Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Bergayut
menuju haluan
Ke sana kita meniti
menjajaki diri
pada penantian
Warna-warni katamorgana
memadu irama
membius luka
segala yang mendera, kejujuran!
Biarkan hari-hari bergirang
membawa segala nada
pada cinta dan rasa
segala nama, kebenaran!
Sebuah kata
pada makna
yang mendakwa sukma
"Kerinduan!"
Purwokerto, 31 Agustus 2008
Thursday, January 21, 2010
Kerinduan
Posted by
Kantong Sastra
at
9:57 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Sajak Ketika Purnama
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Pada setiap sepimu, terhempaskan riak dan riang sang purnama
Meradang ke ufuk gelora malam yang menawan
Tereja sajak, terpilin rupawan
merambati nalar yang blingsatan
bait-bait sajakmu beradu cemburu
pada cumbu disetiap penjuru
kemari, tataplah sinarmu yang menerawang
meluruhkan kesumat yang membisu lalu tertawan
wahai, akal yang kandas!'
tambahkan pada nyalimu setetes rasa yang terbuang
Lirikmu makin syahdu
Mencumbui para babu yang lugu
Di batas mimpi-mimpi yang dungu
Jangan menunggu!
Wahai, waktu berlalu
memburu masa dan lampau
kita berpacu...
Posted by
Kantong Sastra
at
9:56 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Meniti Hari
(buat: Sahabat di segala waktu)
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Jangan engkau tertegun
dalam perhentian langkahmu
jangan terpana dengan problema
yang telah berlalu.......
Sebab kesempatan
hari-hari
matahari
fajar
dan semangatmu itu
bukankah itu api yang berkobar?
Yang sanggup membakar, menghanguskan
lembaran lama yang usang
kesempatan
akan tetap datang
dan keberhasilan hanya diundur
Suatu waktu
keberuntungan akan menghampirimu
kemenangan akan menggapaimu
saat kau terjerembab
tak bisa lagi berkata-kata
jangan teteskan air mata gundah
Hari ini
kita masih dapat bersua
meniti waktu, cerita, dan mimpi
tentang kisah, wanita dan khayalan cinta
di batas waktu
sampai napasku tersengal
dan nadiku berhenti berdetak
sampai sang pencipta memanggilku
Aku akan kagum
betapa kau gigih berjuang
tegar bagai baja
menangis lalu tertawa
riang
karena kita pasti bisa
Sokaraja, 28 Agustus 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
9:55 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Aura Kebenaran
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Mari menari....
Membidik angan
Semua seteru yang memburu kuasa
Ciutkan eksotis
beradu cumbu merinduh ditempuh
sebulir lentera yang redup membias segara
Menarilah, sayang!
Tambatkan lenganmu
bergayut sembari sesumbar
membuyarkan nalar yang liar
Pasrah......
Setelah segala sepi
bergaung sekujur duri
merinding perih
Segala kebenaran
merasuki organ-organ bertepi
selaksa resah bergelimpangan
memudarkan kisah yang kentara
pada kelana setelah kembali ke dalam buana
Sokaraja, 01 september 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
9:52 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Thursday, July 23, 2009
Percakapan di Kafe Hitam
Cerpen Ernawati Rasyid
SEMUANYA tenggelam saat malam hadir dengan selimut kegelapannya. Menaburkan kemilau bintang. Purnama bisu yang menggantung. Suara langkah kaki begitu jelasnya aku dengar. Bagaikan berjalan dan telingaku bersama langkah itu. Kemana saja. Tidak peduli jalanan penuh kerikil tajam yang kapan saja bisa merobek telingaku. Aku juga mendengar bisik-bisik dari mulut yang penuh lumuran darah. Menetes ke lantai dan berubah menjadi hitam. Memenuhi lantai. Membentuk wajah yang tidak selesai. Tidak ada darah merah disana.
Kafe ini tepat berada di bawah purnama. Disana seorang perempuan tua menggapai-gapai bulan setelah susah payah menanjak udara menuju bulan itu. Senyum dan derai air matanya berceceran dimana-mana. Tak ada yang melihat. Pura-pura melihat. Semuanya sibuk mengurusi kebutuhan yang tak kunjung selesai. Seperti menghitung bintang di langit dengan sepuluh jari.
Aku masih duduk di kursi kemilau ini. Dengan kepulan asap rokok yang entah keberapa kalinya aku hembuskan ke udara. Menebar. Membentuk wajah orang-orang yang ada di sekitar kafe itu. Lalu menghilang. Mungkin lari bersama nafas angin yang selalu berhembus di sekitar mejaku. Nafas yang begitu menyengat hidung hingga mengelurkan darah hitam. Menetes ke lantai dan membentuk gumpalan yang mengeras. Seperti batu. Tak bernafas. Ingin aku hembuskan jiwa ke dalamnya agar menemaniku di kafe ini sambil berbicara terus menerus sampai fajar menyengat tubuhku lagi.
Seorang wanita menuju kearahku membawa sebuah nampan yang berisi minuman dan makanan yang telah aku pesan sejak berada di tempat ini. Tangan kirinya disembunyikan di belakang tubuhnya sedang tangan yang satunya memegang nampan. Tangan yang disembunyikannya itu menyembunyikan belati. Aku tahu itu. Ingin membunuhku atau membunuh orang-orang yang ada disekitarku. Senyum di bibirnya begitu mempesona bagi bibirku. Sebuah tipuan untuk membunuhku dengan belati yang disembunyikannya. Ia semakin mendekat. Langkah kakinya seperti detakan jantungku. Kini ia berdiri di sampingku. Menyimpan pesanan di atas meja. Lalu belati yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya ia taruh di atas meja itu pula. Ia pun pergi dengan senyum yang masih terpajang di bibirnya. Menggoda bibirku untuk tersenyum pula.
Rinai hujan tiba-tiba menerpa malam. Ternyata perempuan tua itu telah berhasil menggapai purnama. Lalu dibawanya pulang untuk diberikan kepada cucunya. Semua manusia malam berlarian mencari tempat berteduh. Menghindari gerimis yang bercampur dengan tetesan darah dan air mata perempuan tua itu. Aku beruntung telah duduk dengan santai di kafe ini lebih awal. Aku melihat manusia malam yang terkena ceceran gerimis itu menggerutu. Semua yang melekat di dalam dirinya luntur. Meleleh meninggalkan dirinya yang basah. Aku pun tertawa. Terbahak. Hingga mejaku bergetar sampai ke kepalaku. Tetapi, aku masih saja tertawa. Hingga air mataku menetes membentuk gumpalan lagi di lantai. Berharap untuk kedua kalinya Tuhan meniupkan roh kepadanya.
Lalu semuanya tiba-tiba gelap gulita. Tak ada cahaya. Aku tahu, perempuan tua itu bukan hanya berhasil menggapai purnama. Ia telah mengambil deretan bintang pula di langit. Untuk dipersembahkan kepada cucunya. Bukan hanya bulan dan bintang, cahaya-cahaya lampu pun diraihnya pula. Aku mendengar semua orang menggerutu. Aku tidak bisa melihat wajah karena gelap. Bahkan aku pun tidak dapat melihat diriku sendiri. Semakin besar suara-suara gerutuan itu hingga telingaku mengeluarkan darah akhirnya. Bukan karena kerikil saat melangkah tetapi suara-suara manusia malam yang menggerutu itu.
Suasana masih gelap gulita. Aku mendengar kursi lain yang ada di depanku bergeser. Seorang telah duduk di kursi kosong itu. Lalu mengunyah makanan yang belum sempat aku jamah sejak wanita tadi membawanya untukku. Saat aku meraba belati yang ada di atas meja, kosong. Heran dan gugup lalu melandaku. Peluh keringat bercucuran tiada henti. Tawa bahak hilang begitu saja. Berganti dengan peluh yang tak berkesudahan. Setelah mengunyah makanan ku, ia pun meminum kopi yang ada di atas meja. Terdengar suara piring dan gelas bergesekan. Membuatku meringis.
“Maaf menungguku terlalu lama.”
Ia menyapaku. Suara lelaki. Mirip suaraku. Atau ia telah mencuri pita suaraku dan memindahkannya ke tenggorokannya. Atau kah siapa gerangan pita suara yang ia curi. Pasti dari salah satu manusia malam yang menggerutu itu.
“Siapa kamu?” tanyaku dengan suara getar yang masih tersisa.
“Aku adalah kamu”. Jawabnya
“Kamu sudah gila. Mana mungkin aku adalah kamu....”
“Kamu yang gila. Bukan aku.”
Siapa gerangan orang yang ada di depanku ini. Tidak ada cahaya yang bisa menampakkan wajahnya. Semua telah diambil oleh perempuan tua itu. Ini tidak adil. Tak ada satu pun bintang yang tersisa untukku, hanya untuk melihat wajah orang di depanku ini. Bahkan ia mengaku dirinya adalah aku. Belati di atas meja pun tidak ada. Pasti ia yang mengambilnya. Aku pikir, ia akan membunuhku dengan belati itu. Makanan dan minuman ku pun telah musnah olehnya.
“Kenapa diam? Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu dengan belati itu. Itu artinya aku membunuh diriku sendiri.”
“Bagaimana kau tahu apa yang aku pikirkan?”
“Sejak awal aku sudah mengatakan kalau aku adalah kamu. Apa yang kamu pikirkan tentu saja aku tahu semuanya.”
Bahkan apa yang aku pikirkan pun ia tahu. Aku yakin orang yang ada di depanku ini bukan manusia seperti diriku. Apa yang diinginkannya dariku.
“Aku bukan Tuhan. Bukan malaikat. Bukan pula iblis. Aku adalah manusia sama sepertimu. Bagaimana mungkin aku adalah Tuhan, malaikat, atau pun iblis. Mereka mempunyai tugas untuk dijalankan sekarang. Duduk disini bersamamu akan membuang-buang waktunya, percuma saja”.
“Apa yang engkau inginkan dariku?” tanyaku menyela.
“Justru aku yang seharusnya bertanya. Apa yang kau inginkan dariku?”
“Aku bingung.”
“Bingung? Mengapa harus bingung. Cukup kau jawab saja. Akan aku jalankan. Bukankah aku adalah dirimu.”
“Justru itu aku bingung. Apa yang harus aku jawab. Bagaimana mungkin aku ada di depanku sendiri. Berbicara ini dan itu.”
“Sederhana saja”.
“Apanya?”
“Kau ada makanya aku ada. Kau berpikir sehingga aku ada. Kau sendiri yang menginginkan kehadiranku. Mengapa kau sekarang menolak kehadiranku. Kehadiranmu sendiri”.
“Aku tidak pernah mengharapkan kehadiranmu. Aku tidak pernah memikirkanmu. Kau salah. Ini pasti hanya mimpi. Mimpi yang akan sirna begitu cahaya datang”.
“Kau mengharapkan cahaya datang dan menampakkan wajahku di hadapanmu. Tidak usah. Cukup kau melihat wajahmu sendiri. Bukankah aku adalah kamu. Wajahku adalah wajahmu. Pikiranmu adalah pikiranku. Semuanya. Tak terkecuali. Lagipula, cahaya semua telah dibawa pulang oleh perempuan tua itu untuk cucunya di rumah. Apalagi yang tersisa. Purnama, bintang, cahaya lampu. Bahkan korek api mu telah ia curi tanpa kau sadari.”
“Kau mempermainkanku”.
“Aku tidak mempermainkanmu. Buat apa aku mempermainkanmu. Tak ada gunanya mempermainkan diri sendiri. Buang-buang waktu saja. Masih banyak yang mesti dibenahi. Padahal waktu tidak jelas keberadaannya.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Aku tidak percaya kau tidak mengerti perkataanku. Bukankan aku lahir dari dirimu. Pasti kau juga tahu semuanya. Tidak usah berkamuflase seperti manusia-manusia yang menggerutu itu. Memakai topeng berlapis-lapis hanya untuk menutupi wajahnya yang tidak jelas bentuknya.”
“Aku benar-benar tidak mengerti. Kau membuatku bingung.”
“Hahaha…!”
“Bahkan kau bisa tertawa rupanya.”
“Bukan hanya tertawa. Marah, benci, dendam, menangis, tersenyum pun aku bisa.. Seperti yang kau lakukan barusan kepada wanita yang membawa nampan untukmu. Semua yang kau lakukan aku juga bisa melakukannya.”
“Aku mulai percaya padamu.”
“Tentu saja kau harus percaya. Kalau kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan, itu artinya kau tidak mempercayai dirimu sendiri.”
“Benar juga. Bukankah aku adalah kamu. Kamu adalah aku.”
“Tetapi kau beruntung malam ini”.
“Maksudmu?”
“Jarang sekali manusia itu berbicara dengan dirinya sendiri. Seperti yang sekarang kau lakukan."
“Apakah benar demikian. Kalau begitu aku beruntung malam ini.”
“Sudah aku katakan padamu, kau lelaki yang beruntung malam ini.”
“Bagaimana menurutmu mengenai mati? Apa kau juga mengalami hal seperti itu?”
“Tentu saja. Kalau kau mati aku juga akan mati. Kau mati, kau tidak akan bisa berpikir lagi. Sehingga aku tidak bisa ada.”
“Apa kau roh?”
“Apa yang kau tahu tentang roh atau jiwa?”
“Roh atau jiwa akan meninggalkan raga jika kita telah mati.”
“Tidak ada yang bisa melihat roh. Entah ia mempunyai telinga, hidung, mulut, tangan, kepala, atau yang lainnya. “
“Apa maksudmu?”
“Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Tangan, mulut, kaki, mata, telinga, dan sebagainya merupakan bagian dari raga. Jika roh telah berpisah dengan raga, tidak mungkin semuanya itu ikut bersama roh. Raga dan bagian-bagiannya akan hancur bersama tanah. Kembali ke asalnya. Begitupun dengan roh, kembali keasalnya.”
“Bagaimana dengan umur?”
“Umur semakin bertambah. Raga semakin tua. Tetapi roh tidak mengalami perubahan. Jiwamu akan selalu ranum walau umurmu semakin senja.”
“Kalau begitu, kau termasuk yang mana. Raga atau Jiwa?”
“Hahaha…! Tentu saja bukan kedua-duanya. Kalau aku raga, aku bisa terlihat. Kalau aku roh, aku tidak terlihat. Namun bisa dilihat melalui raga.”
“Jadi kau ini apa?”
“Aku ini bagian dari jiwa dan ragamu. Tetapi bukan jiwa dan raga. Raga tanpa jiwa tidak ada apa-apanya. Seperti boneka yang dipajang di emperan toko boneka di ujung jalan sana. Begitu halnya dengan manusia yang telah mempunyai jiwa, namun seakan tidak mempunyainya. Mirip boneka.”
“Mirip boneka?”
“Yah, mirip boneka. Mau diperlakukan apa saja bisa. Boneka tidak bisa berbicara. Mendengar. Hanya menurut perkataan tuannya.”
“Apa aku termasuk boneka seperti yang kau katakan?”
“Hahaha…! Awalnya kau adalah boneka yang terbuat dari tanah. Tidak seperti di toko itu, terbuat dari bahan organik. Lalu Tuhan meniupkanmu roh. Seperti yang kau harapkan pada gumpalan di lantai yang kau buat barusan. Dengan begitu kau bisa melakukan apa saja. Seperti berpikir.”
“Apa manusia bisa menciptakan manusia?”
“Tentu saja tidak bisa. Kalau manusia bisa menciptakan manusia, Tuhan pasti bisa menciptakan Tuhan. Manusia hanya bisa meniru, bukan menciptakan. Menciptakan itu dari tidak ada menjadi ada.”
“Apa istimewanya menjadi manusia?”
“Tanya pada dirimu sendiri, bukankah kau manusia.”
“Aku manusia. Aku bisa melakukan apa saja.”
“Memang benar, apa saja. Seperti menangis, marah, benci, bahkan merusak pun bisa.”
“Maksud kamu?”
“Merusak dirinya sendiri. Seperti menaruh moral bukan pada tempatnya. Bahkan menutup mata untuk menikmati hidup. Tidak mau melihat kenyataan yang ada disekitarnya. Pura-pura tidak melihat. Walaupun melihat, hanya bisa menganga. Mengeluarkan air liur yang tak berkesudahan. Ia tidak mau menjadi bagian dari kehidupan itu. Hanya ingin menjadi penonton terhebat, tak ada yang bisa menandinginya.”
“Maksudmu seperti perempuan tua itu?”
“Benar. Seperti perempuan tua itu. Manusia penggerutu itu pura-pura tidak melihatnya. Makanya ia menanjak di udara untuk menggapai purnama, bintang, dan semua cahaya. Bahkan kau sendiri pun juga terkadang seperti manusia penggerutu itu. Hanya menganga melihat kehidupan. Terpesona dengan keindahan fatamorgananya.“
“Apa kau menuduhku?”
“Tidak usah menutup-nutupi. Aku tahu semuanya. Karena aku adalah kamu. Masa lalu mu aku tahu semuanya. Bukankah sudah aku katakan sejak awal kepadamu?”
“Iya benar. Maafkan aku.”
“Kau meminta maaf pada dirimu sendiri. Bukan padaku. Karena aku adalah kamu sendiri, bukan orang lain.”
Makassar, 29 Juni 2009
---
Ernawati Rasyid, mahasiswi Sastra Indonesia 2006 FBS UNM, penulis lepas.
Posted by
Kantong Sastra
at
5:50 PM
0
comments
Labels: karya (cerpen)
Monday, July 20, 2009
Segitiga Sastra di Wilayah Borneo
Oleh Korrie Layun Rampan
SEGITIGA sastra di sini dimaksudkan adalah tumbuh dan berkembangnya eksistensi sastra di wilayah Borneo dan Kalimantan. Istilah Borneo meliputi negara Brunei Darussalam dan Malaysia Timur (yang mencakup: Labuan, Sarawak, Sabah) dan wilayah Kalimantan mencakup empat provinsi di Kalimantan: Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah (sebentar lagi akan lahir Provinsi Kalimantan Utara). Sejak 20 tahun lalu dimulai “Dialog Borneo-Kalimantan” yang dilaksanakan di Miri, Sarawak, 27-29 November 1987.
Dialog ini merupakan kegiatan independen yang berada di bawah payung Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). Mastera merupakan kegiatan sastra-budaya yang didasari oleh hubungan timbal-balik antarnegara, khususnya dalam hubungan rekomendasi pemberian hadiah SEA Write Award, Hadiah Mastera, dan Hadiah Sastra Nusantara. “Dialog Borneo-Kalimantan IX”, Agustus 2007 lalu, dalam rekomendasi yang dibacakan Ketua 1 Asterawani Prof Madya Dr. Awang Haji Hashim bin Hj. Abd Hamid pada 5 Agustus 2007 di Hotel Asma Jerudong, Berunei Darussalam bahwa sejak “Dialog Borneo-Kalimantan X” yang diadakan di Kalimantan Timur, 2009, akan memberikan “Hadiah Sastra Sultan Hassal Bolkiah” untuk para penulis sastra dari wilayah “segitiga sastra”, terutama kepada para sastrawan yang tidak dinominasi oleh panitia SEA Write Award, Mastera, maupun Hadiah Sastra Nusantara, meskipun karya-karya mereka sudah sepantasnya mendapat hadiah tersebut.
“Dialog Borneo-Kalimantan IX” yang mengusung tema “Kesusastraan Melayu: Antara Harapan dan Cabaran (Kendala)” menampilkan lima belas makalah yang membicarakan berbagai hal sehubungan keberadaan dan perkembangan sastra di masing-masing negara (wilayah). Indonesia (Kalimantan) diwakili oleh Zulfaisal Putra dari Kalsel, Korrie Layun Rampan (Kaltim-Jakarta) , dan Viddy AD Daery (Lamongan) yang masing-masing menampilkan makalah “Mengenang Kejayaan Rubrik Dahaga di Harian Banjarmasin Post tahun 80-an”, “Sejarah Sastra Kalimantan Timur di Tengah Konstelasi Sastra Indonesia” dan “Dari Kisah Sultan Sandokan dari Brunei: Hingga Hubungan Budaya Kalimantan dan Jawa” (yang dibacakan Hermiyana, SE, karena Viddy sakit).
Ketiga makalah ini menjadi pusat perhatian dari sekitar 150 orang peserta karena mengungkapkan berbagai hal yang “asing” bagi pembaca dan para pemerhati sastra di Brunei dan Malaysia. Ternyata, sejak dialog pertama sampai yang kesembilan ini, kondisi sastra di masing-masing wilayah berkembang sediri-sendiri, justru tanpa saling bisa berdialog, sehingga karya sastra Borneo (Brunei-Malaysia) dan Kalimantan (Indonesia) hanya dinikmati oleh kalangannya sendiri, dan asing bagi pembaca di wilayah lainnya. Sastra Berunei Darussalam dan Malaysia (Labuan, Sabah, Sarawak) tidak dikenal oleh pembaca di Kalimantan (Indonesia), demikian sebaliknya. Sementara menurut Prof Madya Dr. Haji Arbak bin Othman dalam makalahnya “Sajak Borneo: Kajian Interpretan dan Pembentukan Mesej Puisi” sastra yang berkembang di Kalimantan memperlihatkan prosfek profetik dengan nuansa religius yang mendalam di mana sajak-sajak itu banyak menggambarkan kesedihan dan harapan dengan mengutip beberapa baris puisi penyair muda Micky Hidayat (Banjarmasin) dan Shantined (Balikpapan) .
Keasingan dan kehilangan komunikasi juga dipaparkan oleh Mohd Zefri Ariff bin Mohd Zain Ariff dalam makalahnya “Jurutera dan Usahawan Emporium Sastera Melayu” yang membahas diskomunikasi antarsastrawan Borneo-Kalimantan sehingga melahirkan ketidaktahuan terhadap perkembangan pribadi sastrawan maupun perkembangan secara nasional di wilayah masing-masing. Itu sebabnya dialog yang sudah dilakukan ini semestinya dilanjutkan dengan mencari cara terbaik agar sastra di masing-masing wilayah dapat disosialisasikan di wilayah segitiga sastra.
Pada “Dialog Borneo-Kalimantan VII”, 2003, Korrie Layun Rampan sudah mengajukan usul agar diadakan sekretariat di masing-masing wilayah dan sekretariat bersama di suatu negera tertentu yang disepekati. Di samping itu disarankan dibuka penerbitan bersama berupa media massa sejenis Horison (Indonesia), Bahana (Brunei Darussalam), dan Dewan Sastra (Malaysia), penelitian sastra, dan pengkajian yang komperehensif. Kemudian dilakukan penerbitan buku-buku sastra yang dikelola para sastrawan di dalam wilayan “segitiga sastra” tersebut, termasuk penerbitan makalah yang sudah mencapai ratusan jumlahnya. Namun hingga dialog yang terakhir ini, hanya sekretariat bersama yang dapat terealisasi yaitu disanggupi oleh Brunei Darussalam.
“Dialog Borneo-Kalimantan” ini merupakan upaya mengembangkan sastra di wilayah “segitiga sastra” tersebut. Karena itu tema-tema dialog selalu berubah-ubah, sesuai dengan perkembangan isu-isu aktual sastra nasional dan sastra global. Dengan habitat sastrawan yang cukup banyak di wilayah ini, diharapkan dialog ini dapat menyumbangkan karya-karya berkualitas bagi negara masing-masing, sebagaimana tema yang disampaikan pada dialog III di Bandar Sri Begawan, 9-10 Oktober 1992 dengan tema: “Sumbangan Sastra Borneo-Kalimantan terhadap Nusantara”. Meskipun tema ini baru berupa harapan, namun pekerja sastra di lingkaran “segitiga sastra” sangat antusias untuk memberikan sumbangan makna dan nilai-nilai mulia dan tertinggi bagi negara masing-masing.
Dalam hubungan itu, ada lima matlamat yang disampaikan dalam pertemuan kali ini dalam upaya mengembangkan dan melanjutkan tradisi dialog tiga negara ini. Pertama, menonjolkan kepentingan dan sumbangan sastra Melayu dengan mendukung nilai-nilai kemelayuan, keislaman, dan ketuanan bangsa Melayu. Kedua, merincikan peranan sastra Melayu dalam menghadapi gelombang globalisasi. Ketiga, mempertemukan sastrawan, penulis, seniman, budayawan, dan sarjana dari ketiga negera. Keempat, mengangkat martabat penulis (tokoh terdahulu dan kini) dan karyanya dalam jalur sastra Borneo-Kalimantan sebagai sastra Nusantara dan mendunia. Kelima, menjalinkan kerja sama kebahasaan, kesusastraan, dan kebudayaan serumpun antara tiga negera leluhur Melayu yaitu Negara Brunei Darussalam, Malaysia dan Indonesia. Dalam hubungan itu, para peserta bersepakat dengan menyampaikan resolusi (yang diwakili oleh sepuluh orang dari negara masing-masing, termasuk Indonesia yang diwakili Korrie Layun Rampan) bahwa “Dialog Borneo-Kalimantan” tetap diteruskan dan “Dialog Borneo-Kalimantan X” diadakan di Kalimantan Timur (Indonesia), tahun 2009.
* Korrie Layun Rampan, sastrawan, anggota DPRD Kutai Barat, Kaltim
Sumber: Kaltim Post, Rabu, 5 September 2007
Dikutip dari Jurnal Toddopuli, 9 Desember 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
5:19 PM
0
comments
Labels: wacana
Friday, June 26, 2009
Mari Kita Dukung Gerakan Literasi Lokal
Oleh J.J. Kusni
KALIMAT yang saya jadikan judul “Jurnal” kali ini berasal dari Komunitas Rumah Dunia, Serang Banteng yang pada tanggal 5 – 7 Desember 2008 mendatang akan menyelenggarakan pertemuan Ode Kampung ke-03 dengan mata acara sebagai berikut [saya kutuip siaran Komunistas Rumah Dunia, 25 November 2008 di milis mediacare@yyahoogroups.com]:
Pembukaan Jum’at, 5 Desember 2008, Pukul 13.30
Diskusi:
Membudayakan Minat Baca
Kiprah Pemerintah Mendukung Gerakan Literasi
Peran Penerbit dalam Komunits Literasi
Jejaring Komunitas Literasi
Penulis dalam Gerakan Sosial
Tanggung Jawab Pers Mendukung Gerakan Literasi
Peranan CSR di dunia Literasi
Deklarasi Komunitas Literasi
Pembicara Prof. Yoyo Mulyana, Dick Doank, Eko Koswara, Asma Nadia, Halim HD, Si Uzi Jodhi Yudono, Myra Junor, Hernowo, Bambnag Trim, Hikmat Kurnia, DR. Zulkieflimansyah, Tantowi Yahya
Menu spesial:
Pementasan ”Pria ½ Iblis” oleh Teater Rumah Dunia, Jum’at 5 Des 08, pukul 19.30
Pameran karikatur karya Si Uzi setiap hari
Cemilan:
Parade pembacaan puisi, teater sekolah, dan musikalisasi puisi .
Berbeda dengan Ode Kampung 02 ynng lalu, kali ini Komuniitas Rumah Dunia tidak atau belum mnngumumkan daftar komunitas-komunitas yang menyatakan diri akan hadir. Sedangkan tahun lalu, daftar peserta diterakan. Walaupun jumlah yang hadir cuma dua ratusan komunitas sastra-seni dari jumlah yang mencapai angka 4000 komunis , menurut keterangan Rumah Dunia sendiri, tapi jumlah dua ratusan dari berbagai penjuru tanahair, kiranya bukanlah jumlah yang sedikit. Barangkali sampai sekarang hanya Rumah Dunia sajalah yang sudah mengumpulkkan dua ratusan komunitas sastra-seni di Serang di Banten, ujung barat Jawa. Saya tetap menganggap hal begini tetap sebagai suatu prestasi. Prestasi ini lebih layak dihargai jika kita melihat cara pengorganisasiannya dan pembeyaannya. Penghargaan ini saya garisbawahi lagi karena ia bermula dari bawah, oleh komunitas-komunitas itu sendiri, berangkat dari pendirian dan sikap yang jelas mendukung usaha literasi lokal. Hal yang sejajar dengan wacana sastra-seni kepulauan, sastra-seni bhinneka tunggal ika di luar yang disebut pusat-pusat pengakuan atau pusat-pusat legitimasi kegiatan bersastra dan berkesenian — wacana yang bisa dikatakan absurd. Pertemuan Ode Kampung yang diselenggarakan secara periodik mempunyai arti tersendiri bagi pengembangan sastra-seni di negeri kita, yang berbeda dengan Writers and Readers Ubud Festival yang mewah dan glamour ditopang oleh dana yang besar. Tapi secara kongkret, apa yang diberikan oleh Ubud Festival dalam mengembangkan sastra-seni di negeri kita, kecuali membuka suatu etalase barang dagangan yang bernama sastra-seni? Barangkali pertanyaan ini keliru, tapi tetap saya pertanyakan. Pertemuan-pertemuan dari bawah untuk kepentingan pengembangan sastra-seni kepulauan, dalam pikiran saya, jutru lebih layak mendapat perhatian penanggungjawab kebudayaan resmi di negeri kita daripada pertemuan seperti Uubd Festival. Pikiran begini tidak berari membuat penyelenggara pertemuan tipe Ode Kampung atau Fstival Tahunan Lima Gunung di Jawa Tengah tergantung pada uluran tangan pihak resmi. Masalahnya adalah terletak pada pertanyaan apa bagaimana orientasi dan tanggungjawab budaya pihak resmi. Ode Kampung dan atau Festival Lima Gunung sejauh ini walau pun pernah dihadiri oleh Megawati dan SBY,tapi penyelenggaraannya tidak pernahmendapat bantuan sepeser pun dari pihak resmi. Dan tetap berlangsung bahkan jika mengambil pengalaman Lima Gunung, sumbangan dari masyrakat masih bersisa di akhir festival. Melalui penyelenggaraan Festival Lima Gunung berhasil dirawat, diangkat dan dikembangkan bentuk-bentuk sastra-seni di daerah mulai dari pojok-pojok jauh perdesaan disekitar Lima Gunung Jawa Tengah. Sedangkan Ode Kampung, saya kira, merupakan peluang untuk komunitas-komunitas dari berbagai penjuru tanahair menyerampakkan langkah agar perkembangan sastra-seni di berbagai daerah kian marak. Dari segi ini jugalah saya mengangap penting pertemuan periodik Jumpa Sastrawan Se-Borneo. Saya mencium pada usaha pengembangan sastra kepulauan ini, pernah dicoba dirambah oleh H.B Jassin, anak Gorontalo itu, melalui majalah Kisah dengan menampilkan penulis-penulis dari berbagai pulau. Saya curiga, apakah dengan merambah usaha ini , HB Jassin tidak mengidam juga ide sastra kepulauan jsebaga dasar bagi sastra Indonesia?
Pengembangan sastra-seni lokal atau daerah atau pumau-pulau saya kira, bisa menumbuhkan sastra nasional. Bisa menjadi dasar warna bagi sastra nasional yang semarak. Ia akan semakin bernas jika membuka diri pada daerah dan pulau-pulau lain serta dunia. Sastra-seni lokal dan pulau adalah pengembangan sastra-seni yang mengakar dan dekat dengan masyarakat, merupakan bahasa bedialog dengan dunia jika meminjam istilah filosof berpengaruh Perancis, alm. Paul Ricoeur. Apa yang dikerjakan oleh Mas Soetanto, organisator Festival Lima Gunung, Ode Kampung dan atau Temu Sastrawan Borneo, dan gebrakan Komunitas Panyingkul dari Makassar, Komunitas Sastra Tasikmalaya, Tegal, Malang, Banjarmasin, Palangka Raya, Balikpapan, Batam, Riau, Jambi, Lampung, Padang,Medan; Kupang, Flores, untuk menyebut beberapa kominitas dari 4.000 komunitas, tidak lain dari pengejawangtahan menjadikan budaya sebagai bahasa dialog dengan kompas di ruang nakhoda pelayaran saatra-seni: bhinneka tunggal ika,biar bunga mekar bersama, seribu aliran bersaing suara mengejawantahkan nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan. Barangkali dengan pedoman inilah hubungan antar komunitas diatur dan bisa digalang dengan sehat, bisa saling bangtu,saling dorong dan saling belajar dari keunggulan masing-masing. Jika disepekati maka benar, kita bisa menciptakan suatu gerakan budaya, gerakan sastra-seni, dan bukan lagi kegiatan spontan. Saya membedakan antara gerakan dengan kegiatan spontan. Kegiatan Ode Kampung dan sejenisnya adalah janin dari lahirnya suatu gerakan budaya, gerakan sastra-seni secara nasional dan mengakar. Lokalitas hanya salah satu warna dari karya lukis budaya nasional dan dunia. Seperti halnya dengan secarik kain yang dijahit jadi satu “bénang dinding” , kain tembelan atau patch work, yang indah.. Dengan pandangan ini maka saya sangat menikmati warna lokal dan nilai universal dari pantunt-pantun Melayu, sajak-sajak Bugis, Makassar, Papua, sansana kayau orang Dayak dan lain-lain….. Barangkali anaknegeri ini saja,atas nama moderinsasi menjadi asing dari negeri dan daerah sendiri sampai-sampai kata Anda,Saudara, kau, kamu…. agar lebih nampak hebat diganti dengan kata bahasa Inggris “you”. Padahal apa gerangan rendahnya kata kau, anda, saudara dibandingkan dengan kata “you”? Paralel dengan pandangan dan sikap ini maka standar sastra Barat lalu dijadikan standar untuk mengukur sastra Indonesia. Berharap saja bahwa saya salah terlalu subyektif.
Jika kita sepakat mengembangkan sastra-seni kepulauan atau sastra-seni lokal, barangkanli slogan mademikian maka slogan yang lebih menjurus adalah “Kembang marakkan sastra-seni lokal”, “Kembang marakkan sastra-seni kepulauan”. Dengan mengembang-marakkan kita percaya dan bersandar pada kekuatan komunitas yang ada di berbagai tempat. Sedang saling dukung dengan wacana di atas adalah suatu keniscayaan sebagaimana diisyaratkan dalam acara Ode Kampung tentang arti penting jejaring komunitas literasi.
Kalau kita berbicara tentang arti penting jejaring, tersirat pula makna bahwa kita tidak boleh mengurung diri dalam satu tempurung kecil dengan predikat apa pun. Berkurung di dalam sebuah lingkaran sempit akan membuat kita bermata rabun. Kecupetan adalah sejenis penyakit trahum menjangkiti mata jiwa dan pikiran kita.
Titik mata acara lain yang menarik perhatian saya, dan saya anggap hakiki adalah soal pencantuman masalah “tanggung jawab penulis dalam gerakan sosial”. Titik ini menyiratkan bahwa Rumah Dunia melalui acara Ode Kampung ingin menyarankan kepada para penulis guna memikirkan masalah tanggungjawab sosial mereka sebagai anggota masyarakat. Saya membaca isyarat ini sebagai konsekweni nalar dari keinginan menggalakkan suatu gerakan literasi lokal sebagai basis pengembangan literasi nasional. Bahwa literasi, apalagi gerakan literasi itu bukanlah kegiatan narsistik. Apakah arti suatu gerakan jika ia bersifat narsistik? Jika bacaanku tentang isyarat dari Rumah Dunia ini, maka agaknya Rumah Dunia menginginkan gerakan literasi lokal yang ia impikan sebagai suatu gerakan literasi yang berpihak. Sebagai literasi engagé., dengan istilah mentereng ke-perancis-perancisnya agar gengsi meningkat di depan pembaca atau pendengar. You mengertikan?! Tapi saran yang tidak membatasi pilihan penulis lain.
Dari segi cara Rumah Dunia menyelenggarakan Ode Kampung, maka bukan mustahil jika Kongres Nasional komunitas seluruh Indonesiia, sebuah Kongres Kebudayaan dari bawah dan diselenggarakan oleh aktor-aktor budaya dari bawah secara bersama terselengggara. Dengan menuliskan baris-baris ini, saya sedang mengucapkan mimpi esok menyambut penyelenggaraan Ode Kampung ke-03 dengan segala harapan terbaik, menyambut mimpi Rumah Dunia dan janin mimpinya sebagai usaha mengejawantahkan republik dan Indonesia sebagai sebuah cita-cita dan program kebudayaan.
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
Diambil dari Jurnal Toddopulu (http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com), 27 November 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
11:34 PM
0
comments