MEMPLAGIAT atau menjiplak tulisan orang lain merupakan dosa tidak berampun buat penulis. Sebab, ketika karya itu diketahui media massa yang memuat karya yang dijiplak, nama penulisnya akan masuk daftar hitam (blacklist).
Selain itu, penulis yang karyanya dijiplak akan merasa tersinggung. Oleh sebab itu, kegiatan culas ini harus dihindari jauh-jauh oleh mereka yang bergiat dalam dunia tulis-menulis.
Demikian benang merah yang disampaikan staf korektor bahasa Lampung Post yang juga seorang penulis opini, Adian Saputra, dalam Diklat Penulisan Opini dan Resensi Buku yang diadakan Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila), di Gedung A3 Fakultas Pertanian kampus setempat, Minggu (20-4).
Penulis yang karyanya sudah sekitar 350-an dipublikasikan di media massa, utamanya di Lampung Post, sejak 1999 itu, menambahkan kampus merupakan kawah candradimuka untuk mengembangkan keterampilan menulis. Sebab, dari kampus banyak lahir penulis, jurnalis, dan wartawan yang andal. Namun, untuk menjadi penulis, seseorang harus banyak membaca dan terus belajar, salah satunya dengan praktek menulis sepanjang waktu. Sebab, makin sering berlatih, hasil tulisan makin halus dan gaya menulis akan muncul.
Anggota tim penulis buku Setengah Abad Alzier Dianis Thabranie ini menambahkan memang butuh waktu untuk menjadi penulis yang dikenal dan punya pasar tersendiri. Akan tetapi, dengan terus berlatih, keterampilan itu akan semakin terasah dan visi untuk menjadi penulis yang baik akan terwujud.
Instruktur pada Bengkel Jurnalisme ini menuturkan juga tugas kedua penulis ialah memasarkan karyanya. Sebab, setiap media memiliki kecenderungan dan kebijakan yang berbeda dalam menerima artikel dari penulis lepas. Jika kita mengetahui banyak media dan kebijakan yang dikembangkan di media itu, akan mudah mengirim tulisan. Misalnya, tulisan bertema politik, dikirim ke media massa yang peduli dengan tema itu. Demikian pula artikel bertema keagamaan lebih memungkinkan dikirim ke media massa yang cenderung ke arah agamais. n */S-1
Sumber: Lampung Post, Selasa, 22 April 2008
Tuesday, April 22, 2008
Plagiat, Dosa Penulis yang Tidak Berampun
Posted by
Kantong Sastra
at
5:13 PM
0
comments
Labels: kiat/tips kepenulisan
Monday, April 21, 2008
Puisiku Lahir dari Jalanan
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
hendaklah puisiku lahir dari jalanan
dari desah nafas para anak gelandangan
jangan dari gunung besar
dan lampu gemerlapan
anak-anak jalanan yang mengais lapar
sebenarnya menjadi milik Tuhan
sebab rintihan mereka
tak bisa lagi mengharukan
anak-anak jalanan menyeret langkahnya
anak-anak jalanan sambil berbatuk-batuk darah
dan hatinya menggumpal luka
jiwanya amat dalam mengental
hendaklah puisiku anyir
seperti bau mulut mereka
yang terdampar di trotoar
yang terusir dan terkapar
anak-anak jalanan tak ikut memiliki kehidupan
mereka mengintai nasib orang yang dijumpainya
tetapi zaman telah kebal
terhadap derita mereka yang kekal
hendaklah puisiku
bisa menjadi persembahan yang menolongku
agar mereka menerimaku menjadi sahabat
dan memaafkan segala kelalaianku
yang banyak dilupakan orang ialah Tuhan
anak-anak jalanan dan korban-korban kehidupan
bisa jadi karib mereka agar bisa belajar tentang segala fana
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:12 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Perempuan Muda Itu?
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
perempuan muda itu
tertidur sambil menyusui anak perempuannya
dengan agak sedikit kelihatan
tubuhnya yang kuning langsat
ia membiarkannya
di dalam bis kota jurusan grogol
kecantikannya membuat semua orang
ingin menikmati
sambil menenteng plastik hitam
dan terus menggendong anaknya
ia bernyanyi sesuka hatinya
lalu recehan logam dan kertas masuk ke dalam
kantong tersebut
tak tahu kalau anaknya sendiri
kencing di dalam baju ibunya
bau amis pun sirna oleh angin bis kota
setelah ditanya;
”Aku ditinggal bapak anak ini, Mas.
Sekarang ia kawin lagi dengan seorang perempuan lain,” katanya.
Semoga Tuhan memberikan petunjuk pada
perempuan muda itu
Amin.
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:12 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Selamatkan Bumi dari Kapal Sedang Tenggelam
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
Bumi, alam, semesta ini sufistik
Langit adalah asap yang tergelar berdasar kerangka irfani
berpusat dan menggulung ke satu titik fokus
dengan gesekan lingkaran yang panas
Makin lama makin penuh titik intinya
berbentuk bola raksasa yang berpijar
di atas ”nuur” yang panas
bermilyar derajat celcius dengan sumber dari segala sumber
benda- benda di alam semesta ini
memiliki daya tarik gravitasi amat dahsyat
seperti cahaya bumi yang dipancarkan ke lubang
pelita di dalam kaca
laksana bintang yang dinyalakan
dengan minyak dari pohon zaitun
yang tidak tumbuh di barat maupun timur
tanpa nyala api
Tuhan memanjangkan bayang-bayang-Nya
dari tujuh kumpulan bola pijar raksasa
dihamparkan ke langit
galaksi, bintang, matahari
bentuk wujud kebesarannya
letusan gunung berapi
memuntahkan dari dalam makhluk penghuni planet
para jin adalah aeter yang panas
sungai, danau, lautan dan gunung
adalah air magma bumi membasahi tanah
bulan, bumi, planet adalah
tata surya bola pijar seperti matahari
di mana evolusi waktu
membengkak seribu sampai lima puluh ribu tahun
Tuhan pun mencipta hanya sekejap
dari waktu yang ada
atmosfir dan perut bumi pun
mengeluarkan kepundan-kepundan
akan mati
karena laut, pasir, manusia, batu
melekat beterbangan ke atas angkasa
kehabisan daya gravitasi
kita pun melangkahkan kaki dengan terpental-pental
di atas molekul-molekul yang semakin berhimpitan
Tuhan mencipta bumi
bukan seperti surga yang penuh
bidadari dan kemewahan imajinasi indrawi
dan kehidupan pun tidak akan ada lagi di permukaan bumi
berlubangnya lapisan ozon
akibat hutan yang menipis
karena tangan-tangan manusia
sinar matahari pun tak lagi bercahaya
manusia hidup di bumi
saling bunuh satu dengan yang lain
keserakahan,
dan menipisnya naluri manusia
akan menguras sumber panas bumi
membuat kaum perempuan
malas dan enggan untuk mengandung,
menyusui, bahkan dengan sadis
membunuh bayi yang dilahirkannya
lahirlah pembantaian
dan kekejian di luar batas norma manusia
selamatkan bumi ini
dari kapal yang sedang tenggelam
bagaimana harus memberi makan
sepuluh miliar penduduk bumi
kalau kelaparan dalam skala raksasa melanda
bumi pun tidak akan mampu
memberi makan manusia
apabila kelaparan besar terjadi
kita kini sebagai saksi hidup
untuk menyelamatkan bumi
dari ledakan penduduk kekurangan gizi
dari tangan-tangan perusak alam hutan
tiga perempat penduduk miskin
terancam laparan dan kerusuhan sosial
dari kepentingan miliaran orang marjinal
terlupakan di desa-desa
kalau saat ini sedang terjadi
seorang perempuan muda
melakukan aborsi
karena takut untuk melahirkannya
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:11 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Matahari
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
Waktumu bergulir
menggelinding mengejar matahari senja
umurmu bergusur
terhapus
tiap tahun kau jilat
mendekat
batas hidup mati
Hidup gelisah
dikejar serakah
O, pesakitan hati
Larilah ke jalan lurus ini
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:10 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Menerpa Wajah
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
di lorong panjang jalan ini
kutemui senyummu
menghias matahari
berdandankah dirimu di kota sesak ini
waktu terus berputar
seiring langkah
kuhapus peluh
dan angin begitu cepat menerpa wajah
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:09 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Sebuah Pesan
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
Seekor burung yang terbang
jatuh ke atas kasur malamku
meninggalkan sebutir telur
dan sebuah pesan
untuk meneteskan telur itu
kalau jendela pagi
sempat kita buka berdua, Ajeng
jangan kau buat telur mata sapi
untuk santapan pagi
sebaiknya kita teteskan
meskipun dingin telah
mengurangi panas badan kita
kita biarkan telur menjadi burung
dan segera terbang menyusul induknya
ke tengah malam
mari berdoa,
agar malaikat menyertai
keberangkatannya nanti
Posted by
Kantong Sastra
at
11:08 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)