Tuesday, April 22, 2008

Plagiat, Dosa Penulis yang Tidak Berampun

MEMPLAGIAT atau menjiplak tulisan orang lain merupakan dosa tidak berampun buat penulis. Sebab, ketika karya itu diketahui media massa yang memuat karya yang dijiplak, nama penulisnya akan masuk daftar hitam (blacklist).

Selain itu, penulis yang karyanya dijiplak akan merasa tersinggung. Oleh sebab itu, kegiatan culas ini harus dihindari jauh-jauh oleh mereka yang bergiat dalam dunia tulis-menulis.

Demikian benang merah yang disampaikan staf korektor bahasa Lampung Post yang juga seorang penulis opini, Adian Saputra, dalam Diklat Penulisan Opini dan Resensi Buku yang diadakan Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila), di Gedung A3 Fakultas Pertanian kampus setempat, Minggu (20-4).

Penulis yang karyanya sudah sekitar 350-an dipublikasikan di media massa, utamanya di Lampung Post, sejak 1999 itu, menambahkan kampus merupakan kawah candradimuka untuk mengembangkan keterampilan menulis. Sebab, dari kampus banyak lahir penulis, jurnalis, dan wartawan yang andal. Namun, untuk menjadi penulis, seseorang harus banyak membaca dan terus belajar, salah satunya dengan praktek menulis sepanjang waktu. Sebab, makin sering berlatih, hasil tulisan makin halus dan gaya menulis akan muncul.

Anggota tim penulis buku Setengah Abad Alzier Dianis Thabranie ini menambahkan memang butuh waktu untuk menjadi penulis yang dikenal dan punya pasar tersendiri. Akan tetapi, dengan terus berlatih, keterampilan itu akan semakin terasah dan visi untuk menjadi penulis yang baik akan terwujud.

Instruktur pada Bengkel Jurnalisme ini menuturkan juga tugas kedua penulis ialah memasarkan karyanya. Sebab, setiap media memiliki kecenderungan dan kebijakan yang berbeda dalam menerima artikel dari penulis lepas. Jika kita mengetahui banyak media dan kebijakan yang dikembangkan di media itu, akan mudah mengirim tulisan. Misalnya, tulisan bertema politik, dikirim ke media massa yang peduli dengan tema itu. Demikian pula artikel bertema keagamaan lebih memungkinkan dikirim ke media massa yang cenderung ke arah agamais. n */S-1

Sumber: Lampung Post, Selasa, 22 April 2008

Monday, April 21, 2008

Puisiku Lahir dari Jalanan

Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

hendaklah puisiku lahir dari jalanan
dari desah nafas para anak gelandangan
jangan dari gunung besar
dan lampu gemerlapan

anak-anak jalanan yang mengais lapar
sebenarnya menjadi milik Tuhan
sebab rintihan mereka
tak bisa lagi mengharukan

anak-anak jalanan menyeret langkahnya
anak-anak jalanan sambil berbatuk-batuk darah
dan hatinya menggumpal luka
jiwanya amat dalam mengental

hendaklah puisiku anyir
seperti bau mulut mereka
yang terdampar di trotoar
yang terusir dan terkapar

anak-anak jalanan tak ikut memiliki kehidupan
mereka mengintai nasib orang yang dijumpainya
tetapi zaman telah kebal
terhadap derita mereka yang kekal

hendaklah puisiku
bisa menjadi persembahan yang menolongku
agar mereka menerimaku menjadi sahabat
dan memaafkan segala kelalaianku

yang banyak dilupakan orang ialah Tuhan
anak-anak jalanan dan korban-korban kehidupan
bisa jadi karib mereka agar bisa belajar tentang segala fana

Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16

Perempuan Muda Itu?

Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

perempuan muda itu
tertidur sambil menyusui anak perempuannya
dengan agak sedikit kelihatan
tubuhnya yang kuning langsat
ia membiarkannya
di dalam bis kota jurusan grogol
kecantikannya membuat semua orang
ingin menikmati
sambil menenteng plastik hitam
dan terus menggendong anaknya
ia bernyanyi sesuka hatinya
lalu recehan logam dan kertas masuk ke dalam
kantong tersebut
tak tahu kalau anaknya sendiri
kencing di dalam baju ibunya
bau amis pun sirna oleh angin bis kota
setelah ditanya;
”Aku ditinggal bapak anak ini, Mas.
Sekarang ia kawin lagi dengan seorang perempuan lain,” katanya.
Semoga Tuhan memberikan petunjuk pada
perempuan muda itu
Amin.

Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16

Selamatkan Bumi dari Kapal Sedang Tenggelam

Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

Bumi, alam, semesta ini sufistik
Langit adalah asap yang tergelar berdasar kerangka irfani
berpusat dan menggulung ke satu titik fokus
dengan gesekan lingkaran yang panas

Makin lama makin penuh titik intinya
berbentuk bola raksasa yang berpijar
di atas ”nuur” yang panas
bermilyar derajat celcius dengan sumber dari segala sumber

benda- benda di alam semesta ini
memiliki daya tarik gravitasi amat dahsyat
seperti cahaya bumi yang dipancarkan ke lubang
pelita di dalam kaca
laksana bintang yang dinyalakan
dengan minyak dari pohon zaitun

yang tidak tumbuh di barat maupun timur
tanpa nyala api
Tuhan memanjangkan bayang-bayang-Nya
dari tujuh kumpulan bola pijar raksasa
dihamparkan ke langit

galaksi, bintang, matahari
bentuk wujud kebesarannya
letusan gunung berapi
memuntahkan dari dalam makhluk penghuni planet
para jin adalah aeter yang panas

sungai, danau, lautan dan gunung
adalah air magma bumi membasahi tanah
bulan, bumi, planet adalah
tata surya bola pijar seperti matahari
di mana evolusi waktu
membengkak seribu sampai lima puluh ribu tahun
Tuhan pun mencipta hanya sekejap
dari waktu yang ada

atmosfir dan perut bumi pun
mengeluarkan kepundan-kepundan
akan mati
karena laut, pasir, manusia, batu
melekat beterbangan ke atas angkasa
kehabisan daya gravitasi
kita pun melangkahkan kaki dengan terpental-pental
di atas molekul-molekul yang semakin berhimpitan
Tuhan mencipta bumi
bukan seperti surga yang penuh
bidadari dan kemewahan imajinasi indrawi

dan kehidupan pun tidak akan ada lagi di permukaan bumi

berlubangnya lapisan ozon
akibat hutan yang menipis
karena tangan-tangan manusia
sinar matahari pun tak lagi bercahaya
manusia hidup di bumi
saling bunuh satu dengan yang lain

keserakahan,
dan menipisnya naluri manusia
akan menguras sumber panas bumi
membuat kaum perempuan
malas dan enggan untuk mengandung,
menyusui, bahkan dengan sadis
membunuh bayi yang dilahirkannya

lahirlah pembantaian
dan kekejian di luar batas norma manusia
selamatkan bumi ini
dari kapal yang sedang tenggelam

bagaimana harus memberi makan
sepuluh miliar penduduk bumi
kalau kelaparan dalam skala raksasa melanda
bumi pun tidak akan mampu
memberi makan manusia
apabila kelaparan besar terjadi

kita kini sebagai saksi hidup
untuk menyelamatkan bumi
dari ledakan penduduk kekurangan gizi
dari tangan-tangan perusak alam hutan
tiga perempat penduduk miskin
terancam laparan dan kerusuhan sosial
dari kepentingan miliaran orang marjinal
terlupakan di desa-desa
kalau saat ini sedang terjadi
seorang perempuan muda
melakukan aborsi
karena takut untuk melahirkannya

Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16

Matahari

Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

Waktumu bergulir
menggelinding mengejar matahari senja
umurmu bergusur
terhapus
tiap tahun kau jilat
mendekat
batas hidup mati

Hidup gelisah
dikejar serakah

O, pesakitan hati
Larilah ke jalan lurus ini

Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16

Menerpa Wajah

Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

di lorong panjang jalan ini
kutemui senyummu
menghias matahari
berdandankah dirimu di kota sesak ini

waktu terus berputar
seiring langkah
kuhapus peluh
dan angin begitu cepat menerpa wajah

Catatan, Jakarta; 16 April 2008-04-16

Sebuah Pesan

Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim


Seekor burung yang terbang
jatuh ke atas kasur malamku
meninggalkan sebutir telur
dan sebuah pesan
untuk meneteskan telur itu

kalau jendela pagi
sempat kita buka berdua, Ajeng
jangan kau buat telur mata sapi
untuk santapan pagi
sebaiknya kita teteskan
meskipun dingin telah
mengurangi panas badan kita

kita biarkan telur menjadi burung
dan segera terbang menyusul induknya
ke tengah malam
mari berdoa,
agar malaikat menyertai
keberangkatannya nanti

Wednesday, April 2, 2008

Ubud Writers & Readers Festival

Buletin
Maret, 2008

Pendaftaran Diri dan Nominasi Peserta Ubud Writers & Readers Festival

Pecinta sastra Indonesia

Yayasan Saraswati, tuan rumah acara tahunan Festival Sastra Internasional
Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) mengundang nominasi dan pendaftaran diri penulis Indonesia untuk pemilihan peserta. Festival yang hadir untuk kelimakalinya ini akan diselenggarakan pada tanggal 14 sampai 19 Oktober 2008 di Ubud - Bali.

Tahun ini akan dipilih 15 penulis dari seluruh pelosok Indonesia untuk mengikuti acara tersebut dan merespon tema Tri Hita Karana, suatu filsafat hidup yang merangkum upaya mencapai keharmonisan antara Tuhan, Manusia dan Alam.

Para penulis yang mendaftar akan dipilih oleh Dewan Kurator dengan kriteria penilaian yang meliputi: kesesuaian karya dengan tema, kemampuan berbicara merespon tema festival, kemampuan diri, prestasi dan pengalaman penulis.

Seleksi ini bukanlah ajang kompetisi maupun penghargaan sastra sebab tujuan utama proses seleksi ini adalah menyusun program festival bertaraf internasional yang membuka wawasan dunia akan keanekaragaman khazanah sastra Indonesia.

Peserta yang terpilih akan diundang mengikuti festival ini dan berkesempatan bertemu dan bertukar pikiran dengan para penulis mancanegara dalam rangkaian kegiatan festival yang berlangsung selama 6 hari. Kegiatan festival meliputi: disksusi panel, pembacaan karya, bincang-bincang penulis, dan lokakarya.

Bila Anda adalah penulis Indonesia, atau mengenal penulis yang Anda anggap layak, layangkan pendaftaran sesuai syarat dan ketentuan di bawah ini:
· Penulis warga negara Indonesia
· Menulis karya sastra, baik berupa puisi, prosa, maupun karya non- fiksi yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku oleh sebuah penerbit dan dijual di pasaran umum.

Kirimkan:
· Biodata dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
· Buku karya.
· Pernyataan singkat (200 s/d 800 kata) berisi tanggapan tentang tema festival.
· Tuliskan juga topik yang menarik untuk ditanggapi penulis berkaitan dengan tema festival.

Kirim ke sekretariat panitia UWRF paling lambat tanggal 21 April 2008 (cap pos)
di :
Ubud Writers & Readers Festival - Yayasan Saraswati
PO Box 181, Ubud Bali 80571.

Bagi penulis dari luar Bali yang terpilih, Panitia akan menangung biaya transportasi (penerbangan) dan akomodasi selama berlangsungnya acara.


Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi
Kadek Purnami:
Telp : 0361-7808932, Fax : 0361-973282
Email : Info@ubudwritersfestival.com / kadek.purnami@ubudwritersfestival.com
www.ubudwritersfestival.com

Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat. Semua berkas pengajuan beserta buku yang telah dikirimkan, akan menjadi hak panitia.

Salam Sastra,
ttd
Panitia


Informasi Tambahan:

Ubud Writers & Readers Festival

UWRF merupakan salah satu aktivitas dari program Yayasan Saraswati. Festival ini sudah berlangsung selama empat kali. Beberapa penulis Indonesia yang sudah pernah mewakili Indonesia diantaranya:

Tahun 2004
Goenawan Moehamad, Dewi Anggraeni, Toeti Heraty, Dorothea Rosa Herliany, Murti Bunanta, Putu Oka Sukanta, Richard Oh, Mas Ruscitadewi, Bodrex Arsana, Putu Suasta, Sitok Srengenge, Warih Wisatsana, A.A Made Djelantik, Wayan Arthawa dan Tan Lioe Ie.

Tahun 2005
Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Oka Rusmini, Moemar Emka, Eka Kurniawan, Joko Pinurbo, Azhari, Laire Siwi Mentari, Rachmania Arunita, Rosni Idham, Muhammad Salim, Marianne Katoppo, Maliana, Pranita dewi, dan Kadek Sonia Piscayanti,Sitok Srengenge.

Tahun 2006
Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Laksmi Pamuntjak, Linda Christanty, Acep Zamzam Noor, Raudal Tanjung Banua, Ari Pahala Hutabarat, Reza Idria, Fozan Santa, Goenawan Muhamad, John F.Waromi, Vira Safitri, Sitok Srengenge, Putu Setia, Nirwan Dewanto, Iswadi Pratama, dan Ida Ayu Oka Suwati Sideman.

Tahun 2007
Ahmad Tohari, Anand Krishna, Cok Sawitri, Debra H Yatim, Dorothea Rosa Herliany, Ida Wayan Oka Granoka, Hamid Basyaib, Isbedy Stiawan ZS, Isman Hidayat Suryaman, Julia Suryakusuma, I Ketut Sumatra, Marhalim Zaini, I Gusti Ngurah Harta, Ratih Kumala, Ratna Indraswari Ibrahim, Wiratmadinata.

Berita berkala UWRF dipersembahkan oleh Bali Spirit.
Kami berterima kasih kepada para pelanggan kami atas dukungan yang berkelanjutan bagi Festival Penulis & Pembaca Ubud. Kami menanti-nantikan saatnya bertemu dengan Anda pada Festival berikutnya di tahun 2008!

Tim Ubud Writers & Readers Festival

PO Box 181, Ubud, Bali, Indonesia 80571
d/a Indus Restaurant Jalan Raya Sanggingan. Ubud, Bali, Indonesia. 80571
P: 62 361 780 89 32 / 803 83 91
F: 62 361 973 282
E: info@ubudwritersfestival.com
http://www.ubudwritersfestival.com
Festival 2008: 14 - 19 Oct

'Sandekala' Akan Dipentaskan

Korupsi. Sebuah perbendaharaan kata yang tak asing bagi Indonesia. Sebuah kata yang cukup menyengat telinga kita dalam kehidupan sehari-hari dan sering ditemukan di ruang privat dan publik kita.

Sejak reformasi 1998, penyakit ini semakin membahana di seluruh Indonesia dan menjadi sorotan dunia internasional. Demonstrasi yang mendengungkan tuntutan terhadap penyelesaian kasus ini sudah tak lagi terhitung mulai dari depan balai desa hingga depan Istana Negara. Penyakit ini sungguh kronis dan mewabah ke banyak kalangan, bahkan melindas kelompok yang sesungguhnya menjadi garda terdepan negara dalam penyelesaian kasus-kasus korupsi.

Lebih jauh lagi, korupsi tidak pernah berdiri sendiri. korupsi di negara ini seringkali bukan sekedar menjadi dampak dari kontrol birokrasi yang lemah, melainkan sebagai akar masalah. Berbagai tragedi politik dan pelanggaran hak asasi manusia terjadi berawal dari sebuah kasus korupsi. Rezim Soeharto misalnya, mempertahankan kekuasaan yang korup dengan berbagai cara, termasuk melanggar hak-hak dasar warga negara, diantaranya agar kepentingan ekonomi dan politik rezim terjaga. Yang terjadi kemudian di Indonesia bukan sekedar aplikasi dari pemeo “power tends to corrupt” melainkan “corrupt to get and maintain power”.

Sudah 10 tahun reformasi bergulir. Sudah banyak nyawa yang hilang diterjang peluru, bahkan beberapa yang diculik tak pernah kembali. Darah sudah membasahi negeri ini bersama air mata orang-orang yang ditinggal pergi para pejuang reformasi. Adakah perubahan?

Dalam pementasan ini kami menggunakan bahasa Sunda, selain bahasa Indonesia, sebagai upaya menghidupkan kembali budaya lokal yang selama ini dipinggirkan. Naskah Sandekala ini merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Godi Suwarna. Sebuah sindiran tajam yang memindahkan peristiwa 1998 dengan korupsi sebagai akar masalah ke dalam sebuah kota kecil, Kawali. Novel yang ditulis asli dalam Bahasa Sunda itu memperoleh penghargaan sastra Rancage 2008.


Andi K. Yuwono

Coordinator of Interactive Media, Cluster Empowerment and Network Development
Praxis Association
Jl. Salemba Tengah No. 39-BB
Jakarta 10440
Tel. ++62 21 3156907, 3156908, 3911927
Fax. ++62 21 3900810, 3156909
Mobile: 0811182301, 0817174087
Yahoo Messenger: andi_yuwono
Email: andi-yuwono@praxis.or.id
Http://www.prakarsa-rakyat.org
Http://www.praxis.or.id
Http://andi-yuwono.blogspot.com

Menulis Puisi itu Gampang?

Esai Maroeli Simbolon*

bulan di atas kuburan

Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris, teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi? Berarti, gampang menulis puisi -- tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan samedhi.” Benarkah demikian?

Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya – bahkan, sarana mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati – disebut tak berkarya – jika tidak menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan puisi -- seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi, tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi – barisan kata dan kalimat yang mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa atau kitab suci.

***

Suatu malam, di salah satu kafe di Taman Ismail Marzuki, Sutardji Calzoum Bachri membenarkan bahwa menulis puisi itu gampang. ”Bahkan, apa pun bisa ditulis jadi puisi,” katanya. Wah!

Sesekali menyeruput teh manis yang mulai dingin, penyair yang sudah meninggalkan gaya mabok ini menjelaskan, segala kejadian yang ada, baik di sekitar maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Juga, peristiwa yang terjadi sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, bisa dijadikan puisi. Sebab, puisi tak jauh beda dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti laporan wartawan atau berita yang tertulis di koran, mengenai politik, sosial, ekonomi, demonstrasi. ”Sehingga ada penyair yang cuma memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menulis puisi,” katanya.

Banyak yang terkejut dan meragukan pendapatnya ini. Meski Tardji diakui sebagai presiden penyair, bukan berarti perkataan presiden adalah sabda atau firman – yang tidak ada salah atau cacatnya. Lalu, ia menunjuk sepotong koran yang tergeletak di atas meja seraya menjelaskan bahwa berita-berita itu dapat menjadi puisi bila dibacakan dengan teknik puisi.

Serta merta saya tertarik, meraih koran itu dan membaca sepenggal beritanya, dengan artikulasi dan intonasi membaca puisi. Apa yang terjadi? Tardji tersenyum. Dan teman-teman seniman memperhatikan dengan mangut-mangut. Merasa belum cukup, saya membaca dua lembaran besar menu makanan dan minuman yang tergantung di dinding kafe itu dengan artikulasi dan intonasi yang sama dalam pembacaan puisi:

Nasi Goreng Es Campur
Pecel Lele Wedang Jahe
Soto Babat Es Jeruk
Ikan Bakar Kopi Susu
Sate Kambing Jus Nenas

Mendengar itu, Tardji tertawa. Dan teman-teman seniman bertepuk tangan. Sebaliknya, ingatan saya segera tertuju kepada dua penyair muda berbakat besar, yang mengekspresikan pendapat Tardji ini – dengan pendekatan lain. Yonathan Rahardjo sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.

Lebih ekstrem lagi Saut Sitompul, penyair yang baru saja pulang ke haribaan-Nya, berhasil menulis apa pun jadi puisi, bahkan menganjurkannya. Seperti isi salah satu puisinya:
ada daun jatuh, tulis/ada belalang terbang, tulis…

Jadi, benarkah segala sesuatu (persoalan) dapat dijadikan puisi? Tak perlukah bersusah payah menulis puisi? Tak perlukah merenung di gunung dan berpuasa setahun untuk membuat puisi? Tak perlukah perenungan, pendalaman dan pemadatan makna?

Tergantung pencipta puisi itu sendiri. Tetapi, siapa yang keberatan, jika apa saja yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, lalu ditulis dengan bentuk puisi, lalu dinobatkan sebagai puisi? Jika semua masalah ditulis dengan berbentuk bait puisi, adakah yang melarang? Itu hak asasi seseorang. Hak berpendapat. Hak berekspresi. Hak berkarya. Bila akhirnya puisi yang dihasilkan itu dianggap tak berguna, ya, terserah. Jika pun orang-orang menganggap rada gila, ya, biarkan saja. Bukankah penyair besar sering bertingkah aneh-aneh, misalnya mabok bir, bawa kapak, buka baju dan bergulingan di atas panggung kala baca puisi? Lagi pula, entah apa dasar hukumnya, untuk dapat diakui penyair, seseorang harus berani bertindak rada gila; seperti teriak-teriak di keramaian, baca puisi di atas pohon? Semuanya demi puisi, demi puisi. Demikian anehkah puisi?

***

Banyak jalan menuju Roma. Beribu cara untuk menciptakan puisi. Salah satu kiat jitu yang kerap diakui (baik tua maupun muda dan pemula) adalah jatuh cinta. Bukankah orang yang sedang kasmaran gampang menulis puisi? Seperti puisi ”Surat Cinta” Rendra, berikut ini:

Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.

Jadi, dengan menumpahkan isi hati di atas secarik kertas dengan kata-kata indah dan terpilih, tulisan akan menjelma puisi. Atau, silakan tulis surat cinta dengan kalimat-kalimat berbunga, dengan bentuk larik dan bait puisi, ya, dapat juga disebut puisi. Artinya, semakin sering jatuh cinta, tentu semakin terangsang untuk menulis puisi lebih banyak. Semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak stock puisi yang akan tersedia.

Berarti, puisi itu dapat dihasilkan oleh siapa pun, yang bukan penyair? Benar. Siapa pun boleh menulis puisi -- tidak sebatas penyair semata. Tidak ada syarat atau batasan tertentu untuk dapat menulis puisi. Pencopet, penodong, pedagang asongan, petani, polisi, politikus, penipu, penjudi, pengusaha menengah, bankir, konglomerat, pengamen, boleh menulis puisi, tak ada larangan atau kutukan. Tak perlu takut dan frustasi. Puisi itu bukan kuntilanak atau momok hitam yang menakutkan. Jadi, tulislah puisi semampu dan seluas jangkauan dan wawasan.

Jika puisi yang ditulis dinilai orang jelek, tak perlu berduka dan frustasi. Terus saja menulis puisi, meski belum memenuhi kaidah-kaidah puitis. Ciptakan terus, tanpa henti – toh masih ada hari esok menanti untuk puisi yang (mungkin) lebih baik. Sejelek apa pun puisi yang dibuat, kata Tardji, tetap saja puisi. Tetapi, silakan renungkan sendiri, termasuk kategori puisi apa? Puisi asal jadi? Puisi basi? Adakah berisi tanda? Atau sekadar corat-coret penumpahan isi hati?
Ingat, puisi bukan alat propaganda, bukan sarana pelepasan kegalauan, bukan pula tong sampah unek-unek.

***

Meski bahasa puisi dan bukan puisi terasa cair; sesungguhnya puisi, sesederhana apa pun, harus penuh dengan ambiguitas dan homonim, penuh dengan asosiasi, memiliki fungsi ekspresif, menunjukkan nada dan sikap—mengutamakan tanda. Masalah ini dipertegas Rene Wellek & Austin Warren, bahasa puisi penuh pencitraan, dari yang paling sederhana sampai sistem mitologi (1993:20). Sementara Sapardi Djoko Damono memberi pengertian lebih sederhana, bahwa puisi adalah ”ingin mengatakan begini, tetapi dengan cara begitu.”

Jika demikian, puisi yang tidak dipenuhi tanda, belum layak disebut puisi? Ingat pendapat Tardji, tetap puisi. Tetapi puisi sesaat; sekali cecap langsung tak bermanfaat. Puisi donat. Seperti puisi yang dibuat anak kelas empat SD, tetap saja disebut puisi.
Itu pula alasan Tardji membagi puisi berdasarkan fungsinya. Jika seseorang menulis puisi untuk kebutuhan sesaat, ya, cuma sebatas itu manfaatnya.

Puisi itu akan segera tersapu angin dan hujan. Sebaliknya, jika puisi diciptakan berdasarkan perenungan mendalam, tanpa dipengaruhi kebutuhan apa pun, akan menjadi puisi sejati. Contohnya puisi-puisi Chairil Anwar. ”Maka, sangat disayangkan, bila ada penyair yang menulis puisi dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu,” imbuhnya.

Sekilas pendapat ini bertentangan dengan kesimpulan Wellek & Warren, bahwa tipe-tipe puisi harus memakai paradoks, ambiguitas, pergeseran arti secara konstektual, asosiasi irasional, memperkental sumber bahasa sehari-hari, bahkan dengan sengaja membuat pelanggaran-pelanggaran. Tetapi, bila dicermati, pendapat Tardji lebih mudah dimengerti dan lebih menegaskan atas keluhan penyair-penyair muda, ”Ada juga puisi pesanan. Puisi yang ditulis oleh penyair untuk kebutuhan, momen atau acara tertentu dengan bayaran tertentu pula.”

Bertitik tolak dari pendapat ini, berarti menulis puisi teramat sulit-lit. Tidak cukup dengan mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Menulis puisi harus penuh perenungan, mendasar dan berdasar. Bahkan, terkadang harus mengalami trance. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, tidak serta merta dapat dijadikan puisi, tetapi harus dikaji, diendapkan, direnungkan secara mendalam. Untuk menulis sebuah puisi saja, sering penyair harus melalui proses sepekan, setahun, sepuluh tahun. Itu pula sebabnya, bila dibandingkan dengan karya seniman lain, sepertinya daya kreativitas penyair dalam berkarya sangat tertinggal jauh. Sebab, setiap penyair (sejati), meski telah berkarya secara maksimal seumur hidupnya, tak dapat menghasilkan seabrek puisi. Bahkan, tak sedikit penyair seumur hidupnya cuma mampu menulis beberapa puisi, misalnya Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, JE Tatengkeng.

Lalu, masihkah dapat disebut menulis puisi itu gampang? Ada yang menjawab, tergantung kata hati. Ada juga yang menyebut, tanyakan daun-daun yang berguguran. Bahkan, ada pendapat lebih ekstrem, tanyakan pejabat atau konglomerat yang getol bikin puisi, lalu menerbitkan seabrek buku puisi (persis album rekaman dangdut) dan membuat album dangdut puisi atau puisi dangdut yang dipasarkan door to door dengan pelbagai alasan sosial, kemanusiaan dan pengabdian. Ayo, siapa ikut bergoyang puisi?

* Maroeli Simbolon, pekerja seni