bernama Andi Burhanudin, penyair dan novelis dalam bahasa Indonesia, asal Bugis. Andi sangat aktif dan gesit. Berjasa dalam turut menggerakkan kegiatan sastra berbahasa Indonesia di Kalimantan Tengah pada saat ia bekerja di Kalimantan Tengah. Tapi seperti penulis-penulis lain asal luar Kalimantan Tengah, sekali pun ia menulis tentang Kalimantan Tengah, tapi seakan jauh dari Kalimantan Tengah. Jiwa masalah Kalimantan tetap tidak ia resapi. Saya  bertanya-tanya, sekian tahun mereka di Kalimantan Tengah, berapa banyak mereka yang bisa berbahasa Dayak Ngaju tanda minat untuk berbaur dengan masyarakat lokal. Saya juga tidak tahu, apakah hal ini disebabkan karena kekurangan perhatian mereka terhadap politik dan memandang bersastra tidak perlu tahu politik, apakah karena mereka masih belum jauh membaur, maka penghayatan mereka jadi minim? Berada lama, betapapun lamanya, tidak menjamin seseorang mengenal jiwa tempat di mana kita tinggal. Andaikan pembauran ini terjadi, para seniman itu akan mendapatkan betapa dengan pembauran itu mereka mendapatkan sumber ilham berkreasi yang kaya raya. Betapa pun mereka, tetap merupakan  tenaga-tenaga potensial guna memarakkan kehidupan bersastra di Kalimantan Tengah. Jika penulis-penulis berbahasa Indonesia berasal Dayak bisa bekerja bersama-sama dengan sastrawan-sastrawan non Dayak, saya kira akan menjadi suatu melahirkan kekuatan berarti dalam mengembangkan sastra berbahasa Indonesia di provinsi ini. Menghimpun semua potensi ini, saya kira merupakan satu persoalan yang patut dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal pembauran ini, jalan yang ditempuh oleh Eddi Bika, seorang pekerja filem asal Malang, Jawa Timur lain lagi. Ia tidak tinggal di Palangka Raya, tapi di sebuah desa, jauh di hulu Katingan, di Kecamatan Pulau Malan. Ia langsung menceburkan diri ke tengah-tengah petani desa Tura yang telah diabadikannya dalam sebuah filem dokumenter berjudul « Petak Danom Itah » (Tanah Air Kita), berdasarkan  konsep « rakyat membuat filem tentang diri mereka sendiri ». Jalan begini, baru pertama kali ditempuh oleh mereka yang berasal dari Jawa atau dari daerah-daerah lainnya di luar Kalimantan Tengah. Saya percaya, dari tangan Eddi Bika kelak kemudian bukan saja akan lahir karya-karya filem baru, tetapi juga puisi, esai, cerpen bahkan novel yang  menarik. Eddi Bika dan keluarganya terjun ke sumber kreasi yang penuh kemungkinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha menjembatani jarak antara seniman-seniman Dayak dan non Dayak, pada masa pemerintahan Gubernur Wasito,  disponsori oleh Dinas Parawisata, sekitar tahun 199an telah dicoba membangun Dewan Kesenian Palangka Raya, dengan Ketua Umum JJ.Kusni. Di Dewan Kesenian Kalimantan Tengah ini semua seniman dari semua etnik berhimpun. Melalui kerja keras, program rinci selesai dikerjakan. Oleh Gubernur Wasito, hasil rapat dan diskusi berminggu-minggu dianulir dengan “mengangkat”  JJ. Kusni sebagai penasehat diganti oleh M.Anwar MH. Dewan Kesenian lumpuh. Setelah itu, untuk mengatasi kelumpuhan Dewan Kesenian,  atas prakarsa para seniman dari berbagai asal etnik membangun Ikatan Sastrawan Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah dengan JJ.Kusni didaulat untuk menjadi Ketua Umumnya, dan Salundik Gohong, walikota Palangka Raya pada waktu itu sebagai penasehat . Kegiatan sastra berbahasa menunjukan geliatnya. Radio, televisi, koran-koran, diisi secara teratur oleh anggota-anggota ISASI. Peluncuran buku, pembacaan puisi dilakukan. Diskusi berkala berlangsung di kantor ISASI yang menggunakan sebuah KONI di dekat Bundaran Besar. Majalah Dermaga organ ISASI yang memuat karya-karya para anggota ISASI terbit dengan teratur. Beberapa kumpulan puisi berhasil diterbitkan. Aliemha Huda menyebut periode ini sebagai “masa keemasan” sastra berbahasa Indonesia di Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaan, JJ. Kusni oleh penguasa tertentu di Palangka Raya dilarang menduduki tempat Ketua Umum. Sebagai protes, para seniman yang tergabung di ISASI, baik yang Dayak atau pun non Dayak, membiarkan jabatan Ketua Umum kosong. JJ.Kusni dan beberapa teman pengurus inti ISASI oleh satu dan lain sebab meninggalkan Kalimantan Tengah. Supardi  yang dipilih sebagai Ketua Umum ISASI terlalu sibuk. ISASI tak obah kandil redup sampai sekarang. Dewan Kesenian pun hanya tinggal nama dengan deretan pengurusnya, kosong kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi tentang Sastra Bahasa Indonesia di Kalimantan Tengah bertempat di rumah M. Anwar MH, 11 Mei 2009, Makmur Anwar MH mengatakan bahwa pasang-surutnya kegiatan bersastra di Kalimantan Tengah banyak tergantung pada perhatian penguasa pada suatu waktu. Jika petinggi daerah mempunyai perhatian pada sasatra-seni maka kegiatan berkesenian akan marak. Sedangkan bank-bank semegah apa pun gedungnya di Palangka Raya, tidak bisa diharapkan uluran tangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyanggah peran petinggi daerah dan bank-bank dalam memarakkan kegiatan berkesenian di Palangka Raya. Tapi di atas segalanya saya menitikan faktor dalam para seniman. Agaknya sekarang mereka menjadi kekuatan yang terpencar, tidak terhimpun. Asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Perhatian dan uluran tangan petinggi dan bank-bank adalah faktor luar. Jika bersandar pada faktor luar ini, tanpa usaha mandiri dan bersastra secara mandiri, maka kehidupan sastra akan naik turun tak menentu karena tergantung pada unsur luar.  Yang paling penting, saya kira tetap terletak pada upaya para seniman sendiri, sebagai faktor intern. Tanpa bersandar pada faktor intern kegiatan bersastra tidak bakal ajeg. Untuk mempertahankan keajegan ini, agaknya diperlukan organisator dan motor atau lokomotif. Apabila setelah beberapa tenaga inti ISASI meninggalkan Kalimantan Tengah atau Palangka Raya, ISASI lalu lumpuh, agaknya tenaga-tenaga tersebut sekaligus merupakan motor ISASI. Kegiatan bersastra di Kalimantan Timur pun jadi menggeliat setelah kepulangan Korrie Layun Rampan. Korrie agaknya tampil sebagai motor kegiatan bersastra di Kalimantan Timur. Di Makassar, peran lokomotif ini dimainkan oleh Komunitas Panyingkul (bahasa Bugis, berarti Persimpangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi lain, apa yang diucapkan oleh Makmur Anwar MH, yang menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Kalimantan Tengah sekarang (yang melempem), bisa dibaca sebagai kritik ke alamat pemerintah yang kurang perhatian terhadap masalah sastra-seni. Palangka Raya, Kota Cantik, kota kering jiwa, tanpa kepekaan terhadap kesenian, riuh gemuruh budaya pop. Ketidakpekaan budaya ini dan tidak adanya politik budaya yang jelas di berbagai tingkat administrasi, terbaca dari sandung di Pahandut dijual sekitar 4 miliar, sapundu-sapundu di Katingan banyak digergaji dan dijual, cagar budaya dibiarkan menyemak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Sastra Berbahasa Dayak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra berbahasa Dayak terdiri dari dua komponen. Satu, sastra yang tertulis dan kedua, sastra lisan. Bentuk-bentuknya yang terutama berbentuk karungut, deder dan sansana kayau. Sastra yang ditulis dalam bahasa Dayak sungguh sangat sedikit. Di tahun 1999, saya pernah mendapatkan kumpulan-kumpulan karungut. Pada masa Salundik Gohong menjadi Walikota Palangka Raya, entah dalam pertemuan resmi atau tidak resmi, ia selalu mementaskan karungut atau deder disertai dengan manasai (sejenis tari massal). Ketika datang kali ini, saya menyaksikan banyaknya kaset-kaset karungut beredar di pasar. Karya tulis dalam bahasa Dayak, sekarang, hanya bisa didapat di sebuah kolom kecil Harian Dayak Pos, Palangka Raya. Kolom kecil ini hadir dengan setia setiap hari mengunjungi pembacanya. Beberapa penulis karungut yang bisa saya ingat adalah Saer Sua (sekarang tinggal di betangnya di Tumbang Manggu, hulu Katingan), Nyalun Menteng dengan betang mungilnya di KM 27 Palangka Raya. Barangkali larya-karya berbahasa Dayak akan banyak muncul setelah terbitnya Buletin Tamuei yang menggunakan bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa pengantarnya. Sampai sekarang, penulis-penulis asal Dayak yang berkarya dalam bahasa Indonesia, jauh lebih berarti dibandingkan yang menulis dalam bahasa Dayak. Nila Riwut dengan karya tulis terakhirnya berupa Kamus Dayak-Indonesia,, Sandy Firly, cerpenis, Marko Mahin, esais, Anthony Nyahu merupakan nama-nama penulis yang paling produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra lisan berbahasa Dayak, jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang tertulis, terutama yang berbentuk sansana kayau. Sansana kayau, puisi lisan, sangat populer di Katingan. Sejauh pengetahuan saya, karya-karya lisan begini, sampai sekarang belum terekam dan terdokumentasi. Dinan adalah seorang pensansana tergolong baik di Kasongan. Sayang dan sayang, angkatan muda makin tak acuh pada sansana. Sansana makin ditenggelamkan oleh dangdut. Pengguna dan pencipta sansana terutama angkatan tua. Saya membayangkan, seandainya sansana kayau pun menjadi salah satu isi dari muatan lokal, khususnya untuk kabupaten Katingan, di mana puisi lisan ini paling hidup sampai sekarang. Kalau ada acara “Siswa Bertanya, Sastrawan  Menjawab”  diberlakukan untuk sastra berbahasa Indonesia, mengapa acara dan kegiatan serupa dalam skala terbatas diberlakukan juga untuk sastra berbahasa Dayak, baik yang tertulis, maupun yang lisan? Saya membayangkan diri sedang mendengarkan karungut diiringi suling balawung dan kecapi atau sansana kayau ditingkahi suling balawung, kangkanong dan gong. Apabila tidak ada usaha sadar dari pemerintah, barangkali dalam waktu yang tak lama sastra lisan dalam berbagai bentuk akan melenyap. Musnah.Tidak lagi terdengar gaung gemanya di sepanjang tebing sungai mendaki tangga tepian. Kemusnahan budaya merupakan ancaman nyata di Tanah Dayak Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pengamatan saya benar, maka dalam bersastra dan berkesenian umumnya, Kalimantan Tengah termasuk salah satu provinsi yang tertinggal. Komunitas-komunitas kesenian yang ada masih sangat lemah, tidak berdaya, masih menggantungkan diri pada uluran tangan pemerintah. Sementara itu pemegang kekuasaan lokal tidak mempunyai politik kebudayaan yang jelas. Tidak ada organisasi kesenian yang mampu menghimpun potensi-potensi yang dimiliki oleh provinsi. Bidang kebudayaan termasuk bidang yang dianaktirikan. Jika ketiadaan perhatian begini berlarut maka kebudayaan Dayak yang sekarang secara nyata berada di ujung pisau kemusnahan menjadi benar-benar punah. Yang tertinggal hanya nama dan kata Dayak tanpa isi dan makna. Kemusnahan budaya ini lebih disebabkan karena kekurangan kesadaran budaya sehingga merupakan suatu bunuh diri budaya oleh kesukarelaan tak sadar, larut dalam budaya pop yang menyilaukan, juga karena ketidakpahaman. Lebih celaka lagi jika ketidakpahaman ini berlangsung di tingkat atas dan bawah. Di Tingkat atas adalah di kalangan pengelola kekuasaan politik daerah, dan di tingkat bawah yaitu di kalangan masyarakat. Ketidak pahaman dan ketidaksadaran di dua tingkat begini akan mempercepat proses pemusnahan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palangka Raya, Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;——————————&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* J.J. Kusni, lahir di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah, pengelana lima benua, pernah belajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, New South Wales University, Sydney, Australia, L’Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (L’EHESS –sempalan dari Universitas Sorbonne), Paris, Perancis, menjadi pengajar di berbagai universitas dalam dan luarnegeri, menjadi pemakalah dan pembicara dalam seminar-seminar lokal, nasional dan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Koperasi Restoran Indonesia SCOP Fraternité, sebuah badan usaha sekaligus Pusat Kebudayaan Indonesia di Paris, Perancis yang didirikan 27 tahun lalu oleh sejumlah suaka politik Indonesia. Para pendiri dan pekerjanya terdiri dari para cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu, yang terhalang pulang.Dalam buku tamu Koperasi, diplomat-diplomat itu kemudian melukiskan Koperasi ini sebagai “Duta bangsa yang telah berjasa dalam memperkenalkan Indonesia dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Perancis, Eropa Barat dan dunia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Rangkaian nilai yang dilahirkan oleh Revolusi Perancis pada 14 Juli 1789 yang mempunyai nilai universal. Nilai ini mengingatkan saya pada konsep rumah betang manusia Dayak dan pandangan hidup-mati manusia Dayak yang terungkap dalam sastra lisan, khususnya sansana kayau Uluh Katingan: “rengan tingang nyanak jata (anak enggang putera-puteri naga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Paralelisme antara Republik dan Indonesia dengan konsep budaya betang  ini pernah saya ajukan dalam wawancara dengan Radio Hilversum pada 17 Agustus 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Keterangan mengenai Pertemuan Ode Kampung dan Rumah Dunia, bisa dilacak di google dan berbagai milis nasional dan internastional atau website Rumah Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Majalah Suar Betang yang sampai ke tangan saya adalah nomor-nomor: Volume III, No. 1, Juni 2008; Volume III, No. 2,  Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Politik budaya ragi usang, sejenis politik desivilisasi yang dilakukan oleh pihak kolonial Belanda yang memandang bahwa kebudayaan Dayak dalam bentuk apa pun tidak lain dari ragi usang yang harus dibuang. Orang Dayak dipandang sebagai etnik yang biadab dan harus diperadabkan. Tugas memperadabkan manusia Dayak ini dipandang sebagai “misi suci” kaum kolonial dan yang oleh para antropolog awal dibela dengan penamaan “mission scarée” (misi suci).Orang Dayak sendiri tidak pernah menamakan diri mereka sebagai Dayak tetapi dengan nama seperti Ot Danum, Ot Siang, Uluh Kayan, Uluh Iban, Uluh Katingan, Uluh Kahayan,   dan sebagainya yang umumnya sesuai dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) di mana mereka bermukim. Dengan politik budaya ini maka mulailah riwayat pendeskreditan orang Dayak, seperti kanibal, orang hulu, balok,  di Jawa kelelawar disebut pangeran Dayak, Kaharingan disebut Agama Helu (Agama Dahulu, Zaman Bahela), orang musyrik, dan sebagainya, dan sebagainya.Sampai hari ini masih ada yang memandang kebudayaan Dayak sebagai “kebudayaan setan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Lihat makalah-makalah antropolog Marko Mahin: “Retrospeksi dan Proyeksi. Bahasa, Budaya dan Identitas Suku” dan “Leluhur Kami Bukan Adam dan Hawa. Catatan   Ethnograis tentang Perjumpaan Injil dan Budaya Dayak Ngaju” yang disampaikan dalam seminar sehari di Palangka Raya, 10 Mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Lihat pokok-pokok pikiran Pdt. Tawar Soewardji, M.Th. berjudul “Alkitab Dan Budaya Lokal. Retrospeksi Dan Proyeksi”, yang disampaikan pada seminar sehari GKE, di Palangka Raya, 10 Mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Lihat : Rencana Tindak Lanjut Program Kerja Majelis Adat Dayak Nasional Tahun 2008-2010. Hasil Rakernas I MADN Tanggal 26-29 Mei 2008, di Palangka Raya”, halaman 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10) Op.cit. hlm. 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11) Lihat makalah: Marko Mahin, “Menapak Jejak Bungai Tambun di Bumi Tambun Bungai”, 27 April 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12) Lihat: JJ. Kusni « Generasi Pop » dalam http ://jurnaltoddoppuli.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13) Lihat : Dr. Dendy Sugono, « Kebijakan Bahasa Daerah Di Indonesia”, in “Suar Betang”, Palangka Raya, Volume III, No.2 Desember 2008, hlm. 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14) Ibid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari Jurnal Toddopuli (http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com), 12 Mei 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1684058694624453282?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1684058694624453282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1684058694624453282' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1684058694624453282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1684058694624453282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2009/06/bahasa-dan-sastra-di-kalimantan-tengah.html' title='Bahasa dan Sastra di Kalimantan Tengah serta Permasalahan-Permasalahannya'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1554117584171650248</id><published>2008-12-28T16:31:00.000+07:00</published><updated>2008-12-28T16:32:07.691+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Konstelasi Puitika</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dian Hartati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata lahir&lt;br /&gt;menguntai hidup sendiri&lt;br /&gt;mengurai napas bersama waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata lahir&lt;br /&gt;memecah batu ambigu&lt;br /&gt;mencipta simpulan sahaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata lahir&lt;br /&gt;mengabadikan kenangan&lt;br /&gt;usaikan zaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SudutBumi, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dian Hartati&lt;/span&gt;, lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini bergiat di dunia kepenulisan sejak tahun 2002. Menjuarai berbagai lomba kepenulisan dan mendapatkan Anugerah Sastra Jurdiksatrasia 2006. Buku puisinya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nyalindung &lt;/span&gt;(2005) dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cerita Tentang Daun&lt;/span&gt; (2007).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1554117584171650248?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1554117584171650248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1554117584171650248' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1554117584171650248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1554117584171650248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/12/konstelasi-puitika.html' title='Konstelasi Puitika'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-545360870599927652</id><published>2008-12-28T16:30:00.001+07:00</published><updated>2008-12-28T16:33:00.043+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Kedran</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dian Hartati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seolah pasundan yang damai&lt;br /&gt;membawa kawih menenangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rasa di hatimu tak akan hambar&lt;br /&gt;melahirkan mojang jajaka&lt;br /&gt;kirana jauh dari nestapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rindu di hatimu tak akan susut&lt;br /&gt;menernak bias kebajikan&lt;br /&gt;parahyangan dirindu setiap insan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keajaiban mengobati luka&lt;br /&gt;lemah cai bergiwang kemakmuran&lt;br /&gt;kau ibu bagi dalem kaum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedran,&lt;br /&gt;waktu akan kekalkan kenang&lt;br /&gt;baitbait asmarandana selalu mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SudutBumi, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-545360870599927652?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/545360870599927652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=545360870599927652' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/545360870599927652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/545360870599927652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/12/kedran.html' title='Kedran'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1326633048638822712</id><published>2008-12-28T16:29:00.000+07:00</published><updated>2008-12-28T16:30:11.224+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Kisah Lelatu</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dian Hartati&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ia lahir berkat kesucian seorang hawa&lt;br /&gt;ditiupkan ruh pada tubuh besi&lt;br /&gt;diberi kehidupan menjelang usia purnama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langit bersepakat mencipta kilat&lt;br /&gt;gemuruh datang hembuskan aura magenta&lt;br /&gt;jejak napas tercium sudah&lt;br /&gt;angin menambah keangkuhan jiwa&lt;br /&gt;sembada digusar wajah elok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia bernama petaram&lt;br /&gt;mengubah denyut nadi jadi cahaya&lt;br /&gt;ia pantulkan harapan&lt;br /&gt;bersama mantramantra temani majikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SudutBumi, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1326633048638822712?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1326633048638822712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1326633048638822712' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1326633048638822712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1326633048638822712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/12/kisah-lelatu.html' title='Kisah Lelatu'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-2502501229803799055</id><published>2008-12-28T16:28:00.000+07:00</published><updated>2008-12-28T16:29:17.715+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Mencatat Akhir Tahun</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dian Hartati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;empat hari lagi tahun baru&lt;br /&gt;aku tak mau meninggalkan&lt;br /&gt;banyak kerja belum tuntas&lt;br /&gt;selaksa harap tertunda&lt;br /&gt;masih belum bersiap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin rasanya membunuh ego&lt;br /&gt;menghardik waktu percuma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah peristiwa tersisa&lt;br /&gt;selain hujan yang terus menderas&lt;br /&gt;lonceng di gereja mengabarkan natal&lt;br /&gt;takbir idul adha tanda pengorbanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin rasanya rampungkan tugas akhir&lt;br /&gt;melepaskan semua beban&lt;br /&gt;bersiap meretas hari baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu hari lagi&lt;br /&gt;yang terdengar hanya berita kematian&lt;br /&gt;mahal harga beras, hukuman gantung&lt;br /&gt;bencana di akhir tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;haruskan nanti malam kutiup&lt;br /&gt;terompet pergantian hari&lt;br /&gt;menghitung detik per detik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapa mau berjanji&lt;br /&gt;bahwa esok takkan ada bencana&lt;br /&gt;bersepakat menemukan hari baru&lt;br /&gt;menyusun rencana setahun mendatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SudutBumi, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-2502501229803799055?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/2502501229803799055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=2502501229803799055' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2502501229803799055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2502501229803799055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/12/mencatat-akhir-tahun.html' title='Mencatat Akhir Tahun'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7353984401736881681</id><published>2008-12-28T16:21:00.000+07:00</published><updated>2008-12-28T16:22:24.210+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Nasib Sastra di Sekolah pada Era KTSP</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Achmad Bashori&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK 2006, pemerintah menggulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SD hingga SMA. Kurikulum baru ini akan direalisasikan secara bertahap. Tahap awal akan dilaksanakan selama 3 tahun sampai 2009.Hadirnya KTSP sangat diharapkan bisa menyempurnakan dan mengukuhkan pelajaran sastra sebagaimana kurikulum 2004.  Namun, yang terjadi justru sebaliknya, nasib pelajaran sastra belum jelas. Berbagai rekomendasi dari berbagai forum sastra, seminar sastra, dan saran akademisi sastra serta para sastrawan agar pelajaran sastra dipisahkan dari pelajaran bahasa, bagai angin lalu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara materi ajar, sastra memang mendapatkan porsi yang sama dengan aspek kebahasaan yang meliputi membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Tetapi ada dua hal dalam KTSP yang justru mengaburkan posisi pelajaran sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pelajaran sastra tidak secara ekplisit disebutkan dalam standar isi KTSP 2006. Sejak pertama membaca standar isi yang jelas terbaca adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia. Bahkan untuk penyebutan guru pun sudah tidak ada embel-embel guru sastra, yang ada adalah guru bahasa Indonesia. Padahal, dalam KBK 2004 secara jelas tercantum pelajaran (apresiasi) sastra, walaupun masih melekat pada pelajaran bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, KTSP tidak memunculkan nilai sastra (dalam rapor) untuk menghargai prestasi siswa dalam pelajaran sastra. Dari berbagai pertemuan dengan para guru bahasa Indonesia hampir semuanya bingung untuk memberikan nilai evaluasi sastra. Karena nilai sastra menjadi satu (terintegrasi) dengan nilai bahasa Indonesia. Apalagi sampai saat ini belum ada panduan sistem penilaian dan evaluasi KTSP, sebagian besar masih mengacu pada KBK 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghambat&lt;br /&gt;Pergantian penguasa, kekuasaan, dan kurikulum tidak akan mengangkat sastra ke tempat yang lebih baik bila beberapa penghambat pengajaran sastra tidak mendapatkan solusi yang serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, masih melekatnya pelajaran sastra dengan bahasa Indonesia. Pelajaran sastra yang masih 'ikut' pelajaran bahasa Indonesia pada pelaksanaannya akan bergantung pada guru-guru bahasa. Kalau guru bahasa mempunyai apresiasi sastra yang tinggi, maka pelajaran sastra akan mendapatkan perhatian yang lebih. Namun sebaliknya, jika guru tidak memiliki minat terhadap sastra atau apresiasi sastranya rendah, maka pembelajaran sastra cenderung akan dilaksanakan apa adanya sesuai tuntutan 'pemenuhan' kurikulum. Apalagi selama ini pelajaran sastra hanya menyumbang tidak lebih dari 20 persen nilai Bahasa Indonesia pada rapor, persentase nilai lainnya lebih banyak pada kebahasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, rendahnya budaya baca di kalangan guru dan siswa. Faktor  ini disebabkan banyak hal: terbatasnya kemampuan guru untuk membeli buku atau majalah sastra, budaya baca belum tercipta, dan arus konsumerisme akibat kapitalisme menjadikan buku sebagai kebutuhan yang kesekian kali. Salah satu indikasinya, banyaknya keluhan dari para sastrawan disebabkan enggannya penerbit mencetak buku-buku sastra karena tidak laku jual. Penelitian Taufiq Ismail tahun 1997 yang menyebutkan bahwa siswa di Indonesia yang membaca sastra 0% dibanding negara lain saat ini pun masih relevan. Bagaimana mungkin budaya baca tumbuh di kalangan siswa bila para gurunya juga enggan membaca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, minimnya kemampuan guru dalam mengajar sastra. Penyebabnya antara lain, masih kuatnya pola pengajaran lama walaupun tuntutan perubahan begitu kuat. Rutinitas membaca buku paket, menggarisbawahi apa yang disampaikan guru, membuat ringkasan, dan menghafal teori, nama sastrawan, dan karyanya dengan orientasi persiapan ulangan atau ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran apresiasi puisi mungkin salah satu materi ajar yang menarik. Namun dapat membosankan karena guru tidak memiliki  wawasan yang luas, keterampilan yang memadai, dan fasilitator yang proporsional. Tidak seperti pengajaran teori sastra atau sejarah sastra yang lebih menekankan aspek kognitif. Apresiasi puisi membutuhkan persiapan khusus, karena semua pihak yaitu guru, siswa, dan puisi itu sendiri berposisi sebagai objek. Alur komunikasi dalam kegiatan tersebut tidak mungkin satu arah untuk mendapatkan pemahaman, tetapi melalui proses diskusi atau dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya kecintaan guru kepada sastra selain malasnya guru untuk membaca juga diperparah dengan tidak adanya pembinaan secara merata untuk meningkatkan kualitas guru dalam pengajaran sastra. Padahal, guru sastra profesional selalu berusaha melakukan berbagai improvisasi agar pelajaran sastra menyenangkan. Guru dapat memberikan kebebasan  kepada siswa untuk membaca dan mengapresiasi beragam karya sastra (termasuk karya pop) dengan pandangan mereka sendiri. Guru hanya berperan sebagai narasumber dan fasilitator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealisme pada kurikulum 2004 dan KTSP 2006 yang memberikan ruang kreativitas  kadang terkendala dengan target mengejar nilai (angka) ujian yang tinggi sehingga kreativitas sastra 'tergusur' demi tuntasnya materi pelajaran agar sesuai dengan SKL ujian. Bisa dilihat soal-soal dalam Ujian Nasional (UN) yang lebih mengedepankan sisi kognitif daripada apresiatif. Akibatnya, pelajaran sastra yang seharusnya memberi pencerahan bagi komunitas  sosialnya, menjadikan siswa sebagai 'manusia' bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan juga muncul saat praktik penulisan sastra, karena para guru belum biasa terlibat dalam kegiatan tulis menulis.  Memang pelajaran sastra di sekolah bukan untuk mencetak siswa menjadi sastrawan. Sastra diajarkan di sekolah  dan dimasukkan kurikulum karena masih diyakini bahwa sastra memberi manfaat, mengasah kepekaan siswa terhadap berbagai masalah kehidupan beserta alternatif solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kurangnya sarana dan prasarana. Hal ini dapat dicermati dari langkanya perpustakaan  sekolah yang menyediakan berbagai referensi yang up to date (novel, cerpen, puisi, naskah drama, dan penunjang apresiasi sastra), lebih banyak buku-buku lama. Kondisi hampir sama pun dialami perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah. Akses informasi untuk mencerahkan (majalah, intrnet, dan alat komunikasi) bagi guru terbatas. Kondisi tersebut semakin memprihatinkan dengan tidak adanya tempat untuk berekspresi (sanggar sastra, gedung/aula teater) yang representatif. Bandingkan dengan pelajaran yang lain seperti sains yang mempunyai laboratorium cukup lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat. Penghargaan kepada sastrawan yang nyaris tidak terdengar. Justru penghargaan yang diperoleh sastrawan Indonesia bersal dari negara lain. Berbeda dengan profesi di bidang lain (olahraga, ekonomi, IPTEK, dan politik) yang begitu meriah, dielu-elukan, dan mendapat berbagai fasilitas. Jangan kaget apabila sebagian besar siswa di sekolah enggan menggeluti sastra sebagai  profesi yang tidak begitu menjanjikan untuk jaminan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati berbagai kondisi dan realitas saat ini sastra yang kurang mendapat tempat di masyarakat dan pemerintah, rasanya cukup sulit untuk mewujudkan bahasa dan khususnya Sastra Indonesia menjadi pelajaran yang menarik dan favorit. Kiranya perlu memperoleh perhatian yang cukup dari berbagai pihak untuk mengangkat sastra ke  tempat yang lebih terhormat. Jangan sampai ada anggapan bahwa belajar sastra membuang waktu sia-sia. Karena tidak satu dua rekan guru bahasa dan sastra Indonesia yang berkeluh kesah bahwa pelajaran sastra kurang menarik atau diminati para siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Achmad Bashori&lt;/span&gt;, Guru bahasa dan sastra Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Republika&lt;/span&gt;, Minggu, 28 Desember 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7353984401736881681?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7353984401736881681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7353984401736881681' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7353984401736881681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7353984401736881681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/12/nasib-sastra-di-sekolah-pada-era-ktsp.html' title='Nasib Sastra di Sekolah pada Era KTSP'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-365850453955714659</id><published>2008-12-28T16:13:00.001+07:00</published><updated>2008-12-28T16:18:31.440+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Kesusastraan bagi Anak-anak</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kurnia JR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA yang kita dapati di Indonesia sekarang mungkin agak mirip abad yang dihayati Charles Dickens dulu. Kita masih menyaksikan anak-anak berkeliaran di jalan-jalan hingga larut malam. Mereka mengelap kaca mobil yang berhenti saat lampu lalu lintas menyala merah, melompat ke dalam bus kota untuk mengamen, mengemis di jembatan penyeberangan, menjadi korban sodomi dan pemerkosaan, bergaul dengan pencopet, dan sebagainya. Tak sedikit anak-anak di bawah umur terpaksa bekerja membantu orangtua atau diperdagangkan menjadi pelacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus penyiksaan orangtua terhadap anak sering mengisi halaman surat kabar. Inilah sisi dunia rapuh anak-anak. Tampaknya kesusastraan kontemporer kita kurang menaruh perhatian pada kenyataan ini. Saya ingat sebuah cerita yang menarik tentang anak-anak jalanan: B&lt;span style="font-style: italic;"&gt;urung-burung Kecil&lt;/span&gt;. Kisah ini dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Femina pada 1991. Pengarangnya lebih suka dikenal dengan nama Kembangmanggis. Dia melakukan riset dan menuangkan hasilnya dalam bentuk novelette tentang anak jalanan di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Kisah terbaru yang sedang digandrungi adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt; karya Andrea Hirata. Betapapun, setiap orang mendambakan harapan atas dunia yang tak selalu memenuhi kebutuhan. Secara umum, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt; menanggapi harapan itu, menggugah kesadaran tentang perubahan yang bisa diupayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan boyak pada suatu generasi hanya bisa ditanggulangi oleh generasi yang bersangkutan dengan ketangguhan diri hasil pendidikan yang wajib disediakan oleh generasi pendahulu. Empati terbesar tentu dimiliki oleh yang terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang beruntung di segala zaman menikmati pendidikan melalui kesusastraan. Para penutur dongeng, penulis, serta penyanyi lagu ninabobo dari masa ke masa menaruh perhatian besar pada anak-anak. Bahkan, bagi orang dewasa, kesusastraan menyapa lewat naluri kanak-kanak. Sastrawan menulis dan bertutur lewat imajinasi kanak-kanak yang bersemayam dalam jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang klasik adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alice in the Wonderland&lt;/span&gt; (1865) karya Lewis Carroll yang masyhur. Kisah itu sangat digemari anak-anak di berbagai negeri. Melintasi masa hampir satu setengah abad, kisah petualangan Alice terus diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan direproduksi ke dalam berbagai bentuk, dari prosa ke komik, terus ke film dan sebagainya. Lewis Carroll alias Charles Lutwidge Dodgson adalah seorang ahli matematika dan logika. Fakta ini menegaskan bahwa sastra bagi anak-anak menuntut integritas yang berdisiplin tinggi. Para redaktur majalah anak-anak pastilah memahami hal itu sehubungan dengan cerita-cerita yang mereka terbitkan. Selayaknya, kita pun patut menyadari konteks budaya dan ekonomi dari karya yang diciptakan di suatu tempat pada suatu masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia anak-anak dari sudut pandang literer bukan miniatur dunia orang dewasa. Dunia mereka adalah wilayah otonom yang menuntut disiplin logika tersendiri. Wilayah anak-anak bukanlah tempat bagi penulis yang sembrono dan menganggap publiknya sekadar tong sampah tempat segala kebohongan ditumpahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian penulis kadang-kadang terjerumus pada anggapan bahwa dongeng untuk anak-anak cukup berisi ajaran moral yang sumir: kejahatan dikalahkan kebaikan. Prinsip simpel semacam ini umumnya dianut oleh penulis komersial, yang memandang anak-anak sebagai target pasar semata. Mereka lupa bahwa pengolahan imajinasi adalah aspek yang tak boleh diabaikan, disertai aspek moral khas yang lentur. Keluwesan adalah fondasi penting supaya anak-anak tidak dipukau oleh jarak tak terjembatani antara apa yang mereka baca dan apa yang mereka saksikan di dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng-dongeng HC Andersen menjadi klasik bahkan bagi pembaca dewasa. Kisah-kisahnya tak sekadar menyajikan moral kebaikan dan ketabahan, tetapi juga keindahan yang menyentuh hati. Setelah menempuh perjuangan disertai kejujuran dan ketabahan, kisah ditutup dengan pola yang masyhur dan kita hafal: ”Mereka pun selanjutnya hidup bahagia selama-lamanya.” Dongeng-dongeng Andersen atau Jacob Grimm membuat masa kanak-kanak berjuta-juta orang terasa indah dalam kenangan. Pola cerita yang mereka terapkan tetap berlaku hingga sekarang. JK Rowling dan JRR Tolkien bertolak dari sistem moral yang baku dalam karya-karya mereka yang sukses besar secara komersial dan boleh dibilang menjadi dongeng abad ini. Tokoh baik mengalahkan tokoh jahat. Betapapun angker dan perkasa si tokoh jahat, ia pasti lebih lemah di hadapan tokoh baik. Kita tunggu, setangguh apa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Harry Potter&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Lords of the Ring&lt;/span&gt; menghadapi ujian waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andersen menulis dari lubuk hati dan empati karena ia kenal penderitaan sejak masa kecilnya. Ia tuturkan imajinasinya yang hebat dengan gaya yang memukau: tentang bunga lili yang tumbuh di atap rumah, dekat jendela kamar loteng, atau tentang anak miskin yang, karena ketabahan dan kejujuran, berhasil mempersunting putri raja. Dongeng-dongeng Andersen menanamkan pengertian ke dalam benak anak-anak bahwa hidup ini patut diperjuangkan dan karena itu indah. Hidup yang diisi dengan kebajikan pasti akan berbuah keberuntungan. Dalam dongengnya, dunia terasa mengharukan. Andersen seakan membawa misi mengungkap dunia lembut dan welas asih yang acap terbenam di bawah permukaan dunia keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charles Dickens, pengarang Inggris abad ke-19, dengan karya-karyanya memupuk cinta dan dorongan untuk memperbaiki realitas sosial. David Copperfield, Oliver Twist, Dombey and Son, dan lain-lain melukiskan kehidupan yang keras, dangkal, tapi juga mengharukan. Perhatian utama Dickens adalah nasib anak-anak yang tragis sebagai dampak Revolusi Industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dickens menjalani masa kanak-kanak yang menyedihkan. Hidup melarat dengan ayah dipenjara gara-gara utang. Dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-12, ia harus bekerja di pabrik Warren’s yang membuat dia menderita. Trauma itu membekaskan luka jiwa yang tak pernah sembuh seumur hidupnya. Pengalaman masa kecil yang pahit sangat berperan sepanjang kariernya sebagai sastrawan. Dickens melukiskan anak-anak Inggris pada abad ke-19 yang dipaksa bekerja di pabrik-pabrik hingga jauh malam dengan upah sangat rendah atau tanpa bayaran sama sekali, juga anak-anak jalanan dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oliver Twist&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Amerika, pada paruh kedua abad ke-19 Mark Twain menghadiahkan kisah tentang dunia anak-anak yang polos, tetapi sarat dengan ajaran hidup. Tom Sawyer dan Huckleberry Finn layak diperkenalkan kepada anak-anak kita. Buku-buku itu menyuguhkan kisah petualangan yang seru dan jenaka sambil memperkenalkan kearifan hidup dalam konteks kemajemukan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kesusastraan masa Balai Poestaka, ada kisah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Si Jamin dan Si Johan&lt;/span&gt; karya Jan Smees yang disadur Merari Siregar. Buku itu menggambarkan nasib anak-anak yang pahit. Mereka yang pernah membaca buku itu selalu terkenang akan tragedi yang dilukiskan. Tentu saja, bukan hanya cerita sedih yang masuk catatan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Si Doel Anak Betawi&lt;/span&gt; karya Aman yang jenaka sekaligus mengharukan telah menjadi legenda dalam kesusastraan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku adalah satu hal, sedangkan sarana untuk mempertemukan sastra dengan anak-anak adalah hal lain. Di sinilah pemerintah dan orangtua berperan. Dalam kesusastraan, buku hanya salah satu media. Anak-anak di usia dini pastilah beruntung jika memiliki orangtua yang sudi mendongeng di ranjang mereka menjelang tidur, walau tidak setiap malam. Sementara itu, pemerintah selalu diharapkan mengatur harga kertas agar penerbit dapat menyediakan buku murah. Lebih dari semua itu, fondasi utama adalah pendidikan dasar: melek huruf, diiringi pemenuhan hak dasar hidup anak-anak selaku warga negara. Kita masih menanti pemerintah yang mampu menunaikan amanat konstitusi: anak telantar dipelihara oleh negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra pun dapat diakses melalui internet. Di sinilah pemerintah, lembaga nonpemerintah, dan orangtua secara bersama-sama dituntut berperan aktif membantu anak-anak sehingga mendapatkan apa yang patut bagi mereka. Yang diperlukan bukanlah blokade atau berbagai larangan sebab internet adalah fenomena dunia yang bocor. Cukuplah kita renungkan kutipan berikut ini dari Han Suyin (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Many-Splendoured Thing&lt;/span&gt;), ”Betapa senangnya menjadi anak Cina,” kata Pater Low. ”Mereka selalu diajak ke mana-mana. Mungkin itulah sebabnya mereka selalu mudah diurus dan tidak mempunyai banyak kesulitan. Mereka tidak dipisahkan dan dilindungi dari kehidupan nyata sehingga tidak shock saat terjun ke dunia nyata. Kami mendidik orang-orang yang keliru, tapi kalian mendidik pria-pria dan wanita-wanita untuk hidup di dunia orang dewasa. Anak-anak itu tidak ikut-ikutan berbicara atau meniru kelakuan orang dewasa sebab tak banyak yang disembunyikan dari mereka, dan mereka tak percaya orang dewasa lebih banyak tahu daripada mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kurnia JR&lt;/span&gt;, Pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Minggu, 28 Desember 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-365850453955714659?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/365850453955714659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=365850453955714659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/365850453955714659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/365850453955714659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/12/kesusastraan-bagi-anak-anak.html' title='Kesusastraan bagi Anak-anak'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-4344725374793668445</id><published>2008-12-02T14:29:00.006+07:00</published><updated>2008-12-02T17:16:08.077+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Borneonews kembali Raih Penghargaan</title><content type='html'>HARIAN Umum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt; (melalui reportase &lt;a href="http://matasultani.blogspot.com/"&gt;Andri Saputra&lt;/a&gt;, anggota Kantong Sastra, red) menjadi media massa daerah terbaik di Indonesia dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;journalist writing contest&lt;/span&gt; (JWC) yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara nasional pertama direbut majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gatra&lt;/span&gt; (Jakarta), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seputar Indonesia&lt;/span&gt; (Jakarta) posisi kedua, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt; (Jakarta) di posisi ketiga. Sedangkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt; (Kalteng) jadi harapan I, diikuti Tabloid &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maritim&lt;/span&gt; harapan II (Jakarta), dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Koran Kurson&lt;/span&gt; (Kupang) harapan III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt; ini adalah kali keempat mendapatkan penghargaan sepanjang 2008. Sebelumnya, artistik, editorial, dan hasil percetakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt; dinilai terbaik di Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt; juga menjadi yang terbaik se-Kalimantan dalam penggunaan bahasa Indonesia tingkat nasional atau koran daerah terbaik kedua di Indonesia setelah&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Tribun Timur&lt;/span&gt; (Makassar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, Zulkarnain Zubairi (dengan nama pena &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Udo_Z._Karzi"&gt;Udo Z Karzi)&lt;/a&gt; juga mendapatkan &lt;a href="http://lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008061421111313"&gt;Hadiah Sastra Rancage 2008 &lt;/a&gt;untuk buku puisinya, &lt;a href="http://zulzet.multiply.com/reviews/item/5"&gt;Mak Dawah Mak Dibingi&lt;/a&gt;/Tak Siang Tak Malam (BE Press, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penghargaan itu menjadi kado manis bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonew&lt;/span&gt;s yang akan merayakan HUT kedua 23 Desember nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada journalist writing contest (JWC) itu, wartawan Borneonews Andri Saputra mengambil tema Peran Program Small-Scala Natural Resources Management Scheme (SNRMS) Marine and Coastal Resources Manangement Program (MCRMP) dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lomba kali ini, Andri Saputra menampilkan karya tulis dengan judul Fajar Baru dari Pesisir yang mengupas penerapan program SNRMS MCMRP pada sepanjang desa yang ada di kawasan pesisir pantai Kobar mulai dari Desa Kubu, Sungai Bakau, Teluk Bogam, Keraya, hingga Desa Sabuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi saya, prestasi ini merupakan kemenangan tim. Terima kasih atas dukungan rekan-rekan kerja yang sudah membantu. Tak lupa, terima kasih juga untuk Pak Hepy dari DKP Kobar yang banyak membantu dalam observasi data lapangan" kata Andri. (Dri/B-1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Juara Journalist Writing Contest&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;a href="http://www.gatra.com/"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gatra&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (Jakarta)&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/index.php"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seputar Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (Jakarta)&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (Jakarta)&lt;br /&gt;4.&lt;a href="http://borneonews.co.id/"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (Kalteng)&lt;br /&gt;5. Tabloid &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maritim&lt;/span&gt; (Jakarta)&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Koran Kursom&lt;/span&gt; (Kupang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Departeman Kelautan Perikanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Selasa, 2 Desember 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-4344725374793668445?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/4344725374793668445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=4344725374793668445' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4344725374793668445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4344725374793668445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/12/borneonews-kembali-raih-penghargaan.html' title='Borneonews kembali Raih Penghargaan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6059911106875174740</id><published>2008-11-26T14:31:00.000+07:00</published><updated>2008-11-26T14:32:05.833+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Gelisah</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Erna Rasyid&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Biarkan aku menyibak rindu sejenak&lt;br /&gt;Yang semakin hari semakin senja&lt;br /&gt;Aku takut ia menua dalam dekapan malam yang runtuh oleh matari…&lt;br /&gt;Biarkan aku menampik gelisah sesaat&lt;br /&gt;Yang semakin mengikis irama tawa&lt;br /&gt;Biarkan aku mengais waktu agar bisa bersua denganmu dalam kenangan&lt;br /&gt;Mungkinkah aku menemukan seraut wajah&lt;br /&gt;di balik redupnya matari?&lt;br /&gt;Mungkinkah aku menari dengan bulan yang menampakkan cahaya gemulainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gelisah tatkala kutampik rona merah membumi&lt;br /&gt;Aku gelisah ketika ku ukir senyuman di dedaunan kering&lt;br /&gt;Aku gelisah tatkala ku lihat banyak wajah tanpa mulut melumat bumi&lt;br /&gt;Tanah haus akan belaian manusia&lt;br /&gt;Langit bagai kertas yang terbentang tanpa ujung, kelak akan runtuh&lt;br /&gt;Tentang rindunya kepada tanah untuk bercumbu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 24 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6059911106875174740?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6059911106875174740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6059911106875174740' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6059911106875174740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6059911106875174740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/11/gelisah.html' title='Gelisah'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-8141370488752504902</id><published>2008-11-26T14:30:00.000+07:00</published><updated>2008-11-26T14:31:12.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (cerpen)'/><title type='text'>Lukisan Tak Berwajah</title><content type='html'>Cerpen &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Erna Rasyid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEKERJAAN sebagai pelukis di kota kecil ini telah lama kugeluti. Aku menyukainya. Setiap bayi yang lahir di kota kecil ini aku tahu. Saat bayi itu berumur lima tahun, akan aku torehkan wajah itu di atas kanvas yang beraneka warna. Saat berumur 17 tahun pun demikian halnya. Wajah mereka dalam lukisan terpampang disetiap sudut kota. Penuh dengan bingkai berwarna warni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun yang lalu, ada dua bayi yang lahir. Seorang laki-laki dan perempuan. Hari ini aku harus melukis wajah mereka. Yang laki-laki telah selesai aku lukis wajahnya. Sungguh tampan wajah anak ini. Kulitnya halus. Putih seperti pualam. Wajahnya bulat. Yang lebih menarik adalah sorotan matanya yang begitu tajam. Aku yakin, jika anak ini telah tumbuh dewasa ia bisa memikat hati banyak perempuan dengan tatapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk menyelesaikan tugas ini. Sudah biasa aku melihat paras setiap anak seperti ini. Setelah anak laki-laki tersebut, tibalah giliran si anak perempuan. Ia datang ke tempatku bersama dengan seorang nenek . Baju kebaya si nenek mulai lusuh. Begitupun dengan sarung kotak-kotak yang ia kenakan. Nenek itu lalu tersenyum kepadaku. Mengingatkanku kepada ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu lalu duduk di kursi. Tepatnya dihadapanku. Sesaat aku memperhatikannya. Wajahnya biasa-biasa saja tetapi ada pancaran lain dari wajah itu. Aku merasakan ada sesuatu yang beda. Seumur hidup pekerjaan ini aku lakukan baru kali ini mendapati seorang anak yang berbeda. Sulit aku menebak sesuatu yang beda itu. Anak itu selalu saja tersenyum kepadaku. Seperti senyuman nenek yang mengantarnya. Tanpa membuang waktu, aku mulai melukis wajah itu di atas kanvas kesayanganku. Coretan demi coretan aku oleskan di atas kertas putih itu. Aku heran mengapa keringat dingin menyerangku. Tangan ini terasa bergetar. Pensil yang aku gunakan selalu saja terjatuh di lantai. Aku gugup. Siapa gerangan anak perempuan yang aku lukis ini. Begitu misteriusnya ia sampai-sampai tanganku gemetaran. Senyuman yang ia pasang di bibir tipisnya mulai menakutkanku. Telah satu jam aku habiskan waktu tetapi sketsa lukisan itu belum selesai. Aku mulai khawatir dengan diriku. Mengapa aku sulit melukis anak ini. Mungkin karena aku gugup jadi tidak bisa konsentrasi. Pikirku menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa senja akan segera berlalu. Dari seberang barat awan mulai kemerah-merahan. Sedang matahari hanya sepotong kisah. Malam akan segera hadir. Nenek dan anak perempuan itu mungkin cucunya, baru saja pulang. Bukan hendak mengusirnya. Aku menyuruhnya untuk datang lagi besok pagi ke rumahku. Hari ini lukisan anak perempuan itu belum selesai. Seharian aku tidak bisa melukisnya. Entah mengapa. Padahal ia masih seperti anak-anak kebanyakan. Mungkin aku yang tidak fit sehingga tidak bisa konsentrasi melukis. Besok pagi akan aku lukis lagi anak perempuan itu. Saat ia pamit kepadaku, senyuman itu masih menakutkan bagiku. Semoga saja ia tidak memasang senyumannya lagi esok. Harapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rebahkan tubuh lelah ini di tempat tidur. Sejenak menerawang kisah-kisah pagi tadi. Kertas yang ada di genggamanku hanya bisa kutatap. Tidak ada coretannya sedikit pun. Masih kosong. Aku ragu kertas ini masih kosong esok pagi. Aku tidak habis pikir. Mengapa aku tidak bisa melukis anak perempuan tadi. Tidak ada yang istimewa darinya. Ia masih seperti anak-anak yang lain di luar sana. Aku semakin penasaran dengan anak perempuan itu.  Hari ini ada banyak kejadian aneh menimpaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok pun tiba. Aku bangun pagi-pagi sekali mempersiapkan segalanya. Hari ini anak perempuan itu harus aku lukis. Kursi yang ia duduki kemarin telah aku bersihkan. Peralatan lukisku pun telah aku persiapkan dari tadi. Aku tidak ingin ada yang ketinggalan. Setelah bertahun-tahun menggeluti pekerjaan ini, baru kali ini ada kejadian seperti ini. Aku bisa malu jika hal ini diketahui oleh orang banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama menunggu, anak itu pun datang. Ia masih saja didampingi oleh nenek yang kemarin.  Segera aku mempersilahkan mereka duduk. Tanpa basa basi, aku pun menyuruh si anak duduk di kursi yang tadi aku bersihkan. Jantungku langsung berdegup kencang saat ia menatapku dengan senyumannya yang kemarin. Segera mata ini aku sibukkan dengan peralatan lukisku. Tanpa membuang banyak waktu, aku segera memulai melukisnya. Tangan ini gemetar memegang pensil yang semalam tadi telah aku persiapkan. Keringat di dahiku lalu aku usap dengan sapu tangan yang ada di sampingku. Saat aku menoleh, tatapanku bertemu pada satu titik dengan mata nenek itu. Aku berikan saja senyuman yang aku miliki. Ia pun membalas senyumanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam telah berlalu. Kertas itu masih kosong. Dua jam telah berlalu. Kertas itu masih juga kosong. Hingga senja menyapa kertas itu masih kosong juga. Anak dan nenek itu pun aku suruh pulang. Minggu depan lukisannya baru jadi. Nenek itu lalu mengucapkan terima kasih dan memberiku upah. Mereka lalu berlalu. Sedang aku hanya bisa menatap kepergian mereka dengan perasaan cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu telah berlalu. Nenek itu belum muncul ke rumah mengambil lukisan anak perempuan itu. Sebulan telah berlalu. Nenk itu belum muncul juga. Tanpa terasa setahun telah berlalu. Nenek itu tidak pernah datang ke rumah mengambil lukisan anak perempuan itu. Walaupun begitu, Aku masih saja menunggu hingga nenek itu datang mengambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan pagi ini turun dengan derasnya. Suara Guntur selalu saja membuatku takut. Sepertinya aku harus menunggu hujan reda untuk keluar. Hari ini ada sebuah lukisan yang harus aku antarkan kesebuah rumah. Pemilikinya tidak bisa datang ke rumah mengambilnya karena sibuk. Tidak ada salahnya juga aku yang mengantarnya. Apalagi upah telah aku terima dua hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 12 siang hujan pun reda. Segera lukisan itu aku bawa keluar. Lukisan ini harus  sampai ke sebuah rumah hari ini juga. Jalanan sangat becek membuat celanaku agak kotor. Tetapi itu tidak menajdi soal yang penting lukisan ini sampai ke alamat yang ditujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah jalan aku melihat seorang nenek ingin menyeberang. Ia kelihatannya agak kesulitan. Tongkat yang ia gunakan tidak bisa lagi menyanggah tubuhnya yang renta. Aku berlari menuju kearahnya. Segera nenek itu aku papah dan membantunya menyeberang. Sejenak aku perhatikan wajahnya. Sepertinya aku pernah melihat nenek ini. Pakaian kebaya yang ia kenakan pun aku pernah melihatnya. Begitupun dengan sarung yang ia pakai. Saat nenek itu berbalik menatapku, jantungku berdegup kencang tak karuan. Aku hampir saja terjatuh ke belakang karena kaget. Aku ingat. Nenek ini yang pernah datang ke rumah bersama dengan seorang anak perempuan. Aku lalu teringat lukisan anak perempuan itu.  Aku semakin kaget saat nenek itu tersenyum kepadaku. Senyuman setahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu mencari tempat duduk. Aku lalu bertanya kepada nenek itu, mengapa ia tidak pernah datang ke rumahku mengambil lukisan itu. Padahal aku selalu saja menunggu. Ia malah memperlihatkan wajah yang sedih. Ada butiran-butiran kaca dalam kelopak matanya. Ia mulai terisak. Ia lalu bercerita kepadaku. Anak perempuan yang ia bawa ke rumahku setahun yang lalu adalah cucunya. Ia tidak mempunyai orang tua. Lebih tepatnya kedua orang tuanya tidak mau megakuinyas ebagai anak. Ia lahir ke dunia ini sebelum ayah dan ibunya menikah.  Tida ada anak-anak tetangga yang mau bermain dengannya. Para tetangga pun tidak suka kepadanya. Katanya, anak perempuan itu anak haram. Walaupun demikian, anak perempuan itu tetap dianggapnya cucu oleh nenek ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah tahun yang lalu, sebuah kecelakaan menimpa anak perempuan itu. Saat hendak menyeberang jalan, sebuah mobil melaju dengan kencangnya. Ia tidak melihat mobil itu. Saat itu juga, kecelakaan itu merenggut nyawanya. Yang lebih membuatku kecewa, kedua orangtuanya tidak datang pada saat pemakamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku berdiri disebuah nisan berwarna cokelat tua. Ada sebatang bunga kamboja yang tumbuh di samping makam itu. Bunganya mulai bermekaran. Mungkin merasakan kehadiranku. Hanya sebuah lukisan yang bisa aku persembahkan untuk anak perempuan ini. Lukisan setahun yang lalu. Yah. Sebuah lukisan tanpa wajah. Wajah yang tidak bisa membuatku melukisnya di atas kertas putih. Wajah yang ternyata selama ini tidak dianggap oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Sekarang wajah itu terbaring di bawah sebuah nisan yang bertuliskan sebuah nama. Maya. Sebuah ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinrang, 26 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-8141370488752504902?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/8141370488752504902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=8141370488752504902' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8141370488752504902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8141370488752504902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/11/lukisan-tak-berwajah.html' title='Lukisan Tak Berwajah'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-347275849805172346</id><published>2008-11-26T14:28:00.000+07:00</published><updated>2008-11-26T14:30:06.734+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (cerpen)'/><title type='text'>Gerimis dan Ayah</title><content type='html'>Cerpen &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Erna Rasyid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU tahu akan menjadi seorang yang akan dikenal dimana-mana. Dipelosok kota hingga ke desa-desa. Semua orang menghormatiku. Kehormatan yang sangat diinginkan oleh semua orang, pikirku. Panggil saja aku Abdullah. Maaf. Bukan Abdullah tetapi Joan. Panggil aku Joan. Itulah namaku. Kepada siapa saja kamu bertanya mengenai nama itu, pasti semua orang tahu. Tidak ada kesulitan bagimu untuk tahu mengenai aku. Diumur yang menginjak 35 tahun ini, aku merasa telah mencapai segalanya. Meraih segalanya bersama dengan semua angan-anganku dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini ada sebuah harapan untukku. Yah, harapan itu akan selalu ada. Masih mengenakan piyama, aku meneguk segelas kopi di meja. Kopi pahit dan kental yang telah disiapkan oleh pembantu sedari tadi. Mataku tertuju pada sebuah koran pagi ini. Segera aku duduk tak sabar menikmati suguhan koran itu. Baru saja halaman pertama yang aku buka, bibirku tersenyum pertanda kemenangan. Mata ini memancarkan sorotan bahagia. Koran itu lalu aku akhiri dengan tegukan terakhir kopi pahit dan kental itu. Kurasakan perutku telah kenyang oleh suguhan koran itu. Bukan dengan kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini libur bagi pegawai. Aku menggunakan waktu luang ini untuk mencari angin segar atau mungkin ada bisnis baru yang bisa mendatangkan keuntungan yang besar. Istriku aku biarkan ke rumah temannya. Katanya ada arisan. Mungkin sore baru kembali bahkan bisa saja malam. Aku memutuskan ke rumah sahabat lamaku. Pandi. Hanya untuk silaturrahmi. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar rumahnya tidak terkunci. Pagar besi yang mulai karatan karena masa. Aku lalu masuk. Segera pintu ku ketuk. Agak lama juga. Kemudian seorang membuka pintu rumah itu. Aku terkejut melihat penampilannya. Rambut yang awut-awutan, wajah kusut tidak pernah diseterika, dan masih mengenakan piyama.. Sahabatku. Pagi ini disambutnya aku dengan penampilan seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang itu mau maju kalau penampilannya saja tidak bisa diurusnya.  Dengan langkah malas ia mempersilahkanku masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau minum apa?” tanyanya sesaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kopi.” jawabku datar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar aku buatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk mendengar kalimatnya yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir 2 tahun aku tidak berkunjung ke rumah ini. Masih seperti dulu. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja di dinding ruang tamu terdapat sebuah lukisan pemandangan gunung Bawakaraeng. Bagiku itu tidak menarik. Hanya gunung yang bertumpuk-tumpuk dengan warnanya yang hijau seperti karpet yang dijual di emperan toko. Dekat sofa ada sebuah buffet. Di atasnya terdapat dua buah foto terpajang dengan anggunnya. Yang satu fotoku dengan sahabatku sewaktu kami masih menyandang gelar mahasiswa. Yang kedua foto sahabatku dengan keluarganya. Ternyata ia masih menyimpan foto-foto ini. Aku melangkah menuju sebuah jendela di ruang tamu ini. Jendela yang menghadap ke timur. Segera jendela itu aku buka dan membiarkan udara pagi merasuki rumah ini. Berharap ilmu yang mengawang di udara hinggap di kepalaku. Aku melempar pandangan ke luar. Ada banyak petani yang sedang memikul cangkulnya di luar sana. Sedang ibu tani membawa bakul. Mereka hendak ke sawah. Aku melihat senyuman dan tawa di bibir petani-petani itu. Alangkah bahagianya mereka. Tetapi hidup mereka tetap tidak berubah. Aku ingat teman kuliahku dahulu. Namanya Anwar. Ia anak seorang petani. Orangnya sangat rajin dan ramah. Ia bercita-cita menjadi  seorang pengusaha dan bekerja di kota besar. Sehingga bisa menghasilkan banyak uang dan menghidupi keluarganya. Ia tidak mau lagi melihat ayahnya bekerja banting tulang di sawah. Tetapi semua keinginannya itu hanya impian belaka. Lulus kuliah bukan pengusaha yang ia kerjakan melainkan menjadi petani seperti ayahnya. Aku tidak tahu persis mengapa itu bisa terjadi. Seharusnya memang seperti itu. Benarlah ada pepatah mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Memang pantas ia seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara sahabatku mengagetkanku. Dua gelas kopi telah berada di atas meja. Kepulan asapnya menggoda untuk segera meneguk kopi itu. Aku beranjak mengambil cangkir sebelah kanan. Sejenak kuperhatikan cangkir itu. Warnanya putih dengan gambar sebuah rumah. Mungkin cangkir ini baru, pikirku. Waktu aku tinggal di rumah ini, aku tidak pernah melihat cangkir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak usah heran. Itu cangkir baru,” sela sahabatku saat melihat tingkahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru sadar telah diperhatikannya tingkahku sedari tadi. Aku baru sadar, ternyata ia telah mengenakan kaos oblong kesukaannya. Piyama itu tidak melekat lagi di tubuhnya. Ternyata ia mengganti pakaiannya. Pantas saja aku menunggu begitu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makin maju kamu sekarang. Selain menjadi dosen di salah satu universitas ternama di kota ini, kamu juga aktif menulis diberbagai media. Apalagi tesismu sekarang ini telah mengguncang dunia pendidikan. Bahkan tulisan-tulisanmu selalu menggetarkan pembaca,” kata sahabatku memecahkan kesunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang seharusnya seperti itu. Ilmu pengetahuan adalah segalanya. Jika kamu tidak mempunyai ilmu itu, yakinlah kamua akan ketinggalan dan tidak akan maju.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagiku ilmu memang penting. Yang bisa membuat kita melakukan apa saja. Yah, apa saja. Tetapi alangkah ruginya seseorang jika mengagung-agungkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya tetapi lupa kepada yang menghidupinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kalimat terakhir sahabatku itu, tiba-tiba hatiku tersayat. Tidak ada lagi nafsu untuk meneguk kopi yang masih tersisa di cangkir itu. Aku terbakar amarah sendiri. Kurasakan api menyala-nyala di tubuhku. Apa sahabatku ini ingin menyerangku juga seperti teman-teman yang lain. Teman-teman yang selalu menganggapku budak ilmu pengetahuan. Tetapi bagiku mereka hanya iri melihat kesuksesanku sekarang ini. Tidak seperti mereka yang hanya bekerja sebagai petani, pedagang,dan lain-lain. Bagiku pekerjaan itu memang pantas mereka dapatkan. Tetapi hari ini sahabatku sendiri menyerangku sampai menusuk ke tulang-tulangku. Bibirku gemetar. Aku lalu melihat sorotan matanya mengarah kepadaku. Seperti badik yang siap-siap menikam tepat di jantungku. Tetapi aku  melihat masih ada sahabat di sana bukan musuh yang kurasakan. Sebisa mungkin bibir ini aku paksa tersenyum kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kamu adalah sahabatku. Orang yang masih aku punya selama ini. Aku tidak ingin menganggapmu musuh seperti yang lainnya,” kataku coba menenangkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tersinggung. Padahal aku tidak menuduhmu seperti itu. Aku hanya mengatakan seandainya saja....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup. Cukup. Tidak usah diteruskan.” Segera perkataan sahabatku kupotong. Aku tahu ia menjebakku. Aku semakin terbakar . Kepalaku serasa ingin meledak seperti magma yang ingin keluar dari gunung berapi. Aku lalu menghadapkan wajah ini ke jendela. Berharap mendapat kesejukan dari angin yang berhembus. Tetapi sepertinya angin berpihak kepada sahabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Joan. Sahabatku.” Pandi mendekatiku dan melempar pandangan ke luar jendela. Seperti yang aku lakukan. Tangannya menyentuh bahuku. Sentuhan seorang sahabat. Lalu melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita hidup di dunia ini bukan untuk selama-lamanya. Kita diberi kesempatan untuk berbuat apa saja. Apa saja. Selama perbuatan itu baik untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Ada banyak cara untuk melakukannya. Misalnya saja mencari ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk suatu hal yang baik. Banyak orang di dunia ini mempunyai ilmu yang tinggi tetapi ada pula yang sama sekali tidak memilikinya. Atau lebih kasar dikatakan bodoh. Seperti kau sekarang ini. Ilmu pengetahuan yang kau miliki telah memperbudakmu. Kamu menjadi angkuh, sombong, merasa diri paling benar dan menganggap semua orang bodoh. Bagiku bodoh itu bukan berarti seperti yang kau maksud. Bisa saja orang bodoh itu pintar dalam sebuah hal tetapi justru kau yang tidak tahu. Bodoh itu relative sahabatku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah mimpi apa aku semalam. Pagi-pagi begini aku mendengarkan ceramah pagi dari sahabatku. Seandainya ia bukan sahabatku, sedari tadi aku sudah melawan serangannya. Hatiku tambah panas mendengar semua ocehan-ocehannya. Tidak sepatutnya ia mengguruiku seperti ini. Aku lebih tinggi daripada dia. Aku seorang dosen di salah satu universitas terbaik di kota ini, tulisanku selalu dimuat di media, dan terakhir beberapa buku telah aku terbitkan. Sekarang ini aku membangun sebuah rumah pengetahuan yang aku miliki. Tetapi hari ini serasa bangunan itu akan runtuh ke tanah karena sahabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku heran mengapa aku tidak bisa menangkis semua ocehannya. Mulutku terasa selalu mengatup. Padahal ada jutaan kata yang ingin aku muntahkan segera. Aku seperti murid yang mendengarkan petuah gurunya. Padahal derajatku lebih tinggi daripada ia. Walaupun ia sahabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku heran kepadamu. Kebesaran nama, ilmu pengetahun yang kau miliki membuatmu lupa terhadap asalmu. Masa yang telah merubahmu. Aku hanya ingin melihat sahabatku seperti dulu. Temuilah ayahmu secepat mungkin.” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku tidak bisa tidur. Gusar karena mengingat kata-kata sahabatku pagi tadi. Sudah lama aku tidak menemui ayahku di desa. Yah, sudah 5 tahun aku tidak menemuinya. Bagaimana raut wajahnya sekarang. Apakah keriput mulai menjalarinya. Ayah. Ayah. Mengapa mendengar kata itu hatiku selalu gemetar. Apa benar yang dikatakan oleh semua orang. Bahwa aku telah melupakan tanahku sendiri, melupakan orangtuaku sendiri. Apa yang telah aku inginkan telah tercapai. Semuanya berawal dari kematian ibu sejak aku masih SMP. Orang yang sangat kusayangi telah meninggalkanku di dunia ini. Sejak itu pandanganku berubah kesemua orang. Termasuk ayah. Usaha dan kerja keras yang aku lakukan selama ini membuahkan hasil. Yah, seperti sekarang ini. Semua orang menghormatiku dan tunduk kepadaku. Ilmu pengetahuan yang kumiliki telah merubah segalanya. Aku tidak diremehkan lagi seperti dulu. Seperti ayah. Yang selalu menganggap aku tidak bisa berbuat apa-apa kelak. Kata-kata ayah dulu terbantahkan sekarang. Buat apa aku kembali ke desa. Kembali kepada orang-orang bodoh dan tidak tahu zaman dan teknologi. Aku jadi teringat kata sahabatku. Bodoh itu relatif. Mendengar semua petuhnya tadi pagi membuatku meninggalkan rumahnya tanpa pamit. Aku terbakar amarahku sendiri. Meninggalkan sesal datang ke rumahnya. Ternyata itu pertemuan terakhirku dengannya. Esok ia akan berangkat ke Yogyakarta melanjutkan pendidikannya di sana. Tetapi sebelumnya ia akan kembali ke desanya bertemu dengan kedua orangtuanya terlebih dahulu. Yah, bertemu dengan orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah tiga bulan pertemuan terakhirku dengan sahabatku. Aku menjalani hari-hariku seperti biasanya. Rasa rindu kepadanya terobati saat ia menelpon pagi tadi. Sekarang ia berada di Yogyakarta. Ada banyak kisah yang ia ceritakan kepadaku. Tetapi tiba-tiba ia bertanya kepadaku, apakah aku telah menemui ayahku di desa. Aku diam seribu bahasa. Tidak tahu apa yang mesti aku katakana kepadanya. Ada kebisuan yang tercipta diantara kami. Sebelum ia menutup teleponnya, ia mengatakan bahwa saat ia berada di desa, ia bertemu dengan ayahku. Wajahnya sudah keriput. Tubuh renta dan tertopang oleh sebuah tongkat. Badannya kurus seperti kulit membalut tulang. Rambutnya telah memutih. Tetapi ia masih mempunyai senyuman harapan. Harapan dan rindu ingin bertemu dengan anaknya. Apa benar ayah merindukanku. Seumur hidup ia tidak pernah mengatakan itu kepadaku. Apa mungkin sahabatku berbohong kepadaku agar aku pulang menemui ayahku. Aku percaya ia. Tidak mungkin ia berkhianat. Ada getar gelisah dan sedih saat ia berkisah mengenai ayahku. Ada sesuatu yang disembunyikannya kepadaku. Tanpa sadar pipiku hangat karena tetesan airmata.. Mengapa aku menangis. Apa benar aku merindukannya. Apa benar ayah merindukanku. Aku merasa jiwaku telah berada di sampingnya sedangkan ragaku masih berada di sini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutuskan untuk kembali ke desa. Sejak perkataan sahabatku tempo hari membuatku tidak tenang. Wajah ayah selalu terbayang. Memang aku telah meraih segalanya. Tetapi ternyata hati ini masih hampa. Kosong. Semakin hari rindu untuk bertemu semakin besar. Selama ini kemegahan telah membuatku lupa kepada tanah yang menghidupiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku akan menemui ayah. Bersama istriku. Bersama menantunya. Setelah semua barang telah siap, mobil segera melaju. Meninggalkan segala kemegahan. Meninggalkan mulut kekuasaan dan keangkuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pun hatiku tidak tenang. Entah mengapa. Sejak semalam kurasakan seperti ini. Istriku pun tidak tahu. Ia hanya tersenyum kepadaku seolah-olah mengatakan ia akan bertemu dengan mertuanya. Mertua yang selama ini baru sekali ditemuinya karena keegoisanku. Hari ini aku bangunan itu telah runtuh. Aku merasakan dentuman dan retakan-retakan dindingnya.. Mulai berjatuhan ke tanah. Tetapi bukan itu yang membuatku gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis datang tiba-tiba menyertai perjalanan kami. Perasaanku tambah tidak tenang. Gerimis. Yah, gerimis. Mengapa tiba-tiba gerimis datang. Padahal cuaca sangat cerah barusan. Aku ingat ayah tidak menyukai gerimis. Katanya gerimis mengingatkannya kepada ibu. Ibu pergi disertai oleh guyuran gerimis waktu itu. Sehari semalam hanya gerimis yang menemani kepergian ibu meninggalkan kami. Aku jadi khawatir. Bagaimana perasaan ayah sekarang melihat gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir sampai di tempat tujuan. Kataku menghibur diri sendiri. Tetapi gerimis masih berjatuhan dari awan-awan yang menggantung di langit. Hatiku semakin gelisah dan tidak tenang. Saat mobil memasuki pedesaan, gerimis masih saja mengguyur. Saat mendekati rumah, aku melihat banyak orang. Mungkin ayah mengadakan pesta untuk menyambutku karena tahu anaknya akan datang.Tetapi wajah semua orang yang dulu kuanggap bodoh terlihat gamang. Semuanya melirik kepadaku. Sorotan mata langsung menikam hatiku. Seperti belati yang telah diasah berhari-hari. Aku alihkan pandangan ke depan. Pura-pura tidak memperhatikan mereka. Sedang istriku berada di sampingku. Kulihat ia masih memasang senyumannya kepada semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki mulut rumah, aku disambut oleh manusia yang telah terbungkus kain kafan. Yah, ayah. Ia yang berada di balik kain putih itu. Hari ini gerimis telah membawanya pergi. Seperti ibuku beberapa tahun yang lalu. Belum sempat telinga ini mendengar kata rindu dari mulutnya, belum sempat mulut ini mencium punggung tangannya, belum sempat raga ini bersimpuh di hadapannya gerimis telah mengiringi kepergian ayah. Yah, gerimis. Lagi-lagi gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parangtambung, Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk manusia bumi yang sejenak melupakan ayah dan  ibunya, melupakan kerinduannya di rumah kesenangannya, kebahagiaannya, dan kesuksesannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-347275849805172346?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/347275849805172346/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=347275849805172346' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/347275849805172346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/347275849805172346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/11/gerimis-dan-ayah.html' title='Gerimis dan Ayah'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-263934883178159863</id><published>2008-11-23T22:32:00.011+07:00</published><updated>2008-11-23T22:48:39.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Tanpa Batas: Bangga dan lebih PeDe</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl7F9exM4I/AAAAAAAAAEs/0h6nOdkPNm4/s1600-h/Mona.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl7F9exM4I/AAAAAAAAAEs/0h6nOdkPNm4/s200/Mona.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271880181147054978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mona Chaliesta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ACARA ini bisa bikin kita jadi lebih kreatif dan yang pasti memperluas wawasan kita biar kita berpikiran lebih maju. Di acara ini kita boleh berkreasi dan memang diharuskan untuk berkreasi, mengubah sesuatu yang tadinya dianggap membosankan menjadi lebih menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara nggak langsung kita juga berlatih berorganisasi, bekerja sama, dan berani tampil, agar kelak kita siap terjun ke masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berorganisasi, acara ini menjadi ajang meningkatkan apresiasi sastra kita-kita. Dengan musikalisasi puisi, sastra bisa dinikmati dengan enjoy dan pesan lebih mudah sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl51OFGh2I/AAAAAAAAAEE/ND_WQl0kwAE/s1600-h/Farsya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl51OFGh2I/AAAAAAAAAEE/ND_WQl0kwAE/s200/Farsya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271878794033399650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Farsya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIKALISASI puisi dan pentas drama ini memang asik banget. Di sini gue bebas berekspresi sesuai keinginan gue dan menyalurkan bakat tanpa dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebas berekspresi tanpa perlu ragu-ragu dengan aturan yang kaku. Pokoknya acara kaya gini wajib diadain, dan perlu banget lho digelar buat anak muda zaman sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar anak muda punya ajang untuk berkreasi sebebas-bebasnya dan bisa menyalurkan hasil kreasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi anak muda memang harus kreatif dan menunjukkan karya yang positif bagi diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl6HlgjnAI/AAAAAAAAAEM/OkmM-UItpQo/s1600-h/Ricka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl6HlgjnAI/AAAAAAAAAEM/OkmM-UItpQo/s200/Ricka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271879109560212482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ricka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RASANYA bangga banget deh waktu kita tampil di hadapan banyak orang. Senengnya nggak bisa diukur waktu kita bisa menghibur orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus, yang pastinya berguna buat mengembangkan rasa percaya diri kita lho, karena kita kan tampil di depan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jadi lebih percaya diri alias PD,  nggak canggung en nggak malu-malu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya kita nggak ngerti apa itu puisi, apalagi mesti dinyanyiin. Kayaknya susah benget gitu. Tapi, setelah berusaha keras, hasilnya bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya anak-anak MTsN Kumai is the best dech....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl6WQyOHBI/AAAAAAAAAEU/DIMc8H-fgMk/s1600-h/Tika+yg+bener.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl6WQyOHBI/AAAAAAAAAEU/DIMc8H-fgMk/s200/Tika+yg+bener.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271879361695194130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAUW...  kegiatan musikalisasi puisi yang seru kaya gini bikin kita jadi kompak dan semangat banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mesti semangat berlatih, rajin-rajin menggali ide biar bisa menghasilkan karya yang oke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga harus kerja sama yang kompak biar bisa nampilin yang terbaik.&lt;br /&gt;Nah, gue acungin jempol dehh buat kerja sama temen-temen kelas IX ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, syukur deh, hasilnya tidak mengecewakan. Nggak malu-maluin dan malah bikin kita semua bisa bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl6kHAt5BI/AAAAAAAAAEc/FA9HOorPiIM/s1600-h/Ini+Liya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl6kHAt5BI/AAAAAAAAAEc/FA9HOorPiIM/s200/Ini+Liya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271879599589811218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Liya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENURUT aq sih, puisi dan musik itu sebenarnya berbeda tapi saling melengkapi dan nggak bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat aku, puisi dan musik memang bakal jadi lebih asik kalo ditampilin bareng, bukan sendiri-sendiri, misalnya puisi yang diiringi musik, atawa puisi yang dinyanyikan jadi sebuah lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pastinya kegiatan ini bikin kita tambah kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengombinasikakan dua cabang seni, puisi dan musik dalam sebuah komposisi yang harmonis jelas nggak gampang. Tapi, bagusnya kita bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl6xL2cmyI/AAAAAAAAAEk/zNAnqcBFWHw/s1600-h/Evhit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl6xL2cmyI/AAAAAAAAAEk/zNAnqcBFWHw/s200/Evhit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271879824227212066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Evhit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GUE bangga banget lho karena hasil karya kita ditonton banyak orang, bisa menghibur dan bikin orang tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya ada kepuasan di dalam hati yang nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga jadi lebih pede  karena hasil karya kita diakui oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara kaya gini bikin kita belajar jadi lebih kreatif untuk menghasilkan karya-karya lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat anak-anak MTsN Kumai kelas IX, oke banget dech.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun depan harus ada lagi dong acara kayak gini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Minggu, 23 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-263934883178159863?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/263934883178159863/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=263934883178159863' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/263934883178159863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/263934883178159863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/11/tanpa-batas-bangga-dan-lebih-pede.html' title='Tanpa Batas: Bangga dan lebih PeDe'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl7F9exM4I/AAAAAAAAAEs/0h6nOdkPNm4/s72-c/Mona.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-4112504146597218481</id><published>2008-11-23T22:29:00.002+07:00</published><updated>2008-11-23T22:32:50.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Tanpa Batas: Sastra itu bukan Karya Seni yang cuma Bikin Mumet, Tauu</title><content type='html'>PRENS, sastra itu ternyata asik banget lho, bisa dinikmati dengan banyak cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl3Ws2KlFI/AAAAAAAAADk/YCGME_bhHAI/s1600-h/Sisa+MTs+Kumai+begaya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl3Ws2KlFI/AAAAAAAAADk/YCGME_bhHAI/s320/Sisa+MTs+Kumai+begaya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271876070693049426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sastra itu enggak hanya berupa karya seni yang kaku seperti puisi, drama, dan karya tulis yang nge-BeTe-in, yang bikin bosen en ngantuk pas dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau bukti? Kemarin kita baru aja nyoba nggelar acara yang seru banget lho 'pementasan drama dan musikalisasi puisi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ, puisi digubah jadi lagu, dinyanyiin dan diiringin musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini bikin kita jadi tau, ternyata puisi bisa dinikmati dengan cara yang oke banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena di situ kita bisa mengekspresikan puisi dengan musik, misalnya  musik rock, pop, jazz, dangdut dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, salah banget kalo anak muda zaman sekarang menganggap puisi tuh&lt;br /&gt;jadul, kaku, dan ngebosenin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih nggak percaya?  Coba nih ya, dengan digubah jadi sebuah lagu, makna puisi jadi kena banget, lebih nendang dech.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jadi lebih gampang mencerna isi puisi, en so pasti jadi lebih nancep di hati....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bandingin aja penyampaian puisi dengan cara dibacakan aja, pasti beda bet dehhh..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, percaya kan kalo sastra, terutama puisi juga bisa jadi hal yang mengasyikkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tergantung kreativitas kita aja kok, gimana cara kita biar karya seni bisa jadi sesuatu yang menyegarkan dan menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuuukk kita bikin sastra jadi pelajaran yang asik dan seru!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah jadi kewajiban kita para remaja untuk mencintai sastra dan menjadi generasi muda yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar kita bisa menggali, memahami, dan memaknai karya sastra dengan lebih baik. Banyak lho ilmu yang bisa kita petik dari karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tau, dari milyaran karya sastra yang ada, bisa ngasih inspirasi dan motivasi buat kita, buat kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, biar bisa memahami sastra dengan baik, kita mesti mencintai sastra dulu dong, kan 'tak kenal makanya tak sayang', ya nggak seeh??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, buat semuanya, coba dehh berekspresi dengan sastra ‘n  ekspresikan karya sastra dengan gayamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunjukkin kreativitasmu, n bikin karya sastra jadi enggak ngebosenin, gettooo..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah Prens, kita udah ngebuktiin koq..! &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Liya, Dina, Farsya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Minggu, 23 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-4112504146597218481?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/4112504146597218481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=4112504146597218481' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4112504146597218481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4112504146597218481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/11/tanpa-batas-sastra-itu-bukan-karya-seni.html' title='Tanpa Batas: Sastra itu bukan Karya Seni yang cuma Bikin Mumet, Tauu'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl3Ws2KlFI/AAAAAAAAADk/YCGME_bhHAI/s72-c/Sisa+MTs+Kumai+begaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7645223313720665522</id><published>2008-11-23T22:20:00.004+07:00</published><updated>2008-11-23T22:51:47.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Tanpa Batas: Musikalisasi Puisi, Cara Asyik Menikmati Sastra</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tira Puspitasari, Dina, Mona, Redha, Makki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASTRA sering kali dianggap sebagai karya seni yang kaku, susah dicerna, susah dinikmati, dan bikin kening berkerut, terutama di kalangan anak muda. Hayoo... ngaku nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl2hnD9gTI/AAAAAAAAADc/ppMeKvjoFrY/s1600-h/MTs+Kumai+%286%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl2hnD9gTI/AAAAAAAAADc/ppMeKvjoFrY/s400/MTs+Kumai+%286%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271875158607233330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tapi, benar nggak sih kayak gitu?  Eitss, tunggu dulu doong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok remaja kreatif dari MTs Negeri Kumai punya inisiatif buat memoles sastra jadi lebih cantik. Mereka mengutak-atik puisi jadi karya sastra sekaligus karya seni yang asik dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jangan buru-buru menganggap sastra itu membosankan sebelum kalian simak ulasan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sabtu (15/11) lalu, teman-teman kalian dari MTsN Kumai menggelar pentas yang dibanderol dengan nama 'Pementasan Drama dan Musikalisasi Puisi 2008'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian pasti heran, apa sih musikalisasi puisi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musikalisasi itu penggabungan antara puisi dengan musik zaman sekarang.&lt;br /&gt;Itu lho, syair puisi itu dinyanyiin dengan nada dan irama, sambil diiringi musik. Keren kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Panitia Dina, acara ini sebenarnya representasi dari pelajaran Bahasa Indonesia di kelas, yakni musikalisasi puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita pengen nunjukkin acara ini asik, bahwa puisi juga bisa dinyanyikan," kata gadis manis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yupp! Pak Willy Ediyanto, Guru Bahasa Indonesia mereka yang mengajarkan bahwa puisi tidak hanya dibaca, tapi juga bisa disatukan dengan aliran-aliran musik zaman sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, Pak Willy ngasih tugas agar kami membuat puisi sendiri, lalu digabungkan dengan lagu-lagu band zaman sekarang," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat penampilan, mereka tidak boleh mengambil irama dari band-band yang sudah ada, tapi harus bikin aransemen sendiri, dan juga dengan puisi ciptaan sendiri. Hmmm...berat juga yach..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata acara ini bukan hanya menggemparkan siswa-siswi MTsN Kumai aja, melainkan sekolah lain juga ikut gempar, karena pentas ini terbuka untuk umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini udah dua kali lho digelar di MTsN Kumai, tapi taun ini jauh lebih seru n lebih kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taun lalu mereka hanya menggelar penampilan drama aja n hanya buat dinikmatin anak-anak MTSN Kumai aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan taun ini bukan cuma drama, tapi juga ada musikalisasi puisi, en yang pasti terbuka buat umum lho.., dengan pas masuk yang terjangkau banget, hanya Rp1.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas ini menampilkan 6 aksi kreatif hasil utak atik sastra, mulai dari drama seru, musikalisasi puisi, sampai cipta lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musikalisasi puisi kali ini diusung oleh teman-teman dari kelas IX A. Puisi itu menceritakan doa yang dipanjatkan seorang hamba kepada Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diiringi petikan gitar dan keyboard, puisi ini digubah menjadi lagu yang menyentuh hati banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penonton pun seperti tersihir untuk menyimak penampilan ini dari awal sampai selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, sempat merinding juga lho waktu denger lengkingan puisi yang mereka nyanyikan itu...soalnya maknanya jadi kenaaaaa banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan...plokk...plokk...plokk...tepuk tangan pun segera memenuhi aula MTsN Kumai ketika pementasan puisi berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mona, yang juga siswa kelas IX A mengaku bangga dengan penampilan kelompok mereka, bahkan ia menganggap ini merupakan penampilan terbaik di pentas kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Grup vokal di Indonesia yang terkenal, misalnya Bimbo, juga menggunakan puisi di setiap syair mereka. Seninya juga tinggi sih, karena menurut saya musiknya enak dinikmati," ucap Mona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan drama dari siswa kelas VIII juga nggak kalah seru lho, ceritanya terinspirasi dari momen eksekusi terpidana mati Bom Bali II Amrozi cs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drama ini mengisahkan tentang dua orang polisi yang ditugasi mengeksekusi seorang pembunuh, tapi ternyata mereka nggak tega melakukan tugas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun bingung cari cara yang aman buat mengekseskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang polisi akhirnya membuat minuman yang telah dicampur racun, kemudian disuguhkan ke si pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pembunuh akhirnya mati karena minuman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata salah seorang polisi juga ikut mati, karena turut meminum racun yang dibuat oleh temannya. Seru kan ceritanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, sebelum pentas, mereka juga diaudisi dulu lho, hihihi..mirip kaya pergelaran band-band papan atas yahhh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ikut memang hanya kelas IX aja sih, nah dalam audisi ini, setiap kelas dibagi jadi 5 kelompok. Lalu setiap kelas menunjuk kelompok andalan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dipilih beberapa kelompok untuk menampilkan karya terbaik mereka di pentas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini adalah hasil dari penggabungan dari semua bagian di setiap kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapiii..yang nggak terpilih nggak perlu sedih atawa kecewa, karena masih bisa jadi panitia, so adil kan??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahh, ternyata banyak banget ya yang bisa dipetik dari suatu kegiatan, mulai dari belajar mengorganisasi aktivitas, belajar bernegosiasi dnegan orang lain, belajar mengeluarkan ide dan kreativitas, berlatih disiplin dalam latihan, dan yang paling penting belajar bertanggung jawab terhadap tugas yang dipercayakan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terutama, pementasan musikalisasi puisi ini dapat memberikan inspirasi pada remaja untuk bisa menghidupkan karya sastra di lingkungan kita, di sekolah maupun di masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup karya sastra Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Minggu, 23 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7645223313720665522?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7645223313720665522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7645223313720665522' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7645223313720665522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7645223313720665522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/11/tanpa-batas-musikalisasi-puisi-cara.html' title='Tanpa Batas: Musikalisasi Puisi, Cara Asyik Menikmati Sastra'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl2hnD9gTI/AAAAAAAAADc/ppMeKvjoFrY/s72-c/MTs+Kumai+%286%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-2336114319857487689</id><published>2008-11-23T21:59:00.004+07:00</published><updated>2008-11-23T22:20:21.187+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Berpuisi dengan Gembira</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ilham Khoiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pak Dul sirahe gundul&lt;br /&gt;Tuku rokok neng Pasar Sentul&lt;br /&gt;Arepo silul kudu wani cucul&lt;br /&gt;Ora cucul ora ngebul&lt;br /&gt;Akale wong lanang nek dolan ning Pasar Kembang&lt;br /&gt;Gawe alasan golek aman ben ra konangan&lt;br /&gt;Politik saiki cen seneng maen belakang&lt;br /&gt;Njabane resik jebul jerone selingkuhan&lt;br /&gt;Lumpur Lapindo metune soko Sidoarjo&lt;br /&gt;Bojo loro kabeh kok seneng nggodha&lt;br /&gt;Wis merdeka sih ono kumpeni Londo&lt;br /&gt;Nembaki rakyat, rakyat neng alas Tlogo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl0QDUwz9I/AAAAAAAAADM/8N9HD2b5M00/s1600-h/kill+the+DJ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl0QDUwz9I/AAAAAAAAADM/8N9HD2b5M00/s320/kill+the+DJ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271872657932996562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Kill the DJ. (KOMPAS/ARBAIN RAMBEY / Kompas Images)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi berjudul ”Ora Cucul Ora Ngebul” karya Sindhunata itu dinyanyikan dengan gaya rap oleh kelompok Rotra asal Yogyakarta dalam pertunjukan ”Poetry Battle 02” di halaman Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (21/11) malam. Teks yang biasa dideklamasikan atau dibaca sendirian dalam suasana tenang itu menjelma sebagai jalinan bunyi berulang yang mengentak-entak. Rima pada akhiran kata-kata berbahasa Jawa itu membentuk irama yang rancak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penonton yang berdiri di depan panggung pun spontan bergoyang. Pada malam yang gerimis itu, mereka tersedot dalam suasana musik hip-hop yang bebas, dinamis, penuh kegembiraan. Kata-kata puisi yang diucapkan dalam gaya lagu bercakap alias talking song itu seperti hanyut dalam luapan ekspresi seni bergaya jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rotra hanyalah salah satu dari 17 kelompok rap dari Yogyakarta dan Jakarta yang turut meramaikan ”Poetry Battle 02” yang diselenggarakan Jogja Hip Hop Foundation. Ada kelompok Jahanam, Kill the DJ, Dub Youth, Kontra, Gatholoco, DPMB, Zapatista, Gangsta Lovin, dan Robot Goblok. Mereka menyanyikan berbagai teks puisi Indonesia dengan gaya rap, gaya yang tumbuh dari budaya musik hip-hop di Amerika dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kelompok membawakan sajak-sajak bermuatan sosial yang dipenuhi kata-kata lantang, seperti puisi Widji Tukul dan Sindhunata. Kelompok lain mencoba mengolah puisi liris yang punya gaya bahasa yang halus dan rumit, seumpama karya Goenawan Mohamad, Joko Pinurbo, atau Cecep Syamsul Hari. Ada juga yang mengulik sastra klasik, seperti Kill The DJ yang ”meng-hip-hop-kan” Serat Centini karya pujangga Keraton Surakarta awal abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, beragam teks puisi karya sastrawan Indonesia itu mengalir di atas panggung sebagai nyanyian yang hidup. Puisi keluar dari habitatnya sebagai teks yang konvensional dengan pakem pembacaan tertentu, lalu bermetamorfosis menjadi pertunjukan seni yang sama sekali baru. Peralihan ini kerap memunculkan sensasi mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kreasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Poetry Battle 02” ini merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan serupa di Yogyakarta dan Jakarta sejak tahun 2006. Perhelatan itu menandaskan, betapa kreativitas untuk mempertemukan berbagai aliran seni sangat dimungkinkan dan pertemuan ini potensial melahirkan bentuk-bentuk yang segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, dunia sastra dan puisi dileburkan. Pada satu sisi, teks-teks sastra—yang umumnya berjarak dari lingkungan khalayak—melebur dalam budaya jalanan anak muda. Pada sisi lain, anak-anak muda itu bersentuhan, bahkan mempelajari bahasa dan gagasan puisi yang dilantunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dengan begini, kami terdorong untuk membaca buku-buku sastra,” kata Iwa K, perintis musik rap Indonesia yang menjadi pembawa acara dalam acara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, ”Poetry Battle” juga menerabas sekat-sekat seni, agama, ras, kelompok, atau etnis. Bahasa seni yang universal dimanfaatkan untuk membuka ruang dialog dan menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nyawiji siji ing guyub lan rukun. Mboten sah mikir werna kulit lan agama. Menika hip-hop kang adedasar budi pekerti, kamanungsan, lan toleransi. (Kita bersatu dalam guyub dan rukun. Tidak usah memikirkan warna kulit dan agama. Hip-hop ini didasari budi pekerti, kemanusiaan, dan toleransi)”. Begitu penuturan Zooki a.k.a Kill The DJ, pendiri dan produser Jogja Hip Hop Foundation, saat membuka pentas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pandangan kalangan sastra? Pengamat sastra dari Universitas Indonesia (UI), Maman S Mahayana, mengapresiasi usaha kaum muda itu sebagai kreativitas yang yang sah. ”Puisi itu lapangan tafsir. Puisi dapat diterima dan diterjemahkan siapa pun dengan tingkat apresiasi bagaimana pun,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreativitas anak-anak muda akhirnya menawarkan alternatif bagi tradisi musikalisasi puisi di Tanah Air. Jika selama ini kita akrab dengan gaya Reda Gaudiamo dan Ari Malibu yang melantunkan sajak-sajak Sapardi Djoko Damono dalam suasana sendu, kini kita boleh mencoba menikmati gaya anak muda yang meneriakkan puisi dengan lebih bebas, gembira, dan dengan irama musik yang merangsang goyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Minggu, 23 November 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-2336114319857487689?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/2336114319857487689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=2336114319857487689' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2336114319857487689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2336114319857487689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/11/berpuisi-dengan-gembira.html' title='Berpuisi dengan Gembira'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SSl0QDUwz9I/AAAAAAAAADM/8N9HD2b5M00/s72-c/kill+the+DJ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6539011454754437345</id><published>2008-10-29T00:27:00.001+07:00</published><updated>2008-10-29T00:38:10.849+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Menggugah Sastra Indonesia Melalui Remaja</title><content type='html'>KENDATI karya sastra dewasa ini disebut-sebut sedang dalam posisi terpuruk, Pusat Bahasa masih gigih menggugah minat kaum muda untuk mendalaminya, antara lain dengan menyelenggarakan lomba penulisan cerita pendek untuk pelajar SMP dan SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahun 2008 adalah tahun bahasa dan dalam peringatan 60 tahun Bahasa Indonesia, kami juga mengingatkan kembali bahasa sastra adalah bagian dari Bahasa Indonesia. Jadi, peringatannya adalah bahasa dan sastra," ujar Kepala Pusat Bahasa Dr Dendy Sugono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian terhadap cerpen karya peserta dari seluruh Indonesia sudah dilakukan dan hasilnya akan diumumkan pada puncak peringatan Tahun Bahasa yaitu pada 28 Oktober 2008 bertepatan dengan pembukaan Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari naskah-naskah cerpen yang masuk, terlihat minat remaja terhadap karya sastra cukup tinggi. Tema yang masuk juga sangat beragam, khususnya menyangkut kehidupan keseharian para penulisnya, tutur Emma Sitahang Nababan dari Pusat Bahasa yang menjadi salah seorang panitia lomba menulis cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tema yang beragam, pemakaian bahasa juga bervariasi termasuk memakai bahasa "gaul." Tetapi agak disayangkan, naskah dari daerah atau kota-kota kecil masih sedikit yang masuk dan beberapa naskah dari seluruh peserta diketahui ada yang menyontek karya-karya penulis terkemuka bahkan termasuk karya Hamsad Rangkoeti, salah seorang juri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah para peserta lomba cerpen itu dijaring melalui kota-kota yang memiliki Balai Bahasa yang seluruhnya berjumlah 22 dan dari Jakarta, masing-masing diwakili oleh sepuluh naskah terbaik yang terjaring dalam seleksi di tingkat balai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keprihatinan mengenai tingkat pelajaran sastra yang sangat kecil di tiap sekolah juga diungkapkan penyair Taufiq Ismail yang pernah menyelenggarakan program khusus untuk memberikan pelajaran sastra keliling sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Bahasa pun menyelenggarakan kegiatan serupa dengan menghadirkan Putu Wijaya ke daerah-daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak sebenarnya haus akan bacaan, tetapi seringkali orang dewasa di sekitarnya tidak menyadari hal itu," kata Julius Felicianus, Direktur Penerbit Galang Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Galang Press memelopori pengiriman parsel lebaran berisi paket buku untuk seluruh anggota keluarga, ada penerima parsel yang menyampaikan catatan bahwa ia merasa tersindir karena anaknya berujar: "Ayah, kalau memberi hadiah yang seperti ini, buku-buku ini aku suka," sementara si ayah mengaku selama ini tidak pernah menghadiahi anaknya dengan buku, kata Julius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya sejumlah penulis berusia muda, terutama anak-anak yang terinspirasi "manga" Jepang dan kisah Harry Potter, tidak dapat dipungkiri merupakan persemaian yang subur untuk menumbuhkan penulis-penulis muda Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak biasanya akan mulai dengan bacaan yang ringan, komik, lalu meningkat menjadi yang lebih berat. Tetapi lembaga pendidikan dan orang tua perlu menyediakan dukungan untuk memotivasi mereka," kata Julius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun karya-karya penulis muda masih dangkal, Sastrawan F Rahardi menilai positif munculnya bibit-bibit muda itu karena kondisi ini dapat ditingkatkan melalui peran serta berbagai pihak mulai dari lingkungan di rumah, sekolah, penerbit hingga toko buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, kurikulum di sekolah tertinggal jauh dibanding gejala yang ada di masyarakat. Sekolah dan guru mempunyai "kekuasaan" untuk memberikan pelajaran dengan mengembangkan kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahardi mengambil contoh sistem pendidikan yang dilakukan oleh lembaga Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga yang mengedepankan kreativitas, sehingga menguatkan bukti bahwa keterbatasan modal (uang) bukan menjadi penghalang bagi kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang-ruang untuk memancing kreativitas bidang sastra baik itu puisi dan prosa semakin sempit, paling tersedia pada beberapa koran dan majalah yang masih peduli dan menyediakan rubrik khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan jika kemudian penulis-penulis muda berkiblat ke karya sastra dunia seperti Ataka Awwalur Rizqi yang melahirkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Misteri Pedang Skinheld&lt;/span&gt; karena terinspirasi cerita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lord Of The Ring&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Harry Potter&lt;/span&gt;, kendati ia juga melahap karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Demikian pula penulis Fathia yang terilhami kisah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Naruto&lt;/span&gt; (Jepang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia pernah memiliki karya-karya sastra Melayu atau karya sastra asli, tetapi jika tidak dicetak ulang, para pembaca muda akan kesulitan mendapatkannya karena toko buku tidak menyediakan buku-buku lama, kata Rahardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Julius mempertegas bahwa perpustakaan sekolah pun sekarang kebanyakan berbelanja buku panduan praktis, bukan karya sastra seperti masa-masa 1950-an hingga 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Guru atau petugas perpustakaan berbelanja buku dengan melihat selera pribadi, bukan kepentingan umum dan menjangkau ke depan," katanya menegaskan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Maria D. Andriana/Ant)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Borneonews, Senin, 27 Oktober 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6539011454754437345?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6539011454754437345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6539011454754437345' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6539011454754437345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6539011454754437345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/10/menggugah-sastra-indonesia-melalui.html' title='Menggugah Sastra Indonesia Melalui Remaja'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7487668299236399719</id><published>2008-10-24T13:06:00.001+07:00</published><updated>2008-10-24T13:08:14.367+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (cerpen)'/><title type='text'>Kunci</title><content type='html'>Cerpen&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Erna Rasyid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM semakin larut. Hening. Bisu. Raga mulai terbuai oleh mimpi. Aku rebahkan tubuh ini di penghujung rinduku pada sebuah kisah. Langit-langit kamarku terlihat seperti langit malam hari. Penuh bintang yang berhamburan disegala penjuru sudut kamar. Semuanya berkilauan. Memberikan cahaya untuk mimpi. Jiwaku telah melayang entah kemana. Mungkin bertamu ke rumah Tuhan atau ke surganya. Memberikan kesenangan buatnya sebelum fajar itu kembali menyinari bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Fajar itu telah datang. Ia menyusup di celah-celah jendela kamar. Menerpa wajah dan ragaku. Aku terjaga olehnya. Ketika aku bangun dari buah tidur malam, ada banyak bunga yang berserakan di kamarku. Di tempat tidur, kursi, meja, lantai, bahkan di kamar mandi. Bunga-bunga itu dari surga. Tuhan selalu memberiku ketika fajar telah tiba. Aku disambutnya dengan aroma bunga. Setiap hari bunga-bunga itu menghiasi kamarku. Wanginya bahkan tercium ke tetangga rumahku. Kadang mereka bertanya, dari mana aku mendapatkan bunga seharum itu. Aku katakan kalau bunga-bunga itu dari surga. Tuhan yang telah mengirimkannya kepadaku. Setiap pagi. Tetapi mereka selalu saja menertawakanku. Katanya aku sudah gila. Tidak mungkin Tuhan mengirimkan bunga untukku. Tetapi itulah kenyataannya. Bunga-bunga itu selalu hadir setiap fajar mengetuk pintu rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termenung menatap embun pagi. Mengapa ia menghilang jika matahari mulai hadir untuk melaksanakan tugas hariannya di bumi ini. Hanya sejenak menyapa embun itu lalu beranjak pergi. Setiap hari aku selalu saja bertemu wajah ibuku. Aku mulai bosan. Aku ingin bertemu dengan wajah yang lain. Wajah ibu mulai keriput. Tua dan tidak ada semangat lagi untuk hidup. Kadang aku berpikir, mengapa ia lenyap saja di muka bumi ini. Bagiku itu mudah saja. Aku hanya meminta kepada Tuhan jika aku bertemu dengannya setiap malam.. Itu soal mudah bagiku. Tetapi entah waktu itu kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Apakah ibu melihat kunci yang aku simpan di laci mejaku?" tanyaku kepada ibuku suatu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," katanya datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kunci apa?" lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kunci surga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ha...ha...ha..... Kamu ini ada-ada aja," sela ibuku sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul. Itu kunci surga," ujarku lebih serius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kunci surga? Dari mana kamu mendapatkannya? Siapa yang memberikannya padamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan," jawabku singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu meninggalkan ibu yang bingung dan melongo memperhatikan punggungku. Yah. Memang benar. Kunci surga. Semalam aku diberikan kunci surga oleh Tuhan. Katanya, aku harus menjaganya baik-baik. Kalau tidak, aku tidak bisa memasuki surganya. Jadi wajar kalau pagi itu aku bingung, gelisah, dan selalu saja marah-marah. Aku kehilangan kunci itu. Pasti Tuhan marah kepadaku. Aku telah mencarinya disemua tempat tetapi tidak ada. Kamarku telah terobrak-abrik mencari kunci itu. Usahaku mencarinya sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah raga ini mencarinya. Tidak terasa aku habiskan waktuku seharian mencari kunci itu. Senja akan segera berlalu tetapi belum aku temukan kunci itu. Aku takut malam segera tiba. Apa yang akan aku katakan kepada Tuhan mengenai kunci itu. Keringat menjalari sekujur tubuhku. Rasa dingin mulai menyerangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                           &lt;br /&gt;"Bangun. Sudah pagi. Matahari semakin tinggi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata aku ketiduran di depan kamarku. Ibuku yang membangunkanku pagi itu. Aku ragu apa masih bisa dikatakan pagi. Matahari telah berada di tengah-tengah. Aku lalu masuk kamar. Tidak ada bunga yang aku temukan. Setangkai pun tidak ada. Bahkan aroma pun tidak ada. Aku buka kamar mandi, ternyata tidak ada bunga. Dugaanku benar, Tuhan marah kepadaku gara-gara aku menghilangkan kunci pemberiannya. Semalam, aku tidak bertemu dengannya. Segera kunci itu kucari. Harus kutemukan. Semalaman aku habiskan waktuku mencari kunci itu. Hasilnya nihil. Aku curiga kepada ibu. Jangan-jangan ia yang mengambil kunci itu.. Melihat ibu sibuk di dapur, aku masuk ke kamarnya. Tidak ada tempat yang aku lewatkan. Mulai dari laci meja, lemari, baju, bahkan di kamar mandi.. Aku habiskan waktuku mencari kunci itu di kamar ibu tetapi hasilnya sama saja. Nihil. Aku berpikir, pasti ada yang mencuri kunci itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku ke luar rumah mencari kunci itu. Aku curiga kepada tetangga-tetanggaku. Selama ini mereka selalu menganggapku gila. Mungkin mereka iri kepadaku karena aku diberikan kunci oleh Tuhan. Mereka juga ingin masuk surga jadi kunci itu diambilnya dari rumahku. Rumah demi rumah aku masuki. Tetapi kunci itu tidak aku temukan. Telah berpuluh-puluh rumah aku periksa tetapi hasilnya sia-sia saja. Aku semakin bingung kemana kunci itu. Aku mulai putus asa. Lebih baik aku pulang ke rumah. Apalagi hari sudah pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kagetnya aku saat berdiri di ambang pintu rumah. Kunci yang aku cari selama ini tergeletak di depan pintu rumahku. Aku tidak bermimpi. Kunci itu benar-benar ada. Di sampingnya terdapat sepucuk surat. Segera aku buka surat itu. Isinya hanya mengucapkan terima kasih atas kuncinya. Tidak ada pengirimnya. Aku jadi penasaran, siapa gerangan yang mengambil kunci ini dan mengembalikannya pagi ini dengan ucapan terima kasih. Bagiku, asalkan kunci itu telah kembali. Tuhan tidak akan marah kepadaku. Aku merindukan bunga-bunga yang Tuhan kirimkan kepadaku setiap fajar. Aku yakin, Tuhan akan mengirimkannya kepadaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Baru kali ini aku terjaga sepagi ini. Awan seberang timur masih kemerah-merahan. Matahari belum sempurna lahir ke bumi. Perlahan mata kubuka. Langit-langit kamarku terlihat kosong. Ketika aku bangun, tidak ada bunga-bunga yang aku lihat. Aromanya pun tidak ada. Mungkin ibu telah mengambilnya semua, pikirku. Aku teringat kunci. Sebuah kunci yang diberikan Tuhan kepadaku.. Kunci yang sempat hilang dan membuatku putus asa. Laci meja segera kutarik. Tidak ada. Kunci itu tidak ada. Hilang. Mungkin dicuri lagi oleh yang pernah mengambilnya. Aku lalu menanyakannya kepada ibu yang masih melek di tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu, bangun. Apa ibu melihat kunci yang aku simpan di laci mejaku?" tanyaku sambil mengguncang-guncang tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kunci apa?" tanyanya agak malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kunci itu Bu. Aku menyimpannya di laci kemarin. Sekarang tidak ada. Apakah ibu melihatnya?" tanyaku lebih keras dan kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu lalu bangun dan memperbaiki posisinya. Bersandar di tempat tidurnya. Mengingatkanku pada pasien di rumah sakit. Wajahnya masih kusut seperti baju yang belum diseterika. Saat ia mulai berbicara, nafasnya bau sekali. Aku yang mondar-mandir di depan tempat tidurnya jengkel dan entah marah kepada siapa. Rasa takut mulai menyerangku. Tuhan pasti marah kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu tidak tahu kunci itu. Memangnya itu kunci apa. Sampai-sampai kamu pusing seperti ini?" tanyanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kunci sangat penting bu. Itu kunci surga. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Tuhan.. Ia memberikan kunci itu kepadaku. Katanya, aku harus menjaganya baik-baik. Lagi pula, pasti ibu yang mengambil semua bunga-bunga yang ada di kamarku. Semua bunga itu juga pemberian Tuhan. Aku takut. Tuhan pasti marah kepadaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bingung dan gelisah. Ibu hanya menatapku penuh keheranan. Lama ia menatapku sampai-sampai aku sendiri takut melihat tatapannya. Apalagi dengan wajah yang masih setengah hidup.. Ia lalu beranjak dari tempat pembaringannya. Melangkah ke lemari. Aku mengira kunci itu yang diambilnya. Ternyata sebuah handuk kecil. Warnanya putih. Ibu lalu berjalan kearahku. Sejenak menatapku. Aku semakin takut. Ia lalu menampar wajahku yang sebelah kiri. Aku kaget dan heran. Tangannya lalu menampar pipiku yang sebelah kanan. Aku mengerang kesakitan dikedua pipiku. Di kepalaku bertumpuk ribuan pertanyaan. Ada apa dengan ibuku. Mengapa ia menamparku. Tanpa banyak gerakan, ia lalu memberiku handuk itu dan menyuruhku pergi mandi. Katanya, aku akan dibawanya ke dokter jiwa pagi itu. Ibu lalu pergi meninggalkanku sendiri di kamarnya dengan penuh tanya sambil menatap handuk yang ada di tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar (Daeng Tata), 18 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Erna Rasyid&lt;/span&gt;, mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia 2006 Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar. Telah menghasilkan dua buah antologi cerpen dan sebuah novel. Selain itu telah menghasilkan beberapa naskah drama dan salah satunya telah dipentaskan. Cerpen dan puisinya sering diterbitkan di media kampus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7487668299236399719?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7487668299236399719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7487668299236399719' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7487668299236399719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7487668299236399719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/10/kunci.html' title='Kunci'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1652044615856599880</id><published>2008-10-24T12:58:00.001+07:00</published><updated>2008-10-24T13:00:54.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (cerpen)'/><title type='text'>Panggil Aku Diana</title><content type='html'>Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Erna Rasyid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA yang mesti aku lakukan ketika telinga ini mendengar batuk-batuk ayah yang tak kunjung sembuh. Melihatnya terbaring lemah di kasur yang mulai kusut, membuatku teringat almarhum ibu. Adikku yang masih berumur 11 tahun tertidur dengan pulasnya. Ia tidak mendengar sedikitpun suara batuk-batuk ayah yang mengiris hatiku. Segera kuseka keringat di dahi ayah. Ia tergolek lemas di tempat pembaringannya. Segera kuselimuti ia karena badannya terasa dingin. Setelah ia tertidur, aku baru beranjak ke kamarku. Walaupun aku tahu ayah hanya pura-pura memejamkan matanya agar aku tidak khawatir terhadapnya. Hanya kegelapan dan kesunyian yang menemaniku malam ini. Melihat ayah seperti itu setiap hari membuat hatiku tersayat-sayat. Entahlah penyakitnya tak kunjung sembuh. Aku sudah membawanya ke puskesmas terdekat tetapi katanya ayah harus dirujuk ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang lebih intensif. Tidak mungkin aku membawanya ke rumah sakit. Aku tidak punya uang. Pekerjaanku sehari-hari hanyalah buruh cuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanyalah gadis berumur 17 tahun. Adikku yang masih duduk di bangku sekolah dasar belum bisa bekerja. Sejak ayah sakit-sakitan, aku tidak terlalu memperhatikan lagi sekolahku. Aku mencari pekerjaan untuk biaya pengobatan ayah. Mulai dari penjual kue keliling desa, buruh cuci, terkadang aku juga membantu ibu Diana menjual barang dagangannya di pasar jika ia membutuhkan tenaga tambahan. Gajinya lumayan. Ia sudah tahu keadaan keluargaku. Tidak heran kalau ia sering memberiku uang tambahan. Katanya karena aku ulet bekerja padahal aku tahu ia hanya kasihan padaku. Ibu Diana sangat disegani di desaku. Dia sangat dihormati oleh masyarakat. Kebaikan dan keramahannya sangat dipuji-puji oleh masyarakat. Ia termasuk golongan orang yang kaya di desa. Tokonya banyak tersebar di pelosok pedesaan. Dialah yang sering membantuku jika aku mendapat kesulitan dalam hal keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, ketika aku keliling kampung berjualan kue, aku bertemu dengan seorang wanita. Umurnya kira-kira 40-an tahun. Sepertinya ia orang baru disini. Ia sempat membeli kue yang aku dagangkan. Keesokannyapun seperti itu. Dia sering-sering membeli kue yang aku jual. Katanya kue buatanku enak. Telah dua bulan aku keliling kampung ini berjualan kue, baru kali ini ada orang yang memuji kue hasil buatanku. Terkadang ia memesan dalam jumlah banyak. Ia juga menanyakan namaku, dimana aku tinggal, dimana orangtuaku, bagaimana dengan sekolahku. Ia sangat perhatian padaku. Selain itu, dia sangat ramah dan baik padaku. Kebaikannya mengingatkanku kepada ibu Diana. Pernah juga aku membawa serta adikku untuk membantuku berjualan, sekaligus memperkenalkannya pada wanita itu. Akan tetapi sepertinya ia tidak menyukai adikku. Ia tidak terlalu peduli kepada adikku. Ia hanya menganggapnya seperti orang asing. Aku baru ingat, nama wanita itu adalah ibu Rahma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ayah semakin memburuk. Batuk yang ia derita semakin parah. Ia mulai mengeluarkan darah. Kata ayah badannya semakin lemas. Ia menyuruhku menjauh darinya jika batuknya kambuh lagi. Hanya sapu tangan usang yang selalu menemani jika ia batuk. Ingin kuseka sisa-sisa darah dan ludah yang menempel di bibir ayah tetapi ia melarangku. Katanya ia dapat melakukannya sendiri. Aku mendengar desahan nafas ayah yang tak tentu. Tubuhnya semakin kurus, hanya kulit membalut tulang. Perutnya kembang kempis seperti balon yang ditiup oleh anak berusia 5 tahun. Matanya yang sayu, mengingatkanku pada awan yang mendung. Aku ingat, ada lingkaran hitam di sekeliling matanya. Aku tidak tahan lagi melihat keadaan ayah seperti ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin ayah sembuh dari penyakit TBC yang ia derita selama 8 bulan ini. Aku merasa anak yang tidak bertanggung jawab, hanya melihat keadaan ayah seperti ini setiap hari. Ayah tidak bisa lagi memanggil namaku. Ia tidak bisa lagi berucap dengan jelasnya. Jika dia menginginkan sesuatu, segera telingaku kudekatkan dengan mulutnya. Sedekat mungkin agar aku bisa mendengar apa yang diinginkan oleh ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, ia ingin makan bubur ayam kesukaannya. Di kamar aku hanya merenung menatap sejumlah uang dihadapanku. Uang tinggal seberapa. Kemarin telah aku habiskan sebagian untuk membeli obat. Setengahnya aku bayar utang di warung sebelah rumah. Sisanya ada dihadapnku. Jika aku menuruti keinginan ayah, esok aku tidak makan dengan adikku. Aku malu meminjam uang kepada ibu Diana karena sudah sering aku meminjam uang darinya. Tak terasa, kedua pipiku basah merenungi uang yang ada dihadapanku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Telah tiga kali adikku menanyakan bubur ayam yang aku beli karena ayah tak sabar ingin memakannya. Tetapi aku masih duduk merenungi uang itu, tidak bergerak sekalipun. Aku jadi bingung harus melakukan apa. Segera kuberlari menembus dinginnya malam. Entahlah kaki ini melangkah kearah mana kuturuti saja. Tiba-tiba aku berhenti di depan rumah yang sangat besar bagiku. Ada keraguan mengetuk pintunya. Apakah pintu itu sudi diketuk oleh tangan-tangan orang miskin seperti aku? Wajah ayah terlintas dibenakku mendorongku mengetuk pintu itu. Dari balik pintu, aku melihat seorang wanita yang memakai baju daster dengan rambut agak awut-awutan. Ya. Itu adalah ibu Rahma. Dia kaget melihatku datang ke rumahnya tengah malam begini. Ibu Rahma tak sempat mengenaliku awalnya. Malam itu aku lupa memakai sandal, rambutku kubiarkan terurai, dengan baju yang sangat lusuh. Aku tidak sadar kalau mataku sembab. Aku baru menyadarinya ketika pulang ke rumah membawa semangkuk bubur ayam kepada ayah. Rasa bahagia menyelimutiku malam itu ketika melihat ayah memakan makanan kesukaannya walau hati ini tertusuk belati yang telah karatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Adikku meronta-ronta ingin ikut bersamaku. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Aku melarangnya. Kalau ia pergi tidak akan ada lagi yang menjaga ayah. Ibu Rahma pernah menawariku pekerjaan di kota. Katanya ia mempunyai kenalan yang bisa memberiku pekerjaan. Awalnya aku ragu karena harus meninggalkan ayah yang sakit. Tetapi karena aku ingin ayah sembuh, malam itu aku menerima tawaran ibu Rahma. Hari ini aku berangkat bersamanya.. Ayah tidak setuju akan keputusanku. Katanya aku tidak boleh sembarang mempercayai orang. Apalagi ayah dalam keadaan sakit dan aku masih mempunyai adik. Tetapi aku bersikeras ingin pergi. Aku ingin mendapatkan uang banyak agar ayah bisa sembuh. Sedangkan ayah tak bisa berkata-kata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga bulan aku bekerja di tempat ini. Aku bekerja sebagai pembantu di rumah ini. Nama pemilikya adalah nyonya Dewi. Dia adalah teman lama ibu Rahma. Gaji pertamaku telah kukirimkan kepada ayah di kampung. Tak disangka begitu besar jumlahnya. Aku sangat senang, terbayang olehku ayah sangat gembira menerima gaji pertamaku itu. Ibu Rahma yang membawanya kepada ayah beserta sepucuk surat dariku. Uang yang aku kirim selama dua bulan ini digunakan adikku untuk pengobatan ayah dan kebutuhan sehari-hari. Aku dengar kabar kalau keadaan ayahku semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Malam itu nyonya Dewi membawaku kesuatu tempat setelah aku dibawanya dari salon. Aku menuruti saja apa maunya karena ia majikanku. Aku melihat diriku dicermin dengan pakaian yang dibelikan oleh nyonya Dewi untukku dua hari yang lalu. Pokoknya semua yang aku kenakan malam itu adalah pemberian nyonya dewi. Mulai dari sepatu, tas, assesoris, bahkan ia membawaku ke salon. Katanya aku harus tampil cantik malam ini.. Tibalah kami disuatu tempat. Aku tidak tahu tempat itu apa. Yang kulihat hanyalah sekumpulan orang-orang yang sedang menikmati music. Suara musiknya pun sangat keras seakan memecahkan telingaku. Lampu-lampu yang warna-warni membuat kepalaku pusing melihatnya. Suasananya agak gelap tidak seterang lampu di rumahku di kampung. Banyak lelaki yang menggodaku, ada juga yang memegang-megang tanganku. Aku jadi risih dan ingin pulang. Tetapi majikanku melarangku pulang sebelum bertemu dengan temannya. Disekitar aku melihat banyak wanita yang sedang asyik bersama dengan pria, entahlah apa yang mereka lakukan. Bau minuman yang sangat tidak mengenakkan membuatku pusing. Ketika majikanku meninggalkanku sendirian, tiga orang wanita mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh..orang baru yah..?kata wanita yang memakai gaun merah. Ia memandangku dari bawah hingga atas. Seakan mencari sesuatu dariku. Minuman yang ada digelasnya sewarna dengan gaunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti orang baru?” kata wanita dua yang sempat mengelilingiku seakan aku ini barang antik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa?” kata wanita tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti jutaan?” lanjut wanita dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bingung dan takut. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Mereka bertiga langsung saja menanyaiku ini dan itu. Seperti seorang polisi yang menginterogasi tersangkanya. Aku menolah ke kiri dan ke kanan mencari Ibu Dewi tetapi usahaku gagal. Aku berlari meninggalkan ke tiga wanita itu. Tidak tahu tujuan kemana. Aku hanya ingin menghindari wanita-wanita itu. Saat belari, aku menabrak seorang pria. Kira-kira umurnya 40-an tahun. Pakaian lelaki itu sangat rapi. Memakai jas warna hitam dengan sepatunya yang mengkilat. Wajahnya yang mulai keriput, warna kulitnya coklat. Ia lalu membantuku berdiri dan memberikan senyuman kepadaku. Ia lalu memperkenalkan diri kepadaku. Orangnya sangat ramah. Kami lalu berbincang-bincang seperti sahabat lama yang baru kali ini bertemu. Namanya Pak Ridwan. Tetapi ia lebih senang dipanggil dengan Ridwan, katanya supaya ia kelihatan lebih muda. Telah berjam-jam aku menunggu nyonya Dewi tetapi ia tak kunjung datang. Pak Ridwan mulai melihat keresahan di wajahku. Ia lalu menawarkan diri mengantarku pulang. Aku iyakan saja. Tetapi sebelumnya ia mengajakku ke suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku ingin mengakhiri hidupku saja pagi itu. Bumi seakan-akan tidak mengakuiku lagi sebagai manusia. Terbayang olehku ayah dan adikku. Aku ingin mengakhiri hidup ini segera. Tubuh ini sangat kotor. Walaupun aku telah membersihkan tubuh ini dengan air selautan. Aku teringat ayah, entahlah ayah yang selalu ada di benakku. Aku baru tahu, nyonya Dewi yang tak lain adalah majikanku telah menjualku ke seorang rekannya. Aku juga baru tahu bahwa aku berada di tempat yang tak seharusnya aku berada. Aku telah melanggar amanat ayah. Apa yang mesti aku katakan pada ayah jika tubuh ini telah kotor. Ternyata minuman yang diberikan oleh Pak Ridwan semalam telah membuatku tak sadarkan diri. Dan sekarang aku mendapati diriku tidak memakai benang sehelai pun. Air mata ku tidak akan menyelesaikan masalah. Pagi itu Pak Ridwan meninggalkanku dengan melempariku sejumlah uang. Katanya pelayananku sangat memuaskan baginya. Lain kali ia akan berkunjung dan menemuiku lagi. Aku hanya meratapi nasibku walaupun aku meronta, menangis dengan kencangnya tidak akan ada yang menolongku. Aku terselingkup menatap lantai yang ada bayangan ayah dan adikku. Aku ingin pulang. Aku rindu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah terperanjat di tempat ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Apalagi mencoba untuk kabur. Aku menjalani hari-hariku di tempat ini seperti yang lain. Melayani nafsu bejat para langganan. Terkadang aku mendapat perlakuan kasar, bahkan tidak pernah dibayar oleh mereka. Hasilnya aku kirimkan kepada ayah. Aku tahu ayah tidak tahu menahu yang aku kerjakan di kota ini. Aku tidak ingin dia tahu. Kabar terakhir kudengar, ayah semakin membaik. Kini ia mulai kerja lagi. Membajak sawah orang lain, hasilnya untuk kebutuhan hidupnya dan adikku di kampung. Uang yang aku kirim selama ini dari hasil pekerjaan kotorku, mereka gunakan untuk memperbaiki rumah yang mulai reyot termakan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam, dengan tubuh yang gemulai, pakaian yang kukenakan harus menarik perhatian pelangganku. Diantara wanita se profesiku, akulah yang termuda. Tak heran jika banyak pengunjung beralih kepadaku. Aku baru sadar ternyata aku cantik juga jika berdandan. Bekerja di tempat itu (club malam atau tempat-tempat hiburan) membuatku banyak berkenalan dengan orang-orang penting. Mulai dari polisi bahkan pejabat sekalipun. Mungkin mereka telah bosan dengan istrinya di rumah atau sekedar menghilangkan strees mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah mengenal dunia hiburan sejak aku berkenalan dengan nyonya Dewi, mantan majikanku dulu. Dia yang membuatku terjerumus di tempat seperti ini. Bahkan aku tidak pernah lagi mendengar kabar ibu Rahma. Ternyata ia telah menipuku. Aku dengar dari kawanku di tempat ini, ia adalah seorang germo. Ia ke kampungku mencari tenaga baru. Awalnya kita akan terbius oleh keramahannya, menjanjikan kita pekerjaan di kota dengan gaji yang sangat besar. Apalagi waktu itu aku terdesak oleh kebutuhan ekonomi. Ibu Rahma tidak melewatkan kesempatan itu, ia tahu kondisi ayahku. Ia selalu merayuku agar ikut dengannya bekerja. Ia lalu menyerahkanku kepada nyonya Dewi. Hingga aku sampai disini. Melayani nafsu setan para lelaki hidung belang.. Aku juga baru tahu ternyata Pak Ridwan itu adalah seorang pejabat di pemerintahan. Aku juga baru tahu kalau ibu Rahma tidak menyukai adikku karena dia seorang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku berada di tempat ini. Walaupun aku tahu apa yang aku lakukan adalah salah. Aku tidak berani menampakkan wajahku di depan ayah dan adikku. Apalagi warga kampung. Terakhir aku dengar, Wati teman se profesiku telah meninggal. Seminggu yang lalu ia pulang ke kampung halamannya menjenguk orangtuanya. Ia bertemu dengan pejabat dan polisi yang pernah membelinya. Pejabat dan polisi itu takut ketahuan kelakuannya, maka disebarlah isu bahwa Wati adalah seorang pelacur. Kerjanya di kota hanyalah melayani nafsu seks para lelaki hidung belang. Otomatis masyarakat emosi dan tidak mau ada seorang warga yang mengotori kampungnya. Mereka lalu menangkap Wati dan beramai-ramai membakarnya hidup-hidup di depan semua warga kampung..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takut mengalami kejadian seperti itu. Untuk menutupi masa laluku, aku mengganti namaku. Sekarang aku menyandang nama Diana. Nama itu adalah nama seorang ibu yang sangat baik padaku di kampung. Ia sangat disegani oleh masyarakat. Aku memakai namanya agar aku disegani oleh orang. Orang-orang disini memanggilku Diana. Aku malu menyandang nama yang diberikan oleh ayah. Dulu ayah memberiku nama Fatimah. Agar kelak aku mejadi wanita seperti anak Nabi itu. Tetapi apa yang diharapkan ayah malah sebaliknya yang terjadi. Fatimah adalah masa laluku. Sekarang orang-orang memanggilku Diana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mempunyai seorang teman bernama Aminah. Di tempat ini ia telah mengganti namanya menjadi Dewi. Ia telah menjalani profesinya sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial) selama dua tahun. Awalnya ia sering ke tempat-tempat hiburan bersama dengan kekasihnya. Sekedar ingin mendapatkan hiburan. Suatu malam kekasihnya memaksanya melakukan hubungan seks. Ia tidak kuasa menolak karena dipaksa dan takut mengecewakan kekasihnya itu. Selang beberapa bulan ia hamil. Resah dan rasa takut selalu menghantuinya. Wajah kedua orangtuanya selalu terbayang. Sang kekasih malah menganjurkan ia menggugurkan kandungannya. Baginya tidak ada jalan lain selain menuruti saran kekasihnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa tidak berharga lagi dan tidak berhak lagi hidup di dunia ini. Tubuhnya telah kotor. Karena merasa telah kotor, ia mengikuti saran seorang temannya untuk bekerja saja menjadi PSK. Dewi mengiyakan saja. Sejak saat itu hingga sekarang profesi itu dijalani. Kadang pula ia bekerja sebagai penari telanjang disebuah club malam di kota ini. Tidak ada yang tahu mengenai pekerjaannya. Sedangkan kekasihnya telah pergi meninggalkannya tanpa sebab. Status mahasiswi yang pernah disandangnya sering ia rindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Raga lelah menyelimutiku pagi ini. Aku baringkan saja tubuh ini di sofa. Rasanya sangat nyaman. Segelas air putih ku teguk mengairi tenggorokan ini. Saat mimpi hendak memasuki ruang tidurku, suara lelaki tua mengagetkanku. Kakiku terasa berat melangkah menuju pintu rumah. Pakaian yang aku kenakan semalam masih melekat erat di tubuhku. Aku segera membuka pintu. Seorang lelaki tua denga motor bututnya berdiri di samping pagar rumahku. Pagi ini ia melemparkan senyuman untukku seakan mengucapkan selamat pagi kepadaku. Aku pun tersenyum. Kaki ini lalu melangkah menuju lelaki tua itu. Ada beberapa pucuk surat berada di tangannnya. Ia lalu memberiku sepucuk surat lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bisu. Hening. Senyuman itu kini menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat itu lalu aku buka. Ternyata dari seorang ayah yang merindukan anaknya. Menginginkan anaknya pulang ke rumahnya. Raut wajah kertas itu begitu pilu. Surat itu lalu aku lipat dan menyimpannya di laci mejaku. Kadang aku melipat surat itu menjadi sebuah perahu. Sebuah perahu yang akan aku bawa ke pantai. Entah kapan waktu itu tiba. Kelak akan membawa kabar untuk ayah bahwa anaknya disini juga merindukannya. Surat itu tidak sendiri. Telah banyak temannya yang telah menunggunya beberapa waktu yang telah silam. Tak satu pun surat-surat itu aku balas. Di seberang sana, seorang ayah mengharapkan anak merindukannya dan pulang berkumpul dengannya. Aku duduk menatap sekumpulan surat itu. Aku ragu tidak bisa membalasnya dengan tinta air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hembusan angin mammiri menyentuh ragaku tetapi tidak menyapaku. Entahlah, ia tidak mau lagi memberiku kabar mengenai ayah dan adikku. Mungkin ia enggan melihat wajah ini. Seperti malam-malam sebelumnya. Dengan genitnya aku berjalan menarik perhatian para lelaki hidung belang. Dengan rok mini dan baju yang sangat ketat, kacamata berwarna putih yang aku kenakan. Aku biarkan angin mempermainkan ujung rambutku. Sekali-kali senyum kecut kulemparkan kearah sekumpulan pria. Inilah yang aku lakukan setiap malam. Sedangkan ayah dan adikku tidak tahu menahu apa yang aku kerjakan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam kota Makassar menyaksikan kehidupan yang aku jalani. Entah sampai kapan akan berakhir. Masihkah ayah merindukanku di sana sampai sekarang atau ia telah melupakan aku, anaknya yang hina dan kotor ini. Waktu selalu berkisah kepadaku ketika senja akan segera berlalu. Ada banyak wajah dan wajah yang aku temui. Di pantai ini aku sering berkisah kepada riak ombak dan hembusan angin. Entah telah berapa banyak perahu kertas yang aku buat untuk ayah. Waktu selalu bertanya kepadaku, kapan aku mengirimkannya kepada ayah dan adikku. Aku ragu menatap cakrawala. Aku takut menatap surya dipagi hari. Tetapi aku lebih takut menatap dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah embun akan selalu menyapaku dipagi hari. Menemaniku menanti gemerlapnya malam. Menanti senja segera berlalu, mengetuk pintu langit untuk menghadirkan malam bagiku. Kadang aku berharap tidak akan ada malam. Aku selalu ingin bertemu dengan malaikat bersayap membawakan sekotak maut untukku di pagi hari. Biarkan ia mendengdangkan nyanyian mautnya kepadaku setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku bermimpi bertemu dengan seorang gadis. Entahlah, aku lupa menanyakan namanya. Rambutnya panjang, ia biarkan terurai dipermainkan oleh angin malam. Berdiri seorang diri di tepi kerinduan menanti maut menjemput di pelupuk mata. Senja telah berlalu dihadapannya tanpa ia sadari. Mutiara mata tak henti mengaliri hatinya yang dipenuhi kabut gamang. Ketika aku bertanya, “Siapakah engkau?" Ia lalu berbalik menatapku lalu berkata, "Aku adalah masa lalumu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 17 November 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Naskah cerpen ini pernah dipentaskan oleh mahasiswa sastra Indonesia 2006, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar pada bulan Mei 2008 di Gd. Saopanrita UNM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Erna Rasyid&lt;/span&gt;, mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia 2006 Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar. Telah menghasilkan dua buah antologi cerpen dan sebuah novel. Selain itu telah menghasilkan beberapa naskah drama dan salah satunya telah dipentaskan. Cerpen dan puisinya sering diterbitkan di media kampus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1652044615856599880?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1652044615856599880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1652044615856599880' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1652044615856599880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1652044615856599880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/10/panggil-aku-diana.html' title='Panggil Aku Diana'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1979380811031938383</id><published>2008-10-19T23:37:00.002+07:00</published><updated>2008-10-19T23:45:20.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Ketika Sastra Masih Kering di Sekolah</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ria Febrina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AWAL mula berkenalan dengan sastra waktu itu masih di SLTP 2 Padang tahun 2001, seorang guru bertanya tentang Buya Hamka. Tak seorang pun yang bisa menjawab, termasuk saya. Kemudian, ia menerangkan bagaimana sosok Hamka, termasuk karya-karyanya yang sangat fenomenal. Setelah belajar, saya mengingat namanya dan mencari karya beliau di perpustakaan sekolah. Saya menemukan label sastra dalam novelnya yang agak tebal, 224 halaman. Penasaran dengan cerita panjang yang ditulis oleh Hamka, saya membaca hingga tuntas buku yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski banyak hal yang kurang bisa dipahami, ceritanya sangat menggugah perasaan, karena sebagai seorang anak yang masih ingusan, bahasa yang ditulis Hamka sangat indah dan jarang ditemui dalam bahasa yang diujarkan guru maupun dalam koran lokal yang menerbitkan halaman sastra dan budaya pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlanjutlah, bacaan saya beralih kepada bacaan yang berlabel sastra, baik kumpulan puisi, kumpulan cerita pendek, maupun novel. Sayang, buku sastra yang ada di sekolah hanya sedikit. Lalu, saya mencarinya di perpustakaan daerah Sumatera Barat yang jaraknya tak jauh dari sekolah. Hampir setiap minggu, saya membaca beberapa buku sastra dan mulai mengenal Taufiq Ismail, Chairil Anwar dan Putu Wijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beranjak SMA, nama-nama tersebut sering muncul di buku Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan buku panduan belajar bahasa Indonesia di sekolah. Saya senang, karena lebih dahulu mengenal nama-nama mereka. Setiap ada nama-nama yang disebut sebagai sastrawan, saya mencari bukunya di perpustakaan, membaca karya mereka, melihat biografi kepengarangan mereka dan mulai mencintai dunia sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika hari ini saya melihat lagi ke bawah, memperhatikan kurikulum pengajaran sastra di sekolah, saya menemukan pengajaran sastra menjadi sangat sedikit. Materi sastra dikurangi. Padahal ketika itu, saya sudah merasakan materi sastra sangat minim, karena terpaksa mencari sendiri di luar proses belajar mengajar. Sastra sangat kering di sekolah, karena guru tidak terlalu memberi perhatian lebih terhadap materi ini. Jika hari ini ada pengurangan sastra di sekolah, terbayangkan bahwa akan ada jarak antara sastra dengan pelajar sekolah. Karena perlahan, mereka meminggirkan peran karya sastra yang sangat berguna untuk mencerdaskan masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sastra, bagi sebagian orang dianggap sebagai tulisan yang memperjualbelikan cerita karangan (fiksi). Cerita karangan yang dibaca dalam bentuk prosa, puisi dan drama itu ditafsirkan sebagai salah satu media hiburan yang belum mampu memberikan sesuatu untuk masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan seperti itu muncul karena pandangan masyarakat terhadap sastra masih primitif, belum mampu menjangkau hal-hal estetis dari penciptaan sebuah karangan. Apakah hal ini salah? Tentu tidak, karena masyarakat pembaca masih sangat awam dengan “bahasa dan dunia rekaan” yang diciptakan pengarang dalam karangannya. Apalagi, pembaca yang demikian tidak sempat mencicipi dunia pendidikan formal, sehingga kesalahpahaman mereka terhadap sastra semakin tajam. Akibatnya, banyak generasi sekarang mengikuti pola pokir tersebut, yang akhirnya menciptakan jurang antara karya sastra dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dialami di bangku sekolah, saya terpaksa belajar menemukan sendiri dunia sastra itu. Hanya ketertarikan yang memaksa saya untuk menemukan banyak bacaan sastra di luar jam belajar di sekolah. Tapi hari ini, apakah semua pelajar melakukan hal serupa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya bisa iya dan bisa juga tidak, karena tidak semua orang senang membaca bacaan sastra. Mungkin mereka senang membaca komik, cerita laga, dunia bola dan hal-hal lain yang memang patut untuk diketahui. Tetapi mengenai sastra, hampir semua orang mengenalnya hanya melalui halaman sastra dan budaya yang dimuat setiap minggu di koran mingguan lokal dan nasional. Mereka beranggapan bahwa sastra adalah tulisan yang memuat sebuah dunia rekaan yang menarik yang diciptakan seorang pengarang, dan patut dibaca karena menceritakan kehidupan orang lain. Masyarakat menikmatinya, karena dengan cerpen, puisi, dan novel, mereka memiliki pengetahuan baru mengenai orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu hari ini, beragam novel bermunculan. Dari novel islami, teenlit dan novel penggugah lainnya, mulai menarik perhatian sebagian masyarakat, khususnya kaum pelajar. Mereka menikmati membaca sebagai sebuah kebutuhan. Bahkan, mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama membaca setiap buku “the best seller”, buku terlaris yang muncul saat itu. Fenomena ini sangat bagus, seperti saya yang menemukan dunia rekaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sayangnya, ketika kita membahas sastra, sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa setiap karya sastra yang muncul tersebut adalah dunia khayalan dari si pengarang. Dunia reka-reka, di mana si pengarang menjadi Tuhan sendiri dalam menentukan nasib tokohnya. Meskipun hal tersebut tidak salah, tetapi kemunculan anggapan seperti itu patut disayangkan. Karena sastra bukan sekadar itu saja, tetapi ada hal-hal lain yang patut diketahui, seperti objek yang menjadi perhatiannya, yaitu lingkungan sosial di mana mereka berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastra Berakar dari Lingkungan Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra sebagai sebuah karya tidak muncul dari khayalan saja, tetapi seorang pengarang mengambilnya dari realitas kehidupan yang terjadi. Pada dasarnya, sastra adalah sebuah media yang menjembatani masyarakat untuk membahasakan apa yang terjadi di lingkungannya, yang berkaitan dengan dunia carut marut yang mereka hadapi setiap hari. Dunia yang tak lepas dari pendidikan, politik, ekonomi dan tempat di mana mereka memposisikan diri sebagai seorang warga negara. Segala sisi kehidupan itu menjadi sorotan bagi seorang pengarang. Setiap peristiwa yang terjadi dan yang mengganjal dalam pemikirannya, semua itu menjadi perhatian pengarang. Potongan demi potongan kehidupan masyarakat dijadikan dasar penciptaan baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, karya tersebut bergejolak di otak si pengarang, yang memunculkan pertanyaan, mengapa peristiwa demikian bisa terjadi? Pemikiran-pemikiran itu ditinjaunya sendiri, bahkan ia mulai memperhatikan lingkungannya, mencari sebab, lalu sebuah kemungkinan yang dapat dijadikan solusi bagi si pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini yang menjadi perbedaan antara karya sastra dan karya populer. Anggapan masyarakat yang menjadikan karya sebagai hiburan, sebenarnya adalah tujuan dari adanya karya populer. Sementara tujuan itu berbeda dengan kemunculan karya sastra. Jika kita membuat garis, karya sastra tak hanya melewati garis pertama yang bertujuan untuk menghibur pembaca. Tetapi ia melewati garis kedua, yaitu setiap karya sastra memberikan manfaat bagi masyarakat pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pemikiran yang menjadi titik tolak bagi seorang pengarang selalu didasarkan pada pengetahuan, karena mereka lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca, melihat, mendengar dan merasakan apa yang terjadi di lingkungannya. Misalnya seperti novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Merantau ke Deli&lt;/span&gt; yang ditulis Hamka. Di dalam novel digambarkan bahwa laki-laki Minang yang menikah dengan perempuan di luar kebudayaannya, seperti dinikahkan dengan perempuan Jawa, maka ia akan dinikahkan kembali dengan perempuan yang sama-sama berasal dari Minang. Tujuannya untuk menjelaskan kedudukannya di dalam lingkungan masyarakat Minang, seperti posisinya sebagai seorang anak, mamak dan anggota masyarakat. Dan apakah semua laki-laki Minangkabau seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak, karena Hamka menulis novel ini berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lingkungannya. Dengan adanya novel ini, Hamka ingin memberikan kemungkinan, bahwa masih ada masyarakat Minangkabau yang berpikiran demikian. Namun, Hamka juga memunculkan kemungkinan lain bahwa tidak saatnya lagi jika hari ini masih ada masyarakat yang menyandang pemikiran tersebut. Ada dunia kemungkinan yang bisa dipelajari pembaca, yang bisa dijadikannya sebagai media untuk mengenal kebudayaan dan masyarakat yang diceritakan oleh pengarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa karya tak lahir dari khayalan atau dari kekosongan semata, seperti yang diungkapkan A. Teeuw, seorang ahli sastra. Ia mengatakan setiap karya sastra lahir karena adanya peristiwa yang menjadi sebab dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Seorang pengarang mengambil satu sisi kehidupan yang dianggapnya patut diperbincangkan, lalu dengan pemikiran dan kreatifitasnya, ide-ide tersebut disejajarkan dengan kejadian di dunia keseharian yang biasa dihadapi oleh masyarakat. Dalam hal ini, seorang pengarang bertugas memberikan kemungkinan, apa yang terbaik untuk dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tampak bahwa sastra berakar dari lingkungan sosial, di mana masyarakatnya saling berhubungan dan membentuk interaksi di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sastra Masih Berdiri di Belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problemnya, pemahaman seperti ini belum dirasakan seutuhnya oleh masyarakat. Hanya masyarakat pembaca yang menaruh perhatiannya kepada bacaan sastra saja yang mampu menembus pemikiran demikian. Sehingga, jurang antara karya sastra dan masyarakat semakin melebar. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah usaha untuk mendekatkan kembali masyarakat dengan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman saya dalam mengenal dunia sastra, bahwa salah satu sarana paling efektif untuk menyebarkan pengetahuan sastra secara serentak kepada masyarakat adalah melalui pengajaran sastra di sekolah. Di dalam kurikulum harus dimasukkan materi sastra, di samping pelajar mempelajari bahasa Indonesia itu sendiri. Mereka akan diajarkan mengenal dunia masyarakat melalui karya-karya sastra yang ada. Mereka juga akan mengenal bagaimana dunia kepengarangan seorang penulis, dan belajar bagaimana nantinya mereka akan menghadapi masyarakat melalui bacaan-bacaan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan salah satu keuntungan dari adanya pendekatan sastra dengan pelajar adalah mereka dibiasakan untuk membaca, membaca dan membaca. Harapan untuk membuka cakrawala mereka pun berwujud nyata. Seorang pelajar tak hanya ditimpa pengetahuan ilmiah, tetapi juga dibuat peka terhadap sosial lingkungan yang ada di sekitar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lihat saja, ketika hari ini, media massa cetak dan elektronik memuat halaman sastra dan budaya. Mulai tampak adanya partisipasi pelajar untuk ikut serta di dalamnya, baik untuk menulis puisi atau cerita pendek. Hal ini tak lepas dari usaha sastra untuk mengajak pelajar memperhatikan lingkungan sekitar, dan dengan kreatifitas yang ada menciptakan dunia kemungkinan atau dunia rekaan sesuai dengan sudut pandang yang mereka miliki. Artinya, ada kerinduan dari pelajar untuk menikmati sastra secara bimbingan. Bahwa di dalam kurikulum sekolah, sastra juga penting bagi perkembangan psikologi dan sosial mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk mewujudkan harapan ini juga tak lepas dari kehadiran karya sastra yang hari ini membanjir, menuntut kesediaan pembaca untuk mengapresiasikan dan menilai bagaimana hasil kerja dari pengarang. Hal ini juga tak lepas dari harapan untuk meminimalisir jurang antara karya sastra dengan masyarakat pembaca. Sudahnya saatnya sastra berdiri di depan, meluruskan opini masyarakat terhadap perkembangan sastra itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Padang Ekspres&lt;/span&gt;, Minggu, 19 Oktober 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1979380811031938383?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1979380811031938383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1979380811031938383' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1979380811031938383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1979380811031938383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/10/ketika-sastra-masih-kering-di-sekolah.html' title='Ketika Sastra Masih Kering di Sekolah'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7723627391613665703</id><published>2008-10-19T23:34:00.001+07:00</published><updated>2008-10-19T23:36:19.411+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Nasib Sastra di Bangku Sekolah</title><content type='html'>Esai&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Fatkhul Anas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA waktu lalu, Maman S. Mahayana, pengamat sastra dari Universitas Indonesia, memberikan pernyataan bahwa sastra makin terpinggirkan dari bangku sekolah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 13-10). Pernyataan Maman ini jika diukur dari realita yang ada memang benar adanya. Sastra saat ini mengalami marginalisasi dari dunia pendidikan. Geliat untuk mempelajarinya hanya sekadar "sambilan". Bukan atas dasar suka, melainkan tuntutan mata pelajaran. Jika sang guru tidak memberi pelajaran sastra tentu si murid tidak menanyakannya. Dia acuh saja. Seolah sastra tak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib sastra di bangku sekolah memang sedang mengenaskan. Ibaratnya sastra hanyalah pelajaran pelengkap. Sekadar tahu, bukan untuk didalami, apalagi dijadikan hobi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran sastra yang biasanya digabung dengan bahasa Indonesia masih kalah pamor dengan pelajaran lain, terutama ilmu-ilmu eksak. Ilmu eksak dianggap paling bergengsi, dan siapa yang menguasainya dianggap "orang pintar". Hanya ilmu eksak dan ilmu-ilmu sosial humaniora saja yang dianggap mampu mencerdaskan. Sedangkan sastra dianggap tak mencerdaskan dan tidak bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Imbas Kebijakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi terhadap sastra yang demikian "buruk" sesungguhnya tidak terlepas dari kebijakan pendidikan yang diterapkan selama ini. Sebab, kebijakan pendidikan yang baik akan menentukan maju dan tidaknya pendidikan. Termasuk juga sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pendidikan, menurut Mark Olsen, merupakan kunci keunggulan bahkan eksistensi bagi negara-negara dalam persaingan global. Sehingga, kebijakan pendidikan perlu mendapatkan prioritas utama dalam era globalisasi. Karena kebijakan pendidikan yang mampu menentukan maju dan tidaknya anak didik, diperlukan kebijakan pendidikan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan sastra, mengapa semakin lama semakin termarginalisasi? Hal ini tak lepas dari kurang tepatnya kebijakan pendidikan yang diterapkan selama ini. Sejak Orde Baru, pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan perekonomian. Saat awal orde baru, perekonomian kita begitu buruk dengan tingkat inflasi yang demikian tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Kebijakan Pendidikan karya H.A.R. Tilaar dan Riant Nugroho dijelaskan setelah mengalami krisis kehidupan dalam era orde lama, masuklah bangsa Indonesia ke dalam era orde baru yang dimulai dengan upaya meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat. Perlahan-lahan kehidupan masyarakat mulai membaik, infrastruktur dibangun, dan pendidikan diabdikan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan era Orde Baru memang sangat efektif mengentaskan perekonomian. Namun, di salah satu sisi berakibat negatif. Terutama bagi pertumbuhan sastra. Selama Orde Baru pendidikan di-setting untuk mengentaskan perekonomian. Otomatis mata pelajaran yang menjadi unggulan saat itu adalah mata pelajaran yang berhubungan dengan perekonomian. Termasuk ilmu eksak. Dalam pekembangannya, ilmu eksak lebih diutamakan karena untuk menunjang teknologi dan industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berakibat buruk bagi pelajaran yang lain karena semakin marginalnya mata pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan teknologi dan industri seperti sastra. Pelajaran sastra tidak lagi menemukan tempat. Sastra dianggap tidak penting dan tidak mampu menyumbangkan kontribusi apa-apa. Sastra dipelajari hanyalah untuk mendukung pengembangan bahasa Indonesia agar tetap lestari. Akhirnya, sastra tidak menjadi pelajaran favorit, tetapi sebagai sampingan. Yang favorit mata pelajaran yang dianggap bergengsi, seperti ilmu-ilmu eksak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Spirit Sastra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sangat disayangkan ketika sastra semakin termarginalisasi dari bangku sekolah. Padahal, kalau boleh dibilang, sastra adalah ruh kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersastra kita mampu menghayati hidup. Menemukan jati diri dan mampu menentukan apa-apa yang baik dan buruk serta pantas untuk kita lakukan. Sastra juga mampu membangkitkan semangat jiwa-jiwa yang lelah. Bukankah Chairil Anwar dengan puisi-puisinya mampu membangkitkan para pemuda untuk berjuang melawan para penjajah? Para mahasiswa ketika berdemonstrasi juga melantunkan bait-bait puisi untuk membakar semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sastra yang berfungsi sebagai ruh dalam kehidupan. Ruh dijadikan berpasangan dengan jasad. Jasad adalah fisik yang kering. Tanpa perasaan dan jiwa. Jika dikaitkan dengan ilmu, ilmu-ilmu eksak maupun ilmu-ilmu lain hanya mengandalkan daya pikir diumpamakan seperti jasad. Kering dan tanpa perasaan. Sastralah yang digunakan sebagai pasangan agar jasad itu hidup. Sastra yang mampu dijadikan penyeimbang (balance) bagi ilmu-ilmu eksak maupun ilmu yang hanya mengandalkan daya pikir, agar tidak kering dan mempunyai perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu yang hanya mengandalkan otak tanpa disertai perasaan akan berakibat buruk bagi pemiliknya. Ia cenderung menjadi manusia kaku, tak punya rasa salah, dan tak berperasaan. Dalam bertindak hanya menggunakan otaknya. Ia egois dan tidak memperhatikan perasaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja orang-orang yang mahir ilmu-ilmu eksak di Indonesia. Saat meraih kedudukan dan pangkat, mereka malah melakukan korupsi. Mereka tidak peduli apakah hal iu salah atau benar, merugikan orang lain atau tidak, karena mereka tidak mempunyai perasaan. Mereka hanya mengandalkan otak dalam bertindak, sedangkan hatinya tumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman semacam ini sesungguhnya mampu dijadikan pelajaran bagi bangsa ini. Bahwa pemberian ilmu yang hanya mengadalkan daya otak saja tidak cukup. Perlu adanya olah jiwa. Olah jiwa tersebut bisa diraih dengan sastra. Sebab, sastra seperti puisi, cerpen, novel timbul dari perenungan jiwa. Ia adalah ungkapan perasaan yang dituangkan dalam kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersastra, diharapkan jiwa yang kering akan basah kembali. Perasaan yang tumpul akan peka kembali. Sehingga hidup akan senantiasa terarah, teratur, dan tidak semaunya sendiri. Ini artinya, sastra sedapat mungkin harus menjadi prioritas di bangku sekolah. Jangan hanya sekadar sambilan. Pelajaran sastra harus dibuat semenarik mungkin. Hindari memasukkan sastra-sastra absurd yang tidak dimengerti oleh anak didik karena mereka tidak akan suka. Ajak anak didik untuk berapresiasi. Dengan begitu, sastra akan mendapat tempat dan tidak lagi termarginalkan. n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fatkhul Anas&lt;/span&gt;, penikmat sastra, peneliti pada Fakultas Tarbiyah UN Sunan Kalijaga, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Sabtu, 18 Oktober 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7723627391613665703?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7723627391613665703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7723627391613665703' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7723627391613665703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7723627391613665703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/10/nasib-sastra-di-bangku-sekolah.html' title='Nasib Sastra di Bangku Sekolah'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7465464612373322278</id><published>2008-09-08T23:27:00.001+07:00</published><updated>2008-09-08T23:29:56.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Sekian</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oei K. Lendi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekian mata mulai cerdik. memandang&lt;br /&gt;hamparan rumputan yang luas membentang lemah&lt;br /&gt;tak subur. dikikis polusi tak berhati. hembuskan belai&lt;br /&gt;dekap dan sentuh, hangat seolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekian mulut mulai riuh memeperhatikannya&lt;br /&gt;mengucap kata prihatin. ungkapkan penyesalan&lt;br /&gt;sebarkan janji-janji canggih. mengirim niat keberpihakan&lt;br /&gt;terbungkus kidung-kidung salam yang disulam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekian akal pikiran mulai jeli pengaruhi batang-batang&lt;br /&gt;yang meradang terpanggang. mereka was-was bila rerumputan&lt;br /&gt;jadi diam tak bernyanyi. tak membuka suara. karena imbasnya&lt;br /&gt;pasti rugi meremukkan mimpi-mimpi sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekian celoteh. sekian perbincangan. sekian perdebatan&lt;br /&gt;mengungkit-ungkit. menyodor-nyodorkan kebaikan biar cuma&lt;br /&gt;sedebu di tengah gelap. mengakui. bangga tanpa malu&lt;br /&gt;tak peduli meski mungkin tersangkut atas penilaan susu sebelanga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekian tahun. sekian masa. sekian era. sekian metamorfosa&lt;br /&gt;sekian pergantian. yang terbukti serangkaian elegi. menanamkan&lt;br /&gt;kemuakan. mengasah kebencian. sejahterakan kecurigaan,&lt;br /&gt;pada diri rerumputan yang senantiasa merasa diancam permainan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjengkelkan. berkesinambungan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Oei K. Lendi&lt;/span&gt;, lahir dan tinggal di Madura. Aktivis di beberapa sanggar dan kajian sastra.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7465464612373322278?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7465464612373322278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7465464612373322278' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7465464612373322278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7465464612373322278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/09/sekian.html' title='Sekian'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6663932907509232017</id><published>2008-09-08T23:16:00.001+07:00</published><updated>2008-09-08T23:24:04.369+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><title type='text'>Perkembangan Sastra di Kalimantan Tengah*</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makmur Anwar M.H.&lt;/span&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASTRA adalah cabang seni yang bergerak dan sekaligus menggunakan bahasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dinyatakan bahwa sastra adalah (1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); (2) kesusastraan; (3) kitab suci Hindu; kitab ilmu pengetahuan; (4) kitab; pustaka; primbon (berisi ramalan, hitungan, dsb); (5) tulisan; huruf. Dari penjelasan tersebut, arti yang pertama adalah bahasa, dan arti kedua adalah kesusastraan. Ketika saya menjadi siswa kelas satu di SMA Negeri 1 Jurusan Sastra, di Yogyakarta, saya mendapat penjelasan dari guru, bahwa kesusastraan berasal dari susastra yang mendapat imbuhan ke-an; su adalah imbuhan yang berarti indah, sastra berarti tulisan. Jadi, kesusastraan adalah perihal tulisan yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesusastraan mempunyai arti yang lebih sempit dari kesastraan. Yang mempersempit arti tersebut adalah su-, yang berarti indah. Tentang keindahan dari kesusastraan itu sendiri sulit dijelaskan karena indah pada prinsipnya adalah suatu yang bersifat relatif. Masing-masing orang mempunyai pandangan tentang keindahan. Karya sastra bertemakan kritik atau pengkritisan meski tetap mempunyai keindahan. Namun, barangkali orang yang terkena kritikan akan mengatakan bahwa karya yang dimaksud tidak indah. Kritik sendiri ditulis atau diungkapkan sebagai sesuatu yang mengandung maksud, yang bagi masyarakat umum baik atau indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti sastra yang pertama diberikan oleh KBBI adalah bahasa, ini berarti bahwa sastra dan bahasa tidak dapat dipisahkan, sebab sastra adalah tulisan yang menggunakan bahasa. Bahasa adalah alat atau sarana untuk berpikir. Orang yang tidak mengenal satu bahasa pun ia tidak akan dapat berpikir. Bahasa juga merupakan alat untuk mengkspresikan pikiran atau ide yang tersimpan. Orang yang belum mempunyai bahasa yang dikuasai belum dapat mengungkapkan isi hatinya. Ini pernah saya alami waktu anak pertama saya baru belajar berbicara. Hampir tiga tahun ia belum dapat berbicara. Saya konsultasikan kepada seorang dokter apakah anak saya tersebut bisu. Dokter mengatakan bahwa anak itu tidak bisu, sebab bisu itu disebabkan karena tidak dapat mendengar dan tentunya tidak dapat menirukan apa yang diucapkan oleh seseorang. Pendengaran anak saya baik dan tidak ada gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya konsultasi dan mohon petunjuk kepada Prof. KMA.M. Usop, M.A. Beliau menanyakan kepada saya apa bahasa yang saya gunakan di rumah, apa bahasa yang dipakai istri saya, dan bahasa apa pula yang dipakai oleh teman-teman bermainnya. Saya mengatakan kepada beliau bahwa bahasa sehari-hari saya berbeda dengan istri saya dan berbeda pula dengan bahasa yang dipakai teman-temannnya. Akhirnya, beliau menjelaskan kepada saya bahwa anak saya tersebut tidak mengalami kesulitan dalam menyerap bahasa, karena bahasa yang bermacam-macam yang dialami oleh anak tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Beliau mengatakan agar saya tidak perlu cemas karena anak tersebut hanya sedang mencari dan memilih bahasa yang akan dijadikan pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata apa yang beliau katakan adalah benar, karena begitu anak saya dapat berkata-kata, ia langsung dapat membedakan bahasa apa yang harus disampaikan kepada ibunya, kepada saya, dan kepada teman-teman bermain-mainnya dalam waktu yang bersamaan. Ini adalah pengalaman saya yang sangat berharga dan penjelasan Pak Usop tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak pernah saya lupakan. Pak Usop adalah dosen saya yang banyak membantu saya baik dalam studi saya maupun dalam penulisan skripsi dan bahkan hal-hal lain seperti organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyukai sastra, terutama puisi sejak saat masih duduk di SMP Jurusan A (Sastra Budaya) di Yogyakarta. Saya mulai mengarang puisi mulai kelas 1 SMA di Yogyakarta dan puisi itu saya kirimkan ke redaksi majalah siswa. Betapa gembiranya saya karena karya pertama saya dimuat di majalah Tifa Siswa, begitu nama majalah itu. Sayang, saya tidak dapat mengingat karya tersebut. Majalahnya pun hilang. Pada tahun 1955, SMA Sastra Negeri di Yogyakarta telah memiliki majalah siswa yang bernama Rakta Pangkajia. Majalah itu bukan lagi berbentuk majalah dinding, tetapi sudah berupa majalah terbitan tercetak yang dikelola oleh para siswa dengan rapi. Ini barangkali kelebihan SMA Sastra dari SMA-SMA umum lainnnya. Penyajian pengajaran bahasa Indonesia dan sastra banyak disampaikan dalam bentuk diskusi dan terbimbing (guided discussion). Dari diskusi itulah saya menjadi tahu betapa luasnya makna dan maksud yang dikandung oleh karya sastra, dari makna sebenarnya, kiasan, majasi, dan metaforis atau perbandingan dan perumpamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepengarangan saya terhenti ketika saya menekuni ilmu dan pengetahuan hukum di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Namun, saya kembali menekuni dunia kepengarangan setelah saya menjadi guru di SMA Negeri Pangkalanbun, Kalimantan Tengah. Saya mulai mengajarkan sastra dengan cara yang seperti saya peroleh. Kami mulai mengadakan lomba baca puisi pada hari-hari penting seperti Hari Sumpah Pemuda dan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya ketika saya mengajar di SMA Negeri 1 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tepatnya tahun 1971. Kami mengadakan lomba baca puisi pada Hari Pendidikan Nasional. Sejak saat itu, sekolah-sekolah lain di Palangkaraya juga mulai mengadakan lomba baca puisi. Dari kegiatan lomba tersebut, saya juga menjadi tahu betapa miskinnya perbendaharaan puisi di kalangan siswa dan sekolah. Ini yang mendorong saya untuk melakukan kegiatan bimbingan sastra, baik dalam kegiatan ”Tebaran Sastra di RRI Palangkaraya” maupun ”Tabib (Taman Bina Ide dan Bakat) Puri Damai”. Tebaran Sastra adalah acara yang dulu diasuh Bang Jack F. Nahan. Disela-sela kegiatan itu saya sering berdiskusi dengan Bang Badar Sulaiman Usin (BSU) almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kami menyelenggarakan Baba (Baca-Bahas) Puisi bersama Mas Eko (Yulianto Eko Sunugroho = YES) dan mendirikan Kelompok Teater Senjang. Saat itu Teater Senjang menampilkan M. Razi, Mahmudah, dan Elsi Suriani Titin. Sebenarnya Baba Puisi direncanakan sebagai program tahunan dan sudah berjalan sampai lima tahun. Namun, akhirnya kegiatan ini harus kandas karena tidak adanya dana pendukung, sementara saat itu sangat sulit mencari sponsor untuk kegiatan sastra. Kelompok Baba Puisi juga diramaikan oleh teman-teman yang berteater tersebut dan teman-teman lain diantaranya Mirza Wanara Fitri kakak beradik. Salah satu yang ikut aktif di dalamnya adalah Siti Nafsiah yang sekarang berkarya politk bersama Golkar dan duduk sebagai Ketua Komisi C DPRD Kalimantan Tengah. Pada waktu Kanwil Dekdikbud dipimpin oleh Bapak Hengki Sumuan dan Drs. Taya Paembunan. Saat itu puisi sangat diperhatikan sehingga tiap-tiap ada kegiatan baik intern Kanwil maupun kala ada kunjungan pejabat dari Pusat baik itu Dirjen, Sekjen maupun menteri P dan K selalu disuguhkan bacaan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu saat, ada kegiatan yang tidak menampilkan bacaan puisi, Bapak H Sumuan dan Pak Taya menanyakan kepada saya perihal ketiadaan baca puisi. Sehingga pada saat Pisah Sambut kepindahan Pak Taya kembali ke Jakarta, kami juga mengadakan acara baca puisi, khusus untuk Pak Taya. Salah satu kalimat dalam puisi itu berbunyi” Selamat jalan Pak Taya, jangan lupakan kami, jangan lupakan Kalimantan Tengah”. Puisi ini memberi kesan tersendiri di hati beliau sehingga beliau menuliskan sebuah buku tentang Kalteng dan diluncurkan di gedung Aula Kanwil Depdikbud. Menurut beliau puisi tidak boleh dipandang hanya sebagia hiburan, tetapi juga sebagai media yang dapat dititipi pesan apa saja, dari masalah pendidikan agama sampai masalah pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepindahan Bung Yohanes Djoko Santoso Passandaran dari Kuala Kapuas ke Palangkaraya menjadi dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Indoensia FKIP Universitas Palangkaraya memberikan dorongan kegiatan sastra di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Ia membukukan sendiri beberapa puisinya dalam kumpulan puisi Sajak- Sajak Kecil Perjalanan. Saya sering berdiskusi dengan beliau tentang bagaimana mendorong dan mengajak para siswa berkarya puisi dan meningkatkan karangan serta kualitasnya. Lewat Tabib Puri Damai, beliau ikut menyelenggarakan lomba Baca Puisi. Bang HABSU (Haji Ahmad Badar Sulaiman Usin, Saapan Badar Sulaiman Usin setelah menunaikan ibadah haji).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya maupun teman-teman yang lain termasuk sastrawan yang kurang produktif dalam hal penerbitan buku, karena kemampuan finansial yang sangat terbatas. Kami baru menuangkan karya-katrya dalam buku setelah ada pihak yang berkenan mensponsori. Keadaan agak berubah setelah buletin sastra Dermaga terbit. Buletin ini digagas oleh Bang HABSU dan didukung Ikatan Pecinta Seni Sastra Palangkaraya (IPSSP). Buletin ini dimotori oleh Wansel Eryanatha Rabu, Barthel Usin dan Sutran. Ketiga orang ini memang bergelut dalam bidang jurnalistik. Selain itu ada pula Dini Sofian serta Bambang Juniarto yang sejak tamat kuliah sampai sekarang belum terlacak keberadaannya. Selain menerbitkan Dermaga, IPSSP juga pernah menerbitkan antologi puisi penyair Palangkaraya, sayang saya tidak memiliki arsipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISASI (Ikatah Satrawan Indonesia) daerah Kalimantan Tengah kemudian ikut bergabung bersama IPSSP. Saat itu ISASI dipimpin oleh Bang Jack F. Nahan. Kehadiran ISASI ikut memperkuat buletin Dermaga. Meskipun baru berupa stensilan, HABSU berani mengirimkan beberapa edisi ke teman-teman seniman sastra di daerah lain, juga ke pusat dokumentasi sastra HB Yassin. HABSU lalu membukukan puisinya dalam kumpulan puisi yang berjudul Rambahan. Buku ini disponsori oleh Mas Dapi Fajar Raharjo, Mohammad Alimulhuda, Samsul Munir, Suyitno BT, dan teman-teman yang tergabung dalam ISASI. Saat itu ISASI berada di bawah koordinasi Dr. J.J Koesni selaku Ketua ISASI. Setelah kumpulan puisi ini terbit, lalu terbit pula kumpulan puisi yang disponsori oleh Kantor Wilayah Pariwisata Seni dan Budaya (Parsenibud) Kalimantan Tengah. Kumpulan puisi ini berjudul Tiga Sosok Berpadu Takdir, memunculkan puisi-puisi bertemakan pariwisata karya HABSU, Makmur Anwar M.H, dan Andi Burhanuddin. Saat itu Kantor Parsenibud berada di bawah kepemimpinan Bapak Drs.H Hamdulilah Salim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Tiga Sosok Berpadu Takdir, Aliemha (sapaan Mohammad Alimulhuda) dan kawan-kawan dari ISASI Kalteng menerbitkan Negeri Bekantan, sebuah antologi puisi para penyair Kalimantan Tengah. Di dalamnya memuat karya-karya Lukman Juhara, Dra. Nani Setiawati, M.Si., Sujudi Akbar Pamungkas, M. Anwar M.H., Alifiah Nurahmana, Supardi, R. Bagaspathi, Suyitno BT, Titin Nafsiah Rafles, Amang Bilem, Esa Sukmawijaya, Padmi Sando Eraini, S.Pd., Samsul Munir, Qomaruddin Asss’adah SP, Harland S. Muhammad, Wansel Eryanatha Rabu, Drs. Fajar Siddiq, Ariel Abuhasan, Lamatsyiah M Tiong, Tutur Krishandojo, Ruslimah, Surya Wira Buana, Yohanes C Karambut, Priyatna, Misnawati, Yuliati Eka Asi, Ad Rahmayanti, dan Nor Hasanah. Dari sekian banyak nama itu ada beberapa yang memang sudah dikenal sebelumnya dan ada pula yang baru dikenal. Beberapa di antaranya kini sudah tidak terdengar gaungnya, namun ada pula terus berkarya, hidup dan berkibar benderanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tabib diminati oleh adik-adik yang masih kecil diantaraya Elis, yang dulu sering ditampilkan di layar TVRI, Herawati, Citra, Pahit, Amy, dan Sekar yang sering pula tampil di RRI Palangkaraya membaca puisi dan bermain sandiwara udara, menyosialkan program Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Citra dan Amy sempat diundang ke Jakarta oleh IKAPI di bawah ibu Upi Tuti Sundari Azmi yang akrab dipanggil Bu Upi, untuk membacakan pusi di acara pembukaan Pameran Buku Internasional. Acara itu dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Bapak Sumantri Brodjonegoro di Balai Sidang Senayan, Jakarta.&lt;br /&gt;Tabib juga memunculkan adik-adik yang kemudian ikut dalam kegiatan-kegiatan lain baik dalam berteater maupun berpuisi bersama dengan teman-teman yang lain. Tabib, Baba Puisi dan Teater Senjang sering mengadakan kegiatan lomba baca Puisi. Bahkan para anggota Teater Senjang berhasil menang dalam Lomba Menulis dan Baca Puisi bertemakan Pancasila yang diselenggarakan oleh BP-7. Lomba menulis Essai bertemakan Pancasila memunculkan Mamahut, permunculan nama lain dari M Anwar MH, juga anggota teater Senjang sebagai juara pertama. Selain itu masih banyak prestasi yang berhasil diraih oleh para anggota teater Senjang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bersama redupnya Baba Puisi, Teater Senjang pun mulai tenggelam dan pulas dalam tidurnya. Sejak itu muncullah Teater Kharisma di bawah pimpinan Drs. Puji Santoso. Tetapi kehidupannya juga tidak mampu bertahan lama, walaupun sempat berkiprah meramaikan panggung teater Palangkaraya. Namun, Alhamdulillah. setelahnya muncul sanggar teater yang baru yang sampai sekarang masih menunjukkan keaktifannya, yaitu Srikandi Tiung Gunung Balamping Emas di bawah pimpinan Rr. Tri Rahayuningsih. Pemain utama dan seniornya adalah Aliemha. Teater ini banyak melibatkan adik-adik mahasiswa, siswa-siswi SMP, SMA, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sememtara itu di kampus Universitas Palangkaraya juga berkembang Teater Tunas sebagai ajang berkiprah bagi para mahasiswa-mahasiswi FKIP Program Studi Bahasa Indonesia dan sastra Jurusan Bahasa Indonesia dan Daerah. Bersamaan dengan aktifnya sanggar-sanggar teater ini, muncullah satu lagi teater dan sastra kampung (Terapung) di bawah kepemimpinan Aliemha. Teater ini diminati banyak pihak untuk bergabung dan bekarya di bidang teater, bahkan adik-adik kita yang kecil ikut bermain di dalamnya, salah salatunya adalah melakonkan ”Ember”. Teater Terapung sangat menarik perhatian karena membina anak-anak untuk cinta teater, juga dengan kehadiran teater bocahnya (diberi nama teater Ember). Sampai sekarang sanggar ini masih aktif dan terus aktif bahkan sering bermuhibah ke beberapa daerah lain. Terakhir bulan Juli lalu mereka ke Pontianak, Kalimantan Barat. Di era aktifnya, sanggar-sanggar teater ini berhasil menjadi tuan rumah dalam adu kreasi pekan teater dengan menghadirkan Group Teater dari Banjarmasin, Malang, Jombang, Jatim, dan Sampit. Kelompok Sampit yang aktif melalui studi Art Sampit sering mengundang Teater Terapung dan sebaliknya mereka juga bermain di Palangkaraya dan mengikuti program-program Terapung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan dibukanya Kantor Bahasa Palangkaraya pada tahun 2000 di Kalimantan Tengah, kegiatan sastra semakin marak saja. Kantor Bahasa Palangkaraya ini sering mengadakan Bengkel Sastra di SMA-SMA di Palangkaraya dan daerah-daerah lain di Kalimantan Tengah dengan melibatkan tenaga-tenaga yang ada seperti Mas Eko, Aliemha, Dapi Fajar Raharjo, M. Anwar MH, dan para dosen Bahasa Indonesia dan Sastra Unpar.&lt;br /&gt;Setelah Kantor Bahasa Palangkaraya berubah menjadi Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2003, mereka pun semakin meningkatkan peranan dan partisipasinya dalam membina mengembangkan serta menggerakan para seniman sastra dan teater di wilayah ini. Di antaranya adalah seminar sastra yang menampilkan Tokoh Budayawan Prof. K.M.A.M. Usop, M.A., dan dihadiri pejabat dari Pusat Bahasa, Drs. Abdul Rozak Zaidan, M.A. Saat itu Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah berada dibawah kepemimpinan ibu Jatiwati, S.Pd., Di sini, tampak kesastrawanan dan kebudayawaman Pak Usop di tengah masyarakat luas Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu dua tahun terakhir, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah semakin menggiatkan program kesastraannya dengan mengadakan Lomba Baca Puii bagi Guru SD, Lomba Bertutur/Mendongeng atau Bercerita bagi Siswa SD, Lomba Mengarang Cerita Pendek, Lomba Musikalisasi Puisi, Sayembara Penulisan Cerita Rakyat, Bengkel Sastra, Penulisan Kreatif Cerpen, temu sastra, dialog sastra, seminar pengajaran sastra, bedah buku sastra, bimbingan penulisan sastra, dan lain-lain (maaf, saya tidak mampu menghafalnya). Ini merupakan momen yang sangat menggairahkan bagi keatifitas para sastrawan di daerah Kalimantan Tengah ini. Ucapan terima kasih tentunya pantas saya sampaikan kepada Bapak Dra. Puji Santosa, M.Hum selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah dan segenap stafnya atas kegiatan-kegiatan kesastraan yang diadakannya ini. Satu hal yang sangat mengejutkan adalah adanya acara Pemberian Penghargaan kepada Tokoh Kebahasaan dan Kesasatraan. Ini baru untuk pertama kalinya terjadi di wilayah Kalimantan Tengah ini. Kalau program ini tidak terhenti dengan pemberian penghargaan kepada kami sekarang ini, saya yakin akan dapat membawa dampak positif untuk peningkatan karya dan kreatifitas para sastrawan dan tokoh kebahasaan di daerah Kalimantan Tengah ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya juga mengucapkan selamat kepada Bapak Prof. K.M.A.M Usop, M.A. atas terpilihnya beliau sebagai tokoh Kebahasaan Kalimantan Tengah. Selain itu, saya juga pantas memantapkan ucapan terimakasih saya karena bimbingan beliaulah saya dapat bertahan dan berkarya di bidang kesastraan sampai sekarang ini. Beliaulah yang menyarankan agar saya membukukan puisi-puisi saya. Bagi saya, beliau adalah dosen pembimbing dan seorang tokoh yang menjadi idola saya. Terima kasih Pak Usop.&lt;br /&gt;                                                               &lt;br /&gt;Palangkaraya, 27 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Disampaikan dalam Orasi Tokoh Kesusastraan Kalimantan Tengah pada Puncak Acara Semarak Tahun Bahasa 2008, Pekan Bahasa dan Sastra, di Palangkaraya, 27—28 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Tokoh Kesastraan Kalimantan Tengah versi Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6663932907509232017?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6663932907509232017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6663932907509232017' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6663932907509232017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6663932907509232017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/09/perkembangan-sastra-di-kalimantan.html' title='Perkembangan Sastra di Kalimantan Tengah*'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-132498825408481779</id><published>2008-09-08T23:07:00.001+07:00</published><updated>2008-09-08T23:16:40.235+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><title type='text'>Kebahasaan dan Kesusastraan</title><content type='html'>Orasi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof. H.K.M.A.M. Usop, M.A.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerimaan Penghargaan Tokoh Kebahasaan dan Kesusastraan&lt;br /&gt;Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah&lt;br /&gt;Palangkaraya, Rabu, 27 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awal mula:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Saya menerima dan menghargai pemberian Penghargaagn Tokoh Kebahasaan dan Kesusastraan ini dengan rasa gembira dan terima kasih, walaupun saya menyadari bahwa apa yang telah dapat saya sumbangkan selama ini tidaklah dapat dikatakan suatu puncak prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sumbangan itu hanyalah suatu percikan bakat yang dimunculkan oleh desakan kebutuhan mengisi ruang-ruang kosong dalam kesibukan perjalanan hidup karier kami dalam “Meniti Tri Dharma Perguruan Tinggi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Selain itu, sebagai seorang perantau ada dorongan untuk membentuk kepribadian, suatu jatidiri yang mengemban nilai-nali budaya, termasuk seni budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awalnya adalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karier kami sebagai wartawan yang memerlukan penguasaan pemakaian bahasa (penterjemah Inggris—Indonesia dan sebaliknya) di kantor berita PIA, Associatd Press, Times of Indonesia dan Jakarta Times.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menempuh pendidikan tinggi di India (Delhi Collage dan Delhi University: B.A. dan M.A.) yang bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Bergaul sehari-hari dengan bahasa Inggris. (1961--1969)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ketika kembali ke Palangkaraya menjadi dosen UNPAR (1970) terpaksa kami mengajar bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris, malahan menjadi pendiri kedua jurusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sementara itu, timbul pula minat kami untuk membina bahasa daerah, khususnya bahasa Dayak Ngaju yang kebetulan bahasa ibu, sampai menjadi koordinaror Pemanyarakatan Bahasa Indonesia di Kalimantan Tengah, lalu memperjuangkan adanya Kantor Bahasa Palangkarya yang kemudian berubah namanya menjadi Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah yang berkedudukan di Palangkaraya. Setelah itu, karena perjalanan karier mengarahkan pada pengabdian di bidang pendidikan, sosial, dan politik, maka bidang kebahasaan itu saya estafetkan kepada kader-kader muda yang sempat saya bina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sebagai wartawan, saya banyak menciptakan istilah-istilah baru dalam Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sebagai dosen yang membaca skripsi-skripsi mahasiswa, saya temukan suatu gaya bahasa yang agak unik, yang kemudian saya rumuskan sebagai gaya “topik dan komen” yang merupakn pengaruh bahasa daerah. Apa yang ingin ditonjolkan menjadi subjek atau menjadi topik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sebagai budayawan yang menggali nilai-nilai budaya lokal, saya menemukan suatu bentuk sastra suci sangiang/sangen yang unik dan disebut oleh orang bahasa sebagai semantic parallelism (paralelisme semantik atau padanan makna) yang kemudian saya sebut khususnya untuk bahasa Sangen sebagai semantic interalism (integralisme semantik, karene melukiskan satu objek saja, yang disebut sebagai kutak bawi dan kutak hatue)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Di bidang ejaan, bahasa Dayak Ngaju tidak seluruhnya dapat mempergunakan ejaan baru Bahasa Indonesia dalam kasus-kasus bunyi sengau (ai, ei, au) sepaerti balau/balaw, parei/parey, balai/balay, karena adanya akhiran –nya yang dalam BDNg: kata yang berakhiran huruf mati seperti takuluk manjadi takuluk-ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Ada kasus yang aneh ialah kuman dan kinan, kalau sisipan um dan in diambil, maka tinggal satu suku kata kan : mekan, makan, mangan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Mungkinkah Bahasa Melayu itu berkembang dari daratan Kalimantan, bukan dari Champa (Cina Selatan)? (lihat kliping yang saya lampirkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Sebagai penutup, saya bacakan sajak W.S. Rendra yang ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kutak bawi hatue&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kali hitam lewat dengan keluh kesah  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kawanan air dari tanah tak bernama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kali hitam lewat di tanah rendah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kali hitam beralur di dasar dada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Palangka dan Jakarta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTARA PALANGKA RAYA DAN JAKARTA RAYA&lt;br /&gt;17 Juli 1957 dan 17 Juli 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenna Usop&lt;br /&gt;(Prof. H. KMA M. Usop, M.A.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno pernah mimpi&lt;br /&gt;Palangka akan jadi raya&lt;br /&gt;Palangka Raya ‘kan menjelma jadi Jakarta Raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setengah abad telah berlalu&lt;br /&gt;47 tahun sudah kita berkarya&lt;br /&gt;Membangun kota&lt;br /&gt;Kota langka penuh palang derita&lt;br /&gt;Penuh tunguh dan tangah*,&lt;br /&gt;Isen mulang*&lt;br /&gt;Pantang telentang&lt;br /&gt;Pantang mantangah*&lt;br /&gt;Kota baru di tengah rimba belanara Kalimantan Tengah&lt;br /&gt;Hanya satu itu karya anak bangsa&lt;br /&gt;Persembahan kepada republik tercinta&lt;br /&gt;Kepada anak cucu dan cicit kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita dan mimpi&lt;br /&gt;Harus tetap teguh&lt;br /&gt;Berayun-ayun dalam kenangan&lt;br /&gt;Bergejolak dalam pikiran&lt;br /&gt;Bergetar dalam gerak langkah&lt;br /&gt;Cita dan karya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota pasir, kota kerina, kota tandus, kota panas&lt;br /&gt;Kota kumuh…dan …”kota cantik”&lt;br /&gt;Pasir dan pasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan dalam perubahan&lt;br /&gt;Kecantikan dalam perjuangan&lt;br /&gt;Ketulusan dalam ketandusan&lt;br /&gt;Keteguhan dalam kekumuhan&lt;br /&gt;Kelembutan dalam kekerasan&lt;br /&gt;Ketegaran dalam kekeringan&lt;br /&gt;Kesabaran dalam ke-panas-an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara jalan lintas, banjir melindas&lt;br /&gt;Antara kendaraan roda dua, roda empat dan roda kaki*&lt;br /&gt;Antara otokrasi dan demokrasi&lt;br /&gt;Antara roda pembangunan dan roda peminggiran&lt;br /&gt;Antara kejujuran dan kemunafikan&lt;br /&gt;Antara kita berdua saja&lt;br /&gt;Jarak masih jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Palangka Raya dan Jakarta Raya&lt;br /&gt;Masih berdesir mengusik harap&lt;br /&gt;Masih bergetar gerak lanjah&lt;br /&gt;Masih berbising klotak dan balap*&lt;br /&gt;Antara kota dan desa&lt;br /&gt;Antara gunung dan lembah&lt;br /&gt;Antara sungai, laut, dan darat&lt;br /&gt;Antara kau dan aku&lt;br /&gt;Antara kita semua, hapakat* erat&lt;br /&gt;Membangun betang* kita, rumah rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya nanti&lt;br /&gt;Kau dan aku bermesra&lt;br /&gt;Menjalin cinta di hutan dan rawa-rawa&lt;br /&gt;Menikmati kasih di alam raya&lt;br /&gt;Antara Jakarta dan Palangka&lt;br /&gt;Aku tersentak, waktu berdetak&lt;br /&gt;Kita bergerak, orang berdesak&lt;br /&gt;Aku berharap kita berderap&lt;br /&gt;Menjalin erat, merapat jarak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tergugah&lt;br /&gt;Alam berubah&lt;br /&gt;Anara Soekarno-Hatta dan Cilik Riwut&lt;br /&gt;Antara Palangka dan Jakarta&lt;br /&gt;Antara Palangka yang Raya dan Jakarta yang Raya&lt;br /&gt;Kota langka, kota raya, kota perkasa&lt;br /&gt;Mangat Kalimantan Tengah dia mantangan*&lt;br /&gt;Oe-oe-oe...oe!&lt;br /&gt;Selamat mengabdi, selamat berjuang&lt;br /&gt;Selamat Hari adi, Sayang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palangka Raya, 16 Juli 2004&lt;br /&gt;*tungguh tangah=keluh kesah&lt;br /&gt;*isen mulang=pantang mundur&lt;br /&gt;*mantangan=telentang&lt;br /&gt;*roda kaki=jalan kaki&lt;br /&gt;*KH11=jalan kaki&lt;br /&gt;*balap=speed boat&lt;br /&gt;*hapakat=saling bersepakat&lt;br /&gt;*betang=rumah panjang&lt;br /&gt;*mangat Kalimamntan Tengah dia mantangah=agar Kalimantan Tengah tidak telentang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-132498825408481779?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/132498825408481779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=132498825408481779' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/132498825408481779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/132498825408481779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/09/kebahasaan-dan-kesusastraan.html' title='Kebahasaan dan Kesusastraan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-8456248926750899520</id><published>2008-09-08T17:13:00.000+07:00</published><updated>2008-09-08T17:14:06.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Upaya Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra di Kalimantan Tengah</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Puji Santosa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN 2008 ditetapkan sebagai Tahun Bahasa karena bertepatan dengan 100 tahun (satu abad) kebangkitan nasional, 80 tahun (10 windu) Sumpah Pemuda, dan 60 tahun Pusat Bahasa berkiprah dalam bidang kebahasaan dan kesastraan untuk lebih memartabatkan bangsa melalui jalur bahasa. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun kini sudah berumur satu windu atau delapan tahun, mulai operasional tahun 2000 dengan nama Kantor Bahasa Palangkaraya, bersama masyarakat Kalimantan Tengah membangun bangsa yang lebih beradab dan bermartabat melalui pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra, Indonesia dan Daerah, di Provinsi Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka menyemarakkan Tahun Bahasa 2008, hari ulang tahun ke-63 Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (17 Agustus 1945—17 Agustus 2008), dan 51 tahun Provinsi Kalimantan Tengah, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menggelar berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan di di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah pada sepanjang tahun 2008 ini. Kegiatan kebahsaan dan kesastraan ini dinamai “Semarak Tahun Bahasa 2008: Merdeka! dan Merdeka!”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk membangkitkan minat masyarakat Kalimantan Tengah terhadap kegiatan kebahasaan dan kesastraan, meningkatkan apresiasi dan kreativitas masyarakat Kalimantan Tengah dalam pembelajaran bahasa dan sastra, menumbuhkan-kembangkan sikap positif, bangga, dan rasa cinta dengan bahasa dan sastra milik sendiri, serta memupuk rasa solidaritas untuk semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tema kegiatan ini adalah “Melalui pembelajaran bahasa dan sastra, Indonesia dan Daerah, kita tingkatkan minat baca masyarakat Kalimantan Tengah dalam rangka menyemarakkan Tahun Bahasa 2008 dan sekali Merdeka! tetap Merdeka!”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepanjang tahun 2008 Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah telah melakukan kegiatan kebahasaan dan kesastraan. Diawali tahun 2008 Balai Bahasa melaksanakan temu sastrawan Kalimantan Tengah untuk bersama-sama membicarakan tawaran Korrie Layun Rampan agar berperan serta dalam Dialog Sastarawan Kalimantan-Borneo di Samarindra tahun 2009. Para anggota Ikatan Sastrawan Kalimantan Tengah (ISASI) yang diketuai oleh Drs. Supardi akan ikut aktif dalam kegiatan tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk menghidupkan kegiatan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Kalimantan Tengah dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kalimantan Tengeh, Balai Bahasa pun ikut berperan serta dalam kegiatan diskusi kebahasaan yang diselenggarakan di kantor Redaksi Kalteng Pos, 16 Februari 2008 dan 9 Juni 2008. Diskusi yang pertama disiarkan secara langsung oleh Radio KPFM selama dua jam. Diskusi kebahasaan yang kedua di selenggarakan di RRI Palangkaraya, Sabtu, 19 April 2008, dan sekaligus disiarkan secara langsung selama dua jam. Kegiatan lain adalah Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) terhadap 85 wartawan yang mengikuti Karya Latihan Wartawan (KLW) di Sampit, 30 Maret 2008, serta Seminar Bahasa Media Massa di Palangkaraya pada hari Senin, 9 Juni 2008, dengan mendatangkan Kepala Pusat Bahasa, Dr. Dendy Sugono, Ketua FBMM Pusat, TD Asmadi, dan Kepala Kantor Bahasa Kalimantan Timur, Drs. Pardi, M.Hum., serta pembicara dari Universitas Palangkaraya, Drs. H. Lukman Hakim Siregar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun sangat peduli terhadap pembinaan, pengembangan, pemeliharaan, dan pelestarian bahasa Daerah. Untuk keperluan ini Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga telah menggelar Seminar Nasional Bahasa Dayak di Palangkaraya pada tanggal 10 Juni 2008 dengan menghadirkan pembicara Drs. Hardy Rampay, M.Si., Dr. Arnosianto M. Mage, M.A., Dr. Petrus Poerwadi, M.S., dan Drs. Yohanes Kalamper. Hasil seminar ini merekomendasikan untuk diadakan Kongres Bahasa Dayak secara internasional di Palangkaraya pada tahun 2009 atau 2010 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk meningkatkan mutu pengguna bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama bahasa persuratan dan tata dinas, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga telah melaksanakan penyuluhan Bahasa Indonesia kepada masyarakat Kalimantan Tengah, yang diikuti oleh guru-guru nonbahasa dan kepala tata usaha sekolah dan kepala tata usaha dinas kabupaten, di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, 27—29 Maret 2008, dan di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, 12—14 Mei 2008. Untuk penyegaran Bahasa Indonesia para pejabat di lingkungan pemerintah provinsi dan kabupaten, dimulai dari pejabat eselon IV dan III, dan pemayarakatan Bahasa Indonesia untuk pelaku pembuat reklame, papan nama, spanduk, baliho, dan media ruang publik, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah telah merencanakan kegiatan ini dengan Biro Kesra Pemda Provinsi Kalteng yang diwakili oleh Kepala Bagian Bina Sosial Pemda Prov. Kalteng pada tanggal 16—17 Juli 2008 di Jakarta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain penyuluhan Bahasa Indonesia, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2008 ini juga melaksanakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) kepada guru, karyawan, siswa SMK di kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, 12 April 2008, dan di Kabupaten Sukamara, 23 Juli 2008, serta para peserta pemilihan Duta Bahasa dan Duta Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2008, pada tanggal 20 Mei 2008 di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah. Para peserta pemilihan duta bahasa dan duta pariwisata ini juga dibekali keterampilan berbahasa Indonesia, berbahasa daerah, dan juga berbahasa Inggris agar mampu mengemban tugas dan misinya memperkenalkan Kalimantan Tengah di dunia internasional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembinaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan nasional tidak hanya kepada masyarakat pribumi atau warga negara Republik Indonesia, tetapi juga bagi para penutur asing. Para turis manca negara dan pekerja asing pun perlu mendapatkan pembinaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga menyosialisasikan dan mengembangkan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) kepada masyarakat dan calon pengajar BIPA di Palangkaraya, 1 April 2008, dan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, 25 Juni 2008.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam upaya meningkatkan mutu apresiasi siswa dan guru bahasa Indonesia SLTP dan SLTA, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah tidak tinggal diam di tempat. Bersama beberapa sastrawan Kalimantan Tengah kami bekerja sama menyelenggarakan “Bengkel Penulisan Kreatif Cerita Pendek Remaja” di Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, tempat kelahiran sastrawan nasional Fridolin Ukur, pada tanggal 2—4 April 2008, dan di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, 14—15 Mei 2008. Tidak hanya bengkel penulisan kreatif cerita pendek remaja, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga menyelenggarakan “Bengkel Musikalisasi Puisi” bagi siswa SLTP dan SLTA dan juga gurunya, di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, 28—29 Juli 2008.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu, untuk meningkatkan mutu apresiasi sastra masyarakat Kalimantan Tengah, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah bekerja sama dengan MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Palangkaraya menyelenggarakan Seminar Apresiasi Sastra yang Menyenangkan dan Inovatif, di Palangkaraya, Sabtu, 16 Februari 2008, diikuti lebih dari 300 guru, mahasiswa, dan sastrawan, serta menyelenggarakan Dialog Sastra bersama sastrawan sufistik Danarto, di Kuala Kapuas, 19 Maret 2008 dan di Palangkaraya, 20 Maret 2008 yang diikuti lebih dari 100 orang peminat sastra.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih bekerja sama dengan MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Palangkaraya, ditambah dengan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) FKIP Universitas Palangkaryara, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menyelenggarakan bedah buku kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan karya sastrawan asal Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Sandi Firly, pada tanggal 7 Mei 2008 yang dilanjutkan debat seru dengan para peserta bedah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun ikut juga memeriahkan Seminar Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kesastraan yang diselenggarakan oleh FKIP Universitas Palangkaraya, dalam memeriahkan hari Chairil Anwar, 28 April 2008, yang diikuti peserta lebih dari 450 orang, dengan pembicara Drs. Puji Santosa, M.Hum., dan Dr. Petrus Poerwadi, M.S., serta moderator Drs. Lukman Hakim Siregar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembinaan peningkatkan apresiasi sastra bagi masyarakat Kalimantan Tengah terus kami upayakan. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 14 Juli 2008, kami selenggarakan Temu Sastra Majelis Sastera Asia Tenggara bersama sastrawan nasional Hamsad Rangkuti. Dalam temu sastra ini juga kami hadirkan sastrawan karungut dari Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kurnia Untel. Kegiatan ini diikuti lebih dari 150 orang dan diliput oleh berbagai media massa lokal dan nasional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kegiatan lomba dan sayembara pun kami laksanakan guna meningkatkan mutu apresiasi sastra masyarakat Kalimantan Tengah pada tahun 2008 ini. Beberapa kegiatan lomba dan sayembara tersebut adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Sayembara Penulisan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Tahun 2008. Sayembara cerita rakyat ini bertujuan menggali potensi budaya nilai-nilai kearifan lokal (lokal genius) Kalimantan Tengah. Kegiatan ini hanya diikuti 18 peserta dengan Juri Abdul Fatah Nahan (penulis cerita rakyat), Dr. Petrus Poerwadi, M.S. (pakar cerita rakyat Kalimantan Tengah), dan Dra. Nani Setiawati, M.Si. (penulis nasional cerita rakyat Kalteng). Ketiga juri tersebut memutuskan cerita rakyat: “Anggir Sarangga” karya Janang memenangkan hadiah Harapan III, “Bawi Kambang dan Bawi Ranjau” karya Yuni Sri (SMP PGRI) memenangkan hadiah Harapan II, “Leniri” karya Nisa Noorlela (SMAN 2 Pahandut) memenangkan hadiah Harapan I, “Indu Mien” karya Mega Melita T (SMAN 1 Pahandut) memenangkan hadiah ke-3, “Liang Saragi” karya Dwi Jelita Natalya Saragi (SMP Katolik Santo Paulus) memenangkan hadiah ke-2, dan cerita rakyat “Legenda Desa Mintin” karya Tri Arfayanti, S.Pd. (MTsN 1 Model Palangkaraya) memenangkan hadiah pertama. Karya para pemenang lomba ini semua dikirimkan ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan sejenis pada tingkat nasional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayembara Cipta Cerpen Remaja Se-Kalimantan Tengah tahun 2008 bertujuan menggali potensi kreatif remaja dalam menyalurkan bakat dan prestasinya dibidang kebahasaan dan kesastraan. Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta dengan juri Drs. Supardi, Elsy Suarni, S.Pd., dan Pahit S. Narattama, S.Hut., memutuskan sepuluh nominasi cerpen remaja terbaik se-Kalimantan Tengah. Adapun kesepuluh cerpen terbaik tingkat Kalimantan Tengah itu adalah “Bujang Si Anak Desa” karya Pratiwi Indah Surya Meida (SMAN 3 Jekanraya), “Liku-Liku Emosional Seorang Guru” karya Tri Yuni (SMAN 3 Jekanraya), “Lentera Terakhir” karya Nurul Hatimah (SMAN 3 Jekanraya), “Pertemuan Terencana” karya Rakhmawati Aulia (SMAN 3 Kuala Kapuas), “Misteri Dompet Kita” karya Ridha Mawadah (SMAN 1 Tamiang Layang), “Keputusan Terbaik” karya Bela Santa Rossi (SMAN 1 Tamiang Layang), “Gita Cinta dan Cita” karya Normantie (SMAN 1 Pahandut), “Kembar Pengantin” karya Evie Novitasari (SMAN 1 Pahandut), “Inilah Hidupku” karya Oktavina (SMAN 1 Pahandut), dan “Bunga untuk Mama” karya Sheilla Marlyana (MTsN Buntok). Kesepuluh cerpen tersebut akan diikutkan kegiatan yang sama di tingkat nasional, yakni dikirim ke Jakarta mengikuti sayembara sejenis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepada semua pemenang sayembara tulis-menulis tersebut saya harapkan betul-betul sebagai karya asli mereka sendiri, bukan saduran, jiplakan, atau plagiator. Dari Panitia Sayembara Penulisan Cerita Rakyat tersebut saya peroleh laporan ada peserta yang mengirimkan ceritanya bukan karya aslinya sendiri, karya orang lain yang diaku miliknya. Kebetulan jurinya membaca dan itu adalah karya dari salah satu juri, Bapak Abdul Fatah Nahan. Tentu perbuatan ini sangat tercela, tidak terpuji, dan jangan sampai terulang lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lomba Baca Puisi Guru SD diadakan di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada tanggal 12—13 Agustus 2008. Pesertanya adalah guru SD se-Kalimantan Tengah, dan diikuti oleh 35 orang peserta. Dewan Juri yang diketuai oleh Drs. Makmur Anwar M.H. dengan anggota Elsy Suarni, S.Pd., dan Suyitno B.T. memutuskan  Alfisyah (MIN Model Pahandut Palangkaraya) sebagai pemenang Harapan III, Mudjiasri, A.Ma. (SDN 8 Palangka) sebagai pemenang Harapan II, Suryo Sulistianto (SD Katolik Santa Don Bosco Palangkaraya) sebagai pemenang Harapan I, Ernawati, S.Ag. (MIN Model Pahandut Palangkaraya) sebagai pemenang III, Sumiatun Hartini, S.Pd. (MIN Model Pahandut Palangkaraya) sebagai pemenang II, dan Abdullah T., S.Ag. (MIN Langkai Palangkaraya) sebagai pemenang pertama. Penilaian juri meliputi penghayatan (40%), penampilan (30%), dan vokal (30%). Seluruh peserta lomba baca puisi guru SD ini juga akan dibekali pengetahuan tentang penulisan esai pengajaran bahasa dan sastra untuk mengikuti lomba  di Jakarta dan penulisan puisi siswa SD oleh Kepala Balai Bahasa Kalteng.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lomba Musikalisasi Puisi Siswa SLTP dan SLTA diadakan pada tanggal 19—20 Agustus 2008. Pesertanya adalah siswa SLTP dan SLTA se-Kalimantan Tengah yang diikuti oleh 13 kelompok musikalisasi. Dewan Juri yang diketuai oleh Dafi Fajar Rahardjo, S.Sn., dengan anggota Agung Catur Prabowo, M.Hut., dan M. Alimulhuda (sastrawan dan pekerja seni teater), memutuskan kelompok musikalisasi: “Muzika” SMAN 3 Jekanraya memenangkan Harapan III, “Fana Ferias” MTs Model Palangkaraya memenangkan Harapan II, “D’Best One” SMPN 2 Pahandut memenangkan Harapan I, “Mandera” MAN Model Palangkaraya memenangkan hadiah ke-3, “Penyang” SMAN 2 Jekanraya memenangkan hadiah ke-2, dan “Zukatair” SMAN 2 Pahandut memenangkan hadiah Pertama. Pemenang Pertama Lomba Musikalisasi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah ini berhak menjadi duta Kalimantan Tengah dan akan dikirim ke tingkat nasional untuk mengikuti Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional pada tanggal 22—24 Oktober 2008 di Jakarta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepada seluruh pemenang sayembara dan lomba kami ucapkan selamat atas prestasi yang diraihnya. Pada hari Rabu dan Kamis, 27—28 Agustus 2008 seluruh pemenang diundang ke Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah untuk menerima hadiah dan tampil dihadapan para hadirin menyampaikan buah karya yang diraihnya. Kami hanya dapat memberi penghargaan berupa Piagam Penghargaan, Piala, Buku-buku terbitan Pusat Bahasa, dan uang pembinaan ala kadarnya. Kami juga mengharapkan kepada semua pemenang untuk tetap dan terus berkarya dan berkarya menunjukkan prestasinya. Jangan hanya berhenti sampai di sini. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah hanya memacu dan mendorong kreativitas, semangat berkarya, dan berprestasi yang lebih unggul dan lebih baik lagi, syukur-syukur hingga jenjang nasional ataupun internasional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penghargaan Tokoh Kebahasaan dan Kesastraan diberikan oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2008 ini kepada tokoh masyarakat Kalimantan Tengah yang berjasa terhadap pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra di Kalimantan Tengah. Penghargaan ini semata-mata diberikan kepada tokoh berdasarkan: hasil karya kebahasaan dan kesastraan, kuantitas karya, kualitas karya, konsistensi dan komitmen dalam bidangnya, aktivitasnya dalam mengembangkan bahasa dan sastra, baik sastra Indonesia maupun sastra Daerah di Kalimantan Tengah, serta kharisma yang dimiliki tokoh tersebut. Sebagai ucapan syukur dan rasa terima kasih Balai Bahasa Kalteng kepada tokoh yang turut serta membantu pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra di Kalimantan Tengah perlu diberi penghargaan ini. Tokoh penerimaan penghargaan dari Balai Bahasa Kalteng ini diminta memberikan orasi/pidato penerimaannya pada pembukaan Puncak Acara Semarak Tahun Bahasa 2008 dalam Pekan Bahasa dan Sastra 2008 yang diadakan pada tanggal 27 Agustus 2008. Kedua tokoh yang berhak menerima penghargaan dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah ini adalah Prof. H.K.M.A.M. Usop, M.A. dan Drs. Makmur Anwar M.H. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pekan Bahasa dan Sastra 2008 adalah salah satu kegiatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka menyemarakkan Tahun Bahasa 2008. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Jalan Tingang Km 3,5, Palangkaraya, pada tanggal 27—28 Agustus 2008. Dalam Pekan Bahasa dan Sastra 2008 ini ditampilkan: (1) Orasi/pidato kebahasaan/kesastraan oleh dua tokoh penerima Penghargaan Kebahasaan dan Kesastraan 2008 dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, (2) Pembacaan Cerita Pendek Remaja hasil 10 nominasi Sayembara Cipta Cerpen Remaja 2008 Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah, (3) Pembacaan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah hasil pemenang Sayembara Penulisan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Tahun 2008, (4) Pentas Baca Puisi Guru SD hasil pemenang Lomba Baca Puisi Guru SD Tahun 2008, (5) Pentas Musikalisasi Puisi hasil pemenang Lomba Musikalisasi Puisi Siswa SLTP dan SLTA se-Kalimantan Tengah tahun 2008, dan (6) Pentas Teater dari Sanggar Teater Terapung pimpinan Saudara M. Alimul Huda dan Agung Catur Prabowo, M.Hut. Sedianya kami juga akan menyelenggarakan Parade Pidato Mahasiswa tentang “Peran Generasi Muda dalam Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra dalam Upaya Memperkokoh Kesatuan dan Persatuan Bangsa”. Pidato mahasiswa ini ditiadakan karena kegiatannya diundur pada bulan Oktober 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Oktober 2008 Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah masih menyisakan kegiatan: (1) Pidato Mahasiswa, (2) Bulan Bahasa dan Sastra di SMAN 1 Tamiang Layang, (3) Pengiriman Duta Bahasa Provinsi Kalteng ke ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional, di Jakarta, (4) Pengiriman Kelompok Musikalisasi Puisi dari SMAN 1 Pahandut, Palangkaraya, ke ajang Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional, di Jakarta, (5) Pameran Kebahasaan dan Kesastraan di arena Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28—1 November 2008, (6) Penulisan Ensiklopedia Sastra Kalimantan Tengah, dan beberapa penelitian dan penyusunan kebehasaan dan kesastraan Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;Itulah beberapa upaya yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah bersama-sama masyarakat membangun bangsa yang lebih beradab dan bermartabat melalui pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra, Indonesia dan Daerah, di Kalimantan Tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Puji Santosa&lt;/span&gt;, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-8456248926750899520?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/8456248926750899520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=8456248926750899520' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8456248926750899520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8456248926750899520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/09/upaya-pembinaan-dan-pengembangan-bahasa.html' title='Upaya Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra di Kalimantan Tengah'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-8875838275955007249</id><published>2008-09-07T17:17:00.006+07:00</published><updated>2008-09-07T23:54:51.382+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><title type='text'>Reporter Cilik: Menginspirasi Orang Lain</title><content type='html'>BUAT kamu yang suka membaca pasti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; asing dengan yang namanya puisi, cerpen, dan novel, baik yang dimuat dalam koran dan majalah maupun terbit dalam bentuk buku. Tulisan-tulisan tadi adalah jenis-jenis karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pernah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; kamu membayangkan atau bertanya bagaimana sih para penulis bisa menulis dan memiliki ide-ide yang enak buat dibaca? Atau, bagaimana sih para sastrawan bisa menuliskan puisi yang bagus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SMO_P2roUHI/AAAAAAAAACQ/Xt62QddStqQ/s1600-h/DSCN7985.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SMO_P2roUHI/AAAAAAAAACQ/Xt62QddStqQ/s320/DSCN7985.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243244670286844018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sastrawan Udo Z Karzi (tengah) diwawancara AR Tadilaga (kanan) dan Dhiya Zahra (BORNEO/OKTRIKA NUGRAHENI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di Kotawaringin Barat ini ternyata juga ada seorang penulis sastra, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Udo Z Karzi&lt;/span&gt;. Dia telah menerbitkan beberapa karyanya di antaranya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Momentum&lt;/span&gt; (kumpulan sajak, 2002), Mak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dawah Mak Dibingi&lt;/span&gt;/Tak Siang Tak Malam (kumpulan sajak, 2007), dan termuat dalam berbagai antologi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dua orang temanmu, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AR Tadilaga&lt;/span&gt; (Kelas III dari SDN 2, Sidorejo) dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dhiya Zahra&lt;/span&gt; (Kelas II SDN 7 Mendawai) mewawancarai Udo Z Karzi yang berhasil meraih Hadiah Sastra Rancange 2008 di Kantor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejak kapan Udo Zul mulai menulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menulis puisi, cerpen, dan esai sejak 1987, tepatnya saat duduk di kelas 1 SMA, yang kemudian dimuat di berbagai media cetak daerah dan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senang dong setelah mengetahui buku karangannya diterima dan mendapatkan penghargaan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat senang dan bangga. Selain dapat honor, ya merasa puas karena hasil karya saya bisa dibaca orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenapa sih suka menulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena menulis itu menuangkan apa yang ada di kepala, dengan menulis bisa jadi lega. Seperti kalau adik-adik menulis catatan harian, bisa curhat di situ, senang atau sedih. Kalau sudah tertuang perasaannya bisa lega kan? Selain itu, kalau tulisan dimuat bisa dapat hadiah seperti honor atau penghargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah pernah merasa kesulitan dalam menulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya menulis itu tidak susah tergantung bagaimana kita mengembangkannya. Menulis itu kan sama dengan menginformasikan. Sama seperti menulis buku harian kalau sedih atau senang, melihat sesuatu, kita tulis dan kita kembangkan. Kunci utamanya adalah membaca, kalau kita senang membaca, kita jadi ingin tahu banyak, dan akhirnya ada keinginan untuk menuliskan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di mana biasanya mendapakan ide?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bisa dari membaca. Orang yang senang membaca biasanya senang menulis juga. Kalau melihat atau mendengar suatu kejadian juga bisa mendapatkan ide untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berapa buku yang sudah diterbitkan dan mana yang paling disukai? Mengapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau buku yang ditulis sendiri itu ada dua, tetapi kalau yang rame-rame ada banyak, tidak kehitung. Yang paling saya suka ya buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mak Dawah Mak Dibingi&lt;/span&gt; yang berbahasa Lampung karena mendapatkan penghargaan Sastra Rancange 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana sih caranya jadi penulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya, tulis saja yang ada di pikiran kita dan banyak berlatih. Kalau ada tulisan yang salah kan bisa dibetulin. Catatan yang harian bisa dijadikan ajang latihan bagi penulis pemula untuk menuliskan apa yang ada dipikirannya, perasaan, dan apa yang dilihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa pesan Udo kepada calon penulis cilik Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus berlatih dan berkarya, pantang menyerah, dan yang pasti semua orang bisa jadi penulis asal dia mau berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Media Anak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, 7 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-8875838275955007249?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/8875838275955007249/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=8875838275955007249' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8875838275955007249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8875838275955007249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/09/reporter-cilik-menginspirasi-orang-lain.html' title='Reporter Cilik: Menginspirasi Orang Lain'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_elorLad8GyA/SMO_P2roUHI/AAAAAAAAACQ/Xt62QddStqQ/s72-c/DSCN7985.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6486303409299820301</id><published>2008-09-04T23:31:00.002+07:00</published><updated>2008-09-05T00:00:06.742+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (cerpen)'/><title type='text'>Menunggu HP Berderit</title><content type='html'>Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sandi Firly&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPERTI malam-malam yang lain, ia selalu tekun di depan komputernya menyelesaikan pekerjaan kantor yang memang harus dikerjakan malam-malam karena ia memang pekerja malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Come away with me in the night&lt;br /&gt;Come away with me&lt;br /&gt;And I will write you a song&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Come Away With Me Norah&lt;/span&gt; Jones mengalun lembut yang distelnya dari komputer. Ia selalu ditemani lagu-lagu setiap bekerja. Ia penyuka jenis musik apa saja, kecuali dangdut. Meski ia tahu musik dangdut sedang menjadi trend, dan televisi berlomba-lomba menampilkan para penyanyi, persisnya sih para penggoyang dangdut ke dalam layar kaca untuk mengebor pemirsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam, namun ia sudah terkantuk-kantuk. Memang, jam tidurnya tak beraturan. Siang terkadang tak tidur sedetik pun, sementara ia baru tidur dini hari pukul empat pagi setelah pekerjaannya selesai dan ditambah dengan membaca buku atau kadang-kadang menulis puisi atau surat cinta, atau juga catatan harian di dalam komputer. Ia suka menulis surat cinta, meski ia sadar tak siapapun yang ditujunya. Mungkin ini ada hubungan dengan sifat pengkhayalnya yang suka merembes kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sering membuatnya gelisah adalah telepon genggam. Ya, benda canggih mungil itu selalu bikin dia gemes. Seperti malam-malam yang lain, telepon genggam itu tergeletak rapi di sisi kiri keyboard-nya. Hampir setiap sepuluh menit ia melirik ke telepon genggamnya itu sambil berharap ada SMS masuk atau telepon tak terjawab. Padahal ia tahu, SMS atau telepon masuk bisa diketahui dari deritnya yang cukup nyaring. Tapi itulah, tetap saja setiap sepuluh menit matanya melirik ke layar telepon genggam berwarna hitam itu sambil mengharapkan ada SMS atau telepon yang tak terjawab. Dan pekerjaannya jadi sering molor. Belum lagi ditambah dengan tidur-tidur ayam di bangku kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin larut malam, ia selalu saja semakin gugup. Bukan karena pekerjaan yang semakin menuntut, tapi karena semakin mengharapkan telepon genggamnya berderit menerima SMS atau telepon entah dari siapa. Ia berharap ada wanita entah dari mana yang tersesat mengirimkan SMS ke telepon genggamnya. Atau seorang wanita yang salah sambung mencari suami atau pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat istirahat, ia kadang membuka daftar nama-nama di dalam file telepon genggamnya. Setiap pada nama perempuan, ia berhenti sebentar sambil memikirkan perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak nama perempuan di dalam telepon genggamnya, sebagian besar didapatnya dari kenalan di chatting sehabis kerja dan itu biasanya di atas pukul 02.00. Kadang, habis chatting ia juga nelepon wanita itu. Ada yang di Singapura, Medan, Bandung, Jakarta, atau di Banjarmasin sendiri. Tapi untuk di Banjarmasin ia sangat jarang. Ia lebih menyukai kenalan dengan wanita yang jauh, kalau perlu di luar negeri. Bahasa Inggrisnya juga lumayan jago. Ia ngobrol ngalor ngidul, kebanyakan ia bercerita tentang dirinya sendiri. Tentang pekerjaannya, tentang temannya, tentang keluarganya, tentang perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya, atau cuma tentang kesepian malam-malamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memang cukup pandai ngobrol. Lawan bicaranya selalu dibikin betah dengan bicara dan candanya. Terlebih lagi bila ia bicara tentang bagaimana wanita yang harus menjadi calon istrinya. Dan biasanya, wanita memang suka bila membicarakan sesamanya, dan mungkin karena itu pula setiap wanita yang diteleponnya betah saja mendengar ocehannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I can't help myself&lt;br /&gt;I've got to see you again&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat lagu Norah Jones, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I've Got to See You Again&lt;/span&gt; di side B itu mengalun, jam sudah pukul dua belas malam. Pekerjaannya masih belum selesai. Ia juga semakin gelisah memandang setiap sepuluh menit telepon genggamnya yang tak juga berderit. Seorang perempuan yang diharapkannya SMS atau menelepon, tak jua terkabul. Telepon mungil itu masih tergeletak rapi di sisi keyboard komputernya, seperti batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam-malam yang lewat, di saat ia sangat mengharapkan ada SMS atau telepon dari wanita yang diharapkannya, atau wanita mana saja dari belahan dunia ini, ternyata yang SMS adalah teman kantornya sendiri yang menanyakan tentang pekerjaan. Padahal di hati ia sudah bersorak gembira ketika telepon genggamnya berderit. Dan saking kesalnya, SMS-SMS yang tak diharapkan itu sengaja tak dibalasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lebih sering membayangkan SMS itu dari wanita yang mengajaknya kenalan, atau malah kencan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, sedang ngapain? Aku lagi kesepian nih, datang dong ke Motel B, kamar 243.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum sendiri merangkai isi SMS itu yang diharapkannya masuk ke dalam telepon genggamnya. Dan setiap membayangkan itu, ia pun melirik lagi ke telepon genggamnya yang masih saja membatu. Kadang ia elus-elus telepon genggamnya, atau malah didekap, dan sedetik itu ia kembali berharap ada SMS masuk atau telepon sehingga dia bisa merasakan getaran telepon genggamnya itu. Namun, khayalan-khayalan itu seringkali gagal. Dan telepon genggamnya kembali tergeletak diam seperti biasa di samping kiri keyboard-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pacarnya ada kala menelepon. Tapi itu dianggapnya berbeda bila SMS atau suara di seberang sana adalah dari kerongkongan perempuan yang tak dikenalnya. Atau dikenalnya tapi ia belum pernah bertemu secara tatap mata. Ia memang sering terobsesi juga dengan suara-suara perempuan di dalam telepon. Menurutnya, suara perempuan itu lebih indah didengar dengan tanpa harus bertatapan langsung dengan si pemilik suara. Sebab itu pula mengapa ia gemar menelepon teman-teman perempuannya yang kenal lewat chatting semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu, teleponnya jarang juga dihubungi oleh rekan kerjanya. Kendati begitu, kemana-mana telepon genggam itu selalu dibawa-bawa, sekalipun ke dalam WC. Saat di WC ini khayalannya semakin liar lagi. Keseringan ia sambil menelepon wanita, atau setidaknya berharap ada telepon dari wanita entah siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir pukul dua dini hari. Kegelisahannya terus memuncak. Tampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kali ini ia terlihat semakin suntuk meski pekerjaan sudah rampung. Ia putar kencang-kencang lagu Metallica terbaru, St. Anger, lewat tape sambil menggebuk-gebuk mejanya sendiri dengan mata yang tetap tak pernah lepas dari telepon genggamnya yang masih saja terbujur kaku. Ia terus berharap ada perempuan entah dari mana saja yang tiba-tiba mengirimkan SMS atau telepon salah sambung. Ia ingin menggodanya dan bahkan kalau perlu mengajaknya kencan. Ketika telepon genggamnya hanya diam membatu, ia semakin kesal dan marah. Gebukan tangannya semakin keras sampai lagu berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampak menyandar lelah di kursinya. Matanya masih terpaku pada telepon genggamnya yang kali ini menampilkan wujud aslinya sebagai benda mati. Tergeletak kaku tanpa berderit sekali pun jua. Sebentar dia rapikan mejanya yang tampak berantakan. Ia bersiap-siap pulang, atau mungkin di jalan nanti bisa saja dia akan berbelok ke bar. Dengan malas diraupnya telepon genggamnya sambil bangkit dari kursi menuju keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menutup pintu ruang kerja, ia terpaku sejenak. Lantas menimang-nimang telepon genggamnya, tampak ada kebimbangan. Sejenak seulas senyum tersungging di bibir tebalnya, dan sedetik kemudian dicemplungkannya telepon genggamnya ke dalam akuarium yang tergelak di samping pintu. Senyumnya kini semakin mekar. Sambil bersiul, ia melenggang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bipp… Bipp….Bipp…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Banjarmasin, Oktober 2003&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6486303409299820301?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6486303409299820301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6486303409299820301' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6486303409299820301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6486303409299820301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/09/menunggu-hp-berderit.html' title='Menunggu HP Berderit'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6398224145214693722</id><published>2008-09-01T16:53:00.000+07:00</published><updated>2008-09-01T16:54:57.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Perlukah Kita (Menjadi) Seorang Sastrawan?</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Deddy Setiawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA cukup tergelitik dengan diskusi tertulis dalam tiga minggu terakhir ini. Bermula dari pertanyaan Udo Z Karzi tentang keberadaan sastrawan (dari) Kalimantan Tengah yang disambut Kepala Balai Bahasa Kalteng Puji Santosa dengan sejumlah catatan tentang jejak kehadiran sastrawan di bumi Tambun Bungai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diskusi ini rupanya berlanjut dengan tulisan ketiga dari Willy Ediyanto yang masih menyodorkan kegelisahan soal kelahiran seorang sastrawan Kalteng sepanjang 40 tahun terakhir dengan nada mempertanyakan, jika tidak disebut gugatan sebagai seorang pendidik. Dan mumpung diskusi ini masih hangat, izinkan saya untuk ikut terlibat.  Permisi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba mengambil benang merah dari ketiga tulisan sebelumnya. Semuanya lahir dari sebuah kegelisahan yang sama akan sosok sastrawan di bumi Kalimantan Tengah. Ketiganya – sepertinya – mengerucut pada konsep sastra tulisan. Sebuah pandangan yang tidak bisa disebut keliru karena memang media teks memang telah dan masih menjadi sarana efektif mengomunikasikan gagasan karena kemampuan merekam yang lebih lama dan jangkauan yang lebih luas dibanding media lain sejak Guttenberg menemukan mesin cetak. Bahkan ketika menulis di blog atau mengelola sebuah website sastra menjadi ikon sastra era digital, tetap saja tidak bergeser dari fungsi teks sebagai penyampai pesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja sepertinya kita melupakan keberadaan sastra tutur (sastra lisan) yang justru menjadi kekayaan terbesar kesusastraan kita, terutama di Kalimantan. Sehingga, kalau ingin bertanya adakah sastrawan Kalteng hari ini – menurut saya – tentu ada. Kecuali kalau kita bermaksud membedakan antara sastra lisan dengan sastra tulisan. Tapi pembahasan soal sastra lisan dan tulisan tersebut terlalu akademis bagi saya yang awam. Ada yang jauh lebih berkompeten untuk menjelaskan kepada pembaca – terutama kepada saya – mengenai sastra lisan dan tulisan tadi. Dan ada baiknya kita persempit wilayah diskusi hanya seputar sastra tulisan saja saat ini. Setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya terima kasih untuk Pak Puji yang menempatkan saya dalam kategori sastrawan Kalteng. Tapi sungguh, sekalipun sempat menghadiri Pertemuan Sasterawan Nusantara XI di Brunei Darussalam tahun 2001 silam, dan puisi atau cerpen saya sempat beberapa kali dimuat satu buku dengan nama-nama seperti Helvy Tiana Rosa, Isbedy Setiawan ZS, Asma Nadia, Joni Ariadinata, Hamid Jabbar atau Ikranegara yang tidak asing lagi di jagat sastra tanah air saya masih ”risih” dengan sebutan sastrawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saya lebih senang dengan istilah penulis atau pekerja teks saja. Ada tanggung jawab yang terlalu besar untuk menyandang gelar sebagai manusia yang ber su – sastra. Apalagi disebut sastrawan Kalteng. Ada rasa malu karena memang belum memberikan yang terbaik untuk daerah sendiri. Saya memang dilahirkan di Sukamara dan sejak 2003 yang lalu pulang ke kampung halaman setelah selama 25 tahun menetap dan menjadi warga Kalimantan Barat. Di sanalah sebagian besar karya saya selama ini lahir. Sementara di sini ... hmm ..., doakan saja ya ...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penulis itu sebuah “kutukan”. Itu yang saya pahami selama ini. Seperti kutukan yang melekat pada Peter Parker ketika seekor laba-laba yang terkena radiasi radio aktif menyengat dirinya, sehingga melahirkan kekuatan super. Yang memaksanya menyembunyikan identitasnya dalam topeng Spiderman dan tak kunjung berani melamar Mary Jane Watson disebabkan tingginya resiko yang harus ditanggung orang-orang yang dicintainya karena menyadari dalam kekuatan yang besar ada tanggung jawab yang besar pula  ... with the great power, comes great responsibility!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu meski sejak kecil kita bisa menulis, cuma sedikit yang bercita-cita menjadi seorang penulis dan terus mengembangkan kemampuan menulis. Maka, lengkap sudah kesepian dunia menulis karena selain bersifat individual – tidak ada proses kreatif yang berlangsung massal – peminatnya memang tidak bisa disebut banyak. Karena itu, Bang Willy, jangan heran kalau selama 40 tahun terakhir menurut pantauan Pian tidak ada sastrawan (penulis yang tercatat di dokumentasi sastra) yang lahir di Kalteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati kehamilan alaminya tidak bisa dipaksakan, saya percaya dengan rumus 10 : 40 : 50. Faktor bakat  itu hanya 10% saja pada kelahiran seorang penulis, 40 persennya adalah lingkungan, selebihnya kerja keras yang ditopang kemauan. Jadi jika kita memang merindukan lahirnya sastrawan dari bumi Kalimantan Tengah, mari kita ciptakan lingkungan subur untuk mempersiapkan kelahiran ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu saya mendukung resolusi Pak Puji untuk menghidupkan ruang sastra di media massa lokal sebagai tempat belajar dan mematangkan diri bagi para penulis. Kekhawatiran Bang Willy kalau tidak ada yang mengisi halaman yang tersedia tersebut mengingat produktifitas penulis untuk hamil dan melahirkan karya masih terbatas sebenarnya dapat saya fahami. Akan tetapi ruang sastra di media massa lokal, dengan asupan tetap cerpen-cerpen dari 'luar' seperti yang selama ini terjadi mungkin dapat menjadi solusi agar tidak terjadi kekosongan. Asal jangan menutup keran untuk penulis daerah, keberadaan cerpen ”impor” ini cukup sebagai pembanding yang baik. Untuk memperkaya wawasan baik juga rasanya sesekali memuat cerpen atau puisi terjemahan para penulis dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa (baca; koran) tentu saja hanya salah satu dari ruang yang saya maksud. Di era digital seperti sekarang ini ketika internet menjangkau semua pelosok – kalau program telkomnet masuk desa dapat berjalan dengan baik – dunia maya cukup menjanjikan sebagai sarana belajar yang baik. Begitu juga blog penulis. Tanpa ingin terjebak dikotomi sastra cyber maupun sastra koran bertahun-tahun lamanya saya (dengan nama pena Ibnu HS) dan teman-teman bertukar cerpen mapun puisi di milis penyair dan saling mengkritisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan yang dulu dianggap sebagai keranjang sampah sastra koran ini ternyata menawarkan banyak kemungkin lain. Tidak sedikit cerpen atau puisi saya yang lahir dan mengisi ruang maya kemudian bermetamorfose menjadi teks cetak. Wajah Dalam Cermin, satu-satunya cerpen saya yang pernah dikirim ke media massa dan dimuat di Republika, juga lahir di sana. Ah, maaf kalau paragraf ini ditutup serentetan kalimat berbau narsis ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tentu saja langkah Bang Willy meningkatkan apresiasi sastra di kalangan siswa dan mengasah 4 keterampilan dasar berbahasa (membaca, menyimak, menulis, dan berbicara) juga penting. Sayangnya, apresiasi di kalangan para guru juga harus diakui sangat minim. Kebanyakan yang diajarkan di bangku sekolah – tidak semua – berputar pada teori seperti S-P-O-K, homonim, homofon, atau homo-homo lain dan bukan pada 4 keterampilan dasar tadi. Padahal kurikulum yang diterapkan sekarang mengacu kepada 4 keterampilan dasar tadi. Akibatnya bukan hanya rendahnya apresiasi sastra di kalangan siswa, sekitar 60% siswa yang tidak lulus Ujian Nasional ternyata karena nilai Bahasa Indonesia yang tidak memenuli standar nilai kelulusan. Kalau soal ini, Pak Puji yang lebih fasih daripada saya ... Perpustakaan memang masih menjadi kendala. Tapi diam pun tidak menyelesaikan masalah. Secara individu maupun bersama kita bisa merintis rumah baca di lingkungan sekitar kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir – eh, saya rasa bukan – kalau kita ingin karya penulis daerah ini dibaca oleh uluh itah, kendala terbesar yang harus didobrak adalah tidak adanya penerbit daerah dan jaringan toko buku yang sampai ke pelosok. Tanpa hal ini, keinginan tadi – yang nyaris menjadi obsesi – niscaya hanya akan bermua pada sebuah mimpi. Sampai di sini, perbincangan sudah harus melibatkan banyak pihak yang memiliki stamina lebih maksimal untuk membahas dan mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya yang terpenting bagi para penulis adalah terus menerus hamil dan melahirkan karya-karya terbaik dan tetap saling berkomunikasi. Mau dicatat sebagai sastrawan atau bukan, menurut saya sama sekali bukan permasalahan. Banyak penulis bermutu yang nama dan karyanya luput masuk catatan sebagai Angkatan 2000 sastra Indonesia, atau kitab sastra Horison.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kemudian itu menjadi permasalahan bagi mereka? Tidak. Permasalahan kita adalah kalau kita berhenti berkarya dan sibuk mengejar identitas semata. Mengejar kulit, meninggalkan isi. Ah, saya malu kepada orang tua kita yang sampai hari ini tetap setia menembangkan karungut dan berbagai corak sastra lisan lainnya sambil tetap mengajarkannya kepada kita tanpa peduli dengan gelar sebagai sastrawan. Padahal, merekalah sastrawan Kalimantan Tengah yang sesungguhnya ..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Deddy Setiawan&lt;/span&gt;, Pecinta buku dan penulis, lahir dan tinggal di Sukamara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Senin, 1 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6398224145214693722?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6398224145214693722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6398224145214693722' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6398224145214693722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6398224145214693722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/09/perlukah-kita-menjadi-seorang-sastrawan.html' title='Perlukah Kita (Menjadi) Seorang Sastrawan?'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-264593079906107851</id><published>2008-08-25T18:02:00.001+07:00</published><updated>2008-08-25T18:03:56.399+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Masih Mencari, Adakah Sastra(wan) Kalteng</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Willy Ediyanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENARIK sekali perdebatan antara Udo Z. Karzi dengan Puji Santosa yang dimuat di harian ini selama bulan Agustus tahun 2008. Menarik bagi penulis karena penulis bekerja sebagai seorang guru yang berijazah dan mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia. Menarik karena penulis ikut membidani Komunitas Awan Senja di Kumai, Kotawaringin Barat. Menarik juga karena penulis pernah menanyakan sebuah lomba penulisan sastra akan tetapi tidak diketahui siapa dan di mana panitianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia sastra, penulis berkarya dalam bentuk seni sastra namun tidak mempublikasikannya secara umum. Penulis lebih suka mempublikasikannya melalui blog yang penulis miliki. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa penulis melakukan hal semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terbitnya surat kabar ini, kesulitan penulis untuk mengikuti surat kabar yang ada di Kalimantan Tengah telah menjadi salah satu alasannya. Biasanya surat kabar baru sampai ke tangan penulis keesokan harinya. Itu pun tidak ada agen surat kabar yang mau melayani untuk berlangganan dan mengantarnya sampai ke tempat tinggal penulis. Di samping itu, redaksi surat kabar di Kalteng umumnya tidak mengirimkan bukti pemuatan untuk penulis-penulis yang tidak terjangkau pelayanan berlangganan. Itu pula yang menyebabkan penulis lebih asyik menulis di blog dan di surat kabar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udo Z. Karzi menurut hemat penulis lebih menyorot pada keberadaan sastrawan pada saat ini, pada tahun 2008. Sementara itu, Puji Santosa membeberkan keberadaan penulis yang sudah tidak ada. Puji Santosa menelusuri jejak sastrawan Kalteng dengan menyodorkan nama Fridolin Ukur, HABSU, dan J.J. Kusni yang sudah meninggal atau sudah tidak berada di Kalimantan Tengah. Itu bagus sebagai sebuah dokumentasi. Masalah yang ingin penulis soroti adalah sastrawan yang berada di sini dan pada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, dalam tulisannya, Puji Santoso tidak menyebutkan siapa saja sastrawan yang tergabung dalam Ikatan Sastrawan Sastra Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah yang disertakan dalam Dialog Borneo-Kalimantan yang ikut serta mengumpulkan karyanya. Selain itu hanya disodori beberapa kegiatan yang diadakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Tengah. Sementara itu kegiatan sastra seperti kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya yang dimotori oleh Taufik Ismail tidak terdokumentasikan. Begitu pula kegiatan apresiasi sastra di luar Palangkaraya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengetahuan penulis, kegiatan berkesenian biasanya tumbuh di lingkungan kampus atau sekolah yang dimotori oleh mahasiswa dan guru. Tidak selalu kampus yang memiliki fakultas sastra, karena fakultas sastra lebih banyak menyibukkan diri dalam teori, aliran, dan sejarah sastra, dan bukan pada proses kreatif. Artinya fakultas sastra bukanlah tempat untuk melahirkan sastrawan. Seorang sarjana sastra belum tentu seorang sastrawan. Bahkan harus diakui bahwa lebih banyak sastrawan yang tidak sarjana dan bukan sarjana sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan penulis ketika masih kuliah dulu, cukup banyak yang berasal dari fakultas dakwah dan fakultas tarbiah yang memanfaatkan sastra dan bergelut dalam bidang sastra. Di samping itu masih lebih banyak lagi yang berasal dari fakultas-fakultas lain atau bahkan yang drop out. Akan tetapi, penulis tidak melihat sastrawan yang muncul dari perguruan tinggi di Kalimantan Tengah. Tidak pula penulis temukan volunter yang mau menyibukkan diri dalam pengembangan sastra, atau paling tidak dalam kepenulisan seperti yang terjadi di kota-kota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sesama satu tanah, Kalimantan Selatan jauh meninggalkan adik kandungnya, Kalimantan Tengah. Kehidupan sastra dan kepenulisan di daerah ini berkembang karena adanya volunter yang menyerahkan waktunya untuk sastra dan kepenulisan. Dalam beberapa tulisan, penulis menyodorkan nama Ersis Warmansyah Abbas, seorang dosen yang kebetulan pula berasal dari tanah Sumatra. Baginya, belajar menulis adalah dengan menuliskannya. Ersis bahkan menyediakan rumahnya, beberapa komputer, dan jaringan internet untuk dimanfaatkan penulis-penulis muda. Silakan kunjungi blognya, kita akan menemukan karya penulis-penulis pemula yang baru berkarya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan Udo Z. Karzi mungkin bisa dijadikan satu contoh. Sastrawan yang berasal dari Lampung yang belum lama ini mendapatkan penghargaan nasional atas puisi-puisi berbahasa daerahnya ini lahir dari kegelisahan seorang sarjana ilmu politik. Jalur yang tidak ada sangkut pautnya dengan sastra, telah nyata mampu melahirkan seorang sastrawan dengan penghargaan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kampus, kehidupan sastra bisa pula berkembang dengan adanya komunitas-komunitas sastra. Kumpulan anak-anak muda yang dimotori oleh beberapa orang penulis atau sastrawan yang sering berkumpul dan mendiskusikan karya sastra atau jenis tulisan yang lain. Pada kesempatan yang lain mereka memamerkan tulisannya, atau membacakan karyanya. Bisa juga dengan mengadakan pertunjukan pembacaan atau penampilan karya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang perlu jalan panjang untuk menghidupkan sastra dan untuk melahirkan sastrawan. Di lingkungan pendidikan pun, tidak banyak guru yang sempat atau tahu mengajarkan bagaimana cara mengirimkan tulisan ke sebuah surat kabar atau majalah. Masalah teknis bagaimana mengirimkan karya sastra ke surat kabar atau ke majalah dan bagaimana mengecek karyanya dimuat atau tidak memerlukan jaringan. Tidak semua orang mampu mengikuti berbagai surat kabar atau majalah yang beredar di Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kemiskinan, menurut hemat penulis, tidak ada sangkut pautnya dengan kreativitas. Banyak orang miskin yang kreatif di samping orang miskin yang tidak kreatif. Begitu pula banyak orang kaya yang tidak kreatif di samping orang kaya yang kreatif. Sastra lebih banyak lahir dari adanya waktu luang atau kesempatan. Lingkungan tentu saja sangat berpengaruh dalam hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya waktu luang yang banyak merupakan salah satu peluang untuk lahirnya berbagai kegiatan kesenian termasuk sastra. Kesibukan bekerja menghilangkan waktu luang. Akan tetapi, waktu luang yang tidak dimanfaatkan akan menyebabkan orang membuang-buang waktu dengan kegiatan yang tidak berguna. Selanjutnya tinggal bagaimana orang memanfaatkan waktu luang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa dan pelajar adalah kelompok yang memiliki waktu luang paling banyak. Hanya saja sering kali lingkungan tidak memberi kesempatan mereka untuk mengembangkan potensinya dalam bidang kepenulisan. Keluar masuknya orang dalam dunia sastra demikian cepat secepat perubahan waktu. Anggota komunitas sastra di mana pun mengalami perputaran yang cepat. Waktu pula yang menyeleksi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya di Kalteng, adakah komunitas sastra yang sedang hamil sastrawan atau bahkan sudah melahirkan sastrawan? Karena yang terdokumentasikan oleh Puji Santosa adalah sastrawan angkatan 66 yang diorbitkan oleh H.B. Jassin. Apakah dalam waktu 40 tahun tidak lahir seorang pun sastrawan di Kalimantan Tengah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan Puji Santosa agar media massa membuka ruangan seni budaya itu bagus. Masalahnya adalah adakah yang menjadi penulisnya? Siapa yang akan mengisi ruang seni budaya itu? Apakah kita akan berharap kepada tiga orang sastrawan yang sudah disebutkan oleh Puji Santosa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis sebagai seorang guru sastra, selalu mengalami kesulitan jika ingin memberikan contoh-contoh karya sastra penulis Kalimantan. Koleksi di perpustakaan sekolah tidak memasukkan karya-karya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Willy Ediyanto, Praktisi Pendidikan (http://willyedi.wordpress.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Senin, 25 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-264593079906107851?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/264593079906107851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=264593079906107851' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/264593079906107851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/264593079906107851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/08/masih-mencari-adakah-sastrawan-kalteng.html' title='Masih Mencari, Adakah Sastra(wan) Kalteng'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-4399347953093289759</id><published>2008-08-18T23:56:00.003+07:00</published><updated>2008-08-25T18:05:04.882+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Sastrawan Kalteng dalam Peta Sastra Nasional</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puji Santosa&lt;/span&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA hari yang lalu, akhir bulan Juli 2008, saya membaca sepintas tulisan Saudara Udo Z. Karzi di internet. Awalnya saya membuka blog yang ditulis Udo dengan bahasa daerah, dan saya kurang paham dengan bahasa daerah apa. Hal itu tidak saya hiraukan karena saya kurang paham dan tidak mengerti makna bahasa daerah itu. Lalu, awal bulan Agustus 2008 saya membaca lagi tulisan Saudara Udo yang bertajuk “Dicari Sastra(wan) Kalteng” lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cabiklunik.blogspot.com&lt;/span&gt; yang bersumber dari surat kabar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Senin, 4 Agustus 2008, lalu timbul hasrat saya untuk sedikit memberi informasi tentang keberadaan sastrawan Kalteng dalam peta sastra nasional kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika temu sastra Majelis Sastera Asia Tenggara di Palangkaraya, Senin, 14 Juli 2008, yang lalu saya mengatakan kepada media bahwa “aktivitas sastra di Kalimantan Tengah sepi”. Hal ini apabila dibandingkan dengan provinsi tetangga sesama Kalimantan, yaitu Kalimantan Selatan atau Kalimantan Timur. Sastrawan Kalimantan Tengah yang hingga kini telah mengorbit secara nasional hanya ada tiga, yaitu Fridolin Ukur (asal Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur), Haji Ahmad Badar Sulaiman Usin, lebih dikenal dengan nama HABSU (asal Pulang Pisau), dan J.J. Kusni (asal Kasongan, Kabupaten Katingan). Apa dan siapa ketiga tokoh sastrawan Kalteng tersebut, silakan membuka laman Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, dengan alamat: www.balaibahasaprovinsikalteng.org, lalu klik Tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua dari tiga sastrawan asal Kalteng itu kini telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, yaitu Fridolin Ukur dan HABSU. Sementara J.J. Kusni yang juga memiliki nama samaran K. Sulang, telah lama meninggalkan Indonesia dan kini bermukim di Perancis. Mereka bertiga muncul dan diorbitkan oleh H.B. Jassin sebagai Angkatan 66. Tentu karya-karya mereka dapat ditemukan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Selain ada di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, karya-karya mereka juga dapat ditemukan di dokumentasi sastra Korrie Layun Rampan, di Bekasi, dan dokumentasi ini akan dipindahkan oleh Korrie ke Samarindra, Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika E.U. Kratz dari School of Oriental and African Studies (SOAS) London meregistrasi karya-karya sastra Indonesia yang terdapat di majalah dan surat kabar, yang kemudian diterbitkan dalam buku A Bibliography of Modern Indonesian Literature in Journals (1988), hanya tercantum dua nama dari Kalimantan Tengah, yaitu Edmond Sawong dan K.Sulang (nama samaran J.J. Kusni). Hal ini kita maklumi bahwa yang dicatat oleh Kratz terbatas pada majalah yang sampai ke London atau terbatas yang ada di PDS H.B. Jassin sampai tahun 1970-an. Padahal, apabila kita telusuri ke surat kabar nasional atau lokal hingga tahun 2000-an, tentu banyak nama para sastrawan Kalimantan Tengah yang ada, separti Abdul Fatah Nahan, Kurnia Untel (Buntok, Muara Teweh), Alimul Huda, Dafi Fadjar Rahardjo, Elsy Suarni, Suyitno BT, Sandi Firly (Kuala Pembuang, Seruyan), Dedy Setiawan (Sukamara), Agung Catur, Luthfi, Makmur Anwar, Supardi, Pahit S. Narratoma, Lukman Hakim Siregar, dan Bajik Rubuh Simpei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengangkat sastra(wan) Kalimantan Tengah mengorbit ke pentas sastra nasional akhir-akhir ini Korrie Layun Rampan menawarkan partisipasi Kalteng ikut dalam Dialog Borneo-Kalimantan 2009 di Samarindra, Kalimantan Timur. Ajakan ini disambut baik oleh teman-teman sastrawan Kalimantan Tengah yang tergabung dalam Ikatan Sastawan Sastra Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah untuk mengikuti kegiatan itu dengan cara mengumpulkan cerpen, puisi, fragmen novel, esai, dan kritik sastra ke alamat Korrie Layun Rampan, Pemimpin Redaktur Koran Sentawar Pos, Karang Rejo RT III Kampung Sendawar 75576, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada akhir-akhir ini untuk menyemarakkan Tahun Bahasa 2008, juga melakukan kegiatan pemasyarakatan apresiasi sastra agar Kalteng dikenal secara nasional maupun mendunia, seperti Dialog Sastra dengan Sastrawan Danarto (Kapuas dan Palangkaraya, Maret 2008), Temu Sastra Majelis Sastera Asia Tenggara bersama sastrawan Hamsad Rangkuti (Palangkaraya, Juli 2008), Bedah Buku Kumpulan Cerpen karya Sandi Firly (Palangkaraya, Mei 2008), Seminar Apresiasi Sastra (Palangkaraya, Februari dan April 2008), Bengkel Penulisan Cerpen (Tamiang Layang dan Buntok, April dan Mei 2008), Bengkel Musikalisasi Puisi (Sampit dan Buntok, Mei dan Juli 2008), Siaran Tebaran Sastra di RRI Palangkaraya yang diasuh oleh Makmur Anwar setiap Minggu malam, Lomba Baca Puisi Guru SD se-Kalteng (Palangkaraya, Agustus 2008), Lomba Musikalisasi Puisi Siswa SLTA se-Kalteng (Palangkaraya, Agustus 2008) pemenang pertama dikirim ke tingkat nasional di Jakarta (Oktober 2008), Sayembara Cipta Cerpen Remaja Tingkat Kalimantan Tengah 2008 (sepuluh nominasi diikutsertakan ke tingkat Nasional di Jakarta), Sayembara Cerita Rakyat Kalimantan Tengah 2008, dan penulisan Ensiklopedia Sastra Indonesia dan Daerah di Kalimantan Tengah yang akan diterbitkan bersamaan dengan Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta pada Oktober 2008, serta penghargaan Tokoh Sastra 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepinya aktivitas sastra di Kalimantan Tengah ada berbagai penyebab, antara lain, media massa lokal tidak memberi tempat untuk memublikasikan karya-karya mereka. Para pengusaha media massa lokal menganggap sastra tidak bernilai ekonomis, lebih baik memuat iklan, pengumuman lelang, berita kegiatan para pejabat yang sering memberi donatur pada mereka, dan kegiatan pariwara yang lain agar pengusaha media massa memperoleh keuntungan secara ekonomis. Kami tidak sampai berpikiran tentang kaya miskin, materialistis, penduduk Kalteng seperti pikiran Udo Z. Karzi dalam tulisannya di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada hubungannya permintaan kami agar media massa berkenan membuka rubrik seni budaya dan sastra di media massa dengan kehidupan masyarakat miskin di Kalimantan Tengah. Oleh karena itu, saya mengharapkan agar media massa, cetak maupun elektronik, lokal dan nasional, sudi kiranya membuka ruangan seni budaya, khususnya sastra(wan) Kalteng dalam satu minggu sekali. Ini semata-mata untuk memajukan peradaban bangsa, mempertinggi budi pekerti bangsa agar lebih bermartabat, dan tetap bersatu dalam pertahanan budaya dan nilai-nilai luhur budaya bangsa, serta Kalimantan Tengah dikenal secara nasional dan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puji Santosa&lt;/span&gt;, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Senin, 18 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-4399347953093289759?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/4399347953093289759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=4399347953093289759' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4399347953093289759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4399347953093289759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/08/sastrawan-kalteng-dalam-peta-sastra.html' title='Sastrawan Kalteng dalam Peta Sastra Nasional'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-5776429674880150367</id><published>2008-08-17T23:14:00.002+07:00</published><updated>2008-08-17T23:18:47.404+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar'/><title type='text'>Sastra di Kalteng Sulit Berkembang</title><content type='html'>PALANGKARAYA (Borneo): Apresiasi masyarakat yang rendah terhadap sastra di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyebabkan daerah ini sangat minim menghasilkan sastrawan dan karya sastra bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalteng baru memiliki tiga sastrawan yang telah dikenal publik. Hal ini karena karya sastra memang kurang begitu diminati warga," kata Kepala Balai Bahasa Kalteng Puji Santosa di Palangkaraya, Sabtu (19/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya minat warga terhadap karya sastra didasari pemikiran bahwa karya sastra tidak mampu menghasilkan nilai ekonomi yang dibutuhkan warga sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya warga Kalteng yang hidup miskin di berbagai daerah pedalaman menyebabkan sastra sulit berkembang di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Bahasa sendiri, kata Puji, telah berupaya mengggairahkan dunia sastra setempat meski sampai saat ini tanggapannya belum sebaik yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergelaran sayembara penulisan cerita pendek (cerpen) dan kegiatan sastra lain, sangat minim diikuti peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sayembara penulisan cerpen misalnya, hanya diikuti 28 peserta dan sayembara penulisan cerita rakyat yang hanya diikuti dua peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji menilai, perkembangan karya sastra di Kalteng juga kurang mendapat dukungan dari media massa selaku media publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Media massa seharusnya ikut bertanggungjawab melestarikan sastra dengan menyediakan ruang khusus atau kolom sastra. Saat ini baru beberapa media saja yang telah memberikan apresiasi untuk ini," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Hamsad Rangkuti, sastrawan asal Medan yang turut hadir di Palangkaraya dalam kegiatan Temu Sastra se-Kalteng mengakui banyak hambatan dalam mengembangkan karya sastra di daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang publik yang terbatas untuk memuat hasil karya sastra seperti puisi dan cerpen di media massa, dinilainya cukup berpengaruh terhadap perkembangan dunia sastra seperti di Kalteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Media massa harus memberi apresiasi yang cukup untuk sastrawan dan karyanya. Agar bisa berkembang di daerah, karya sastra lebih baik disesuaikan dengan kondisi lokal masyarakat," tambah sastrawan penerima sejumlah penghargaan nasional itu. (Ant/B-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Senin, 21 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga: &lt;a href="http://kantongsastra.blogspot.com/2008/08/dicari-sastrawan-kalteng.html"&gt;Dicari: Sastra(wan) Kalteng!&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-5776429674880150367?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/5776429674880150367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=5776429674880150367' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/5776429674880150367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/5776429674880150367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/08/seni-sastra-di-kalteng-sulit-berkembang.html' title='Sastra di Kalteng Sulit Berkembang'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7266562710014035605</id><published>2008-08-04T22:46:00.001+07:00</published><updated>2008-08-17T23:21:57.442+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Dicari: Sastra(wan) Kalteng!</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Udo Z. Karzi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUDAH lama memang saya bertanya-tanya, adakah sastrawan di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Teman-teman bilang ada. Namun, siapa, tidak ada yang bisa menyebutkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama saja ketika Temu Sastra se-Kalteng, 18 Juli 2008 lalu, Kepala Kantor Bahasa Kalteng Puji Santoso menyebutkan Kalteng baru memiliki tiga sastrawan yang dikenal publik. Lagi-lagi saya tidak menemukan nama.&lt;br /&gt;Menurut Puji Santoso, apresiasi masyarakat yang rendah terhadap sastra di Kalteng menyebabkan daerah ini sangat minim menghasilkan sastrawan dan karya sastra bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga kurang meminati karya sastra. Alasannya, karya sastra tidak mampu menghasilkan nilai ekonomi yang dibutuhkan warga sehari-hari. Sebagian besar warga Kalteng yang hidup masih miskin dan tersebar di berbagai daerah pedalaman, menyebabkan sastra sulit berkembang di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang salah? Kepala Kantor Bahasa Kalteng menuding media massa kurang mendukung perkembangan sastra di Kalteng. "Media massa seharusnya ikut bertanggung jawab melestarikan sastra&lt;br /&gt;dengan menyediakan ruang khusus atau kolom sastra. Saat ini baru beberapa media saja yang telah memberikan apresiasi untuk ini," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, argumen yang terlalu materialistik. Saya sungguh heran jika persoalan sastra terkait dengan persoalan kaya-miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat kantong-kantong sastra di tanah air: Medan, Sumatera Barat, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Lampung untuk menyebutkan beberapa tempat. Saya kira bukan persoalan tempat-tempat itu penduduknya sudah makmur-makmur, sehingga mereka dapat membuat karya sastra dan mencetak sastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa harus bertanya kepada Biro Pusat Statistik, Kalteng toh bukan provinsi yang terlalu miskin dibandingkan dengan, katakanlah Provinsi Lampung yang masih menjadi provinsi termiskin kedua di Sumatera. Tadinya, nomor satu sebelum digeser Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pasca tsunami tahun 26 Desember 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ambil contoh Lampung karena saya tahunya cuma Lampung. Kemiskinan, penganguran, daerah terisolir, dan masalah sosial lain masih mendera provinsi ujung Pulau Sumatra ini. Tapi, sastra memang tidak terkait dengan kaya-miskin, sehingga Lampung dikenal sebagai 'negeri penyair'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sastrawan Djadjat Sudradjat dalam sebuah acara Temu Penyair Lampung sempat mengatakan, di tengah berbagai masalah sosial-ekonomi-politik yang mendera, nama Lampung diselamatkan oleh sastrawan (penyair). Pengamat sastra tanah air mengakui pertumbuhan syair (dan penyair) di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai ini sangat pesat. Saat ini, puluhan penyair tinggal dan pernah tinggal di provinsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimantan sendiri sudah melahirkan beberapa nama sastrawan seperti Odhie's, Yusach Ananda, dan Korrie Layun Rampan. Yang terkini, ada Pay Jarot Sudjarwo dan Hasan Aspahani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga heran, dari nama-nama itu hampir tidak ada (untuk mengatakan memang tidak ada) yang berasal dari Kalteng. Karena kemiskinan? Ah, saya malah berpikir kemiskinan dan juga masalah sosial justru bisa menyuburkan sastra. Bukankah kemiskinan (asal bukan miskin jiwa) justru membuat orang lebih kreatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, perlu 'situasi kondusif' yang memungkinkan lahirnya kreativitas (karya sastra dan sastrawan) untuk kemudian terus-menerus dipupuk agar subur dan berkembang baik. Situasi seperti ini (pesatnya perkembangan sastra) memang tidak lahir begitu saja. Harus ada yang tanpa lelah menjadi lokomotif yang menggerakkan sekaligus menjadi inspirasi.&lt;br /&gt;Media massa sebagai salah satu sarana bisa juga membantu mendorong ke arah itu. Bagaimana pun media juga membutuhkan karya-karya sastra yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, siapa yang mau memulainya. Dan, harus dari mana dimulai. Saya hanya mau pasang pengumuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicari: Sastra(wan) Kalteng!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Udo Z. Karzi&lt;/span&gt;, Seorang penikmat sastra, sementara ini tinggal di Pangkalan Bun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneonews&lt;/span&gt;, Senin, 4 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga: &lt;a href="http://kantongsastra.blogspot.com/2008/08/seni-sastra-di-kalteng-sulit-berkembang.html"&gt;Sastra di Kalteng Sulit Berkembang&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7266562710014035605?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7266562710014035605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7266562710014035605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7266562710014035605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7266562710014035605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/08/dicari-sastrawan-kalteng.html' title='Dicari: Sastra(wan) Kalteng!'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6374938027244287116</id><published>2008-05-07T17:47:00.001+07:00</published><updated>2008-07-08T22:27:00.577+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kiat/tips kepenulisan'/><title type='text'>Menciptakan Komunitas Sastra di Sekolah</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wilson Nadeak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UPAYA memasyarakatkan sastra di sekolah-sekolah dan kampus perguruan tinggi patut dihargai. Kegiatan-kegiatan yang bersifat spontan atau yang bersifat tematis (misalnya memperingati Chairil Anwar, Hari Kartini, dsb) pun merupakan kejadian yang patut ditradisikan. Sementara kehadiran sastrawan di tengah-tengah mnereka dengan membacakan karya-karya mereka sendiri, atau terlibat di dalam diskusi dengan siswa dan mahasiswa, juga patut dibanggakan. Tetapi, jika peristiwa itu hanya berhenti di situ, maka upaya yang demikianlah adalah bagaikan embun di pagi hari atau semacam secangkir air ketika berada di gurun pasir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memerlukan strategi pengajaran apresiasi sastra di halaman-halaman lembaga pendidikan kita. Guru atau pengajar diharapkan mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi penikmatan karya sastra, tidak berhenti pada teori seperti lazimnya di ruang kelas. Tidak berhenti pada tugas PR membuat ringkasan sebuah novel atau penyebutan nama sastrawan dengan judul-judul karya mereka, maka pengetahuan yang demikian tidak melebihi pengetahuan seorang penjaja buku sastra di toko-toko buku atau di ruang-ruang dan situs-situs komputer. Para pengajar memerlukan strategi yang “alamiah” di luar jam-jam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi “alamiah” itu misalnya, dengan memperhatikan siswa atau mahasiswa yang berminat kepada sastra. Mereka itu dicatat di dalam setiap kelas dan kemudian dikumpulkam, diarahkan, dan diberi serba sedikit penjelasan tentang pentingnya komunitas sastra di kampus/sekolah. Jumlah mereka tidak perlu terlalu banyak, berkisar pada 25-50 orang saja. Mereka ini dapat mengatur jadwal pertemuan mereka sendiri, tetapi guru atau pengajar sastra paling sedikit, sekali seminggu barada di tengah-tengah mereka, melontarkan isu-isu kebudayaan atau sastra ke tengah-tengah mereka. Bentuklah kelompok diskusi ini ke dalam sebuah kelompok yang kreatif, menularkan apresiasi mereka kepada yang lain, melalui acara-acara tertentu yang sesuai dengan lingkungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dapat membuat pertemuan untuk membedah buku yang baru di bawah pengamatan guru mereka, atau mengundang pengarangnya untuk membicarakan proses kreatif. Mereka dapat mengadakan baca puisi bersama disertai sedikit pembahasan proses lahirnya sebuah puisi dan unsur-unsur apa yang terdapat pada sebuah puisi. Mungkin di dalam kelompok seperti itulah secara implisit seorang pengajar sastra mengemukakan apa yang dimaksud dengan “rima” “larik” “tone” dan “intention” atau hakikat puisi yang sebenarnya tanpa harus merumuskan prinsip itu ke dalam suatu&lt;br /&gt;kerangka sistematika. Cukuplah dengan menunjukkan contoh puisi yang “indah” karena berirama, memiliki tujuan dan nada yang tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan yang “alamiah” jauh lebih mengesankan ketimbang pengajaran yang kaku dan “baku” di ruang kelas. Pemahaman yang mendalam akan diperoleh melalui jumpa pengarang dan pemerolehan informasi dari “dalam” lubuk hati pencipta hasil karya sastra itu. Di situ pulalah kesempatan bagi pengajar sastra mengungkap sedikit demi sedikit tujuan karya sastra itu diciptakan dan apa maknanya bagi kehidupan batin dan intelektual manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, siswa dan mahasiswa dapat mengemukakan pendapat dengan bebas atau mengajukan pertanyaan tanpa beban, tanpa takut salah atau berbeda dengan pendapat umum pengajar. Ia langsung melibatkan diri ke dalam dunia apresiasi sastra dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan sastrawan ke kampus tidak mempunyai makna yang banyak dan mendalam. Kehadiran mereka yang hanya sekali menimbulkan rasa kagum dan memuaskan pandangan mata mereka dalam peerkenalan yang sekejap, tidak akan meninggalkan kesan apresiasi yang mendalam. Perkenalan fisik memang penting, tetapi lebih penting lagi jika perkenalan itu membuat siswa atau mahasiswa tertarik dan terus mencari dan menikmati karya pengarang yang menimbulkan rasa kagum itu. Adalah lebih baik rasa kagum karena perjumpaan itu dilanjutkan dengan “kagum” yang sebenarnya terhadap karya-karya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya kritis mereka sewaktu-waktu dapat muncul berkat pembacaan yang terus menerus. Seorang siswa atau mahasiswa yang pernah membaca sebuah karya pengarang yang baru dijumpainya, kemudian mencari karyanya yang lain dan menikmatinya, kemudian dapat memberikan timbangan mutu atas karya yang satu dengan yang lain - dalam konteks pengarang yang sama - bila ia mampu mengatakan bahwa karya yang ini lebih menarik dan berbobot daripada karyanya yang anu - itu berarti daya nalarnya sudah mulai berkembang dan daya apresiasinya meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang perlu diperhatikan oleh komunitas sastra seperti ini, bahwa banyak pengarang muda yang masuk ke kampus mereka membacakan sajak-sajaknya dengan cara yang aneh-aneh, bahkan dengan suara hiruk-pikuk segala. Pendengar menjadi bingung. Sayangnya, penikmat pemula ini akan menyangka bahwa begitulah cara pengapresiasian puisi yang baik. Padahal, apresiasi puisi yang baik bukanlah yang demikian, itu hanya sebuah cara pengarang mengekspresikan karyanya! Itu sebuah cara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengajar harus tetap kepada hakikat sastra, menekankan makna penikmatan sebuah karya sastra, dengan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Bagaimana sebuah larik mengandung bobot melalui kata yang bernas dan berirama, padat dan merasuk dalam hati, tanpa tenggelam kepada “teriakan-teriakan” pembacaan di panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pemimpin komunitas sastra di kampus sebaiknya mendalami makna sebuah puisi dan mambacakannya sesuai dengan tekanan yang terdapat di dalam puisi itu sendiri. Sajak-sajak kontemplatif sebaiknya dibacakan di dalam suasana hening, melibatkan pendengar kepada keheningan yang terkuak dari dalamnya. Sajak-sajak “mimbar” yang bertumpu pada suara vokal dapat dinikmati tanpa harus berteriak-teriak, karena teriakan yang kurang tepat justru mengaburkan makna puisi itu sendiri. Padahal kita tahu, bahwa puisi mengandung makna kehidupan yang menginti, yang berbobot dari kehidupan itu ditampilkan dalam irama yang tepat dan mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun enam puluhan dan tujuh puluhan, penikmatan puisi umumnya dilakukan dengan deklamasi, artinya, penikmat menghapal puisi luar kepala dan menampilkannya dari mimbar. Proses penghapalan ini adalah bagian dari peningkatan apresiasi, karena dengan mengulang-ngulanginya, penghapal menyerap intisari dari puisi itu sendiri. Ia melakukan proses penafsiran dan itu diungkapkan di dalam intonasi, ekspresi atau penghayatan yang intens. Sementara gerak hanya sekadar menekankan makna, bukan menghamburkan makna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal seperti itulah yang mungkin dilakukan oleh seorang pengajar sastra untuk meningkatkan apresiasi mereka. Komunitas sastra yang diciptakan di dalam kampus dapat digunakan untuk meningkatkan apresiasi siswa dan mahasiswa lain, dalam lingkungan yang dibatasi pula. Kelompok itu dapat berkumpul atau mengumpulkan massa di luar komunitas itu, sekitar 50 orang dan membentuk lingkaran yang tidak begitu formal dan melakukan kegiatan seperti yang dilakukan di dalam kelompok atau komunitas inti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, komunitas sastra akan terus menerus ditemukan di dalam kampus, dengan tradisi yang dapat diperkaya dari waktu ke waktu. Biarkanlah komunitas itu bertumbuh secara kreatif, tanpa harus diarah arahkan, melainkan dirangsang dengan upaya-upaya yang beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam komunitas inilah pengayaan jumlah buku dapat dilakukan, jika setiap anggota komunitas berpartisipasi menyumbangkan satu buku saja dari pengarang yang berbeda, sehingga dalam sekejap 50 buku berada di tengah-tengah mereka, yang digilir dan diputarkan di antara mereka sekaligus menciptakan suasana saling memiliki. Beberapa bulan berikutnya mereka membeli buku kedua dan akhirnya secara “alamiah” perpustakaan mereka yang hidup tercipta secara “tidak sengaja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Pembaruan&lt;/span&gt;, 24 Januari 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6374938027244287116?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6374938027244287116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6374938027244287116' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6374938027244287116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6374938027244287116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/05/menyiptakan-komunitas-sastra-di-sekolah.html' title='Menciptakan Komunitas Sastra di Sekolah'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6480678870665074765</id><published>2008-04-22T17:13:00.001+07:00</published><updated>2008-04-22T17:15:23.211+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kiat/tips kepenulisan'/><title type='text'>Plagiat, Dosa Penulis yang Tidak Berampun</title><content type='html'>MEMPLAGIAT atau menjiplak tulisan orang lain merupakan dosa tidak berampun buat penulis. Sebab, ketika karya itu diketahui media massa yang memuat karya yang dijiplak, nama penulisnya akan masuk daftar hitam (blacklist).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penulis yang karyanya dijiplak akan merasa tersinggung. Oleh sebab itu, kegiatan culas ini harus dihindari jauh-jauh oleh mereka yang bergiat dalam dunia tulis-menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian benang merah yang disampaikan staf korektor bahasa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt; yang juga seorang penulis opini, Adian Saputra, dalam Diklat Penulisan Opini dan Resensi Buku yang diadakan Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila), di Gedung A3 Fakultas Pertanian kampus setempat, Minggu (20-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis yang karyanya sudah sekitar 350-an dipublikasikan di media massa, utamanya di Lampung Post, sejak 1999 itu, menambahkan kampus merupakan kawah candradimuka untuk mengembangkan keterampilan menulis. Sebab, dari kampus banyak lahir penulis, jurnalis, dan wartawan yang andal. Namun, untuk menjadi penulis, seseorang harus banyak membaca dan terus belajar, salah satunya dengan praktek menulis sepanjang waktu. Sebab, makin sering berlatih, hasil tulisan makin halus dan gaya menulis akan muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota tim penulis buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setengah Abad Alzier Dianis Thabranie&lt;/span&gt; ini menambahkan memang butuh waktu untuk menjadi penulis yang dikenal dan punya pasar tersendiri. Akan tetapi, dengan terus berlatih, keterampilan itu akan semakin terasah dan visi untuk menjadi penulis yang baik akan terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instruktur pada Bengkel Jurnalisme ini menuturkan juga tugas kedua penulis ialah memasarkan karyanya. Sebab, setiap media memiliki kecenderungan dan kebijakan yang berbeda dalam menerima artikel dari penulis lepas. Jika kita mengetahui banyak media dan kebijakan yang dikembangkan di media itu, akan mudah mengirim tulisan. Misalnya, tulisan bertema politik, dikirim ke media massa yang peduli dengan tema itu. Demikian pula artikel bertema keagamaan lebih memungkinkan dikirim ke media massa yang cenderung ke arah agamais. n */S-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Selasa, 22 April 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6480678870665074765?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6480678870665074765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6480678870665074765' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6480678870665074765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6480678870665074765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/plagiat-dosa-penulis-yang-tidak.html' title='Plagiat, Dosa Penulis yang Tidak Berampun'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-2035272596799404369</id><published>2008-04-21T23:12:00.002+07:00</published><updated>2008-04-21T23:13:20.008+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Puisiku Lahir dari Jalanan</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hendaklah puisiku lahir dari jalanan&lt;br /&gt;dari desah nafas para anak gelandangan&lt;br /&gt;jangan dari gunung besar&lt;br /&gt;dan lampu gemerlapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak-anak jalanan yang mengais lapar&lt;br /&gt;sebenarnya menjadi milik Tuhan&lt;br /&gt;sebab rintihan mereka&lt;br /&gt;tak bisa lagi mengharukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak-anak jalanan menyeret langkahnya&lt;br /&gt;anak-anak jalanan sambil berbatuk-batuk darah&lt;br /&gt;dan hatinya menggumpal luka &lt;br /&gt;jiwanya amat dalam mengental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hendaklah puisiku anyir&lt;br /&gt;seperti bau mulut mereka&lt;br /&gt;yang terdampar di trotoar&lt;br /&gt;yang terusir dan terkapar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak-anak jalanan tak ikut memiliki kehidupan&lt;br /&gt;mereka mengintai nasib orang yang dijumpainya&lt;br /&gt;tetapi zaman telah kebal&lt;br /&gt;terhadap derita mereka yang kekal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hendaklah puisiku &lt;br /&gt;bisa menjadi persembahan yang menolongku&lt;br /&gt;agar mereka menerimaku menjadi sahabat&lt;br /&gt;dan memaafkan segala kelalaianku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang banyak dilupakan orang ialah Tuhan&lt;br /&gt;anak-anak jalanan dan korban-korban kehidupan&lt;br /&gt;bisa jadi karib mereka agar bisa belajar tentang segala fana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-2035272596799404369?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/2035272596799404369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=2035272596799404369' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2035272596799404369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2035272596799404369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/puisiku-lahir-dari-jalanan.html' title='Puisiku Lahir dari Jalanan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1659407400353375966</id><published>2008-04-21T23:12:00.001+07:00</published><updated>2008-04-21T23:12:31.586+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Perempuan Muda Itu?</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perempuan muda itu&lt;br /&gt;tertidur sambil menyusui anak perempuannya&lt;br /&gt;dengan agak sedikit kelihatan&lt;br /&gt;tubuhnya yang kuning langsat&lt;br /&gt;ia membiarkannya&lt;br /&gt;di dalam bis kota jurusan grogol&lt;br /&gt;kecantikannya membuat semua orang&lt;br /&gt;ingin menikmati &lt;br /&gt;sambil menenteng plastik hitam&lt;br /&gt;dan terus menggendong anaknya&lt;br /&gt;ia bernyanyi sesuka hatinya&lt;br /&gt;lalu recehan logam dan kertas masuk ke dalam &lt;br /&gt;kantong tersebut&lt;br /&gt;tak tahu kalau anaknya sendiri&lt;br /&gt;kencing di dalam baju ibunya&lt;br /&gt;bau amis pun sirna oleh angin bis kota&lt;br /&gt;setelah ditanya;&lt;br /&gt;”Aku ditinggal bapak anak ini, Mas. &lt;br /&gt;Sekarang ia kawin lagi dengan seorang perempuan lain,” katanya.&lt;br /&gt;Semoga Tuhan memberikan petunjuk pada&lt;br /&gt;perempuan muda itu&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1659407400353375966?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1659407400353375966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1659407400353375966' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1659407400353375966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1659407400353375966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/perempuan-muda-itu.html' title='Perempuan Muda Itu?'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-4934398092941474813</id><published>2008-04-21T23:11:00.001+07:00</published><updated>2008-04-21T23:11:44.630+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Selamatkan Bumi dari Kapal Sedang Tenggelam</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi, alam, semesta ini sufistik&lt;br /&gt;Langit adalah asap yang tergelar berdasar kerangka irfani&lt;br /&gt;berpusat dan menggulung ke satu titik fokus&lt;br /&gt;dengan gesekan lingkaran yang panas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin lama makin penuh titik intinya&lt;br /&gt;berbentuk bola raksasa yang berpijar&lt;br /&gt;di atas ”nuur” yang panas&lt;br /&gt;bermilyar derajat celcius dengan sumber dari segala sumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benda- benda di alam semesta ini&lt;br /&gt;memiliki daya tarik gravitasi amat dahsyat&lt;br /&gt;seperti cahaya bumi yang dipancarkan ke lubang&lt;br /&gt;pelita di dalam kaca&lt;br /&gt;laksana bintang yang dinyalakan &lt;br /&gt;dengan minyak dari pohon zaitun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang tidak tumbuh di barat maupun timur&lt;br /&gt;tanpa nyala api&lt;br /&gt;Tuhan memanjangkan bayang-bayang-Nya&lt;br /&gt;dari tujuh kumpulan bola pijar raksasa&lt;br /&gt;dihamparkan ke langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;galaksi, bintang, matahari&lt;br /&gt;bentuk wujud kebesarannya&lt;br /&gt;letusan gunung berapi&lt;br /&gt;memuntahkan dari dalam makhluk penghuni planet&lt;br /&gt;para jin adalah aeter yang panas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungai, danau, lautan dan gunung&lt;br /&gt;adalah air magma bumi membasahi tanah&lt;br /&gt;bulan, bumi, planet adalah&lt;br /&gt;tata surya bola pijar seperti matahari&lt;br /&gt;di mana evolusi waktu&lt;br /&gt;membengkak seribu sampai lima puluh ribu tahun&lt;br /&gt;Tuhan pun mencipta hanya sekejap&lt;br /&gt;dari waktu yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atmosfir dan perut bumi pun &lt;br /&gt;mengeluarkan kepundan-kepundan &lt;br /&gt;akan mati&lt;br /&gt;karena laut, pasir, manusia, batu&lt;br /&gt;melekat beterbangan ke atas angkasa&lt;br /&gt;kehabisan daya gravitasi&lt;br /&gt;kita pun melangkahkan kaki dengan terpental-pental&lt;br /&gt;di atas molekul-molekul yang semakin berhimpitan&lt;br /&gt;Tuhan mencipta bumi &lt;br /&gt;bukan seperti surga yang penuh&lt;br /&gt;bidadari dan kemewahan imajinasi indrawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kehidupan pun tidak akan ada lagi di permukaan bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berlubangnya lapisan ozon&lt;br /&gt;akibat hutan yang menipis &lt;br /&gt;karena tangan-tangan manusia &lt;br /&gt;sinar matahari pun tak lagi bercahaya&lt;br /&gt;manusia hidup di bumi&lt;br /&gt;saling bunuh satu dengan yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keserakahan,&lt;br /&gt;dan menipisnya naluri manusia&lt;br /&gt;akan menguras sumber panas bumi&lt;br /&gt;membuat kaum perempuan&lt;br /&gt;malas dan enggan untuk mengandung,&lt;br /&gt;menyusui, bahkan dengan sadis&lt;br /&gt;membunuh bayi yang dilahirkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lahirlah pembantaian &lt;br /&gt;dan kekejian di luar batas norma manusia   &lt;br /&gt;selamatkan bumi ini&lt;br /&gt;dari kapal yang sedang tenggelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana harus memberi makan&lt;br /&gt;sepuluh miliar penduduk bumi&lt;br /&gt;kalau kelaparan dalam skala raksasa melanda&lt;br /&gt;bumi pun tidak akan mampu &lt;br /&gt;memberi makan manusia&lt;br /&gt;apabila kelaparan besar terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita kini sebagai saksi hidup&lt;br /&gt;untuk menyelamatkan bumi&lt;br /&gt;dari ledakan penduduk kekurangan gizi&lt;br /&gt;dari tangan-tangan perusak alam hutan&lt;br /&gt;tiga perempat penduduk miskin&lt;br /&gt;terancam laparan dan kerusuhan sosial&lt;br /&gt;dari kepentingan miliaran orang marjinal&lt;br /&gt;terlupakan di desa-desa&lt;br /&gt;kalau saat ini sedang terjadi&lt;br /&gt;seorang perempuan muda&lt;br /&gt;melakukan aborsi&lt;br /&gt;karena takut untuk melahirkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-4934398092941474813?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/4934398092941474813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=4934398092941474813' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4934398092941474813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4934398092941474813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/selamatkan-bumi-dari-kapal-sedang.html' title='Selamatkan Bumi dari Kapal Sedang Tenggelam'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-2629366701128526947</id><published>2008-04-21T23:10:00.001+07:00</published><updated>2008-04-21T23:10:37.978+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Matahari</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktumu bergulir&lt;br /&gt;menggelinding mengejar matahari senja&lt;br /&gt;umurmu bergusur&lt;br /&gt;terhapus&lt;br /&gt;tiap tahun kau jilat&lt;br /&gt;mendekat&lt;br /&gt;batas hidup mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup gelisah&lt;br /&gt;dikejar serakah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, pesakitan hati&lt;br /&gt;Larilah ke jalan lurus ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-2629366701128526947?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/2629366701128526947/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=2629366701128526947' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2629366701128526947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2629366701128526947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/matahari.html' title='Matahari'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-2906105866192806464</id><published>2008-04-21T23:09:00.003+07:00</published><updated>2008-04-21T23:14:03.744+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Menerpa Wajah</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di lorong panjang jalan ini&lt;br /&gt;kutemui senyummu&lt;br /&gt;menghias matahari&lt;br /&gt;berdandankah dirimu di kota sesak ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu terus berputar&lt;br /&gt;seiring langkah&lt;br /&gt;kuhapus peluh&lt;br /&gt;dan angin begitu cepat menerpa wajah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-2906105866192806464?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/2906105866192806464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=2906105866192806464' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2906105866192806464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2906105866192806464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/menerpa-wajah.html' title='Menerpa Wajah'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-3780485560994289290</id><published>2008-04-21T23:08:00.000+07:00</published><updated>2008-04-21T23:09:11.661+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Sebuah Pesan</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor burung yang terbang&lt;br /&gt;jatuh ke atas kasur malamku&lt;br /&gt;meninggalkan sebutir telur&lt;br /&gt;dan sebuah pesan&lt;br /&gt;untuk meneteskan telur itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau jendela pagi&lt;br /&gt;sempat kita buka berdua, Ajeng&lt;br /&gt;jangan kau buat telur mata sapi&lt;br /&gt;untuk santapan pagi&lt;br /&gt;sebaiknya kita teteskan&lt;br /&gt;meskipun dingin telah&lt;br /&gt;mengurangi panas badan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita biarkan telur menjadi burung&lt;br /&gt;dan segera terbang menyusul induknya&lt;br /&gt;ke tengah malam&lt;br /&gt;mari berdoa,&lt;br /&gt;agar malaikat menyertai&lt;br /&gt;keberangkatannya nanti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-3780485560994289290?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/3780485560994289290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=3780485560994289290' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/3780485560994289290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/3780485560994289290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/sebuah-pesan.html' title='Sebuah Pesan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-6649505687616403883</id><published>2008-04-02T22:41:00.000+07:00</published><updated>2008-04-02T22:43:33.539+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info sastra'/><title type='text'>Ubud Writers &amp; Readers Festival</title><content type='html'>Buletin&lt;br /&gt;Maret, 2008&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendaftaran Diri dan Nominasi Peserta Ubud Writers &amp;amp; Readers Festival&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecinta sastra Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Saraswati, tuan rumah acara tahunan Festival Sastra  Internasional&lt;br /&gt;Ubud Writers &amp;amp; Readers Festival (UWRF) mengundang nominasi dan pendaftaran diri penulis Indonesia untuk pemilihan peserta. Festival yang hadir untuk kelimakalinya ini akan diselenggarakan pada tanggal 14 sampai 19 Oktober 2008 di Ubud - Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini akan dipilih 15 penulis dari seluruh pelosok Indonesia untuk mengikuti acara tersebut dan merespon tema Tri Hita Karana, suatu filsafat hidup yang merangkum upaya mencapai keharmonisan antara Tuhan, Manusia dan Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis yang mendaftar akan dipilih oleh Dewan Kurator dengan kriteria penilaian yang meliputi: kesesuaian karya dengan tema, kemampuan berbicara merespon tema festival, kemampuan diri, prestasi dan pengalaman penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seleksi ini bukanlah ajang kompetisi maupun penghargaan sastra sebab tujuan utama proses seleksi ini adalah menyusun program festival bertaraf internasional yang membuka wawasan dunia akan keanekaragaman khazanah sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta yang terpilih akan diundang mengikuti festival ini dan berkesempatan bertemu dan bertukar pikiran dengan para penulis mancanegara dalam rangkaian kegiatan festival yang berlangsung selama 6 hari. Kegiatan festival meliputi: disksusi panel, pembacaan karya, bincang-bincang penulis, dan lokakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda adalah penulis Indonesia, atau mengenal penulis yang Anda anggap layak, layangkan pendaftaran sesuai syarat dan ketentuan di bawah ini:&lt;br /&gt;·    Penulis warga negara Indonesia&lt;br /&gt;· Menulis karya sastra, baik berupa puisi, prosa, maupun karya non- fiksi yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku oleh sebuah penerbit dan dijual di pasaran umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kirimkan:&lt;br /&gt;·    Biodata dalam bahasa Indonesia dan Inggris.&lt;br /&gt;·    Buku karya.&lt;br /&gt;·    Pernyataan singkat (200 s/d 800 kata) berisi tanggapan tentang tema festival.&lt;br /&gt;·    Tuliskan juga topik yang menarik untuk ditanggapi penulis berkaitan dengan tema festival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kirim ke sekretariat panitia UWRF paling lambat tanggal 21 April 2008  (cap pos)&lt;br /&gt;di :&lt;br /&gt;Ubud Writers &amp;amp; Readers Festival - Yayasan Saraswati&lt;br /&gt;PO Box 181, Ubud Bali 80571.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penulis dari luar Bali yang terpilih, Panitia akan menangung biaya transportasi (penerbangan) dan akomodasi selama berlangsungnya acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi&lt;br /&gt;Kadek Purnami:&lt;br /&gt;Telp : 0361-7808932, Fax : 0361-973282&lt;br /&gt;Email : Info@ubudwritersfestival.com /  kadek.purnami@ubudwritersfestival.com&lt;br /&gt;www.ubudwritersfestival.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat. Semua berkas pengajuan beserta buku yang telah dikirimkan, akan menjadi hak panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sastra,&lt;br /&gt; ttd&lt;br /&gt;Panitia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Informasi Tambahan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubud Writers &amp;amp; Readers Festival&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UWRF merupakan salah satu aktivitas dari program Yayasan Saraswati. Festival ini sudah berlangsung selama empat kali. Beberapa penulis Indonesia yang sudah pernah mewakili Indonesia diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004&lt;br /&gt;Goenawan Moehamad, Dewi Anggraeni, Toeti Heraty, Dorothea Rosa Herliany, Murti Bunanta, Putu Oka Sukanta, Richard Oh, Mas Ruscitadewi, Bodrex Arsana, Putu Suasta, Sitok Srengenge, Warih Wisatsana, A.A Made Djelantik, Wayan Arthawa dan Tan Lioe Ie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2005&lt;br /&gt;Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Oka Rusmini, Moemar Emka, Eka Kurniawan, Joko Pinurbo, Azhari, Laire Siwi Mentari, Rachmania Arunita, Rosni Idham, Muhammad Salim, Marianne Katoppo, Maliana, Pranita dewi, dan Kadek Sonia Piscayanti,Sitok Srengenge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006&lt;br /&gt;Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Laksmi Pamuntjak, Linda Christanty, Acep Zamzam Noor, Raudal Tanjung Banua, Ari Pahala Hutabarat, Reza Idria, Fozan Santa, Goenawan Muhamad, John F.Waromi, Vira Safitri, Sitok Srengenge, Putu Setia, Nirwan Dewanto, Iswadi Pratama, dan Ida Ayu Oka Suwati Sideman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007&lt;br /&gt;Ahmad Tohari, Anand Krishna, Cok Sawitri, Debra H Yatim, Dorothea Rosa Herliany, Ida Wayan Oka Granoka, Hamid Basyaib, Isbedy Stiawan ZS, Isman Hidayat Suryaman, Julia Suryakusuma, I Ketut Sumatra, Marhalim Zaini, I Gusti Ngurah Harta, Ratih Kumala, Ratna Indraswari Ibrahim, Wiratmadinata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita berkala UWRF dipersembahkan oleh Bali Spirit.&lt;br /&gt;Kami berterima kasih kepada para pelanggan kami atas dukungan yang berkelanjutan bagi Festival Penulis &amp;amp; Pembaca Ubud. Kami menanti-nantikan saatnya bertemu dengan Anda pada Festival berikutnya di tahun 2008!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Ubud Writers &amp;amp; Readers Festival&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PO Box 181, Ubud, Bali, Indonesia 80571&lt;br /&gt;d/a Indus Restaurant Jalan Raya Sanggingan. Ubud, Bali, Indonesia. 80571&lt;br /&gt;P: 62 361 780 89 32 / 803 83 91&lt;br /&gt;F: 62 361 973 282&lt;br /&gt;E: info@ubudwritersfestival.com&lt;br /&gt;http://www.ubudwritersfestival.com&lt;br /&gt;Festival 2008: 14 - 19 Oct&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-6649505687616403883?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/6649505687616403883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=6649505687616403883' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6649505687616403883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/6649505687616403883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/ubud-writers-readers-festival.html' title='Ubud Writers &amp; Readers Festival'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-2420963674544813020</id><published>2008-04-02T22:33:00.001+07:00</published><updated>2008-04-02T22:38:48.829+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info sastra'/><title type='text'>'Sandekala' Akan Dipentaskan</title><content type='html'>Korupsi. Sebuah perbendaharaan kata yang tak asing bagi Indonesia. Sebuah kata yang cukup menyengat telinga kita dalam kehidupan sehari-hari dan sering ditemukan di ruang privat dan publik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak reformasi 1998, penyakit ini semakin membahana di seluruh Indonesia dan menjadi sorotan dunia internasional. Demonstrasi yang mendengungkan tuntutan terhadap penyelesaian kasus ini sudah tak lagi terhitung mulai dari depan balai desa hingga depan Istana Negara. Penyakit ini sungguh kronis dan mewabah ke banyak kalangan, bahkan melindas kelompok yang sesungguhnya menjadi garda terdepan negara dalam penyelesaian kasus-kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, korupsi tidak pernah berdiri sendiri. korupsi di negara ini seringkali bukan sekedar menjadi dampak dari kontrol birokrasi yang lemah, melainkan sebagai akar masalah. Berbagai tragedi politik dan pelanggaran hak asasi manusia terjadi berawal dari sebuah kasus korupsi. Rezim Soeharto misalnya, mempertahankan kekuasaan yang korup dengan berbagai cara, termasuk melanggar hak-hak dasar warga negara, diantaranya agar kepentingan ekonomi dan politik rezim terjaga. Yang terjadi kemudian di Indonesia bukan sekedar aplikasi dari pemeo “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;power tends to corrupt&lt;/span&gt;” melainkan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;corrupt to get and maintain power&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 10 tahun reformasi bergulir. Sudah banyak nyawa yang hilang diterjang peluru, bahkan beberapa yang diculik tak pernah kembali. Darah sudah membasahi negeri ini bersama air mata orang-orang yang ditinggal pergi para pejuang reformasi. Adakah perubahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pementasan ini kami menggunakan bahasa Sunda, selain bahasa Indonesia, sebagai upaya menghidupkan kembali budaya lokal yang selama ini dipinggirkan. Naskah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sandekala&lt;/span&gt; ini merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Godi Suwarna. Sebuah sindiran tajam yang memindahkan peristiwa 1998 dengan korupsi sebagai akar masalah ke dalam sebuah kota kecil, Kawali. Novel yang ditulis asli dalam Bahasa Sunda itu memperoleh penghargaan sastra Rancage 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Andi K. Yuwono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Coordinator of Interactive Media, Cluster Empowerment and Network Development&lt;br /&gt;Praxis Association&lt;br /&gt;Jl. Salemba Tengah No. 39-BB&lt;br /&gt;Jakarta 10440&lt;br /&gt;Tel. ++62 21 3156907, 3156908, 3911927&lt;br /&gt;Fax. ++62 21 3900810, 3156909&lt;br /&gt;Mobile: 0811182301, 0817174087&lt;br /&gt;Yahoo Messenger: andi_yuwono&lt;br /&gt;Email: andi-yuwono@praxis.or.id&lt;br /&gt;Http://www.prakarsa-rakyat.org&lt;br /&gt;Http://www.praxis.or.id&lt;br /&gt;Http://andi-yuwono.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-2420963674544813020?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/2420963674544813020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=2420963674544813020' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2420963674544813020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2420963674544813020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/sandekala-akan-dipentaskan.html' title='&apos;Sandekala&apos; Akan Dipentaskan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-8664758760240058613</id><published>2008-04-02T20:32:00.001+07:00</published><updated>2008-04-02T20:35:17.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Menulis Puisi itu Gampang?</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maroeli Simbolon&lt;/span&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bulan di atas kuburan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris, teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi? Berarti, gampang menulis puisi -- tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan samedhi.” Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya – bahkan, sarana mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati – disebut tak berkarya – jika tidak menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan puisi -- seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi, tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi – barisan kata dan kalimat yang mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa atau kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, di salah satu kafe di Taman Ismail Marzuki, Sutardji Calzoum Bachri membenarkan bahwa menulis puisi itu gampang. ”Bahkan, apa pun bisa ditulis jadi puisi,” katanya. Wah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali menyeruput teh manis yang mulai dingin, penyair yang sudah meninggalkan gaya mabok ini menjelaskan, segala kejadian yang ada, baik di sekitar maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Juga, peristiwa yang terjadi sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, bisa dijadikan puisi. Sebab, puisi tak jauh beda dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti laporan wartawan atau berita yang tertulis di koran, mengenai politik, sosial, ekonomi, demonstrasi. ”Sehingga ada penyair yang cuma memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menulis puisi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang terkejut dan meragukan pendapatnya ini. Meski Tardji diakui sebagai presiden penyair, bukan berarti perkataan presiden adalah sabda atau firman – yang tidak ada salah atau cacatnya. Lalu, ia menunjuk sepotong koran yang tergeletak di atas meja seraya menjelaskan bahwa berita-berita itu dapat menjadi puisi bila dibacakan dengan teknik puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta merta saya tertarik, meraih koran itu dan membaca sepenggal beritanya, dengan artikulasi dan intonasi membaca puisi. Apa yang terjadi? Tardji tersenyum. Dan teman-teman seniman memperhatikan dengan mangut-mangut. Merasa belum cukup, saya membaca dua lembaran besar menu makanan dan minuman yang tergantung di dinding kafe itu dengan artikulasi dan intonasi yang sama dalam pembacaan puisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi Goreng Es Campur&lt;br /&gt;Pecel Lele Wedang Jahe&lt;br /&gt;Soto Babat Es Jeruk&lt;br /&gt;Ikan Bakar Kopi Susu&lt;br /&gt;Sate Kambing Jus Nenas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu, Tardji tertawa. Dan teman-teman seniman bertepuk tangan. Sebaliknya, ingatan saya segera tertuju kepada dua penyair muda berbakat besar, yang mengekspresikan pendapat Tardji ini – dengan pendekatan lain. Yonathan Rahardjo sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ekstrem lagi Saut Sitompul, penyair yang baru saja pulang ke haribaan-Nya, berhasil menulis apa pun jadi puisi, bahkan menganjurkannya. Seperti isi salah satu puisinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ada daun jatuh, tulis/ada belalang terbang, tulis…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, benarkah segala sesuatu (persoalan) dapat dijadikan puisi? Tak perlukah bersusah payah menulis puisi? Tak perlukah merenung di gunung dan berpuasa setahun untuk membuat puisi? Tak perlukah perenungan, pendalaman dan pemadatan makna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergantung pencipta puisi itu sendiri. Tetapi, siapa yang keberatan, jika apa saja yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, lalu ditulis dengan bentuk puisi, lalu dinobatkan sebagai puisi? Jika semua masalah ditulis dengan berbentuk bait puisi, adakah yang melarang? Itu hak asasi seseorang. Hak berpendapat. Hak berekspresi. Hak berkarya. Bila akhirnya puisi yang dihasilkan itu dianggap tak berguna, ya, terserah. Jika pun orang-orang menganggap rada gila, ya, biarkan saja. Bukankah penyair besar sering bertingkah aneh-aneh, misalnya mabok bir, bawa kapak, buka baju dan bergulingan di atas panggung kala baca puisi? Lagi pula, entah apa dasar hukumnya, untuk dapat diakui penyair, seseorang harus berani bertindak rada gila; seperti teriak-teriak di keramaian, baca puisi di atas pohon? Semuanya demi puisi, demi puisi. Demikian anehkah puisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Banyak jalan menuju Roma. Beribu cara untuk menciptakan puisi. Salah satu kiat jitu yang kerap diakui (baik tua maupun muda dan pemula) adalah jatuh cinta. Bukankah orang yang sedang kasmaran gampang menulis puisi? Seperti puisi ”Surat Cinta” Rendra, berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Engkau adalah putri duyung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tergolek lemas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengejap-ngejapkan matanya yang indah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dalam jaringku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dengan menumpahkan isi hati di atas secarik kertas dengan kata-kata indah dan terpilih, tulisan akan menjelma puisi. Atau, silakan tulis surat cinta dengan kalimat-kalimat berbunga, dengan bentuk larik dan bait puisi, ya, dapat juga disebut puisi. Artinya, semakin sering jatuh cinta, tentu semakin terangsang untuk menulis puisi lebih banyak. Semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak stock puisi yang akan tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti, puisi itu dapat dihasilkan oleh siapa pun, yang bukan penyair? Benar. Siapa pun boleh menulis puisi -- tidak sebatas penyair semata. Tidak ada syarat atau batasan tertentu untuk dapat menulis puisi. Pencopet, penodong, pedagang asongan, petani, polisi, politikus, penipu, penjudi, pengusaha menengah, bankir, konglomerat, pengamen, boleh menulis puisi, tak ada larangan atau kutukan. Tak perlu takut dan frustasi. Puisi itu bukan kuntilanak atau momok hitam yang menakutkan. Jadi, tulislah puisi semampu dan seluas jangkauan dan wawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika puisi yang ditulis dinilai orang jelek, tak perlu berduka dan frustasi. Terus saja menulis puisi, meski belum memenuhi kaidah-kaidah puitis. Ciptakan terus, tanpa henti – toh masih ada hari esok menanti untuk puisi yang (mungkin) lebih baik. Sejelek apa pun puisi yang dibuat, kata Tardji, tetap saja puisi. Tetapi, silakan renungkan sendiri, termasuk kategori puisi apa? Puisi asal jadi? Puisi basi? Adakah berisi tanda? Atau sekadar corat-coret penumpahan isi hati?&lt;br /&gt;Ingat, puisi bukan alat propaganda, bukan sarana pelepasan kegalauan, bukan pula tong sampah unek-unek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Meski bahasa puisi dan bukan puisi terasa cair; sesungguhnya puisi, sesederhana apa pun, harus penuh dengan ambiguitas dan homonim, penuh dengan asosiasi, memiliki fungsi ekspresif, menunjukkan nada dan sikap—mengutamakan tanda. Masalah ini dipertegas Rene Wellek &amp;amp; Austin Warren, bahasa puisi penuh pencitraan, dari yang paling sederhana sampai sistem mitologi (1993:20). Sementara Sapardi Djoko Damono memberi pengertian lebih sederhana, bahwa puisi adalah ”ingin mengatakan begini, tetapi dengan cara begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, puisi yang tidak dipenuhi tanda, belum layak disebut puisi? Ingat pendapat Tardji, tetap puisi. Tetapi puisi sesaat; sekali cecap langsung tak bermanfaat. Puisi donat. Seperti puisi yang dibuat anak kelas empat SD, tetap saja disebut puisi.&lt;br /&gt;Itu pula alasan Tardji membagi puisi berdasarkan fungsinya. Jika seseorang menulis puisi untuk kebutuhan sesaat, ya, cuma sebatas itu manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi itu akan segera tersapu angin dan hujan. Sebaliknya, jika puisi diciptakan berdasarkan perenungan mendalam, tanpa dipengaruhi kebutuhan apa pun, akan menjadi puisi sejati. Contohnya puisi-puisi Chairil Anwar. ”Maka, sangat disayangkan, bila ada penyair yang menulis puisi dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas pendapat ini bertentangan dengan kesimpulan Wellek &amp;amp; Warren, bahwa tipe-tipe puisi harus memakai paradoks, ambiguitas, pergeseran arti secara konstektual, asosiasi irasional, memperkental sumber bahasa sehari-hari, bahkan dengan sengaja membuat pelanggaran-pelanggaran. Tetapi, bila dicermati, pendapat Tardji lebih mudah dimengerti dan lebih menegaskan atas keluhan penyair-penyair muda, ”Ada juga puisi pesanan. Puisi yang ditulis oleh penyair untuk kebutuhan, momen atau acara tertentu dengan bayaran tertentu pula.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertitik tolak dari pendapat ini, berarti menulis puisi teramat sulit-lit. Tidak cukup dengan mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Menulis puisi harus penuh perenungan, mendasar dan berdasar. Bahkan, terkadang harus mengalami trance. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, tidak serta merta dapat dijadikan puisi, tetapi harus dikaji, diendapkan, direnungkan secara mendalam. Untuk menulis sebuah puisi saja, sering penyair harus melalui proses sepekan, setahun, sepuluh tahun. Itu pula sebabnya, bila dibandingkan dengan karya seniman lain, sepertinya daya kreativitas penyair dalam berkarya sangat tertinggal jauh. Sebab, setiap penyair (sejati), meski telah berkarya secara maksimal seumur hidupnya, tak dapat menghasilkan seabrek puisi. Bahkan, tak sedikit penyair seumur hidupnya cuma mampu menulis beberapa puisi, misalnya Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, JE Tatengkeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, masihkah dapat disebut menulis puisi itu gampang? Ada yang menjawab, tergantung kata hati. Ada juga yang menyebut, tanyakan daun-daun yang berguguran. Bahkan, ada pendapat lebih ekstrem, tanyakan pejabat atau konglomerat yang getol bikin puisi, lalu menerbitkan seabrek buku puisi (persis album rekaman dangdut) dan membuat album dangdut puisi atau puisi dangdut yang dipasarkan door to door dengan pelbagai alasan sosial, kemanusiaan dan pengabdian. Ayo, siapa ikut bergoyang puisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maroeli Simbolon&lt;/span&gt;, pekerja seni&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-8664758760240058613?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/8664758760240058613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=8664758760240058613' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8664758760240058613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8664758760240058613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/04/menulis-puisi-itu-gampang.html' title='Menulis Puisi itu Gampang?'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-8727406945239726725</id><published>2008-03-21T16:45:00.002+07:00</published><updated>2008-03-21T16:50:31.186+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (cerpen)'/><title type='text'>Ayat-Ayat Cinta</title><content type='html'>Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Digerakkan kedua pundaknya beberapa kali hingga terdengar bunyi gemerutuk tulang kering di antara keduanya. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Di situ seolah-olah tergambar kembali ceramah-ceramah yang selalu diikutinya setelah selesai responsi agama. Beberapa kalimat yang kerap kali didapatnya dan sulit untuk melupakannya, selalu terngiang di telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cobalah kalian baca surat Al-Mumtahanan ayat 10: 'Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang itu tiada halal pula bagi mereka.' Jadi jelaslah, untuk kaum wanita adalah haram mendapatkan pendamping hidupnya yang bukan beragama Islam!"&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Maria memejamkan mata dan menghela nafas berat. Kini wajah Fahri hadir dengan senyum kedewasaannya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Agama kita memang berbeda, Maria. Tapi semua itu tak akan dapat mengalahkan kasih di antara kita," begitu selalu yang dikatakan Fahri setiap saat padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti ini, perasaan sedih dan marah bercampur menjadi satu. Tapi ia tak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Sejak TK ia telah dimasukkan ke sekolah Katolik, hingga SMU tak secuil pun pelajaran agamanya yang ia dapatkan dari sekolahnya. Ia memang belajar mengaji dan sholat hingga lancar, tapi tak tahu apa makna dari semua itu. Tidak ada perasaan memiliki atas agama yang tertulis dalam buku laporannya selama ini.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Dan saat ini, sedang menyelesaikan studi pasca-sarjananya di Perguruan Tinggi di mana ia melanjutkan cita-citanya, semakin tahulah Maria bahwa hukum-hukum Islam begitu luas, bukan hanya rukun Islam dan rukun Iman yang telah dihafalnya di luar kepala. Dosen dan para asisten serta teman-temannya telah membuka matanya lebar-lebar tentang Islam. Aisyah tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Fahri , hubungan mereka sudah berjalan hampir tiga tahun. Meskipun Fahri memikirkan studi kuliahnya untuk menyelesaikan pasca-sarjana di Universitas Al-Azhar, tapi hubungan mereka selalu hadir hampir setiap hari, dan di antara berdua sangat saling membutuhkan.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Maria menatap lampu tidur warna biru lima watt yang menerangi kamarnya di lantai paling atas sebuah rumah apartemen. Lampu seperti itu pulalah yang selalu menerangi jiwanya di mana hendak mengirimkan kado buat Fahri lewat tali beserta keranjangnya yang berisi makanan. Sebuah kamar apartemen yang cukup praktis dengan jendela kecil saja. Maria tidak tahu apakah itu salah. Yang pasti ia begitu bahagia mendapatkan seorang Fahri yang sangat dewasa, sopan, penuh pengertian dan kasih sayang.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dan sekarang sebuah vonis seolah-olah diberikan padanya. Haram! Akh, Maria mengusap air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya. Mengapa tidak sejak dahulu ia mengetahui semua itu, sebelum ia mengenal Fahri. Air matanya kian deras mengalir. Maria bimbang. Dalam keadaan seperti itu, perlahan-lahan Maria bangkit dan menyalakan lampu besar di samping lampu biru. Lambat-lambat ia berjalan untuk mengambil air wudhu. Kemudian sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik tudung putih, Maria masih terpekur duduk di atas sajadahnya, Maria enggan beranjak dari atas sajadahnya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Ya Allah! Berilah jalan yang terbaik bagiku. Dan ampunilah segala dosaku selama ini," jerit hatinya di antara ayat-ayat yang terucap dari mulutnya. Mulutnya terus berdzikir, dan hatinya semakin tenang kini, ia terus berdzikir... hingga tertidur.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Setelah sholat Maria membaca ayat suci Al-Qur’an. Kemudian membaca bahan kuliahnya untuk hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Maria diam tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;"Kau harus berani menghadapi kenyataan, yang terburuk sekalipun," kata Aisyah. "Atau bila kau merasa tidak kuat, tidak usah sekaligus, perlahan-lahan saja."&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;"Tapi Mbak bila semakin lama, maka semakin sulit saya melepaskan dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah tersenyum tenang di balik wajah jubahnya yang hitam terturtup, hanya tinggal kedua matanya  yang nampak.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;"Mbak mengerti, kalau kau memang merasa telah kuat, ambillah keputusan itu. Tapi yang penting tidak usah main kucing-kucingan dengan tidak mau menemui dia. Itu bukan penyelesaian yang baik. Mbak yakin kau wanita non-muslim yang kuat, Maria. Kemukakanlah keputusan itu padanya. Mbak juga berdoa semoga semuanya berjalan dengan baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mengapa aku harus takut bila berada di jalan yang benar, bisik hati Maria.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;"Terima kasih, Mbak!"&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Aisyah tersenyum sambil meraih pundak Maria.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;"Yakinlah, Allah akan memberikan hikmah-Nya untuk setiap apa yang terjadi . Maka tegar dan bersabarlah dalam menghadapi segala sesuatu. Kau masih ada kuliah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak!"&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Sayup-sayup dari masjid terdengar suara adzan.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Maria mengambil wudhu untuk sholat dan memohon kekuatan kepada Allah Subhana Wataala.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;"Innalillahi wainnahirojiun," bisik Aisyah mendengar kepergian sahabatnya. Ia akan menang di sana bersama Tuhan! Aisyah yakin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta-Slipi Jaya,&lt;br /&gt;Catatan 28 Februari-13 Maret 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diilhami dari sebuah film dengan judul cerpen sama, karya novelis muda Habbiburahman El-Shirazy, dengan sutradara Hanung Bramantyo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-8727406945239726725?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/8727406945239726725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=8727406945239726725' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8727406945239726725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/8727406945239726725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/ayat-ayat-cinta.html' title='Ayat-Ayat Cinta'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-3023379441896035061</id><published>2008-03-15T10:33:00.001+07:00</published><updated>2008-03-15T10:35:33.716+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Perayaan Otoritas Tubuh Perempuan</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gendhotwukir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;MENGUNGKAP persoalan seksualitas perempuan sangatlah penting karena kesetaraan perempuan dapat diciptakan salah satunya lewat pembebasan represi seksual. Karena adanya represi seksual, perempuan sering kali diasingkan dari tubuh dan seksualitasnya. Banyak fakta dan kejadian selama ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan sering diekploitasi, bukannya dieksplorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimaksudkan untuk penumbuhan kesadaran bahwa tubuh perempuan itu indah. Perempuan wajib memiliki kesadaran akan hal itu sehingga ia memiliki otoritas atas tubuhnya sendiri. Dengannya perempuan memiliki pilihan-pilihan yang beragam atas arah dan ekspresi tubuhnya. Selain itu bagi kaum adam agar semakin menghormati otoritas tubuh perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh perempuan adalah karya seni alami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(natural object)&lt;/span&gt;. Perempuan mengalami otoritas tubuhnya sebagai sesuatu yang estetis. Tubuh perempuan selalu menarik untuk diekplorasi ketimbang tubuh laki-laki. Tubuh perempuan yang estetis sering dilihat dalam wacana multidimensional: anatomi, simbolis, semiotik, model atau otoritas dan fotografi. Keindahan tubuh perempuan memuat cita rasa estetis yang unik. Meski demikian, tubuh perempuan pada kenyataannya lebih sering diekploitasi dan menjadi obyek dominasi budaya patriarkal. Tubuh perempuan dalam relasi perempuan dan laki-laki berada dalam satu hubungan kekuasaan di mana satu pihak berada dalam posisi lebih kuat daripada pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Otoritas atas Tubuhnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik tubuh perempuan adalah dirinya sendiri. Darinya muncul satu tanggung jawab seorang perempuan terhadap tubuhnya. Kesadaran akan tubuhnya menjadi modal utama bagi perempuan untuk melakukan kontrol diri. Dalam konteks ini perempuan adalah pemilik dan sekaligus penentu bagi tubuhnya. Karena kesadaran akan tubuhnya yang indah dan berharga, perempuan disadarkan untuk membentengi tubuhnya dari segala bentuk kekerasan yang mengarah padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga organ dari tubuh perempuan yang rawan akan ancaman kekerasan. Ketiganya berkaitan erat dengan seksualitas. Tiga organ tubuh tersebut yaitu payudara, vagina dan rahim. Ornamen seksual yang paling menonjol pada perempuan adalah payudara, sementara vagina dan rahim tersimpan rapat di kedalaman perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sepintas orang akan mengetahui bahwa manusia itu perempuan dari bentuk dadanya. Meski demikian, secara sepintas pun orang juga akan mudah tertipu karena dewasa ini ada sebagian orang yang suka menampilkan payudara buatan padahal mereka bukan perempuan. Secara estetika, payudara memiliki konstruksi yang sangat indah. Dua butiran terjuntai vertikal dan terposisikan horizontal bersebelahan. Di tengahnya terdapat celah serupa kanal yang kalau ditelusuri akan menuju vagina. Posisi payudara yang berada di luar ini erat berkaitan dengan fungsi payudara sebagai penghasil susu untuk bayi. Posisi di luar ini memudahkan seorang ibu menyusui bayinya. Karena posisi di luar pula ini maka tidak mengherankan kalau payudara sering dijadikan sasaran tindak kekerasan seksual oleh laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vagina merupakan alat kelamin perempuan yang terkategori menjadi kelamin luar dan dalam. Vagina bagaikan sebuah pintu menuju kehídupan misterius. Di sana ada sebuah pintu yang tersembunyi dan jika dibuka dan masuk maka akan ditemukan sebuah dunia di dalamnya. Bibir besar (labia mayora) menjadi semacam pintu gerbang menuju pintu rumah yaitu bibir kecil (labia minora). Bibir vagina berada di antara dua tungkai paha. Keberadaan vagina bisa menciptakan pengalaman estetis sehingga tidak mengherankan menjadi sasaran kekerasan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahim adalah sebuah tempat awal kehidupan manusia yang tersembunyi di dalam perut perempuan. Rahim adalah rumah pertama bagi manusia baru. Rahim adalah agung. Sebagai tempat yang agung maka tetap terjaga kesuciannya. Rahim itu indah karena posisi, fungsi dan terutama karena keberadaannya. Ia indah pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tragedi Keruntuhan Estetika Tubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh perempuan itu indah, tetapi sejauh mana perempuan mengenal tubuhnya? Sudahkah perempuan sungguh-sungguh sudah menyadari keindahan tubuhnya? Sudahkan tubuh-tubuh indah perempuan mendapat perlakuan indah dari pemiliknya maupun kaum laki-laki? Fakta-fakta tertentu menunjukkan bahwa perempuan belum banyak mengenali tubuhnya. Banyak perempuan tidak mengerti apa itu menstruasi. Banyak perempuan tidak bisa mencapai orgasme dalam hubungan seksual. Banyak perempuan tidak tahu caranya mengatur kelahiran anak. Banyak perempuan lebih suka melakukan aborsi. Banyak perempuan sering kali mengkondisikan bentuk tubuh dan wajah sesuai dengan fashion yang sedang ngetren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain muncul juga ketragisan yang mengorbankan keindahan tubuh perempuan seperti angka kematian perempuan karena kanker payudara, poligamai, pengiriman tenaga perempuan sebagai pelacur, pelecehan seksual, pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga membuat perempuan merana. Pemerkosaan bahkan dijadikan strategi dalam perang di beberapa negara. Lebih memprihatinkan lagi, tradisi penyunatan pada budaya tertentu yang acap kali dikaitkan dengan paham keyakinan masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seksualitas perempuan acap kali hanya dilihat sebagai fenomena natural yang universal dan tidak dapat diubah. Padahal seksualitas terkait dengan konstruksi sosial, perasaan seksual manusia untuk menunjukkan kelaminnya. Seksualitas itu selalu dilatarbelakangi kekuatan sejarah sosial masyarakat dan merupakan perpaduan anatomi dan psikologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan tubuh perempuan telah rusak. Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkannya terjadinya represi seksual tersebut: Pertama, kesalahpahaman tentang segala hal yang berkaitan dengan seksualitas yang dianggap tabu dalam kebudayaan. Kedua, keruntuhan keindahan tubuh perempuan dikarenakan kekerasan oleh kaum adam, baik secara personal maupun massal. Dan ketiga, ancaman penyakit kanker payudara dan rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ekspresi atas Otoritas Estetika Tubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak eksploitasi tubuh atas perempuan oleh berbagai sebab, perempuan harus berani berbicara tentang keinginannya untuk berkuasa atas tubuhnya sendiri. Perempuan harus berani menentukan sikap dan mengambil keputusan dalam hidupnya agar tidak melulu menjadi sasaran korban sistem patriarkal. Perempuan memiliki eksistensinya untuk berkuasa penuh akan jalan hidupnya. Tidak mengherankan, banyak perempuan lantas mengekpresikan kebebasannya dan menentukan pilihan-pilihan ekstrem seperti memilih untuk tidak menikah, melacur atas keputusan pribadi, lesbi dan menolak penyunatan. Pilihan-pilihan ini adalah wujud kesadaran kaum hawa akan otoritas tubuhnya yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melacur dalam konteks ini dilatarbelakangi keputusan pribadi yang bebas dan bertanggung jawab. Pelacuran demikian secara implisit sebagai perayaan seksualitas perempuan atas otoritas tubuhnya yang estetis. Hal demikian tentunya berbeda dengan melacur untuk uang sebagaimana disampaikan oleh sosiolog dari Belanda bernama Bonger dan Bruine van Amstel. Melacur untuk uang tentu saja karena latar belakang sosial-ekonomi, sedangkan melacur untuk seksualitas lebih sebagai perayaan seksualitas perempuan atas otoritas tubuhnya yang estetis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gendhotwukir&lt;/span&gt;, Penyair dan Jurnalis yang berdomisili di Lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-3023379441896035061?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/3023379441896035061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=3023379441896035061' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/3023379441896035061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/3023379441896035061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/perayaan-otoritas-tubuh-perempuan.html' title='Perayaan Otoritas Tubuh Perempuan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-9081778918096973169</id><published>2008-03-10T17:20:00.000+07:00</published><updated>2008-03-10T17:21:23.398+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wacana'/><title type='text'>Lahir(lah) Komunitas Sastra(wan) Jalanan Indonesia</title><content type='html'>Esai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUDUL tulisan saya di atas ini sebenarnya merupakan sebuah jawaban dari Eksistensi Sastrawan (di) Jalanan, yang ditulis oleh Mohammad AW, aktivis dari  Komunitas Sastra Pinggiran Jember, Harian Surya, 27 Januari 2008, yang mengatakan bahwa sastrawan jalanan merupakan sebuah wacana  dan mediator dalam dunia kesusastraan Indonesia dalam menjamurkan perpuisian di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, telah lahir sebuah komunitas sastra yang penyair-penyairnya nota-bene memang hidup di jalanan lewat perpaduan puisi-puisi sebagai ruang geraknya di atas roda. Apalagi Dewan Kesenian Jakarta, telah memberi kepercayaan kepada penyair-penyair jalanan untuk tampil membuktikan keberadaannya pada tanggal 14 November 2007 dengan peluncuran kumpulan puisi antologinya Kata Di Atas Roda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang ditulis Mohammad AW dalam tulisannya, apakah para penyair jalanan mampu membacakan puisi yang bukan karyanya, dan apakah sastrawan jalanan itu hanya mendeklamasikan (monolog) sehingga audiens tak segan-segan merogoh kantungg pundi-pundinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri pelaku sastra media dan jalanan. Jangan kita beranggapan bahwa kalau anak-anak jalanan tidak bisa mengekspresikan apa yang telah diciptakannya sebagai karya sastra. Bahwa karya sastra (puisi)  merupakan totalitas cara bercita rasa, pelembagaan serta pemberian makna terhadap hidup ini. Maka, sebagai konsekuensi logisnya, semua karya sastra termasuk puisi perlu dihayati oleh setiap pencipta dalam melihat realita sehari-hari. Ini dibuktikan dengan kehadiran puisi ‘Kata Di Atas Roda’, sebagian karya sebuah pemaknaan hasil karya sastra yang metamorfosa. JJ. Rizal’ pun menyebutkan bahwa kehadiran Kelompok Sastra Jalanan Indonesia (KSJI) ini sebagai “mata biru” yang mempunyai kanonisasi untuk memfosilkan sastra dan apresiasi sastra dalam masyarakat sebagai penemuan baru yang membentuk pandangan-pandangan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, untuk menjadi penyair itu sangat dibutuhkan beberapa alat modal seperti perenungan, pendalaman, pengkhayatan dan segalanya yang bisa tercipta sebuah puisi. Puisi diciptakan oleh penyair, tanpa penyair berarti tidak ada puisi. Begitulah, antara puisi dan penyair tak berjarak pasti. Menyatu, utuh, dan kongkret dalam membentangkan kabel angan, cipta, kreasi, daya abstraksi sebagai gambaran hidup kehidupan nyata maupun bayang-bayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, tidak berarti orang yang mencipta puisi lantas disebut penyair. Sebab, untuk memperoleh predikat penyair tidaklah semudah yang diduga dibayangkan orang. Banyak kaidah dan ukiran untuk sampai ke arah predikat itu --- tentunya penyair mapan dan sungguhan. Dan mestilah dilalui dengan penuh keseriusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi bisa  diciptakan oleh siapa saja. Dari anak gembel, gelandangan, pelacur, pencopet. Apalagi orang yang sedang jatuh cinta atau nelangsa. Coba amati anak-anak jalanan yang mempunyai memori harian, sangat bertumpuk-tumpuk bentuk tulisan yang bisa dikatakan puisi. Apakah ini berarti ‘puisi’ yang ditulis bisa mensahkan bahkan memproklamirkan diri sebagai penyair? Dari sejumlah “kaca mata” jelas. Walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk mengatakan, puisi orang yang sudah dibilang penyair ‘lebih jelek’ ketimbang puisi yang jatuh cinta tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, puisi bagaimanakah yang bisa menjadikan penulisnya disebut penyair? Tentulah puisi yang bermutu dan berkadar baik. Mutu yang macam apa? Kadar baik yang seperti apa? Barangkali pertanyaan yang kemudian mencuat apakah mau dikatakan sebagai penyair terpendam. Artinya, selalu mencoba menilai karya puisi yang dibuat, orisinalitas atau bobotkah karya puisi yang sudah diciptakan itu? Secara subyektif, cuma sang penyair di atas yang punya konsisten dalam menilainya dan menyatakan kebagusan dari ketidaksempurnaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bila ingin disebut sebagai penyair sungguhan, tentulah harus menunjukkan kemampuan di hadapan publik (sastra). Harus berani mengirimkan karyanya itu ke media massa --- paling efektif dan efisien. Kemudian, bila karya-karya puisi itu sempat dan selalu jadi bahan perbincangan serta tanggapan entah negatif atau positif dari para penyair dan kritikus mapan juga kondang bisa disimpulkan akan menempati posisi tersendiri di deretan kursi “kepenyairan” di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, mempublikasikan karya sastra yang merupakan suatu hal yang penting dan harus kalau memang mau disebut penyair. Paling tidak, dalam mempublikasikan biarpun itu orisinal dan berbobot tak lantas predikat penyair terus disandang. Sebab, perlu kesinambungan penilaian. Maklum, banyak penyair setelah disebut “hebat” kemudian tenggelam. Ini terutama banyak melanda sekaligus menghantui para pemula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, apa lagi yang dibutuhkan agar kita tetap bertahan dengan predikat yang terlanjur dimiliki sebagai Komunitas Sastrawan Jalanan Indonesia. Memang, sekali mencipta puisi orisinalitas dan bobot, yang dipublikasikan kebetulan oleh Dewan Kesenian Jakarta, tidak akan menutup kemungkinan disebut sebagai penyair pemula. Tapi, bila sampai di situ saja, tak berkarya terus, artinya: Cuma penyair satu kali! Maka, tamatlah riwayat kepenyairan tersebut. Dan,  dari ‘Kata Di Atas Roda’, acara Lampion Sastra, 14 November 2007  sebagai “kiblat” kita telah lahir di sini. Masih panjang perjalanan komunitas sastrawan jalanan yang harus ditempuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;, Ketua Umum Komunitas Sastra Jalanan Indonesia, tinggal di Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-9081778918096973169?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/9081778918096973169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=9081778918096973169' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/9081778918096973169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/9081778918096973169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/lahirlah-komunitas-sastrawan-jalanan.html' title='Lahir(lah) Komunitas Sastra(wan) Jalanan Indonesia'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-4955904206333465317</id><published>2008-03-08T20:32:00.000+07:00</published><updated>2008-03-08T20:33:58.524+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kiat/tips kepenulisan'/><title type='text'>Merekam Peristiwa Kehidupan Melalui Puisi</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Willy Ediyanto&lt;/span&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELIHAT dan mendengar peristiwa banjir yang menggenangi ruas jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta akhir-akhir ini, reaksi orang berbeda-beda. Ada orang yang merasa iba karena penderitaan warga ibukota yang tak henti-henti. Ada juga orang yang merasa senang karena tempat tinggalnya tidak kebanjiran. Ada juga orang yang merasa senang melihat penderitaan warga Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dan mendengar bencana itu, pikiran orang pun berbeda-beda. Ada yang menanggapinya dengan dingin karena itu adalah peristiwa yang rutin hanya saja kali ini lebih besar. Ada juga yang menganalisis penyebab banjir yang makin meluas itu. Ada yang menuduh alam telah berubah. Ada juga menuduh faktor keteledoran dan keserakahan manusia sebagai penyebab peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan orang, peristiwa banjir semacam itu hanya sampai pada sebatas sebuah berita. Kering tanpa rasa indah yang menggerakkan perasaan, pikiran, dan daya bayang (imajinasi). Berbeda dengan tanggapan seniman yang menggunakan pikiran dan perasaan sekaligus yang kemudian dituangkan dalam karya seni. Bagi sastrawan, peristiwa banjir, baik peristiwanya itu sendiri, penyebabnya, maupun akibatnya, tidak dianalisis secara ilmiah, akan tetapi juga digerakkan dengan imajinasi dan dengan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai dalam peristiwa seperti itu direnungkannya, kemudian dengan akal dan dayanya, peristiwa yang mengesankan, yang menggelitik pikiran dan perasaannya itu diabadikan dalam bentuk karya seni. Bagi seorang musisi dan pencipta lagu, peristiwa-peristiwa itu akan menjadi sebuah aransemen musik dan lagu. Bagi pelukis, peristiwa-peristiwa itu akan dituangkan dalam bentuk coretan warna-warni yang mempunyai makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bagi sastrawan, peritiwa-peristiwa itu dapat dituangkan dalam bentuk karya sastra baik itu puisi, cerita pendek, novel, maupun drama.&lt;br /&gt;Imajinasi dalam karya seni bukanlah khayalan yang kosong. Imajinasi adalah hasil pemikiran dan perenungan yang didasarkan pada peristiwa nyata yang dilihat, dirasakan, atau bahkan dialami oleh si seniman. Jadi, karya seni bukanlah khayalan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan bahwa karya seni umumnya atau puisi khususnya adalah sebuah tiruan dari sebuah kenyataan, kejadian, atau peristiwa yang terjadi yang diungkapkan kembali dengan bumbu pengalaman penyair.&lt;br /&gt;Kehidupan yang digambarkan dalam puisi, tidak sama persis dengan kehidupan nyata. Penyair menuliskan puisi dari peristiwa atau kejadian itu, diungkapkan menggunakan pikiran dan perasaannya. Ungkapan pikiran dan perasaannya itu pun dihiasi dengan sikap penyair, latar belakang pendidikannya, budayanya, pandangan hidupnya, kedewasaan psikologisnya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatalah bahwa puisi bukan sekedar pengungkapan pikiran atau perasaan saja. Puisi adalah gabungan pikiran dan perasaan yang tidak saling terpisahkan. Di dalam puisi terdapat pikiran penyair sekaligus ungkapan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini contoh puisi yang berkaitan dengan masalah air, banjir, dan kekeringan karya Taufik Ismail yang berjudul "Yang Kami Minta Hanyalah": &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja / Penawar musim kemarau dan tangkal bahaya banjir / Tentu bapa sudah melihat gambarnya di koran kota / Tatkala semua orang bersedih sekadarnya // Dari kakilangit ke kakilangit air membusa / Dari tahun ke tahun ia datang melanda / Sejak dari tumit, ke paha lalu kepala / Menyeret semua // Bila air surut tinggallah angin menudungi kami / Di atas langit dan di bawah lumpur di kaki / Kelepak podang di pohon randu // Bila tanggul pecah tinggallah runtuhan lagi / Sawah retak berebahan tangkai padi / Nyanyian katak bertalu-talu // Yang kami minta hanyalah sebuah bendungn saja / Tidak tugu atau tempat bermain bola / Air mancur warna-warni // Kirimlah kapur dan semen. Insinyur ahli / Lupakan tersedianya sedekah berjuta-juta / Yang tak sampai pada kami // Bertahun-tahun kita merdeka, bapa / Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja / Kabulkanlah kiranya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Willy Edi&lt;/span&gt;, praktisi pendidikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-4955904206333465317?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/4955904206333465317/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=4955904206333465317' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4955904206333465317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/4955904206333465317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/merekam-peristiwa-kehidupan-melalui.html' title='Merekam Peristiwa Kehidupan Melalui Puisi'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7740794943623545775</id><published>2008-03-05T17:11:00.001+07:00</published><updated>2008-03-05T17:14:57.752+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Merawat Jiwa-Jiwa</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nurel Javissyarq&lt;/span&gt;i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tunda kantukku&lt;br /&gt;demi fajar ranum gemerisik langkah-langkah ibu ke pasar&lt;br /&gt;burung-burung berkicau dibelantara kota membopongku&lt;br /&gt;ketika terlelap di butiran awan putri bersenandung angin&lt;br /&gt;pada bibir pantai tarian gelombang biru samudera itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang sayap terbang melebihi ketinggian bukit&lt;br /&gt;harapan setua matahari, dan bayangan mengambil ruh&lt;br /&gt;pengetahuan ayat-ayat dengan sabit tangan pengembala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kata-kata yang melingkar pada otak, masuk ke dalam&lt;br /&gt;kesadaranmu abad-abad penuh musik berdendang perang&lt;br /&gt;membunuh besar-besaran kebijakan di mata kesempurnaan&lt;br /&gt;yang tak sanggup memanggil, akan terpenggal dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;, lahir di Kendal-Kemlagi, Lamongan, 8 Maret 1976. Tulisannya tersebar di media masa.  Bukunya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Balada-balada Takdir Terlalu Dini&lt;/span&gt; (kumpulan sajak, 2001), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sarang Ruh&lt;/span&gt; (kumpulan sajak, 1999), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga&lt;/span&gt; (2004, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Enda Menzies &amp;amp; Welly Kuswanto, 2004), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Segenggam Debu Di Langit&lt;/span&gt; (kumpulan esai &amp;amp; puisi, 2004), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sayap-sayap Sembrani&lt;/span&gt; (kumpulan prosa &amp;amp; haiku, 2004), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kulya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam Relung Filsafat&lt;/span&gt; (aforisma, bercermin kalender kearifan Leo Tolstoy, 2004),  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cahaya Rasa Ardhana&lt;/span&gt; (kumpulan prosa &amp;amp; esai 2005), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Batas Pasir Nadi&lt;/span&gt; (kumpulan puisi &amp;amp; esai, pengantar AS Sumbawi, 2005), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada Puisi di Jogja&lt;/span&gt; (kumpulan sajak, 2005), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tabula Rasa Kumuda&lt;/span&gt; (kumpulan esai &amp;amp; puisi, 2006), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tubuh Jiwa Semangat&lt;/span&gt; (kumpulan esai &amp;amp; puisi, 2006), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Trilogi Kesadaran&lt;/span&gt; (Kajian Budaya Semi, Anatomi Kesadaran &amp;amp; Ras Pemberontak, 2006), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kekuasaan Rindu Sayan&lt;/span&gt;g (kumpulan esai &amp;amp; sajak, 2007), dan Kitab Para Malaikat (2007).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7740794943623545775?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7740794943623545775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7740794943623545775' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7740794943623545775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7740794943623545775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/merawat-jiwa-jiwa.html' title='Merawat Jiwa-Jiwa'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-1664660857326042065</id><published>2008-03-05T17:10:00.000+07:00</published><updated>2008-03-05T17:11:16.371+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Memungut Mimpi-Mimpi</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringan lagu hujan dari langit&lt;br /&gt;cahaya lampu membuka jendela&lt;br /&gt;yang selalu dinanti ialah kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbaring bersayap kasih mengapung setia&lt;br /&gt;memberi pancaran hidup gerimiskan doa&lt;br /&gt;sunyi yang mengiris-iris kulit daging malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana kepastian berdegup di dada&lt;br /&gt;pemburu membidik gemintang berguguran,&lt;br /&gt;dan ia memunguti mimpi-mimpi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneguk matahari di fajar hari-hari &lt;br /&gt;ketika angin menyergap persekutuan terangkat,&lt;br /&gt;menjilat langit gemuruh perawan tumpahan awan&lt;br /&gt;menampar pipi belati, itu ombak menikam dinanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-1664660857326042065?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/1664660857326042065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=1664660857326042065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1664660857326042065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/1664660857326042065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/memungut-mimpi-mimpi.html' title='Memungut Mimpi-Mimpi'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-901990306728090769</id><published>2008-03-05T17:09:00.002+07:00</published><updated>2008-03-05T17:10:36.926+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Dalam Penjara Waktu</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ia merawat jaman dengan kesetiaan menyendiri,&lt;br /&gt;rangkaian warna-warna cahaya pada batok kepala &lt;br /&gt;menggabung harum sunyi di peluk renungan waktu&lt;br /&gt;hingga datang-pergi matahari menapaki jalan kegilaan&lt;br /&gt;melampaui masa perbincangan zaman selepas seluruh dari kubangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waktuku waktumu berdekatan angin nafas mengeja kesadaran,&lt;br /&gt;kepadaku terikat rambutmu yang panjang menggalang angan-angan&lt;br /&gt;lalu kudengarkan alunan lagumu dari tangan angin dipetik dedaunan&lt;br /&gt;ricik-gemerisik menari di altar nurani persembahkan kuncupan mekar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu di negri jauh disaat keningmu bercahaya debu-debu&lt;br /&gt;kepada kitab cakrawala membuka kau dan aku bergerak maju.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-901990306728090769?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/901990306728090769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=901990306728090769' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/901990306728090769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/901990306728090769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/dalam-penjara-waktu.html' title='Dalam Penjara Waktu'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-2431824365271520423</id><published>2008-03-05T17:09:00.001+07:00</published><updated>2008-03-05T17:09:53.182+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Membuka Cakrawala Senyummu</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya-cahaya langit cerlang cemerlang melukis tumpukan awan&lt;br /&gt;dengan ribuan angin serenta menuju keyakinan segera hujan.&lt;br /&gt;Ubun-ubun pengab syaraf menggeliatkan panas&lt;br /&gt;berkeringat menggantungkan kalimat,&lt;br /&gt;bercangkul di ladang-ladang jiwa kembara,&lt;br /&gt;menebah lempung diri dijanjikan cukul nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki hutan kembali, belajar kicauan burung&lt;br /&gt;serta embun menetes di dedaun pagi&lt;br /&gt;memanggil kedalaman goa pertapaan, juga jarum rumput ilalang&lt;br /&gt;meninggi di sudut-sudut mata langitan tanpa kata perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubiarkan langkah membuka gerbang lamunan waktu,&lt;br /&gt;seiring lagu diam kutermangu mengikuti aliran sungai matahari&lt;br /&gt;yang riak ombaknya gemerincing dalam dada isyarat senyumanmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-2431824365271520423?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/2431824365271520423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=2431824365271520423' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2431824365271520423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/2431824365271520423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/membuka-cakrawala-senyummu.html' title='Membuka Cakrawala Senyummu'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-654100424205786313</id><published>2008-03-05T17:08:00.002+07:00</published><updated>2008-03-05T17:09:12.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Itulah Sayang</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kepadamu nafas menyatu dalam debur ombak lautan itu,&lt;br /&gt;menggulung batas pasir nadimu yang kian menggemuruh &lt;br /&gt;seakan karang dioyak kalbu rindu cemburu, menelisik ceruk&lt;br /&gt;jauh terbuka, di lelembaran masa-masa dalam irama takdirmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada ragu menapaki janji bertemu mencipta kembali kangen,&lt;br /&gt;senyanyian abadi kaki-kaki kembara menyapai deduri kaktus,&lt;br /&gt;yang liar-meliar juga kerikil cadas menghalangi ingatan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih berkesanggupan memekarkan bunga ketulusan,&lt;br /&gt;menanjaki hari-hari penuh kesungguhan batu penyimpan,&lt;br /&gt;dan dibopongnya mimpi-mimpi menuju pelaminan kabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah keraguan terkumpul, sedang waktu memberi jawab.&lt;br /&gt;Tidakkah harus percepat, sebab pantai memanggil kembali&lt;br /&gt;pertemuan dikoyak takut sungguh cemburu-rindu bertalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari menaiki tangga awan menghujati kota bumi kekasih &lt;br /&gt;biar terfahami di lamun rasa tertumpah di segenap waktu&lt;br /&gt;dunia bersapa ketika matanari bersinggah di hadapannya,&lt;br /&gt;mengambili taburan cahaya-cahaya rasa atas kekisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai waktu, kecup selendang kasih terlayang di hati sebrang &lt;br /&gt;tuntunlah bagi jalan tertempuh agar jiwa menyatu kehangatan,&lt;br /&gt;air pegunungan membasahi rambutmu tergerai kepada malam&lt;br /&gt;-malam tak berujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlaksana benar di setingkap doa malam letih atas jemari restu,&lt;br /&gt;menyatu dalam pergumulan lembar kertas dengan tinta hitammu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-654100424205786313?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/654100424205786313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=654100424205786313' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/654100424205786313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/654100424205786313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/itulah-sayang.html' title='Itulah Sayang'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7864369033221819564</id><published>2008-03-05T17:08:00.001+07:00</published><updated>2008-03-05T17:08:34.475+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Nafasku Atas Nafasmu</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ribuan embun mencipta pagi,&lt;br /&gt;kau punguti serupa kalimat-kalimat tanpa wujud,&lt;br /&gt;sebening hati menebarkan kata-kata wangi bersayap kasih, &lt;br /&gt;kau menghidupkan nafasmu dalam nafasku kisah panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kitab mata air sampai muara, mengajak sampan&lt;br /&gt;menuju ujung pengembaraan, lautanmu serupa langitku biru, dan&lt;br /&gt;burung camar bercanda melewati awan-gemawan batas kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesucian menjelma air gemerincing abadi&lt;br /&gt;melafalkan mantra di dedaun jati diterpa angin malam petapa.&lt;br /&gt;Adakah yang datang kepadamu membawa segenggam cahaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ketika sakit berdemaman mendekati firasat mati,&lt;br /&gt;aku menulis sajak dan puisi, makanya tak ada yang berani:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lenyap dalam tarian mata pena mengepakkan masa&lt;br /&gt;menelusuri rongga dada penuh keringat garam masa-masa&lt;br /&gt;menggelinjak-meliuk di selubung jantung,&lt;br /&gt;kumparan angin mengumpulkan ranting menerbangkan daun&lt;br /&gt;di setiap hembusan, menjelma tarian berpeluk rintian berontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyisir anak-anakan rambutmu saat sangkala menikam senja,&lt;br /&gt;sesulur rimba raya keagungan dewa-dewi sehitam tinta pujangga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7864369033221819564?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7864369033221819564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7864369033221819564' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7864369033221819564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7864369033221819564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/nafasku-atas-nafasmu.html' title='Nafasku Atas Nafasmu'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-3649274254358634405</id><published>2008-03-05T17:07:00.001+07:00</published><updated>2008-03-05T17:07:55.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Percakapan Pantai</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membisikkan suara-suara ke telinga kalem nan tegar&lt;br /&gt;dahi berkerut dijalanan sunyi menyusuri badan sungai&lt;br /&gt;menuruni lembah nurani, melonjaki sakit berseri-serasi,&lt;br /&gt;saat tersandung batu atau reranting patah kemarau lalu,&lt;br /&gt;hendak cita samudra bertemu mata air bernasib serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana mutiara meninggalkan pantai di mata kelana&lt;br /&gt;nyata lilin mencipta pelangi, ada panggilan tak dihirau&lt;br /&gt;walau memecah hening menimpa badan pasir pesisir,&lt;br /&gt;jikalau bekukan kalbu udara bercampur gemintang, dan&lt;br /&gt;malam meleburkan jiwa-raga sejumlah yang dunia ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah terhempas ke ceruk terpejam, sunyi nan tenggelam,&lt;br /&gt;kereta kencana ditarik angin taupan menuju negeri gaib&lt;br /&gt;melepaskan beban tubuh berulang memutari awang-awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlelap kemabukan bagai diayun-ayun kelembutan berulang,&lt;br /&gt;dan sehelai sampur pengikat kenang wengi diusapi kesunyian,&lt;br /&gt;bertanya kesaksian riuh gelombang, membasuh wajah penanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-3649274254358634405?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/3649274254358634405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=3649274254358634405' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/3649274254358634405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/3649274254358634405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/percakapan-pantai.html' title='Percakapan Pantai'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-353480005135748184</id><published>2008-03-05T17:06:00.002+07:00</published><updated>2008-03-05T17:07:17.287+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Serawut Bayang di Lukisan</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupu-kupu ke puncak biru, bila tengah malam&lt;br /&gt;kerlip mata lampu kunang-kunang betebaran,&lt;br /&gt;jikalau lelah terbang sayap cahayanya padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata penjajah berkedip pandang&lt;br /&gt;bebuahan bergelantung di pinggir jalan menanjak&lt;br /&gt;menawarkan kemanisan kenang tubuh tiduran&lt;br /&gt;melamun melipat awan lembut menggulung,&lt;br /&gt;di pepucuk pinus sedingin beludru pebukitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barisan bangau merapat berat kesedihan ditinggal musim,&lt;br /&gt;kabut memanggil diajak menuruni lembah ngarai mata air&lt;br /&gt;gemerincing melonjaki batu-batu mengaliri petak sawah,&lt;br /&gt;merasuk ke persendian jiwa tangkai bunga lepas disapu ombak&lt;br /&gt;terhanyut ke laut, berlayar mawar terhempas ke pantai-pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringat menguap memanggang cawan di pundak,&lt;br /&gt;tetesan tersuling hasrat membumbung ke awan&lt;br /&gt;diikuti pusaran angin ke pegunungan badai,&lt;br /&gt;menitipkan kabut perawan ke pucuk-pucuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa malam mengelus segenap kulit jiwa bergetar&lt;br /&gt;bara percakapan api di relung hitam berulang gelap&lt;br /&gt;di sebelah senyuman terkumpul ragu pada seutas tali,&lt;br /&gt;membenamkan bulan ke dada bintang berdegup meriap&lt;br /&gt;hilangnya bukan kuas bulu kuda, tapi seraut bayang di lukisan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-353480005135748184?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/353480005135748184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=353480005135748184' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/353480005135748184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/353480005135748184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/serawut-bayang-di-lukisan.html' title='Serawut Bayang di Lukisan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7560690897551777428</id><published>2008-03-05T17:06:00.001+07:00</published><updated>2008-03-05T17:06:32.021+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Nyanyian Bengawan</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kau terjerat benang halus kasat mata,&lt;br /&gt;menaiki ketinggian ombak ke mana perginya&lt;br /&gt;bersama bayu tujuan musim perasaan dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemari tangan halus bergelayutan ke mega-mega,&lt;br /&gt;hujan menyirami mimpi-mimpi hampir musna,&lt;br /&gt;perbaiki langkahmu keluar menjelajahi rahasia,&lt;br /&gt;takkan muncul kalau tak ke penghujung masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selendang kau terbangkan warnanya tetap sama&lt;br /&gt;mengunyah bencah melintasi kelebatan cahaya;&lt;br /&gt;musim beruba, sulaman benang takkan pudar,&lt;br /&gt;menyimak nyanyian harum semerbak penanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sanggul rambutmu agar membuhul tanggul,&lt;br /&gt;tapi sesekali geraikan agar tercium kesucian hujan,&lt;br /&gt;awan menyisiri tetangkai angin mempesonakan&lt;br /&gt;cahaya berhamburan di padang membangunkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7560690897551777428?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7560690897551777428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7560690897551777428' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7560690897551777428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7560690897551777428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/nyanyian-bengawan.html' title='Nyanyian Bengawan'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-7419829153076856173</id><published>2008-03-05T17:05:00.001+07:00</published><updated>2008-03-05T17:05:47.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Kenangan Bertemu Kembali</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nurel Javissyarqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awan-gemawan berbondong menutup cahaya purnama,&lt;br /&gt;serupa bayangmu mengendap mencuri pandang jendela,&lt;br /&gt;berharap hujan melalui hasrat mengalir, hening bertemu&lt;br /&gt;riuh ombak di batang sungai jiwa menuju ke pulau setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ganjaran melewati detik keletihan menggerus waktu&lt;br /&gt;selembut aroma kopi di udara melayang jauh ke jurang terpencil&lt;br /&gt;hanya dihuni pagi menyibak sepi melukis ilalang nan dedaunan&lt;br /&gt;diberinya mahkota teratai, menutup diri dengan kelopak baja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu terbakar langit, pebukitan berbara kepulkan asap&lt;br /&gt;menyekutui awan digulungan angin tercecer batuan api&lt;br /&gt;terpanggang di ketinggian ruh memanjat cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpah menjelma debu pemberi suara degupan dada,&lt;br /&gt;memandang senjakala di akhir pelabuhan warangka kata,&lt;br /&gt;pepohonan menari-nari bersamaan angin menanti malam&lt;br /&gt;pulang membelakangi purnama ditunggu kantukmu asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehela masa berbicara kepada tiap harapan melangkah,&lt;br /&gt;denting berhenti di pusaran mata angin nan terbang terhempas&lt;br /&gt;ke tebing-tebing cakrawala manusia, laksana bayangan dimaknai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan, bergentayangan di renung panjang, relung hati insan&lt;br /&gt;menyendiri kekecewaan bersenyum binasa di ujung perpisahan,&lt;br /&gt;jalan sungsang dikuliti hakikat ruh-tulang-turangga menderap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3405508000898180271-7419829153076856173?l=kantongsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kantongsastra.blogspot.com/feeds/7419829153076856173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3405508000898180271&amp;postID=7419829153076856173' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7419829153076856173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3405508000898180271/posts/default/7419829153076856173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kantongsastra.blogspot.com/2008/03/kenangan-bertemu-kembali.html' title='Kenangan Bertemu Kembali'/><author><name>Kantong Sastra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16995130032528120933</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3405508000898180271.post-2782310835068449931</id><published>2008-02-25T16:45:00.000+07:00</published><updated>2008-02-25T16:46:57.205+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya (puisi)'/><title type='text'>Secawan Penuh Mantra</title><content type='html'>Sajak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dulu aku bagaikan puan dari bangsawan terkemuka&lt;br /&gt;yang tinggal di tengah kota impian,  di negri yang sangat menawan&lt;br /&gt;membuat aku terkenang&lt;br /&gt;insan seantero dunia berdatangan sekedar memandang&lt;br /&gt;namun tampangku kini mengenaskan&lt;br /&gt;bagaikan petani sawah di ladang &lt;br /&gt;yang terbengkalaikan,&lt;br /&gt;diacuhkan, dicemooh dan dihinakan&lt;br /&gt;aku sesunggukan tersedu pilu&lt;br /&gt;memanggil putra-putri sulungku&lt;br /&gt;memapah dan memandang tubuhku yang limbung&lt;br /&gt;namun mereka acuh&lt;br /&gt;wajahnya yang kerut seperti ayam kelaparan yang mengais-ngais kakinya&lt;br /&gt;merogoh isi perut bumi&lt;br /&gt;melahap selapar si jago merah&lt;br /&gt;hingga yang tinggal hanya remah-remah belaka&lt;br /&gt;dan putra putri sulungku,  selaknat pengkhianat&lt;br /&gt;dengan pola tingkah lakunya,  sejahanam anak durhaka&lt;br /&gt;dengan menelanjangiku, serta menggadaikan pada cukong-cukong berduit&lt;br /&gt;tubuhku,  dikangkangi, dipaksa untuk menjilat-jilat&lt;br /&gt;aku dirampasi, didera dan diperkosa&lt;br /&gt;layu lunglai, seluruh tubuhku penuh dengan luka&lt;br /&gt;berborok, bernanah dan berkerak&lt;br /&gt;korban dari  nafsu birahi anak-anak si durhaka&lt;br /&gt;auratku,  dipertontonkan ke seluruh dunia&lt;br /&gt;hingga mencibirkan.&lt;br /&gt;Puih… Cuih… Sungguh tak disangka!&lt;br /&gt;negri yang katanya kaya agama kok, setragis buah Simalakama.&lt;br /&gt;aku tertunduk lemas dalam duka lara&lt;br /&gt;bersama busana kebayaku yang dibawa  berlayar ke samudera&lt
