Saturday, January 26, 2008

Pada Akhirnya, Karya yang Bicara

Esai Alex R. Nainggolan *

IA, seorang kawan datang pada suatu petang. Namanya, Andriansyah—seorang penulis prosa. Tak ada yang berbeda pada dirinya. Masih tetap rajin menulis cerita pendek, sesekali esai dan tinjauan buku. Meski jarang kutemui karyanya di halaman budaya surat kabar. Beberapa kali menjuarai lomba penulisan kreatif. Sudah lama memang saya tak jumpa. Maklum jarak kami cukup jauh, sebelumnya. Dulu memang kami sempat menekuni, ah terlalu tinggi bahasa ini! Barangkali mencoba belajar sastra di Lampung. Ceritanya banyak, melompat kemana-mana. Jelas ia kecewa pada perkembangan sastra terkini.

Melulu, katanya, dipenuhi dengan beragam gunjingan. Kotraproduktif. Tidak sehat. Bukan bersaing dengan karya. Polemik. Dipenuhi dengan intrik. Padahal, ia seperti jiwa senimannya kepingin bebas saja. Tak perlu mencari “musuh” sekaligus pula didukung. Sastra sekarang, katanya, merupa ragam dunia politik. Memang kita bisa mahfum, jika isi kepala seseorang satu dengan lainnya berbeda. Tapi yang terjadi saat ini ialah kritikus yang muncul asal saja.

Pelbagai perdebatan tentang sastra memang wajar. Maka wajar pula jika pengarang yang tua (tanpa perlu menyebutkan nama) mengelus dada tentang warna tulisan (sastra) saat ini—dengan dominasi seksualitas. Padahal perdebatan itu sudah berlangsung lama, hampir tiga tahun belakangan. Perdebatan itu lebih bercermin pada moralitas versus kebebasan ekspresi. Di beberapa media, beberapa minggu belakangan hanya soal itu-itu saja yang diangkat. Toh, pada akhirnya karya itu sendiri yang berbicara.

Bagi saya sendiri, perdebatan itu ibarat dua buah rel. sampai kapanpun dua buah rel itu tak akan bertemu (sepakat). Bukankah pendapat itu berbeda-beda pula? Tapi jangan dulu pesimis, dengan begitu kita dapat menemukan stasiun (sastra) yang dibawa oleh sebuah kereta. Kereta akan tetap berjalan dan menuju stasiun. Pada titik itulah, sastra justru akan memperoleh katarsis-nya, dengan sendirinya. Sastra akan melulu dipenuhi koreksi, bukan untuk mengalahkan sekaligus memenangkan pendapat-pendapat. Justru dengan demikian dunia sastra akan berubah. Bukankah yang abadi perubahan itu sendiri juga?
Parahnya, kita terkadang abai, bila karya sastra sepenuhnya memerlukan tafsir. Dan tafsir pun dapat beragam. Ibarat sekeping logam, dari sisi sebelah mana melihatnya. Kerja berat sastra(wan) adalah penafsiran. Sebuah karya asing, katakanlah apabila ditafsirkan dapat beragam. Proses menerjemahkan itu sendiri merupakan kerja penafsiran.

Maka, saya bilang kepada kawan saya yang datang pada petang itu, adalah wajar pula jika kita tak butuh kritikus. Untuk sekadar menguping, saya kira boleh juga. Tetapi mengambil perkataan dari si kritikus secara total, saya kira perlu dikesampingkan. Dan tidak aneh pula, jika penyair sebesar W.S. Rendra di sebuah koran Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat), berujar, tak perlu ambil “pusing” dengan perdebatan tersebut. Apa yang dikatakan rekan seangkatannya tidak menjadi titik mutlak. Toh, generasi 66 dan sekarang jauh berbeda.

Kondisi sosial/ dinamika masyarakat yang ada saat ini berbeda. Justru di situlah sastra hadir, memberikan sekadar teguran—barangkali cukup. Meskipun “teguran” tersebut terasa implisit, dengan mengungkapkan parahnya realitas terkini, kehidupan pribadi yang berada di dalam kamar. Meskipun saya tidak membela karya sastra seksual, sebab masih ada tema-tema lain yang bisa digarap, yang lebih segar.
Bukankah karya sastra pada akhirnya adalah menyucikan? Dengan berfungsi sebagai “pencerahan” bagi para pembacanya? Apa yang ditakutkan salah seorang penyair 66 itu juga cukup beralasan. Mengapa kita tak bergandeng tangan, untuk lebih menghidupkan dunia sastra dengan segala tema penggarapan?

Untuk itu teringat pula saya pada ucapan Sapardi Djoko Damono, pada Simposium Nasional (Perdebatan Sastra Kontekstual, hal. 151), jika ternyata, “Fungsi sastra berubah dari zaman ke zaman, berbeda-beda di pelbagai tempat macam masyarakat. Di suatu zaman dan masyarakat tertentu, sastra mungkin dipergunakan sebagai alat penyebaran ideology; di zaman masyarakat lain ia mungkin sekali dianggap sebagai tempat pelarian yang aman dari kenyataan sehari-hari yang tak tertahankan: mungkin saja sastra dianggap mampu memberikan pengalaman hidup dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur bagi pembacanya (…) Tidak saja pembaca boleh dikatakan bebas menentukan kegunaan sastra bagi dirinya sendiri, tetapi pengarang dan penerbit juga menentukan maksud buku yang ditulis dan diterbitkannya.” Tetapi sastrawan kita nampaknya malas, katakanlah untuk sekadar merengkuh seluruhnya. Untuk menghadapi seluruh karya dengan gairah yang sama. Pun pada porsi kritik, kita lebih suka mencibir pada orangnya saja, bukan pada karya. Nyatanya justru, seperti juga yang kawan saya perbuat, kita menciptakan “pusat-pusat” baru dalam sastra yang sesuai dengan kepentingan. Sungguh, jauh panggang di atas api. Kegiatan untuk membiarkan sastra tumbuh sebagai pusat cipta, lebih terkesan pada gerakan yang setengah hati. Gerakan yang dipenuhi dengan kepura-puraan panjang. Padahal kita tahu, sastra selalu saja tumbuh, mekar, dan berkembang. Padahal kita mengerti dan paham, karya sastra semestinya menuju pada pintu yang satu: katarsis.

Ah, kawan, mengapa kita begitu sibuk memilah diri. Membatasi diri sendiri, untuk tidak membiarkan saja sastra itu tetap tumbuh. Mengapa kita selalu berpura-pura untuk masuk ke dalam karya sastra, padahal masih banyak hal-hal lain yang sebenarnya tak tersentuh? Apakah kita terlampau kerdil untuk membiarkan seluruh karya bermain-main di dalam diri kita. Kawan, apakah kau lupa, bagaimana politik dapat selalu masuk ke dalam dunia kita? Politik yang justru membuat beberapa dari kita menyingkir. Politik yang justru menayangkan kenyataan pahit, bahwa dunia sastra tidak lagi berkisah moral baik atau buruk saja. Di mana seluruh kepentingan campur-aduk di sana. Politik pula yang mengakibatkan kita terpecah-belah. Kita ingat bagaimana sastrawan eksil, yang meninggalkan tanah kelahirannya, semacam Agam Wispi, Sobron Aidit, Sitor Situmorang, Utuy Tatang Sontani, dsb. Politik yang licik pula, yang menyebabkan karya sastra dibakar, dimusnahkan, dan terkubur tanpa sempat muncul di permukaan. Politik yang telah menahan
Pramudya Ananta Toer, K. Usman, dsb.

Ah, kawan, mengapa kau begitu bersikeras untuk mengotakkan itu semua? Padahal karya sastra, sebagaimana Chairil Anwar bilang, cuma untuk mengatasi kesementaraan segala saja. Padahal dalam sajaknya Goenawan Mohammad bilang, kelak retak dan kita membikinnya abadi. Kawan, tidakkah kita bisa bersikap wajar, untuk sekadar mengarifi lagi tapal batas kita. Untuk tetap menggali seluruh kekayaan diri kita sendiri, dengan terus belajar dari khazanah yang telah purba ataupun terkini. Kita bisa saja terpikat atau kepincut pada legenda-legenda tradisi kita semacam kisah-kisah yang terus diceritakan orang-orang tua zaman dahulu. Hikayat Ken Arok, Anglingdarma, Anjasmara, atau barangkali kita berkaca pada karya-karya asing, bagaimana Albert Camus memikat dalam novelnya yang terakhir La Chute, Edgar Alan Poe, Saferis, dsb. Mengapa kita tak mengambil semuanya, katakanlah untuk menambah kekayaan kita dalam berkarya, atau untuk menyikapi kehidupan?

Ah, kawan! Sungguh, pada akhirnya kita kembali pada pembaca. Pembaca juga yang menemukan ragam tafsir yang tentunya berbeda antara satu dengan lain. Tidakkah kita lebih baik berkarya saja? Sudah habis! Pada akhirnya memang karya yang berbicara.

***

Kembali pada kawan saya, lalu, ia berkisah tentang temannya yang kepingin jadi sastrawan, kata dia temannya ingin sekali menulis novel. Novel yang langsung menggebrak dunia sastra tanah air, bila perlu dunia. Jika perlu lagi bisa mendapatkan nobel. Temannya kawan saya itu bilang, jika memerlukan bantuannya untuk mengedit. Ah, editor! Alangkah sengkarut-mautnya pekerjaan itu. Perlu lihai dengan kata, mampu menyelami isi cerita secara utuh. Salah sedikit saja karya orang lain bisa berantakan dibuatnya.

Tapi saya bilang tidak sekejam itu peran editor, justru terkadang bisa membuat karya lebih gemilang dari aslinya. Temannya kawan saya yang minta diedit novelnya tak kunjung memberi kabar. Padahal dia merasa sudah siap untuk membaca novelnya. Suatu ketika mereka berjumpa, jawaban temannya kawan saya cuma singkat, “Setan itu virus komputer! Habis file tulisanku dibuatnya. Terpaksa harus menulis ulang. Kau tunggu sajalah!” ia hanya melengos.

Saya bilang padanya, “Ah, belagu betul orang itu! Sama seperti sifat sastrawan lainnya. Mau menulis karya yang besar tetapi tak kunjung jadi. Cuma sekadar jadi omongan di bibir saja. Lips service.”

***

Barangkali memang susah menemukan kisah yang betul-betul besar. Besar di sini mampu bertahan di segala zaman. Perlu usah yang sungguh-sungguh. Sebuah kisah yang dapat meninggalkan sketsa di benak pembaca adalah cerita yang besar itu. Kisah itu dapat memberikan penyadaran penuh bagi penikmatnya. Kerja keras itu tak mudah, mengatur watak tokoh yang keras kepala teramat sulit untuk diterka. Alur, logika, bahkan kekuatan dialog mesti dibangun. Belum lagi pemilihan kata-kata.

Kisah memang hanya sebuah fragmen dari kehidupan. Hanya sekilas, tak pernah lengkap. Bahkan novel setebal apapun, tidak pernah dapat secara detail menggambarkan kehidupan yang utuh. Kisah dituliskan hanya sebagai upaya—bagi manusia untuk bertahan dalam kehidupan itu sendiri. Kisah-kisah mengharukan—lebih banyak mengambil tempat. Bukan karena adanya unsur penggalian terhadap derita yang dialami manusia.

Ah, padahal saya merindukan ada sebuah bentuk tulisan teks yang benar-benar mencitrakan keunggulan. Setidaknya terlepas dari pengaruh para pendahulunya. Dan memang sastra selalu tak lepas dari suasana keterpengaruhan orang lain, kewibawaan teks orang yang dianggap menjadi guru. Adakah pijakan leluhur lain yang memang bisa diandalkan, sebagaimana Nirwan Dewanto bilang, berkaca pada karya-karya luar? Ataukah kita yang lupa: jika sebenarnya masih ada khasanah lain yang belum kita kuak. Sebagaimana peribahasa, “semut di ujung lautan kelihatan, sedangkan gajah di pelupuk mata tak terlihat.” Apakah kita melupakan warisan legenda para leluhur di daerah masing-masing. Nyatanya kita masih punya syair Raja Ali, Serat Centhini, dan Hamzah Fansuri. Atau barangkali kita takut untuk berlena lama-lama dalam nostalgia yang terasa semu itu. Terlibat dalam pikiran di mana terlampau sibuk mengenang masa silam. Sebuah nostalgia yang mendadak gila. Tetapi apa yang lebih indah dari ingatan? Bukankah dengan mengingat orang merasa dirinya menjadi lebih baik dibandingkan dengan kemarin? Ya, memang saya merindukan sebuah prosa yang tanpa ujung, di mana saya menapaki semua bebatuan diksi, gaungan kata, yang memaksa saya terengah, namun mendapatkan juga sebuah pintu untuk dimasuki.

Apakah saya berkhayal tentang sebuah karya yang menggelegar pecah dari Indonesia? Barangkali tidak. Sebab apalah artinya sastra? Toh hanya sebatang pohon beringin yang kecil, meski terasa lebat daunnya, namun hanya memilih menjadi tepian saja. Menyempit dan begitu khusus. Terjerat di dunianya sendiri. Berputar dalam lingkaran yang itu-itu saja. Beruntung pula, jika akhir-akhir ini beberapa buku sastra dapat terjual laris manis tanjung kimpul. Best seller. Sayang pula hanya beberapa, sedang yang lain? Cuma terpajang diam di rak-rak buku. Sampai berdebu. Tidak dicetak ulang.

Terkadang saya berpikir, terhadap kenyataan getir semacam ini. Di mana orang sibuk bicara tentang hal-hal lain, adakah mereka menyentuh karya sastra semacam prosa? Jangankan prosa, puisi yang pendek mungkin hanya sebatas ingatan kecil, sebuah lampion yang teramat kecil yang terus bersinar, namun hanya sendirian. Terlebih lagi, dunia sastra, dengan segala macam karyanya. Perlukah kita bersibuk diri dengan meminta adanya pencerahan di dalam sebuah karya?

Padahal saya menunggu sebuah kemilau cerita yang tak kunjung menghilang dalam ingatan. Mengukir sebuah pemahaman baru, yang justru menampilkan tidak sekadar beberapa tokoh, di mana ada pergulatan antara konflik dan antiklimaks berkelindan jadi satu. Prosa yang hadir saat ini, mungkin masih butuh proses yang lebih jauh. Di mana perlu ada rangkaian imajinasi baru yang lebih ‘gila’ lagi. Satu-satunya yang masih tersisa adalah budaya bertutur kita yang masih kuat. Padahal efek dari percakapan, tuturan, ucapan—sifatnya hanya temporer semata. Yang akan mudah lenyap bersama dengan angin.

Ya, tentu, beberapa kawan pernah bilang, dunia sastra kita masih berada dalam tahap pencarian yang panjang. Masih begitu muda, bung, usianya. Sehingga beberapa kemiripan hadir dan tumpang-tindih. Mengingat tampilnya beberapa raja-raja baru kapitalisme, yang menginginkan bagaimana selera pasar harus tampil di muka. Namun mengapa kita tak berupaya membebaskan diri, katakanlah, untuk sekadar mempercayai, jika masih banyak kekayaan lain yang belum digali. Apakah sastra begitu merindukan omong kosong semacam ini? Saya rasa tidak, sebab kita mengetahui justru cerita yang sederhana tetap mampu memukau. Dan terkadang serpihannya begitu dekat dengan diri kita sendiri.

Padahal dia dan juga saya merindukan prosa yang benar-benar menggetarkan. Oh, berada di mana engkau sebuah kisah?

* Alex R. Nainggolan, Penyair, menetap di Jakarta

Dimuat di Borneonews, Minggu, 20 Januari 2008

No comments: