Sunday, September 7, 2008

Reporter Cilik: Menginspirasi Orang Lain

BUAT kamu yang suka membaca pasti nggak asing dengan yang namanya puisi, cerpen, dan novel, baik yang dimuat dalam koran dan majalah maupun terbit dalam bentuk buku. Tulisan-tulisan tadi adalah jenis-jenis karya sastra.

Tapi, pernah nggak kamu membayangkan atau bertanya bagaimana sih para penulis bisa menulis dan memiliki ide-ide yang enak buat dibaca? Atau, bagaimana sih para sastrawan bisa menuliskan puisi yang bagus?

Sastrawan Udo Z Karzi (tengah) diwawancara AR Tadilaga (kanan) dan Dhiya Zahra (BORNEO/OKTRIKA NUGRAHENI)

Nah, di Kotawaringin Barat ini ternyata juga ada seorang penulis sastra, Udo Z Karzi. Dia telah menerbitkan beberapa karyanya di antaranya Momentum (kumpulan sajak, 2002), Mak Dawah Mak Dibingi/Tak Siang Tak Malam (kumpulan sajak, 2007), dan termuat dalam berbagai antologi bersama.

Kali ini dua orang temanmu, AR Tadilaga (Kelas III dari SDN 2, Sidorejo) dan Dhiya Zahra (Kelas II SDN 7 Mendawai) mewawancarai Udo Z Karzi yang berhasil meraih Hadiah Sastra Rancange 2008 di Kantor Borneonews.

Sejak kapan Udo Zul mulai menulis?

Saya menulis puisi, cerpen, dan esai sejak 1987, tepatnya saat duduk di kelas 1 SMA, yang kemudian dimuat di berbagai media cetak daerah dan nasional.

Senang dong setelah mengetahui buku karangannya diterima dan mendapatkan penghargaan?

Sangat senang dan bangga. Selain dapat honor, ya merasa puas karena hasil karya saya bisa dibaca orang lain.

Kenapa sih suka menulis?

Karena menulis itu menuangkan apa yang ada di kepala, dengan menulis bisa jadi lega. Seperti kalau adik-adik menulis catatan harian, bisa curhat di situ, senang atau sedih. Kalau sudah tertuang perasaannya bisa lega kan? Selain itu, kalau tulisan dimuat bisa dapat hadiah seperti honor atau penghargaan.

Apakah pernah merasa kesulitan dalam menulis?

Sebenarnya menulis itu tidak susah tergantung bagaimana kita mengembangkannya. Menulis itu kan sama dengan menginformasikan. Sama seperti menulis buku harian kalau sedih atau senang, melihat sesuatu, kita tulis dan kita kembangkan. Kunci utamanya adalah membaca, kalau kita senang membaca, kita jadi ingin tahu banyak, dan akhirnya ada keinginan untuk menuliskan sesuatu.

Di mana biasanya mendapakan ide?

Ya, bisa dari membaca. Orang yang senang membaca biasanya senang menulis juga. Kalau melihat atau mendengar suatu kejadian juga bisa mendapatkan ide untuk menulis.

Berapa buku yang sudah diterbitkan dan mana yang paling disukai? Mengapa?

Kalau buku yang ditulis sendiri itu ada dua, tetapi kalau yang rame-rame ada banyak, tidak kehitung. Yang paling saya suka ya buku Mak Dawah Mak Dibingi yang berbahasa Lampung karena mendapatkan penghargaan Sastra Rancange 2008.

Bagaimana sih caranya jadi penulis?

Caranya, tulis saja yang ada di pikiran kita dan banyak berlatih. Kalau ada tulisan yang salah kan bisa dibetulin. Catatan yang harian bisa dijadikan ajang latihan bagi penulis pemula untuk menuliskan apa yang ada dipikirannya, perasaan, dan apa yang dilihat.

Apa pesan Udo kepada calon penulis cilik Indonesia?

Terus berlatih dan berkarya, pantang menyerah, dan yang pasti semua orang bisa jadi penulis asal dia mau berusaha.

Sumber: Media Anak, Borneonews, 7 September 2008

Thursday, September 4, 2008

Menunggu HP Berderit

Cerpen Sandi Firly

SEPERTI malam-malam yang lain, ia selalu tekun di depan komputernya menyelesaikan pekerjaan kantor yang memang harus dikerjakan malam-malam karena ia memang pekerja malam.

Come away with me in the night
Come away with me
And I will write you a song


Lagu Come Away With Me Norah Jones mengalun lembut yang distelnya dari komputer. Ia selalu ditemani lagu-lagu setiap bekerja. Ia penyuka jenis musik apa saja, kecuali dangdut. Meski ia tahu musik dangdut sedang menjadi trend, dan televisi berlomba-lomba menampilkan para penyanyi, persisnya sih para penggoyang dangdut ke dalam layar kaca untuk mengebor pemirsa.

Jam baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam, namun ia sudah terkantuk-kantuk. Memang, jam tidurnya tak beraturan. Siang terkadang tak tidur sedetik pun, sementara ia baru tidur dini hari pukul empat pagi setelah pekerjaannya selesai dan ditambah dengan membaca buku atau kadang-kadang menulis puisi atau surat cinta, atau juga catatan harian di dalam komputer. Ia suka menulis surat cinta, meski ia sadar tak siapapun yang ditujunya. Mungkin ini ada hubungan dengan sifat pengkhayalnya yang suka merembes kemana-mana.

Yang sering membuatnya gelisah adalah telepon genggam. Ya, benda canggih mungil itu selalu bikin dia gemes. Seperti malam-malam yang lain, telepon genggam itu tergeletak rapi di sisi kiri keyboard-nya. Hampir setiap sepuluh menit ia melirik ke telepon genggamnya itu sambil berharap ada SMS masuk atau telepon tak terjawab. Padahal ia tahu, SMS atau telepon masuk bisa diketahui dari deritnya yang cukup nyaring. Tapi itulah, tetap saja setiap sepuluh menit matanya melirik ke layar telepon genggam berwarna hitam itu sambil mengharapkan ada SMS atau telepon yang tak terjawab. Dan pekerjaannya jadi sering molor. Belum lagi ditambah dengan tidur-tidur ayam di bangku kerjanya.

Semakin larut malam, ia selalu saja semakin gugup. Bukan karena pekerjaan yang semakin menuntut, tapi karena semakin mengharapkan telepon genggamnya berderit menerima SMS atau telepon entah dari siapa. Ia berharap ada wanita entah dari mana yang tersesat mengirimkan SMS ke telepon genggamnya. Atau seorang wanita yang salah sambung mencari suami atau pacar.

Di saat istirahat, ia kadang membuka daftar nama-nama di dalam file telepon genggamnya. Setiap pada nama perempuan, ia berhenti sebentar sambil memikirkan perempuan itu.

Ada banyak nama perempuan di dalam telepon genggamnya, sebagian besar didapatnya dari kenalan di chatting sehabis kerja dan itu biasanya di atas pukul 02.00. Kadang, habis chatting ia juga nelepon wanita itu. Ada yang di Singapura, Medan, Bandung, Jakarta, atau di Banjarmasin sendiri. Tapi untuk di Banjarmasin ia sangat jarang. Ia lebih menyukai kenalan dengan wanita yang jauh, kalau perlu di luar negeri. Bahasa Inggrisnya juga lumayan jago. Ia ngobrol ngalor ngidul, kebanyakan ia bercerita tentang dirinya sendiri. Tentang pekerjaannya, tentang temannya, tentang keluarganya, tentang perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya, atau cuma tentang kesepian malam-malamnya.

Ia memang cukup pandai ngobrol. Lawan bicaranya selalu dibikin betah dengan bicara dan candanya. Terlebih lagi bila ia bicara tentang bagaimana wanita yang harus menjadi calon istrinya. Dan biasanya, wanita memang suka bila membicarakan sesamanya, dan mungkin karena itu pula setiap wanita yang diteleponnya betah saja mendengar ocehannya.

I can't help myself
I've got to see you again


Saat lagu Norah Jones, I've Got to See You Again di side B itu mengalun, jam sudah pukul dua belas malam. Pekerjaannya masih belum selesai. Ia juga semakin gelisah memandang setiap sepuluh menit telepon genggamnya yang tak juga berderit. Seorang perempuan yang diharapkannya SMS atau menelepon, tak jua terkabul. Telepon mungil itu masih tergeletak rapi di sisi keyboard komputernya, seperti batu.

Malam-malam yang lewat, di saat ia sangat mengharapkan ada SMS atau telepon dari wanita yang diharapkannya, atau wanita mana saja dari belahan dunia ini, ternyata yang SMS adalah teman kantornya sendiri yang menanyakan tentang pekerjaan. Padahal di hati ia sudah bersorak gembira ketika telepon genggamnya berderit. Dan saking kesalnya, SMS-SMS yang tak diharapkan itu sengaja tak dibalasnya.

Ia lebih sering membayangkan SMS itu dari wanita yang mengajaknya kenalan, atau malah kencan.

Eh, sedang ngapain? Aku lagi kesepian nih, datang dong ke Motel B, kamar 243.

Ia tersenyum sendiri merangkai isi SMS itu yang diharapkannya masuk ke dalam telepon genggamnya. Dan setiap membayangkan itu, ia pun melirik lagi ke telepon genggamnya yang masih saja membatu. Kadang ia elus-elus telepon genggamnya, atau malah didekap, dan sedetik itu ia kembali berharap ada SMS masuk atau telepon sehingga dia bisa merasakan getaran telepon genggamnya itu. Namun, khayalan-khayalan itu seringkali gagal. Dan telepon genggamnya kembali tergeletak diam seperti biasa di samping kiri keyboard-nya.

Memang, pacarnya ada kala menelepon. Tapi itu dianggapnya berbeda bila SMS atau suara di seberang sana adalah dari kerongkongan perempuan yang tak dikenalnya. Atau dikenalnya tapi ia belum pernah bertemu secara tatap mata. Ia memang sering terobsesi juga dengan suara-suara perempuan di dalam telepon. Menurutnya, suara perempuan itu lebih indah didengar dengan tanpa harus bertatapan langsung dengan si pemilik suara. Sebab itu pula mengapa ia gemar menelepon teman-teman perempuannya yang kenal lewat chatting semalam.

Ia tahu, teleponnya jarang juga dihubungi oleh rekan kerjanya. Kendati begitu, kemana-mana telepon genggam itu selalu dibawa-bawa, sekalipun ke dalam WC. Saat di WC ini khayalannya semakin liar lagi. Keseringan ia sambil menelepon wanita, atau setidaknya berharap ada telepon dari wanita entah siapa saja.

***

Sudah hampir pukul dua dini hari. Kegelisahannya terus memuncak. Tampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kali ini ia terlihat semakin suntuk meski pekerjaan sudah rampung. Ia putar kencang-kencang lagu Metallica terbaru, St. Anger, lewat tape sambil menggebuk-gebuk mejanya sendiri dengan mata yang tetap tak pernah lepas dari telepon genggamnya yang masih saja terbujur kaku. Ia terus berharap ada perempuan entah dari mana saja yang tiba-tiba mengirimkan SMS atau telepon salah sambung. Ia ingin menggodanya dan bahkan kalau perlu mengajaknya kencan. Ketika telepon genggamnya hanya diam membatu, ia semakin kesal dan marah. Gebukan tangannya semakin keras sampai lagu berakhir.

Ia tampak menyandar lelah di kursinya. Matanya masih terpaku pada telepon genggamnya yang kali ini menampilkan wujud aslinya sebagai benda mati. Tergeletak kaku tanpa berderit sekali pun jua. Sebentar dia rapikan mejanya yang tampak berantakan. Ia bersiap-siap pulang, atau mungkin di jalan nanti bisa saja dia akan berbelok ke bar. Dengan malas diraupnya telepon genggamnya sambil bangkit dari kursi menuju keluar.

Sebelum menutup pintu ruang kerja, ia terpaku sejenak. Lantas menimang-nimang telepon genggamnya, tampak ada kebimbangan. Sejenak seulas senyum tersungging di bibir tebalnya, dan sedetik kemudian dicemplungkannya telepon genggamnya ke dalam akuarium yang tergelak di samping pintu. Senyumnya kini semakin mekar. Sambil bersiul, ia melenggang keluar.

Bipp… Bipp….Bipp…..

***

Banjarmasin, Oktober 2003

Monday, September 1, 2008

Perlukah Kita (Menjadi) Seorang Sastrawan?

Esai Deddy Setiawan

SAYA cukup tergelitik dengan diskusi tertulis dalam tiga minggu terakhir ini. Bermula dari pertanyaan Udo Z Karzi tentang keberadaan sastrawan (dari) Kalimantan Tengah yang disambut Kepala Balai Bahasa Kalteng Puji Santosa dengan sejumlah catatan tentang jejak kehadiran sastrawan di bumi Tambun Bungai.

Diskusi ini rupanya berlanjut dengan tulisan ketiga dari Willy Ediyanto yang masih menyodorkan kegelisahan soal kelahiran seorang sastrawan Kalteng sepanjang 40 tahun terakhir dengan nada mempertanyakan, jika tidak disebut gugatan sebagai seorang pendidik. Dan mumpung diskusi ini masih hangat, izinkan saya untuk ikut terlibat. Permisi!

Saya mencoba mengambil benang merah dari ketiga tulisan sebelumnya. Semuanya lahir dari sebuah kegelisahan yang sama akan sosok sastrawan di bumi Kalimantan Tengah. Ketiganya – sepertinya – mengerucut pada konsep sastra tulisan. Sebuah pandangan yang tidak bisa disebut keliru karena memang media teks memang telah dan masih menjadi sarana efektif mengomunikasikan gagasan karena kemampuan merekam yang lebih lama dan jangkauan yang lebih luas dibanding media lain sejak Guttenberg menemukan mesin cetak. Bahkan ketika menulis di blog atau mengelola sebuah website sastra menjadi ikon sastra era digital, tetap saja tidak bergeser dari fungsi teks sebagai penyampai pesan.

Hanya saja sepertinya kita melupakan keberadaan sastra tutur (sastra lisan) yang justru menjadi kekayaan terbesar kesusastraan kita, terutama di Kalimantan. Sehingga, kalau ingin bertanya adakah sastrawan Kalteng hari ini – menurut saya – tentu ada. Kecuali kalau kita bermaksud membedakan antara sastra lisan dengan sastra tulisan. Tapi pembahasan soal sastra lisan dan tulisan tersebut terlalu akademis bagi saya yang awam. Ada yang jauh lebih berkompeten untuk menjelaskan kepada pembaca – terutama kepada saya – mengenai sastra lisan dan tulisan tadi. Dan ada baiknya kita persempit wilayah diskusi hanya seputar sastra tulisan saja saat ini. Setuju?

Sebelumnya terima kasih untuk Pak Puji yang menempatkan saya dalam kategori sastrawan Kalteng. Tapi sungguh, sekalipun sempat menghadiri Pertemuan Sasterawan Nusantara XI di Brunei Darussalam tahun 2001 silam, dan puisi atau cerpen saya sempat beberapa kali dimuat satu buku dengan nama-nama seperti Helvy Tiana Rosa, Isbedy Setiawan ZS, Asma Nadia, Joni Ariadinata, Hamid Jabbar atau Ikranegara yang tidak asing lagi di jagat sastra tanah air saya masih ”risih” dengan sebutan sastrawan.

Jujur saya lebih senang dengan istilah penulis atau pekerja teks saja. Ada tanggung jawab yang terlalu besar untuk menyandang gelar sebagai manusia yang ber su – sastra. Apalagi disebut sastrawan Kalteng. Ada rasa malu karena memang belum memberikan yang terbaik untuk daerah sendiri. Saya memang dilahirkan di Sukamara dan sejak 2003 yang lalu pulang ke kampung halaman setelah selama 25 tahun menetap dan menjadi warga Kalimantan Barat. Di sanalah sebagian besar karya saya selama ini lahir. Sementara di sini ... hmm ..., doakan saja ya ...!

Menjadi penulis itu sebuah “kutukan”. Itu yang saya pahami selama ini. Seperti kutukan yang melekat pada Peter Parker ketika seekor laba-laba yang terkena radiasi radio aktif menyengat dirinya, sehingga melahirkan kekuatan super. Yang memaksanya menyembunyikan identitasnya dalam topeng Spiderman dan tak kunjung berani melamar Mary Jane Watson disebabkan tingginya resiko yang harus ditanggung orang-orang yang dicintainya karena menyadari dalam kekuatan yang besar ada tanggung jawab yang besar pula ... with the great power, comes great responsibility!

Karena itu meski sejak kecil kita bisa menulis, cuma sedikit yang bercita-cita menjadi seorang penulis dan terus mengembangkan kemampuan menulis. Maka, lengkap sudah kesepian dunia menulis karena selain bersifat individual – tidak ada proses kreatif yang berlangsung massal – peminatnya memang tidak bisa disebut banyak. Karena itu, Bang Willy, jangan heran kalau selama 40 tahun terakhir menurut pantauan Pian tidak ada sastrawan (penulis yang tercatat di dokumentasi sastra) yang lahir di Kalteng.

Kendati kehamilan alaminya tidak bisa dipaksakan, saya percaya dengan rumus 10 : 40 : 50. Faktor bakat itu hanya 10% saja pada kelahiran seorang penulis, 40 persennya adalah lingkungan, selebihnya kerja keras yang ditopang kemauan. Jadi jika kita memang merindukan lahirnya sastrawan dari bumi Kalimantan Tengah, mari kita ciptakan lingkungan subur untuk mempersiapkan kelahiran ini.

Karena itu saya mendukung resolusi Pak Puji untuk menghidupkan ruang sastra di media massa lokal sebagai tempat belajar dan mematangkan diri bagi para penulis. Kekhawatiran Bang Willy kalau tidak ada yang mengisi halaman yang tersedia tersebut mengingat produktifitas penulis untuk hamil dan melahirkan karya masih terbatas sebenarnya dapat saya fahami. Akan tetapi ruang sastra di media massa lokal, dengan asupan tetap cerpen-cerpen dari 'luar' seperti yang selama ini terjadi mungkin dapat menjadi solusi agar tidak terjadi kekosongan. Asal jangan menutup keran untuk penulis daerah, keberadaan cerpen ”impor” ini cukup sebagai pembanding yang baik. Untuk memperkaya wawasan baik juga rasanya sesekali memuat cerpen atau puisi terjemahan para penulis dunia.

Media massa (baca; koran) tentu saja hanya salah satu dari ruang yang saya maksud. Di era digital seperti sekarang ini ketika internet menjangkau semua pelosok – kalau program telkomnet masuk desa dapat berjalan dengan baik – dunia maya cukup menjanjikan sebagai sarana belajar yang baik. Begitu juga blog penulis. Tanpa ingin terjebak dikotomi sastra cyber maupun sastra koran bertahun-tahun lamanya saya (dengan nama pena Ibnu HS) dan teman-teman bertukar cerpen mapun puisi di milis penyair dan saling mengkritisi.

Kawasan yang dulu dianggap sebagai keranjang sampah sastra koran ini ternyata menawarkan banyak kemungkin lain. Tidak sedikit cerpen atau puisi saya yang lahir dan mengisi ruang maya kemudian bermetamorfose menjadi teks cetak. Wajah Dalam Cermin, satu-satunya cerpen saya yang pernah dikirim ke media massa dan dimuat di Republika, juga lahir di sana. Ah, maaf kalau paragraf ini ditutup serentetan kalimat berbau narsis ...

Kemudian tentu saja langkah Bang Willy meningkatkan apresiasi sastra di kalangan siswa dan mengasah 4 keterampilan dasar berbahasa (membaca, menyimak, menulis, dan berbicara) juga penting. Sayangnya, apresiasi di kalangan para guru juga harus diakui sangat minim. Kebanyakan yang diajarkan di bangku sekolah – tidak semua – berputar pada teori seperti S-P-O-K, homonim, homofon, atau homo-homo lain dan bukan pada 4 keterampilan dasar tadi. Padahal kurikulum yang diterapkan sekarang mengacu kepada 4 keterampilan dasar tadi. Akibatnya bukan hanya rendahnya apresiasi sastra di kalangan siswa, sekitar 60% siswa yang tidak lulus Ujian Nasional ternyata karena nilai Bahasa Indonesia yang tidak memenuli standar nilai kelulusan. Kalau soal ini, Pak Puji yang lebih fasih daripada saya ... Perpustakaan memang masih menjadi kendala. Tapi diam pun tidak menyelesaikan masalah. Secara individu maupun bersama kita bisa merintis rumah baca di lingkungan sekitar kita masing-masing.

Terakhir – eh, saya rasa bukan – kalau kita ingin karya penulis daerah ini dibaca oleh uluh itah, kendala terbesar yang harus didobrak adalah tidak adanya penerbit daerah dan jaringan toko buku yang sampai ke pelosok. Tanpa hal ini, keinginan tadi – yang nyaris menjadi obsesi – niscaya hanya akan bermua pada sebuah mimpi. Sampai di sini, perbincangan sudah harus melibatkan banyak pihak yang memiliki stamina lebih maksimal untuk membahas dan mewujudkannya.

Selanjutnya yang terpenting bagi para penulis adalah terus menerus hamil dan melahirkan karya-karya terbaik dan tetap saling berkomunikasi. Mau dicatat sebagai sastrawan atau bukan, menurut saya sama sekali bukan permasalahan. Banyak penulis bermutu yang nama dan karyanya luput masuk catatan sebagai Angkatan 2000 sastra Indonesia, atau kitab sastra Horison.

Apa kemudian itu menjadi permasalahan bagi mereka? Tidak. Permasalahan kita adalah kalau kita berhenti berkarya dan sibuk mengejar identitas semata. Mengejar kulit, meninggalkan isi. Ah, saya malu kepada orang tua kita yang sampai hari ini tetap setia menembangkan karungut dan berbagai corak sastra lisan lainnya sambil tetap mengajarkannya kepada kita tanpa peduli dengan gelar sebagai sastrawan. Padahal, merekalah sastrawan Kalimantan Tengah yang sesungguhnya ..

* Deddy Setiawan, Pecinta buku dan penulis, lahir dan tinggal di Sukamara

Sumber: Borneonews, Senin, 1 September 2008

Monday, August 25, 2008

Masih Mencari, Adakah Sastra(wan) Kalteng

Esai Willy Ediyanto

MENARIK sekali perdebatan antara Udo Z. Karzi dengan Puji Santosa yang dimuat di harian ini selama bulan Agustus tahun 2008. Menarik bagi penulis karena penulis bekerja sebagai seorang guru yang berijazah dan mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia. Menarik karena penulis ikut membidani Komunitas Awan Senja di Kumai, Kotawaringin Barat. Menarik juga karena penulis pernah menanyakan sebuah lomba penulisan sastra akan tetapi tidak diketahui siapa dan di mana panitianya.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia sastra, penulis berkarya dalam bentuk seni sastra namun tidak mempublikasikannya secara umum. Penulis lebih suka mempublikasikannya melalui blog yang penulis miliki. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa penulis melakukan hal semacam itu.

Sebelum terbitnya surat kabar ini, kesulitan penulis untuk mengikuti surat kabar yang ada di Kalimantan Tengah telah menjadi salah satu alasannya. Biasanya surat kabar baru sampai ke tangan penulis keesokan harinya. Itu pun tidak ada agen surat kabar yang mau melayani untuk berlangganan dan mengantarnya sampai ke tempat tinggal penulis. Di samping itu, redaksi surat kabar di Kalteng umumnya tidak mengirimkan bukti pemuatan untuk penulis-penulis yang tidak terjangkau pelayanan berlangganan. Itu pula yang menyebabkan penulis lebih asyik menulis di blog dan di surat kabar ini.

Udo Z. Karzi menurut hemat penulis lebih menyorot pada keberadaan sastrawan pada saat ini, pada tahun 2008. Sementara itu, Puji Santosa membeberkan keberadaan penulis yang sudah tidak ada. Puji Santosa menelusuri jejak sastrawan Kalteng dengan menyodorkan nama Fridolin Ukur, HABSU, dan J.J. Kusni yang sudah meninggal atau sudah tidak berada di Kalimantan Tengah. Itu bagus sebagai sebuah dokumentasi. Masalah yang ingin penulis soroti adalah sastrawan yang berada di sini dan pada saat ini.

Sayang sekali, dalam tulisannya, Puji Santoso tidak menyebutkan siapa saja sastrawan yang tergabung dalam Ikatan Sastrawan Sastra Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah yang disertakan dalam Dialog Borneo-Kalimantan yang ikut serta mengumpulkan karyanya. Selain itu hanya disodori beberapa kegiatan yang diadakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Tengah. Sementara itu kegiatan sastra seperti kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya yang dimotori oleh Taufik Ismail tidak terdokumentasikan. Begitu pula kegiatan apresiasi sastra di luar Palangkaraya.

Sepengetahuan penulis, kegiatan berkesenian biasanya tumbuh di lingkungan kampus atau sekolah yang dimotori oleh mahasiswa dan guru. Tidak selalu kampus yang memiliki fakultas sastra, karena fakultas sastra lebih banyak menyibukkan diri dalam teori, aliran, dan sejarah sastra, dan bukan pada proses kreatif. Artinya fakultas sastra bukanlah tempat untuk melahirkan sastrawan. Seorang sarjana sastra belum tentu seorang sastrawan. Bahkan harus diakui bahwa lebih banyak sastrawan yang tidak sarjana dan bukan sarjana sastra.

Kawan-kawan penulis ketika masih kuliah dulu, cukup banyak yang berasal dari fakultas dakwah dan fakultas tarbiah yang memanfaatkan sastra dan bergelut dalam bidang sastra. Di samping itu masih lebih banyak lagi yang berasal dari fakultas-fakultas lain atau bahkan yang drop out. Akan tetapi, penulis tidak melihat sastrawan yang muncul dari perguruan tinggi di Kalimantan Tengah. Tidak pula penulis temukan volunter yang mau menyibukkan diri dalam pengembangan sastra, atau paling tidak dalam kepenulisan seperti yang terjadi di kota-kota lain.

Sebagai sesama satu tanah, Kalimantan Selatan jauh meninggalkan adik kandungnya, Kalimantan Tengah. Kehidupan sastra dan kepenulisan di daerah ini berkembang karena adanya volunter yang menyerahkan waktunya untuk sastra dan kepenulisan. Dalam beberapa tulisan, penulis menyodorkan nama Ersis Warmansyah Abbas, seorang dosen yang kebetulan pula berasal dari tanah Sumatra. Baginya, belajar menulis adalah dengan menuliskannya. Ersis bahkan menyediakan rumahnya, beberapa komputer, dan jaringan internet untuk dimanfaatkan penulis-penulis muda. Silakan kunjungi blognya, kita akan menemukan karya penulis-penulis pemula yang baru berkarya di sana.

Kegelisahan Udo Z. Karzi mungkin bisa dijadikan satu contoh. Sastrawan yang berasal dari Lampung yang belum lama ini mendapatkan penghargaan nasional atas puisi-puisi berbahasa daerahnya ini lahir dari kegelisahan seorang sarjana ilmu politik. Jalur yang tidak ada sangkut pautnya dengan sastra, telah nyata mampu melahirkan seorang sastrawan dengan penghargaan nasional.

Di luar kampus, kehidupan sastra bisa pula berkembang dengan adanya komunitas-komunitas sastra. Kumpulan anak-anak muda yang dimotori oleh beberapa orang penulis atau sastrawan yang sering berkumpul dan mendiskusikan karya sastra atau jenis tulisan yang lain. Pada kesempatan yang lain mereka memamerkan tulisannya, atau membacakan karyanya. Bisa juga dengan mengadakan pertunjukan pembacaan atau penampilan karya mereka.

Memang perlu jalan panjang untuk menghidupkan sastra dan untuk melahirkan sastrawan. Di lingkungan pendidikan pun, tidak banyak guru yang sempat atau tahu mengajarkan bagaimana cara mengirimkan tulisan ke sebuah surat kabar atau majalah. Masalah teknis bagaimana mengirimkan karya sastra ke surat kabar atau ke majalah dan bagaimana mengecek karyanya dimuat atau tidak memerlukan jaringan. Tidak semua orang mampu mengikuti berbagai surat kabar atau majalah yang beredar di Kalimantan Tengah.

Mengenai kemiskinan, menurut hemat penulis, tidak ada sangkut pautnya dengan kreativitas. Banyak orang miskin yang kreatif di samping orang miskin yang tidak kreatif. Begitu pula banyak orang kaya yang tidak kreatif di samping orang kaya yang kreatif. Sastra lebih banyak lahir dari adanya waktu luang atau kesempatan. Lingkungan tentu saja sangat berpengaruh dalam hal ini.

Adanya waktu luang yang banyak merupakan salah satu peluang untuk lahirnya berbagai kegiatan kesenian termasuk sastra. Kesibukan bekerja menghilangkan waktu luang. Akan tetapi, waktu luang yang tidak dimanfaatkan akan menyebabkan orang membuang-buang waktu dengan kegiatan yang tidak berguna. Selanjutnya tinggal bagaimana orang memanfaatkan waktu luang itu.

Mahasiswa dan pelajar adalah kelompok yang memiliki waktu luang paling banyak. Hanya saja sering kali lingkungan tidak memberi kesempatan mereka untuk mengembangkan potensinya dalam bidang kepenulisan. Keluar masuknya orang dalam dunia sastra demikian cepat secepat perubahan waktu. Anggota komunitas sastra di mana pun mengalami perputaran yang cepat. Waktu pula yang menyeleksi mereka.

Akan halnya di Kalteng, adakah komunitas sastra yang sedang hamil sastrawan atau bahkan sudah melahirkan sastrawan? Karena yang terdokumentasikan oleh Puji Santosa adalah sastrawan angkatan 66 yang diorbitkan oleh H.B. Jassin. Apakah dalam waktu 40 tahun tidak lahir seorang pun sastrawan di Kalimantan Tengah?

Harapan Puji Santosa agar media massa membuka ruangan seni budaya itu bagus. Masalahnya adalah adakah yang menjadi penulisnya? Siapa yang akan mengisi ruang seni budaya itu? Apakah kita akan berharap kepada tiga orang sastrawan yang sudah disebutkan oleh Puji Santosa?

Penulis sebagai seorang guru sastra, selalu mengalami kesulitan jika ingin memberikan contoh-contoh karya sastra penulis Kalimantan. Koleksi di perpustakaan sekolah tidak memasukkan karya-karya mereka.

Willy Ediyanto, Praktisi Pendidikan (http://willyedi.wordpress.com)

Sumber: Borneonews, Senin, 25 Agustus 2008

Monday, August 18, 2008

Sastrawan Kalteng dalam Peta Sastra Nasional

Esai Puji Santosa*

BEBERAPA hari yang lalu, akhir bulan Juli 2008, saya membaca sepintas tulisan Saudara Udo Z. Karzi di internet. Awalnya saya membuka blog yang ditulis Udo dengan bahasa daerah, dan saya kurang paham dengan bahasa daerah apa. Hal itu tidak saya hiraukan karena saya kurang paham dan tidak mengerti makna bahasa daerah itu. Lalu, awal bulan Agustus 2008 saya membaca lagi tulisan Saudara Udo yang bertajuk “Dicari Sastra(wan) Kalteng” lewat cabiklunik.blogspot.com yang bersumber dari surat kabar Borneonews, Senin, 4 Agustus 2008, lalu timbul hasrat saya untuk sedikit memberi informasi tentang keberadaan sastrawan Kalteng dalam peta sastra nasional kita.

Ketika temu sastra Majelis Sastera Asia Tenggara di Palangkaraya, Senin, 14 Juli 2008, yang lalu saya mengatakan kepada media bahwa “aktivitas sastra di Kalimantan Tengah sepi”. Hal ini apabila dibandingkan dengan provinsi tetangga sesama Kalimantan, yaitu Kalimantan Selatan atau Kalimantan Timur. Sastrawan Kalimantan Tengah yang hingga kini telah mengorbit secara nasional hanya ada tiga, yaitu Fridolin Ukur (asal Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur), Haji Ahmad Badar Sulaiman Usin, lebih dikenal dengan nama HABSU (asal Pulang Pisau), dan J.J. Kusni (asal Kasongan, Kabupaten Katingan). Apa dan siapa ketiga tokoh sastrawan Kalteng tersebut, silakan membuka laman Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, dengan alamat: www.balaibahasaprovinsikalteng.org, lalu klik Tokoh.

Dua dari tiga sastrawan asal Kalteng itu kini telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, yaitu Fridolin Ukur dan HABSU. Sementara J.J. Kusni yang juga memiliki nama samaran K. Sulang, telah lama meninggalkan Indonesia dan kini bermukim di Perancis. Mereka bertiga muncul dan diorbitkan oleh H.B. Jassin sebagai Angkatan 66. Tentu karya-karya mereka dapat ditemukan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Selain ada di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, karya-karya mereka juga dapat ditemukan di dokumentasi sastra Korrie Layun Rampan, di Bekasi, dan dokumentasi ini akan dipindahkan oleh Korrie ke Samarindra, Kalimantan Timur.

Ketika E.U. Kratz dari School of Oriental and African Studies (SOAS) London meregistrasi karya-karya sastra Indonesia yang terdapat di majalah dan surat kabar, yang kemudian diterbitkan dalam buku A Bibliography of Modern Indonesian Literature in Journals (1988), hanya tercantum dua nama dari Kalimantan Tengah, yaitu Edmond Sawong dan K.Sulang (nama samaran J.J. Kusni). Hal ini kita maklumi bahwa yang dicatat oleh Kratz terbatas pada majalah yang sampai ke London atau terbatas yang ada di PDS H.B. Jassin sampai tahun 1970-an. Padahal, apabila kita telusuri ke surat kabar nasional atau lokal hingga tahun 2000-an, tentu banyak nama para sastrawan Kalimantan Tengah yang ada, separti Abdul Fatah Nahan, Kurnia Untel (Buntok, Muara Teweh), Alimul Huda, Dafi Fadjar Rahardjo, Elsy Suarni, Suyitno BT, Sandi Firly (Kuala Pembuang, Seruyan), Dedy Setiawan (Sukamara), Agung Catur, Luthfi, Makmur Anwar, Supardi, Pahit S. Narratoma, Lukman Hakim Siregar, dan Bajik Rubuh Simpei.

Untuk mengangkat sastra(wan) Kalimantan Tengah mengorbit ke pentas sastra nasional akhir-akhir ini Korrie Layun Rampan menawarkan partisipasi Kalteng ikut dalam Dialog Borneo-Kalimantan 2009 di Samarindra, Kalimantan Timur. Ajakan ini disambut baik oleh teman-teman sastrawan Kalimantan Tengah yang tergabung dalam Ikatan Sastawan Sastra Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah untuk mengikuti kegiatan itu dengan cara mengumpulkan cerpen, puisi, fragmen novel, esai, dan kritik sastra ke alamat Korrie Layun Rampan, Pemimpin Redaktur Koran Sentawar Pos, Karang Rejo RT III Kampung Sendawar 75576, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Selain itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada akhir-akhir ini untuk menyemarakkan Tahun Bahasa 2008, juga melakukan kegiatan pemasyarakatan apresiasi sastra agar Kalteng dikenal secara nasional maupun mendunia, seperti Dialog Sastra dengan Sastrawan Danarto (Kapuas dan Palangkaraya, Maret 2008), Temu Sastra Majelis Sastera Asia Tenggara bersama sastrawan Hamsad Rangkuti (Palangkaraya, Juli 2008), Bedah Buku Kumpulan Cerpen karya Sandi Firly (Palangkaraya, Mei 2008), Seminar Apresiasi Sastra (Palangkaraya, Februari dan April 2008), Bengkel Penulisan Cerpen (Tamiang Layang dan Buntok, April dan Mei 2008), Bengkel Musikalisasi Puisi (Sampit dan Buntok, Mei dan Juli 2008), Siaran Tebaran Sastra di RRI Palangkaraya yang diasuh oleh Makmur Anwar setiap Minggu malam, Lomba Baca Puisi Guru SD se-Kalteng (Palangkaraya, Agustus 2008), Lomba Musikalisasi Puisi Siswa SLTA se-Kalteng (Palangkaraya, Agustus 2008) pemenang pertama dikirim ke tingkat nasional di Jakarta (Oktober 2008), Sayembara Cipta Cerpen Remaja Tingkat Kalimantan Tengah 2008 (sepuluh nominasi diikutsertakan ke tingkat Nasional di Jakarta), Sayembara Cerita Rakyat Kalimantan Tengah 2008, dan penulisan Ensiklopedia Sastra Indonesia dan Daerah di Kalimantan Tengah yang akan diterbitkan bersamaan dengan Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta pada Oktober 2008, serta penghargaan Tokoh Sastra 2008.

Sepinya aktivitas sastra di Kalimantan Tengah ada berbagai penyebab, antara lain, media massa lokal tidak memberi tempat untuk memublikasikan karya-karya mereka. Para pengusaha media massa lokal menganggap sastra tidak bernilai ekonomis, lebih baik memuat iklan, pengumuman lelang, berita kegiatan para pejabat yang sering memberi donatur pada mereka, dan kegiatan pariwara yang lain agar pengusaha media massa memperoleh keuntungan secara ekonomis. Kami tidak sampai berpikiran tentang kaya miskin, materialistis, penduduk Kalteng seperti pikiran Udo Z. Karzi dalam tulisannya di Borneonews itu.

Tidak ada hubungannya permintaan kami agar media massa berkenan membuka rubrik seni budaya dan sastra di media massa dengan kehidupan masyarakat miskin di Kalimantan Tengah. Oleh karena itu, saya mengharapkan agar media massa, cetak maupun elektronik, lokal dan nasional, sudi kiranya membuka ruangan seni budaya, khususnya sastra(wan) Kalteng dalam satu minggu sekali. Ini semata-mata untuk memajukan peradaban bangsa, mempertinggi budi pekerti bangsa agar lebih bermartabat, dan tetap bersatu dalam pertahanan budaya dan nilai-nilai luhur budaya bangsa, serta Kalimantan Tengah dikenal secara nasional dan internasional.

* Puji Santosa, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah

Sumber: Borneonews, Senin, 18 Agustus 2008

Sunday, August 17, 2008

Sastra di Kalteng Sulit Berkembang

PALANGKARAYA (Borneo): Apresiasi masyarakat yang rendah terhadap sastra di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyebabkan daerah ini sangat minim menghasilkan sastrawan dan karya sastra bermutu.

"Kalteng baru memiliki tiga sastrawan yang telah dikenal publik. Hal ini karena karya sastra memang kurang begitu diminati warga," kata Kepala Balai Bahasa Kalteng Puji Santosa di Palangkaraya, Sabtu (19/7).

Kurangnya minat warga terhadap karya sastra didasari pemikiran bahwa karya sastra tidak mampu menghasilkan nilai ekonomi yang dibutuhkan warga sehari-hari.

Banyaknya warga Kalteng yang hidup miskin di berbagai daerah pedalaman menyebabkan sastra sulit berkembang di daerah itu.

Balai Bahasa sendiri, kata Puji, telah berupaya mengggairahkan dunia sastra setempat meski sampai saat ini tanggapannya belum sebaik yang diharapkan.

Pergelaran sayembara penulisan cerita pendek (cerpen) dan kegiatan sastra lain, sangat minim diikuti peserta.

Dalam sayembara penulisan cerpen misalnya, hanya diikuti 28 peserta dan sayembara penulisan cerita rakyat yang hanya diikuti dua peserta.

Puji menilai, perkembangan karya sastra di Kalteng juga kurang mendapat dukungan dari media massa selaku media publik.

"Media massa seharusnya ikut bertanggungjawab melestarikan sastra dengan menyediakan ruang khusus atau kolom sastra. Saat ini baru beberapa media saja yang telah memberikan apresiasi untuk ini," jelasnya.

Sementara itu, Hamsad Rangkuti, sastrawan asal Medan yang turut hadir di Palangkaraya dalam kegiatan Temu Sastra se-Kalteng mengakui banyak hambatan dalam mengembangkan karya sastra di daerah.

Ruang publik yang terbatas untuk memuat hasil karya sastra seperti puisi dan cerpen di media massa, dinilainya cukup berpengaruh terhadap perkembangan dunia sastra seperti di Kalteng.

"Media massa harus memberi apresiasi yang cukup untuk sastrawan dan karyanya. Agar bisa berkembang di daerah, karya sastra lebih baik disesuaikan dengan kondisi lokal masyarakat," tambah sastrawan penerima sejumlah penghargaan nasional itu. (Ant/B-4)

Sumber: Borneonews, Senin, 21 Juli 2008

Baca juga: Dicari: Sastra(wan) Kalteng!

Monday, August 4, 2008

Dicari: Sastra(wan) Kalteng!

Esai Udo Z. Karzi

SUDAH lama memang saya bertanya-tanya, adakah sastrawan di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Teman-teman bilang ada. Namun, siapa, tidak ada yang bisa menyebutkannya.

Sama saja ketika Temu Sastra se-Kalteng, 18 Juli 2008 lalu, Kepala Kantor Bahasa Kalteng Puji Santoso menyebutkan Kalteng baru memiliki tiga sastrawan yang dikenal publik. Lagi-lagi saya tidak menemukan nama.
Menurut Puji Santoso, apresiasi masyarakat yang rendah terhadap sastra di Kalteng menyebabkan daerah ini sangat minim menghasilkan sastrawan dan karya sastra bermutu.

Warga kurang meminati karya sastra. Alasannya, karya sastra tidak mampu menghasilkan nilai ekonomi yang dibutuhkan warga sehari-hari. Sebagian besar warga Kalteng yang hidup masih miskin dan tersebar di berbagai daerah pedalaman, menyebabkan sastra sulit berkembang di daerah itu.

Ada yang salah? Kepala Kantor Bahasa Kalteng menuding media massa kurang mendukung perkembangan sastra di Kalteng. "Media massa seharusnya ikut bertanggung jawab melestarikan sastra
dengan menyediakan ruang khusus atau kolom sastra. Saat ini baru beberapa media saja yang telah memberikan apresiasi untuk ini," jelasnya.

Ah, argumen yang terlalu materialistik. Saya sungguh heran jika persoalan sastra terkait dengan persoalan kaya-miskin.

Kita lihat kantong-kantong sastra di tanah air: Medan, Sumatera Barat, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Lampung untuk menyebutkan beberapa tempat. Saya kira bukan persoalan tempat-tempat itu penduduknya sudah makmur-makmur, sehingga mereka dapat membuat karya sastra dan mencetak sastrawan.

Tanpa harus bertanya kepada Biro Pusat Statistik, Kalteng toh bukan provinsi yang terlalu miskin dibandingkan dengan, katakanlah Provinsi Lampung yang masih menjadi provinsi termiskin kedua di Sumatera. Tadinya, nomor satu sebelum digeser Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pasca tsunami tahun 26 Desember 2004.

Saya ambil contoh Lampung karena saya tahunya cuma Lampung. Kemiskinan, penganguran, daerah terisolir, dan masalah sosial lain masih mendera provinsi ujung Pulau Sumatra ini. Tapi, sastra memang tidak terkait dengan kaya-miskin, sehingga Lampung dikenal sebagai 'negeri penyair'.

Bahkan, sastrawan Djadjat Sudradjat dalam sebuah acara Temu Penyair Lampung sempat mengatakan, di tengah berbagai masalah sosial-ekonomi-politik yang mendera, nama Lampung diselamatkan oleh sastrawan (penyair). Pengamat sastra tanah air mengakui pertumbuhan syair (dan penyair) di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai ini sangat pesat. Saat ini, puluhan penyair tinggal dan pernah tinggal di provinsi ini.

Kalimantan sendiri sudah melahirkan beberapa nama sastrawan seperti Odhie's, Yusach Ananda, dan Korrie Layun Rampan. Yang terkini, ada Pay Jarot Sudjarwo dan Hasan Aspahani.

Saya juga heran, dari nama-nama itu hampir tidak ada (untuk mengatakan memang tidak ada) yang berasal dari Kalteng. Karena kemiskinan? Ah, saya malah berpikir kemiskinan dan juga masalah sosial justru bisa menyuburkan sastra. Bukankah kemiskinan (asal bukan miskin jiwa) justru membuat orang lebih kreatif?

Memang, perlu 'situasi kondusif' yang memungkinkan lahirnya kreativitas (karya sastra dan sastrawan) untuk kemudian terus-menerus dipupuk agar subur dan berkembang baik. Situasi seperti ini (pesatnya perkembangan sastra) memang tidak lahir begitu saja. Harus ada yang tanpa lelah menjadi lokomotif yang menggerakkan sekaligus menjadi inspirasi.
Media massa sebagai salah satu sarana bisa juga membantu mendorong ke arah itu. Bagaimana pun media juga membutuhkan karya-karya sastra yang berkualitas.

Entah, siapa yang mau memulainya. Dan, harus dari mana dimulai. Saya hanya mau pasang pengumuman.

Dicari: Sastra(wan) Kalteng!

* Udo Z. Karzi, Seorang penikmat sastra, sementara ini tinggal di Pangkalan Bun

Sumber: Borneonews, Senin, 4 Agustus 2008

Baca juga: Sastra di Kalteng Sulit Berkembang