Cerpen Ernawati Rasyid
SEMUANYA terjaga malam ini. Malam-malam kemarin. Purnama begitu kelam menemani para perempuan dan laki-laki di pembaringan. Tidak ada sepasang mata yang terkatup. Semuanya menganga dengan degupannya masing-masing. Menanti hari ke tujuh purnama. Menunggu purnama terakhir untuk menurunkan bayi-bayi dari langit. Air mata tak sabar menanti meleleh disemua pipi perempuan malam-malam purnama. Seperti hujan yang turun tak bergerimis.
Tiga purnama telah berlalu. Perempuan-perempuan menyiapkan segala perlengkapan bayi. Toko-toko pun dipenuhi hanya para perempuan. Setiap hari selama tiga purnama, hanya perlengkapan bayi yang merebak di hati para perempuan. Tawa air mata menyeringai di sudut mata perempuan-perempuan itu saat berbelanja. Bahkan ada yang berteriak histeris saat berbelanja. Terlalu bahagia. Terlalu banyak bahagia sehingga tak ada kata yang terangkai dari mulut mereka. Hanya ada derai tawa dan air mata setiap harinya.
Empat purnama telah berlalu. Para perempuan menghias rumah mereka dengan hiasan-hiasan yang terindah. Semuanya bercahaya di setiap sudutnya. Seperti hamparan bintang di langit. Mereka pun hanya bisa tertawa dan menangis. Ketika malam hadir, tak ada kelopak mata yang mengatup. Semuanya terjaga. Tak sabar menanti purnama ke tujuh hadir. Dengan bayi-bayi yang diturunkan dari langit. Mendengar bahwa purnama ke tujuh bayi-bayi akan diturunkan dari langit, para perempuan sangat bergembira. Terlebih bagi yang mereka tidak mempunyai anak. Airmata mereka tumpah ruah begitu saja mendengar hal ini. Bahkan ada yang sujud di puncak gunung untuk berterima kasih kepada Tuhan. Bukan hanya itu, ada pula seorang perempuan yang pingsan selama dua hari. Semuanya tidak sabar menanti purnama ke tujuh.
Lima purnama telah berlalu. para perempuan berkumpul bersama tetangga-tetangga mereka. Kini, sepatah kata pun keluar. Semuanya asyik membicarakan bayi-bayi yang akan turun dari langit. Bahkan mereka telah mempersiapkan nama yang akan mereka berikan kepada bayi-bayi itu. Mereka terlalu bergembira sehingga bajunya basah karena air mata.
“Apa kau sudah siap menghadapi purnama ke tujuh besok?” tanya seorang suami kepada istrinya.
“Aku sudah siap! Berhari-hari aku mempersiapkan semuanya.” Jawab si istri.
“Apa kau gembira?”
“Yah! Aku sangat gembira. Bagaimana denganmu?”
“Ya. Sama sepertimu..”
“Semua perempuan juga bergembira. Bahkan telah berhari-hari mempersiapkan segalanya. Aku pikir, kau sudah tahu itu.”
“Iya, aku melihatnya. Jangankan mereka, cukup istriku saja yang aku lihat.”
“Aku deg-degan!”
“Apa ada yang kau khawatirkan?”
“Entahlah. Aku merasa deg-degan saja”.
“Semuanya akan baik-baik saja. Tuhan kan tidak pernah salah. Tunggulah besok, bayi-bayi itu akan diturunkan dari langit.”
“Kau ingin bayi perempuan atau laki-laki?”
“Menurutmu?”
“Kau akan menjadi ayah. Jadi aku minta pendapatmu?”
“Aku suka bayi laki-laki. Juga perempuan”.
“Hahaha… Apa kau mau aku mengambil dua-duanya? Itu menyalahi aturan. Tuhan hanya memperbolehkan mempunyai satu anak. Jadi bayi yang mana harus aku ambil?’
“Bayi perempuan atau laki-laki sama saja.”
“Maksudmu?”
“Iya, perempuan atau laki-laki sama saja. Hanya raganya yang berbeda. Jiwanya tetap sama. Lagipula hati juga tidak mungkin berjenis kelamin.’
Purnama ke tujuh yang dinanti oleh para perempuan telah tiba. Semuanya berpakaian yang sangat indah. Berhias hingga berjam-jam lamanya di depan cermin untuk menanti hadirnya bayi-bayi dari langit itu. Semuanya pun menuju ke tanah lapang di tengah-tengah tempat tinggal mereka. Bahkan ada yang bersama suaminya masing- masing. Senyum lebar menghiasi wajah para perempuan. Lalu mereka pun berkumpul di tanah lapang. Menunggu bayi-bayi itu.
Lama menanti tak ada juga tanda-tanda. Namun, semuanya masih tersenyum. Berselang beberapa jam tidak ada juga pertanda bayi-bayi itu akan turun. Raut wajah menajdi resah dan gelisah. Rasa takut pun mulai menghinggapi mereka. Jangan-jangan tidak ada bayi malam ini. Lalu, langit pun menjadi agak redup. Purnama terlihat hanya bayang-bayang saja. Suara gemuruh begitu menggelegar hingga menggetarkan hati. Gerimis pun mulai berjatuhan dari langit. Membasahi sekujur peluh tubuh mereka. Membasuh segala yang ada di dalam jiwa dan raga. Gerimis pun semakin menderas. Hujan pun turun mengguyur mereka di tanah lapang itu. Saat itu pula satu per satu bayi diturunkan dari langit. Para perempuan bergembira menyambut bayi-bayi itu. Para perempuan berlarian meraih bayi itu. Bahkan ada yang berjingkrak-jingkrak untuk meraihnya. Sebagian telah mendapatkan bayi itu. Ada yang tertawa hingga airmatanya menderas. Bahkan ada juga yang memeluk bayi itu tidak mau melepaskannya. Namun, dua orang perempuan terlihat beradu mulut. Bukan hanya itu, fisik mereka pun bergulat di tengah hujan di tanah lapang itu.. Tetapi, tidak ada yang memperhatikannya. Semuanya sibuk dengan bayi-bayi itu.
“Bayi ini milikku!” kata perempuan pertama
“Bukan! Dia milikku!” kata perempuan kedua
“Aku pertama yang mendapatkannya! Kau carilah yang lain saja!”
“Bukan! Aku yang pertama mendapatkannya!”
“Berikan bayi itu!’
Keduanya bertengkar memperebutkan bayi itu di tengah hujan. Tidak ada yang peduli dengan pertengkaran mereka. Tidak ada lagi bayi yang turun. Itu bayi terakhir, dan masih ada dua perempuan yang belum mendapatkannya. Tidak ada yang mau mengalah.
“Berikan bayi itu padaku!” kata perempuan pertama lagi.
“Aku yang pertama mendapatkannya!” kata perempuan kedua
“Kau tahu, aku begitu mengharapkannya. Sudah berhari-hari aku menunggunya. Telah aku persiapkan semuanya untuk menyambutnya.”
“Sudah berpuluh tahun aku menantinya. Bukan hanya kau, aku juga telah mempersiapkan semuanya. Kau tahu, betapa aku sangat menginginkan bayi ini. Berikan saja kepadaku!”
“Tidak! Aku tidak mau. Aku juga menginginkan bayi itu!”
“Diam!”. Bayi itu pun bersuara.
Bayi itu berbicara. Kedua perempuan itu hanya bisa mengangakan mulutnya. Entah apa yang akan keluar dari mulutnya melihat bayi itu. Kedua mata bayi itu pun melirik kedua perempuan itu secara bergantian. Entah berapa lama. Kedua prempuan itu menanti apa yang akan dikatakan bayi itu.
“Diamlah kalian berdua!” kata bayi itu lagi
“Tidak bisa! Kau harus memilih diantara kami yang akan menjadi ibumu,” kata perempuan pertama
“Iya! Kau harus memilih salah satu di antara kami untuk menjadi ibumu.” Kata perempuan kedua.
“Aku tidak memilih salah satu diantara kalian. Tetapi aku memilih kehidupan!”
Makassar, 14 November 2009
Friday, May 21, 2010
Perempuan Bayi
Posted by
Kantong Sastra
at
9:30 PM
0
comments
Labels: karya (cerpen)
Saturday, May 15, 2010
Ayat-Ayat Cinta*
Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim
MARIA merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Digerakkan kedua pundaknya beberapa kali hingga terdengar bunyi gemerutuk tulang kering di antara keduanya. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Di situ seolah-olah tergambar kembali ceramah-ceramah yang selalu diikutinya setelah selesai responsi agama. Beberapa kalimat yang kerap kali didapatnya dan sulit untuk melupakannya, selalu terngiang di telinganya.
“Cobalah kalian baca surat Al-Mumtahanan ayat 10; ……… Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang itu tiada halal pula bagi mereka…… Jadi jelaslah, untuk kaum wanita adalah haram mendapatkan pendamping hidupnya yang bukan beragama Islam…….!”
Maria memejamkan mata dan menghela nafas berat. Kini wajah Fahri hadir dengan senyum kedewasaannya.
“Agama kita memang berbeda, Maria, tapi semua itu tak akan dapat mengalahkan kasih di antara kita………,” begitu selalu yang dikatakan Fahri setiap saat padanya.
Dalam keadaan seperti ini, perasaan sedih dan marah bercampur menjadi satu. Tapi ia tak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Sejak TK ia telah dimasukkan ke sekolah Katolik, hingga SMU tak secuil pun pelajaran agamanya yang ia dapatkan dari sekolahnya. Ia memang belajar mengaji dan sholat hingga lancar, tapi tak tahu apa makna dari semua itu. Tidak ada perasaan memiliki atas agama yang tertulis dalam buku laporannya selama ini.
Dan saat ini, sedang menyelesaikan studi pasca-sarjananya di Perguruan Tinggi di mana ia melanjutkan cita-citanya, semakin tahulah Maria bahwa hukum-hukum Islam begitu luas, bukan hanya rukun Islam dan rukun Iman yang telah dihafalnya di luar kepala. Dosen dan para asisten serta teman-temannya telah membuka matanya lebar-lebar tentang Islam. Aisyah tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Fahri , hubungan mereka sudah berjalan hampir tiga tahun. Meskipun Fahri memikirkan studi kuliahnya untuk menyelesaikan pasca-sarjana di Universitas Al-Azhar, tapi hubungan mereka selalu hadir hampir setiap hari, dan di antara berdua sangat saling membutuhkan.
Maria menatap lampu tidur warna biru lima watt yang menerangi kamarnya di lantai paling atas sebuah rumah apartemen. Lampu seperti itu pulalah yang selalu menerangi jiwanya di mana hendak mengirimkan kado buat Fahri lewat tali beserta keranjangnya yang berisi makanan. Sebuah kamar apartemen yang cukup praktis dengan jendela kecil saja. Maria tidak tahu apakah itu salah. Yang pasti ia begitu bahagia mendapatkan seorang Fahri yang sangat dewasa, sopan, penuh pengertian dan kasih sayang.
Dan sekarang sebuah vonis seolah-olah diberikan padanya. Haram! Akh……. Maria mengusap air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya. Mengapa tidak sejak dahulu ia mengetahui semua itu, sebelum ia mengenal Fahri. Air matanya kian deras mengalir. Maria bimbang. Dalam keadaan seperti itu, perlahan-lahan Maria bangkit dan menyalakan lampu besar di samping lampu biru. Lambat-lambat ia berjalan untuk mengambil air wudhu. Kemudian sholat.
Di balik tudung putih, Maria masih terpekur duduk di atas sajadahnya, Maria enggan beranjak dari atas sajadahnya.
“Ya Allah! Berilah jalan yang terbaik bagiku. Dan ampunilah segala dosaku selama ini,” jerit hatinya di antara ayat-ayat yang terucap dari mulutnya. Mulutnya terus berdzikir, dan hatinya semakin tenang kini, ia terus berdzikir…….. hingga tertidur.
Setelah sholat Maria membaca ayat suci Al-Qur’an. Kemudian membaca bahan kuliahnya untuk hari ini.
****
Maria diam tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
“Kau harus berani menghadapi kenyataan, yang terburuk sekalipun….,” kata Aisyah. “Atau bila kau merasa tidak kuat, tidak usah sekaligus, perlahan-lahan saja………”
“Tapi Mbak bila semakin lama, maka semakin sulit saya melepaskan dia.”
Aisyah tersenyum tenang di balik wajah jubahnya yang hitam terturtup, hanya tinggal kedua matanya yang nampak.
“Mbak mengerti, kalau kau memang merasa telah kuat, ambillah keputusan itu. Tapi yang penting tidak usah main kucing-kucingan dengan tidak mau menemui dia. Itu bukan penyelesaian yang baik. Mbak yakin kau wanita non-muslim yang kuat, Maria. Kemukakanlah keputusan itu padanya. Mbak juga berdoa semoga semuanya berjalan dengan baik.”
Ya, mengapa aku harus takut bila berada di jalan yang benar, bisik hati Maria.
“Terima kasih, Mbak!”
Aisyah tersenyum sambil meraih pundak Maria.
“Yakinlah, Allah akan memberikan hikmah-Nya untuk setiap apa yang terjadi . Maka tegar dan bersabarlah dalam menghadapi segala sesuatu. Kau masih ada kuliah?”
“Tidak!”
Sayup-sayup dari masjid terdengar suara adzan.
Maria mengambil wudhu untuk sholat dan memohon kekuatan kepada Allah Subhana Wataala.
“Innalillahi-wainnahirojion……….” bisik Aisyah mendengar kepergian sahabatnya. Ia akan menang di sana bersama Tuhan! Aisyah yakin itu. ***
Jakarta-Slipi Jaya, catatan; 28 Februari – 13 Maret 2008.
* Diilhami dari sebuah film dengan judul yang sama, karya novelis muda Habbiburahman El-Shirazy, dengan sutradara Hanung Bramantyo.
Posted by
Kantong Sastra
at
10:28 PM
0
comments
Labels: karya (cerpen)
Saturday, May 1, 2010
Tangis Kabut Asap
Sajak R. Cahyadi
Musibah atau bencana kah ini?
Karena alam atau manusia
Akal kita sudah bisa menjawab
Perbuatan manusia
Siapa kah yang bertanggungjawab?
Rakyat yang sibuk menulis dan berdagang
Atau pengais rezeki dari hutan dan lahan
Tentu saja kau tertawa karena tahu jawabannya
Kami hidup di sini menghirup asap tebal
Makin hari, makin pekat
Entah, apakah akan ada membuat penyakit bagi kami
Tapi rasanya pernafasan kami terusik
Siapa yang harusnya menangis?
Kita, mereka pembakar hutan atau alam
Terduduk ku memikirkan semuanya
Tak tahu apa yang kuperbuat
Hanya hatiku merasa miris dengan semua ini.
Palangka Raya, Minggu 6 September 2009
Posted by
Kantong Sastra
at
9:36 PM
1 comments
Labels: karya (puisi)
Sunday, February 7, 2010
Mr.Junkis dan Miss Jayus
Cerpen Seta Hartoko
Seandainyan gue bisa menaklukkan cewek-cewek di dunia, gue akan mendapatkan julukan Mr. Playboy in the word. Namun semua impiam itu musnah karena ada satu cewek yang sangat sok comel, sok playgirl, sok perfectlah dan segala-galanya, dia adalah Olizia. Uh, gue sebel bangat Coz cuma dia doank yang bikin gue down, geram Lisword.
Pagi yang bernyanyi riang dengan embun seakan-akan telah menjatuhkan seluruh jiwa ini dan itulah yang membuat gue dapat bertahan demi menempuh perjalanan menuju impian yang ingin gue raih. Gue bersumpah jika gue gak bisa menaklukkan cinta dan kekayaan, jangan panggil gue Mr. Jankis.
Bokap dan nyokap yang selalu busy dengan jobnya membuat gue semakin semangat tuk bisa menjadi penguasa di kampus, tapi gue akhirnya terbangun dari mimpi Coz mimpi gue tadi hanya khayalan yang tak mungkin gue raih. Come on, men. Jangan pernah pesimis tuk hadapi hidup yang semakin menyiksa, loe harus banget bangkit dari khayalan menuju kenyataan yang ada di depan mata loe, ucap Charles sohib sejati Lisword.
Thanks banget ya atas perhatian loe kalo gak ada loe, gue maybe down my life. Let’s go friend to Campus Coz kita ini udah terlambat ‘ntar kita discors ma dosen itu. Waduh gimana nih Charles, gue……!!! Udah deh jangan sedih dunk Lisword, kita masih punya waktu 1 jam lagi, cepatan gih…
Setelah 1 jam berlalu, Lisword dengan Charles pergi ke kampus. Charles… motor gue gi habis bensinya, gimana donk!!! Ya udah, loe ikut aja bareng gue pake mobil coz loe kan sohib sejati gue. Kata Charles.
Akhirnya mereka berdua tiba di kampus, sesampai di kampus koq sepi banget sih, what’s wrong!!! Charles. Emangnya ini hari apa, Lisword??? Bokis banget sih, loe… Inikan hari minggu ya jelas donk ga ada orang ke kampus, cape deh!!! Ucap Lisword. Oh gue lupa banget, sorry ya friend. Gpp lageee dari pada di sini lebih baik kita nimbrung bareng teman-teman band, ujar Lisword. Oce… deh gue banget, let’s go Lisword. Down worry Charles.
Setelah Charles dengan Lisword udah sampai ditempat rental, Lisword bertemu dengan Anggi tuk ngeband bareng, namun ada yang aneh di dalam studio rental, gak lain ada Tika, Cidante, Oliver, dan Olizia. Tak lama setelah itu Lisword marah banget ma Anggi. Anggi, napa loe ngajak Olizia ke tempat ini, diakan musuh gue!!! Ucap Lisword. Tenang dulu, Lisword gue jelasin dulu, maksud gue pengen bubar ma band loe coz gue bete banget ga gokil aja cara loe ngeband, ketus Anggi.
It’s okey…!!! Kalau loe maw bubar dengan band gue, nyesel banget gue temenenan ma loe mendingan gue cabut dari sini gue muak…… ma loe, loe catet di pikiran loe bahwa gue gak bakalan connect lageee ma loe, anggap aja kita gak pernah kenal, see you……, Lisword geram.
Satu bulan kemudian, Lisword memfokuskan kehidupannya dengan breakdance yang diselenggarakan oleh institut of asia for the best dance di los anggeles, usa dewa fortuna pun menjemput lisword yang berhasil menjadi juara faforit club dan juara 1 breakdance alamia rasanya kini di depan mata lisword terpancar cahaya yang penuh keajaiban.
Seluruh teman-teman di Los Angeles pun terpukau akan kelincahan dan kehebatan si Lisword sehingga Lisword diberi penghargaan Mr. Free Style for Breakdance. Presi dan Los Angeles pun memberikan beasiswa kuliah selama 2 tahun di Univercity ternama, Los Angeles.
Setelah kesuksesan diraih oleh Lisword, namun berbeda pula kehidupan Charles, walaupun semua impiannya bisa diraih kini Charles pesimis coz ia tak dapat bertemu lagi ma sohib sejatinya, Lisword. Tak lama kemudian Charles membuka laptopnya tuk menambah IPTEK ternyata ia melihat foto Lisword di sebuah situs yang mengatakan Lisword adalah seorang breakdance yang sangat lincah dan hebat sehingga diberi julukan Mr. Free Style.
Air mata Charles pun menetes karena terharu melihat prestasi Lisword yang semakin meningkat dan berbeda sangat Lisword masih menjadi sohibnya, ia sangat pesimis karena tak mampu tuk menaklukkan khayalan menjadi seorang yang penuh semangat dalam kenyataan hidup.
Empat bulan berlalu begitu cepat, Lisword mencoba tuk mengikuti audisi Free Style for Super Bike Club dan dalam kurun waktu 2 minggu, Lisword bisa menguasai dengan kelincahan yang dimiliki akan tetapi Lisword mempunyai firasat yang buruk mengenai dirinya. Dua hari selanjutnya perlombaan Free Style diselenggarakan di New York, USA. Lisword bersama seluruh anggotanya pergi dari Los Angeles ke New York yang menempuh waktu 5 jam. Di dalam perjalanannya, Lisword berpapasan dengan musuh bebuyutan yang bernama Olizia yang dijuluki sebagai Miss Jayus.
Entah dari mana datangnya angin, Olizia menegur Lisword dengan gaya yang begitu sopan namun Lisword tak menggubrisnya coz Lisword udah sakit banget oleh Olizia. Setelah beberapa menit berlalu, tak disangka-sangka Lisword ditegur oleh seseorang. Hai Lisword, pa kabarnya neh, koq somse sekarang ma guw!!! Lalu saat Lisword melihat orang yang menegurnya, “Sorry banget ya friend gue sampe lupa coz sohib sejati gue, Charles. Gpp lagee, maklum aja sekarang loe kan jadi orang tekenal, ah biasa aja lagee…, ucap Lisword.
Lho koq loe ada disini, why? Gini gue jelasin ma loe berdua, gue juga ikutan lomba Free Style tapi bukan gue yang tampil melainkan adik gue sendiri yang bernama Andreas. Gue hanya sebagai manager dan temen curhat adikku doank, jawab Olizia.
Berarti kita semua jadi sangat terberat coz gue juga ikut lomba Free Style di New York tapi gue hanya mekanik doank sekaligus menjadi manager team, kata Charles it’s ok’s, walaupun kita semua menjadi sangat terberat tapi kita ini masih menjadi sahabat, kan??? Ucap Lisword. Ya donk walaupun kita dulu, gue jadi musuh loe tapi itu semuanya udah gue lupain yang penting kita punya impian tuk meraihnya, bener ga??? Ujar Olizia.
Don’t worry, bro!!! loe ga usah cemas coz kalo loe suka ma dia to the point, ntar gue comblangi deh, ucap Charler, sumpe loe, bener ne loe mau ngecomblangi gue, tanya Lisword. Emanknya gue boonk apa ma loe, beneran sumpe loe kan sohib sejati gue, jawab Charles.
Satu bulan telah berlalu, koq sampai sekarang sohib gue itu ga pernah keliatan lagi apa yang sebenarnya terjadi??? Sembari ucap Lisword. BTW, oh my god bego banget sih gue coba aja gue call ma temen-temennya maybe aja ada yang tau. So gue ragu pada hati ini, ada apa ya??? Jangan-jangan Charles ga anggap gue jadi sohib sejatinya lagi, wah bisa ribet neh “Awas kalau ketemu gue tonjok loe.
Akhir penantian Lisword itu t’lah berubah tetapi penantian panjang tersebut mulai merasuki pikirannya. Hai bro, “what up to you??? Bro, loe tu jangan mudah terpengaruh oleh seseorang siapa tau dia tu hanya ingin memanfaatkan be doank. So ikuti aja deh kata hati loe sendiri, Btw kenalin gue Jason dari tetangga rumah loe. Thank’z banget ya, friend loe udah nyadari diri gue n kalo boleh gue nanya nich ma loe, koq bisa ya loe ngucapin kata-kata bikasana and jangan-jangan loe udah pernah ngalami seperti gue??? Kata Lisword.
Gini ceritanya, 2 tahun yang lalu gue ma sepupu gue namanya Chirtian holiday bareng ke Bali so sesampai di Bali gue ma dia check in di sebuah hotel by the way malamnya sesudah dinner gue ga nyangka banget sepupu gue tu selingkuh dengan pacar gue si Patricia and hati gue saat itu hancur di telah bumi so emosi gue meledak akhirnya gue pukul sepupu gue dengan babak belur, ya gitu deh dak lama setelah kejadian semalem, Christian slalu cuek banget and bawaannya jutek melulu ketika ketemu atau berbicara ma gue. Esok harinya, gue akhiri sebuah kisah ini dengan memutuskan tali persaudaraan antara gue ama Chirtian tuk selama-lamanya.
Ya udalah yang berlalu biarlah tenggelam bersama waktu and kita hadapi semua problema hidup ini dengan selalu postive thinking and selalu berbuat baik ma semua orang, kata Lisword.
Come on friend, lebih baik kita happy aja and gimana jika nanti malam loe ke rumah sahabat sejati gue??? Mau gak!!! Kalo loe mau ntar gue jemputi deh, sumpah deh!!! Ucap Jason. Ntar malem ya!!! Padahal nanti malem gue pengen ke rumah temen curhat gue namanya Patrick sorry banget ya friend, gimana jika Saturday night aja coz gue bete banget ditinggalin sendirian dirumah so loe deal ga ma gue??? Pinta Lisword.
Ya deh entar gue tanyain ma sohib gue tapi gue gak janji loh jika sohib gue ga pengen pergi, ketus Jason. See you friend gue cabut dulu ya coz gue buru-buru banget!!! Ya udah next time ya, friend!!! Kata Jason. 2 jam telah berlalu Lisword datang ke rumah sohib-sohibnya Charles and apa yang terjadi eh ga tahunya mereka semuanya ketahuan ngedrugs and di rumah sohibnya Charles ada Olizia juga yang gi kissing ma Charles, gue ga bisa ngebiarin semua ini terjadi but lebih baik gue ngubungi polici office tuk segera ditangkap semuanya, ucap Lisword. Allow komandan polisi, gue Lisword mau minta bantuan karena di rumah sohib gue ada drugs party, pak??? It’s okey kita segera kesana and ditunggu ya konfirmasi berikutnya, good afternoon!!!
Ten minutes ago, seluruh polisi udah datang and langsung mereka semuanya ditangkap. Dua jam kemudian, Charles akhirnya mengaku bahwa ini ide semuanya dari Olizia and Charles menyesal telah melakukan semua ini.
Semua ini telah terjadi and akhirnya gue tau bahwa si Charles adalah Mr. Junkis yang selalu membawa pengaruh negatif bagi sohibnya and Olizia pun adalah Miss Jayus yang katanya dia dulu selalu down banget ketika ditanyai tentang Life Style, gitu Pak Komandan cerita dari gue, kata Lisword.
Baiklah kalian semua akan dipenjara selama 30 tahun and jika semuanya terbukti bahwa kalian berdua ketahuan sebagai Mr. Junkis and Miss Jayus. Thank you ya adik Lisword atas bantuannya and silakan adik pulang.
Akhirnya semua masalah ini telah selesai and gue tinggal datang ke rumah sohib gue, Jason so gue ngasih kabar gembira buat dia moga aja dia tahu semuanya. Excuse me ada Jasonnya, tante??? Adik ini siapa ya!!! Gini tante, gue Lisword temennya Jason. Oh Lisword, si Jasonnya udah balik lagi ke Prancis and katanya 4 tahun lagi dia akan pulang.
Waduh tante lama banget so Lisword pulang aja ya tante and boleh tau ga tante berapa nomor teleponnya Jason atau alamat emailnya!!! Wah tante sih lupa and yang tante ingat sih hanya secarik kertas ini……
Lisword, maafi gue ya karena gara-gara gue loe jadi sedih and takkan pernah persahabatan kita walaupun kita jauh tetapi tetap satu jiwa.
Posted by
Kantong Sastra
at
9:43 PM
0
comments
Thursday, January 21, 2010
Pada-Mu Tuhan
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Pada-Mu, Tuhan
ku tambatkan segala doa yang berlinang
seraya memohon ampun pada semua seteru
yang memporandakan setiap serpihan hati yang lugu
:tinggalkan puing-puing
Pada-Mu, Tuhan
kureguk nista yang menganga atas juta-juta nasib jelata
yang menyayat di emperan raya, jagat bergulir semerbak rasa
:tinggalkan buih-buih
Pada-Mu, Tuhan
Kutersungkur dalam ranah biru memburai luruh
sekujur tubuh tercampakkan bagai biadab seluruh penjuru
dalam perang, tangis, cacat, dan ketololan yang menggilas rapuh
:tinggalkan keping-keping
Pada-Mu, Tuhan
Kuterjerembab, blingsatan pada sundal dan syahwat
separuh negeri, mengaduh, mengiris
selaksa lara mencengkram pada peti
kami yatim di negeri sendiri
:tinggalkan naluri perih
Pada-Mu, Tuhan
Kupohonkan segala ikhlas dan maaf
pada tuan-tuan kami yang berlagak bersih
menjilat habis uang-uang negeri
:badan kami kurus kering
Sokaraja, 04 September 2008
---------
Ibrahim Barsilai Jami, lahir pada tanggal 14 Mei 1979 di sebuah dusun kecil di pulau Rote-Nusa Tenggara Timur. Aktif menulis sejak usia SMP, menjadi pengisi tetap rubrik mading sekolah. Di bangku SMA pernah mengikuti beberapa lomba cipta dan baca puisi. Juara 2 lomba cipta puisi antar SMA se-propinsi Nusa Tenggara Timur tahun 1998 dalam rangka hari Lingkungan Hidup.
Tahun 2003, menjadi salah satu finalis lomba menulis mahasiswa se-Jawa Barat di Bandung yang di selenggarakan oleh Metro TV dan Harian Media Indonesia. Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Sekolah Tinggi Teologi Diakonos Banyumas periode 2006/2007.
Tahun 2007, menjadi salah satu semifinalis Lomba Cipta Bintang Televisi yang diselenggarakan oleh YAFA ENTERTAINMENT Jakarta kategori Presenter TV. Salah satu Nominator Lomba Cipta Puisi Se-Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Semarang. Puisinya dibukukan dalam Antologi Puisi Bersama "Anak-Anak Peti" tahun 2008. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Semarang dan Komunitas Sastra Bunga Pustaka Purwokerto . Karyanya pernah dimuat di beberapa media massa. Saat ini tinggal di Jalan Sidodadi I / 141 Sokaraja Tengah, Kec. Sokaraja, Kabupaten Banyumas-Jawa Tengah.
Posted by
Kantong Sastra
at
10:02 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Garang
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Hentikan segala lesuh yang mengapit jumbai dan untaian citra
para pendakwa
pada meja berlapiskan kain hijau
dan palu-palu diketukkan
pertanda : kiamat!
Kebenaran pada pikirmu
meracuni akal yang galau
lalu kaku kibuli semua seteru yang mengaduh
uh, setiap langkah yang menghadang
lalu diburu sepanjang nafas yang tercabik
pohonkan iba pada dendang tuanku yang garang
menampik semua gemuruh dan ragu pada kebenaran semu
Waktu membatu
mencumbui akal-akal benalu
yang mengakari diri sembari menatap lusuh
separuh tawa yang terkekang karena kepayahan
ini bukan negeri kangguru
ini tanah pusaka
tempat kami mengais sampah
dan harga
dan nyawa
dan doa
dan nama
dan noda
dan tangis
dan sendu
dan parau
dan remuk
Yang terbuang
pada tanah, tempat doa-doa tertambatkan
pada sujud tempat kami mengiris pilu
Kau garang!
Benci kami pada diri
bukan pada naluri
kami mengabdi
dalam girang kau sembulkan garang
kemarangi keikhlasan sejagat duri
Pertiwi, pada segala raga dan rupamu kini.......
Sokaraja, 03 September 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
10:00 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Kau Bilang Kemerdekaan
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Kau bilang
Kita sudah merdeka 63 tahun
Tanpa dosa kau hembuskan beludak
pada perut, nyali, dan harga diri
mereka yang memelas sepanjang negeri
Kau bilang ini kemeredekaan, Bung?
Lihat disetiap derap malam
teriakan bising para bocah menghibah-hibah :
“Kirimlah pada kami ulat-ulat sagu, ikan asin, tempe busuk dan roti kadaluwarsa yang hilang seiring malam!”
“Kirimkan pada kami empedu yang kau racuni dalam tawarnya laut yang kau nodai dengan zat kimia!”
“Kirimkan pada kami, sedikit nyali untuk bisa berdemonstrasi, setiap kali kami dibohongi!”
“Kirimkan pada kami kekuatan dan air mata yang hilang dalam kornea-kornea yang lesung karena busung lapar!”
“Kirimkan pada kami, ya penguasa alam!”
seteguk cinta
setetes keabadian 'tuk melipur luka-luka
yang mengiris bagai sembilu setiap kerongkongan yang mandul!”
“Kau bilang ini kemerdekaan, Bung?
Sokaraja, 01 September 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
9:59 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Kerinduan
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Bergayut
menuju haluan
Ke sana kita meniti
menjajaki diri
pada penantian
Warna-warni katamorgana
memadu irama
membius luka
segala yang mendera, kejujuran!
Biarkan hari-hari bergirang
membawa segala nada
pada cinta dan rasa
segala nama, kebenaran!
Sebuah kata
pada makna
yang mendakwa sukma
"Kerinduan!"
Purwokerto, 31 Agustus 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
9:57 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Sajak Ketika Purnama
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Pada setiap sepimu, terhempaskan riak dan riang sang purnama
Meradang ke ufuk gelora malam yang menawan
Tereja sajak, terpilin rupawan
merambati nalar yang blingsatan
bait-bait sajakmu beradu cemburu
pada cumbu disetiap penjuru
kemari, tataplah sinarmu yang menerawang
meluruhkan kesumat yang membisu lalu tertawan
wahai, akal yang kandas!'
tambahkan pada nyalimu setetes rasa yang terbuang
Lirikmu makin syahdu
Mencumbui para babu yang lugu
Di batas mimpi-mimpi yang dungu
Jangan menunggu!
Wahai, waktu berlalu
memburu masa dan lampau
kita berpacu...
Posted by
Kantong Sastra
at
9:56 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Meniti Hari
(buat: Sahabat di segala waktu)
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Jangan engkau tertegun
dalam perhentian langkahmu
jangan terpana dengan problema
yang telah berlalu.......
Sebab kesempatan
hari-hari
matahari
fajar
dan semangatmu itu
bukankah itu api yang berkobar?
Yang sanggup membakar, menghanguskan
lembaran lama yang usang
kesempatan
akan tetap datang
dan keberhasilan hanya diundur
Suatu waktu
keberuntungan akan menghampirimu
kemenangan akan menggapaimu
saat kau terjerembab
tak bisa lagi berkata-kata
jangan teteskan air mata gundah
Hari ini
kita masih dapat bersua
meniti waktu, cerita, dan mimpi
tentang kisah, wanita dan khayalan cinta
di batas waktu
sampai napasku tersengal
dan nadiku berhenti berdetak
sampai sang pencipta memanggilku
Aku akan kagum
betapa kau gigih berjuang
tegar bagai baja
menangis lalu tertawa
riang
karena kita pasti bisa
Sokaraja, 28 Agustus 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
9:55 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Aura Kebenaran
Sajak Ibrahim Barsilai Jami
Mari menari....
Membidik angan
Semua seteru yang memburu kuasa
Ciutkan eksotis
beradu cumbu merinduh ditempuh
sebulir lentera yang redup membias segara
Menarilah, sayang!
Tambatkan lenganmu
bergayut sembari sesumbar
membuyarkan nalar yang liar
Pasrah......
Setelah segala sepi
bergaung sekujur duri
merinding perih
Segala kebenaran
merasuki organ-organ bertepi
selaksa resah bergelimpangan
memudarkan kisah yang kentara
pada kelana setelah kembali ke dalam buana
Sokaraja, 01 september 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
9:52 PM
0
comments
Labels: karya (puisi)
Thursday, July 23, 2009
Percakapan di Kafe Hitam
Cerpen Ernawati Rasyid
SEMUANYA tenggelam saat malam hadir dengan selimut kegelapannya. Menaburkan kemilau bintang. Purnama bisu yang menggantung. Suara langkah kaki begitu jelasnya aku dengar. Bagaikan berjalan dan telingaku bersama langkah itu. Kemana saja. Tidak peduli jalanan penuh kerikil tajam yang kapan saja bisa merobek telingaku. Aku juga mendengar bisik-bisik dari mulut yang penuh lumuran darah. Menetes ke lantai dan berubah menjadi hitam. Memenuhi lantai. Membentuk wajah yang tidak selesai. Tidak ada darah merah disana.
Kafe ini tepat berada di bawah purnama. Disana seorang perempuan tua menggapai-gapai bulan setelah susah payah menanjak udara menuju bulan itu. Senyum dan derai air matanya berceceran dimana-mana. Tak ada yang melihat. Pura-pura melihat. Semuanya sibuk mengurusi kebutuhan yang tak kunjung selesai. Seperti menghitung bintang di langit dengan sepuluh jari.
Aku masih duduk di kursi kemilau ini. Dengan kepulan asap rokok yang entah keberapa kalinya aku hembuskan ke udara. Menebar. Membentuk wajah orang-orang yang ada di sekitar kafe itu. Lalu menghilang. Mungkin lari bersama nafas angin yang selalu berhembus di sekitar mejaku. Nafas yang begitu menyengat hidung hingga mengelurkan darah hitam. Menetes ke lantai dan membentuk gumpalan yang mengeras. Seperti batu. Tak bernafas. Ingin aku hembuskan jiwa ke dalamnya agar menemaniku di kafe ini sambil berbicara terus menerus sampai fajar menyengat tubuhku lagi.
Seorang wanita menuju kearahku membawa sebuah nampan yang berisi minuman dan makanan yang telah aku pesan sejak berada di tempat ini. Tangan kirinya disembunyikan di belakang tubuhnya sedang tangan yang satunya memegang nampan. Tangan yang disembunyikannya itu menyembunyikan belati. Aku tahu itu. Ingin membunuhku atau membunuh orang-orang yang ada disekitarku. Senyum di bibirnya begitu mempesona bagi bibirku. Sebuah tipuan untuk membunuhku dengan belati yang disembunyikannya. Ia semakin mendekat. Langkah kakinya seperti detakan jantungku. Kini ia berdiri di sampingku. Menyimpan pesanan di atas meja. Lalu belati yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya ia taruh di atas meja itu pula. Ia pun pergi dengan senyum yang masih terpajang di bibirnya. Menggoda bibirku untuk tersenyum pula.
Rinai hujan tiba-tiba menerpa malam. Ternyata perempuan tua itu telah berhasil menggapai purnama. Lalu dibawanya pulang untuk diberikan kepada cucunya. Semua manusia malam berlarian mencari tempat berteduh. Menghindari gerimis yang bercampur dengan tetesan darah dan air mata perempuan tua itu. Aku beruntung telah duduk dengan santai di kafe ini lebih awal. Aku melihat manusia malam yang terkena ceceran gerimis itu menggerutu. Semua yang melekat di dalam dirinya luntur. Meleleh meninggalkan dirinya yang basah. Aku pun tertawa. Terbahak. Hingga mejaku bergetar sampai ke kepalaku. Tetapi, aku masih saja tertawa. Hingga air mataku menetes membentuk gumpalan lagi di lantai. Berharap untuk kedua kalinya Tuhan meniupkan roh kepadanya.
Lalu semuanya tiba-tiba gelap gulita. Tak ada cahaya. Aku tahu, perempuan tua itu bukan hanya berhasil menggapai purnama. Ia telah mengambil deretan bintang pula di langit. Untuk dipersembahkan kepada cucunya. Bukan hanya bulan dan bintang, cahaya-cahaya lampu pun diraihnya pula. Aku mendengar semua orang menggerutu. Aku tidak bisa melihat wajah karena gelap. Bahkan aku pun tidak dapat melihat diriku sendiri. Semakin besar suara-suara gerutuan itu hingga telingaku mengeluarkan darah akhirnya. Bukan karena kerikil saat melangkah tetapi suara-suara manusia malam yang menggerutu itu.
Suasana masih gelap gulita. Aku mendengar kursi lain yang ada di depanku bergeser. Seorang telah duduk di kursi kosong itu. Lalu mengunyah makanan yang belum sempat aku jamah sejak wanita tadi membawanya untukku. Saat aku meraba belati yang ada di atas meja, kosong. Heran dan gugup lalu melandaku. Peluh keringat bercucuran tiada henti. Tawa bahak hilang begitu saja. Berganti dengan peluh yang tak berkesudahan. Setelah mengunyah makanan ku, ia pun meminum kopi yang ada di atas meja. Terdengar suara piring dan gelas bergesekan. Membuatku meringis.
“Maaf menungguku terlalu lama.”
Ia menyapaku. Suara lelaki. Mirip suaraku. Atau ia telah mencuri pita suaraku dan memindahkannya ke tenggorokannya. Atau kah siapa gerangan pita suara yang ia curi. Pasti dari salah satu manusia malam yang menggerutu itu.
“Siapa kamu?” tanyaku dengan suara getar yang masih tersisa.
“Aku adalah kamu”. Jawabnya
“Kamu sudah gila. Mana mungkin aku adalah kamu....”
“Kamu yang gila. Bukan aku.”
Siapa gerangan orang yang ada di depanku ini. Tidak ada cahaya yang bisa menampakkan wajahnya. Semua telah diambil oleh perempuan tua itu. Ini tidak adil. Tak ada satu pun bintang yang tersisa untukku, hanya untuk melihat wajah orang di depanku ini. Bahkan ia mengaku dirinya adalah aku. Belati di atas meja pun tidak ada. Pasti ia yang mengambilnya. Aku pikir, ia akan membunuhku dengan belati itu. Makanan dan minuman ku pun telah musnah olehnya.
“Kenapa diam? Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu dengan belati itu. Itu artinya aku membunuh diriku sendiri.”
“Bagaimana kau tahu apa yang aku pikirkan?”
“Sejak awal aku sudah mengatakan kalau aku adalah kamu. Apa yang kamu pikirkan tentu saja aku tahu semuanya.”
Bahkan apa yang aku pikirkan pun ia tahu. Aku yakin orang yang ada di depanku ini bukan manusia seperti diriku. Apa yang diinginkannya dariku.
“Aku bukan Tuhan. Bukan malaikat. Bukan pula iblis. Aku adalah manusia sama sepertimu. Bagaimana mungkin aku adalah Tuhan, malaikat, atau pun iblis. Mereka mempunyai tugas untuk dijalankan sekarang. Duduk disini bersamamu akan membuang-buang waktunya, percuma saja”.
“Apa yang engkau inginkan dariku?” tanyaku menyela.
“Justru aku yang seharusnya bertanya. Apa yang kau inginkan dariku?”
“Aku bingung.”
“Bingung? Mengapa harus bingung. Cukup kau jawab saja. Akan aku jalankan. Bukankah aku adalah dirimu.”
“Justru itu aku bingung. Apa yang harus aku jawab. Bagaimana mungkin aku ada di depanku sendiri. Berbicara ini dan itu.”
“Sederhana saja”.
“Apanya?”
“Kau ada makanya aku ada. Kau berpikir sehingga aku ada. Kau sendiri yang menginginkan kehadiranku. Mengapa kau sekarang menolak kehadiranku. Kehadiranmu sendiri”.
“Aku tidak pernah mengharapkan kehadiranmu. Aku tidak pernah memikirkanmu. Kau salah. Ini pasti hanya mimpi. Mimpi yang akan sirna begitu cahaya datang”.
“Kau mengharapkan cahaya datang dan menampakkan wajahku di hadapanmu. Tidak usah. Cukup kau melihat wajahmu sendiri. Bukankah aku adalah kamu. Wajahku adalah wajahmu. Pikiranmu adalah pikiranku. Semuanya. Tak terkecuali. Lagipula, cahaya semua telah dibawa pulang oleh perempuan tua itu untuk cucunya di rumah. Apalagi yang tersisa. Purnama, bintang, cahaya lampu. Bahkan korek api mu telah ia curi tanpa kau sadari.”
“Kau mempermainkanku”.
“Aku tidak mempermainkanmu. Buat apa aku mempermainkanmu. Tak ada gunanya mempermainkan diri sendiri. Buang-buang waktu saja. Masih banyak yang mesti dibenahi. Padahal waktu tidak jelas keberadaannya.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Aku tidak percaya kau tidak mengerti perkataanku. Bukankan aku lahir dari dirimu. Pasti kau juga tahu semuanya. Tidak usah berkamuflase seperti manusia-manusia yang menggerutu itu. Memakai topeng berlapis-lapis hanya untuk menutupi wajahnya yang tidak jelas bentuknya.”
“Aku benar-benar tidak mengerti. Kau membuatku bingung.”
“Hahaha…!”
“Bahkan kau bisa tertawa rupanya.”
“Bukan hanya tertawa. Marah, benci, dendam, menangis, tersenyum pun aku bisa.. Seperti yang kau lakukan barusan kepada wanita yang membawa nampan untukmu. Semua yang kau lakukan aku juga bisa melakukannya.”
“Aku mulai percaya padamu.”
“Tentu saja kau harus percaya. Kalau kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan, itu artinya kau tidak mempercayai dirimu sendiri.”
“Benar juga. Bukankah aku adalah kamu. Kamu adalah aku.”
“Tetapi kau beruntung malam ini”.
“Maksudmu?”
“Jarang sekali manusia itu berbicara dengan dirinya sendiri. Seperti yang sekarang kau lakukan."
“Apakah benar demikian. Kalau begitu aku beruntung malam ini.”
“Sudah aku katakan padamu, kau lelaki yang beruntung malam ini.”
“Bagaimana menurutmu mengenai mati? Apa kau juga mengalami hal seperti itu?”
“Tentu saja. Kalau kau mati aku juga akan mati. Kau mati, kau tidak akan bisa berpikir lagi. Sehingga aku tidak bisa ada.”
“Apa kau roh?”
“Apa yang kau tahu tentang roh atau jiwa?”
“Roh atau jiwa akan meninggalkan raga jika kita telah mati.”
“Tidak ada yang bisa melihat roh. Entah ia mempunyai telinga, hidung, mulut, tangan, kepala, atau yang lainnya. “
“Apa maksudmu?”
“Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Tangan, mulut, kaki, mata, telinga, dan sebagainya merupakan bagian dari raga. Jika roh telah berpisah dengan raga, tidak mungkin semuanya itu ikut bersama roh. Raga dan bagian-bagiannya akan hancur bersama tanah. Kembali ke asalnya. Begitupun dengan roh, kembali keasalnya.”
“Bagaimana dengan umur?”
“Umur semakin bertambah. Raga semakin tua. Tetapi roh tidak mengalami perubahan. Jiwamu akan selalu ranum walau umurmu semakin senja.”
“Kalau begitu, kau termasuk yang mana. Raga atau Jiwa?”
“Hahaha…! Tentu saja bukan kedua-duanya. Kalau aku raga, aku bisa terlihat. Kalau aku roh, aku tidak terlihat. Namun bisa dilihat melalui raga.”
“Jadi kau ini apa?”
“Aku ini bagian dari jiwa dan ragamu. Tetapi bukan jiwa dan raga. Raga tanpa jiwa tidak ada apa-apanya. Seperti boneka yang dipajang di emperan toko boneka di ujung jalan sana. Begitu halnya dengan manusia yang telah mempunyai jiwa, namun seakan tidak mempunyainya. Mirip boneka.”
“Mirip boneka?”
“Yah, mirip boneka. Mau diperlakukan apa saja bisa. Boneka tidak bisa berbicara. Mendengar. Hanya menurut perkataan tuannya.”
“Apa aku termasuk boneka seperti yang kau katakan?”
“Hahaha…! Awalnya kau adalah boneka yang terbuat dari tanah. Tidak seperti di toko itu, terbuat dari bahan organik. Lalu Tuhan meniupkanmu roh. Seperti yang kau harapkan pada gumpalan di lantai yang kau buat barusan. Dengan begitu kau bisa melakukan apa saja. Seperti berpikir.”
“Apa manusia bisa menciptakan manusia?”
“Tentu saja tidak bisa. Kalau manusia bisa menciptakan manusia, Tuhan pasti bisa menciptakan Tuhan. Manusia hanya bisa meniru, bukan menciptakan. Menciptakan itu dari tidak ada menjadi ada.”
“Apa istimewanya menjadi manusia?”
“Tanya pada dirimu sendiri, bukankah kau manusia.”
“Aku manusia. Aku bisa melakukan apa saja.”
“Memang benar, apa saja. Seperti menangis, marah, benci, bahkan merusak pun bisa.”
“Maksud kamu?”
“Merusak dirinya sendiri. Seperti menaruh moral bukan pada tempatnya. Bahkan menutup mata untuk menikmati hidup. Tidak mau melihat kenyataan yang ada disekitarnya. Pura-pura tidak melihat. Walaupun melihat, hanya bisa menganga. Mengeluarkan air liur yang tak berkesudahan. Ia tidak mau menjadi bagian dari kehidupan itu. Hanya ingin menjadi penonton terhebat, tak ada yang bisa menandinginya.”
“Maksudmu seperti perempuan tua itu?”
“Benar. Seperti perempuan tua itu. Manusia penggerutu itu pura-pura tidak melihatnya. Makanya ia menanjak di udara untuk menggapai purnama, bintang, dan semua cahaya. Bahkan kau sendiri pun juga terkadang seperti manusia penggerutu itu. Hanya menganga melihat kehidupan. Terpesona dengan keindahan fatamorgananya.“
“Apa kau menuduhku?”
“Tidak usah menutup-nutupi. Aku tahu semuanya. Karena aku adalah kamu. Masa lalu mu aku tahu semuanya. Bukankah sudah aku katakan sejak awal kepadamu?”
“Iya benar. Maafkan aku.”
“Kau meminta maaf pada dirimu sendiri. Bukan padaku. Karena aku adalah kamu sendiri, bukan orang lain.”
Makassar, 29 Juni 2009
---
Ernawati Rasyid, mahasiswi Sastra Indonesia 2006 FBS UNM, penulis lepas.
Posted by
Kantong Sastra
at
5:50 PM
0
comments
Labels: karya (cerpen)
Monday, July 20, 2009
Segitiga Sastra di Wilayah Borneo
Oleh Korrie Layun Rampan
SEGITIGA sastra di sini dimaksudkan adalah tumbuh dan berkembangnya eksistensi sastra di wilayah Borneo dan Kalimantan. Istilah Borneo meliputi negara Brunei Darussalam dan Malaysia Timur (yang mencakup: Labuan, Sarawak, Sabah) dan wilayah Kalimantan mencakup empat provinsi di Kalimantan: Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah (sebentar lagi akan lahir Provinsi Kalimantan Utara). Sejak 20 tahun lalu dimulai “Dialog Borneo-Kalimantan” yang dilaksanakan di Miri, Sarawak, 27-29 November 1987.
Dialog ini merupakan kegiatan independen yang berada di bawah payung Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). Mastera merupakan kegiatan sastra-budaya yang didasari oleh hubungan timbal-balik antarnegara, khususnya dalam hubungan rekomendasi pemberian hadiah SEA Write Award, Hadiah Mastera, dan Hadiah Sastra Nusantara. “Dialog Borneo-Kalimantan IX”, Agustus 2007 lalu, dalam rekomendasi yang dibacakan Ketua 1 Asterawani Prof Madya Dr. Awang Haji Hashim bin Hj. Abd Hamid pada 5 Agustus 2007 di Hotel Asma Jerudong, Berunei Darussalam bahwa sejak “Dialog Borneo-Kalimantan X” yang diadakan di Kalimantan Timur, 2009, akan memberikan “Hadiah Sastra Sultan Hassal Bolkiah” untuk para penulis sastra dari wilayah “segitiga sastra”, terutama kepada para sastrawan yang tidak dinominasi oleh panitia SEA Write Award, Mastera, maupun Hadiah Sastra Nusantara, meskipun karya-karya mereka sudah sepantasnya mendapat hadiah tersebut.
“Dialog Borneo-Kalimantan IX” yang mengusung tema “Kesusastraan Melayu: Antara Harapan dan Cabaran (Kendala)” menampilkan lima belas makalah yang membicarakan berbagai hal sehubungan keberadaan dan perkembangan sastra di masing-masing negara (wilayah). Indonesia (Kalimantan) diwakili oleh Zulfaisal Putra dari Kalsel, Korrie Layun Rampan (Kaltim-Jakarta) , dan Viddy AD Daery (Lamongan) yang masing-masing menampilkan makalah “Mengenang Kejayaan Rubrik Dahaga di Harian Banjarmasin Post tahun 80-an”, “Sejarah Sastra Kalimantan Timur di Tengah Konstelasi Sastra Indonesia” dan “Dari Kisah Sultan Sandokan dari Brunei: Hingga Hubungan Budaya Kalimantan dan Jawa” (yang dibacakan Hermiyana, SE, karena Viddy sakit).
Ketiga makalah ini menjadi pusat perhatian dari sekitar 150 orang peserta karena mengungkapkan berbagai hal yang “asing” bagi pembaca dan para pemerhati sastra di Brunei dan Malaysia. Ternyata, sejak dialog pertama sampai yang kesembilan ini, kondisi sastra di masing-masing wilayah berkembang sediri-sendiri, justru tanpa saling bisa berdialog, sehingga karya sastra Borneo (Brunei-Malaysia) dan Kalimantan (Indonesia) hanya dinikmati oleh kalangannya sendiri, dan asing bagi pembaca di wilayah lainnya. Sastra Berunei Darussalam dan Malaysia (Labuan, Sabah, Sarawak) tidak dikenal oleh pembaca di Kalimantan (Indonesia), demikian sebaliknya. Sementara menurut Prof Madya Dr. Haji Arbak bin Othman dalam makalahnya “Sajak Borneo: Kajian Interpretan dan Pembentukan Mesej Puisi” sastra yang berkembang di Kalimantan memperlihatkan prosfek profetik dengan nuansa religius yang mendalam di mana sajak-sajak itu banyak menggambarkan kesedihan dan harapan dengan mengutip beberapa baris puisi penyair muda Micky Hidayat (Banjarmasin) dan Shantined (Balikpapan) .
Keasingan dan kehilangan komunikasi juga dipaparkan oleh Mohd Zefri Ariff bin Mohd Zain Ariff dalam makalahnya “Jurutera dan Usahawan Emporium Sastera Melayu” yang membahas diskomunikasi antarsastrawan Borneo-Kalimantan sehingga melahirkan ketidaktahuan terhadap perkembangan pribadi sastrawan maupun perkembangan secara nasional di wilayah masing-masing. Itu sebabnya dialog yang sudah dilakukan ini semestinya dilanjutkan dengan mencari cara terbaik agar sastra di masing-masing wilayah dapat disosialisasikan di wilayah segitiga sastra.
Pada “Dialog Borneo-Kalimantan VII”, 2003, Korrie Layun Rampan sudah mengajukan usul agar diadakan sekretariat di masing-masing wilayah dan sekretariat bersama di suatu negera tertentu yang disepekati. Di samping itu disarankan dibuka penerbitan bersama berupa media massa sejenis Horison (Indonesia), Bahana (Brunei Darussalam), dan Dewan Sastra (Malaysia), penelitian sastra, dan pengkajian yang komperehensif. Kemudian dilakukan penerbitan buku-buku sastra yang dikelola para sastrawan di dalam wilayan “segitiga sastra” tersebut, termasuk penerbitan makalah yang sudah mencapai ratusan jumlahnya. Namun hingga dialog yang terakhir ini, hanya sekretariat bersama yang dapat terealisasi yaitu disanggupi oleh Brunei Darussalam.
“Dialog Borneo-Kalimantan” ini merupakan upaya mengembangkan sastra di wilayah “segitiga sastra” tersebut. Karena itu tema-tema dialog selalu berubah-ubah, sesuai dengan perkembangan isu-isu aktual sastra nasional dan sastra global. Dengan habitat sastrawan yang cukup banyak di wilayah ini, diharapkan dialog ini dapat menyumbangkan karya-karya berkualitas bagi negara masing-masing, sebagaimana tema yang disampaikan pada dialog III di Bandar Sri Begawan, 9-10 Oktober 1992 dengan tema: “Sumbangan Sastra Borneo-Kalimantan terhadap Nusantara”. Meskipun tema ini baru berupa harapan, namun pekerja sastra di lingkaran “segitiga sastra” sangat antusias untuk memberikan sumbangan makna dan nilai-nilai mulia dan tertinggi bagi negara masing-masing.
Dalam hubungan itu, ada lima matlamat yang disampaikan dalam pertemuan kali ini dalam upaya mengembangkan dan melanjutkan tradisi dialog tiga negara ini. Pertama, menonjolkan kepentingan dan sumbangan sastra Melayu dengan mendukung nilai-nilai kemelayuan, keislaman, dan ketuanan bangsa Melayu. Kedua, merincikan peranan sastra Melayu dalam menghadapi gelombang globalisasi. Ketiga, mempertemukan sastrawan, penulis, seniman, budayawan, dan sarjana dari ketiga negera. Keempat, mengangkat martabat penulis (tokoh terdahulu dan kini) dan karyanya dalam jalur sastra Borneo-Kalimantan sebagai sastra Nusantara dan mendunia. Kelima, menjalinkan kerja sama kebahasaan, kesusastraan, dan kebudayaan serumpun antara tiga negera leluhur Melayu yaitu Negara Brunei Darussalam, Malaysia dan Indonesia. Dalam hubungan itu, para peserta bersepakat dengan menyampaikan resolusi (yang diwakili oleh sepuluh orang dari negara masing-masing, termasuk Indonesia yang diwakili Korrie Layun Rampan) bahwa “Dialog Borneo-Kalimantan” tetap diteruskan dan “Dialog Borneo-Kalimantan X” diadakan di Kalimantan Timur (Indonesia), tahun 2009.
* Korrie Layun Rampan, sastrawan, anggota DPRD Kutai Barat, Kaltim
Sumber: Kaltim Post, Rabu, 5 September 2007
Dikutip dari Jurnal Toddopuli, 9 Desember 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
5:19 PM
0
comments
Labels: wacana
Friday, June 26, 2009
Mari Kita Dukung Gerakan Literasi Lokal
Oleh J.J. Kusni
KALIMAT yang saya jadikan judul “Jurnal” kali ini berasal dari Komunitas Rumah Dunia, Serang Banteng yang pada tanggal 5 – 7 Desember 2008 mendatang akan menyelenggarakan pertemuan Ode Kampung ke-03 dengan mata acara sebagai berikut [saya kutuip siaran Komunistas Rumah Dunia, 25 November 2008 di milis mediacare@yyahoogroups.com]:
Pembukaan Jum’at, 5 Desember 2008, Pukul 13.30
Diskusi:
Membudayakan Minat Baca
Kiprah Pemerintah Mendukung Gerakan Literasi
Peran Penerbit dalam Komunits Literasi
Jejaring Komunitas Literasi
Penulis dalam Gerakan Sosial
Tanggung Jawab Pers Mendukung Gerakan Literasi
Peranan CSR di dunia Literasi
Deklarasi Komunitas Literasi
Pembicara Prof. Yoyo Mulyana, Dick Doank, Eko Koswara, Asma Nadia, Halim HD, Si Uzi Jodhi Yudono, Myra Junor, Hernowo, Bambnag Trim, Hikmat Kurnia, DR. Zulkieflimansyah, Tantowi Yahya
Menu spesial:
Pementasan ”Pria ½ Iblis” oleh Teater Rumah Dunia, Jum’at 5 Des 08, pukul 19.30
Pameran karikatur karya Si Uzi setiap hari
Cemilan:
Parade pembacaan puisi, teater sekolah, dan musikalisasi puisi .
Berbeda dengan Ode Kampung 02 ynng lalu, kali ini Komuniitas Rumah Dunia tidak atau belum mnngumumkan daftar komunitas-komunitas yang menyatakan diri akan hadir. Sedangkan tahun lalu, daftar peserta diterakan. Walaupun jumlah yang hadir cuma dua ratusan komunitas sastra-seni dari jumlah yang mencapai angka 4000 komunis , menurut keterangan Rumah Dunia sendiri, tapi jumlah dua ratusan dari berbagai penjuru tanahair, kiranya bukanlah jumlah yang sedikit. Barangkali sampai sekarang hanya Rumah Dunia sajalah yang sudah mengumpulkkan dua ratusan komunitas sastra-seni di Serang di Banten, ujung barat Jawa. Saya tetap menganggap hal begini tetap sebagai suatu prestasi. Prestasi ini lebih layak dihargai jika kita melihat cara pengorganisasiannya dan pembeyaannya. Penghargaan ini saya garisbawahi lagi karena ia bermula dari bawah, oleh komunitas-komunitas itu sendiri, berangkat dari pendirian dan sikap yang jelas mendukung usaha literasi lokal. Hal yang sejajar dengan wacana sastra-seni kepulauan, sastra-seni bhinneka tunggal ika di luar yang disebut pusat-pusat pengakuan atau pusat-pusat legitimasi kegiatan bersastra dan berkesenian — wacana yang bisa dikatakan absurd. Pertemuan Ode Kampung yang diselenggarakan secara periodik mempunyai arti tersendiri bagi pengembangan sastra-seni di negeri kita, yang berbeda dengan Writers and Readers Ubud Festival yang mewah dan glamour ditopang oleh dana yang besar. Tapi secara kongkret, apa yang diberikan oleh Ubud Festival dalam mengembangkan sastra-seni di negeri kita, kecuali membuka suatu etalase barang dagangan yang bernama sastra-seni? Barangkali pertanyaan ini keliru, tapi tetap saya pertanyakan. Pertemuan-pertemuan dari bawah untuk kepentingan pengembangan sastra-seni kepulauan, dalam pikiran saya, jutru lebih layak mendapat perhatian penanggungjawab kebudayaan resmi di negeri kita daripada pertemuan seperti Uubd Festival. Pikiran begini tidak berari membuat penyelenggara pertemuan tipe Ode Kampung atau Fstival Tahunan Lima Gunung di Jawa Tengah tergantung pada uluran tangan pihak resmi. Masalahnya adalah terletak pada pertanyaan apa bagaimana orientasi dan tanggungjawab budaya pihak resmi. Ode Kampung dan atau Festival Lima Gunung sejauh ini walau pun pernah dihadiri oleh Megawati dan SBY,tapi penyelenggaraannya tidak pernahmendapat bantuan sepeser pun dari pihak resmi. Dan tetap berlangsung bahkan jika mengambil pengalaman Lima Gunung, sumbangan dari masyrakat masih bersisa di akhir festival. Melalui penyelenggaraan Festival Lima Gunung berhasil dirawat, diangkat dan dikembangkan bentuk-bentuk sastra-seni di daerah mulai dari pojok-pojok jauh perdesaan disekitar Lima Gunung Jawa Tengah. Sedangkan Ode Kampung, saya kira, merupakan peluang untuk komunitas-komunitas dari berbagai penjuru tanahair menyerampakkan langkah agar perkembangan sastra-seni di berbagai daerah kian marak. Dari segi ini jugalah saya mengangap penting pertemuan periodik Jumpa Sastrawan Se-Borneo. Saya mencium pada usaha pengembangan sastra kepulauan ini, pernah dicoba dirambah oleh H.B Jassin, anak Gorontalo itu, melalui majalah Kisah dengan menampilkan penulis-penulis dari berbagai pulau. Saya curiga, apakah dengan merambah usaha ini , HB Jassin tidak mengidam juga ide sastra kepulauan jsebaga dasar bagi sastra Indonesia?
Pengembangan sastra-seni lokal atau daerah atau pumau-pulau saya kira, bisa menumbuhkan sastra nasional. Bisa menjadi dasar warna bagi sastra nasional yang semarak. Ia akan semakin bernas jika membuka diri pada daerah dan pulau-pulau lain serta dunia. Sastra-seni lokal dan pulau adalah pengembangan sastra-seni yang mengakar dan dekat dengan masyarakat, merupakan bahasa bedialog dengan dunia jika meminjam istilah filosof berpengaruh Perancis, alm. Paul Ricoeur. Apa yang dikerjakan oleh Mas Soetanto, organisator Festival Lima Gunung, Ode Kampung dan atau Temu Sastrawan Borneo, dan gebrakan Komunitas Panyingkul dari Makassar, Komunitas Sastra Tasikmalaya, Tegal, Malang, Banjarmasin, Palangka Raya, Balikpapan, Batam, Riau, Jambi, Lampung, Padang,Medan; Kupang, Flores, untuk menyebut beberapa kominitas dari 4.000 komunitas, tidak lain dari pengejawangtahan menjadikan budaya sebagai bahasa dialog dengan kompas di ruang nakhoda pelayaran saatra-seni: bhinneka tunggal ika,biar bunga mekar bersama, seribu aliran bersaing suara mengejawantahkan nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan. Barangkali dengan pedoman inilah hubungan antar komunitas diatur dan bisa digalang dengan sehat, bisa saling bangtu,saling dorong dan saling belajar dari keunggulan masing-masing. Jika disepekati maka benar, kita bisa menciptakan suatu gerakan budaya, gerakan sastra-seni, dan bukan lagi kegiatan spontan. Saya membedakan antara gerakan dengan kegiatan spontan. Kegiatan Ode Kampung dan sejenisnya adalah janin dari lahirnya suatu gerakan budaya, gerakan sastra-seni secara nasional dan mengakar. Lokalitas hanya salah satu warna dari karya lukis budaya nasional dan dunia. Seperti halnya dengan secarik kain yang dijahit jadi satu “bénang dinding” , kain tembelan atau patch work, yang indah.. Dengan pandangan ini maka saya sangat menikmati warna lokal dan nilai universal dari pantunt-pantun Melayu, sajak-sajak Bugis, Makassar, Papua, sansana kayau orang Dayak dan lain-lain….. Barangkali anaknegeri ini saja,atas nama moderinsasi menjadi asing dari negeri dan daerah sendiri sampai-sampai kata Anda,Saudara, kau, kamu…. agar lebih nampak hebat diganti dengan kata bahasa Inggris “you”. Padahal apa gerangan rendahnya kata kau, anda, saudara dibandingkan dengan kata “you”? Paralel dengan pandangan dan sikap ini maka standar sastra Barat lalu dijadikan standar untuk mengukur sastra Indonesia. Berharap saja bahwa saya salah terlalu subyektif.
Jika kita sepakat mengembangkan sastra-seni kepulauan atau sastra-seni lokal, barangkanli slogan mademikian maka slogan yang lebih menjurus adalah “Kembang marakkan sastra-seni lokal”, “Kembang marakkan sastra-seni kepulauan”. Dengan mengembang-marakkan kita percaya dan bersandar pada kekuatan komunitas yang ada di berbagai tempat. Sedang saling dukung dengan wacana di atas adalah suatu keniscayaan sebagaimana diisyaratkan dalam acara Ode Kampung tentang arti penting jejaring komunitas literasi.
Kalau kita berbicara tentang arti penting jejaring, tersirat pula makna bahwa kita tidak boleh mengurung diri dalam satu tempurung kecil dengan predikat apa pun. Berkurung di dalam sebuah lingkaran sempit akan membuat kita bermata rabun. Kecupetan adalah sejenis penyakit trahum menjangkiti mata jiwa dan pikiran kita.
Titik mata acara lain yang menarik perhatian saya, dan saya anggap hakiki adalah soal pencantuman masalah “tanggung jawab penulis dalam gerakan sosial”. Titik ini menyiratkan bahwa Rumah Dunia melalui acara Ode Kampung ingin menyarankan kepada para penulis guna memikirkan masalah tanggungjawab sosial mereka sebagai anggota masyarakat. Saya membaca isyarat ini sebagai konsekweni nalar dari keinginan menggalakkan suatu gerakan literasi lokal sebagai basis pengembangan literasi nasional. Bahwa literasi, apalagi gerakan literasi itu bukanlah kegiatan narsistik. Apakah arti suatu gerakan jika ia bersifat narsistik? Jika bacaanku tentang isyarat dari Rumah Dunia ini, maka agaknya Rumah Dunia menginginkan gerakan literasi lokal yang ia impikan sebagai suatu gerakan literasi yang berpihak. Sebagai literasi engagé., dengan istilah mentereng ke-perancis-perancisnya agar gengsi meningkat di depan pembaca atau pendengar. You mengertikan?! Tapi saran yang tidak membatasi pilihan penulis lain.
Dari segi cara Rumah Dunia menyelenggarakan Ode Kampung, maka bukan mustahil jika Kongres Nasional komunitas seluruh Indonesiia, sebuah Kongres Kebudayaan dari bawah dan diselenggarakan oleh aktor-aktor budaya dari bawah secara bersama terselengggara. Dengan menuliskan baris-baris ini, saya sedang mengucapkan mimpi esok menyambut penyelenggaraan Ode Kampung ke-03 dengan segala harapan terbaik, menyambut mimpi Rumah Dunia dan janin mimpinya sebagai usaha mengejawantahkan republik dan Indonesia sebagai sebuah cita-cita dan program kebudayaan.
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
Diambil dari Jurnal Toddopulu (http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com), 27 November 2008
Posted by
Kantong Sastra
at
11:34 PM
0
comments
Bahasa dan Sastra di Kalimantan Tengah serta Permasalahan-Permasalahannya
Oleh J.J. Kusni*
Abstrak
Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah mengalami krisis identitas bermula dari rasa rendah diri sebagai hasil politik ragi usang Belanda, dan dilanjutkan dengan dampak negatif yang lebih besar lagi oleh Orde Baru selama tiga dasawarsa. Rasa rendah diri kolektif dan krisis identitas ini terwujud antara lain dengan penggunaan bahasa Banjar hingga ke kalangan keluarga sebagai entitas terkecil masyarakat. Adanya krisis identitas dan rendah diri, menyebabkan perhatian terhadap bahasa sendiri makin kurang dan terus-menerus melemah. Akibatnya terjadi marjinalisasi budaya sukarela. Jika keadaan begini dibiarkan berlanjut terus-menerus maka bahaya pemusnahan dan bunuh diri budaya secara kolektif oleh tidak adanya kesadaraan budaya menjadi ancaman nyata.Ketika terjadi pemusnahan budaya sukarela tak sadar begini, maka Dayak bisa tinggal hanya nama dan kata hampa makna.
Dunia sastra, baik yang berbahasa Indonesia mau pun yant berbahasa Dayak, nampak seperti kerakap di atas batu, mati segan hidup tak mau. Di kalangan para pendukung sastra ada semacam rasa ketergantungan pada uluran tangan pemerintah kurang semangat mandiri dalam berkesenian. Kekuatan potensial terpencar oleh tidak adanya organisasi yang mampu menghimpun mereka. Organisasi sangat tergantung pada tenaga lokomotif untuk bisa bergerak. Sementara Dewan Kesenian lumpuh, hanya ada namanya.
Sastra berbahasa Dayak, baik lisan atau pun tulisan juga terancam binasa.Kepunahan ini bisa dipercepat oleh tidak adanya kesadaran budaya di dua tingkat yaitu tingkat atas dari pengelola kekuasaan politik yang nampak dengan tidak memiliki politik kebudayaan yang jelas. Dari bawah yaitu di kalangan masyarakat yang larut oleh budaya pop tanpa memahami apa itu budaya pop yang melarutkannya.
Dalam keadaan demikian, maka Kalimantan Tengah termasuk salah satu provinsi yang paling terbelakang dalam bidang kebudayaan.
Kata Kunci : Nilai, Republik dan Indonesia, krisis identitas, rasa rendah diri, politik budaya, dua tingkat, kesadaran budaya, bunuh diri budaya secara kolekti, kemusnahan, Dayak tanpa makna .
1. Pengetengahan Masalah
Yang saya maksudkan dengan bahasa di sini, terutama yang bersangkutan dengan bahasa Dayak Ngaju, sebagai bahasa pengantar dan alat komunikasi antar sub etnik di Kalimantan Tengah (Kalteng). Hal ini perlu saya garisbawahi, karena di Kalteng sejajar dengan jumlah asal etnik warganya, seperti di mana pun, terdiri dari berbagai bahasa, di samping bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Jepang, Perancis, dan lain-lain, tidak saya masukkan kedalam permasalahan, karena jangankan ada karya-karya orang Kalteng yang berbahasa asing, yang berbahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Dayak pun jumlah dan tarafnya pun, dalam perbandingan dengan daerah-daerah masih jadi tanda tanya. Saya memang memandang penting penguasaan bahasa asing, terutama bagi ilmuwan dan sastrawan. Makin banyak bahasa asing yang kita kuasai, makin baik. Dengan menguasai aktif bahasa-bahasa asing kita bisa menimba dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan langsung dari bahasa aslinya. Menunggu penerjemahannya akan membuat kita menunggu beberapa tahun, sementara, ilmu pengetahuan berkembang cepat. Belum lagi terkadang ada kesalahan terjemahan dan perbedaan nuansa. Untuk tingkat sekarang memasukkan masalah bahasa asing dan sastra di Kalteng dalam bahasa-bahasa asing, terasa sebagai mengada-adakan persoalan.
Bahasa, tidak lain dari sarana yang digunakan untuk bersastra. Karena itu sastra bisa juga disebut sebagai seni berbahasa. Seni yang dilahirkan dengan menggunakan sarana bahasa. Sebaliknya karya sastra, pada gilirannya berperan meningkatkan, mendorong perkembangan maju bahasa, memperkaya dan menyempurnakan bahasa. Bukan merusak, memmubat mundur perkembangan bahasa, apalagi memusnahkannya. Dalam perbandingan dari segi jumlah pemakainya bahasa utama yang digunakan di Kalteng, agaknya terdiri dari tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Dayak Ngaju dan Banjar. Sedangkan bahasa Jawa, sekali pun jumlah warga dari Jawa yang datang melalui transmigrasi terancang dan spontan, makin bertambah, hanya bahasa ini, pemakaiannya nampak masih lebih banyak digunakan di kalangan warga asal etnik Jawa saja. Karena alasan demikian, maka dalam tulisan ini ketika memokuskan diri berbicara tentang bahasa Dayak Ngaju, tapi sepintas lalu disinggung juga saling hubungan, pengaruh-mempengaruhi dan susup-menyusup antara ketiga bahasa utama di Kalteng tersebut di atas. Juga ketika membicarakan masalah sastra di Kalteng.
Yang saya pahami ketika berbicara tentang sastra di Kalteng, adalah semua karya sastra dalam bahasa apa pun yang digunakan dalam bersastra di Kalteng. Bukan hanya karya-karya yang diciptakan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak Ngaju, tetapi juga yang menggunakan bahasa-bahasa sub etnik Dayak lainnya. Tapi sejauh ini dalam dunia sastra di propinsi ini karya-karya sastra dominan ditulis atau diciptakan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Dayak. Bahasa-bahasa lainnya, seperti Bugis, Batak, Madura, Jawa tidak atau belum nampak digunakan dalam bersastra. Ada memang seorang penulis yang mulai menulis dalam bahasa Jawa tetapi belum disiarkan, dan jumlahnya masih tidak penting. Karena itu, dalam tulisan ini, masalah sastra di Kalteng menjadi terbatas pada sastra yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Dayak. Saya masukkan juga dalam kategori sastra di Kalteng adalah sastra lisan dalam berbagai bahasa Dayak.
Alasan saya memasukkan sastra lisan, karena sastra jenis ini sangat mentradisi di Kalteng sampai sekarang, seperti diperlihatkan oleh sansana kayau, karungut, deder, legenda-legenda dan cerita-cerita rakyat.
Apa masalah bahasa dan sastra, dengan kata lain, bagaimana keadaan bahasa dan sastra di Kalteng, yang menjadi tema tulisan ini sesungguhnya tidak lain dari upaya membaca keadaan. Dari membaca keadaan tersebut, kita mengenal masalah, dan setelah mengenal permasalahan, kita bisa mengembangkan yang positif, serta mengatasi yang negatif atau kendala-kendala yang merintangi jalan maju. Dalam membaca keadaan, saya menggunakan sedikit pengalaman ketika turut bekerja dalam kegiatan sastra-seni selama berada di Kalteng hingga tahun 2002, ketika kembali ke Kalteng, saya mencoba berbincang langsung dengan teman-teman lama yang masih tinggal di Kalteng, dan teman-teman baru yang berkecimpung di dunia bahasa dan sastra. Mencermati penerbitan-penerbitan baik buku-buku, harian-harian seperti Dayak Pos, Kalteng Pos, Palangkaraya Pos, majalah, tabloid, Majalah Suar Betang, dan bulletin-buletin informasi alternatif, berbincang dengan orang-orang dari berbagai lembaga serta kalangan-kalangan terkait, termasuk para seniman baik yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat ekspresi mau bahasa-bahasa Dayak, dan memasuki toko-toko buku, kios-kios, mendatangi perpustakaan-perpustakaan daerah serta universitas, terutama Perpustakaan Universitas Negeri Palangka Raya untuk menakar tingkat bacaan di Kalteng. Sekali pun demikian, saya masih menganggap data-data saya masih terbatas, apalagi diganggu oleh tersebarnya dokumentasi saya oleh seringnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu tulisan ini tidak lebih dari upaya “melempar batu bata untuk mendapatkan giok belaka”, bersifat penuturan keadaan sebagai buah pengamatan, betapa pun masih tak lebih dari hasil penglihatan seseorang yang berada “di punggung kuda sambil melihat bunga”. Sebuah deskripsi keadaan dalam usaha membaca peta keadaan untuk mengenal masalah sebagai langkah awal utama guna menyelesaikan demi pengembangan, revitalisasi kehidupan sastra-seni di propinsi, melakukan kegiatan-kegiatan bersastra atas dasar suatu rancangan mengakar, bukan rancangan rekaan subyektif. Atas dasar pengenalan keadaan pulalah, barangkali, kemudian kita merumuskan suatu politik bahasa, politik sastra-seni atau secara umum, merumuskan suatu politik kebudayaan yang tanggap dan apresiatif untuk Kalteng sebagai pengejawantahan dari rangkaian nilai perekat berbangsa dan bernegara, yaitu rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan. Adakah politik kebudayaan tanggap di Kalteng? Jika ada, bagaimanakah jelasnya politik kebudayaan tersebut? Adakah dan bagaimanakah politik bahasa di Kalteng? Jika ada, bagaimana kongkretnya? Jika ada, bagaimana pengejawantahannya?
2. Republik dan Indonesia sebagai Bagan Besar (Grand Design)
Di Paris, pada jam 23:00 malam, Adian Silalahi dan Mohamad Ichsan, dua Duta Besar Republik Indonesia beserta sejumlah diplomat-diplomat teras lainnya dari Perancis dan Negeri Belanda secara khusus datang ke Koperasi Restoran Indonesia 1), 12 Rue Vaugirard, 75006 Paris. Mereka datang bukan untuk makan, tetapi untuk berdialog. Penulis kebetulan hadir dalam dialog akrab. Pada diskusi tersebut . Dubes Moh. Ichsan, antara lain mengemukakan evaluasinya bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan krisis, ketiadaan ide perekat untuk berbngsa dan bernegara. Menanggapi pendapat Moh. Ichsan demikian, saya katakana bahwa pandangan demikian barangkali tidak tepat. Kita sudah mempunyai ide perekat berbangsa dan bernegara. Masalahnya barangkali terletak pada diabaikannya, bahkan dipinggirkannya ide perekat itu, sehingga untuk suatu kurun waktu berdasawarsa, RI berobah dari repubublik menjadi suatu kerajaan neo-feodal tipe Mataram. Politik kebudayaan Jawanisasi berlangsung menggantikan Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai, program, cita-cita dan politik kebudayaan. Republik sebagai rangkaian nilai berisikan nilai-nilai kemerdekaan, kesetaraan dan persamaan (liberté, égalité et fraternité) 2)
Kita semua fasih menyebut Republik Indonesia (RI). Selain sebagai bentuk Negara, Republik Indonesia yang terdiri dari kata-kata Republik dan Indonesia, saya kira juga merupakan serangkaian nilai. Sedangkan Indonesia atau berkeindonesiaan mengandung penghormatan dan penjunjungan terhadap kemajemukan, pandangan yang ditandaskan dalam motto “bhinneka tunggal ika”. Indonesia dan berkeindonesiaan dengan demikian menentang pikiran tunggal (la pensée unique) dalam berbagai bentuk seperti otoritarianisme, diktaturialisme, paternalisme, primordialisme, feodalisme, neo-feodalisme, dan militerisme. Di segi lain berkindonesiaan juga mengandung makna bahwa bangsa kita menolak “besarisme”, baik ia dalam bentuk suku, agama atau aliran. Berkeindonesiaan berarti memandang bahwa kemajemukan itu suatu realita yang indah, sedangkan penyeragaman itu membawa kita ke jurang bahaya bertentangan dengan hakekat manusia. Saya melihat bahwa konsep ini pernah diwujudkan oleh sistem betang 3) terhadap warganya. Konsep budaya betang agaknya berbeda dengan sistem Negara kota zaman Yunani Kuno yang di Barat dipandang sebagai contoh serta janin demokrasi Barat sekarang. Bedanya, budaya rumah betang, tidak mengenal budak, sedangkan Negara Kota Yunani Kuno terdapat budak-budak dan budak tidak dipandang sebagai warganegara. Dalam konsep budaya rumah betang terdapat keserasian antara hubungan indidivu dengan kolektif betang.
Untuk waktu yang lama sebenarnya kita mentrapkan politik kebudayaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan, ketika kita berpatokan pada UUD 1945 yang antara lain mengatakan bahwa yang disebut kebudayaan Indonesia adalah “puncak-puncak kebudayaan daerah”. Siapakah yang mengukur budaya daerah ini dan itu adalah puncak atau tidak puncak? Apa standarnya? Yang sering terjadi adalah para penyelenggara Negara yang kebetulan banyak berasal dari suku mayoritas yaitu Jawa. Perumusan UU ’45 di atas memberi peluang untuk mengembangkan suku besarisme. NKRI yang ditafsirkan secara semena-mena sebagai sistem sentralistik dengan hasil-hasil negatifnya, saya kira juga bentuk lain dari pengingkaran terhadap nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan. Republik dan Indonesia adalah grand design bagi kita dalam hidup bernegeri, berbangsa dan bernegara.
Guna mewujudkan grand design (bagan besar) ini dalam bidang kebudayaan, termasuk dalam dunia sastra-seni, saya kira wacana sastra-seni kepulauan lebih rasuk daripada pemusatan nilai dan sentra-sentra legalitas kebudayaan. Tersebarnya universitas-universitas dan perguruan-perguruan tinggi di berbagai pulau, sebagai motor dan pendukung pengembangan kebudayaan, termasuk sastra-seni, syarat untuk mewujudkan dan mengembangkan sastra-seni kepulauan makin besar dan nyata. Di daerah-daerah dan pulau-pulau tumbuh komunitas-komunitas sastra-seni. Menurut perkiraan Gola Gong, tokoh utama dari Komunitas Sastra-Seni « Rumah Dunia » Serang, Banten, sampai tahun lalu, di Indonesia paling tidak terdapat 7000 komunitas sastra-seni. Berbagai pertemuan tukar pengalaman antar komunitas ini telah berlangsung di Kudus, Jambi,Yogyakarta, Lampung, Serang. Yang paling peting dari pertemuan demikian adalah pertemuan « Ode Kampung » yang berlangsung di Serang saban tahun, pada kesematan mana berkumpul ratusan komunitas dari berbagai penjuru tanahair. 4) Adanya komunitas-komuitas begini secara nyata melakukan desentralisasi kegiatan kebudayaan dan desentralisasi nilai sekaligus. Jakarta, Yogya, Bandung tidak lagi dipandang sebagai standar nilai. Sayangnya dalam pertemuan-pertemuan antar komunitas sastra-seni demikian, sampai sekarang tidak pernah terdengar adanya wakil dari Kalteng, keadaan yang barangkali memperlihatkan tingkat kegiatan sastra-seni di provinsi ke-17 ini. Mengapa kegiatan sastra-seni di Kalteng nampak lesu? Bahkan dari Majalah Suar Betang, Palangka Raya, Jurnal Kebahasaan, Kesastraan, dan Pengajarannya, terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, penulis-penulis asal etnik Dayak yang mengisinya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Masalah yang diangkat oleh Majalah juga nampak asing dari permasalahan lokal. Pertanyaan saya, diapakan dan di kemanakan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Bahasa? Mengapa tidak disiarkan di Majalah Suar Betang, sehingga sesuai namanya “Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah”, majalah mencerminkan sedikit banyak permasalahan lokal. Tidak hanya namanya saja Majalah terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah tapi masalah Kalimantan Tengah dan Suar Betang hanya dijadikan papan nama. Persentase isi nomor-nomor yang saya baca 5), lebih banyak bersifat umum nasional daripada mengangkat permasalahan daerah. Apa bagaimana dan mau ke mana majalah ini dan Balai Bahasa Kalteng? Apa bagaimana politik kebudayaan dan bahasa yang dipegangnya? Di mana tempat Kalteng? Apakah Balai Bahasa tidak menganggap ada masalah dalam bahasa di Kalteng? Apakah benar bahwa di Kalimantan Tengah, tidak terdapat masalah dalam bahasa-bahasa yang perlu diselesaikan? Saya khawatir bahwa dalam bidang kebudayaan, bahasa dan sastra pun di Kalteng terjadi yang dikatakan oleh tetua Dayak bahwa “tempun petak batana saré, tempun uyah batawah belai, tempun kajang bisa puat” (punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa, punya atap basah muatan). Kemalangan bernama marjinalisasi begini hanya teratasi dengan politik budaya yang republiken dan berkeindonesiaan, sementara politik kebudayaan yang jelas tidak saya lihat di provinsi ini. Sastra-seni pun mengalami kehidupan seperti kerakap di atas batu, mati segan hidup tak mau, jika menggunakan istilah Aliemha Huda, seorang seniman teater Kalteng.
1. Apa yang kita dialogkan jika seragam. “Kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal”, ujar filosof Perancis, Paul Ricoeur. Dan “kebudayaan lokal merupakan bahasa untuk berdialog dengan budaya lain di dunia”, tambah filosof tersebut yang meninggal pada bulan Mei 2008 lalu di Paris.
Apabila Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 32 menyebutkan bahwa “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional” maka sastra daerah yang menggunakan bahasa daerah pun merupakan bagian dari khazanah kebudayaan nasional, tidak perduli, apakah karya-karya tersebut “puncak” atau tidak puncak. Kalau demikian maka sebagai konsekwensi logis dari ketetapan Undang-undang Dasar di atas adalah suatu kewajiban juga bagi pemerintah daerah, cq. Balai Bahasa, Dinas Kebudayaan dan dinas-dinas terkait, termasuk Walikota, serta berbagai lembaga kemasyarakatan lainnya untuk mengembangkan bahasa-bahasa Dayak dan kebudayaan, sastra-seni Dayak.
3. Masalah Bahasa di Kalimantan Tengah
Sejak pertama kali saya kembali ke Kalimantan Tengah pada tahun 1998, setelah meninggalkannya pada usia 11 tahun, saya kaget mendapatkan bahwa tidak sedikit keluarga Dayak yang berbahasa dengan anak-anaknya dalam bahasa Banjar. Demikian juga anak-anak muda muda Dayak berbicara sesamanya tidak menggunakan bahasa Dayak Ngaju, bahasa pengantar umum di kalangan orang Dayak di Kalimantan Tengah, tapi lagi-lagi menggunakan bahasa Banjar. Bahasa Banjar seakan-akan bahasa ibunya. Ketika saya pulang tahun 2009 ini, keadaan demikian masih saja berlangsung. Bahkan menurut keterangan Rolan Iso, salah seorang pemimpin organisasi mahasiswa Katolik yang meluangkan waktu menjumpai saya di Wisma Edelweis Jalan Yos Sudarso 95, Palangka Raya, mengatakan ada anak Dayak yang sama sekali tidak bisa beebahasa Dayak karena di rumahnya anak tersebut tidak diajarkan berbahasa Dayak. Oleh kenyataan demikian, paman Rolan dengan marah berkata: “Kalian ini hanya mengaku Dayak jika menginginkan jabatan, padahal sesungguhnya dalam perbuatan kalian telah mengkhianati Dayak, mengingkari diri kalian sebagai orang Dayak”. Jauh sebelum 1992, di tahun mana Kongres Nasional Dayak dilangsungkan di Pontianak, tidak sedikit orang Dayak yang malu bahkan tidak mau mengaku diri orang Dayak. Menanggapi sikap begini, maka untuk mengakhiri polemik panjang bertahun-tahun tentang kata Dayak atau Daya, atau Dyak, guna menamakan komunitas masyarakat yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Kongres sepakat memutuskan untuk menerima dan selanjutnya menggunakan kata Dayak, walau pun Belanda sejak lebih seabad lamanya menyebut manusia Dayak sebagai Dajakers berarti segala kejahatan dan keburukan. Pemburukan orang Dayak oleh Belanda dilakukan sebagai bentuk agresi kebudayaan bersamaan dengan pelaksanaan politik budaya ragi usang 6)-nya. Setelah melihat bahwa agresi kebudayaannya tidak sepenuhnya berhasil, kemudian Belanda melancarkan agresi bersenjata atau fisik, dikonsolidasi dengan pendidikan dengan mengutamakan sub-suku tertentu sehingga sub-sub suku tertentu ini merasakan diri sebagai “bangsawan Dayak”. Dalam perang gerilya di Kalimantan “bangsawan Dayak” atau elit baru Dayak ini, umumnya menjadi kolaborator Belanda seperti yang terjadi di Kasongan, sekarang ibukota kabupaten Katingan.
Dengan alasan menjaga “kesatuan dan persatuan” bangsa dan negara sesuai konsep sentralistik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), konsep Manusia Baru Indonesia, dan Manusia Pancasilais, melawan SARA, Orde Baru melanjutkan politik rgi usang dengan lebih keras sejalan dengan pendekatan “keamanan dan stabilitas nasional”, dan Golkarisasi, dengan hasil merusak lebih dahsyat. Struktur dan lembaga-lembaga Masyarakat Adat Dayak dirusak. Lembaga Damang digolkarkan.
Dampak dari agresi budaya dan politik ragi usang ini menumbuhkan rasa rendah diri, seperti malu dan tidak mau mengaku Dayak di tengah pergaulan umum. Rasa rendah diri.
Melalui keputusan di atas, Kongres mengobah kata yang berkonotasi buruk dengan mengisinya dengan kualitas baru sehingga mengobah makna kata Dayak yang semula. Mengobah yang negatif menjadi positif sebagai salah satu sisi dari hal ikhwal. Tapi agaknya keputusan Kongres tidak serta-merta mengakhiri rasa rendah diri tersebut, sampai-sampai dalam keluarga, entitas terkecil masyarakat, bahasa yang digunakan bukanlah bahasa Dayak, tetapi bahasa Banjar. Bahasa Banjar dijadikan sebagai jubah pembungkus rasa rendah diri saja.
Seriusnya gejala begini sampai menarik perhatian Gereja Kalimantan Evangelis hingga pada 10 Mei 2009 yang lalu, secara khusus menyelenggarakan seminar sehari membahas masalah ini.7) . Dalam makalahnya Pendeta Tawar Soewardji, M.Th. 8), antara lain menulis:
“Sekarang memang terjadi pergeseran, khususnya di daerah perkotaan.
1. Di lingkungan gereja. Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa liturgis, porsinya semakin kecil. Dalam ibadah mnggu dengan bahasa daerah (Ngaju dan Maayan) yang hadir rata-rata sedikit jika dibandingkan dalam ibadah bahasa Indonesia. Biasanya kebanyakan yang hadir kaum tua. Kenapa? Sebabnya antara lain: (1). Sebagian besar warga jemaat terbiasa beribadah dalam bahasa Indonesia. (2). Kaum muda tidak terlalu memahamibahasa daerah secara mendalam. Sehingga ada istilah-istilah dalam bahasa daerah yang tidak dipahami dengan baik. (3). Anak-anak, remaja, pemuda, sejak Sekolah Minggu, kelas katekasi serta kegiatan remaja dan pemuda, bahasa pengantarnya adalah bahasa Indonesiaa. (4). Para pendeta (khususnya angkatan muda) sebagian besar masih kurang pengalaman dalam memimpin ibadah bahasa daerah.
2. Dalam lingkut keluarga. Tidak semua keluarga menggunakan bahasa daerah secara intens dalam berkomunikasi di lingkup keluarga. Bahasa Banjar atau bahasa Indonesia secara umum dipergunakan.
3. Bahasa pergaulan (di sekolah) dan bahasa “pasar”, cenderung menggunakan bahasa Banjar”.
Berdasarkan pengamatan demikian maka Pendeta Tawar Soewardji, berkesimpulan bahwa “… ada indikasi menurunnya penggunaan bahasa daerah di lingkup perkotaan”.
Keadaan demikian juga dilihat oleh Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) sehingga dalam Rencana Tindak Lanjut Program Kerja Majelis Adat Nasional Tahun 2008-2010, Hasil Rakernas IMADN tanggal 26-29 Mei 2008 di Palangka Raya, dalam “Bidang Seni Budaya”, titik 28 dituliskan dengan tandas agar:
“Mewajibkan penggunaan bahasa Dayak di lingkungan keluarga Dayak, untuk melestarikan kekayaan budaya Dayak sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia” 9), sedangkan di bidang pendidikan, titik 46, MADN berpendirian perlu:
“Mendesak Pemerintah dan Pemerintah Daerah agar muatan lokal tentang seni budaya, adat-istiadat dan hukum adat Dayak mulai tingkat SD,SLTP hingga SLTA diterapkan di seluruh wilayah Pulau Kalimantan”. 10)
Gejala ini pun agaknya dilihat oleh pihak Dinas Kebudayaan yang ketika berbicara di peluncuran buku “The Ot Danum From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan (Based On Tatum) Their Histories And Legends” tulisan Abdul Fatah Nahan dan Duhing Dihit Rampai (bentuk fotokopie , 38 cerita), 27 April 2009 dalam rangka merayakan Hari Bumi di Palma, antara lain mengatakan tentang “kemerosotan nilai-nilai Dayak”. 11)
Terhadap gejala ini, salah seorang tokoh cendekiawan dan masyarakat Dayak di Palangka Raya, menjawab pertanyaan saya menjelaskan bahwa “keadaan demikian terjadi karena bahasa Banjar adalah bahasa elit”. Artinya bahasa-bahasa Dayak tidak elit. Bahasa-bahasa rendahan atau kaum rendahan. Sayangnya, “tokoh” cendekiawan dan masyarakat ini tidak menjelaskan di mana letak elitnya bahasa Banjar dan di mana tidak elitnya bahasa Dayak.
Tuturan di atas barangkali bisa memperlihatkan masalah yang dihadapi oleh bahasa-bahasa Dayak. Jika tidak awas, bukan tidak mungkin bahwa cepat atau lambat bahasa-bahasa Dayak itu akan melenyap. Keadaan di atas pula memperlihatkan bahwa komunitas Dayak masih dan terus-menerus menghadapi masalah identitas. Makin melemahnya posisi bahasa Dayak Ngaju hanyalah merupakan satu indikasi penting sebelum ramalan antropolog Barat tentang melenyapnya suku Dayak menjadi kenyataan. Lemahnya identitas manusia Dayak begini, saya kira, disebabkan karena pandangan dan sikap orang Dayak sendiri, sehingga jika kemudian pelenyapan maka ia bisa dikatakan sebagai sikap bunuh diri budaya. Orang Dayak tidak bisa menghargai khazanah budaya sendiri dan diri sendiri. Dengan mempertahankan pandangan dan sikap begini, orang Dayak meminggirkan diri sendiri dan secara sukarela mengasingkan diri dari Tanah Dayak. Bersamaan dengan gejala bunuh diri dan pengasingan diri sukarela ini, saya juga melihat larutnya masyarakat Dayak ke pusaran budaya pop.12)
Ancaman begini, saya ingin hadapkan dengan apa yang ditulis oleh Dr. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, dalam Suar Betang:
“Di sisi lain, pemeliharaan bahasa daerah meliputi upaya perlindungan bahasa daerah dari kepunahannya agar tetap eksis dalam kehidupan penuturnya. Perlindungan itu dilakukan antara lain melalui revitalisasi kedudukan dan fungsi bahasa, termasuk aksara, dan sastra daerah dalam ranah-ranah penggunaannya di dalam masyarakat pendukungnya”. 13)
Yang ingin saya garis bawahi dari kalimat-kalimat Dr. Dendy Sugono di atas adalah sinyalemennya tentang bahaya « kepunahan” sebuah bahasa, yang memang banyak terjadi di dunia. Apalagi, sejauh ini saya tidak melihat upaya kongkret dari lembaga ini dan itu untuk mencegah “kepunahan” bahasa-bahasa Dayak. Di tengah ancaman “kepunahan” ini, saya girang menyaksikan prakarsa Anthony Nyahu, seorang linguist muda usia asal Katingan untuk menerbitkan Buletin Tamuei dalam bahasa Dayak Ngaju. Buletin Tamuei, betapa pun sederhananya merupakan penerbitan pertama yang sepenuhnya menggunakan bahasa Dayak Ngaju. Barangkali sambutan terhadap Buletin Tamuei ini bisa dijadikan barometer kesadaran berbudaya orang Dayak, gantang penakar sejauh mana orang Dayak bisa menghargai budaya, bahasa dan diri mereka sendiri. Saya berharap,mudah-mudahan Buletin Tamuei bisa mendorong tumbuh berkembangnya penulis-penulis berbahasa Dayak dan memberikan sumbangan dalam penyediaan muatan lokal untuk sekolah-sekolah. Tentang bahan-bahan untuk muatan lokal ini, sampai sekarang agaknya lebih banyak isi dari suatu keputusan rapat kerja, konfrensi dan kongres, tapi tidak diikuti dengan tindak lanjut yang nyata, sehingga keputusan-keputusan dan resolusi-resolusi tinggal jadi huruf-huruf mati di kertas-kertas yang kian menguning oleh perjalanan waktu.
Apabila Dr. Dendy Sugono mengatakan bahwa “Pusat Bahasa telah melakukan sekitar 2500 penelitian berbagai aspek kebahasaan dan kesastraan sejak tahun 1974”, 14) yang berarti rata telah melakukan sekitar 17-18 penelitian setiap tahun atau kurang lebih satu penelitian saban bulan (apakah dilihat dari skala nasional jumlah ini cukup berarti?), yang saya tanyakan “diapakan dan di kemanakan hasil penelitian itu, termasuk hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Kalimantan Tengah? Mengapa hasil penelitian itu tidak dijadikan milik masyarakat dengan menerbitkannya secara luas, paling tidak disiarkan melalui Suar Betang?”. Apakah usaha mencegah ancaman kepunahan terhadap sebuah bahasa bisa ditangani oleh Balai Bahasa sendiri? Ataukah riset dilakukan untuk riset saja, tidak dikerjakan dengan pendirian seorang cendekiawan organik?
Berbicara soal kepunahan sebuah bahasa, serta-merta saya teringat akan bagaimana orang Perancis memelihara, mengembangkan dan menyempurnakan bahasa mereka. Saya teringat akan Bernard Pivot yang mengatakan bahwa sebuah kata setara dengan sebatang pohon di hutan yang kelestariannya perlu dijaga. Saya teringat akan kuis-kuis dalam berbagai bentuk dan acara, dimanfaatkan sekaligus untuk mememelihara dan mengembangkan bahasa. Bagaimana kemudian setiap tahun l’Académie Française, lembaga pengembangan bahasa, memasukkan kata-kata baru dalam Kamus Robert yang merupakan kamus standar. Bagaimana koran-koran, radio dan televisi turut urun yuran melakukannya. Teringat juga bagaimana politik bahasa di zaman Soekarno yang memandang penting peran bahasa daerah dalam pengembangan dan penyempurnaan serta pemerkayaan bahasa Indonesia. Bahasa daerah dan bahasa Indonesia, dilihat mempunyai hubungan saling mendekat dan mengisi. Bahasa gado-gado belum berkembang. Ada usaha untuk mendemokratisasikan bahasa Indonesia. Dengan ingatan-ingatan tersebut saya memandang perkembangan bahasa Indonesia dan daerah sekarang dengan perasaan berdebar. Akankah bahasa Dayak Ngaju punah, akankah bahasa Katingan melenyap oleh pola pikir dan mentalitas kita sendiri? Bahasa adalah alat berpikir dan mengembangkan diri. Dari kemampuan berbahasa juga kita bisa melihat tingkat kesadaran berbahasa dan tingkat pemikiran seseorang.
4. Masalah Sastra di Kalimantan Tengah
Seperti saya katakan di atas, dalam titik ini saya membatasi diri pada sastra yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak, terutama Dayak Ngaju.
Beberapa nama yang aktif dalam dunia sastra yang menggunakan bahasa Indonesia adalah Aliemha Huda (pimpinan Komunitas Terapung), Davy, M. Anwar MH., Supardi, Pudji Santosa,Munir. Mereka adalah penulis-penulis asal Jawa yang menetap di Kalimantan Tengah. Sedangkan penulis-penulis asal Dayak sendiri antara lain Ben Abel, Sandy Firly kelahiran Kuala Pambuang, Sungai Seruyan, Jeanyta Addiststy, Ranny Djandam, Marko Mahin, Anthony Nyahu, Nila Riwut. Salawati Taher, Danar, Anse Srineni, Ambu Naptamis, Titin, Abdul Fatah Nahan, During Dihit Rampai, Kurnia Untel. Sedangkan dari angkatan lebih tua terdapat nama-nama seperti Tjilik Riwut, T.T. Suan, Prof. K.M.A.Usop, dan lain-lain. Kalau pengamatan saya tidak salah, agaknya antara generasi yang lebih tua dengan generasi yang sekarang, seakan-akan terdapat suatu hubungan terputus. Barangkali karena syarat mereka lahir dan membesar sudah sangat berbeda. Angkatan yang lebih tua, lahir dan besar di masa perjuangan melawan penjajahan, sedangkan generasi yang tumbuh belakangan hidup di saat Kalimantan Tengah sudah berdiri. Generasi yang belakangan, pada umumnya berkesempatan mengenyam pendidikan yang teratur, sedangkan yang terdahulu bersandar pada otodidak. Keterputusan ini pun barangkali terdapat pada wacana. Perbedaan latar belakang begini mempunyai pengaruh terhadap karya-karya mereka. Keterputusan ini terdapat lebih besar lagi dengan sastrawan-sastrawan yang berasal dari luar Kalimantan Tengah, terutama yang dari Jawa. Mereka asyik dengan kegiatan mencipta mereka dalam bahasa Indonesia. Sekali pun mereka berbicara tentang Kalimantan Tengah, tapi terasa mereka kurang menghayati permasalahan di Kalimantan Tengah di mana mereka berkeputusan untuk menetap. Bisa dimengerti jika mereka menulis tentang Kalimantan tetapi dengan pola pikiran dan perasaan Jawa di mana mereka dilahirkan dan melampaui periode pembentukan diri mereka sebagai manusia. Barangkali karena itu pula maka antara seniman-seniman asal luar Kalimantan Tengah dan yang Dayak, sampai sekarang nampak sulit untuk terjalinnya komunikasi serta kerjasama walau pun mereka sama-sama bergerak di satu bidang, yaitu bidang sastra. Dahulu, sekitar tahun 2000an terdapat seorang bernama Andi Burhanudin, penyair dan novelis dalam bahasa Indonesia, asal Bugis. Andi sangat aktif dan gesit. Berjasa dalam turut menggerakkan kegiatan sastra berbahasa Indonesia di Kalimantan Tengah pada saat ia bekerja di Kalimantan Tengah. Tapi seperti penulis-penulis lain asal luar Kalimantan Tengah, sekali pun ia menulis tentang Kalimantan Tengah, tapi seakan jauh dari Kalimantan Tengah. Jiwa masalah Kalimantan tetap tidak ia resapi. Saya bertanya-tanya, sekian tahun mereka di Kalimantan Tengah, berapa banyak mereka yang bisa berbahasa Dayak Ngaju tanda minat untuk berbaur dengan masyarakat lokal. Saya juga tidak tahu, apakah hal ini disebabkan karena kekurangan perhatian mereka terhadap politik dan memandang bersastra tidak perlu tahu politik, apakah karena mereka masih belum jauh membaur, maka penghayatan mereka jadi minim? Berada lama, betapapun lamanya, tidak menjamin seseorang mengenal jiwa tempat di mana kita tinggal. Andaikan pembauran ini terjadi, para seniman itu akan mendapatkan betapa dengan pembauran itu mereka mendapatkan sumber ilham berkreasi yang kaya raya. Betapa pun mereka, tetap merupakan tenaga-tenaga potensial guna memarakkan kehidupan bersastra di Kalimantan Tengah. Jika penulis-penulis berbahasa Indonesia berasal Dayak bisa bekerja bersama-sama dengan sastrawan-sastrawan non Dayak, saya kira akan menjadi suatu melahirkan kekuatan berarti dalam mengembangkan sastra berbahasa Indonesia di provinsi ini. Menghimpun semua potensi ini, saya kira merupakan satu persoalan yang patut dilakukan.
Dalam hal pembauran ini, jalan yang ditempuh oleh Eddi Bika, seorang pekerja filem asal Malang, Jawa Timur lain lagi. Ia tidak tinggal di Palangka Raya, tapi di sebuah desa, jauh di hulu Katingan, di Kecamatan Pulau Malan. Ia langsung menceburkan diri ke tengah-tengah petani desa Tura yang telah diabadikannya dalam sebuah filem dokumenter berjudul « Petak Danom Itah » (Tanah Air Kita), berdasarkan konsep « rakyat membuat filem tentang diri mereka sendiri ». Jalan begini, baru pertama kali ditempuh oleh mereka yang berasal dari Jawa atau dari daerah-daerah lainnya di luar Kalimantan Tengah. Saya percaya, dari tangan Eddi Bika kelak kemudian bukan saja akan lahir karya-karya filem baru, tetapi juga puisi, esai, cerpen bahkan novel yang menarik. Eddi Bika dan keluarganya terjun ke sumber kreasi yang penuh kemungkinan.
Dalam usaha menjembatani jarak antara seniman-seniman Dayak dan non Dayak, pada masa pemerintahan Gubernur Wasito, disponsori oleh Dinas Parawisata, sekitar tahun 199an telah dicoba membangun Dewan Kesenian Palangka Raya, dengan Ketua Umum JJ.Kusni. Di Dewan Kesenian Kalimantan Tengah ini semua seniman dari semua etnik berhimpun. Melalui kerja keras, program rinci selesai dikerjakan. Oleh Gubernur Wasito, hasil rapat dan diskusi berminggu-minggu dianulir dengan “mengangkat” JJ. Kusni sebagai penasehat diganti oleh M.Anwar MH. Dewan Kesenian lumpuh. Setelah itu, untuk mengatasi kelumpuhan Dewan Kesenian, atas prakarsa para seniman dari berbagai asal etnik membangun Ikatan Sastrawan Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah dengan JJ.Kusni didaulat untuk menjadi Ketua Umumnya, dan Salundik Gohong, walikota Palangka Raya pada waktu itu sebagai penasehat . Kegiatan sastra berbahasa menunjukan geliatnya. Radio, televisi, koran-koran, diisi secara teratur oleh anggota-anggota ISASI. Peluncuran buku, pembacaan puisi dilakukan. Diskusi berkala berlangsung di kantor ISASI yang menggunakan sebuah KONI di dekat Bundaran Besar. Majalah Dermaga organ ISASI yang memuat karya-karya para anggota ISASI terbit dengan teratur. Beberapa kumpulan puisi berhasil diterbitkan. Aliemha Huda menyebut periode ini sebagai “masa keemasan” sastra berbahasa Indonesia di Kalimantan Tengah.
Di luar dugaan, JJ. Kusni oleh penguasa tertentu di Palangka Raya dilarang menduduki tempat Ketua Umum. Sebagai protes, para seniman yang tergabung di ISASI, baik yang Dayak atau pun non Dayak, membiarkan jabatan Ketua Umum kosong. JJ.Kusni dan beberapa teman pengurus inti ISASI oleh satu dan lain sebab meninggalkan Kalimantan Tengah. Supardi yang dipilih sebagai Ketua Umum ISASI terlalu sibuk. ISASI tak obah kandil redup sampai sekarang. Dewan Kesenian pun hanya tinggal nama dengan deretan pengurusnya, kosong kegiatan.
Dalam diskusi tentang Sastra Bahasa Indonesia di Kalimantan Tengah bertempat di rumah M. Anwar MH, 11 Mei 2009, Makmur Anwar MH mengatakan bahwa pasang-surutnya kegiatan bersastra di Kalimantan Tengah banyak tergantung pada perhatian penguasa pada suatu waktu. Jika petinggi daerah mempunyai perhatian pada sasatra-seni maka kegiatan berkesenian akan marak. Sedangkan bank-bank semegah apa pun gedungnya di Palangka Raya, tidak bisa diharapkan uluran tangan mereka.
Saya tidak menyanggah peran petinggi daerah dan bank-bank dalam memarakkan kegiatan berkesenian di Palangka Raya. Tapi di atas segalanya saya menitikan faktor dalam para seniman. Agaknya sekarang mereka menjadi kekuatan yang terpencar, tidak terhimpun. Asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Perhatian dan uluran tangan petinggi dan bank-bank adalah faktor luar. Jika bersandar pada faktor luar ini, tanpa usaha mandiri dan bersastra secara mandiri, maka kehidupan sastra akan naik turun tak menentu karena tergantung pada unsur luar. Yang paling penting, saya kira tetap terletak pada upaya para seniman sendiri, sebagai faktor intern. Tanpa bersandar pada faktor intern kegiatan bersastra tidak bakal ajeg. Untuk mempertahankan keajegan ini, agaknya diperlukan organisator dan motor atau lokomotif. Apabila setelah beberapa tenaga inti ISASI meninggalkan Kalimantan Tengah atau Palangka Raya, ISASI lalu lumpuh, agaknya tenaga-tenaga tersebut sekaligus merupakan motor ISASI. Kegiatan bersastra di Kalimantan Timur pun jadi menggeliat setelah kepulangan Korrie Layun Rampan. Korrie agaknya tampil sebagai motor kegiatan bersastra di Kalimantan Timur. Di Makassar, peran lokomotif ini dimainkan oleh Komunitas Panyingkul (bahasa Bugis, berarti Persimpangan).
Dari segi lain, apa yang diucapkan oleh Makmur Anwar MH, yang menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Kalimantan Tengah sekarang (yang melempem), bisa dibaca sebagai kritik ke alamat pemerintah yang kurang perhatian terhadap masalah sastra-seni. Palangka Raya, Kota Cantik, kota kering jiwa, tanpa kepekaan terhadap kesenian, riuh gemuruh budaya pop. Ketidakpekaan budaya ini dan tidak adanya politik budaya yang jelas di berbagai tingkat administrasi, terbaca dari sandung di Pahandut dijual sekitar 4 miliar, sapundu-sapundu di Katingan banyak digergaji dan dijual, cagar budaya dibiarkan menyemak.
5. Sastra Berbahasa Dayak
Sastra berbahasa Dayak terdiri dari dua komponen. Satu, sastra yang tertulis dan kedua, sastra lisan. Bentuk-bentuknya yang terutama berbentuk karungut, deder dan sansana kayau. Sastra yang ditulis dalam bahasa Dayak sungguh sangat sedikit. Di tahun 1999, saya pernah mendapatkan kumpulan-kumpulan karungut. Pada masa Salundik Gohong menjadi Walikota Palangka Raya, entah dalam pertemuan resmi atau tidak resmi, ia selalu mementaskan karungut atau deder disertai dengan manasai (sejenis tari massal). Ketika datang kali ini, saya menyaksikan banyaknya kaset-kaset karungut beredar di pasar. Karya tulis dalam bahasa Dayak, sekarang, hanya bisa didapat di sebuah kolom kecil Harian Dayak Pos, Palangka Raya. Kolom kecil ini hadir dengan setia setiap hari mengunjungi pembacanya. Beberapa penulis karungut yang bisa saya ingat adalah Saer Sua (sekarang tinggal di betangnya di Tumbang Manggu, hulu Katingan), Nyalun Menteng dengan betang mungilnya di KM 27 Palangka Raya. Barangkali larya-karya berbahasa Dayak akan banyak muncul setelah terbitnya Buletin Tamuei yang menggunakan bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa pengantarnya. Sampai sekarang, penulis-penulis asal Dayak yang berkarya dalam bahasa Indonesia, jauh lebih berarti dibandingkan yang menulis dalam bahasa Dayak. Nila Riwut dengan karya tulis terakhirnya berupa Kamus Dayak-Indonesia,, Sandy Firly, cerpenis, Marko Mahin, esais, Anthony Nyahu merupakan nama-nama penulis yang paling produktif.
Sastra lisan berbahasa Dayak, jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang tertulis, terutama yang berbentuk sansana kayau. Sansana kayau, puisi lisan, sangat populer di Katingan. Sejauh pengetahuan saya, karya-karya lisan begini, sampai sekarang belum terekam dan terdokumentasi. Dinan adalah seorang pensansana tergolong baik di Kasongan. Sayang dan sayang, angkatan muda makin tak acuh pada sansana. Sansana makin ditenggelamkan oleh dangdut. Pengguna dan pencipta sansana terutama angkatan tua. Saya membayangkan, seandainya sansana kayau pun menjadi salah satu isi dari muatan lokal, khususnya untuk kabupaten Katingan, di mana puisi lisan ini paling hidup sampai sekarang. Kalau ada acara “Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab” diberlakukan untuk sastra berbahasa Indonesia, mengapa acara dan kegiatan serupa dalam skala terbatas diberlakukan juga untuk sastra berbahasa Dayak, baik yang tertulis, maupun yang lisan? Saya membayangkan diri sedang mendengarkan karungut diiringi suling balawung dan kecapi atau sansana kayau ditingkahi suling balawung, kangkanong dan gong. Apabila tidak ada usaha sadar dari pemerintah, barangkali dalam waktu yang tak lama sastra lisan dalam berbagai bentuk akan melenyap. Musnah.Tidak lagi terdengar gaung gemanya di sepanjang tebing sungai mendaki tangga tepian. Kemusnahan budaya merupakan ancaman nyata di Tanah Dayak Kalimantan Tengah.
6. Kesimpulan
Jika pengamatan saya benar, maka dalam bersastra dan berkesenian umumnya, Kalimantan Tengah termasuk salah satu provinsi yang tertinggal. Komunitas-komunitas kesenian yang ada masih sangat lemah, tidak berdaya, masih menggantungkan diri pada uluran tangan pemerintah. Sementara itu pemegang kekuasaan lokal tidak mempunyai politik kebudayaan yang jelas. Tidak ada organisasi kesenian yang mampu menghimpun potensi-potensi yang dimiliki oleh provinsi. Bidang kebudayaan termasuk bidang yang dianaktirikan. Jika ketiadaan perhatian begini berlarut maka kebudayaan Dayak yang sekarang secara nyata berada di ujung pisau kemusnahan menjadi benar-benar punah. Yang tertinggal hanya nama dan kata Dayak tanpa isi dan makna. Kemusnahan budaya ini lebih disebabkan karena kekurangan kesadaran budaya sehingga merupakan suatu bunuh diri budaya oleh kesukarelaan tak sadar, larut dalam budaya pop yang menyilaukan, juga karena ketidakpahaman. Lebih celaka lagi jika ketidakpahaman ini berlangsung di tingkat atas dan bawah. Di Tingkat atas adalah di kalangan pengelola kekuasaan politik daerah, dan di tingkat bawah yaitu di kalangan masyarakat. Ketidak pahaman dan ketidaksadaran di dua tingkat begini akan mempercepat proses pemusnahan budaya.
Palangka Raya, Mei 2009
——————————
* J.J. Kusni, lahir di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah, pengelana lima benua, pernah belajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, New South Wales University, Sydney, Australia, L’Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (L’EHESS –sempalan dari Universitas Sorbonne), Paris, Perancis, menjadi pengajar di berbagai universitas dalam dan luarnegeri, menjadi pemakalah dan pembicara dalam seminar-seminar lokal, nasional dan internasional.
1) Koperasi Restoran Indonesia SCOP Fraternité, sebuah badan usaha sekaligus Pusat Kebudayaan Indonesia di Paris, Perancis yang didirikan 27 tahun lalu oleh sejumlah suaka politik Indonesia. Para pendiri dan pekerjanya terdiri dari para cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu, yang terhalang pulang.Dalam buku tamu Koperasi, diplomat-diplomat itu kemudian melukiskan Koperasi ini sebagai “Duta bangsa yang telah berjasa dalam memperkenalkan Indonesia dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Perancis, Eropa Barat dan dunia”.
2) Rangkaian nilai yang dilahirkan oleh Revolusi Perancis pada 14 Juli 1789 yang mempunyai nilai universal. Nilai ini mengingatkan saya pada konsep rumah betang manusia Dayak dan pandangan hidup-mati manusia Dayak yang terungkap dalam sastra lisan, khususnya sansana kayau Uluh Katingan: “rengan tingang nyanak jata (anak enggang putera-puteri naga).
3) Paralelisme antara Republik dan Indonesia dengan konsep budaya betang ini pernah saya ajukan dalam wawancara dengan Radio Hilversum pada 17 Agustus 2006.
4) Keterangan mengenai Pertemuan Ode Kampung dan Rumah Dunia, bisa dilacak di google dan berbagai milis nasional dan internastional atau website Rumah Dunia.
5) Majalah Suar Betang yang sampai ke tangan saya adalah nomor-nomor: Volume III, No. 1, Juni 2008; Volume III, No. 2, Desember 2008.
6) Politik budaya ragi usang, sejenis politik desivilisasi yang dilakukan oleh pihak kolonial Belanda yang memandang bahwa kebudayaan Dayak dalam bentuk apa pun tidak lain dari ragi usang yang harus dibuang. Orang Dayak dipandang sebagai etnik yang biadab dan harus diperadabkan. Tugas memperadabkan manusia Dayak ini dipandang sebagai “misi suci” kaum kolonial dan yang oleh para antropolog awal dibela dengan penamaan “mission scarée” (misi suci).Orang Dayak sendiri tidak pernah menamakan diri mereka sebagai Dayak tetapi dengan nama seperti Ot Danum, Ot Siang, Uluh Kayan, Uluh Iban, Uluh Katingan, Uluh Kahayan, dan sebagainya yang umumnya sesuai dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) di mana mereka bermukim. Dengan politik budaya ini maka mulailah riwayat pendeskreditan orang Dayak, seperti kanibal, orang hulu, balok, di Jawa kelelawar disebut pangeran Dayak, Kaharingan disebut Agama Helu (Agama Dahulu, Zaman Bahela), orang musyrik, dan sebagainya, dan sebagainya.Sampai hari ini masih ada yang memandang kebudayaan Dayak sebagai “kebudayaan setan”.
7) Lihat makalah-makalah antropolog Marko Mahin: “Retrospeksi dan Proyeksi. Bahasa, Budaya dan Identitas Suku” dan “Leluhur Kami Bukan Adam dan Hawa. Catatan Ethnograis tentang Perjumpaan Injil dan Budaya Dayak Ngaju” yang disampaikan dalam seminar sehari di Palangka Raya, 10 Mei 2009.
8) Lihat pokok-pokok pikiran Pdt. Tawar Soewardji, M.Th. berjudul “Alkitab Dan Budaya Lokal. Retrospeksi Dan Proyeksi”, yang disampaikan pada seminar sehari GKE, di Palangka Raya, 10 Mei 2009.
9) Lihat : Rencana Tindak Lanjut Program Kerja Majelis Adat Dayak Nasional Tahun 2008-2010. Hasil Rakernas I MADN Tanggal 26-29 Mei 2008, di Palangka Raya”, halaman 4.
10) Op.cit. hlm. 6.
11) Lihat makalah: Marko Mahin, “Menapak Jejak Bungai Tambun di Bumi Tambun Bungai”, 27 April 2009.
12) Lihat: JJ. Kusni « Generasi Pop » dalam http ://jurnaltoddoppuli.wordpress.com
13) Lihat : Dr. Dendy Sugono, « Kebijakan Bahasa Daerah Di Indonesia”, in “Suar Betang”, Palangka Raya, Volume III, No.2 Desember 2008, hlm. 2.
14) Ibid.
Diambil dari Jurnal Toddopuli (http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com), 12 Mei 2009
Posted by
Kantong Sastra
at
10:46 PM
0
comments
Labels: wacana