Wednesday, February 13, 2008

Payudan 1

Sajak Andre Beni Sarja

dingin tubuhmu
sapuan gerimis gigilkan aku

puncak bukit
goa pertapaan mulutnya
kian sempit

Sunday, February 10, 2008

Hujan Seharian

Sajak Alex R. Nainggolan

engkau terkunci di rumah
dalam hujan seharian
tak ada yang memberi kabar
selain resah dan murung
angin dingin yang lebur
terbata mengeja peristiwa

engkau terjebak di sana
seharian, menampung kenangan
melipat kesendirian
pengap dan penuh mimpi semalam

hanya genangan air
yang meluncur dengan getir
sedihmu yang tak kunjung terobati

Jakarta, 2007

Dalam Puisi

Sajak Alex R. Nainggolan

telah kucumbu engkau dalam puisi
berulangkali
meski aku melulu tenggelam sepi
tapi tetap aku masuk padamu
merapatkan peluk
tak pernah bisa untuk selalu jauh
berpisah pada peta dirimu

Jakarta, 2007

Momento

Sajak Alex R. Nainggolan


semestinya kita kembali menikmati sore di kota ini
membiarkan matahari menelusup
sekadar mengusap sedih yang lama tumbuh di dada
dan sorepun lepas
menjadi senja emas
anak-anak berlarian
menunggu gelap berkecambah
magrib yang muram

semestinya tak perlu kutanyakan padamu,
mengapa siang itu hujan turun deras
dan sorepun lembab
kenangan berlepasan
tatapan matamu yang bulat
tak pernah lenyap

Jakarta, 2007

Masa Kecilmu

- bagi rina

Sajak Alex R. Nainggolan


terasa tahun menahan di badan
tapi masa kecil selalu merupa pijar, ucapmu
seperti di kitab dongeng. berlari di ilalang panjang
sabana yang penuh dengan kicau burung
lalu kau tertenung
menelusuri bekas-bekas kenangan
tapi tak ada yang pernah dewasa di sana
cuma kanak-kanak yang berlarian
di sisi benakmu
membuka seperti album foto
menguning pada kertasnya

ah, padahal aku kangen menggambar rumah
di masalalu
mengukur panjang jalan
mengobati ilusi takut yang kecut
ketika sadar sepenuhnya
jika engkau telah menjadi ibu

Palembang, 2007

Jalan Kota

Sajak Alex R. Nainggolan

hanya macet yang berliku
di jembatan ampera
kita menata peta
tingkah laku orang-orang
sibuk mencari masalalu

di atas musi
menanam sepi
dalam hati
sendiri

Palembang, 2007

Thursday, February 7, 2008

Rancage untuk Karya Sastra Berbahasa Ibu

RANCAGE terus memperluas jangkauan karya sastra berbahasa ibu. Mulai tahun ini, Yayasan Rancage memberikan penghargaan kepada karya sastra berbahasa Lampung. Dengan demikian, Rancage kini menjangkau karya sastra dalam empat bahasa ibu, yakni Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung.

Buku kumpulan sajak Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang tak Malam) menjadi karya sastra berbahasa Lampung yang mendapat penghargaan Rancage pertama kalinya. Zulkarnain Zubairi-lah penyair yang menyusun kumpulan sajak yang diterbitkan BE Press, Tanjungkarang Barat, Lampung, itu lewat nama pena Udo Z Karzi.

Sajak-sajak Udo ini lebih banyak berbicara problem-problem kehidupan masa kini yang dihadapi masyarakat bawah. Dalam sajaknya juga terekam isu-isu lingkungan, pengangguran, korupsi, juga ketuhanan. Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pembina Yayasan Rancage, Ajip Rosidi, berharap penghargaan tersebut bisa mendorong sastrawan lain untuk menulis karya sastra dalam bahasa lampung.

Para penerima penghargaan Rancage 2008, telah diumumkan bersamaan dengan peringatan 70 tahun Ajip Rosidi. Selain Udo, sastrawan lain yang juga menerima penghargaan ini adalah Godi Suwarna untuk karyanya Sandekala. Karya Godi ini mengungguli 32 karya berbahasa Sunda yang terbit sepanjang 2007.

Sandekala merupakan roman yang dituturkan dengan kata ganti orang pertama uing (saya) dalam bahasa dialek Ciamis. Roman ini dikisahkan dengan latar belakang krisis multidimensi yang kemudian melahirkan reformasi.

Dengan penghargaan tersebut, Godi tercatat tiga kali menerima anugerah Rancage. Hadiah ini pertama kali diterimanya pada tahun 1993 untuk kumpulan puisinya yang berjudul Blues Kere Lauk. Penghargaan serupa juga diterimanya pada tahun 1996 lewat karyanya berjudul Serat Sarwasatwa yang merupakan kumpulan cerita pendek.

Sedangkan untuk karya sastra berbahasa Jawa, penghargaan Rancage 2008 diraih oleh Bledheg Segara Kidul. Kumpulan sajak karya penyair Turiyo Ragilputra ini mencerminkan sikap dan perhatian penyair terhadap budaya, bangsa, dan rekan-rekannya. Bledheg Segara Kidul ini menyisihkan 24 karya berbahasa Jawa yang terbit sepanjang tahun 2007.

Penganugerahan hadiah sastra Rancage untuk karya sastra berbahasa Bali diserahkan kepada I Nyoman Manda untuk karya romannya Depang Tiang Bajang Kayang-kayang. Roman ini berisi kisah pertautan hati antara gadis Bali dan pria Australia yang terhenti akibat peristiwa bom Bali.

Menurut Ajip, panitia menilai lima judul buku berbahasa Bali yang terbit sepanjang 2007. ''Ini lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya ada belasan judul,'' tutur Ajip.

Selain Manda, pria Bali yang juga mendapatkan hadiah Rancage tahun ini adalah I Made Suatjana. Dia adalah penemu program penulisan aksara Bali yang disebut Bali Simbar. Program ini bisa diaplikasikan dalam komputer lewat program Microsoft Word.

Untuk semua penerima penghargaan Rancage, panitia memberikan piagam dan uang masing-masing senilai Rp 5 juta. Panitia menjadwalkan penyerahan piagam dan hadiah tersebut pada Mei 2008 mendatang.

Bersamaan dengan diumumkannya penerima penghargaan Rancage, panitia juga menentukan penerima Hadiah Samsudi 2008. Hadiah ini didedikasikan untuk penulis buku bacaan anak-anak berbahasa sunda. Untuk tahun ini penerima hadiah Samsudi adalah Ai Koraliati untuk karyanya Catetan Poean Rere. Ai berhak mendapatkan piagam dan uang senilai Rp 2,5 juta. (irf)

Sumber: Republika, Minggu, 3 Februari 2008