Oleh Wilson Nadeak
UPAYA memasyarakatkan sastra di sekolah-sekolah dan kampus perguruan tinggi patut dihargai. Kegiatan-kegiatan yang bersifat spontan atau yang bersifat tematis (misalnya memperingati Chairil Anwar, Hari Kartini, dsb) pun merupakan kejadian yang patut ditradisikan. Sementara kehadiran sastrawan di tengah-tengah mnereka dengan membacakan karya-karya mereka sendiri, atau terlibat di dalam diskusi dengan siswa dan mahasiswa, juga patut dibanggakan. Tetapi, jika peristiwa itu hanya berhenti di situ, maka upaya yang demikianlah adalah bagaikan embun di pagi hari atau semacam secangkir air ketika berada di gurun pasir!
Kita memerlukan strategi pengajaran apresiasi sastra di halaman-halaman lembaga pendidikan kita. Guru atau pengajar diharapkan mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi penikmatan karya sastra, tidak berhenti pada teori seperti lazimnya di ruang kelas. Tidak berhenti pada tugas PR membuat ringkasan sebuah novel atau penyebutan nama sastrawan dengan judul-judul karya mereka, maka pengetahuan yang demikian tidak melebihi pengetahuan seorang penjaja buku sastra di toko-toko buku atau di ruang-ruang dan situs-situs komputer. Para pengajar memerlukan strategi yang “alamiah” di luar jam-jam belajar.
Strategi “alamiah” itu misalnya, dengan memperhatikan siswa atau mahasiswa yang berminat kepada sastra. Mereka itu dicatat di dalam setiap kelas dan kemudian dikumpulkam, diarahkan, dan diberi serba sedikit penjelasan tentang pentingnya komunitas sastra di kampus/sekolah. Jumlah mereka tidak perlu terlalu banyak, berkisar pada 25-50 orang saja. Mereka ini dapat mengatur jadwal pertemuan mereka sendiri, tetapi guru atau pengajar sastra paling sedikit, sekali seminggu barada di tengah-tengah mereka, melontarkan isu-isu kebudayaan atau sastra ke tengah-tengah mereka. Bentuklah kelompok diskusi ini ke dalam sebuah kelompok yang kreatif, menularkan apresiasi mereka kepada yang lain, melalui acara-acara tertentu yang sesuai dengan lingkungan mereka.
Mereka dapat membuat pertemuan untuk membedah buku yang baru di bawah pengamatan guru mereka, atau mengundang pengarangnya untuk membicarakan proses kreatif. Mereka dapat mengadakan baca puisi bersama disertai sedikit pembahasan proses lahirnya sebuah puisi dan unsur-unsur apa yang terdapat pada sebuah puisi. Mungkin di dalam kelompok seperti itulah secara implisit seorang pengajar sastra mengemukakan apa yang dimaksud dengan “rima” “larik” “tone” dan “intention” atau hakikat puisi yang sebenarnya tanpa harus merumuskan prinsip itu ke dalam suatu
kerangka sistematika. Cukuplah dengan menunjukkan contoh puisi yang “indah” karena berirama, memiliki tujuan dan nada yang tersendiri.
Pendekatan yang “alamiah” jauh lebih mengesankan ketimbang pengajaran yang kaku dan “baku” di ruang kelas. Pemahaman yang mendalam akan diperoleh melalui jumpa pengarang dan pemerolehan informasi dari “dalam” lubuk hati pencipta hasil karya sastra itu. Di situ pulalah kesempatan bagi pengajar sastra mengungkap sedikit demi sedikit tujuan karya sastra itu diciptakan dan apa maknanya bagi kehidupan batin dan intelektual manusia.
Selain itu, siswa dan mahasiswa dapat mengemukakan pendapat dengan bebas atau mengajukan pertanyaan tanpa beban, tanpa takut salah atau berbeda dengan pendapat umum pengajar. Ia langsung melibatkan diri ke dalam dunia apresiasi sastra dari waktu ke waktu.
Kunjungan sastrawan ke kampus tidak mempunyai makna yang banyak dan mendalam. Kehadiran mereka yang hanya sekali menimbulkan rasa kagum dan memuaskan pandangan mata mereka dalam peerkenalan yang sekejap, tidak akan meninggalkan kesan apresiasi yang mendalam. Perkenalan fisik memang penting, tetapi lebih penting lagi jika perkenalan itu membuat siswa atau mahasiswa tertarik dan terus mencari dan menikmati karya pengarang yang menimbulkan rasa kagum itu. Adalah lebih baik rasa kagum karena perjumpaan itu dilanjutkan dengan “kagum” yang sebenarnya terhadap karya-karya mereka.
Daya kritis mereka sewaktu-waktu dapat muncul berkat pembacaan yang terus menerus. Seorang siswa atau mahasiswa yang pernah membaca sebuah karya pengarang yang baru dijumpainya, kemudian mencari karyanya yang lain dan menikmatinya, kemudian dapat memberikan timbangan mutu atas karya yang satu dengan yang lain - dalam konteks pengarang yang sama - bila ia mampu mengatakan bahwa karya yang ini lebih menarik dan berbobot daripada karyanya yang anu - itu berarti daya nalarnya sudah mulai berkembang dan daya apresiasinya meningkat.
Sesuatu yang perlu diperhatikan oleh komunitas sastra seperti ini, bahwa banyak pengarang muda yang masuk ke kampus mereka membacakan sajak-sajaknya dengan cara yang aneh-aneh, bahkan dengan suara hiruk-pikuk segala. Pendengar menjadi bingung. Sayangnya, penikmat pemula ini akan menyangka bahwa begitulah cara pengapresiasian puisi yang baik. Padahal, apresiasi puisi yang baik bukanlah yang demikian, itu hanya sebuah cara pengarang mengekspresikan karyanya! Itu sebuah cara!
Para pengajar harus tetap kepada hakikat sastra, menekankan makna penikmatan sebuah karya sastra, dengan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Bagaimana sebuah larik mengandung bobot melalui kata yang bernas dan berirama, padat dan merasuk dalam hati, tanpa tenggelam kepada “teriakan-teriakan” pembacaan di panggung.
Jadi, pemimpin komunitas sastra di kampus sebaiknya mendalami makna sebuah puisi dan mambacakannya sesuai dengan tekanan yang terdapat di dalam puisi itu sendiri. Sajak-sajak kontemplatif sebaiknya dibacakan di dalam suasana hening, melibatkan pendengar kepada keheningan yang terkuak dari dalamnya. Sajak-sajak “mimbar” yang bertumpu pada suara vokal dapat dinikmati tanpa harus berteriak-teriak, karena teriakan yang kurang tepat justru mengaburkan makna puisi itu sendiri. Padahal kita tahu, bahwa puisi mengandung makna kehidupan yang menginti, yang berbobot dari kehidupan itu ditampilkan dalam irama yang tepat dan mengharukan.
Sekitar tahun enam puluhan dan tujuh puluhan, penikmatan puisi umumnya dilakukan dengan deklamasi, artinya, penikmat menghapal puisi luar kepala dan menampilkannya dari mimbar. Proses penghapalan ini adalah bagian dari peningkatan apresiasi, karena dengan mengulang-ngulanginya, penghapal menyerap intisari dari puisi itu sendiri. Ia melakukan proses penafsiran dan itu diungkapkan di dalam intonasi, ekspresi atau penghayatan yang intens. Sementara gerak hanya sekadar menekankan makna, bukan menghamburkan makna!
Hal-hal seperti itulah yang mungkin dilakukan oleh seorang pengajar sastra untuk meningkatkan apresiasi mereka. Komunitas sastra yang diciptakan di dalam kampus dapat digunakan untuk meningkatkan apresiasi siswa dan mahasiswa lain, dalam lingkungan yang dibatasi pula. Kelompok itu dapat berkumpul atau mengumpulkan massa di luar komunitas itu, sekitar 50 orang dan membentuk lingkaran yang tidak begitu formal dan melakukan kegiatan seperti yang dilakukan di dalam kelompok atau komunitas inti!
Dengan demikian, komunitas sastra akan terus menerus ditemukan di dalam kampus, dengan tradisi yang dapat diperkaya dari waktu ke waktu. Biarkanlah komunitas itu bertumbuh secara kreatif, tanpa harus diarah arahkan, melainkan dirangsang dengan upaya-upaya yang beragam.
Di dalam komunitas inilah pengayaan jumlah buku dapat dilakukan, jika setiap anggota komunitas berpartisipasi menyumbangkan satu buku saja dari pengarang yang berbeda, sehingga dalam sekejap 50 buku berada di tengah-tengah mereka, yang digilir dan diputarkan di antara mereka sekaligus menciptakan suasana saling memiliki. Beberapa bulan berikutnya mereka membeli buku kedua dan akhirnya secara “alamiah” perpustakaan mereka yang hidup tercipta secara “tidak sengaja”.
Dari Suara Pembaruan, 24 Januari 2003
Wednesday, May 7, 2008
Menciptakan Komunitas Sastra di Sekolah
Posted by
Kantong Sastra
at
5:47 PM
0
comments
Labels: kiat/tips kepenulisan
Tuesday, April 22, 2008
Plagiat, Dosa Penulis yang Tidak Berampun
MEMPLAGIAT atau menjiplak tulisan orang lain merupakan dosa tidak berampun buat penulis. Sebab, ketika karya itu diketahui media massa yang memuat karya yang dijiplak, nama penulisnya akan masuk daftar hitam (blacklist).
Selain itu, penulis yang karyanya dijiplak akan merasa tersinggung. Oleh sebab itu, kegiatan culas ini harus dihindari jauh-jauh oleh mereka yang bergiat dalam dunia tulis-menulis.
Demikian benang merah yang disampaikan staf korektor bahasa Lampung Post yang juga seorang penulis opini, Adian Saputra, dalam Diklat Penulisan Opini dan Resensi Buku yang diadakan Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila), di Gedung A3 Fakultas Pertanian kampus setempat, Minggu (20-4).
Penulis yang karyanya sudah sekitar 350-an dipublikasikan di media massa, utamanya di Lampung Post, sejak 1999 itu, menambahkan kampus merupakan kawah candradimuka untuk mengembangkan keterampilan menulis. Sebab, dari kampus banyak lahir penulis, jurnalis, dan wartawan yang andal. Namun, untuk menjadi penulis, seseorang harus banyak membaca dan terus belajar, salah satunya dengan praktek menulis sepanjang waktu. Sebab, makin sering berlatih, hasil tulisan makin halus dan gaya menulis akan muncul.
Anggota tim penulis buku Setengah Abad Alzier Dianis Thabranie ini menambahkan memang butuh waktu untuk menjadi penulis yang dikenal dan punya pasar tersendiri. Akan tetapi, dengan terus berlatih, keterampilan itu akan semakin terasah dan visi untuk menjadi penulis yang baik akan terwujud.
Instruktur pada Bengkel Jurnalisme ini menuturkan juga tugas kedua penulis ialah memasarkan karyanya. Sebab, setiap media memiliki kecenderungan dan kebijakan yang berbeda dalam menerima artikel dari penulis lepas. Jika kita mengetahui banyak media dan kebijakan yang dikembangkan di media itu, akan mudah mengirim tulisan. Misalnya, tulisan bertema politik, dikirim ke media massa yang peduli dengan tema itu. Demikian pula artikel bertema keagamaan lebih memungkinkan dikirim ke media massa yang cenderung ke arah agamais. n */S-1
Sumber: Lampung Post, Selasa, 22 April 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
5:13 PM
0
comments
Labels: kiat/tips kepenulisan
Monday, April 21, 2008
Puisiku Lahir dari Jalanan
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
hendaklah puisiku lahir dari jalanan
dari desah nafas para anak gelandangan
jangan dari gunung besar
dan lampu gemerlapan
anak-anak jalanan yang mengais lapar
sebenarnya menjadi milik Tuhan
sebab rintihan mereka
tak bisa lagi mengharukan
anak-anak jalanan menyeret langkahnya
anak-anak jalanan sambil berbatuk-batuk darah
dan hatinya menggumpal luka
jiwanya amat dalam mengental
hendaklah puisiku anyir
seperti bau mulut mereka
yang terdampar di trotoar
yang terusir dan terkapar
anak-anak jalanan tak ikut memiliki kehidupan
mereka mengintai nasib orang yang dijumpainya
tetapi zaman telah kebal
terhadap derita mereka yang kekal
hendaklah puisiku
bisa menjadi persembahan yang menolongku
agar mereka menerimaku menjadi sahabat
dan memaafkan segala kelalaianku
yang banyak dilupakan orang ialah Tuhan
anak-anak jalanan dan korban-korban kehidupan
bisa jadi karib mereka agar bisa belajar tentang segala fana
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:12 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Perempuan Muda Itu?
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
perempuan muda itu
tertidur sambil menyusui anak perempuannya
dengan agak sedikit kelihatan
tubuhnya yang kuning langsat
ia membiarkannya
di dalam bis kota jurusan grogol
kecantikannya membuat semua orang
ingin menikmati
sambil menenteng plastik hitam
dan terus menggendong anaknya
ia bernyanyi sesuka hatinya
lalu recehan logam dan kertas masuk ke dalam
kantong tersebut
tak tahu kalau anaknya sendiri
kencing di dalam baju ibunya
bau amis pun sirna oleh angin bis kota
setelah ditanya;
”Aku ditinggal bapak anak ini, Mas.
Sekarang ia kawin lagi dengan seorang perempuan lain,” katanya.
Semoga Tuhan memberikan petunjuk pada
perempuan muda itu
Amin.
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:12 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Selamatkan Bumi dari Kapal Sedang Tenggelam
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
Bumi, alam, semesta ini sufistik
Langit adalah asap yang tergelar berdasar kerangka irfani
berpusat dan menggulung ke satu titik fokus
dengan gesekan lingkaran yang panas
Makin lama makin penuh titik intinya
berbentuk bola raksasa yang berpijar
di atas ”nuur” yang panas
bermilyar derajat celcius dengan sumber dari segala sumber
benda- benda di alam semesta ini
memiliki daya tarik gravitasi amat dahsyat
seperti cahaya bumi yang dipancarkan ke lubang
pelita di dalam kaca
laksana bintang yang dinyalakan
dengan minyak dari pohon zaitun
yang tidak tumbuh di barat maupun timur
tanpa nyala api
Tuhan memanjangkan bayang-bayang-Nya
dari tujuh kumpulan bola pijar raksasa
dihamparkan ke langit
galaksi, bintang, matahari
bentuk wujud kebesarannya
letusan gunung berapi
memuntahkan dari dalam makhluk penghuni planet
para jin adalah aeter yang panas
sungai, danau, lautan dan gunung
adalah air magma bumi membasahi tanah
bulan, bumi, planet adalah
tata surya bola pijar seperti matahari
di mana evolusi waktu
membengkak seribu sampai lima puluh ribu tahun
Tuhan pun mencipta hanya sekejap
dari waktu yang ada
atmosfir dan perut bumi pun
mengeluarkan kepundan-kepundan
akan mati
karena laut, pasir, manusia, batu
melekat beterbangan ke atas angkasa
kehabisan daya gravitasi
kita pun melangkahkan kaki dengan terpental-pental
di atas molekul-molekul yang semakin berhimpitan
Tuhan mencipta bumi
bukan seperti surga yang penuh
bidadari dan kemewahan imajinasi indrawi
dan kehidupan pun tidak akan ada lagi di permukaan bumi
berlubangnya lapisan ozon
akibat hutan yang menipis
karena tangan-tangan manusia
sinar matahari pun tak lagi bercahaya
manusia hidup di bumi
saling bunuh satu dengan yang lain
keserakahan,
dan menipisnya naluri manusia
akan menguras sumber panas bumi
membuat kaum perempuan
malas dan enggan untuk mengandung,
menyusui, bahkan dengan sadis
membunuh bayi yang dilahirkannya
lahirlah pembantaian
dan kekejian di luar batas norma manusia
selamatkan bumi ini
dari kapal yang sedang tenggelam
bagaimana harus memberi makan
sepuluh miliar penduduk bumi
kalau kelaparan dalam skala raksasa melanda
bumi pun tidak akan mampu
memberi makan manusia
apabila kelaparan besar terjadi
kita kini sebagai saksi hidup
untuk menyelamatkan bumi
dari ledakan penduduk kekurangan gizi
dari tangan-tangan perusak alam hutan
tiga perempat penduduk miskin
terancam laparan dan kerusuhan sosial
dari kepentingan miliaran orang marjinal
terlupakan di desa-desa
kalau saat ini sedang terjadi
seorang perempuan muda
melakukan aborsi
karena takut untuk melahirkannya
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:11 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Matahari
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
Waktumu bergulir
menggelinding mengejar matahari senja
umurmu bergusur
terhapus
tiap tahun kau jilat
mendekat
batas hidup mati
Hidup gelisah
dikejar serakah
O, pesakitan hati
Larilah ke jalan lurus ini
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:10 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Menerpa Wajah
Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim
di lorong panjang jalan ini
kutemui senyummu
menghias matahari
berdandankah dirimu di kota sesak ini
waktu terus berputar
seiring langkah
kuhapus peluh
dan angin begitu cepat menerpa wajah
Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16
Posted by
Kantong Sastra
at
11:09 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)