Showing posts with label wacana. Show all posts
Showing posts with label wacana. Show all posts

Monday, July 20, 2009

Segitiga Sastra di Wilayah Borneo

Oleh Korrie Layun Rampan

SEGITIGA sastra di sini dimaksudkan adalah tumbuh dan berkembangnya eksistensi sastra di wilayah Borneo dan Kalimantan. Istilah Borneo meliputi negara Brunei Darussalam dan Malaysia Timur (yang mencakup: Labuan, Sarawak, Sabah) dan wilayah Kalimantan mencakup empat provinsi di Kalimantan: Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah (sebentar lagi akan lahir Provinsi Kalimantan Utara). Sejak 20 tahun lalu dimulai “Dialog Borneo-Kalimantan” yang dilaksanakan di Miri, Sarawak, 27-29 November 1987.

Dialog ini merupakan kegiatan independen yang berada di bawah payung Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). Mastera merupakan kegiatan sastra-budaya yang didasari oleh hubungan timbal-balik antarnegara, khususnya dalam hubungan rekomendasi pemberian hadiah SEA Write Award, Hadiah Mastera, dan Hadiah Sastra Nusantara. “Dialog Borneo-Kalimantan IX”, Agustus 2007 lalu, dalam rekomendasi yang dibacakan Ketua 1 Asterawani Prof Madya Dr. Awang Haji Hashim bin Hj. Abd Hamid pada 5 Agustus 2007 di Hotel Asma Jerudong, Berunei Darussalam bahwa sejak “Dialog Borneo-Kalimantan X” yang diadakan di Kalimantan Timur, 2009, akan memberikan “Hadiah Sastra Sultan Hassal Bolkiah” untuk para penulis sastra dari wilayah “segitiga sastra”, terutama kepada para sastrawan yang tidak dinominasi oleh panitia SEA Write Award, Mastera, maupun Hadiah Sastra Nusantara, meskipun karya-karya mereka sudah sepantasnya mendapat hadiah tersebut.

“Dialog Borneo-Kalimantan IX” yang mengusung tema “Kesusastraan Melayu: Antara Harapan dan Cabaran (Kendala)” menampilkan lima belas makalah yang membicarakan berbagai hal sehubungan keberadaan dan perkembangan sastra di masing-masing negara (wilayah). Indonesia (Kalimantan) diwakili oleh Zulfaisal Putra dari Kalsel, Korrie Layun Rampan (Kaltim-Jakarta) , dan Viddy AD Daery (Lamongan) yang masing-masing menampilkan makalah “Mengenang Kejayaan Rubrik Dahaga di Harian Banjarmasin Post tahun 80-an”, “Sejarah Sastra Kalimantan Timur di Tengah Konstelasi Sastra Indonesia” dan “Dari Kisah Sultan Sandokan dari Brunei: Hingga Hubungan Budaya Kalimantan dan Jawa” (yang dibacakan Hermiyana, SE, karena Viddy sakit).



Ketiga makalah ini menjadi pusat perhatian dari sekitar 150 orang peserta karena mengungkapkan berbagai hal yang “asing” bagi pembaca dan para pemerhati sastra di Brunei dan Malaysia. Ternyata, sejak dialog pertama sampai yang kesembilan ini, kondisi sastra di masing-masing wilayah berkembang sediri-sendiri, justru tanpa saling bisa berdialog, sehingga karya sastra Borneo (Brunei-Malaysia) dan Kalimantan (Indonesia) hanya dinikmati oleh kalangannya sendiri, dan asing bagi pembaca di wilayah lainnya. Sastra Berunei Darussalam dan Malaysia (Labuan, Sabah, Sarawak) tidak dikenal oleh pembaca di Kalimantan (Indonesia), demikian sebaliknya. Sementara menurut Prof Madya Dr. Haji Arbak bin Othman dalam makalahnya “Sajak Borneo: Kajian Interpretan dan Pembentukan Mesej Puisi” sastra yang berkembang di Kalimantan memperlihatkan prosfek profetik dengan nuansa religius yang mendalam di mana sajak-sajak itu banyak menggambarkan kesedihan dan harapan dengan mengutip beberapa baris puisi penyair muda Micky Hidayat (Banjarmasin) dan Shantined (Balikpapan) .

Keasingan dan kehilangan komunikasi juga dipaparkan oleh Mohd Zefri Ariff bin Mohd Zain Ariff dalam makalahnya “Jurutera dan Usahawan Emporium Sastera Melayu” yang membahas diskomunikasi antarsastrawan Borneo-Kalimantan sehingga melahirkan ketidaktahuan terhadap perkembangan pribadi sastrawan maupun perkembangan secara nasional di wilayah masing-masing. Itu sebabnya dialog yang sudah dilakukan ini semestinya dilanjutkan dengan mencari cara terbaik agar sastra di masing-masing wilayah dapat disosialisasikan di wilayah segitiga sastra.

Pada “Dialog Borneo-Kalimantan VII”, 2003, Korrie Layun Rampan sudah mengajukan usul agar diadakan sekretariat di masing-masing wilayah dan sekretariat bersama di suatu negera tertentu yang disepekati. Di samping itu disarankan dibuka penerbitan bersama berupa media massa sejenis Horison (Indonesia), Bahana (Brunei Darussalam), dan Dewan Sastra (Malaysia), penelitian sastra, dan pengkajian yang komperehensif. Kemudian dilakukan penerbitan buku-buku sastra yang dikelola para sastrawan di dalam wilayan “segitiga sastra” tersebut, termasuk penerbitan makalah yang sudah mencapai ratusan jumlahnya. Namun hingga dialog yang terakhir ini, hanya sekretariat bersama yang dapat terealisasi yaitu disanggupi oleh Brunei Darussalam.

“Dialog Borneo-Kalimantan” ini merupakan upaya mengembangkan sastra di wilayah “segitiga sastra” tersebut. Karena itu tema-tema dialog selalu berubah-ubah, sesuai dengan perkembangan isu-isu aktual sastra nasional dan sastra global. Dengan habitat sastrawan yang cukup banyak di wilayah ini, diharapkan dialog ini dapat menyumbangkan karya-karya berkualitas bagi negara masing-masing, sebagaimana tema yang disampaikan pada dialog III di Bandar Sri Begawan, 9-10 Oktober 1992 dengan tema: “Sumbangan Sastra Borneo-Kalimantan terhadap Nusantara”. Meskipun tema ini baru berupa harapan, namun pekerja sastra di lingkaran “segitiga sastra” sangat antusias untuk memberikan sumbangan makna dan nilai-nilai mulia dan tertinggi bagi negara masing-masing.

Dalam hubungan itu, ada lima matlamat yang disampaikan dalam pertemuan kali ini dalam upaya mengembangkan dan melanjutkan tradisi dialog tiga negara ini. Pertama, menonjolkan kepentingan dan sumbangan sastra Melayu dengan mendukung nilai-nilai kemelayuan, keislaman, dan ketuanan bangsa Melayu. Kedua, merincikan peranan sastra Melayu dalam menghadapi gelombang globalisasi. Ketiga, mempertemukan sastrawan, penulis, seniman, budayawan, dan sarjana dari ketiga negera. Keempat, mengangkat martabat penulis (tokoh terdahulu dan kini) dan karyanya dalam jalur sastra Borneo-Kalimantan sebagai sastra Nusantara dan mendunia. Kelima, menjalinkan kerja sama kebahasaan, kesusastraan, dan kebudayaan serumpun antara tiga negera leluhur Melayu yaitu Negara Brunei Darussalam, Malaysia dan Indonesia. Dalam hubungan itu, para peserta bersepakat dengan menyampaikan resolusi (yang diwakili oleh sepuluh orang dari negara masing-masing, termasuk Indonesia yang diwakili Korrie Layun Rampan) bahwa “Dialog Borneo-Kalimantan” tetap diteruskan dan “Dialog Borneo-Kalimantan X” diadakan di Kalimantan Timur (Indonesia), tahun 2009.

* Korrie Layun Rampan, sastrawan, anggota DPRD Kutai Barat, Kaltim

Sumber: Kaltim Post, Rabu, 5 September 2007

Dikutip dari Jurnal Toddopuli, 9 Desember 2008

Friday, June 26, 2009

Bahasa dan Sastra di Kalimantan Tengah serta Permasalahan-Permasalahannya

Oleh J.J. Kusni*


Abstrak

Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah mengalami krisis identitas bermula dari rasa rendah diri sebagai hasil politik ragi usang Belanda, dan dilanjutkan dengan dampak negatif yang lebih besar lagi oleh Orde Baru selama tiga dasawarsa. Rasa rendah diri kolektif dan krisis identitas ini terwujud antara lain dengan penggunaan bahasa Banjar hingga ke kalangan keluarga sebagai entitas terkecil masyarakat. Adanya krisis identitas dan rendah diri, menyebabkan perhatian terhadap bahasa sendiri makin kurang dan terus-menerus melemah. Akibatnya terjadi marjinalisasi budaya sukarela. Jika keadaan begini dibiarkan berlanjut terus-menerus maka bahaya pemusnahan dan bunuh diri budaya secara kolektif oleh tidak adanya kesadaraan budaya menjadi ancaman nyata.Ketika terjadi pemusnahan budaya sukarela tak sadar begini, maka Dayak bisa tinggal hanya nama dan kata hampa makna.

Dunia sastra, baik yang berbahasa Indonesia mau pun yant berbahasa Dayak, nampak seperti kerakap di atas batu, mati segan hidup tak mau. Di kalangan para pendukung sastra ada semacam rasa ketergantungan pada uluran tangan pemerintah kurang semangat mandiri dalam berkesenian. Kekuatan potensial terpencar oleh tidak adanya organisasi yang mampu menghimpun mereka. Organisasi sangat tergantung pada tenaga lokomotif untuk bisa bergerak. Sementara Dewan Kesenian lumpuh, hanya ada namanya.

Sastra berbahasa Dayak, baik lisan atau pun tulisan juga terancam binasa.Kepunahan ini bisa dipercepat oleh tidak adanya kesadaran budaya di dua tingkat yaitu tingkat atas dari pengelola kekuasaan politik yang nampak dengan tidak memiliki politik kebudayaan yang jelas. Dari bawah yaitu di kalangan masyarakat yang larut oleh budaya pop tanpa memahami apa itu budaya pop yang melarutkannya.

Dalam keadaan demikian, maka Kalimantan Tengah termasuk salah satu provinsi yang paling terbelakang dalam bidang kebudayaan.

Kata Kunci : Nilai, Republik dan Indonesia, krisis identitas, rasa rendah diri, politik budaya, dua tingkat, kesadaran budaya, bunuh diri budaya secara kolekti, kemusnahan, Dayak tanpa makna .

1. Pengetengahan Masalah

Yang saya maksudkan dengan bahasa di sini, terutama yang bersangkutan dengan bahasa Dayak Ngaju, sebagai bahasa pengantar dan alat komunikasi antar sub etnik di Kalimantan Tengah (Kalteng). Hal ini perlu saya garisbawahi, karena di Kalteng sejajar dengan jumlah asal etnik warganya, seperti di mana pun, terdiri dari berbagai bahasa, di samping bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Jepang, Perancis, dan lain-lain, tidak saya masukkan kedalam permasalahan, karena jangankan ada karya-karya orang Kalteng yang berbahasa asing, yang berbahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Dayak pun jumlah dan tarafnya pun, dalam perbandingan dengan daerah-daerah masih jadi tanda tanya. Saya memang memandang penting penguasaan bahasa asing, terutama bagi ilmuwan dan sastrawan. Makin banyak bahasa asing yang kita kuasai, makin baik. Dengan menguasai aktif bahasa-bahasa asing kita bisa menimba dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan langsung dari bahasa aslinya. Menunggu penerjemahannya akan membuat kita menunggu beberapa tahun, sementara, ilmu pengetahuan berkembang cepat. Belum lagi terkadang ada kesalahan terjemahan dan perbedaan nuansa. Untuk tingkat sekarang memasukkan masalah bahasa asing dan sastra di Kalteng dalam bahasa-bahasa asing, terasa sebagai mengada-adakan persoalan.

Bahasa, tidak lain dari sarana yang digunakan untuk bersastra. Karena itu sastra bisa juga disebut sebagai seni berbahasa. Seni yang dilahirkan dengan menggunakan sarana bahasa. Sebaliknya karya sastra, pada gilirannya berperan meningkatkan, mendorong perkembangan maju bahasa, memperkaya dan menyempurnakan bahasa. Bukan merusak, memmubat mundur perkembangan bahasa, apalagi memusnahkannya. Dalam perbandingan dari segi jumlah pemakainya bahasa utama yang digunakan di Kalteng, agaknya terdiri dari tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Dayak Ngaju dan Banjar. Sedangkan bahasa Jawa, sekali pun jumlah warga dari Jawa yang datang melalui transmigrasi terancang dan spontan, makin bertambah, hanya bahasa ini, pemakaiannya nampak masih lebih banyak digunakan di kalangan warga asal etnik Jawa saja. Karena alasan demikian, maka dalam tulisan ini ketika memokuskan diri berbicara tentang bahasa Dayak Ngaju, tapi sepintas lalu disinggung juga saling hubungan, pengaruh-mempengaruhi dan susup-menyusup antara ketiga bahasa utama di Kalteng tersebut di atas. Juga ketika membicarakan masalah sastra di Kalteng.

Yang saya pahami ketika berbicara tentang sastra di Kalteng, adalah semua karya sastra dalam bahasa apa pun yang digunakan dalam bersastra di Kalteng. Bukan hanya karya-karya yang diciptakan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak Ngaju, tetapi juga yang menggunakan bahasa-bahasa sub etnik Dayak lainnya. Tapi sejauh ini dalam dunia sastra di propinsi ini karya-karya sastra dominan ditulis atau diciptakan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Dayak. Bahasa-bahasa lainnya, seperti Bugis, Batak, Madura, Jawa tidak atau belum nampak digunakan dalam bersastra. Ada memang seorang penulis yang mulai menulis dalam bahasa Jawa tetapi belum disiarkan, dan jumlahnya masih tidak penting. Karena itu, dalam tulisan ini, masalah sastra di Kalteng menjadi terbatas pada sastra yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Dayak. Saya masukkan juga dalam kategori sastra di Kalteng adalah sastra lisan dalam berbagai bahasa Dayak.

Alasan saya memasukkan sastra lisan, karena sastra jenis ini sangat mentradisi di Kalteng sampai sekarang, seperti diperlihatkan oleh sansana kayau, karungut, deder, legenda-legenda dan cerita-cerita rakyat.

Apa masalah bahasa dan sastra, dengan kata lain, bagaimana keadaan bahasa dan sastra di Kalteng, yang menjadi tema tulisan ini sesungguhnya tidak lain dari upaya membaca keadaan. Dari membaca keadaan tersebut, kita mengenal masalah, dan setelah mengenal permasalahan, kita bisa mengembangkan yang positif, serta mengatasi yang negatif atau kendala-kendala yang merintangi jalan maju. Dalam membaca keadaan, saya menggunakan sedikit pengalaman ketika turut bekerja dalam kegiatan sastra-seni selama berada di Kalteng hingga tahun 2002, ketika kembali ke Kalteng, saya mencoba berbincang langsung dengan teman-teman lama yang masih tinggal di Kalteng, dan teman-teman baru yang berkecimpung di dunia bahasa dan sastra. Mencermati penerbitan-penerbitan baik buku-buku, harian-harian seperti Dayak Pos, Kalteng Pos, Palangkaraya Pos, majalah, tabloid, Majalah Suar Betang, dan bulletin-buletin informasi alternatif, berbincang dengan orang-orang dari berbagai lembaga serta kalangan-kalangan terkait, termasuk para seniman baik yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat ekspresi mau bahasa-bahasa Dayak, dan memasuki toko-toko buku, kios-kios, mendatangi perpustakaan-perpustakaan daerah serta universitas, terutama Perpustakaan Universitas Negeri Palangka Raya untuk menakar tingkat bacaan di Kalteng. Sekali pun demikian, saya masih menganggap data-data saya masih terbatas, apalagi diganggu oleh tersebarnya dokumentasi saya oleh seringnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu tulisan ini tidak lebih dari upaya “melempar batu bata untuk mendapatkan giok belaka”, bersifat penuturan keadaan sebagai buah pengamatan, betapa pun masih tak lebih dari hasil penglihatan seseorang yang berada “di punggung kuda sambil melihat bunga”. Sebuah deskripsi keadaan dalam usaha membaca peta keadaan untuk mengenal masalah sebagai langkah awal utama guna menyelesaikan demi pengembangan, revitalisasi kehidupan sastra-seni di propinsi, melakukan kegiatan-kegiatan bersastra atas dasar suatu rancangan mengakar, bukan rancangan rekaan subyektif. Atas dasar pengenalan keadaan pulalah, barangkali, kemudian kita merumuskan suatu politik bahasa, politik sastra-seni atau secara umum, merumuskan suatu politik kebudayaan yang tanggap dan apresiatif untuk Kalteng sebagai pengejawantahan dari rangkaian nilai perekat berbangsa dan bernegara, yaitu rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan. Adakah politik kebudayaan tanggap di Kalteng? Jika ada, bagaimanakah jelasnya politik kebudayaan tersebut? Adakah dan bagaimanakah politik bahasa di Kalteng? Jika ada, bagaimana kongkretnya? Jika ada, bagaimana pengejawantahannya?

2. Republik dan Indonesia sebagai Bagan Besar (Grand Design)

Di Paris, pada jam 23:00 malam, Adian Silalahi dan Mohamad Ichsan, dua Duta Besar Republik Indonesia beserta sejumlah diplomat-diplomat teras lainnya dari Perancis dan Negeri Belanda secara khusus datang ke Koperasi Restoran Indonesia 1), 12 Rue Vaugirard, 75006 Paris. Mereka datang bukan untuk makan, tetapi untuk berdialog. Penulis kebetulan hadir dalam dialog akrab. Pada diskusi tersebut . Dubes Moh. Ichsan, antara lain mengemukakan evaluasinya bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan krisis, ketiadaan ide perekat untuk berbngsa dan bernegara. Menanggapi pendapat Moh. Ichsan demikian, saya katakana bahwa pandangan demikian barangkali tidak tepat. Kita sudah mempunyai ide perekat berbangsa dan bernegara. Masalahnya barangkali terletak pada diabaikannya, bahkan dipinggirkannya ide perekat itu, sehingga untuk suatu kurun waktu berdasawarsa, RI berobah dari repubublik menjadi suatu kerajaan neo-feodal tipe Mataram. Politik kebudayaan Jawanisasi berlangsung menggantikan Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai, program, cita-cita dan politik kebudayaan. Republik sebagai rangkaian nilai berisikan nilai-nilai kemerdekaan, kesetaraan dan persamaan (liberté, égalité et fraternité) 2)

Kita semua fasih menyebut Republik Indonesia (RI). Selain sebagai bentuk Negara, Republik Indonesia yang terdiri dari kata-kata Republik dan Indonesia, saya kira juga merupakan serangkaian nilai. Sedangkan Indonesia atau berkeindonesiaan mengandung penghormatan dan penjunjungan terhadap kemajemukan, pandangan yang ditandaskan dalam motto “bhinneka tunggal ika”. Indonesia dan berkeindonesiaan dengan demikian menentang pikiran tunggal (la pensée unique) dalam berbagai bentuk seperti otoritarianisme, diktaturialisme, paternalisme, primordialisme, feodalisme, neo-feodalisme, dan militerisme. Di segi lain berkindonesiaan juga mengandung makna bahwa bangsa kita menolak “besarisme”, baik ia dalam bentuk suku, agama atau aliran. Berkeindonesiaan berarti memandang bahwa kemajemukan itu suatu realita yang indah, sedangkan penyeragaman itu membawa kita ke jurang bahaya bertentangan dengan hakekat manusia. Saya melihat bahwa konsep ini pernah diwujudkan oleh sistem betang 3) terhadap warganya. Konsep budaya betang agaknya berbeda dengan sistem Negara kota zaman Yunani Kuno yang di Barat dipandang sebagai contoh serta janin demokrasi Barat sekarang. Bedanya, budaya rumah betang, tidak mengenal budak, sedangkan Negara Kota Yunani Kuno terdapat budak-budak dan budak tidak dipandang sebagai warganegara. Dalam konsep budaya rumah betang terdapat keserasian antara hubungan indidivu dengan kolektif betang.

Untuk waktu yang lama sebenarnya kita mentrapkan politik kebudayaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan, ketika kita berpatokan pada UUD 1945 yang antara lain mengatakan bahwa yang disebut kebudayaan Indonesia adalah “puncak-puncak kebudayaan daerah”. Siapakah yang mengukur budaya daerah ini dan itu adalah puncak atau tidak puncak? Apa standarnya? Yang sering terjadi adalah para penyelenggara Negara yang kebetulan banyak berasal dari suku mayoritas yaitu Jawa. Perumusan UU ’45 di atas memberi peluang untuk mengembangkan suku besarisme. NKRI yang ditafsirkan secara semena-mena sebagai sistem sentralistik dengan hasil-hasil negatifnya, saya kira juga bentuk lain dari pengingkaran terhadap nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan. Republik dan Indonesia adalah grand design bagi kita dalam hidup bernegeri, berbangsa dan bernegara.

Guna mewujudkan grand design (bagan besar) ini dalam bidang kebudayaan, termasuk dalam dunia sastra-seni, saya kira wacana sastra-seni kepulauan lebih rasuk daripada pemusatan nilai dan sentra-sentra legalitas kebudayaan. Tersebarnya universitas-universitas dan perguruan-perguruan tinggi di berbagai pulau, sebagai motor dan pendukung pengembangan kebudayaan, termasuk sastra-seni, syarat untuk mewujudkan dan mengembangkan sastra-seni kepulauan makin besar dan nyata. Di daerah-daerah dan pulau-pulau tumbuh komunitas-komunitas sastra-seni. Menurut perkiraan Gola Gong, tokoh utama dari Komunitas Sastra-Seni « Rumah Dunia » Serang, Banten, sampai tahun lalu, di Indonesia paling tidak terdapat 7000 komunitas sastra-seni. Berbagai pertemuan tukar pengalaman antar komunitas ini telah berlangsung di Kudus, Jambi,Yogyakarta, Lampung, Serang. Yang paling peting dari pertemuan demikian adalah pertemuan « Ode Kampung » yang berlangsung di Serang saban tahun, pada kesematan mana berkumpul ratusan komunitas dari berbagai penjuru tanahair. 4) Adanya komunitas-komuitas begini secara nyata melakukan desentralisasi kegiatan kebudayaan dan desentralisasi nilai sekaligus. Jakarta, Yogya, Bandung tidak lagi dipandang sebagai standar nilai. Sayangnya dalam pertemuan-pertemuan antar komunitas sastra-seni demikian, sampai sekarang tidak pernah terdengar adanya wakil dari Kalteng, keadaan yang barangkali memperlihatkan tingkat kegiatan sastra-seni di provinsi ke-17 ini. Mengapa kegiatan sastra-seni di Kalteng nampak lesu? Bahkan dari Majalah Suar Betang, Palangka Raya, Jurnal Kebahasaan, Kesastraan, dan Pengajarannya, terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, penulis-penulis asal etnik Dayak yang mengisinya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Masalah yang diangkat oleh Majalah juga nampak asing dari permasalahan lokal. Pertanyaan saya, diapakan dan di kemanakan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Bahasa? Mengapa tidak disiarkan di Majalah Suar Betang, sehingga sesuai namanya “Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah”, majalah mencerminkan sedikit banyak permasalahan lokal. Tidak hanya namanya saja Majalah terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah tapi masalah Kalimantan Tengah dan Suar Betang hanya dijadikan papan nama. Persentase isi nomor-nomor yang saya baca 5), lebih banyak bersifat umum nasional daripada mengangkat permasalahan daerah. Apa bagaimana dan mau ke mana majalah ini dan Balai Bahasa Kalteng? Apa bagaimana politik kebudayaan dan bahasa yang dipegangnya? Di mana tempat Kalteng? Apakah Balai Bahasa tidak menganggap ada masalah dalam bahasa di Kalteng? Apakah benar bahwa di Kalimantan Tengah, tidak terdapat masalah dalam bahasa-bahasa yang perlu diselesaikan? Saya khawatir bahwa dalam bidang kebudayaan, bahasa dan sastra pun di Kalteng terjadi yang dikatakan oleh tetua Dayak bahwa “tempun petak batana saré, tempun uyah batawah belai, tempun kajang bisa puat” (punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa, punya atap basah muatan). Kemalangan bernama marjinalisasi begini hanya teratasi dengan politik budaya yang republiken dan berkeindonesiaan, sementara politik kebudayaan yang jelas tidak saya lihat di provinsi ini. Sastra-seni pun mengalami kehidupan seperti kerakap di atas batu, mati segan hidup tak mau, jika menggunakan istilah Aliemha Huda, seorang seniman teater Kalteng.

1. Apa yang kita dialogkan jika seragam. “Kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal”, ujar filosof Perancis, Paul Ricoeur. Dan “kebudayaan lokal merupakan bahasa untuk berdialog dengan budaya lain di dunia”, tambah filosof tersebut yang meninggal pada bulan Mei 2008 lalu di Paris.

Apabila Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 32 menyebutkan bahwa “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional” maka sastra daerah yang menggunakan bahasa daerah pun merupakan bagian dari khazanah kebudayaan nasional, tidak perduli, apakah karya-karya tersebut “puncak” atau tidak puncak. Kalau demikian maka sebagai konsekwensi logis dari ketetapan Undang-undang Dasar di atas adalah suatu kewajiban juga bagi pemerintah daerah, cq. Balai Bahasa, Dinas Kebudayaan dan dinas-dinas terkait, termasuk Walikota, serta berbagai lembaga kemasyarakatan lainnya untuk mengembangkan bahasa-bahasa Dayak dan kebudayaan, sastra-seni Dayak.

3. Masalah Bahasa di Kalimantan Tengah

Sejak pertama kali saya kembali ke Kalimantan Tengah pada tahun 1998, setelah meninggalkannya pada usia 11 tahun, saya kaget mendapatkan bahwa tidak sedikit keluarga Dayak yang berbahasa dengan anak-anaknya dalam bahasa Banjar. Demikian juga anak-anak muda muda Dayak berbicara sesamanya tidak menggunakan bahasa Dayak Ngaju, bahasa pengantar umum di kalangan orang Dayak di Kalimantan Tengah, tapi lagi-lagi menggunakan bahasa Banjar. Bahasa Banjar seakan-akan bahasa ibunya. Ketika saya pulang tahun 2009 ini, keadaan demikian masih saja berlangsung. Bahkan menurut keterangan Rolan Iso, salah seorang pemimpin organisasi mahasiswa Katolik yang meluangkan waktu menjumpai saya di Wisma Edelweis Jalan Yos Sudarso 95, Palangka Raya, mengatakan ada anak Dayak yang sama sekali tidak bisa beebahasa Dayak karena di rumahnya anak tersebut tidak diajarkan berbahasa Dayak. Oleh kenyataan demikian, paman Rolan dengan marah berkata: “Kalian ini hanya mengaku Dayak jika menginginkan jabatan, padahal sesungguhnya dalam perbuatan kalian telah mengkhianati Dayak, mengingkari diri kalian sebagai orang Dayak”. Jauh sebelum 1992, di tahun mana Kongres Nasional Dayak dilangsungkan di Pontianak, tidak sedikit orang Dayak yang malu bahkan tidak mau mengaku diri orang Dayak. Menanggapi sikap begini, maka untuk mengakhiri polemik panjang bertahun-tahun tentang kata Dayak atau Daya, atau Dyak, guna menamakan komunitas masyarakat yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Kongres sepakat memutuskan untuk menerima dan selanjutnya menggunakan kata Dayak, walau pun Belanda sejak lebih seabad lamanya menyebut manusia Dayak sebagai Dajakers berarti segala kejahatan dan keburukan. Pemburukan orang Dayak oleh Belanda dilakukan sebagai bentuk agresi kebudayaan bersamaan dengan pelaksanaan politik budaya ragi usang 6)-nya. Setelah melihat bahwa agresi kebudayaannya tidak sepenuhnya berhasil, kemudian Belanda melancarkan agresi bersenjata atau fisik, dikonsolidasi dengan pendidikan dengan mengutamakan sub-suku tertentu sehingga sub-sub suku tertentu ini merasakan diri sebagai “bangsawan Dayak”. Dalam perang gerilya di Kalimantan “bangsawan Dayak” atau elit baru Dayak ini, umumnya menjadi kolaborator Belanda seperti yang terjadi di Kasongan, sekarang ibukota kabupaten Katingan.

Dengan alasan menjaga “kesatuan dan persatuan” bangsa dan negara sesuai konsep sentralistik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), konsep Manusia Baru Indonesia, dan Manusia Pancasilais, melawan SARA, Orde Baru melanjutkan politik rgi usang dengan lebih keras sejalan dengan pendekatan “keamanan dan stabilitas nasional”, dan Golkarisasi, dengan hasil merusak lebih dahsyat. Struktur dan lembaga-lembaga Masyarakat Adat Dayak dirusak. Lembaga Damang digolkarkan.

Dampak dari agresi budaya dan politik ragi usang ini menumbuhkan rasa rendah diri, seperti malu dan tidak mau mengaku Dayak di tengah pergaulan umum. Rasa rendah diri.

Melalui keputusan di atas, Kongres mengobah kata yang berkonotasi buruk dengan mengisinya dengan kualitas baru sehingga mengobah makna kata Dayak yang semula. Mengobah yang negatif menjadi positif sebagai salah satu sisi dari hal ikhwal. Tapi agaknya keputusan Kongres tidak serta-merta mengakhiri rasa rendah diri tersebut, sampai-sampai dalam keluarga, entitas terkecil masyarakat, bahasa yang digunakan bukanlah bahasa Dayak, tetapi bahasa Banjar. Bahasa Banjar dijadikan sebagai jubah pembungkus rasa rendah diri saja.

Seriusnya gejala begini sampai menarik perhatian Gereja Kalimantan Evangelis hingga pada 10 Mei 2009 yang lalu, secara khusus menyelenggarakan seminar sehari membahas masalah ini.7) . Dalam makalahnya Pendeta Tawar Soewardji, M.Th. 8), antara lain menulis:

“Sekarang memang terjadi pergeseran, khususnya di daerah perkotaan.

1. Di lingkungan gereja. Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa liturgis, porsinya semakin kecil. Dalam ibadah mnggu dengan bahasa daerah (Ngaju dan Maayan) yang hadir rata-rata sedikit jika dibandingkan dalam ibadah bahasa Indonesia. Biasanya kebanyakan yang hadir kaum tua. Kenapa? Sebabnya antara lain: (1). Sebagian besar warga jemaat terbiasa beribadah dalam bahasa Indonesia. (2). Kaum muda tidak terlalu memahamibahasa daerah secara mendalam. Sehingga ada istilah-istilah dalam bahasa daerah yang tidak dipahami dengan baik. (3). Anak-anak, remaja, pemuda, sejak Sekolah Minggu, kelas katekasi serta kegiatan remaja dan pemuda, bahasa pengantarnya adalah bahasa Indonesiaa. (4). Para pendeta (khususnya angkatan muda) sebagian besar masih kurang pengalaman dalam memimpin ibadah bahasa daerah.
2. Dalam lingkut keluarga. Tidak semua keluarga menggunakan bahasa daerah secara intens dalam berkomunikasi di lingkup keluarga. Bahasa Banjar atau bahasa Indonesia secara umum dipergunakan.
3. Bahasa pergaulan (di sekolah) dan bahasa “pasar”, cenderung menggunakan bahasa Banjar”.

Berdasarkan pengamatan demikian maka Pendeta Tawar Soewardji, berkesimpulan bahwa “… ada indikasi menurunnya penggunaan bahasa daerah di lingkup perkotaan”.

Keadaan demikian juga dilihat oleh Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) sehingga dalam Rencana Tindak Lanjut Program Kerja Majelis Adat Nasional Tahun 2008-2010, Hasil Rakernas IMADN tanggal 26-29 Mei 2008 di Palangka Raya, dalam “Bidang Seni Budaya”, titik 28 dituliskan dengan tandas agar:

“Mewajibkan penggunaan bahasa Dayak di lingkungan keluarga Dayak, untuk melestarikan kekayaan budaya Dayak sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia” 9), sedangkan di bidang pendidikan, titik 46, MADN berpendirian perlu:

“Mendesak Pemerintah dan Pemerintah Daerah agar muatan lokal tentang seni budaya, adat-istiadat dan hukum adat Dayak mulai tingkat SD,SLTP hingga SLTA diterapkan di seluruh wilayah Pulau Kalimantan”. 10)

Gejala ini pun agaknya dilihat oleh pihak Dinas Kebudayaan yang ketika berbicara di peluncuran buku “The Ot Danum From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan (Based On Tatum) Their Histories And Legends” tulisan Abdul Fatah Nahan dan Duhing Dihit Rampai (bentuk fotokopie , 38 cerita), 27 April 2009 dalam rangka merayakan Hari Bumi di Palma, antara lain mengatakan tentang “kemerosotan nilai-nilai Dayak”. 11)

Terhadap gejala ini, salah seorang tokoh cendekiawan dan masyarakat Dayak di Palangka Raya, menjawab pertanyaan saya menjelaskan bahwa “keadaan demikian terjadi karena bahasa Banjar adalah bahasa elit”. Artinya bahasa-bahasa Dayak tidak elit. Bahasa-bahasa rendahan atau kaum rendahan. Sayangnya, “tokoh” cendekiawan dan masyarakat ini tidak menjelaskan di mana letak elitnya bahasa Banjar dan di mana tidak elitnya bahasa Dayak.

Tuturan di atas barangkali bisa memperlihatkan masalah yang dihadapi oleh bahasa-bahasa Dayak. Jika tidak awas, bukan tidak mungkin bahwa cepat atau lambat bahasa-bahasa Dayak itu akan melenyap. Keadaan di atas pula memperlihatkan bahwa komunitas Dayak masih dan terus-menerus menghadapi masalah identitas. Makin melemahnya posisi bahasa Dayak Ngaju hanyalah merupakan satu indikasi penting sebelum ramalan antropolog Barat tentang melenyapnya suku Dayak menjadi kenyataan. Lemahnya identitas manusia Dayak begini, saya kira, disebabkan karena pandangan dan sikap orang Dayak sendiri, sehingga jika kemudian pelenyapan maka ia bisa dikatakan sebagai sikap bunuh diri budaya. Orang Dayak tidak bisa menghargai khazanah budaya sendiri dan diri sendiri. Dengan mempertahankan pandangan dan sikap begini, orang Dayak meminggirkan diri sendiri dan secara sukarela mengasingkan diri dari Tanah Dayak. Bersamaan dengan gejala bunuh diri dan pengasingan diri sukarela ini, saya juga melihat larutnya masyarakat Dayak ke pusaran budaya pop.12)

Ancaman begini, saya ingin hadapkan dengan apa yang ditulis oleh Dr. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, dalam Suar Betang:

“Di sisi lain, pemeliharaan bahasa daerah meliputi upaya perlindungan bahasa daerah dari kepunahannya agar tetap eksis dalam kehidupan penuturnya. Perlindungan itu dilakukan antara lain melalui revitalisasi kedudukan dan fungsi bahasa, termasuk aksara, dan sastra daerah dalam ranah-ranah penggunaannya di dalam masyarakat pendukungnya”. 13)

Yang ingin saya garis bawahi dari kalimat-kalimat Dr. Dendy Sugono di atas adalah sinyalemennya tentang bahaya « kepunahan” sebuah bahasa, yang memang banyak terjadi di dunia. Apalagi, sejauh ini saya tidak melihat upaya kongkret dari lembaga ini dan itu untuk mencegah “kepunahan” bahasa-bahasa Dayak. Di tengah ancaman “kepunahan” ini, saya girang menyaksikan prakarsa Anthony Nyahu, seorang linguist muda usia asal Katingan untuk menerbitkan Buletin Tamuei dalam bahasa Dayak Ngaju. Buletin Tamuei, betapa pun sederhananya merupakan penerbitan pertama yang sepenuhnya menggunakan bahasa Dayak Ngaju. Barangkali sambutan terhadap Buletin Tamuei ini bisa dijadikan barometer kesadaran berbudaya orang Dayak, gantang penakar sejauh mana orang Dayak bisa menghargai budaya, bahasa dan diri mereka sendiri. Saya berharap,mudah-mudahan Buletin Tamuei bisa mendorong tumbuh berkembangnya penulis-penulis berbahasa Dayak dan memberikan sumbangan dalam penyediaan muatan lokal untuk sekolah-sekolah. Tentang bahan-bahan untuk muatan lokal ini, sampai sekarang agaknya lebih banyak isi dari suatu keputusan rapat kerja, konfrensi dan kongres, tapi tidak diikuti dengan tindak lanjut yang nyata, sehingga keputusan-keputusan dan resolusi-resolusi tinggal jadi huruf-huruf mati di kertas-kertas yang kian menguning oleh perjalanan waktu.

Apabila Dr. Dendy Sugono mengatakan bahwa “Pusat Bahasa telah melakukan sekitar 2500 penelitian berbagai aspek kebahasaan dan kesastraan sejak tahun 1974”, 14) yang berarti rata telah melakukan sekitar 17-18 penelitian setiap tahun atau kurang lebih satu penelitian saban bulan (apakah dilihat dari skala nasional jumlah ini cukup berarti?), yang saya tanyakan “diapakan dan di kemanakan hasil penelitian itu, termasuk hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Kalimantan Tengah? Mengapa hasil penelitian itu tidak dijadikan milik masyarakat dengan menerbitkannya secara luas, paling tidak disiarkan melalui Suar Betang?”. Apakah usaha mencegah ancaman kepunahan terhadap sebuah bahasa bisa ditangani oleh Balai Bahasa sendiri? Ataukah riset dilakukan untuk riset saja, tidak dikerjakan dengan pendirian seorang cendekiawan organik?

Berbicara soal kepunahan sebuah bahasa, serta-merta saya teringat akan bagaimana orang Perancis memelihara, mengembangkan dan menyempurnakan bahasa mereka. Saya teringat akan Bernard Pivot yang mengatakan bahwa sebuah kata setara dengan sebatang pohon di hutan yang kelestariannya perlu dijaga. Saya teringat akan kuis-kuis dalam berbagai bentuk dan acara, dimanfaatkan sekaligus untuk mememelihara dan mengembangkan bahasa. Bagaimana kemudian setiap tahun l’Académie Française, lembaga pengembangan bahasa, memasukkan kata-kata baru dalam Kamus Robert yang merupakan kamus standar. Bagaimana koran-koran, radio dan televisi turut urun yuran melakukannya. Teringat juga bagaimana politik bahasa di zaman Soekarno yang memandang penting peran bahasa daerah dalam pengembangan dan penyempurnaan serta pemerkayaan bahasa Indonesia. Bahasa daerah dan bahasa Indonesia, dilihat mempunyai hubungan saling mendekat dan mengisi. Bahasa gado-gado belum berkembang. Ada usaha untuk mendemokratisasikan bahasa Indonesia. Dengan ingatan-ingatan tersebut saya memandang perkembangan bahasa Indonesia dan daerah sekarang dengan perasaan berdebar. Akankah bahasa Dayak Ngaju punah, akankah bahasa Katingan melenyap oleh pola pikir dan mentalitas kita sendiri? Bahasa adalah alat berpikir dan mengembangkan diri. Dari kemampuan berbahasa juga kita bisa melihat tingkat kesadaran berbahasa dan tingkat pemikiran seseorang.

4. Masalah Sastra di Kalimantan Tengah

Seperti saya katakan di atas, dalam titik ini saya membatasi diri pada sastra yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak, terutama Dayak Ngaju.

Beberapa nama yang aktif dalam dunia sastra yang menggunakan bahasa Indonesia adalah Aliemha Huda (pimpinan Komunitas Terapung), Davy, M. Anwar MH., Supardi, Pudji Santosa,Munir. Mereka adalah penulis-penulis asal Jawa yang menetap di Kalimantan Tengah. Sedangkan penulis-penulis asal Dayak sendiri antara lain Ben Abel, Sandy Firly kelahiran Kuala Pambuang, Sungai Seruyan, Jeanyta Addiststy, Ranny Djandam, Marko Mahin, Anthony Nyahu, Nila Riwut. Salawati Taher, Danar, Anse Srineni, Ambu Naptamis, Titin, Abdul Fatah Nahan, During Dihit Rampai, Kurnia Untel. Sedangkan dari angkatan lebih tua terdapat nama-nama seperti Tjilik Riwut, T.T. Suan, Prof. K.M.A.Usop, dan lain-lain. Kalau pengamatan saya tidak salah, agaknya antara generasi yang lebih tua dengan generasi yang sekarang, seakan-akan terdapat suatu hubungan terputus. Barangkali karena syarat mereka lahir dan membesar sudah sangat berbeda. Angkatan yang lebih tua, lahir dan besar di masa perjuangan melawan penjajahan, sedangkan generasi yang tumbuh belakangan hidup di saat Kalimantan Tengah sudah berdiri. Generasi yang belakangan, pada umumnya berkesempatan mengenyam pendidikan yang teratur, sedangkan yang terdahulu bersandar pada otodidak. Keterputusan ini pun barangkali terdapat pada wacana. Perbedaan latar belakang begini mempunyai pengaruh terhadap karya-karya mereka. Keterputusan ini terdapat lebih besar lagi dengan sastrawan-sastrawan yang berasal dari luar Kalimantan Tengah, terutama yang dari Jawa. Mereka asyik dengan kegiatan mencipta mereka dalam bahasa Indonesia. Sekali pun mereka berbicara tentang Kalimantan Tengah, tapi terasa mereka kurang menghayati permasalahan di Kalimantan Tengah di mana mereka berkeputusan untuk menetap. Bisa dimengerti jika mereka menulis tentang Kalimantan tetapi dengan pola pikiran dan perasaan Jawa di mana mereka dilahirkan dan melampaui periode pembentukan diri mereka sebagai manusia. Barangkali karena itu pula maka antara seniman-seniman asal luar Kalimantan Tengah dan yang Dayak, sampai sekarang nampak sulit untuk terjalinnya komunikasi serta kerjasama walau pun mereka sama-sama bergerak di satu bidang, yaitu bidang sastra. Dahulu, sekitar tahun 2000an terdapat seorang bernama Andi Burhanudin, penyair dan novelis dalam bahasa Indonesia, asal Bugis. Andi sangat aktif dan gesit. Berjasa dalam turut menggerakkan kegiatan sastra berbahasa Indonesia di Kalimantan Tengah pada saat ia bekerja di Kalimantan Tengah. Tapi seperti penulis-penulis lain asal luar Kalimantan Tengah, sekali pun ia menulis tentang Kalimantan Tengah, tapi seakan jauh dari Kalimantan Tengah. Jiwa masalah Kalimantan tetap tidak ia resapi. Saya bertanya-tanya, sekian tahun mereka di Kalimantan Tengah, berapa banyak mereka yang bisa berbahasa Dayak Ngaju tanda minat untuk berbaur dengan masyarakat lokal. Saya juga tidak tahu, apakah hal ini disebabkan karena kekurangan perhatian mereka terhadap politik dan memandang bersastra tidak perlu tahu politik, apakah karena mereka masih belum jauh membaur, maka penghayatan mereka jadi minim? Berada lama, betapapun lamanya, tidak menjamin seseorang mengenal jiwa tempat di mana kita tinggal. Andaikan pembauran ini terjadi, para seniman itu akan mendapatkan betapa dengan pembauran itu mereka mendapatkan sumber ilham berkreasi yang kaya raya. Betapa pun mereka, tetap merupakan tenaga-tenaga potensial guna memarakkan kehidupan bersastra di Kalimantan Tengah. Jika penulis-penulis berbahasa Indonesia berasal Dayak bisa bekerja bersama-sama dengan sastrawan-sastrawan non Dayak, saya kira akan menjadi suatu melahirkan kekuatan berarti dalam mengembangkan sastra berbahasa Indonesia di provinsi ini. Menghimpun semua potensi ini, saya kira merupakan satu persoalan yang patut dilakukan.

Dalam hal pembauran ini, jalan yang ditempuh oleh Eddi Bika, seorang pekerja filem asal Malang, Jawa Timur lain lagi. Ia tidak tinggal di Palangka Raya, tapi di sebuah desa, jauh di hulu Katingan, di Kecamatan Pulau Malan. Ia langsung menceburkan diri ke tengah-tengah petani desa Tura yang telah diabadikannya dalam sebuah filem dokumenter berjudul « Petak Danom Itah » (Tanah Air Kita), berdasarkan konsep « rakyat membuat filem tentang diri mereka sendiri ». Jalan begini, baru pertama kali ditempuh oleh mereka yang berasal dari Jawa atau dari daerah-daerah lainnya di luar Kalimantan Tengah. Saya percaya, dari tangan Eddi Bika kelak kemudian bukan saja akan lahir karya-karya filem baru, tetapi juga puisi, esai, cerpen bahkan novel yang menarik. Eddi Bika dan keluarganya terjun ke sumber kreasi yang penuh kemungkinan.

Dalam usaha menjembatani jarak antara seniman-seniman Dayak dan non Dayak, pada masa pemerintahan Gubernur Wasito, disponsori oleh Dinas Parawisata, sekitar tahun 199an telah dicoba membangun Dewan Kesenian Palangka Raya, dengan Ketua Umum JJ.Kusni. Di Dewan Kesenian Kalimantan Tengah ini semua seniman dari semua etnik berhimpun. Melalui kerja keras, program rinci selesai dikerjakan. Oleh Gubernur Wasito, hasil rapat dan diskusi berminggu-minggu dianulir dengan “mengangkat” JJ. Kusni sebagai penasehat diganti oleh M.Anwar MH. Dewan Kesenian lumpuh. Setelah itu, untuk mengatasi kelumpuhan Dewan Kesenian, atas prakarsa para seniman dari berbagai asal etnik membangun Ikatan Sastrawan Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah dengan JJ.Kusni didaulat untuk menjadi Ketua Umumnya, dan Salundik Gohong, walikota Palangka Raya pada waktu itu sebagai penasehat . Kegiatan sastra berbahasa menunjukan geliatnya. Radio, televisi, koran-koran, diisi secara teratur oleh anggota-anggota ISASI. Peluncuran buku, pembacaan puisi dilakukan. Diskusi berkala berlangsung di kantor ISASI yang menggunakan sebuah KONI di dekat Bundaran Besar. Majalah Dermaga organ ISASI yang memuat karya-karya para anggota ISASI terbit dengan teratur. Beberapa kumpulan puisi berhasil diterbitkan. Aliemha Huda menyebut periode ini sebagai “masa keemasan” sastra berbahasa Indonesia di Kalimantan Tengah.

Di luar dugaan, JJ. Kusni oleh penguasa tertentu di Palangka Raya dilarang menduduki tempat Ketua Umum. Sebagai protes, para seniman yang tergabung di ISASI, baik yang Dayak atau pun non Dayak, membiarkan jabatan Ketua Umum kosong. JJ.Kusni dan beberapa teman pengurus inti ISASI oleh satu dan lain sebab meninggalkan Kalimantan Tengah. Supardi yang dipilih sebagai Ketua Umum ISASI terlalu sibuk. ISASI tak obah kandil redup sampai sekarang. Dewan Kesenian pun hanya tinggal nama dengan deretan pengurusnya, kosong kegiatan.

Dalam diskusi tentang Sastra Bahasa Indonesia di Kalimantan Tengah bertempat di rumah M. Anwar MH, 11 Mei 2009, Makmur Anwar MH mengatakan bahwa pasang-surutnya kegiatan bersastra di Kalimantan Tengah banyak tergantung pada perhatian penguasa pada suatu waktu. Jika petinggi daerah mempunyai perhatian pada sasatra-seni maka kegiatan berkesenian akan marak. Sedangkan bank-bank semegah apa pun gedungnya di Palangka Raya, tidak bisa diharapkan uluran tangan mereka.

Saya tidak menyanggah peran petinggi daerah dan bank-bank dalam memarakkan kegiatan berkesenian di Palangka Raya. Tapi di atas segalanya saya menitikan faktor dalam para seniman. Agaknya sekarang mereka menjadi kekuatan yang terpencar, tidak terhimpun. Asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Perhatian dan uluran tangan petinggi dan bank-bank adalah faktor luar. Jika bersandar pada faktor luar ini, tanpa usaha mandiri dan bersastra secara mandiri, maka kehidupan sastra akan naik turun tak menentu karena tergantung pada unsur luar. Yang paling penting, saya kira tetap terletak pada upaya para seniman sendiri, sebagai faktor intern. Tanpa bersandar pada faktor intern kegiatan bersastra tidak bakal ajeg. Untuk mempertahankan keajegan ini, agaknya diperlukan organisator dan motor atau lokomotif. Apabila setelah beberapa tenaga inti ISASI meninggalkan Kalimantan Tengah atau Palangka Raya, ISASI lalu lumpuh, agaknya tenaga-tenaga tersebut sekaligus merupakan motor ISASI. Kegiatan bersastra di Kalimantan Timur pun jadi menggeliat setelah kepulangan Korrie Layun Rampan. Korrie agaknya tampil sebagai motor kegiatan bersastra di Kalimantan Timur. Di Makassar, peran lokomotif ini dimainkan oleh Komunitas Panyingkul (bahasa Bugis, berarti Persimpangan).

Dari segi lain, apa yang diucapkan oleh Makmur Anwar MH, yang menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Kalimantan Tengah sekarang (yang melempem), bisa dibaca sebagai kritik ke alamat pemerintah yang kurang perhatian terhadap masalah sastra-seni. Palangka Raya, Kota Cantik, kota kering jiwa, tanpa kepekaan terhadap kesenian, riuh gemuruh budaya pop. Ketidakpekaan budaya ini dan tidak adanya politik budaya yang jelas di berbagai tingkat administrasi, terbaca dari sandung di Pahandut dijual sekitar 4 miliar, sapundu-sapundu di Katingan banyak digergaji dan dijual, cagar budaya dibiarkan menyemak.

5. Sastra Berbahasa Dayak

Sastra berbahasa Dayak terdiri dari dua komponen. Satu, sastra yang tertulis dan kedua, sastra lisan. Bentuk-bentuknya yang terutama berbentuk karungut, deder dan sansana kayau. Sastra yang ditulis dalam bahasa Dayak sungguh sangat sedikit. Di tahun 1999, saya pernah mendapatkan kumpulan-kumpulan karungut. Pada masa Salundik Gohong menjadi Walikota Palangka Raya, entah dalam pertemuan resmi atau tidak resmi, ia selalu mementaskan karungut atau deder disertai dengan manasai (sejenis tari massal). Ketika datang kali ini, saya menyaksikan banyaknya kaset-kaset karungut beredar di pasar. Karya tulis dalam bahasa Dayak, sekarang, hanya bisa didapat di sebuah kolom kecil Harian Dayak Pos, Palangka Raya. Kolom kecil ini hadir dengan setia setiap hari mengunjungi pembacanya. Beberapa penulis karungut yang bisa saya ingat adalah Saer Sua (sekarang tinggal di betangnya di Tumbang Manggu, hulu Katingan), Nyalun Menteng dengan betang mungilnya di KM 27 Palangka Raya. Barangkali larya-karya berbahasa Dayak akan banyak muncul setelah terbitnya Buletin Tamuei yang menggunakan bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa pengantarnya. Sampai sekarang, penulis-penulis asal Dayak yang berkarya dalam bahasa Indonesia, jauh lebih berarti dibandingkan yang menulis dalam bahasa Dayak. Nila Riwut dengan karya tulis terakhirnya berupa Kamus Dayak-Indonesia,, Sandy Firly, cerpenis, Marko Mahin, esais, Anthony Nyahu merupakan nama-nama penulis yang paling produktif.

Sastra lisan berbahasa Dayak, jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang tertulis, terutama yang berbentuk sansana kayau. Sansana kayau, puisi lisan, sangat populer di Katingan. Sejauh pengetahuan saya, karya-karya lisan begini, sampai sekarang belum terekam dan terdokumentasi. Dinan adalah seorang pensansana tergolong baik di Kasongan. Sayang dan sayang, angkatan muda makin tak acuh pada sansana. Sansana makin ditenggelamkan oleh dangdut. Pengguna dan pencipta sansana terutama angkatan tua. Saya membayangkan, seandainya sansana kayau pun menjadi salah satu isi dari muatan lokal, khususnya untuk kabupaten Katingan, di mana puisi lisan ini paling hidup sampai sekarang. Kalau ada acara “Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab” diberlakukan untuk sastra berbahasa Indonesia, mengapa acara dan kegiatan serupa dalam skala terbatas diberlakukan juga untuk sastra berbahasa Dayak, baik yang tertulis, maupun yang lisan? Saya membayangkan diri sedang mendengarkan karungut diiringi suling balawung dan kecapi atau sansana kayau ditingkahi suling balawung, kangkanong dan gong. Apabila tidak ada usaha sadar dari pemerintah, barangkali dalam waktu yang tak lama sastra lisan dalam berbagai bentuk akan melenyap. Musnah.Tidak lagi terdengar gaung gemanya di sepanjang tebing sungai mendaki tangga tepian. Kemusnahan budaya merupakan ancaman nyata di Tanah Dayak Kalimantan Tengah.

6. Kesimpulan

Jika pengamatan saya benar, maka dalam bersastra dan berkesenian umumnya, Kalimantan Tengah termasuk salah satu provinsi yang tertinggal. Komunitas-komunitas kesenian yang ada masih sangat lemah, tidak berdaya, masih menggantungkan diri pada uluran tangan pemerintah. Sementara itu pemegang kekuasaan lokal tidak mempunyai politik kebudayaan yang jelas. Tidak ada organisasi kesenian yang mampu menghimpun potensi-potensi yang dimiliki oleh provinsi. Bidang kebudayaan termasuk bidang yang dianaktirikan. Jika ketiadaan perhatian begini berlarut maka kebudayaan Dayak yang sekarang secara nyata berada di ujung pisau kemusnahan menjadi benar-benar punah. Yang tertinggal hanya nama dan kata Dayak tanpa isi dan makna. Kemusnahan budaya ini lebih disebabkan karena kekurangan kesadaran budaya sehingga merupakan suatu bunuh diri budaya oleh kesukarelaan tak sadar, larut dalam budaya pop yang menyilaukan, juga karena ketidakpahaman. Lebih celaka lagi jika ketidakpahaman ini berlangsung di tingkat atas dan bawah. Di Tingkat atas adalah di kalangan pengelola kekuasaan politik daerah, dan di tingkat bawah yaitu di kalangan masyarakat. Ketidak pahaman dan ketidaksadaran di dua tingkat begini akan mempercepat proses pemusnahan budaya.

Palangka Raya, Mei 2009

——————————

* J.J. Kusni, lahir di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah, pengelana lima benua, pernah belajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, New South Wales University, Sydney, Australia, L’Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (L’EHESS –sempalan dari Universitas Sorbonne), Paris, Perancis, menjadi pengajar di berbagai universitas dalam dan luarnegeri, menjadi pemakalah dan pembicara dalam seminar-seminar lokal, nasional dan internasional.

1) Koperasi Restoran Indonesia SCOP Fraternité, sebuah badan usaha sekaligus Pusat Kebudayaan Indonesia di Paris, Perancis yang didirikan 27 tahun lalu oleh sejumlah suaka politik Indonesia. Para pendiri dan pekerjanya terdiri dari para cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu, yang terhalang pulang.Dalam buku tamu Koperasi, diplomat-diplomat itu kemudian melukiskan Koperasi ini sebagai “Duta bangsa yang telah berjasa dalam memperkenalkan Indonesia dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Perancis, Eropa Barat dan dunia”.

2) Rangkaian nilai yang dilahirkan oleh Revolusi Perancis pada 14 Juli 1789 yang mempunyai nilai universal. Nilai ini mengingatkan saya pada konsep rumah betang manusia Dayak dan pandangan hidup-mati manusia Dayak yang terungkap dalam sastra lisan, khususnya sansana kayau Uluh Katingan: “rengan tingang nyanak jata (anak enggang putera-puteri naga).

3) Paralelisme antara Republik dan Indonesia dengan konsep budaya betang ini pernah saya ajukan dalam wawancara dengan Radio Hilversum pada 17 Agustus 2006.

4) Keterangan mengenai Pertemuan Ode Kampung dan Rumah Dunia, bisa dilacak di google dan berbagai milis nasional dan internastional atau website Rumah Dunia.

5) Majalah Suar Betang yang sampai ke tangan saya adalah nomor-nomor: Volume III, No. 1, Juni 2008; Volume III, No. 2, Desember 2008.

6) Politik budaya ragi usang, sejenis politik desivilisasi yang dilakukan oleh pihak kolonial Belanda yang memandang bahwa kebudayaan Dayak dalam bentuk apa pun tidak lain dari ragi usang yang harus dibuang. Orang Dayak dipandang sebagai etnik yang biadab dan harus diperadabkan. Tugas memperadabkan manusia Dayak ini dipandang sebagai “misi suci” kaum kolonial dan yang oleh para antropolog awal dibela dengan penamaan “mission scarée” (misi suci).Orang Dayak sendiri tidak pernah menamakan diri mereka sebagai Dayak tetapi dengan nama seperti Ot Danum, Ot Siang, Uluh Kayan, Uluh Iban, Uluh Katingan, Uluh Kahayan, dan sebagainya yang umumnya sesuai dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) di mana mereka bermukim. Dengan politik budaya ini maka mulailah riwayat pendeskreditan orang Dayak, seperti kanibal, orang hulu, balok, di Jawa kelelawar disebut pangeran Dayak, Kaharingan disebut Agama Helu (Agama Dahulu, Zaman Bahela), orang musyrik, dan sebagainya, dan sebagainya.Sampai hari ini masih ada yang memandang kebudayaan Dayak sebagai “kebudayaan setan”.

7) Lihat makalah-makalah antropolog Marko Mahin: “Retrospeksi dan Proyeksi. Bahasa, Budaya dan Identitas Suku” dan “Leluhur Kami Bukan Adam dan Hawa. Catatan Ethnograis tentang Perjumpaan Injil dan Budaya Dayak Ngaju” yang disampaikan dalam seminar sehari di Palangka Raya, 10 Mei 2009.

8) Lihat pokok-pokok pikiran Pdt. Tawar Soewardji, M.Th. berjudul “Alkitab Dan Budaya Lokal. Retrospeksi Dan Proyeksi”, yang disampaikan pada seminar sehari GKE, di Palangka Raya, 10 Mei 2009.

9) Lihat : Rencana Tindak Lanjut Program Kerja Majelis Adat Dayak Nasional Tahun 2008-2010. Hasil Rakernas I MADN Tanggal 26-29 Mei 2008, di Palangka Raya”, halaman 4.

10) Op.cit. hlm. 6.

11) Lihat makalah: Marko Mahin, “Menapak Jejak Bungai Tambun di Bumi Tambun Bungai”, 27 April 2009.

12) Lihat: JJ. Kusni « Generasi Pop » dalam http ://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

13) Lihat : Dr. Dendy Sugono, « Kebijakan Bahasa Daerah Di Indonesia”, in “Suar Betang”, Palangka Raya, Volume III, No.2 Desember 2008, hlm. 2.

14) Ibid.

Diambil dari Jurnal Toddopuli (http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com), 12 Mei 2009

Sunday, December 28, 2008

Nasib Sastra di Sekolah pada Era KTSP

Esai Achmad Bashori

SEJAK 2006, pemerintah menggulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SD hingga SMA. Kurikulum baru ini akan direalisasikan secara bertahap. Tahap awal akan dilaksanakan selama 3 tahun sampai 2009.Hadirnya KTSP sangat diharapkan bisa menyempurnakan dan mengukuhkan pelajaran sastra sebagaimana kurikulum 2004. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, nasib pelajaran sastra belum jelas. Berbagai rekomendasi dari berbagai forum sastra, seminar sastra, dan saran akademisi sastra serta para sastrawan agar pelajaran sastra dipisahkan dari pelajaran bahasa, bagai angin lalu saja.

Secara materi ajar, sastra memang mendapatkan porsi yang sama dengan aspek kebahasaan yang meliputi membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Tetapi ada dua hal dalam KTSP yang justru mengaburkan posisi pelajaran sastra Indonesia.

Pertama, pelajaran sastra tidak secara ekplisit disebutkan dalam standar isi KTSP 2006. Sejak pertama membaca standar isi yang jelas terbaca adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia. Bahkan untuk penyebutan guru pun sudah tidak ada embel-embel guru sastra, yang ada adalah guru bahasa Indonesia. Padahal, dalam KBK 2004 secara jelas tercantum pelajaran (apresiasi) sastra, walaupun masih melekat pada pelajaran bahasa Indonesia.

Kedua, KTSP tidak memunculkan nilai sastra (dalam rapor) untuk menghargai prestasi siswa dalam pelajaran sastra. Dari berbagai pertemuan dengan para guru bahasa Indonesia hampir semuanya bingung untuk memberikan nilai evaluasi sastra. Karena nilai sastra menjadi satu (terintegrasi) dengan nilai bahasa Indonesia. Apalagi sampai saat ini belum ada panduan sistem penilaian dan evaluasi KTSP, sebagian besar masih mengacu pada KBK 2004.

Penghambat
Pergantian penguasa, kekuasaan, dan kurikulum tidak akan mengangkat sastra ke tempat yang lebih baik bila beberapa penghambat pengajaran sastra tidak mendapatkan solusi yang serius.

Pertama, masih melekatnya pelajaran sastra dengan bahasa Indonesia. Pelajaran sastra yang masih 'ikut' pelajaran bahasa Indonesia pada pelaksanaannya akan bergantung pada guru-guru bahasa. Kalau guru bahasa mempunyai apresiasi sastra yang tinggi, maka pelajaran sastra akan mendapatkan perhatian yang lebih. Namun sebaliknya, jika guru tidak memiliki minat terhadap sastra atau apresiasi sastranya rendah, maka pembelajaran sastra cenderung akan dilaksanakan apa adanya sesuai tuntutan 'pemenuhan' kurikulum. Apalagi selama ini pelajaran sastra hanya menyumbang tidak lebih dari 20 persen nilai Bahasa Indonesia pada rapor, persentase nilai lainnya lebih banyak pada kebahasaan.

Kedua, rendahnya budaya baca di kalangan guru dan siswa. Faktor ini disebabkan banyak hal: terbatasnya kemampuan guru untuk membeli buku atau majalah sastra, budaya baca belum tercipta, dan arus konsumerisme akibat kapitalisme menjadikan buku sebagai kebutuhan yang kesekian kali. Salah satu indikasinya, banyaknya keluhan dari para sastrawan disebabkan enggannya penerbit mencetak buku-buku sastra karena tidak laku jual. Penelitian Taufiq Ismail tahun 1997 yang menyebutkan bahwa siswa di Indonesia yang membaca sastra 0% dibanding negara lain saat ini pun masih relevan. Bagaimana mungkin budaya baca tumbuh di kalangan siswa bila para gurunya juga enggan membaca?

Ketiga, minimnya kemampuan guru dalam mengajar sastra. Penyebabnya antara lain, masih kuatnya pola pengajaran lama walaupun tuntutan perubahan begitu kuat. Rutinitas membaca buku paket, menggarisbawahi apa yang disampaikan guru, membuat ringkasan, dan menghafal teori, nama sastrawan, dan karyanya dengan orientasi persiapan ulangan atau ujian.

Pelajaran apresiasi puisi mungkin salah satu materi ajar yang menarik. Namun dapat membosankan karena guru tidak memiliki wawasan yang luas, keterampilan yang memadai, dan fasilitator yang proporsional. Tidak seperti pengajaran teori sastra atau sejarah sastra yang lebih menekankan aspek kognitif. Apresiasi puisi membutuhkan persiapan khusus, karena semua pihak yaitu guru, siswa, dan puisi itu sendiri berposisi sebagai objek. Alur komunikasi dalam kegiatan tersebut tidak mungkin satu arah untuk mendapatkan pemahaman, tetapi melalui proses diskusi atau dialog.

Kurangnya kecintaan guru kepada sastra selain malasnya guru untuk membaca juga diperparah dengan tidak adanya pembinaan secara merata untuk meningkatkan kualitas guru dalam pengajaran sastra. Padahal, guru sastra profesional selalu berusaha melakukan berbagai improvisasi agar pelajaran sastra menyenangkan. Guru dapat memberikan kebebasan kepada siswa untuk membaca dan mengapresiasi beragam karya sastra (termasuk karya pop) dengan pandangan mereka sendiri. Guru hanya berperan sebagai narasumber dan fasilitator.

Idealisme pada kurikulum 2004 dan KTSP 2006 yang memberikan ruang kreativitas kadang terkendala dengan target mengejar nilai (angka) ujian yang tinggi sehingga kreativitas sastra 'tergusur' demi tuntasnya materi pelajaran agar sesuai dengan SKL ujian. Bisa dilihat soal-soal dalam Ujian Nasional (UN) yang lebih mengedepankan sisi kognitif daripada apresiatif. Akibatnya, pelajaran sastra yang seharusnya memberi pencerahan bagi komunitas sosialnya, menjadikan siswa sebagai 'manusia' bagi dirinya.

Kesulitan juga muncul saat praktik penulisan sastra, karena para guru belum biasa terlibat dalam kegiatan tulis menulis. Memang pelajaran sastra di sekolah bukan untuk mencetak siswa menjadi sastrawan. Sastra diajarkan di sekolah dan dimasukkan kurikulum karena masih diyakini bahwa sastra memberi manfaat, mengasah kepekaan siswa terhadap berbagai masalah kehidupan beserta alternatif solusinya.

Keempat, kurangnya sarana dan prasarana. Hal ini dapat dicermati dari langkanya perpustakaan sekolah yang menyediakan berbagai referensi yang up to date (novel, cerpen, puisi, naskah drama, dan penunjang apresiasi sastra), lebih banyak buku-buku lama. Kondisi hampir sama pun dialami perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah. Akses informasi untuk mencerahkan (majalah, intrnet, dan alat komunikasi) bagi guru terbatas. Kondisi tersebut semakin memprihatinkan dengan tidak adanya tempat untuk berekspresi (sanggar sastra, gedung/aula teater) yang representatif. Bandingkan dengan pelajaran yang lain seperti sains yang mempunyai laboratorium cukup lengkap.

Kelima, kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat. Penghargaan kepada sastrawan yang nyaris tidak terdengar. Justru penghargaan yang diperoleh sastrawan Indonesia bersal dari negara lain. Berbeda dengan profesi di bidang lain (olahraga, ekonomi, IPTEK, dan politik) yang begitu meriah, dielu-elukan, dan mendapat berbagai fasilitas. Jangan kaget apabila sebagian besar siswa di sekolah enggan menggeluti sastra sebagai profesi yang tidak begitu menjanjikan untuk jaminan masa depan.

Mencermati berbagai kondisi dan realitas saat ini sastra yang kurang mendapat tempat di masyarakat dan pemerintah, rasanya cukup sulit untuk mewujudkan bahasa dan khususnya Sastra Indonesia menjadi pelajaran yang menarik dan favorit. Kiranya perlu memperoleh perhatian yang cukup dari berbagai pihak untuk mengangkat sastra ke tempat yang lebih terhormat. Jangan sampai ada anggapan bahwa belajar sastra membuang waktu sia-sia. Karena tidak satu dua rekan guru bahasa dan sastra Indonesia yang berkeluh kesah bahwa pelajaran sastra kurang menarik atau diminati para siswa.

* Achmad Bashori, Guru bahasa dan sastra Indonesia

Sumber: Republika, Minggu, 28 Desember 2008

Kesusastraan bagi Anak-anak

Esai Kurnia JR

APA yang kita dapati di Indonesia sekarang mungkin agak mirip abad yang dihayati Charles Dickens dulu. Kita masih menyaksikan anak-anak berkeliaran di jalan-jalan hingga larut malam. Mereka mengelap kaca mobil yang berhenti saat lampu lalu lintas menyala merah, melompat ke dalam bus kota untuk mengamen, mengemis di jembatan penyeberangan, menjadi korban sodomi dan pemerkosaan, bergaul dengan pencopet, dan sebagainya. Tak sedikit anak-anak di bawah umur terpaksa bekerja membantu orangtua atau diperdagangkan menjadi pelacur.

Kasus penyiksaan orangtua terhadap anak sering mengisi halaman surat kabar. Inilah sisi dunia rapuh anak-anak. Tampaknya kesusastraan kontemporer kita kurang menaruh perhatian pada kenyataan ini. Saya ingat sebuah cerita yang menarik tentang anak-anak jalanan: Burung-burung Kecil. Kisah ini dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Femina pada 1991. Pengarangnya lebih suka dikenal dengan nama Kembangmanggis. Dia melakukan riset dan menuangkan hasilnya dalam bentuk novelette tentang anak jalanan di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Kisah terbaru yang sedang digandrungi adalah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Betapapun, setiap orang mendambakan harapan atas dunia yang tak selalu memenuhi kebutuhan. Secara umum, Laskar Pelangi menanggapi harapan itu, menggugah kesadaran tentang perubahan yang bisa diupayakan.

Kenyataan boyak pada suatu generasi hanya bisa ditanggulangi oleh generasi yang bersangkutan dengan ketangguhan diri hasil pendidikan yang wajib disediakan oleh generasi pendahulu. Empati terbesar tentu dimiliki oleh yang terlibat.

Anak-anak yang beruntung di segala zaman menikmati pendidikan melalui kesusastraan. Para penutur dongeng, penulis, serta penyanyi lagu ninabobo dari masa ke masa menaruh perhatian besar pada anak-anak. Bahkan, bagi orang dewasa, kesusastraan menyapa lewat naluri kanak-kanak. Sastrawan menulis dan bertutur lewat imajinasi kanak-kanak yang bersemayam dalam jiwa mereka.

Contoh yang klasik adalah Alice in the Wonderland (1865) karya Lewis Carroll yang masyhur. Kisah itu sangat digemari anak-anak di berbagai negeri. Melintasi masa hampir satu setengah abad, kisah petualangan Alice terus diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan direproduksi ke dalam berbagai bentuk, dari prosa ke komik, terus ke film dan sebagainya. Lewis Carroll alias Charles Lutwidge Dodgson adalah seorang ahli matematika dan logika. Fakta ini menegaskan bahwa sastra bagi anak-anak menuntut integritas yang berdisiplin tinggi. Para redaktur majalah anak-anak pastilah memahami hal itu sehubungan dengan cerita-cerita yang mereka terbitkan. Selayaknya, kita pun patut menyadari konteks budaya dan ekonomi dari karya yang diciptakan di suatu tempat pada suatu masa.

Dunia anak-anak dari sudut pandang literer bukan miniatur dunia orang dewasa. Dunia mereka adalah wilayah otonom yang menuntut disiplin logika tersendiri. Wilayah anak-anak bukanlah tempat bagi penulis yang sembrono dan menganggap publiknya sekadar tong sampah tempat segala kebohongan ditumpahkan.

Sebagian penulis kadang-kadang terjerumus pada anggapan bahwa dongeng untuk anak-anak cukup berisi ajaran moral yang sumir: kejahatan dikalahkan kebaikan. Prinsip simpel semacam ini umumnya dianut oleh penulis komersial, yang memandang anak-anak sebagai target pasar semata. Mereka lupa bahwa pengolahan imajinasi adalah aspek yang tak boleh diabaikan, disertai aspek moral khas yang lentur. Keluwesan adalah fondasi penting supaya anak-anak tidak dipukau oleh jarak tak terjembatani antara apa yang mereka baca dan apa yang mereka saksikan di dunia nyata.

Dongeng-dongeng HC Andersen menjadi klasik bahkan bagi pembaca dewasa. Kisah-kisahnya tak sekadar menyajikan moral kebaikan dan ketabahan, tetapi juga keindahan yang menyentuh hati. Setelah menempuh perjuangan disertai kejujuran dan ketabahan, kisah ditutup dengan pola yang masyhur dan kita hafal: ”Mereka pun selanjutnya hidup bahagia selama-lamanya.” Dongeng-dongeng Andersen atau Jacob Grimm membuat masa kanak-kanak berjuta-juta orang terasa indah dalam kenangan. Pola cerita yang mereka terapkan tetap berlaku hingga sekarang. JK Rowling dan JRR Tolkien bertolak dari sistem moral yang baku dalam karya-karya mereka yang sukses besar secara komersial dan boleh dibilang menjadi dongeng abad ini. Tokoh baik mengalahkan tokoh jahat. Betapapun angker dan perkasa si tokoh jahat, ia pasti lebih lemah di hadapan tokoh baik. Kita tunggu, setangguh apa Harry Potter dan The Lords of the Ring menghadapi ujian waktu.

Andersen menulis dari lubuk hati dan empati karena ia kenal penderitaan sejak masa kecilnya. Ia tuturkan imajinasinya yang hebat dengan gaya yang memukau: tentang bunga lili yang tumbuh di atap rumah, dekat jendela kamar loteng, atau tentang anak miskin yang, karena ketabahan dan kejujuran, berhasil mempersunting putri raja. Dongeng-dongeng Andersen menanamkan pengertian ke dalam benak anak-anak bahwa hidup ini patut diperjuangkan dan karena itu indah. Hidup yang diisi dengan kebajikan pasti akan berbuah keberuntungan. Dalam dongengnya, dunia terasa mengharukan. Andersen seakan membawa misi mengungkap dunia lembut dan welas asih yang acap terbenam di bawah permukaan dunia keras.

Charles Dickens, pengarang Inggris abad ke-19, dengan karya-karyanya memupuk cinta dan dorongan untuk memperbaiki realitas sosial. David Copperfield, Oliver Twist, Dombey and Son, dan lain-lain melukiskan kehidupan yang keras, dangkal, tapi juga mengharukan. Perhatian utama Dickens adalah nasib anak-anak yang tragis sebagai dampak Revolusi Industri.

Dickens menjalani masa kanak-kanak yang menyedihkan. Hidup melarat dengan ayah dipenjara gara-gara utang. Dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-12, ia harus bekerja di pabrik Warren’s yang membuat dia menderita. Trauma itu membekaskan luka jiwa yang tak pernah sembuh seumur hidupnya. Pengalaman masa kecil yang pahit sangat berperan sepanjang kariernya sebagai sastrawan. Dickens melukiskan anak-anak Inggris pada abad ke-19 yang dipaksa bekerja di pabrik-pabrik hingga jauh malam dengan upah sangat rendah atau tanpa bayaran sama sekali, juga anak-anak jalanan dalam Oliver Twist.

Dari Amerika, pada paruh kedua abad ke-19 Mark Twain menghadiahkan kisah tentang dunia anak-anak yang polos, tetapi sarat dengan ajaran hidup. Tom Sawyer dan Huckleberry Finn layak diperkenalkan kepada anak-anak kita. Buku-buku itu menyuguhkan kisah petualangan yang seru dan jenaka sambil memperkenalkan kearifan hidup dalam konteks kemajemukan sosial.

Dari kesusastraan masa Balai Poestaka, ada kisah Si Jamin dan Si Johan karya Jan Smees yang disadur Merari Siregar. Buku itu menggambarkan nasib anak-anak yang pahit. Mereka yang pernah membaca buku itu selalu terkenang akan tragedi yang dilukiskan. Tentu saja, bukan hanya cerita sedih yang masuk catatan. Si Doel Anak Betawi karya Aman yang jenaka sekaligus mengharukan telah menjadi legenda dalam kesusastraan Indonesia.

Buku adalah satu hal, sedangkan sarana untuk mempertemukan sastra dengan anak-anak adalah hal lain. Di sinilah pemerintah dan orangtua berperan. Dalam kesusastraan, buku hanya salah satu media. Anak-anak di usia dini pastilah beruntung jika memiliki orangtua yang sudi mendongeng di ranjang mereka menjelang tidur, walau tidak setiap malam. Sementara itu, pemerintah selalu diharapkan mengatur harga kertas agar penerbit dapat menyediakan buku murah. Lebih dari semua itu, fondasi utama adalah pendidikan dasar: melek huruf, diiringi pemenuhan hak dasar hidup anak-anak selaku warga negara. Kita masih menanti pemerintah yang mampu menunaikan amanat konstitusi: anak telantar dipelihara oleh negara.

Sastra pun dapat diakses melalui internet. Di sinilah pemerintah, lembaga nonpemerintah, dan orangtua secara bersama-sama dituntut berperan aktif membantu anak-anak sehingga mendapatkan apa yang patut bagi mereka. Yang diperlukan bukanlah blokade atau berbagai larangan sebab internet adalah fenomena dunia yang bocor. Cukuplah kita renungkan kutipan berikut ini dari Han Suyin (A Many-Splendoured Thing), ”Betapa senangnya menjadi anak Cina,” kata Pater Low. ”Mereka selalu diajak ke mana-mana. Mungkin itulah sebabnya mereka selalu mudah diurus dan tidak mempunyai banyak kesulitan. Mereka tidak dipisahkan dan dilindungi dari kehidupan nyata sehingga tidak shock saat terjun ke dunia nyata. Kami mendidik orang-orang yang keliru, tapi kalian mendidik pria-pria dan wanita-wanita untuk hidup di dunia orang dewasa. Anak-anak itu tidak ikut-ikutan berbicara atau meniru kelakuan orang dewasa sebab tak banyak yang disembunyikan dari mereka, dan mereka tak percaya orang dewasa lebih banyak tahu daripada mereka.”

* Kurnia JR, Pengarang

Sumber: Kompas, Minggu, 28 Desember 2008

Wednesday, October 29, 2008

Menggugah Sastra Indonesia Melalui Remaja

KENDATI karya sastra dewasa ini disebut-sebut sedang dalam posisi terpuruk, Pusat Bahasa masih gigih menggugah minat kaum muda untuk mendalaminya, antara lain dengan menyelenggarakan lomba penulisan cerita pendek untuk pelajar SMP dan SMA.

"Tahun 2008 adalah tahun bahasa dan dalam peringatan 60 tahun Bahasa Indonesia, kami juga mengingatkan kembali bahasa sastra adalah bagian dari Bahasa Indonesia. Jadi, peringatannya adalah bahasa dan sastra," ujar Kepala Pusat Bahasa Dr Dendy Sugono.

Penilaian terhadap cerpen karya peserta dari seluruh Indonesia sudah dilakukan dan hasilnya akan diumumkan pada puncak peringatan Tahun Bahasa yaitu pada 28 Oktober 2008 bertepatan dengan pembukaan Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta.

Dari naskah-naskah cerpen yang masuk, terlihat minat remaja terhadap karya sastra cukup tinggi. Tema yang masuk juga sangat beragam, khususnya menyangkut kehidupan keseharian para penulisnya, tutur Emma Sitahang Nababan dari Pusat Bahasa yang menjadi salah seorang panitia lomba menulis cerpen.

Selain tema yang beragam, pemakaian bahasa juga bervariasi termasuk memakai bahasa "gaul." Tetapi agak disayangkan, naskah dari daerah atau kota-kota kecil masih sedikit yang masuk dan beberapa naskah dari seluruh peserta diketahui ada yang menyontek karya-karya penulis terkemuka bahkan termasuk karya Hamsad Rangkoeti, salah seorang juri.

Naskah para peserta lomba cerpen itu dijaring melalui kota-kota yang memiliki Balai Bahasa yang seluruhnya berjumlah 22 dan dari Jakarta, masing-masing diwakili oleh sepuluh naskah terbaik yang terjaring dalam seleksi di tingkat balai.

Keprihatinan mengenai tingkat pelajaran sastra yang sangat kecil di tiap sekolah juga diungkapkan penyair Taufiq Ismail yang pernah menyelenggarakan program khusus untuk memberikan pelajaran sastra keliling sekolah.

Pusat Bahasa pun menyelenggarakan kegiatan serupa dengan menghadirkan Putu Wijaya ke daerah-daerah.

"Anak-anak sebenarnya haus akan bacaan, tetapi seringkali orang dewasa di sekitarnya tidak menyadari hal itu," kata Julius Felicianus, Direktur Penerbit Galang Press.

Ketika Galang Press memelopori pengiriman parsel lebaran berisi paket buku untuk seluruh anggota keluarga, ada penerima parsel yang menyampaikan catatan bahwa ia merasa tersindir karena anaknya berujar: "Ayah, kalau memberi hadiah yang seperti ini, buku-buku ini aku suka," sementara si ayah mengaku selama ini tidak pernah menghadiahi anaknya dengan buku, kata Julius.

Munculnya sejumlah penulis berusia muda, terutama anak-anak yang terinspirasi "manga" Jepang dan kisah Harry Potter, tidak dapat dipungkiri merupakan persemaian yang subur untuk menumbuhkan penulis-penulis muda Indonesia.

"Anak-anak biasanya akan mulai dengan bacaan yang ringan, komik, lalu meningkat menjadi yang lebih berat. Tetapi lembaga pendidikan dan orang tua perlu menyediakan dukungan untuk memotivasi mereka," kata Julius.

Meskipun karya-karya penulis muda masih dangkal, Sastrawan F Rahardi menilai positif munculnya bibit-bibit muda itu karena kondisi ini dapat ditingkatkan melalui peran serta berbagai pihak mulai dari lingkungan di rumah, sekolah, penerbit hingga toko buku.

Menurutnya, kurikulum di sekolah tertinggal jauh dibanding gejala yang ada di masyarakat. Sekolah dan guru mempunyai "kekuasaan" untuk memberikan pelajaran dengan mengembangkan kreativitas.

Rahardi mengambil contoh sistem pendidikan yang dilakukan oleh lembaga Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga yang mengedepankan kreativitas, sehingga menguatkan bukti bahwa keterbatasan modal (uang) bukan menjadi penghalang bagi kreativitas.

Ruang-ruang untuk memancing kreativitas bidang sastra baik itu puisi dan prosa semakin sempit, paling tersedia pada beberapa koran dan majalah yang masih peduli dan menyediakan rubrik khusus.

Tak mengherankan jika kemudian penulis-penulis muda berkiblat ke karya sastra dunia seperti Ataka Awwalur Rizqi yang melahirkan Misteri Pedang Skinheld karena terinspirasi cerita Lord Of The Ring dan Harry Potter, kendati ia juga melahap karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Demikian pula penulis Fathia yang terilhami kisah Naruto (Jepang).

Indonesia pernah memiliki karya-karya sastra Melayu atau karya sastra asli, tetapi jika tidak dicetak ulang, para pembaca muda akan kesulitan mendapatkannya karena toko buku tidak menyediakan buku-buku lama, kata Rahardi.

Sementara Julius mempertegas bahwa perpustakaan sekolah pun sekarang kebanyakan berbelanja buku panduan praktis, bukan karya sastra seperti masa-masa 1950-an hingga 1980-an.

"Guru atau petugas perpustakaan berbelanja buku dengan melihat selera pribadi, bukan kepentingan umum dan menjangkau ke depan," katanya menegaskan. (Maria D. Andriana/Ant)

Sumber: Borneonews, Senin, 27 Oktober 2008

Sunday, October 19, 2008

Ketika Sastra Masih Kering di Sekolah

Esai Ria Febrina

AWAL mula berkenalan dengan sastra waktu itu masih di SLTP 2 Padang tahun 2001, seorang guru bertanya tentang Buya Hamka. Tak seorang pun yang bisa menjawab, termasuk saya. Kemudian, ia menerangkan bagaimana sosok Hamka, termasuk karya-karyanya yang sangat fenomenal. Setelah belajar, saya mengingat namanya dan mencari karya beliau di perpustakaan sekolah. Saya menemukan label sastra dalam novelnya yang agak tebal, 224 halaman. Penasaran dengan cerita panjang yang ditulis oleh Hamka, saya membaca hingga tuntas buku yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Meski banyak hal yang kurang bisa dipahami, ceritanya sangat menggugah perasaan, karena sebagai seorang anak yang masih ingusan, bahasa yang ditulis Hamka sangat indah dan jarang ditemui dalam bahasa yang diujarkan guru maupun dalam koran lokal yang menerbitkan halaman sastra dan budaya pada saat itu.

Berlanjutlah, bacaan saya beralih kepada bacaan yang berlabel sastra, baik kumpulan puisi, kumpulan cerita pendek, maupun novel. Sayang, buku sastra yang ada di sekolah hanya sedikit. Lalu, saya mencarinya di perpustakaan daerah Sumatera Barat yang jaraknya tak jauh dari sekolah. Hampir setiap minggu, saya membaca beberapa buku sastra dan mulai mengenal Taufiq Ismail, Chairil Anwar dan Putu Wijaya.

Ketika beranjak SMA, nama-nama tersebut sering muncul di buku Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan buku panduan belajar bahasa Indonesia di sekolah. Saya senang, karena lebih dahulu mengenal nama-nama mereka. Setiap ada nama-nama yang disebut sebagai sastrawan, saya mencari bukunya di perpustakaan, membaca karya mereka, melihat biografi kepengarangan mereka dan mulai mencintai dunia sastra.

Kemudian, ketika hari ini saya melihat lagi ke bawah, memperhatikan kurikulum pengajaran sastra di sekolah, saya menemukan pengajaran sastra menjadi sangat sedikit. Materi sastra dikurangi. Padahal ketika itu, saya sudah merasakan materi sastra sangat minim, karena terpaksa mencari sendiri di luar proses belajar mengajar. Sastra sangat kering di sekolah, karena guru tidak terlalu memberi perhatian lebih terhadap materi ini. Jika hari ini ada pengurangan sastra di sekolah, terbayangkan bahwa akan ada jarak antara sastra dengan pelajar sekolah. Karena perlahan, mereka meminggirkan peran karya sastra yang sangat berguna untuk mencerdaskan masyarakat itu sendiri.

***

Sastra, bagi sebagian orang dianggap sebagai tulisan yang memperjualbelikan cerita karangan (fiksi). Cerita karangan yang dibaca dalam bentuk prosa, puisi dan drama itu ditafsirkan sebagai salah satu media hiburan yang belum mampu memberikan sesuatu untuk masyarakat.

Anggapan seperti itu muncul karena pandangan masyarakat terhadap sastra masih primitif, belum mampu menjangkau hal-hal estetis dari penciptaan sebuah karangan. Apakah hal ini salah? Tentu tidak, karena masyarakat pembaca masih sangat awam dengan “bahasa dan dunia rekaan” yang diciptakan pengarang dalam karangannya. Apalagi, pembaca yang demikian tidak sempat mencicipi dunia pendidikan formal, sehingga kesalahpahaman mereka terhadap sastra semakin tajam. Akibatnya, banyak generasi sekarang mengikuti pola pokir tersebut, yang akhirnya menciptakan jurang antara karya sastra dengan masyarakat.

Seperti yang dialami di bangku sekolah, saya terpaksa belajar menemukan sendiri dunia sastra itu. Hanya ketertarikan yang memaksa saya untuk menemukan banyak bacaan sastra di luar jam belajar di sekolah. Tapi hari ini, apakah semua pelajar melakukan hal serupa?

Jawabannya bisa iya dan bisa juga tidak, karena tidak semua orang senang membaca bacaan sastra. Mungkin mereka senang membaca komik, cerita laga, dunia bola dan hal-hal lain yang memang patut untuk diketahui. Tetapi mengenai sastra, hampir semua orang mengenalnya hanya melalui halaman sastra dan budaya yang dimuat setiap minggu di koran mingguan lokal dan nasional. Mereka beranggapan bahwa sastra adalah tulisan yang memuat sebuah dunia rekaan yang menarik yang diciptakan seorang pengarang, dan patut dibaca karena menceritakan kehidupan orang lain. Masyarakat menikmatinya, karena dengan cerpen, puisi, dan novel, mereka memiliki pengetahuan baru mengenai orang lain.

Lalu hari ini, beragam novel bermunculan. Dari novel islami, teenlit dan novel penggugah lainnya, mulai menarik perhatian sebagian masyarakat, khususnya kaum pelajar. Mereka menikmati membaca sebagai sebuah kebutuhan. Bahkan, mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama membaca setiap buku “the best seller”, buku terlaris yang muncul saat itu. Fenomena ini sangat bagus, seperti saya yang menemukan dunia rekaan sendiri.

Tetapi sayangnya, ketika kita membahas sastra, sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa setiap karya sastra yang muncul tersebut adalah dunia khayalan dari si pengarang. Dunia reka-reka, di mana si pengarang menjadi Tuhan sendiri dalam menentukan nasib tokohnya. Meskipun hal tersebut tidak salah, tetapi kemunculan anggapan seperti itu patut disayangkan. Karena sastra bukan sekadar itu saja, tetapi ada hal-hal lain yang patut diketahui, seperti objek yang menjadi perhatiannya, yaitu lingkungan sosial di mana mereka berada.

Sastra Berakar dari Lingkungan Sosial

Sastra sebagai sebuah karya tidak muncul dari khayalan saja, tetapi seorang pengarang mengambilnya dari realitas kehidupan yang terjadi. Pada dasarnya, sastra adalah sebuah media yang menjembatani masyarakat untuk membahasakan apa yang terjadi di lingkungannya, yang berkaitan dengan dunia carut marut yang mereka hadapi setiap hari. Dunia yang tak lepas dari pendidikan, politik, ekonomi dan tempat di mana mereka memposisikan diri sebagai seorang warga negara. Segala sisi kehidupan itu menjadi sorotan bagi seorang pengarang. Setiap peristiwa yang terjadi dan yang mengganjal dalam pemikirannya, semua itu menjadi perhatian pengarang. Potongan demi potongan kehidupan masyarakat dijadikan dasar penciptaan baginya.

Awalnya, karya tersebut bergejolak di otak si pengarang, yang memunculkan pertanyaan, mengapa peristiwa demikian bisa terjadi? Pemikiran-pemikiran itu ditinjaunya sendiri, bahkan ia mulai memperhatikan lingkungannya, mencari sebab, lalu sebuah kemungkinan yang dapat dijadikan solusi bagi si pembaca.

Hal ini yang menjadi perbedaan antara karya sastra dan karya populer. Anggapan masyarakat yang menjadikan karya sebagai hiburan, sebenarnya adalah tujuan dari adanya karya populer. Sementara tujuan itu berbeda dengan kemunculan karya sastra. Jika kita membuat garis, karya sastra tak hanya melewati garis pertama yang bertujuan untuk menghibur pembaca. Tetapi ia melewati garis kedua, yaitu setiap karya sastra memberikan manfaat bagi masyarakat pembacanya.

Setiap pemikiran yang menjadi titik tolak bagi seorang pengarang selalu didasarkan pada pengetahuan, karena mereka lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca, melihat, mendengar dan merasakan apa yang terjadi di lingkungannya. Misalnya seperti novel Merantau ke Deli yang ditulis Hamka. Di dalam novel digambarkan bahwa laki-laki Minang yang menikah dengan perempuan di luar kebudayaannya, seperti dinikahkan dengan perempuan Jawa, maka ia akan dinikahkan kembali dengan perempuan yang sama-sama berasal dari Minang. Tujuannya untuk menjelaskan kedudukannya di dalam lingkungan masyarakat Minang, seperti posisinya sebagai seorang anak, mamak dan anggota masyarakat. Dan apakah semua laki-laki Minangkabau seperti itu?

Tentu tidak, karena Hamka menulis novel ini berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lingkungannya. Dengan adanya novel ini, Hamka ingin memberikan kemungkinan, bahwa masih ada masyarakat Minangkabau yang berpikiran demikian. Namun, Hamka juga memunculkan kemungkinan lain bahwa tidak saatnya lagi jika hari ini masih ada masyarakat yang menyandang pemikiran tersebut. Ada dunia kemungkinan yang bisa dipelajari pembaca, yang bisa dijadikannya sebagai media untuk mengenal kebudayaan dan masyarakat yang diceritakan oleh pengarang.

Bertolak dari contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa karya tak lahir dari khayalan atau dari kekosongan semata, seperti yang diungkapkan A. Teeuw, seorang ahli sastra. Ia mengatakan setiap karya sastra lahir karena adanya peristiwa yang menjadi sebab dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Seorang pengarang mengambil satu sisi kehidupan yang dianggapnya patut diperbincangkan, lalu dengan pemikiran dan kreatifitasnya, ide-ide tersebut disejajarkan dengan kejadian di dunia keseharian yang biasa dihadapi oleh masyarakat. Dalam hal ini, seorang pengarang bertugas memberikan kemungkinan, apa yang terbaik untuk dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tampak bahwa sastra berakar dari lingkungan sosial, di mana masyarakatnya saling berhubungan dan membentuk interaksi di dalamnya.

Sastra Masih Berdiri di Belakang

Problemnya, pemahaman seperti ini belum dirasakan seutuhnya oleh masyarakat. Hanya masyarakat pembaca yang menaruh perhatiannya kepada bacaan sastra saja yang mampu menembus pemikiran demikian. Sehingga, jurang antara karya sastra dan masyarakat semakin melebar. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah usaha untuk mendekatkan kembali masyarakat dengan sastra.

Belajar dari pengalaman saya dalam mengenal dunia sastra, bahwa salah satu sarana paling efektif untuk menyebarkan pengetahuan sastra secara serentak kepada masyarakat adalah melalui pengajaran sastra di sekolah. Di dalam kurikulum harus dimasukkan materi sastra, di samping pelajar mempelajari bahasa Indonesia itu sendiri. Mereka akan diajarkan mengenal dunia masyarakat melalui karya-karya sastra yang ada. Mereka juga akan mengenal bagaimana dunia kepengarangan seorang penulis, dan belajar bagaimana nantinya mereka akan menghadapi masyarakat melalui bacaan-bacaan yang ada.

Dan salah satu keuntungan dari adanya pendekatan sastra dengan pelajar adalah mereka dibiasakan untuk membaca, membaca dan membaca. Harapan untuk membuka cakrawala mereka pun berwujud nyata. Seorang pelajar tak hanya ditimpa pengetahuan ilmiah, tetapi juga dibuat peka terhadap sosial lingkungan yang ada di sekitar mereka.

Dan lihat saja, ketika hari ini, media massa cetak dan elektronik memuat halaman sastra dan budaya. Mulai tampak adanya partisipasi pelajar untuk ikut serta di dalamnya, baik untuk menulis puisi atau cerita pendek. Hal ini tak lepas dari usaha sastra untuk mengajak pelajar memperhatikan lingkungan sekitar, dan dengan kreatifitas yang ada menciptakan dunia kemungkinan atau dunia rekaan sesuai dengan sudut pandang yang mereka miliki. Artinya, ada kerinduan dari pelajar untuk menikmati sastra secara bimbingan. Bahwa di dalam kurikulum sekolah, sastra juga penting bagi perkembangan psikologi dan sosial mereka.

Keinginan untuk mewujudkan harapan ini juga tak lepas dari kehadiran karya sastra yang hari ini membanjir, menuntut kesediaan pembaca untuk mengapresiasikan dan menilai bagaimana hasil kerja dari pengarang. Hal ini juga tak lepas dari harapan untuk meminimalisir jurang antara karya sastra dengan masyarakat pembaca. Sudahnya saatnya sastra berdiri di depan, meluruskan opini masyarakat terhadap perkembangan sastra itu sendiri.

Sumber: Padang Ekspres, Minggu, 19 Oktober 2008

Nasib Sastra di Bangku Sekolah

Esai Fatkhul Anas

BEBERAPA waktu lalu, Maman S. Mahayana, pengamat sastra dari Universitas Indonesia, memberikan pernyataan bahwa sastra makin terpinggirkan dari bangku sekolah (Kompas, 13-10). Pernyataan Maman ini jika diukur dari realita yang ada memang benar adanya. Sastra saat ini mengalami marginalisasi dari dunia pendidikan. Geliat untuk mempelajarinya hanya sekadar "sambilan". Bukan atas dasar suka, melainkan tuntutan mata pelajaran. Jika sang guru tidak memberi pelajaran sastra tentu si murid tidak menanyakannya. Dia acuh saja. Seolah sastra tak penting.

Nasib sastra di bangku sekolah memang sedang mengenaskan. Ibaratnya sastra hanyalah pelajaran pelengkap. Sekadar tahu, bukan untuk didalami, apalagi dijadikan hobi.

Pelajaran sastra yang biasanya digabung dengan bahasa Indonesia masih kalah pamor dengan pelajaran lain, terutama ilmu-ilmu eksak. Ilmu eksak dianggap paling bergengsi, dan siapa yang menguasainya dianggap "orang pintar". Hanya ilmu eksak dan ilmu-ilmu sosial humaniora saja yang dianggap mampu mencerdaskan. Sedangkan sastra dianggap tak mencerdaskan dan tidak bermanfaat.

Imbas Kebijakan

Persepsi terhadap sastra yang demikian "buruk" sesungguhnya tidak terlepas dari kebijakan pendidikan yang diterapkan selama ini. Sebab, kebijakan pendidikan yang baik akan menentukan maju dan tidaknya pendidikan. Termasuk juga sastra.

Kebijakan pendidikan, menurut Mark Olsen, merupakan kunci keunggulan bahkan eksistensi bagi negara-negara dalam persaingan global. Sehingga, kebijakan pendidikan perlu mendapatkan prioritas utama dalam era globalisasi. Karena kebijakan pendidikan yang mampu menentukan maju dan tidaknya anak didik, diperlukan kebijakan pendidikan yang tepat.

Terkait dengan sastra, mengapa semakin lama semakin termarginalisasi? Hal ini tak lepas dari kurang tepatnya kebijakan pendidikan yang diterapkan selama ini. Sejak Orde Baru, pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan perekonomian. Saat awal orde baru, perekonomian kita begitu buruk dengan tingkat inflasi yang demikian tinggi.

Dalam buku Kebijakan Pendidikan karya H.A.R. Tilaar dan Riant Nugroho dijelaskan setelah mengalami krisis kehidupan dalam era orde lama, masuklah bangsa Indonesia ke dalam era orde baru yang dimulai dengan upaya meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat. Perlahan-lahan kehidupan masyarakat mulai membaik, infrastruktur dibangun, dan pendidikan diabdikan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Kebijakan era Orde Baru memang sangat efektif mengentaskan perekonomian. Namun, di salah satu sisi berakibat negatif. Terutama bagi pertumbuhan sastra. Selama Orde Baru pendidikan di-setting untuk mengentaskan perekonomian. Otomatis mata pelajaran yang menjadi unggulan saat itu adalah mata pelajaran yang berhubungan dengan perekonomian. Termasuk ilmu eksak. Dalam pekembangannya, ilmu eksak lebih diutamakan karena untuk menunjang teknologi dan industri.

Hal ini berakibat buruk bagi pelajaran yang lain karena semakin marginalnya mata pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan teknologi dan industri seperti sastra. Pelajaran sastra tidak lagi menemukan tempat. Sastra dianggap tidak penting dan tidak mampu menyumbangkan kontribusi apa-apa. Sastra dipelajari hanyalah untuk mendukung pengembangan bahasa Indonesia agar tetap lestari. Akhirnya, sastra tidak menjadi pelajaran favorit, tetapi sebagai sampingan. Yang favorit mata pelajaran yang dianggap bergengsi, seperti ilmu-ilmu eksak.

Spirit Sastra

Memang sangat disayangkan ketika sastra semakin termarginalisasi dari bangku sekolah. Padahal, kalau boleh dibilang, sastra adalah ruh kehidupan.

Dengan bersastra kita mampu menghayati hidup. Menemukan jati diri dan mampu menentukan apa-apa yang baik dan buruk serta pantas untuk kita lakukan. Sastra juga mampu membangkitkan semangat jiwa-jiwa yang lelah. Bukankah Chairil Anwar dengan puisi-puisinya mampu membangkitkan para pemuda untuk berjuang melawan para penjajah? Para mahasiswa ketika berdemonstrasi juga melantunkan bait-bait puisi untuk membakar semangat.

Itulah sastra yang berfungsi sebagai ruh dalam kehidupan. Ruh dijadikan berpasangan dengan jasad. Jasad adalah fisik yang kering. Tanpa perasaan dan jiwa. Jika dikaitkan dengan ilmu, ilmu-ilmu eksak maupun ilmu-ilmu lain hanya mengandalkan daya pikir diumpamakan seperti jasad. Kering dan tanpa perasaan. Sastralah yang digunakan sebagai pasangan agar jasad itu hidup. Sastra yang mampu dijadikan penyeimbang (balance) bagi ilmu-ilmu eksak maupun ilmu yang hanya mengandalkan daya pikir, agar tidak kering dan mempunyai perasaan.

Ilmu yang hanya mengandalkan otak tanpa disertai perasaan akan berakibat buruk bagi pemiliknya. Ia cenderung menjadi manusia kaku, tak punya rasa salah, dan tak berperasaan. Dalam bertindak hanya menggunakan otaknya. Ia egois dan tidak memperhatikan perasaan orang lain.

Lihat saja orang-orang yang mahir ilmu-ilmu eksak di Indonesia. Saat meraih kedudukan dan pangkat, mereka malah melakukan korupsi. Mereka tidak peduli apakah hal iu salah atau benar, merugikan orang lain atau tidak, karena mereka tidak mempunyai perasaan. Mereka hanya mengandalkan otak dalam bertindak, sedangkan hatinya tumpul.

Pengalaman semacam ini sesungguhnya mampu dijadikan pelajaran bagi bangsa ini. Bahwa pemberian ilmu yang hanya mengadalkan daya otak saja tidak cukup. Perlu adanya olah jiwa. Olah jiwa tersebut bisa diraih dengan sastra. Sebab, sastra seperti puisi, cerpen, novel timbul dari perenungan jiwa. Ia adalah ungkapan perasaan yang dituangkan dalam kata-kata.

Dengan bersastra, diharapkan jiwa yang kering akan basah kembali. Perasaan yang tumpul akan peka kembali. Sehingga hidup akan senantiasa terarah, teratur, dan tidak semaunya sendiri. Ini artinya, sastra sedapat mungkin harus menjadi prioritas di bangku sekolah. Jangan hanya sekadar sambilan. Pelajaran sastra harus dibuat semenarik mungkin. Hindari memasukkan sastra-sastra absurd yang tidak dimengerti oleh anak didik karena mereka tidak akan suka. Ajak anak didik untuk berapresiasi. Dengan begitu, sastra akan mendapat tempat dan tidak lagi termarginalkan. n

* Fatkhul Anas, penikmat sastra, peneliti pada Fakultas Tarbiyah UN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 18 Oktober 2008

Monday, September 8, 2008

Upaya Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra di Kalimantan Tengah

Oleh Puji Santosa

TAHUN 2008 ditetapkan sebagai Tahun Bahasa karena bertepatan dengan 100 tahun (satu abad) kebangkitan nasional, 80 tahun (10 windu) Sumpah Pemuda, dan 60 tahun Pusat Bahasa berkiprah dalam bidang kebahasaan dan kesastraan untuk lebih memartabatkan bangsa melalui jalur bahasa. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun kini sudah berumur satu windu atau delapan tahun, mulai operasional tahun 2000 dengan nama Kantor Bahasa Palangkaraya, bersama masyarakat Kalimantan Tengah membangun bangsa yang lebih beradab dan bermartabat melalui pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra, Indonesia dan Daerah, di Provinsi Kalimantan Tengah.

Dalam rangka menyemarakkan Tahun Bahasa 2008, hari ulang tahun ke-63 Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (17 Agustus 1945—17 Agustus 2008), dan 51 tahun Provinsi Kalimantan Tengah, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menggelar berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan di di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah pada sepanjang tahun 2008 ini. Kegiatan kebahsaan dan kesastraan ini dinamai “Semarak Tahun Bahasa 2008: Merdeka! dan Merdeka!”.

Tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk membangkitkan minat masyarakat Kalimantan Tengah terhadap kegiatan kebahasaan dan kesastraan, meningkatkan apresiasi dan kreativitas masyarakat Kalimantan Tengah dalam pembelajaran bahasa dan sastra, menumbuhkan-kembangkan sikap positif, bangga, dan rasa cinta dengan bahasa dan sastra milik sendiri, serta memupuk rasa solidaritas untuk semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tema kegiatan ini adalah “Melalui pembelajaran bahasa dan sastra, Indonesia dan Daerah, kita tingkatkan minat baca masyarakat Kalimantan Tengah dalam rangka menyemarakkan Tahun Bahasa 2008 dan sekali Merdeka! tetap Merdeka!”.

Sepanjang tahun 2008 Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah telah melakukan kegiatan kebahasaan dan kesastraan. Diawali tahun 2008 Balai Bahasa melaksanakan temu sastrawan Kalimantan Tengah untuk bersama-sama membicarakan tawaran Korrie Layun Rampan agar berperan serta dalam Dialog Sastarawan Kalimantan-Borneo di Samarindra tahun 2009. Para anggota Ikatan Sastrawan Kalimantan Tengah (ISASI) yang diketuai oleh Drs. Supardi akan ikut aktif dalam kegiatan tersebut.

Untuk menghidupkan kegiatan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Kalimantan Tengah dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kalimantan Tengeh, Balai Bahasa pun ikut berperan serta dalam kegiatan diskusi kebahasaan yang diselenggarakan di kantor Redaksi Kalteng Pos, 16 Februari 2008 dan 9 Juni 2008. Diskusi yang pertama disiarkan secara langsung oleh Radio KPFM selama dua jam. Diskusi kebahasaan yang kedua di selenggarakan di RRI Palangkaraya, Sabtu, 19 April 2008, dan sekaligus disiarkan secara langsung selama dua jam. Kegiatan lain adalah Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) terhadap 85 wartawan yang mengikuti Karya Latihan Wartawan (KLW) di Sampit, 30 Maret 2008, serta Seminar Bahasa Media Massa di Palangkaraya pada hari Senin, 9 Juni 2008, dengan mendatangkan Kepala Pusat Bahasa, Dr. Dendy Sugono, Ketua FBMM Pusat, TD Asmadi, dan Kepala Kantor Bahasa Kalimantan Timur, Drs. Pardi, M.Hum., serta pembicara dari Universitas Palangkaraya, Drs. H. Lukman Hakim Siregar.

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun sangat peduli terhadap pembinaan, pengembangan, pemeliharaan, dan pelestarian bahasa Daerah. Untuk keperluan ini Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga telah menggelar Seminar Nasional Bahasa Dayak di Palangkaraya pada tanggal 10 Juni 2008 dengan menghadirkan pembicara Drs. Hardy Rampay, M.Si., Dr. Arnosianto M. Mage, M.A., Dr. Petrus Poerwadi, M.S., dan Drs. Yohanes Kalamper. Hasil seminar ini merekomendasikan untuk diadakan Kongres Bahasa Dayak secara internasional di Palangkaraya pada tahun 2009 atau 2010 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah.

Untuk meningkatkan mutu pengguna bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama bahasa persuratan dan tata dinas, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga telah melaksanakan penyuluhan Bahasa Indonesia kepada masyarakat Kalimantan Tengah, yang diikuti oleh guru-guru nonbahasa dan kepala tata usaha sekolah dan kepala tata usaha dinas kabupaten, di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, 27—29 Maret 2008, dan di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, 12—14 Mei 2008. Untuk penyegaran Bahasa Indonesia para pejabat di lingkungan pemerintah provinsi dan kabupaten, dimulai dari pejabat eselon IV dan III, dan pemayarakatan Bahasa Indonesia untuk pelaku pembuat reklame, papan nama, spanduk, baliho, dan media ruang publik, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah telah merencanakan kegiatan ini dengan Biro Kesra Pemda Provinsi Kalteng yang diwakili oleh Kepala Bagian Bina Sosial Pemda Prov. Kalteng pada tanggal 16—17 Juli 2008 di Jakarta.

Selain penyuluhan Bahasa Indonesia, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2008 ini juga melaksanakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) kepada guru, karyawan, siswa SMK di kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, 12 April 2008, dan di Kabupaten Sukamara, 23 Juli 2008, serta para peserta pemilihan Duta Bahasa dan Duta Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2008, pada tanggal 20 Mei 2008 di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah. Para peserta pemilihan duta bahasa dan duta pariwisata ini juga dibekali keterampilan berbahasa Indonesia, berbahasa daerah, dan juga berbahasa Inggris agar mampu mengemban tugas dan misinya memperkenalkan Kalimantan Tengah di dunia internasional.

Pembinaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan nasional tidak hanya kepada masyarakat pribumi atau warga negara Republik Indonesia, tetapi juga bagi para penutur asing. Para turis manca negara dan pekerja asing pun perlu mendapatkan pembinaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga menyosialisasikan dan mengembangkan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) kepada masyarakat dan calon pengajar BIPA di Palangkaraya, 1 April 2008, dan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, 25 Juni 2008.

Dalam upaya meningkatkan mutu apresiasi siswa dan guru bahasa Indonesia SLTP dan SLTA, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah tidak tinggal diam di tempat. Bersama beberapa sastrawan Kalimantan Tengah kami bekerja sama menyelenggarakan “Bengkel Penulisan Kreatif Cerita Pendek Remaja” di Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, tempat kelahiran sastrawan nasional Fridolin Ukur, pada tanggal 2—4 April 2008, dan di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, 14—15 Mei 2008. Tidak hanya bengkel penulisan kreatif cerita pendek remaja, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga menyelenggarakan “Bengkel Musikalisasi Puisi” bagi siswa SLTP dan SLTA dan juga gurunya, di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, 28—29 Juli 2008.

Sementara itu, untuk meningkatkan mutu apresiasi sastra masyarakat Kalimantan Tengah, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah bekerja sama dengan MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Palangkaraya menyelenggarakan Seminar Apresiasi Sastra yang Menyenangkan dan Inovatif, di Palangkaraya, Sabtu, 16 Februari 2008, diikuti lebih dari 300 guru, mahasiswa, dan sastrawan, serta menyelenggarakan Dialog Sastra bersama sastrawan sufistik Danarto, di Kuala Kapuas, 19 Maret 2008 dan di Palangkaraya, 20 Maret 2008 yang diikuti lebih dari 100 orang peminat sastra.

Masih bekerja sama dengan MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Palangkaraya, ditambah dengan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) FKIP Universitas Palangkaryara, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menyelenggarakan bedah buku kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan karya sastrawan asal Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Sandi Firly, pada tanggal 7 Mei 2008 yang dilanjutkan debat seru dengan para peserta bedah buku.

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun ikut juga memeriahkan Seminar Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kesastraan yang diselenggarakan oleh FKIP Universitas Palangkaraya, dalam memeriahkan hari Chairil Anwar, 28 April 2008, yang diikuti peserta lebih dari 450 orang, dengan pembicara Drs. Puji Santosa, M.Hum., dan Dr. Petrus Poerwadi, M.S., serta moderator Drs. Lukman Hakim Siregar.

Pembinaan peningkatkan apresiasi sastra bagi masyarakat Kalimantan Tengah terus kami upayakan. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 14 Juli 2008, kami selenggarakan Temu Sastra Majelis Sastera Asia Tenggara bersama sastrawan nasional Hamsad Rangkuti. Dalam temu sastra ini juga kami hadirkan sastrawan karungut dari Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kurnia Untel. Kegiatan ini diikuti lebih dari 150 orang dan diliput oleh berbagai media massa lokal dan nasional.

Kegiatan lomba dan sayembara pun kami laksanakan guna meningkatkan mutu apresiasi sastra masyarakat Kalimantan Tengah pada tahun 2008 ini. Beberapa kegiatan lomba dan sayembara tersebut adalah sebagai berikut.
Sayembara Penulisan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Tahun 2008. Sayembara cerita rakyat ini bertujuan menggali potensi budaya nilai-nilai kearifan lokal (lokal genius) Kalimantan Tengah. Kegiatan ini hanya diikuti 18 peserta dengan Juri Abdul Fatah Nahan (penulis cerita rakyat), Dr. Petrus Poerwadi, M.S. (pakar cerita rakyat Kalimantan Tengah), dan Dra. Nani Setiawati, M.Si. (penulis nasional cerita rakyat Kalteng). Ketiga juri tersebut memutuskan cerita rakyat: “Anggir Sarangga” karya Janang memenangkan hadiah Harapan III, “Bawi Kambang dan Bawi Ranjau” karya Yuni Sri (SMP PGRI) memenangkan hadiah Harapan II, “Leniri” karya Nisa Noorlela (SMAN 2 Pahandut) memenangkan hadiah Harapan I, “Indu Mien” karya Mega Melita T (SMAN 1 Pahandut) memenangkan hadiah ke-3, “Liang Saragi” karya Dwi Jelita Natalya Saragi (SMP Katolik Santo Paulus) memenangkan hadiah ke-2, dan cerita rakyat “Legenda Desa Mintin” karya Tri Arfayanti, S.Pd. (MTsN 1 Model Palangkaraya) memenangkan hadiah pertama. Karya para pemenang lomba ini semua dikirimkan ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan sejenis pada tingkat nasional.

Sayembara Cipta Cerpen Remaja Se-Kalimantan Tengah tahun 2008 bertujuan menggali potensi kreatif remaja dalam menyalurkan bakat dan prestasinya dibidang kebahasaan dan kesastraan. Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta dengan juri Drs. Supardi, Elsy Suarni, S.Pd., dan Pahit S. Narattama, S.Hut., memutuskan sepuluh nominasi cerpen remaja terbaik se-Kalimantan Tengah. Adapun kesepuluh cerpen terbaik tingkat Kalimantan Tengah itu adalah “Bujang Si Anak Desa” karya Pratiwi Indah Surya Meida (SMAN 3 Jekanraya), “Liku-Liku Emosional Seorang Guru” karya Tri Yuni (SMAN 3 Jekanraya), “Lentera Terakhir” karya Nurul Hatimah (SMAN 3 Jekanraya), “Pertemuan Terencana” karya Rakhmawati Aulia (SMAN 3 Kuala Kapuas), “Misteri Dompet Kita” karya Ridha Mawadah (SMAN 1 Tamiang Layang), “Keputusan Terbaik” karya Bela Santa Rossi (SMAN 1 Tamiang Layang), “Gita Cinta dan Cita” karya Normantie (SMAN 1 Pahandut), “Kembar Pengantin” karya Evie Novitasari (SMAN 1 Pahandut), “Inilah Hidupku” karya Oktavina (SMAN 1 Pahandut), dan “Bunga untuk Mama” karya Sheilla Marlyana (MTsN Buntok). Kesepuluh cerpen tersebut akan diikutkan kegiatan yang sama di tingkat nasional, yakni dikirim ke Jakarta mengikuti sayembara sejenis.

Kepada semua pemenang sayembara tulis-menulis tersebut saya harapkan betul-betul sebagai karya asli mereka sendiri, bukan saduran, jiplakan, atau plagiator. Dari Panitia Sayembara Penulisan Cerita Rakyat tersebut saya peroleh laporan ada peserta yang mengirimkan ceritanya bukan karya aslinya sendiri, karya orang lain yang diaku miliknya. Kebetulan jurinya membaca dan itu adalah karya dari salah satu juri, Bapak Abdul Fatah Nahan. Tentu perbuatan ini sangat tercela, tidak terpuji, dan jangan sampai terulang lagi.

Lomba Baca Puisi Guru SD diadakan di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada tanggal 12—13 Agustus 2008. Pesertanya adalah guru SD se-Kalimantan Tengah, dan diikuti oleh 35 orang peserta. Dewan Juri yang diketuai oleh Drs. Makmur Anwar M.H. dengan anggota Elsy Suarni, S.Pd., dan Suyitno B.T. memutuskan Alfisyah (MIN Model Pahandut Palangkaraya) sebagai pemenang Harapan III, Mudjiasri, A.Ma. (SDN 8 Palangka) sebagai pemenang Harapan II, Suryo Sulistianto (SD Katolik Santa Don Bosco Palangkaraya) sebagai pemenang Harapan I, Ernawati, S.Ag. (MIN Model Pahandut Palangkaraya) sebagai pemenang III, Sumiatun Hartini, S.Pd. (MIN Model Pahandut Palangkaraya) sebagai pemenang II, dan Abdullah T., S.Ag. (MIN Langkai Palangkaraya) sebagai pemenang pertama. Penilaian juri meliputi penghayatan (40%), penampilan (30%), dan vokal (30%). Seluruh peserta lomba baca puisi guru SD ini juga akan dibekali pengetahuan tentang penulisan esai pengajaran bahasa dan sastra untuk mengikuti lomba di Jakarta dan penulisan puisi siswa SD oleh Kepala Balai Bahasa Kalteng.

Lomba Musikalisasi Puisi Siswa SLTP dan SLTA diadakan pada tanggal 19—20 Agustus 2008. Pesertanya adalah siswa SLTP dan SLTA se-Kalimantan Tengah yang diikuti oleh 13 kelompok musikalisasi. Dewan Juri yang diketuai oleh Dafi Fajar Rahardjo, S.Sn., dengan anggota Agung Catur Prabowo, M.Hut., dan M. Alimulhuda (sastrawan dan pekerja seni teater), memutuskan kelompok musikalisasi: “Muzika” SMAN 3 Jekanraya memenangkan Harapan III, “Fana Ferias” MTs Model Palangkaraya memenangkan Harapan II, “D’Best One” SMPN 2 Pahandut memenangkan Harapan I, “Mandera” MAN Model Palangkaraya memenangkan hadiah ke-3, “Penyang” SMAN 2 Jekanraya memenangkan hadiah ke-2, dan “Zukatair” SMAN 2 Pahandut memenangkan hadiah Pertama. Pemenang Pertama Lomba Musikalisasi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah ini berhak menjadi duta Kalimantan Tengah dan akan dikirim ke tingkat nasional untuk mengikuti Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional pada tanggal 22—24 Oktober 2008 di Jakarta.

Kepada seluruh pemenang sayembara dan lomba kami ucapkan selamat atas prestasi yang diraihnya. Pada hari Rabu dan Kamis, 27—28 Agustus 2008 seluruh pemenang diundang ke Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah untuk menerima hadiah dan tampil dihadapan para hadirin menyampaikan buah karya yang diraihnya. Kami hanya dapat memberi penghargaan berupa Piagam Penghargaan, Piala, Buku-buku terbitan Pusat Bahasa, dan uang pembinaan ala kadarnya. Kami juga mengharapkan kepada semua pemenang untuk tetap dan terus berkarya dan berkarya menunjukkan prestasinya. Jangan hanya berhenti sampai di sini. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah hanya memacu dan mendorong kreativitas, semangat berkarya, dan berprestasi yang lebih unggul dan lebih baik lagi, syukur-syukur hingga jenjang nasional ataupun internasional.

Penghargaan Tokoh Kebahasaan dan Kesastraan diberikan oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2008 ini kepada tokoh masyarakat Kalimantan Tengah yang berjasa terhadap pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra di Kalimantan Tengah. Penghargaan ini semata-mata diberikan kepada tokoh berdasarkan: hasil karya kebahasaan dan kesastraan, kuantitas karya, kualitas karya, konsistensi dan komitmen dalam bidangnya, aktivitasnya dalam mengembangkan bahasa dan sastra, baik sastra Indonesia maupun sastra Daerah di Kalimantan Tengah, serta kharisma yang dimiliki tokoh tersebut. Sebagai ucapan syukur dan rasa terima kasih Balai Bahasa Kalteng kepada tokoh yang turut serta membantu pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra di Kalimantan Tengah perlu diberi penghargaan ini. Tokoh penerimaan penghargaan dari Balai Bahasa Kalteng ini diminta memberikan orasi/pidato penerimaannya pada pembukaan Puncak Acara Semarak Tahun Bahasa 2008 dalam Pekan Bahasa dan Sastra 2008 yang diadakan pada tanggal 27 Agustus 2008. Kedua tokoh yang berhak menerima penghargaan dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah ini adalah Prof. H.K.M.A.M. Usop, M.A. dan Drs. Makmur Anwar M.H.

Pekan Bahasa dan Sastra 2008 adalah salah satu kegiatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka menyemarakkan Tahun Bahasa 2008. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Jalan Tingang Km 3,5, Palangkaraya, pada tanggal 27—28 Agustus 2008. Dalam Pekan Bahasa dan Sastra 2008 ini ditampilkan: (1) Orasi/pidato kebahasaan/kesastraan oleh dua tokoh penerima Penghargaan Kebahasaan dan Kesastraan 2008 dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, (2) Pembacaan Cerita Pendek Remaja hasil 10 nominasi Sayembara Cipta Cerpen Remaja 2008 Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah, (3) Pembacaan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah hasil pemenang Sayembara Penulisan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Tahun 2008, (4) Pentas Baca Puisi Guru SD hasil pemenang Lomba Baca Puisi Guru SD Tahun 2008, (5) Pentas Musikalisasi Puisi hasil pemenang Lomba Musikalisasi Puisi Siswa SLTP dan SLTA se-Kalimantan Tengah tahun 2008, dan (6) Pentas Teater dari Sanggar Teater Terapung pimpinan Saudara M. Alimul Huda dan Agung Catur Prabowo, M.Hut. Sedianya kami juga akan menyelenggarakan Parade Pidato Mahasiswa tentang “Peran Generasi Muda dalam Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra dalam Upaya Memperkokoh Kesatuan dan Persatuan Bangsa”. Pidato mahasiswa ini ditiadakan karena kegiatannya diundur pada bulan Oktober 2008.

Pada bulan Oktober 2008 Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah masih menyisakan kegiatan: (1) Pidato Mahasiswa, (2) Bulan Bahasa dan Sastra di SMAN 1 Tamiang Layang, (3) Pengiriman Duta Bahasa Provinsi Kalteng ke ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional, di Jakarta, (4) Pengiriman Kelompok Musikalisasi Puisi dari SMAN 1 Pahandut, Palangkaraya, ke ajang Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional, di Jakarta, (5) Pameran Kebahasaan dan Kesastraan di arena Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28—1 November 2008, (6) Penulisan Ensiklopedia Sastra Kalimantan Tengah, dan beberapa penelitian dan penyusunan kebehasaan dan kesastraan Kalimantan Tengah.
Itulah beberapa upaya yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah bersama-sama masyarakat membangun bangsa yang lebih beradab dan bermartabat melalui pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra, Indonesia dan Daerah, di Kalimantan Tengah.

* Puji Santosa, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan