Thursday, January 21, 2010

Kerinduan

Sajak Ibrahim Barsilai Jami


Bergayut
menuju haluan
Ke sana kita meniti
menjajaki diri
pada penantian

Warna-warni katamorgana
memadu irama
membius luka
segala yang mendera, kejujuran!

Biarkan hari-hari bergirang
membawa segala nada
pada cinta dan rasa
segala nama, kebenaran!

Sebuah kata
pada makna
yang mendakwa sukma
"Kerinduan!"


Purwokerto, 31 Agustus 2008

Sajak Ketika Purnama

Sajak Ibrahim Barsilai Jami

Pada setiap sepimu, terhempaskan riak dan riang sang purnama
Meradang ke ufuk gelora malam yang menawan

Tereja sajak, terpilin rupawan
merambati nalar yang blingsatan
bait-bait sajakmu beradu cemburu
pada cumbu disetiap penjuru
kemari, tataplah sinarmu yang menerawang
meluruhkan kesumat yang membisu lalu tertawan

wahai, akal yang kandas!'
tambahkan pada nyalimu setetes rasa yang terbuang

Lirikmu makin syahdu
Mencumbui para babu yang lugu
Di batas mimpi-mimpi yang dungu

Jangan menunggu!
Wahai, waktu berlalu
memburu masa dan lampau
kita berpacu...

Meniti Hari

(buat: Sahabat di segala waktu)

Sajak Ibrahim Barsilai Jami


Jangan engkau tertegun
dalam perhentian langkahmu
jangan terpana dengan problema
yang telah berlalu.......

Sebab kesempatan
hari-hari
matahari
fajar
dan semangatmu itu
bukankah itu api yang berkobar?
Yang sanggup membakar, menghanguskan
lembaran lama yang usang
kesempatan
akan tetap datang
dan keberhasilan hanya diundur

Suatu waktu
keberuntungan akan menghampirimu
kemenangan akan menggapaimu
saat kau terjerembab
tak bisa lagi berkata-kata
jangan teteskan air mata gundah

Hari ini
kita masih dapat bersua
meniti waktu, cerita, dan mimpi
tentang kisah, wanita dan khayalan cinta
di batas waktu
sampai napasku tersengal
dan nadiku berhenti berdetak
sampai sang pencipta memanggilku

Aku akan kagum
betapa kau gigih berjuang
tegar bagai baja
menangis lalu tertawa
riang
karena kita pasti bisa


Sokaraja, 28 Agustus 2008

Aura Kebenaran

Sajak Ibrahim Barsilai Jami


Mari menari....
Membidik angan
Semua seteru yang memburu kuasa

Ciutkan eksotis
beradu cumbu merinduh ditempuh
sebulir lentera yang redup membias segara

Menarilah, sayang!
Tambatkan lenganmu
bergayut sembari sesumbar
membuyarkan nalar yang liar

Pasrah......
Setelah segala sepi
bergaung sekujur duri
merinding perih

Segala kebenaran
merasuki organ-organ bertepi
selaksa resah bergelimpangan
memudarkan kisah yang kentara
pada kelana setelah kembali ke dalam buana

Sokaraja, 01 september 2008