Monday, August 25, 2008

Masih Mencari, Adakah Sastra(wan) Kalteng

Esai Willy Ediyanto

MENARIK sekali perdebatan antara Udo Z. Karzi dengan Puji Santosa yang dimuat di harian ini selama bulan Agustus tahun 2008. Menarik bagi penulis karena penulis bekerja sebagai seorang guru yang berijazah dan mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia. Menarik karena penulis ikut membidani Komunitas Awan Senja di Kumai, Kotawaringin Barat. Menarik juga karena penulis pernah menanyakan sebuah lomba penulisan sastra akan tetapi tidak diketahui siapa dan di mana panitianya.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia sastra, penulis berkarya dalam bentuk seni sastra namun tidak mempublikasikannya secara umum. Penulis lebih suka mempublikasikannya melalui blog yang penulis miliki. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa penulis melakukan hal semacam itu.

Sebelum terbitnya surat kabar ini, kesulitan penulis untuk mengikuti surat kabar yang ada di Kalimantan Tengah telah menjadi salah satu alasannya. Biasanya surat kabar baru sampai ke tangan penulis keesokan harinya. Itu pun tidak ada agen surat kabar yang mau melayani untuk berlangganan dan mengantarnya sampai ke tempat tinggal penulis. Di samping itu, redaksi surat kabar di Kalteng umumnya tidak mengirimkan bukti pemuatan untuk penulis-penulis yang tidak terjangkau pelayanan berlangganan. Itu pula yang menyebabkan penulis lebih asyik menulis di blog dan di surat kabar ini.

Udo Z. Karzi menurut hemat penulis lebih menyorot pada keberadaan sastrawan pada saat ini, pada tahun 2008. Sementara itu, Puji Santosa membeberkan keberadaan penulis yang sudah tidak ada. Puji Santosa menelusuri jejak sastrawan Kalteng dengan menyodorkan nama Fridolin Ukur, HABSU, dan J.J. Kusni yang sudah meninggal atau sudah tidak berada di Kalimantan Tengah. Itu bagus sebagai sebuah dokumentasi. Masalah yang ingin penulis soroti adalah sastrawan yang berada di sini dan pada saat ini.

Sayang sekali, dalam tulisannya, Puji Santoso tidak menyebutkan siapa saja sastrawan yang tergabung dalam Ikatan Sastrawan Sastra Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah yang disertakan dalam Dialog Borneo-Kalimantan yang ikut serta mengumpulkan karyanya. Selain itu hanya disodori beberapa kegiatan yang diadakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Tengah. Sementara itu kegiatan sastra seperti kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya yang dimotori oleh Taufik Ismail tidak terdokumentasikan. Begitu pula kegiatan apresiasi sastra di luar Palangkaraya.

Sepengetahuan penulis, kegiatan berkesenian biasanya tumbuh di lingkungan kampus atau sekolah yang dimotori oleh mahasiswa dan guru. Tidak selalu kampus yang memiliki fakultas sastra, karena fakultas sastra lebih banyak menyibukkan diri dalam teori, aliran, dan sejarah sastra, dan bukan pada proses kreatif. Artinya fakultas sastra bukanlah tempat untuk melahirkan sastrawan. Seorang sarjana sastra belum tentu seorang sastrawan. Bahkan harus diakui bahwa lebih banyak sastrawan yang tidak sarjana dan bukan sarjana sastra.

Kawan-kawan penulis ketika masih kuliah dulu, cukup banyak yang berasal dari fakultas dakwah dan fakultas tarbiah yang memanfaatkan sastra dan bergelut dalam bidang sastra. Di samping itu masih lebih banyak lagi yang berasal dari fakultas-fakultas lain atau bahkan yang drop out. Akan tetapi, penulis tidak melihat sastrawan yang muncul dari perguruan tinggi di Kalimantan Tengah. Tidak pula penulis temukan volunter yang mau menyibukkan diri dalam pengembangan sastra, atau paling tidak dalam kepenulisan seperti yang terjadi di kota-kota lain.

Sebagai sesama satu tanah, Kalimantan Selatan jauh meninggalkan adik kandungnya, Kalimantan Tengah. Kehidupan sastra dan kepenulisan di daerah ini berkembang karena adanya volunter yang menyerahkan waktunya untuk sastra dan kepenulisan. Dalam beberapa tulisan, penulis menyodorkan nama Ersis Warmansyah Abbas, seorang dosen yang kebetulan pula berasal dari tanah Sumatra. Baginya, belajar menulis adalah dengan menuliskannya. Ersis bahkan menyediakan rumahnya, beberapa komputer, dan jaringan internet untuk dimanfaatkan penulis-penulis muda. Silakan kunjungi blognya, kita akan menemukan karya penulis-penulis pemula yang baru berkarya di sana.

Kegelisahan Udo Z. Karzi mungkin bisa dijadikan satu contoh. Sastrawan yang berasal dari Lampung yang belum lama ini mendapatkan penghargaan nasional atas puisi-puisi berbahasa daerahnya ini lahir dari kegelisahan seorang sarjana ilmu politik. Jalur yang tidak ada sangkut pautnya dengan sastra, telah nyata mampu melahirkan seorang sastrawan dengan penghargaan nasional.

Di luar kampus, kehidupan sastra bisa pula berkembang dengan adanya komunitas-komunitas sastra. Kumpulan anak-anak muda yang dimotori oleh beberapa orang penulis atau sastrawan yang sering berkumpul dan mendiskusikan karya sastra atau jenis tulisan yang lain. Pada kesempatan yang lain mereka memamerkan tulisannya, atau membacakan karyanya. Bisa juga dengan mengadakan pertunjukan pembacaan atau penampilan karya mereka.

Memang perlu jalan panjang untuk menghidupkan sastra dan untuk melahirkan sastrawan. Di lingkungan pendidikan pun, tidak banyak guru yang sempat atau tahu mengajarkan bagaimana cara mengirimkan tulisan ke sebuah surat kabar atau majalah. Masalah teknis bagaimana mengirimkan karya sastra ke surat kabar atau ke majalah dan bagaimana mengecek karyanya dimuat atau tidak memerlukan jaringan. Tidak semua orang mampu mengikuti berbagai surat kabar atau majalah yang beredar di Kalimantan Tengah.

Mengenai kemiskinan, menurut hemat penulis, tidak ada sangkut pautnya dengan kreativitas. Banyak orang miskin yang kreatif di samping orang miskin yang tidak kreatif. Begitu pula banyak orang kaya yang tidak kreatif di samping orang kaya yang kreatif. Sastra lebih banyak lahir dari adanya waktu luang atau kesempatan. Lingkungan tentu saja sangat berpengaruh dalam hal ini.

Adanya waktu luang yang banyak merupakan salah satu peluang untuk lahirnya berbagai kegiatan kesenian termasuk sastra. Kesibukan bekerja menghilangkan waktu luang. Akan tetapi, waktu luang yang tidak dimanfaatkan akan menyebabkan orang membuang-buang waktu dengan kegiatan yang tidak berguna. Selanjutnya tinggal bagaimana orang memanfaatkan waktu luang itu.

Mahasiswa dan pelajar adalah kelompok yang memiliki waktu luang paling banyak. Hanya saja sering kali lingkungan tidak memberi kesempatan mereka untuk mengembangkan potensinya dalam bidang kepenulisan. Keluar masuknya orang dalam dunia sastra demikian cepat secepat perubahan waktu. Anggota komunitas sastra di mana pun mengalami perputaran yang cepat. Waktu pula yang menyeleksi mereka.

Akan halnya di Kalteng, adakah komunitas sastra yang sedang hamil sastrawan atau bahkan sudah melahirkan sastrawan? Karena yang terdokumentasikan oleh Puji Santosa adalah sastrawan angkatan 66 yang diorbitkan oleh H.B. Jassin. Apakah dalam waktu 40 tahun tidak lahir seorang pun sastrawan di Kalimantan Tengah?

Harapan Puji Santosa agar media massa membuka ruangan seni budaya itu bagus. Masalahnya adalah adakah yang menjadi penulisnya? Siapa yang akan mengisi ruang seni budaya itu? Apakah kita akan berharap kepada tiga orang sastrawan yang sudah disebutkan oleh Puji Santosa?

Penulis sebagai seorang guru sastra, selalu mengalami kesulitan jika ingin memberikan contoh-contoh karya sastra penulis Kalimantan. Koleksi di perpustakaan sekolah tidak memasukkan karya-karya mereka.

Willy Ediyanto, Praktisi Pendidikan (http://willyedi.wordpress.com)

Sumber: Borneonews, Senin, 25 Agustus 2008

1 comment:

citra kalteng said...

caya orang kalimantan dan saya suka menulis kul di jawa yg saya tnyakan bagaimana upaya anda menanggapi kendala2 yang dihadapi yang membuat para sastrawan enggan tuk menulis di penerbitnya sendiri?