Wednesday, March 5, 2008

Percakapan Pantai

Sajak Nurel Javissyarqi

Membisikkan suara-suara ke telinga kalem nan tegar
dahi berkerut dijalanan sunyi menyusuri badan sungai
menuruni lembah nurani, melonjaki sakit berseri-serasi,
saat tersandung batu atau reranting patah kemarau lalu,
hendak cita samudra bertemu mata air bernasib serupa.

Kemana mutiara meninggalkan pantai di mata kelana
nyata lilin mencipta pelangi, ada panggilan tak dihirau
walau memecah hening menimpa badan pasir pesisir,
jikalau bekukan kalbu udara bercampur gemintang, dan
malam meleburkan jiwa-raga sejumlah yang dunia ucapkan.

Lelah terhempas ke ceruk terpejam, sunyi nan tenggelam,
kereta kencana ditarik angin taupan menuju negeri gaib
melepaskan beban tubuh berulang memutari awang-awang.

Terlelap kemabukan bagai diayun-ayun kelembutan berulang,
dan sehelai sampur pengikat kenang wengi diusapi kesunyian,
bertanya kesaksian riuh gelombang, membasuh wajah penanti.

Serawut Bayang di Lukisan

Sajak Nurel Javissyarqi

Kupu-kupu ke puncak biru, bila tengah malam
kerlip mata lampu kunang-kunang betebaran,
jikalau lelah terbang sayap cahayanya padam.

Mata penjajah berkedip pandang
bebuahan bergelantung di pinggir jalan menanjak
menawarkan kemanisan kenang tubuh tiduran
melamun melipat awan lembut menggulung,
di pepucuk pinus sedingin beludru pebukitan.

Barisan bangau merapat berat kesedihan ditinggal musim,
kabut memanggil diajak menuruni lembah ngarai mata air
gemerincing melonjaki batu-batu mengaliri petak sawah,
merasuk ke persendian jiwa tangkai bunga lepas disapu ombak
terhanyut ke laut, berlayar mawar terhempas ke pantai-pantai.

Keringat menguap memanggang cawan di pundak,
tetesan tersuling hasrat membumbung ke awan
diikuti pusaran angin ke pegunungan badai,
menitipkan kabut perawan ke pucuk-pucuk.

Hawa malam mengelus segenap kulit jiwa bergetar
bara percakapan api di relung hitam berulang gelap
di sebelah senyuman terkumpul ragu pada seutas tali,
membenamkan bulan ke dada bintang berdegup meriap
hilangnya bukan kuas bulu kuda, tapi seraut bayang di lukisan.

Nyanyian Bengawan

Sajak Nurel Javissyarqi

Rupanya kau terjerat benang halus kasat mata,
menaiki ketinggian ombak ke mana perginya
bersama bayu tujuan musim perasaan dewasa.

Jemari tangan halus bergelayutan ke mega-mega,
hujan menyirami mimpi-mimpi hampir musna,
perbaiki langkahmu keluar menjelajahi rahasia,
takkan muncul kalau tak ke penghujung masa.

Selendang kau terbangkan warnanya tetap sama
mengunyah bencah melintasi kelebatan cahaya;
musim beruba, sulaman benang takkan pudar,
menyimak nyanyian harum semerbak penanda.

Maka sanggul rambutmu agar membuhul tanggul,
tapi sesekali geraikan agar tercium kesucian hujan,
awan menyisiri tetangkai angin mempesonakan
cahaya berhamburan di padang membangunkan.

Kenangan Bertemu Kembali

Sajak Nurel Javissyarqi

Awan-gemawan berbondong menutup cahaya purnama,
serupa bayangmu mengendap mencuri pandang jendela,
berharap hujan melalui hasrat mengalir, hening bertemu
riuh ombak di batang sungai jiwa menuju ke pulau setia.

Ini ganjaran melewati detik keletihan menggerus waktu
selembut aroma kopi di udara melayang jauh ke jurang terpencil
hanya dihuni pagi menyibak sepi melukis ilalang nan dedaunan
diberinya mahkota teratai, menutup diri dengan kelopak baja.

Siang itu terbakar langit, pebukitan berbara kepulkan asap
menyekutui awan digulungan angin tercecer batuan api
terpanggang di ketinggian ruh memanjat cahaya.

Tumpah menjelma debu pemberi suara degupan dada,
memandang senjakala di akhir pelabuhan warangka kata,
pepohonan menari-nari bersamaan angin menanti malam
pulang membelakangi purnama ditunggu kantukmu asmara.

Sehela masa berbicara kepada tiap harapan melangkah,
denting berhenti di pusaran mata angin nan terbang terhempas
ke tebing-tebing cakrawala manusia, laksana bayangan dimaknai.

Kenangan, bergentayangan di renung panjang, relung hati insan
menyendiri kekecewaan bersenyum binasa di ujung perpisahan,
jalan sungsang dikuliti hakikat ruh-tulang-turangga menderap.

Monday, February 25, 2008

Secawan Penuh Mantra

Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

dulu aku bagaikan puan dari bangsawan terkemuka
yang tinggal di tengah kota impian, di negri yang sangat menawan
membuat aku terkenang
insan seantero dunia berdatangan sekedar memandang
namun tampangku kini mengenaskan
bagaikan petani sawah di ladang
yang terbengkalaikan,
diacuhkan, dicemooh dan dihinakan
aku sesunggukan tersedu pilu
memanggil putra-putri sulungku
memapah dan memandang tubuhku yang limbung
namun mereka acuh
wajahnya yang kerut seperti ayam kelaparan yang mengais-ngais kakinya
merogoh isi perut bumi
melahap selapar si jago merah
hingga yang tinggal hanya remah-remah belaka
dan putra putri sulungku, selaknat pengkhianat
dengan pola tingkah lakunya, sejahanam anak durhaka
dengan menelanjangiku, serta menggadaikan pada cukong-cukong berduit
tubuhku, dikangkangi, dipaksa untuk menjilat-jilat
aku dirampasi, didera dan diperkosa
layu lunglai, seluruh tubuhku penuh dengan luka
berborok, bernanah dan berkerak
korban dari nafsu birahi anak-anak si durhaka
auratku, dipertontonkan ke seluruh dunia
hingga mencibirkan.
Puih… Cuih… Sungguh tak disangka!
negri yang katanya kaya agama kok, setragis buah Simalakama.
aku tertunduk lemas dalam duka lara
bersama busana kebayaku yang dibawa berlayar ke samudera
perangkat perhiasan dan kondeku yang bertahtakan bunga melati
dijual, dibelikan pada sepatu kencana,
katanya…untuk berlayar ke samudera jaya
setara dengan negara-negara maju di dunia
baik dalam gaya dan irama
ohkh…. dasar anak-anak yang pada buta
bagaikan tulang yang sudah berkerak
yang dikerumuni oleh lalat-lalat hijau
yang terus berdatangan
numpang bertelor
sekalian berak
tiba-tiba masa haid datang
kurogoh tas, tempat pembalut pun raib juga
hingga lelehan aurat menggenangi
dan bau busuk pun mulai menyengat asa dan raga
telor lalat hijau
menyemburkan aroma bunga bangkai
akarnya kuat mencengkeram
menghisap darah penduduk, bak ribuan lintah
maka kepedihan makin tak terhingga
aku meraung-raung, melolong
kuraih selendang, tanda bakti pada Tuan maha
namun telah raib juga dibawa
tirai – kelambu (untuk bermesum pun)
di kuburan sunyi dan tua
dengan para peri yang menyaru rupa
dengan imbalan secawan penuh mantra-mantra
dengan semangkok kembang tujuh rupa yang bercampur belek,
dan di jigong dukun, jadi juru kunci
buat menebar pesona di depan rakyat jelata
peruntuh ajian perampok kursi, yang terlanjur dicor di bokongnya
agar sampai pada kesudahan
istana penuh kemewahan hasil rampasan yang tak ada mengusiknya
benih pria mana ditanam di rahim seorang wanita, entah?
mereka buas seperti ikan piranha, sehaus lintah
apa makanan mereka sebenarnya? Onak, atau kalajengking berbisa
tega mempertontonkan aurat Ibunya sendiri
dan menipu saudara
mulutnya tak pernah berhenti untuk bersungut
dengan mengangkat tumit lalu mengutuki mereka
walaupun bau busuk itu mencekik lehernya
ijinkan aku mengutuk jiwamu
jangan seperti tak merasa layak
seperti tak berdosa saja
bukankah itu perampokan prmesuman
yang mengheboh seluruh nusantara?
dari pengemis cinta
sampai menghina, walau terlahir sangat mulia sekali
bahkan rumah peribadatan pun diteror
entah sampai berapa lama lagi harus berhenti pertikaian itu?
lihat! air laut gelisah akhirnya serentak naik melambung ke dataran
gunung-gunung pun terbatuk-batuk menggelegar kerasnya
dan membinasakan semua penghuninya
aku tak sanggup lagi, aku hanya bisa berdoa
aku rindu mengandung
seindah bintang gemerlapan
untuk menjunjung tinggi arti kesulungan
yang tak pernah kukhianati
walau disogok dengan sekapal upeti
yang serentak maju dalam gaya dan nada
sehingga menjadi satu kesatuan yang lekat
dan pandai menggugah hati Tuhan
agar diri sampai kedalam mimpi
dan paham menangkap isi hati Tuhan
rancangan Tuhan pun sangat indah
melahirkan satu, bahkan seribu anak secantik mutiara
yang menabuh genderang
agar sedu sedanku diganti tawa
agar aibku berganti mulia
aku rindu jadi Puan yang terkemuka
di rumahku.

Jakarta, 20 Oktober 2007


--------
Restoe Prawironegoro Ibrahim, lahir 23 September di Surabaya. Tapi lama berdomisili di metropolitan Jakarta. Sekarang aktif di Komunitas Sastra Jalanan Indonesia dan Komunitas Seniman Jalanan. "Saya lebih suka terobsesi hidup di jalanan, karena di sini saya banyak menemukan sesuatu yang perlu saya tulis dalam ekspresi kebebasan berkarya. Dan, saya lebih suka tidur di jalanan karena atap rumah Tuhan banyak sekali berkahnya," katanya. Kontak e mail: kendurirestoe@yahoo.co.id atau restoe2006@yahoo.com.

Cintaku, Hanya Kupanggil Namamu Lebih dari Sejuta Kali

Sajak Restoe Prawironegoro Ibrahim

sudah teramat lama kusembunyikan
cinta yang berbunga dari rindu jiwa yang kasmaran
kepadamu kekasih terjerat hasrat
yang menyengat sekuat maut
sungguh tak sekejap pun kau dapat kulupakan
kau selalu menggedor jiwaku yang berkobaran
menderu-deru menagih, dilampiaskan
seperti dendam kesumat
namun karena kita sekumpulan
lingkungan orang-orang berbudi dan beriman
kusimpan sajalah perasaan pendaman itu
agar tak ada yang tahu, kuseka wajahku agar datar kepermukaan
tetapi sekalipun aku diam seribu bahasa
hasrat dari tubuhku rusuh
seribu makna
sebab sekalipun kupejam mata ini
senyum dan tawa renyahmu yang penuh gaya selalu nyata
hingga kurendeng kau dalam andai-andai
bertamasya dalam sensasi penuh pesona
kian melambung jiwaku terbang ke mana-mana
bersenda gurau denganmu dan bercengkrama
sungguh, aku rindu berdaulat di atas tubuhmu
agar getar jantung kita mendebur berkejar-kejaran
memangut gumpalan awan-awan
disapukan ke sekujur tubuh kita
supaya deru-deru jiwa kita bersambut-sambutan
menabuh irama yang sepadan
agar bunga-bunga jiwa yang kasmaran bermekaran
semerbak baunya yang membius kita seperti anggur yang memabukkan
malam kian beranjak larut
aku menggigil terbelit, dibelit oleh rindu
seperti disengat seribu semut
ingin rasanya berlari, meloncat dan melayang ke awan-awan
seperti burung Walet yang terbang
seperti kijang di tengah padang ilalang
seperti kuda liar yang jalang
seperti rajawali yang terbang
cintaku, kupanggil namamu lebih dari sejuta kali
datanglah kemari, pasangilah kelikir padaku yang sedang bengal seperti keledai
supaya aku bertekuk merunduk
padamu kekasih, yang perkasa seperti kuda sembrani
sebab aku sangat gelisah dan mustahil aku bisa tidur terlelap
seperti ikan menggelepar megap-megap
darahku membentur jantungku kuat berdegup
sendu mataku bersemburat semerah saga
kepalaku menjadi pening seperti retak
pundakku terhimpit serasa leher dicekik
aku lelah dirundung sengsara
setiap malam bayangmu membuatku merana
perih mataku dibias mentari pagi
kuterjajar di sudut, syukuri diri
aku ada dalam diam diri
menahan untuk tak berlari kepadamu yang ada di depan
sebab kita juga orang-orang beriman dan berakal budi
sebab kau tak sendiri lagi
budi tak curi milik
yang lain ‘tuk dimiliki
walaupun sepuluh tahun aku telah jatuh cinta setengah mati
kubasuh diri
tunduk hingga ke arah tanah
terbata-bata di hadapan sang pemberi budi
yang berada di negri yang putih berpendaran
menggugah hati yang berkenan
berilah aku seorang lagi ya Tuanm,
teman untuk meloncat dan menari dalam harmoni
irama birahi dalam budi
yang tak melukai hatimu Sang Pemberi Budi
yang memberiku kekuatan
menghalau setan
pembangkit birahi
dari jiwa dan nurani
semasih aku ada di bumi

Catatan: Jakarta, 15 Oktober 2007.

Friday, February 22, 2008

Ajari Anak Menulis dan Membaca Sejak Dini

Esai Sheri Raraswati*

MENGAJAR anak membaca dan menulis, apalagi membuat anak gemar membaca pada dasarnya bukanlah hal yang mudah dilakukan setiap orang tua dan pendidik. Hal ini bisa saja terjadi karena faktor usia di mana pada usia pra sekolah anak cenderung tidak menyukai hal-hal yang bersifat konkret.

Tidak heran banyak kita menjumpai orang tua yang kebingungan menghadapi anak-anaknya dalam belajar atau sekadar mendampinginya pada saat belajar. Akhirnya, orang tua hanya bisa menyerahkan semua ini kepada orang lain yang dianggap memiliki kompetensi dalam mendukung proses belajar anak.

Namun, kita tidak bisa membiarkan semua ini berlalu begitu saja ada hal-hal yang harus kita lakukan untuk menstimulus kemampuan anak sejak dini. Untuk mencapai ini semua tentulah peran orang tua dan pendidik sangat diperlukan.

Pada dasarnya tidak ada patokan kapan seorang anak dikatakan siap untuk menerima pengajaran. Mulai sejak lahir anak-anak telah memiliki tugas perkembangan di mana tugas-tugas perkembangan tersebut harus dapat mereka lakukan termasuk fase perkembangan manusia yang dimulai dari sejak lahir.

Semiawan dalam bukunya mengatakan anak pra sekolah berada pada fase progresif. Anak cenderung keras kepala asyik dengan dunia fantasinya dan masa ini juga ditandai dengan sifat egosentris.

Senada dengan ini teori perkembangan intelektual Piaget menjelaskan anak pada usia ini berada pada fase praoperasional di mana anak belum dapat melakukan konseptualisasi hal yang abstrak dan membutuhkan situasi fisik yang konkret. Oleh sebab itu, orang tua harus dapat menghadapi anak dengan bijaksana.

Dalam kehidupan masyarakat sering pro dan kontra terdengar terutama menyikapi sikap para pendidik dalam mengajarkan membaca dan menulis bagi anak prasekolah. Alasannya karena anak usia prasekolah dianggap belum siap menerima pengajaran. Hal ini tidaklah sejalan dengan pendapat para ahli, di antaranya Glen Dolman menganjurkan kepada para pendidik untuk mengajarkan anak membaca dan menulis sejak dini bisa dilakukan hal ini sangat baik untuk mendukung kemampuan berpikir anak.

Jika perkembangan berbicara berkembang secara alami tidak demikian dengan kemampuan membaca dan menulis. Maka berikanlah pendekatan kepada anak hal yang bersifat menyenangkan dan harus disadari bahwa belajar membaca dan menulis adalah suatu proses yang timbul karena dukungan lingkungan.

Orang tua dan pendidik dituntut perannya untuk dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kesiapan anak. Hal yang tidak dapat terlepas dalam proses belajar membaca dan menulis adalah bagaimana caranya kita menciptakan suasana belajar membaca dan menulis yang disampaikan dalam bentuk yang konkret. Juga terdapat unsur kesenangan dan bermain sehingga pada akhirnya belajar membaca dan menulis bukanlah hal yang menakutkan dan menyeramkan, tapi merupakan hal yang menyenangkan bagi mereka. n

* Sheri Raraswati, Guru TK Tunas Melati Bandar Lampung

Dari Lampung Post, Jumat, 22 Februari 2008